Title : Because I Miss….

Cast : Kyuhyun and all SJ member, etc.

Gendre : Brothership, Friendship, Hurt/Comfort, Angst

Length : Chaptered

Summary : Sang dokter yang telah profesional itu menatap pergerakan yang sedikit itu dengan ekor matanya. / "Appa memberikan jalan mudah bagimu, kenapa kau menjadi anak yang begitu membangkang CHO KYUHYUN?!" / "Mworago… benarkah Hangeng hyung menuliskan hal-hal kejam begitu?"/ "Ada suatu kabar baik yang akan kuberitahukan kepada kalian." / Hanna menatap tidak percaya kepada sang suami. Pandangannya memerah penuh dengan air mata. "Kau bilang angin segar? Berapa lama Younghwan-ah?! Berapa lama dia akan seperti ini. Sudah menggapai akhir tahun Younghwan-ah!" / Kim Hanna menggenggam tangan putranya itu dengan begitu erat. "Mianhae Kyuhyunnie, maafkan eomma yang selalu menyerah terhadap keadaanmu. Bukankah aku adalah seorang eomma yang kejam?" / MC tamu pada hari ini adalah Leeteuk. / "Dia itu bintang…. Bintang yang paling bisa bersinar terang tanpa kita namun sang bintang selalu ingin berada diantara yang lainnya yang terkadang meninggalkannya lebih dahulu." / "Pikirkan, apakah kalian akan menang jika bertanding melawanku?" / "Caramel macchiato semua begitu kacau karenamu, bahkan perasaanku juga kacau saat ini." / "Kadang aku bertanya siapakah yang lebih begitu terluka disini." / "A….aku…. aku ingin keluar dari tempat ini." /
Ahra tersentak begitu melihat sang dongsaeng menjatuhkan begitu banyak air matanya. "Gwenchanayo Kyuhyunnie… jeongmal gwenchanayo….." Meski dirinya sendiri ikut menangis. / Tubuh yang sudah lama terbaring itu akhirnya merespon rasa sakit, matanya mengerjap walau begitu sulit. / -Kepalaku begitu pusing rasanya mau meledak, aku tidak ingat ini dimana dan kenapa aku disini. Sebenarnya aku ini kenapa? / Namja yang masih terbalut masker oksigen itu menangis dengan banyak. Dirinya sendiri tidak mengerti. Mulutnya ingin berbicara namun begitu kelu. / -Kyuhyun-ssi? Kyuhyun-ssi nugu?Nan nuguya, nan eodiya, dan mereka siapa? / Leeteuk mengepalkan tangannya erat. Rasanya sangat sakit.

Hufft FF ini akhirnya bisa dilanjut kembali. Ah mian untuk persoalan summary yang terlalu panjang kemarin-kemarin. Sebenarnya summary akan menggambarkan berapa banyak halaman untuk menulis FF ini, kekekek~ kemarin adalah yang paling panjang. Dalam chapter ini mungkin akan sedikit lebih pendek atau sebenarnya nggak tentu juga bakal nyampe berapa kata. Yang pastinya ff ini akan selalu terdiri lebih dari 4.000 kata untuk maksimalnya berapa atau biasanya berapa tidak bisa diprediksi. Butuh waktu berhari-hari melanjutkan FF ini. Semoga kalian tetap menyukainya arrachi? Tinggalkan jejak juseyo~

WARNING : This story originally buatan saya. Alur waktu yang saya buat adalah waktu mulai dari tanggal sekarang. Jadi saat waktu wamil untuk donghae, eunhyuk, dan siwon akan berbeda dengan aslinya. Mohon kritik dan sarannya juga agar fanfic ini menjadi fic yang bisa diterima seperti Thank's God^^

DON'T BE SILENT READER

DON'T BASH

DON'T COPY TANPA IZIN

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

ENJOYED

Samsung Hospital

Hari ini Junwon seperti biasa akan melakukan pemeriksaan untuk beberapa pasiennya. Salah satu pasien untuk dirinya periksa kali ini merupakan sosok selebriti yang kini masih setia untuk menutup kedua matanya.

Tubuhnya masih berbaring dengan alat-alat medis sebagai penopang kehidupannya. Junwon memeriksa tekanan darah, detak jantung, dan lain sebagainya yang memang biasa dilakukan kepada pasien. Dia tidak sendirian disini. Ada dua orang ganhonsa yang menemani untuk membantunya melakukan pemeriksaan. Seorang uisa memang selalu memerlukan asisten walau tidak sering juga sih.

Junwon hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Tidak ada perkembangan meski dua bulan telah terlalui. Keadaannya masih tetap sama. Buruk. Namun ini lebih baik daripada keadaan sebelumnya yang bahkan memburuk setiap hari. Wajahnya begitu polos, seakan-akan dia memang sedang menikmati tidurnya dengan begitu nyaman. Terkadang atau bahkan sering, seorang uisa tidak mengerti apa yang sebenarnya yang dialami oleh seseorang yang tengah dalam keadaan koma. Bahagiakah dia di alam bawah sadarnya? Kebingungan kah dia disana? Bersedihkah dia? Ada sesuatu yang memang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

Ganhonsa merapikan berkas-berkas hasil diagnose Junwon uisanim. Setelah memastikan selang infus sang pasien masih cukup akhirnya ganhonsa mengikuti Junwon untuk keluar dari dalam ruangan. Baru saja sang ganhonsa akan melangkah, matanya dikejutkan dengan jari jemari yang bergerak secara perlahan-lahan itu.

Ganhonsa tersebut tidak percaya, walau seharusnya dia memang sudah biasa melihat keadaan ini. "Ju….Junwon uisanim, ta…tangan pasien bergerak."

Sang dokter yang telah profesional itu menatap pergerakan yang sedikit itu dengan ekor matanya. "Kau benar…"

Junwon uisanim dan sang ganhonsa segera kembali menuju ranjang yang sudah dua bulan lebih ini ditempati oleh sang pasien. Tapi sayang setelah dilakukan pemeriksaan secara berulang, keadaannya masih tetap sama. Bahkan pergerakan itu sama sekali tidak terjadi lagi. Junwon hanya bisa menyimpulkan, pasiennya saat ini masih belum menemukan cara untuk keluar dari mimpi panjangnya.

Diluar sudah ada Cho Younghwan yang rupanya sedari tadi memperhatikan pemeriksaan Kyuhyun. Junwon uisanim memberikan salam hormatnya kepada orang tua dari pasiennya ini. Sebenarnya Junwon ingin sekali memberitahukan mengenai pergerakan jemari Kyuhyun, namun itu merupakan hal yang lumrah terjadi pada pasien yang mengalami koma. Maka tidak ada penjelasan yang dirinya berikan kali ini.

Tanpa bertanya Cho Younghwan sudah mengetahui kondisi Kyuhyun pasti dalam keadaan buruk yang sama. Dia tidak mengerti tapi, mengapa Junwon tidak menjelaskan bahwa anaknya sudah bisa menggerakan jarinya walau hanya sedikit? Setidaknya dengan begitu ada suatu harapan bahwa anaknya akan mengalami kemajuan. Cho Younghwan mengerti, Junwon pada dasarnya tidak ingin memberikan sebuah harapan yang tidak pasti.

Baru saja Younghwan akan memasuki pintu kamar rawat Kyuhyun, sudah ada seorang namja dengan jas berwarna biru duduk disampingnya. Dari sekian banyak orang yang begitu ingin melihat anaknya, Younghwan berharap bahwa namja ini tidak lah bisa untuk melihatnya. Sayangnya yang memiliki kekuatan pasti bisa melakukan apapun yang dimaunya. Takutkah? Dalam kamus kehidupan Younghwan, tidaklah patut manusia takut kepada manusia kembali. Kemudian? Dia hanya tidak mau sampai ada kata-kata darinya yang bisa menyakiti orang lain.

Kim Youngmin sang CEO SM atau petinggi SM tersenyum hangat kepada ayah dari mantan artisnya ini. "Bagaimana perkembangan Kyuhyun-ssi sekarang? Aku lihat dia hanya akan terus berdiam disini."

"Terhormat sekali bahwa anda sudah menyempatkan diri sebanyak dua kali untuk mengunjungi putraku." Younghwan membalasinya dengan penuh kesopanan.

Youngmin kembali tersenyum dengan sedikit mengedikan bahunya. "Bagaimanapun Kyuhyun-ssi adalah mantan artisku."

Younghwan mencoba mencerna kalimat yang baru saja diberikan oleh Youngmin tadi. "Mantan artis?"

"Joseonghamnida. Kedatangan saya kemari selain untuk menjenguk Kyuhyun-ssi adalah memberikan kabar bahwa kontrak Kyuhyun-ssi dan SM sudah berakhir kemarin. Mengingat pertimbangan kondisi Kyuhyun-ssi." Kalimat penjelasan tenang itu langsung diberikan oleh Youngmin.

Younghwan mengepalkan kedua tangannya. "Tapi aku rasa kontrak kalian belum seharusnya berakhir pada tahun ini?"

"Ah ne pada 2017 sebenarnya. Tapi bukankah tahun 2017 juga hanya tinggal menghitung hari? Kyuhyun-ssi juga sudah melewatinya selama lebih dari dua bulan disini." Pertanyaan retoris yang terdengar menyebalkan itu dikeluarkannya.

Younghwan menghela nafasnya untuk beberapa saat. Dia tidak bisa membantah karena itu fakta. "Jadi Youngmin-ssi, setelah memberitahukan ini apalagi yang belum saya tahu?"

"Ini, pesangon terakhir untuk Kyuhyun-ssi, jumlahnya sesuai dengan harga kontrak. Pasti semua begitu merindukannya, karena dunia entertain akan sepi tanpa Kyuhyun-ssi." Youngmin memberikan selembar cek kapada Younghwan.

"Kketnaseo? Aku rasa anda masih perlu menghadiri acara lain setelah dari sini," Mengalah lebih baik daripada membiarkan pertengkaran terjadi.

Youngmin memandang Younghwan dengan enggan. Lancang sekali ada orang yang begitu berani untuk mengusirnya. Itulah yang ada di dalam pikiran Youngmin saat ini. Sayangnya Youngmin malah mengeluarkan senyuman tipisnya, merasa telah benar-benar menang. Younghwan hanya bisa meremas cek tersebut. Dia tidak akan semarah ini jika dirinya yang dihina namun emosinya memuncak jika hal itu berkaitan dengan anaknya. Tidak. Tidak boleh ada yang sampai menghina anaknya dengan begini.

.

.

.

.

.

Tidak ada yang berbeda bagi semua remaja yang saat ini sedang menjalankan kelas sekolah menengah atas. Terlebih untuk anak kelas dua SMA yang pada dasarnya merupakan masa untuk memuaskan diri sebelum masuk ke kelas tiga SMA, dimana di tingkat terakhir tersebut baik waktu bermain maupun pertemanan mulai berkurang. Ujian yang menanti di akhir pasti lebih menyibukkan bagi semua siswa.

Maka dari itu kebanyakan siswa yang menduduki kelas dua SMA akan memilih untuk menikmati masa kebebasan sebelum masa ujian. Ini pula yang dirasakan oleh seorang remaja laki-laki di daerah Nowon. Daerah Nowon bukan merupakan daerah yang tidak terlalu besar di Korea Selatan seperti Seoul. Namun meski demikian, Nowon merupakan salah satu pusat pendidikan yang ada di Korea Selatan. Banyak universitas ternama dan memang masyarakatnya terkenal mempunyai otak yang brilliant bisa dibilang.

Namja remaja itu mematut dirinya di depan cermin. Jas almamaternya sudah terpasang dengan rapih, berarti seragamnya sudah lengkap. Tasnya juga sudah penuh dengan buku pelajaran apa saja yang akan dibawa ke sekolah. Namja remaja itu menuruni anak tangga rumahnya dengan penuh semangat.

Di bawah sana sudah ada ayah, ibu, dan kakak perempuannya yang sudah duduk manis di kursi meja makan. Namja remaja itu tersenyum dan ikut duduk diantara mereka. Penelitian bilang orang yang tidak sarapan sebelum pergi sekolah ataupun berangkat kerja akan lebih rentan sakit dan sulit berkonsentrasi. Jadi daripada mengambil resiko, lebih baik dirinya melakukan sarapan dengan selayaknya. Lagipula dia sedang tidak terburu-buru, jam pertama juga masih ada sekitar lima belas menit lagi.

Kim Hanna sang ibu langsung mengambilkan beberapa sayur dan memberikannya pada anak bungsunya itu. "Sarapanmu adalah sandwich dengan tambahan selada."

"Aish shireo, eomma tahu sendiri aku sangat tidak menyukai sayur." Cho Kyuhyun merengut kesal, musuh utamanya benar-benar apapun yang berwarna hijau.

Cho Ahra sang kakak hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang dongsaeng. "Anak kecil saja hanya beberapa saat tidak menyukai sayuran, tapi kau mungkin sampai abadi tidak akan menyukainya.

Kyuhyun memandang Ahra dan menunjukan muka memelasnya. "Noona, Captain Cho mu ini bisa keracunan kalau memakan yang hijau, noona tidak mau kan aku keracunan?"

"Keracunan? Andwae! Tidak boleh, tidak boleh. Eomma singkirkan semua yang hijau-hijau dari dongsaeng kecilku." Ahra sepertinya termakan oleh kalimat sang dongsaeng.

Younghwan hanya memutar bola matanya malas. "Ahra-ya, harusnya kau melihat senyum kemenangan dongsaengmu saat ini."

"Yak Kyuhyunnie kau menipu noona lagi!" Ahra mencubit sedikit lengan Kyuhyun yang memang duduk di sampingnya.

Kyuhyun merengut dibuatnya. "Aish dasar noona galak. Nanti kalau tanganku bengkak dan memerah bagaimana?"

"Omo? Mana kemarikan tanganmu, noona harus melihatnya." Ahra langsung panik dan memeriksa lengan Kyuhyun. Dia sadar ternyata sang dongsaeng mengerjainya kembali.

Hanna tersenyum setelah menghabiskan sarapannya. "Kau terlalu memanjakannya lebih dari kami. Kyuhyunnie seperti anakmu."

"Benar sekali. Ah Kyuhyunnie sebaiknya kau cepat berangkat nanti bisa terlambat." Setelah menambahi perkataan Hanna, dia bertanya kepada sang magnae.

Kyuhyun menatap jam sekilas yang menempel. "Ah appa benar, aku berangkat dulu ya."

Younghwan melihat ekspresi lain, yang ada di wajah anaknya. "Jangan berpikir untuk membolos."

"Ah.. appa aku bukan anak yang seperti itu eoh." Kyuhyun berpura-pura kesal dan pergi meninggalkan rumah.

Aish ayahnya benar-benar bisa menebak dengan apa yang akan dilakukannya sekarang. Atau mungkin ayahnya mempunyai kemampuan khusus? Bisa membaca pikiran seseorang misalnya? Mengasyikan tapi menyeramkan juga. Menyeramkan kalau Cho Younghwan bisa mengetahui akal-akalannya nanti.

Sebelum mencapai gerbang sekolah, sebuah senyum mengembang di wajah Kyuhyun. Di hadapannya sudah ada seorang teman yang dikenalnya dengan baik semenjak sekolah menengah pertama. Dari belakang Kyuhyun menepuk pundak rekannya itu. Kim Ueono cukup terkejut dengan Kyuhyun. Terlebih bukannya meneruskan untuk memasuki kawasan sekolah, temannya yang satu ini malah mengajaknya pergi.

Kim Ueono hanya bisa menatap datar kepada tempat yang rupanya sudah menjadi tujuan Kyuhyun. Seharusnya sejak awal dia sudah sadar bahwa Kyuhyun pasti akan mengajaknya ke sini. Surga. Sebuah surga bagi para gamer sejati. Dan diantara gamer sejati itu, mereka berdua adalah salah satunya.

Mereka berdua sudah duduk berdampingan untuk memainkan game, Kim Ueono berbisik kepada Kyuhyun yang semangat mulai akan memainkan gamenya. "Kyuhyun-ah kita seharusnya berada di sekolah saat ini?"

"Kita bisa sekolah besok lagi Kim. Lagipula ini hanya tambahan pelajaran di liburan musim panas." Kyuhyun mulai fokus untuk memainkan permainannya. Apalagi jika bukan starcraft.

Ueono menghembuskan nafasnya kasar, kalau mau bolos ya sendiri saja kenapa harus membawa-bawanya. "Sungeun songsaemnim bisa memarahi kita habis-habisan nanti. Apalagi ayahmu, pasti dia akan memarahimu."

Kyuhyun menatap kesal pada Ueono yang masih saja berceloteh. "Hey Kim. Aku ini adalah anak yang penurut. Jadi tidak akan masalah jika sekali aku melanggarnya."

"Aish. Tapi kenapa kau harus mengajaku segala untuk bolos? Dan anehnya kenapa aku selalu mau untuk mengikutimu aigoo." Ueono meratapi nasibnya yang selalu tidak bisa untuk menolak ajakan Kyuhyun.

Kyuhyun menanggapi sahabat seperjuangannya itu dengan malas. "Mainkan saja dan nikmati permainan ini."

"Mana bisa aku menikmatinya kalau aku terus berpikir akan kena amukan naega eomma di rumah jika ketahuan." Ueono benar-benar pasrah.

Kyuhyun menghentikan pergerakan jari-jarinya diatas keyboard sesaat. "Hey Kim. Kelas tiga nanti kita tidak akan bisa seperti ini."

Ueono mencoba mencernanya beberapa saat. "Kelas tiga? Tidak bisa?"

"Tentu saja. Bohong jika bilang waktu kita akan dihabiskan bersama. Semua murid akan mulai sibuk dengan lesnya. Ujian-ujian yang akan berkunjung. Belajar mati-matian agar memperoleh nilai tertinggi sehingga bisa masuk universitas yang diinginkan. Saat itu kita mulai melupakan satu sama lain dan fokus. Setelah lulus kita berpisah, kau dan aku pasti jarang bertemu. Aku ingin membuat hari ini terkenang olehmu bahwa kita bolos bersama hanya untuk main game." Kyuhyun mengucapkannya dengan begitu serius, dan Ueono sebagai lawan bicaranya benar-benar terkesima.

Kim Ueono menghela nafasnya beberapa saat. "Kau berhasil membuat jebakan yang baik. Kuakui aku cukup terharu dengan perkataanmu tadi. Jadi mari kita kalahkan musuh-musuh sialan itu."

Kyuhyun bersmirk ria. "Akan aku kirim mereka semua ke neraka."

.

.

.

.

.

Cho Younghwan sedang duduk di kursi meja kerjanya. Memeriksa beberapa berkas yang perlu ditandatangani. Hanya ada sekitar sepuluh berkas. Setelah membacanya dengan teliti, barulah Younghwan menandatanganinya. Melirik jam yang ada di tangannya Younghwan tersenyum. Sebentar lagi anak bungsunya akan pulang dari sekolah.

Kyuhyun selalu berprestasi di sekolahnya saat ini. Tidak dipungkiri magnaenya tersebut memang cukup cerdas dengan memiliki tingkat IQ sebesar 138. Meskipun terlahir sebagai namja, magnaenya itu begitu manja. Terlebih kemanjaannya akan semakin menjadi jika sudah berada dekat dengan kakak perempuannya. Cukup kaget, karena ponselnya bordering begitu saja. Wali kelas anaknya? Tumben sekali dia menelepon.

Tan Sungeun langsung memberikan salam ketika Cho Younghwan mengangkat teleponnya. "Yobeseyo Younghwan-ssi."

"Nde Sungeun-ssi wali kelas Kyuhyun? Apakah ada sesuatu?" Younghwan agak penasaran juga.

Sungeun melihat absen hasil di kelas Kyuhyun tadi. "Begini, sebenarnya Kyuhyun-ssi tidak masuk hari ini? Mungkinkah dia sakit?"

Younghwan mengernyit. Bahkan tadi Kyuhyun berangkat dengan seragam lengkap. "Anniyo. Kyuhyunnie sudah berangkat sekolah pagi sekali."

"Namun kenyataannya Kyuhyun-ssi absen dan tidak mengikuti semua mata pelajaran tambahan hari ini." Sungeun memijit pelipisnya sesaat, satu orang murid lagi berulah sekarang.

Younghwan sudah mengerti tingkah Kyuhyun. "Mianhamnida Sungeun-ssi sepertinya Kyuhyunnie sudah berulah."

"Ah meskipun ini mata pelajaran tambahan di liburan musim panas sebaiknya tidak disepelekan begitu saja." Sungeun memberikan peringatannya kepada Kyuhyun melalui Younghwan.

Cho Younghwan mengangguk. "Arrasseo, aku akan menyampaikannya dengan baik pada Kyuhyunnie ketika sudah pulang."

.

.

.

.

.

Kyuhyun berjalan pulang dengan ceria. Hari ini begitu menyenangkan terlebih dia menang dalam starcraftnya. Ueono juga berhasil melakukan hal yang sama. Sejauh ini semua cukup lancer. Belum ada celah untuk menghancurkan hari sempurnanya kali ini. Benar-benar liburan musim panas yang diinginkan.

Kyuhyun memasuki rumahnya dengan semangat. Melepas sepatu dan menyimpan tasnya dengan baik. Sayangnya dia belum menyadari ada sesuatu yang nampak berbeda kali ini. Kyuhyun melirik ke sofa yang memang sedang diduduki oleh seorang namja yang tidak lain tidak bukan adalah Cho Younghwan, ayahnya sendiri.

Tumben sekali ayahnya sudah pulang bahkan sebelum dirinya pulang. Apa memang pekerjaan ayahnya sedang tidak terlalu banyak? Mungkin saja. Namun pandangan ayahnya begitu dingin dan menusuk langsung ke dalam kedua bola matanya.

"Cho Kyuhyun." Kyuhyun mematung, nada dingin Younghwan benar-benar terasa disana.

Kyuhyun memandang sang ayah dengan wajah takut. "Nde. Apakah appa sedang tidak ada pekerjaan?"

"Apa yang kau pelajari tadi di sekolah?" Cho Younghwan bertanya dengan penuh nada mengintimidasi.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. "A….aku… mempelajari….."

"Wali kelasmu Tan Sungeun-ssi meneleponku tadi dan mengatakan bahwa kau absen hari ini. Sementara tadi pagi aku melihatmu dengan seragam lengkap? Katakan. Jangan coba untuk membohongiku." Kalimat pernyataan itu benar-benar terdengar begitu tegas keluar dari Younghwan.

"Aku… aku ke game center dan bermain starcraft bersama Ueono." Kyuhyun menundukan kepalanya dengan dalam.

Younghwan menghembuskan nafasnya kasar. Tidak habis pikir dengan perbuatan sang anak. "Jadi kau melakukan itu dengan sengaja? Hanya demi kesenangan beberapa saat hah?! Uangku hanya terbuang sia-sia dengan menyekolahkanmu! Kau sudah menyia-nyiakan perngorbananku dan eomma-mu. Ataukah sudah sering kau melakukan hal yang sama seperti ini?!

Kyuhyun mulai merasa ingin menangis sekarang. "Mi…mianhae appa, hanya baru kali ini appa jeongmalyo."

"Untuk kali ini? Dan jika kau sudah senang dengan kali ini? Kemungkinan untuk kedepan kau akan melakukannya berkali-kali?! Harusnya kau berpikir banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan bersekolah sepertimu tapi kau hanya bersenang-senang dan tidak mempedulikannya!" Suara Younghwan benar-benar membentak saat ini.

Kyuhyun benar-benar sudah menangis. "Jeongmal mianhaeyo appa. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku menyesal…"

"Aku tidak pernah mendidik anakku menjadi seorang pembohong." Kalimat itu mengakhiri perdebatan diantara mereka berdua.

Cho Ahra yang baru saja pulang nampak kaget saat melihat keadaan sang dongsaeng yang menangis. Seragamnya saja belum dilepas semua. Ekor mata milik Ahra menangkap Cho Younghwan yang juga berdiri tidak jauh dari Kyuhyun. Ahra menghampiri Kyuhyun dan membawa sang dongsaeng ke dalam pelukannya. Kyuhyun menangis begitu banyak. Namun sebelum Ahra berkata kepada ayahnya, Younghwan sudah memberikan kalimatnya terlebih dahulu.

"Jangan mencoba membelanya. Dia harus menyesali perbuatannya." Younghwan berlalu pergi meninggalkan kakak beradik itu.

Ahra tanpa bertanya lebih jauh mengerti ucapan sang ayah. Younghwan melakukannya karena Kyuhyun memang sudah berbuat salah. Untuk kali ini Kyuhyun harus tahu kesalahannya.

.

.

.

.

.

Kyuhyun sudah memasuki kelas tiga SMA sekarang. Berarti dirinya memang mulai disibukan dengan ujian-ujian yang begitu banyak. Tapi untuk saat ini kesibukan ujian ditunda dulu. Karena sekolahnya tengah mengadakan festival. Banyak siswa membuat kreasi-kreasi untuk memeriahkan festival.

Termasuk Kyuhyun. Bersama dengan Kim Ueono yang terbilang salah satu rekan akrabnya akan menyumbangkan kreasi mereka melalui musik. Satu sekolah sudah mengetahui bahwa Kyuhyun dan Ueono membentuk sebuah band.

Kini giliran band mereka yang akan tampil diatas panggung. Wajah tampan Kyuhyun sebagai vokalis langsung direspon dengan teriakan semua yeoja disana. Mereka membawakan lagu-lagu dari X-Japan yang memang sangat terkenal. Semua ikut bernyanyi dan berteriak gembira ketika lagu-lagu terus dinyanyikan. Terlebih suara Kyuhyun yang begitu lembut dengan indah melantunkan semua lagu.

Cho Younghwan terus memperhatikan band yang sedang bermain diatas panggung. Dia memang menikmati musik mereka, namun ada satu hal yang membuatnya lebih tertarik. Anak kecil yang berstatus sebagai vokalis dari band tersebut. Anak kecil yang riang bernyanyi itu, Younghwan benar-benar mengenalinya. Dia putranya. Magnaenya. Anak bungsunya, Cho Kyuhyun.

Kyuhyun menuruni panggung dengan penuh semangat. Penampilan bersama teman-temannya tadi betul-betul luar biasa. Mereka semua menikmati lagu yang ditampilkan oleh dirinya dan teman-teman bandnya. Festival kali ini terasa benar-benar menyenangkan.

Seorang songsaenim memberikan thumbs up nya pada Kyuhyun. "Daebak Kyuhyun-ah, suara mu benar-benar luar biasa."

"Ah gomawoyo songsaenim. Yang lainnya juga bekerja keras." Walau Kyuhyun itu paling tidak bisa menahan rasa tersipunya jika sudah dipuji.

Songsaenim tersebut bertanya kembali. "Apakah kau tidak ingin menjadi penyanyi saja? Kau mempunyai bakat."

"Penyanyi?" Kyuhyun malah mengulang pertanyaan dari songsaenimnya.

"Tentu saja, semua pasti akan terpesona dengan suara indahmu. Kau juga memiliki wajah yang cukup tampan." Songsaenim tersebut mengungkapkan alasan pertanyaannya kepada Kyuhyun.

.

.

.

.

.

Kyuhyun sudah kembali pulang ke rumah. Pandangannya menatap ke salah satu lemari kaca yang ada di rumahnya. Lemari itu sudah penuh dengan banyak piala hasil juara ketika dirinya mengikuti lomba menyanyi. Kyuhyun menghitungnya, sudah cukup banyak prestasi yang berhasil diraihnya melalui bernyanyi.

Dirinya teringat kembali dengan pertanyaan songsaenim di sekolah tadi. Menjadi seorang penyanyi? Seperti Sung Sikyung idolanya? Pasti sangat menyenangkan. Benar juga semua piala-piala itu akan percuma jika dirinya tidak benar-benar menyalurkannya. Bernyanyi adalah hobinya? Tidak juga. Jika itu hobi Kyuhyun tidak akan ambisius untuk mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya ketika bernyanyi. Dia sudah memutuskan.

Akhirnya seseorang yang sudah ditunggu-tunggunya tiba. Waktu itu dia sudah menjadi anak yang tidak penurut satu kali. Sekarang bolehkah untuk kedua kalinya? Sebenarnya ini bukan bentuk dari sebuah pembangkangan, hanya saja ini adalah saat dirinya menentukan jalan kehidupan dan masa depannya sendiri.

Younghwan memandang sang anak, dia tahu ada sesuatu. "Sampaikan saja. Katakan apa keinginanmu."

"Aku ingin menjadi penyanyi appa." Perkataan Kyuhyun begitu pasti.

Hening.

Kyuhyun mencoba mengatakannya lagi. "Aku benar-benar ingin menjadi seorang penyanyi."

"Tidak boleh." Penolakan singkat yang sudah pasti bersifat mutlak.

Kyuhyun memejamkan matanya beberapa saat. Dia tahu Younghwan akan melarangnya. "Appa… aku serius, untuk penerus appa bukankah masih ada noona?"

"Tidak boleh." Lagi-lagi dua kata yang bisa mencerminkan ketegasan penolakannya.

Kyuhyun bertekad. Ini saatnya untuk memilih jalan kehidupannya sendiri. "Appa… pertimbangkan lagi. Appa tahu sendiri bukan aku sangat berbakat. Prestasi bernyanyiku juga banyak."

"Tidak peduli sebanyak apapun prestasi bernyanyi yang kau miliki tidak akan berpengaruh jika kau tidak masuk ke universitas." Tatapan mata Younghwan begitu dingin.

Kyuhyun bersikukuh. "Aku bisa menyeimbangkan keduanya appa."

Younghwan juga berkeras dengan pendiriannya. "Tidak boleh. Tidak boleh menjadi seorang penyanyi. Kau akan menjadi pewaris appa Kyuhyun-ah. Hanya itu jalanmu bertahan."

"Tapi… appa….." Kalimat Kyuhyun tidak bisa diteruskan, karena Younghwan sudah memotong terlebih dahulu.

Cukup sudah emosi Younghwan sudah memuncak saat ini. "Appa memberikan jalan mudah bagimu, kenapa kau menjadi anak yang begitu membangkang CHO KYUHYUN?!"

Kyuhyun tersentak. Tangannya mengepal. Jalan mudah? Sebegitu lemahkah dia di mata ayahnya? "Aku berterima kasih karena appa selalu melindungiku, tapi untuk kali ini biarkan aku memilih jalanku sendiri appa."

"Jalanmu sendiri? Tetap saja aku tidak mengizinkannya, sekalipun bukan kau yang memilih jalanmu itu." Beginilah seorang Cho Younghwan. Perkataannya adalah mutlak untuk diikuti.

Kyuhyun menahan tangisnya. "Untuk kali ini saja appa, untuk kali ini biarkan sekali lagi aku menjadi anak yang tidak menurutimu. Aku benar-benar menginginkannya appa menjadi seorang penyanyi."

Cho Younghwan melihat tekad kuat di mata anaknya itu. "Aku akan mengizinkanmu menjadi penyanyi jika kau berhasil masuk ujian universitas dengan nilai terbaik dan masuk salah satu universitas ternama. Mari kita lihat apa kau bisa melakukannya?"

"A…appa…. Gomawo….." Meski syarat itu begitu berat.

Walau kemungkinannya kecil untuk bisa berhasil namun Kyuhyun sudah bertekad untuk melakukannya. Dia tidak akan membuat ayahnya malu untuk yang kedua kalinya dengan menjadi anak yang pembangkang. Dia akan membuktikan pada ayahnya bahwa dia benar-benar bisa melakukannya.

.

.

.

.

.

Cho Younghwan merapikan rambut Kyuhyun yang terlihat agak berantakan. Rambutnya memang terus bertumbuh panjang. Pandangannya teralih pada wajah Kyuhyun. Keadaannya begitu kurus sekarang. Walau demikian wajah Kyuhyun masih terlihat begitu damai. Putranya yang masih setia untuk tertidur.

Wajah miliknya ditengadahkan. Cho Younghwan tidak ingin sampai ada air mata lagi yang terjatuh. Dia tahu bahwa Kyuhyun, sebenarnya juga merasakan emosi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Cho Younghwan tidak ingin membuat Kyuhyun bersedih hanya dengan air mata yang bahkan setiap hari menetes dari dirinya juga semua orang yang berada dekatnya.

Selembar cek. Pengakhiran kontrak. Semuanya terlalu cepat. Sangat lama Kyuhyun membangun untuk meraih semua impiannya. Bahkan jika Younghwan mengingat lagi, Kyuhyun sampai rela bertengkar hebat dengannya hanya demi impiannya ini. Meski tetap saja Kyuhyun menangis dalam pertengkaran dengan dirinya. Impian yang telah dibangun dengan susah payah hancur hanya dengan beberapa menit.

"Anak nakal. Tidak semua orang akan terpesona dengan suaramu." Younghwan mengelus pipi Kyuhyun dengan sayang.

Sama sekali tidak ada bantahan kali ini.

Younghwan kembali menengadahkan kepalanya. "Dalam drama kehidupan, aka nada yang suka dan tidak suka pada seseorang."

Tidak ada pendirian teguh lagi yang terdengar.

"Apa kau akan mengatakan hal itu lagi? Memberikan cinta yang lebih banyak kepada seseorang yang membenci kita?" Pandangan Younghwan menerawang pada kalimat Kyuhyun yang banyak menyentuh semua orang itu.

Tidak ada anggukan ataupun gelengan, bantahan maupun sanggahan.

Younghwan menahan tangisannya. "Jalanmu sulit Kyuhyunnie…. Begitu sulit… bisakah kau menggapai mereka semua kembali?"

Cho Younghwan menyandarkan punggungnya setelah menutup pintu ruangan kamar rawat Kyuhyun. Dia yakin air matanya pasti akan mengalir tanpa bisa dikendalikan. Sebenarnya untuk membuat Kyuhyun kembali menjadi penyanyi meski tanpa SM mudah untuk dilakukannya. Namun Kyuhyun sudah pasti tidak akan pernah ingin lepas dari semua saudara-saudaranya.

Cho Younghwan langsung menstabilkan keadaannya ketika melihat salah seorang hyung Kyuhyun di Super Junior sedang duduk di kursi tunggu. Dia adalah Sungmin. Hyung yang menjadi salah satu favorit Kyuhyun. Namja berjuluk bunny Min itu nampak mengenakan seragam tentaranya. Ini pasti hari kerjanya, hanya saja Sungmin menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah sakit terlebih dahulu.

Cho Younghwan mengambil posisi duduk di samping Sungmin kemudian. Mereka berdua tidak melakukan banyak perbincangan. Bahkan tidak sama sekali. Sungmin memang salah seorang hyung Kyuhyun yang pendiam. Hyung kesayangan Kyuhyun ini sekarang sudah akan menjelma menjadi seorang ayah.

Sungmin akhirnya membuka pembicaraan setelah terdiam cukup lama. "Fase yang anda alami pasti begitu berat Tuan Cho."

Namja ini benar-benar sopan, menunggu perasaan miliknya normal barulah Sungmin mulai berbicara. "Benar Sungmin-ah, lalu bagaimana dengan fasenya nanti?"

"Terjadi sesuatukah pada Kyuhyunnie? Memburuk kembali?" Sungmin mulai bertanya dengan penasaran.

Cho Younghwan menangkupkan kedua tangannya dan menunduk. "Bagaimana jika Kyuhyun tidak akan pernah bisa kembali dengan Super Junior? Menyerahkah kalian?"

"Ah Tuan Cho tentu saja kami tidak akan membiarkan itu terjadi. Super Junior tanpa Kyuhyun bukanlah Super Junior. Kami tidak akan membiarkannya." Sungmin menanggapinya dengan tersenyum ramah.

Cho Younghwan tersenyum getir. "Kalian akan berjalan tanpa Kyuhyun mulai saat ini."

Sungmin mengernyit bingung dengan kalimat Younghwan. "Kami tahu Kyuhyun belum sadar… tapi kami…."

"Selamanya Kyuhyun tidak akan kembali bersama Super Junior! Jangan mengharapkan apapun lagi darinya." Younghwan sangat tidak ingin mengatakan ini jujur saja.

Sungmin tersenyum dan mengerti. "Tuan Cho, jika ada orang yang menjatuhkan Kyuhyunnie, kami akan membuatnya berdiri kembali. Tidak peduli siapapun yang akan membuatnya jatuh. Kami pasti akan membuktikan bahwa uri Kyuhyunnie bisa kembali berdiri tegap."

"Kim Youngmin memutuskan kontrak dengan Kyuhyun tadi." Akhirnya pengakuan itu yang diberikan oleh Younghwan.

Sungmin sakit. Setidaknya dengan begitu Cho Younghwan mau mengatakan apa yang sebenarnya.

.

.

.

.

.

China

Seorang namja berwajah khas China itu memberikan senyuman terbaiknya kepada semua orang. Hari ini merupakan konferensi pers untuk film yang kembali dibintanginya. Begitu banyak kamera yang menyorot. Para wartawan yang terus bertanya mengenai apa-apa saja yang ada dalam film yang dibintanginya.

Hangeng menjawab semua pertanyaan dari wartawan secara satu per satu. Setiap pertanyaan dirinya jawab dengan begitu ramah dan sopan. Selain para wartawan dan orang-orang yang berkepentingan, ada beberapa fans yang juga menghadiri konferensi pers kali ini. Dengan begitu ramah Hangeng menerima semua hadiah yang memang diberikan oleh fans untuknya.

Setelah dua jam lamanya, akhirnya acara konferensi pers berakhir. Sun Le sang manajer juga sudah siap dengan mobil jemputannya. Setelah memberikan salam ke beberapa orang, Hangeng memasuki mobil jemputannya. Ada banyak sekali hadiah yang dirinya terima kali ini. Hangeng memotret salah satu hadiah dan mengambil selfie kemudian meng-upload ke dalam akun SNS yang dimilikinya. Pada awalnya semua baik-baik saja setelah meng-upload fotonya. Banyak yang me-like dan memberikan komentar positif dan menyemangatinya. Namun lama kelamaan mulai muncul komentar-komentar aneh dari netizen.

-Menyenangkan ya bagimu? Mungkin yang terlihat menyenangkan bagimu adalah Kyuhyun yang sakit.

-Disaat semua hyungdeul yang lain sibuk mengkhawatirkan Kyuhyun, kau sibuk untuk menunjukan bahwa kau benar-benar bersenang-senang.

-Tan Hangeng kau lebih buruk dari seorang Kim Kibum.

Mata Hangeng yang tadi begitu berbinar membaca akun SNS-nya benar-benar berubah menjadi begitu redup. Sun Le yang tengah menyetir dibuat agak bingung dengan tingkah artis asuhannya itu. Padahal baru beberapa saat tadi Hangeng terlihat begitu gembira, tapi kali ini pandangan kosong dan sedihnya kembali lagi. Kekesalannya yang memuncak, membuatnya menghapus postingan tadi dan mengganti dengan postingan yang lebih baru.

'Menyenangkan atau tidak menyenangkan semua terserah padaku. Lagipula khawatir maupun tidak khawatir, seseorang yang ada di dalam ambang kematian itu keadaannya akan tetap sama.'

Hangeng sudah tidak peduli lagi reaksi luar biasa yang akan diberikan netizen kembali kepada dirinya. Perkataannya adalah fakta bukan? Bukan salahnya juga kalau sampai Kyuhyun koma kini. Tapi kesalahannya adalah terlalu takut untuk membayangkan bahwa sang dongsaeng akan pergi untuk selama-lamanya.

.

.

.

.

.

Sum Café

Saat ini semua member Super Junior memang sengaja untuk bertemu disini. Setelah satu bulan mengenai pemutusan kontrak itu, kali ini mereka akan membahas mengenai cara agar mempertahankan Kyuhyun di dalam perusahaan. Member yang sedang menjalankan wajib militernya pun turut hadir.

Pada awalnya pembicaraan memang berjalan dengan lancar. Rapat kecil-kecilan yang dipimpin oleh Leeteuk untuk mengembalikan kontrak Kyuhyun. Suasananya masih terasa tenang. Hingga Heechul dengan penuh emosi menggebrak mejanya begitu keras. Semua yang ada disana langsung memandangi mereka. Leeteuk memberikan isyarat pada Heechul agar kembali tenang. Bukannya menurut Heechul malah berlalu meninggalkan mereka semua.

Semua memandang punggung Heechul dengan pandangan bertanya-tanya. Semarah-marahnya namja cantik itu, dia tidak akan pernah sampai tidak bicara apa alasannya marah. Yesung yang kebetulan sedang membuka SNS-nya melihat berita yang begitu menghebohkan. Berita itu jelas-jelas berkaitan dengan mereka, terlebih Hangeng dan Kyuhyun.

Yesung berbicara sambil membaca postingan Hangeng. "Menyenangkan atau tidak menyenangkan semua terserah padaku. Lagipula khawatir maupun tidak khawatir, seseorang yang ada di dalam ambang kematian itu keadaannya akan tetap sama."

"Yesung hyung baca postingan media sosial itu dalam hati." Donghae mengeluh, Yesung meperkeruh keadaan saja.

Yesung menggeleng. "Hankyung hyung menulis itu dalam postingannya."

Leeteuk mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja. "Seseorang yang ada dalam ambang kematian?"

"Yang Hankyung hyung maksud adalah Kyuhyunnie." Sungmin menyimpulkan semuanya.

Eunhyuk mengepalkan lengannya erat. "Dia seolah-olah berkata tidak mempedulikan Kyuhyunnie."

Ryeowook memandang semua dengan tidak percaya. "Mworago… benarkah Hangeng hyung menuliskan hal-hal kejam begitu?"

"Jika memang dia tidak peduli, akan lebih baik jika dirinya tidak mengatakan itu bahkan di ruang publik." Kangin benar-benar marah saat ini.

Sungmin menghela nafasnya beberapa saat. Semua member sudah terpancing emosi. "Sebaiknya kita jangan terlalu mudah untuk menyimpulkan. Hankyung hyung pasti mempunyai suatu alasan berbuat demikian."

"Alasan, alasan apa? Cukup jelas bahwa alasan Hangeng hyung melakukan itu karena sudah membenci kita." Kangin benar-benar tidak habis pikir.

Shindong mencoba memberikan penambahan kalimat Sungmin. "Bukankah kita tahu sendiri bagaimana sifat Hankyung hyung? Yang dikatakan Sungmin hyung benar adanya."

Kangin mendesah kecewa. "Kalian semua silahkan membela orang yang bersalah."

Kangin berlalu mengikuti Heechul.

Siwon mencoba untuk memanggilnya kembali. "Kangin hyung eodi…"

"Biarkan saja, Kangin dan Heechul memang perlu waktu untuk lebih berpikir dibanding kita. Sekarang kita fokus untuk meyakinkan Youngmin Sajangnim saja."

Namja cantik itu hanya berjalan-jalan mengitari kawasan café. Jahat sekali perlakuan yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Tidak. Tan Hangeng yang dikenalnya bukanlah seseorang yang demikian. Tan Hangeng yang dikenalnya adalah seseorang yang begitu penyayang dan selalu mempedulikan orang lain. Bukan manusia yang sekejam ini. Meski Heechul akui, dirinya dan Hangeng tidak pernah bertemu lagi hampir lima tahun lamanya. Untuk saling menyapa pun mereka tidak mempunyai kesempatan sama sekali.

Heechul duduk di salah satu bangku taman yang ada disana. Pandangannya menerawang. Jika saja mereka melewati waktu yang hampir tiga bulan ini seperti biasa, waktu tiga bulan akan terasa begitu pendek. Tapi sayangnya waktu yang mereka saat ini terasa amat begitu lama. Menunggu dan selalu menunggu. Berharap esok hari akan mewujudkan semua yang ada pada angan mereka. Namun yang terjadi ketika mereka terbangun adalah keadaan yang sama. Keadaan yang mengharuskan mereka tetap menunggu.

Air mata Heechul mulai menetes. Dengan sigap Heechul menundukan kepalanya. Tidak ingin ada orang-orang yang melihat dirinya menangis. Kenapa diantara banyak orang, semua terjadi kepada mereka? Apakah Tuhan terlalu menyayangi mereka. Heechul tersenyum getir ditengah air matanya yang terus mengalir, menyanyanginya? Bahkan satu-satunya diantara mereka yang tidak mempercayai Tuhan adalah dirinya sendiri. Sayup-sayup itu terdengar begitu nyaring. Ada beberapa orang yang tengah membicarakan persoalan yang memang panas. Tangan Heechul mengepal.

Dengan tangannya yang mengepal, Heechul menjatuhkan ponsel milik salah seorang gadis remaja yang sedang berbicara dengan rekannya itu. "Adakah hal yang bisa kalian lakukan selain bergosip? Misalnya belajar."

"Omo Heechul oppa. Aku tidak percaya ini." Gadis remaja itu nampak kaget sekaligus bahagia melihat kemunculan Heechul yang tiba-tiba.

Heechul tidak menanggapinya, sudah cukup semua hal-hal bodoh yang tadi dia dengarkan dari pembicaraan mereka. "Pulanglah dan belajar, bukan bergosip."

"Ah oppa, kami tidak bergosip. Ini fakta soal Hangeng-ssi yang sudah kelewatan batas. Masa dia menyebutkan secara tidak langsung bahwa Kyuhyun oppa sudah meninggal?"

Heechul menatap geram mereka berdua. "Jangan mengurusi urusan yang tidak kalian tahu. Siapa kalian berani menyimpulkan?"

Gadis remaja dan rekannya itu saling berpandangan. "Jelas urusan kami juga. Karena kami E.L.F, siapa saja yang ingin menjatuhkan Super Junior akan kami buat jera."

"Jika kalian seorang E.L.F tidak selayaknya kalian melakukan hal begitu pada Hangeng-ssi." Heechul menatap dengan penuh intimidasi kepada mereka semua.

Gadis itu hanya bisa mendesah. Ada sesuatu hal yang belum diketahui oleh Heechul ataupun yang lainnya. "Pada awalnya kami juga tidak ingin begitu. Tapi sepertinya hanya kalian yang menganggap Hangeng-ssi sebagai bagian Super Junior. Heechul oppa tahu, beberapa waktu belum lama sebelum Kyuhyun oppa koma Hangeng-ssi membentak salah satu E.L.F China dan mengatkan bahwa semuanya sudah berubah. Secara singkat Hangeng -ssi sendiri yang sudah tidak menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari Super Junior. Itu bahkan menjadi viral di China."

"Berhenti mengatakan hal-hal yang buruk mengenai orang lain!" Saat ini Heechul sudah tidak peduli anggapan orang.

"Oppa, kami benar-benar peduli pada kalian. Jika kau masih tidak percaya, sudah banyak bukti di dunia maya." Gadis remaja dan rekannya itu meninggalkan Heechul kemudian.

.

.

.

.

.

Samsung Hospital

Waktu yang terasa begitu panjang itu kembali lagi memanjang. Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Empat bulan. Sekarang adalah memasuki lima bulan. Semua sudah dilewati dengan penuh penantian yang panjang. Secara bergantian bergilir untuk menjaga seseorang yang masih setia menutup kedua matanya. Menunggui seseorang tersebut. Mengajaknya terus berbicara meski tidak ada balasan sepatah katapun yang mereka dapatkan.

Tidak dipungkiri, terkadang mereka bosan melakukan semua ini. Harus berapa lamakah mereka melakukan ini? Sampai kapankah mereka melakukan ini? Kapankah penantian mereka akan membuahkan hasil? Berapa hari lagi? Berapa bulan lagi? Berapa minggu lagi? Berapa banyak lagi air mata yang harus mereka keluarkan? Berapa lama lagi kesabaran mereka bertahan sebelum benar-benar habis?

Setiap hari mereka menanti dan menunggu. Setiap kali Junwon keluar dari kamar rawatnya setelah melakukan pemeriksaan, mereka akan bertanya. Bagaimana keadaannya? Ada lebih dari seratus kali mereka memberikan pertanyaan tersebut. Junwon hanya akan menjawab. Keadaannya masih sama adanya seperti kemarin-kemarin. Dan jawaban yang Junwon itu adalah jawaban sama yang telah mereka dengar lebih dari seratus kali pula.

Cho Younghwan tengah menunggu kedatangan sang istri saat ini, Kim Hanna. Istrinya bilang bahwa saat ini ada suatu hal penting yang akan dia sampaikan kepadanya. Selain itu bukan hanya Hanna yang mempunyai hal penting yang akan disampaikan. Junwon sebagai uisa yang selalu menangani Kyuhyun juga memberitahukan bahwa aka nada berita yang diberikan kepada mereka mengenai kondisi Kyuhyun. Maka dari itu Younghwan memilih menunggu sang istri di ruangan Junwon. Sebenarnya Younghwan tidak terlalu fokus dengan hal yang akan disampaikan oleh Hanna, namun apa yang akan disampaikan Junwon lebih membuat perasaannya tidak karuan.

Junwon dan Cho Younghwan menunggu lebih dari dua puluh menit. Akhirnya pintu ruangan kerja Junwon ada yang mengetuk. Younghwan yang memang dekat dengan pintu, segera membukakannya. Rupanya itu adalah Kim Hanna. Setelah menutup pintu kembali mereka duduk berdua di hadapan Junwon. Hanna hanya memasuki ruangan dan duduk dengan begitu tenang.

"Ada suatu kabar baik yang akan kuberitahukan kepada kalian." Junwon tersenyum dengan senang, ini merupakan perkembangan yang luar biasa.

Cho Younghwan menangkap ekspresi yang berbeda di wajah Junwon. "Adakah berita bahagia yang akan kau sampaikan? Terlihat dari wajahmu yang begitu berbinar ketika menyampaikannya."

"Nde anda benar. Perkembangan Kyuhyun-ssi setelah seminggu ini benar-benar begitu membaik. Kyuhyun-ssi sedikit demi sedikit sudah mulai bisa merespon. Harapannya untuk kembali sadar atau bangun dari komanya semakin tinggi." Junwon merasakan kelegaan juga setelah menyampaikannya.

Cho Younghwan menatap Junwon dengan tidak percaya. "Jeongmayo? Uri Kyuhyunnie akan kembali sebentar lagi Hanna-ya."

Hanna tidak menanggapi kalimat suaminya dan beralih untuk bertanya. "Jika begitu kapan Kyuhyunnie bisa sadar?"

"Ah… untuk soal itu, kami juga masih belum bisa memastikan. Pasien koma memang sering memiliki fase naik-turun." Memang Junwon tidak bisa memastikan kapan pastinya Kyuhyun bisa kembali sadar.

Hanna tersenyum getir. Lagi-lagi harapan palsu eh? "Jika begitu aku ingin menyampaikan hal penting juga disini."

"Apa itu Hanna-ya? Mungkin semua akan menjadi lebih baik jika kau juga memberitahukan kabar baik." Jelas saja karena perasaan bahagia mereka pasti bisa bertambah.

Hanna menahan nafasnya sejenak, mengatakan ini memang adalah hal yang cukup menyulitkan. "Aku ingin kalian melepaskan semua alat-alat itu sekarang dari tubuh putraku. Kyuhyun sudah cukup tersiksa dengan keadaanya."

Cho Younghwan amat terkejut dengan ucapan istrinya. "Mo..moseon? Kim Hanna kau tidak serius bukan? Tanpa peralatan medis itu anak kita tidak bisa bertahan! Lagipuula kau dengar sendiri bahwa Kyuhyunnie sudah bisa merespon. Dia bisa sadar. Ini adalah angina segar untuk kita Hanna-ya."

Hanna menatap tidak percaya kepada sang suami. Pandangannya memerah penuh dengan air mata. "Kau bilang angin segar? Berapa lama Younghwan-ah?! Berapa lama dia akan seperti ini. Sudah menggapai akhir tahun Younghwan-ah!"

"Sebentar lagi, kita hanya perlu bersabar Hanna-ya." Cho Younghwan mencoba meyakinkan istrinya itu.

Hanna menggeleng. "Sudah cukup kesabaranku Younghwannie. Kau pikirkan, apa kau akan bersabar melihat anakmu begitu menderita nantinya? Apa kau akan bersabar melihat anakmu dalam harapan hidup yang penuh kepalsuan nantinya? Bahkan dalam keadaan sekarat pun masih ada orang yang membuatnya menderita! Aku sudah cukup bersabar sampai detik ini! Tapi sekarang mari kita akhiri penderitaannya Younghwan-ah!"

'PLAK' Younghwan menamparnya. Bahkan di depan Junwon.

"Menghentikan penderitaannya? Jadi kau ingin Kyuhyun mati?! Kau seorang eomma yang kejam Kim Hanna." Tidak tahan, Younghwan memilih untuk meninggalkan ruangan kerja Junwon.

Kim Hanna kembali terisak. "Aku…aku hanya menginginkan Kyuhyunnie terbebas dari penderitaannya. Dia dalam kebingungan antara hidup atau mati. Apakah aku salah Junwon uisanim?"

Junwon yang sedari tadi hanya diam tidak ingin ikut campur menghampiri Hanna dan mengelus punggung sang ibu tersebut. "Untuk kali ini, aku menyetujui Younghwan-ssi. Bukankah Tuhan amat membenci orang yang mudah menyerah?"

Tangisan seorang ibu itu semakin menjadi.

Yeoja cantik berumur tiga puluhan itu membekap mulutnya. Menahan suara tangisannya yang memang akan keluar. Tadi dirinya datang bersama Hanna ke rumah sakit. Sebenarnya Cho Ahra sama sekali tidak ingin mendengarkan percakapan itu. Tetapi pembicaraan kedua orang tuanya dan Junwon uisanim yang terlihat begitu serius membuat rasa penasarannya semakin menjadi mengenai apa yang mereka bicarakan.

Pada awalnya senyuman Ahra mengembang karena Junwon mengatakan bahwa keadaan sang dongsaeng sudah lebih baik daripada sebelumnya. Namun mata dan pendengarannya semakin menajam saat kedua orang tuanya mulai berdebat. Dan hampir saja dirinya berteriak ketika melihat Younghwan melayangkan tangannya menampar pipi putih milik Hanna. Sampai saat Younghwan meninggalkan ruangan pun Ahra masih berdiri di luar. Dia tidak menyadari bahwa sang ayah baru saja melewatinya.

Para uisa dan ganhonsa berlarian dengan begitu panik. Mendengar langkah-langkah panik itu baru menyadarkan Ahra. Matanya melirik-lirik, langkah-langkah panik sang uisa dan ganhonsa itu adalah menuju kamar rawat dongsaeng-nya. Junwon juga mulai berlari dengan panik. Ahra mengikuti para uisa dan ganhonsa itu. Tidak. Tidak boleh. Dongsaeng-nya harus tetap bertahan. Lagipula Kyuhyun mempunyai hak untuk hidup.

Nafas Cho Ahra tersengal setelah tiba di depan ruangan rawat Kyuhyun. Dari luar dirinya bisa melihat Junwon yang sedang menangani Kyuhyun. Tidak boleh. Benar-benar tidak boleh. Baru saja Junwon mengatakan bahwa Kyuhyun semakin membaik bukan? Kenapa tiba-tiba keadaannya berbanding terbalik kembali? Orang koma pada dasarnya bisa merasakan emosi dan keadaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kalimat suaminya tadi pagi teringat oleh Ahra. Dari depan Hanna juga yang baru tiba terlihat begitu panik.

Ahra menghalangi Hanna untuk ikut melihat Kyuhyun. "Andwaeyo eomma! Aku tidak akan membiarkanmu memerintahkan para uisa melepaskan peralatan medis dari tubuh Kyunnie."

"Ahra-ya eomma hanya ingin tahu keadaan Kyuhyunnie." Hanna curiga bahwa putrinya tadi melihat dan mendengar semua yang terjadi.

Ahra tetap menggelengkan kepalanya. "Keadaannya baik-baik saja. Kyuhyunnie tidak semenderita yang eomma bayangkan! Jadi berhenti untuk menyuruh Kyuhyunnie mati eomma…hiks….."

Hanna merasa menjadi seorang ibu yang paling bodoh di dunia ini, membuat kedua anaknya menangis. Dihampirinya Ahra dan membawanya ke dalam pelukannya. "Anniyo. Eomma tidak akan berpikir sependek itu lagi. Kita bisa melepaskan penderitaan Kyuhyunnie dengan cara lain."

"Aku juga tidak ingin melihatnya menderita eomma…. Hiks…." Ahra menumpahkan semua tangisannya dalam dekapan Kim Hanna.

.

.

.

.

.

Ahra menerima jus yang diberikan oleh Leeteuk dan meminumnya dengan baik. Ketika Ahra dan Hanna sedang berdebat ditengah kondisi Kyuhyun yang kemabali kritis rupanya seluruh member Super Junior terkecuali mereka yang masih menjalan kewajiban militernya sudah berada di depan kamar rawat Kyuhyun. Hanya saja mereka diam, tidak ingin lancing untuk ikut campur ke dalam masalah keluarga Kyuhyun.

Cho Ahra menghapus bekas bulir-bulir air matanya tadi. Syukurlah Junwon juga mengatakan bahwa keadaan Kyuhyun tetap baik. Member Super Junior yang sudah berjejer di rumah sakit hanya bisa menundukan kepalanya. Ahra sudah menceritakan apa yang terjadi diantara keluarganya.

Ahra menengadahkan wajahnya keatas dan menerawang. "Baru pertama kali aku melihat appa dan eomma bertengkar begitu hebat seperti tadi. Aku tidak bisa menyalahkan eomma dan juga tidak bisa menyalahkan appa. Menunggu orang yang koma memang membuat frustasi, aku mengerti perasaan eomma. Menyerah terhadap keadaan dan putus harapan sangat tidak boleh dilakukan, appa-ku memang yang terbaik. Mereka berdua saling melengkapi bukan?"

"Seharusnya kami bisa berada terus dekat dengan kalian. Maafkan kami yang sibuk karena jadwal." Leeteuk memang sadar sudah sebulan ini member Super Junior yang tersisa sedang sibuk-sibuknya dengan jadwal masing-masing.

Ahra menggelengkan kepalanya. "Anniya. Meski Kyuhyunnie sudah tidak berhubungan lagi dengan Super Junior, kalian masih baik karena sempat menjenguknya."

"Kami sudah menganggap Kyuhyunnie sebagai dongsaeng kandung kami sendiri noona." Ryeowook memberikan kalimatnya dengan pasti.

Ahra tersenyum dengan tingkah polos Ryeowook. "Jinjja? Tapi Kyuhyun pernah mengatakan kalian adalah taman bermainnya saja."

Kangin mendesah kecewa. "Anak itu selalu menganggap kami sebagai taman bermain, selalu saja mengerjai kami."

"Tentu saja, karena hanya bersama dengan kalian Kyuhyunnie bisa tersenyum dengan begitu lepas." Ahra mengangguk dan mengingat wajah Kyuhyun yang memang akan terlihat cerah jika sudah berada diantara hyungdeul-nya.

Yesung memberikan kalimatnya. "Leeteuk hyung saja takut dengan Kyuhyunnie."

"Dia magnae yang amat berani padaku. Uri Kim Kyu." Heechul membayangkan Kyuhyun yang sangat berani memanggilnya tanpa menggunakan embel-embel hyung.

Ahra menerawang kembali. Setitik air mata menetes dari sudutnya. "Kyuhyunnie akan merasa begitu bersedih karena tidak akan bisa lagi kembali ke taman bermainnya."

Leeteuk tersenyum getir, kalimat Ahra jelas mencerminkan segalanya. "Kyuhyunnie tidak akan pernah keluar dari taman bermainnya. Dia akan ada bersama kami terus."

"Benar yang dikatakan oleh Teukie hyung. Noona kami akan membuat SM kembali menarik Kyuhyunnie." Ryeowook berucap dengan semangat.

Ahra memandangi semua hyungdeul Kyuhyun satu per satu. "Kalian yakin? Ini sangat sulit. Bahkan keadaan Kyuhyun akan lebih menyulitkan nanti."

Heechul menggeleng dan berucap dengan bangga. "Kim Kyu itu adalah dongsaeng-ku. Jadi sesulit apapun pasti bisa dilalui."

"Hyung, Kyuhyunnie juga dongsaeng kami. Jangan selalu mengklaim-nya sebagai milikmu sepenuhnya." Yesung mengeluarkan protesnya. Heechul posesif jika sudah menyangkut Kyuhyun.

Kangin memutar kedua bola matanya malas. "Baik Yesung hyung dan Heechul hyung kalian tidak bisa mengklaimnya secara pasti. Karena Ahra saja yang bisa mengklaim Kyuhyunnie seutuhnya."

"Bisa tidak sekali saja kau tidak menyebalkan Kim Youngwoon?" Heechul memberikan tatapan mendelik kesalnya pada Kangin.

"Yak hajima~ Ini rumah sakit jangan berisik." Tahukah Kim Ryeowok bahwa suara tinggimu lebih berisik dibanding pertengkaran mereka.

Ahra tersenyum dengan tingkah hyungdeul Kyuhyun. Pantas saja dongsaeng-nya itu menyebut Super Junior sebagai taman bermainnya. Mereka memang bisa memberikan tawa ceria dan itu tepat ketika perasaan sedihnya sedang berlangsung. Kau begitu merindukan mereka bukan? Jadi sebaiknya cepatlah sadar. Do'a Cho Ahra di dalam hatinya.

.

.

.

.

.

Hanna duduk dengan perlahan di samping ranjang rumah sakit yang begitu betah ditiduri oleh Kyuhyun. Bayi kecil yang dulu berada di dalam kandungannya kini sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang begitu tampan.

Pikirannya melayang kepada pertengkarannya dengan sang suami beberapa saat yang lalu. Sudah dipastikan Kyuhyun akan marah besar kepada Younghwan karena mengetahui ibunya ditampar seperti tadi. Sepenurut apapun Kyuhyun kepada Younghwan, anak bungsunya akan tetap membela Hanna dalam keadaan apapun. Kondisinya yang menurun beberapa saat lalu pasti karena Kyuhyun bisa merasakan pertengkaran diantara mereka berdua.

Entah mengapa wajah Kyuhyun terlihat begitu cerah dipandangi Hanna. Tidak ada gurat-gurat kesakitan dan lelah yang seperti biasa ada pada saat Hanna berkunjung. Di dalam keadaan komanya, Kyuhyun yang masih terlelap ingin menunjukan bahwa dirinya mempunyai harapan dan tidak menyerah. Kyuhyunnya masih ingin hidup.

Kim Hanna menggenggam tangan putranya itu dengan begitu erat. "Mianhae Kyuhyunnie, maafkan eomma yang selalu menyerah terhadap keadaanmu. Bukankah aku adalah seorang eomma yang kejam?"

Hanna mencoba untuk tidak menangis. Walaupun air matanya sudah amat menumpuk. Jika menangis lagi dirinya yakin bahwa Kyuhyun akan kembali menurun kondisinya. Hari ini sudah terlalu banyak Hanna menangis.

.

.

.

.

.

MBC Radio Star

MC tamu pada hari ini adalah Leeteuk. Leeteuk membaca script mengenai apa saja yang perlu dilakukan ketika siaran akan dimuulai. Hari ini adalah jadwalnya untuk menggantikan sang dongsaeng sebagai MC di Radio Star yang sudah lima tahun dijalaninya. Seorang penyanyi yang juga mempunyai bakat sebagai seorang presenter. Magnae-nya dari dahulu memang selalu ingin terlihat menonjol diantara semua orang.

Kim Gura sebagai salah satu host tetap disana memberikan Leeteuk dukungan dengan penuh semangat. Dirinya juga akan berusaha tidak melakukan banyak kesalahan. Ini adalah kursi milik Kyuhyun, berarti adalah tanggung jawabnya. Jangan sampai Leeteuk membuat suatu kesalahan sehingga mempermalukan sang dongsaeng.

Akhirnya take pertama siaran dimulai. Semua MC memperkenalkan diri masing-masing. Termasuk Leeteuk yang memperkenalkan dirinya sebagai MC tamu. Setelah proses perkenalan pembawa acara, barulah mereka memperkenalkan para bintang tamu yang akan tampil bersama dalam Radio Star.

Leeteuk mengawali siaran dengan cukup baik. Meski tidak dipungkiri dirinya masih terlihat canggung diantara yang lainnya. Untung saja ada Kim Gura disampingnya. Beberapa kali Kim Gura membantunya ketika Leeteuk sulit dalam melakukan wawancara. Mereka juga membuat beberapa lelucon. Salah satu diantaranya adalah dengan menyebutkan Leeteuk sebagai generasi kedua dari seorang Yoo Jaesuk. Baik MC dan bintang tamu sama-sama terkena gurauan satu sama lain.

'De javu.' Perasaan Leeteuk tiba-tiba saja merasakannya. Dia teringat ketika dirinya berada di posisi sebagai bintang tamu. Dan di depannya duduk Kyuhyun yang memegang list pertanyaan untuk bintang tamu. Kyuhyun yang ikut memberikan komentar-komentar tidak terduga sehingga mengejutkan bintang tamu seperti yang dilakukannya sekarang. Mata Leeteuk berembun, seharusnya Kyuhyun sang dongsaeng yang duduk disini dan dia sebagai bintang tamu. Gura yang ada disamping Leeteuk langsung mengingatkannya agar tidak menangis. Kali ini Leeteuk harus bersikap profesional.

.

.

.

.

.

China

50 pesan pendek. 20 panggilan tidak terjawab. 30 e-mail masuk belum dibaca. Hangeng meletakan ponselnya dengan malas ke atas meja. Dirinya menyenderkan punggungnya ke sofa yang ada dalam apartemennya. Semua itu adalah dari orang yang sama. Kim Heechul. Namja cantik yang bahkan sangat bersahabat dengannya.

Bukan tidak mau membaca semua dan mengangkat teleponnya. Kali ini Hangeng hanya ingin menghindari pertanyaan saja. Sudah dipastikan Heechul akan menanyakannya dengan berapi-api. Satu kelemahannya, dia tidak bisa berbohong pada saudara sekaligus sahabatnya itu. Saudara? Bahkan banyak artikel yang memuat bahwa dirinya sudah tidak menganggap sebagai salah satu bagian dari mereka.

Sun Le baru saja tiba. Dirinya melihat Hangeng yang sedang duduk sembari bersandar kepada sofa. Dengan perlahan Sun Le menghampiri artis yang saat ini menjadi tanggung jawabnya tersebut. Hangeng yang memejamkannya beberapa menit lalu, membukanya sedikit. Rupanya Sun Le manajernya sudah ada dan kini duduk di sampingnya.

Manajernya terlihat tidak begitu lelah dibandingkan dirinya. Padahal Sun Le jika dijabarkan memiliki jadwal yang lebih padat daripada Hangeng. Sun Le menatap ponsel Hangeng yang terus berbunyi sedari tadi. Sun Le menghembuskan nafasnya kasar, ketika membaca siapakah pengirim pesan spam tersebut kepada Hangeng. Rupanya itu adalah memang orang terdekat Hangeng.

Merasa atmosfir akan menjadi kacau setelah Sun Le melihat ponselnya yang terus menyala, Hangeng mencoba mengalihkan perhatiannya. "Gege. Wo ele."

"Kalau kau lapar tinggal pesan delivery saja Hangeng." Sun Le tidak menatap Hangeng dan terus fokus dengan pemberitaan.

Hangeng mendesah kecewa. "Aish gege. Aku bosan hanya tinggal di apartemen sekali-kali kita pergi ke restoran."

Sun Le menatap dengan kesal ke artis asuhannya itu. "Kau ingin makan ke restoran? Tidak berpikirkah banyak paparazzi yang sedang menginginkanmu. Membuat berita ini menjadi semakin menjadi."

"Gege. Kau tahu sendirikan bahwa aku tidak suka dengan tanggapan orang lain. Jadi abaikan saja mereka semua. Diriku adalah diriku." Hangeng mengambil minum yang sebenarnya dibawa oleh Sun Le untuk dirinya sendiri.

Sun Le menanggapi malas ucapan Hangeng. "Meskipun suka atau tidak suka, pada dasarnya manusia itu membutuhkan penilaian dari orang lain."

Hangeng menundukan kepalanya, sedikit tersenyum dengan ucapan sang Manajer. "Kau benar. Setidak peduli apapun kenyataannya aku tertekan saat ini. Jadi aku ingin melepas bebanku dengan pergi keluar, merasakan kehidupan yang biasa."

"Baiklah kita akan pergi ke restoran untuk makan." Sun Le tidak tahan melihat wajah sedih yang ditunjukan Hangeng tadi.

Mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan apartemen. Hangeng juga sudah siap keluar dengan penyamarannya. Topi dan masker. Sebuah penyamaran yang biasa dilakukan oleh seorang selebriti. Sayangnya Hangeng diincar saat ini bukan karena puncak karirnya namun karena masalah lain yang selalu dan selalu menyeretnya.

Sun Le tersenyum sumringah ketika setelah lima belas menit tiba di restoran tempat mereka akan makan. Sun Le memang sengaja memilih tempat ini. Lagipula dia sering kesini dan makanannya juga enak. Hangeng juga tidak merekomendasikan restoran mana yang akan tuju untuk makan. Pandangan Sun Le berubah menjadi fokus pada Hangeng yang hanya diam mematung. Mereka sudah duduk di restoran ini, tapi Hangeng sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun semenjak tiba.

.

.

.

.

.

.

Super Junior M baru saja selesai melaksanakan jadwal mereka di salah satu stasiun televisi China. Kini mereka semua sedang menuju restoran untuk mengobati perut mereka yang memang sedari tadi sudah berteriak ingin diberi makan.

Mobil van yang ditumpangi seluruh member Super Junior M melaju dengan kecepatan penuh. Tentu saja kecepatan mereka masih sama dengan peraturan standar yang diterapkan. Di mobil tidak berhenti seluruh member bercanda riang. Ah salah maksudnya ada yang berdebat dan berbuat hal lain. Ryeowook dan Siwon tampak sedang memperdebatkan sesuatu hal. Dari dulu mereka berdua memang tidak pernah bisa akur. Seperti air dan api yang tidak akan pernah bisa bersatu.

Donghae dan Henry sedang mengajari bahasa satu sama lain. Donghae belajar China dan Henry tentu saja belajar bahasa Korea. Walau Henry yang lebih mengalami kesulitan karena Donghae lebih sulit untuk mencerna pelajaran yang diberikannya. Hangeng melirik Zhoumi yang duduk di samping sopir mereka, namja bertubuh jangkung setelah Siwon itu nampak sedang menikmati pemandangan dari luar jendela. Sementara magnaenya Cho Kyuhyun, hanya sedang sibuk bermain game dengan istri kesayangannya, apa lagi jika bukan PSP.

Setelah tiga puluh menit, mereka semua akhirnya tiba di depan restoran China yang sangat di favoritkan disana. Satu per satu member Super Junior M turun dari dalam van. Ada beberapa fans juga yang berhasil mengabadikan kedatangan mereka. Sang kasir langsung menyambut dengan baik seluruh member Super Junior M yang sudah tiba. Mereka mengambil posisi duduk dengan berjejer dan berhadapan. Delapan kursi berjejer dengan masing-masing empat kursi yang saling berhadapan. Terdiri dari tujuh member Super Junior M dan satu kursi untuk sang Manajer Yongsuk.

"Fu….." Yonsuk akan memulai memesan dengan memanggil salah satu pelayan yang ada di dalam restoran.

Kyuhyun langsung menyilangkan tangannya menandakan bahwa jangan dulu memesan makanan. "Chankaman hyung, jangan dulu dipesan."

"Aish Kyuhyunnie, kita semua sudah sangat kelaparan tahu." Donghae mengeluh, kenapa juga jangan dulu memesan.

Kyuhyun tersenyum dengan cerah setelah menyimpan PSPnya dengan baik. "Aku yang akan memesankan kalian semua."

Mata Ryeowook tiba-tiba saja amat berbinar. "Berarti kau akan mentraktir kami Kyu?"

"Aish enak saja. Aku hanya ingin mempraktekan bahasa Chinaku Wookie. Semakin bagus jika aku bisa mempraktekannya." Kyuhyun mengucapkannya dengan tanpa rasa bersalah.

Zhoumi yang duduk di samping Kyuhyun mencubit pipi sang dongsaeng dengan gemas. "Panggil dia hyung Kyuhyunnie."

Henry sudah tidak bisa menahan tawanya. "Yang benar saja? Hyung akan melakukannya. Pelafalanmu saja masih berantakan hahahaha aigooo…."

"Hangeng ge Henry mengejekku." Kyuhyun merengut kesal karena diejek Henry.

Hangeng hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Duo magnae itu benar-benar. "Henry-ah berhenti mengejek Kyuhyunnie."

Yongsuk yang sedari tadi diam berkata dengan pasrah. "Ngomong-ngomong kapan kita akan makan?"

"Ah benar. Ayo pesan Kyu." Siwon menunjuk Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk dan langsung memanggil sang pelayan. "Fuwuyuar… Fuyuwuar!"

Mereka semua nampak kaget dengan pelafalan Kyuhyun yang begitu baik.

Pelayan yang dipanggil tersebut langsung menghampiri Kyuhyun dan memberikan senyumnya. "Shi de, xiansheng, you she me wo neng zueo shen me? Ni xiang dian shen me? (Ya tuan, apakah ada yang bisa saya bantu? Anda ingin memesan apa?)

Kalimat itu begitu panjang. Kyuhyun sendiri sulit untuk menterjemahkannya.

Hening.

Henry langsung menyadari keadaan dan memperbaikinya. "Dui bu qi. Kami ingin memesan ini."

Setelah sang pelayan pergi dan memastikan semua pesanan mereka, sontak seluruh member Super Junior M tidak bisa untuk menahan tawanya. Mereka sudah terkagum di awal karena pengucapan Kyuhyun yang begitu fasih, namun setelahnya wajah tidak mengerti Kyuhyun yang polos membuat semua sadar akan sesuatu. Kyuhyun hanya mengerti kata fuyuwuar saja (pelayan).

.

.

.

.

.

Namja yang memiliki tubuh tinggi di atas rata-rata itu hanya bisa memandang sendu seorang namja lain yang duduk tepat di bangku sebelahnya. Zhoumi meremas gelas minumannya. Ingin sekali dia berteriak dan mendengungkan kata-kata yang menandakan bahwa dia benar-benar merindukannya.

Namja itu nampak sudah selesai dengan makanannya. Dia dan Sun Le manajernya memutuskan untuk segera meninggalkan restoran. Hingga pada akhirnya pandangan Zhoumi dan dirinya bertemu. Namja itu mematung. Zhoumi sendiri hanya terus memperhatikannya dengan begitu lekat. Merasa sudah terlalu lama dalam posisi tersebut, Hangeng terlebih dahulu memberikan salam dan mulai beranjak pergi.

Zhoumi menghentikan langkah Hangeng, saat hyung-nya itu benar-benar akan meninggalkan restoran. "Hangeng ge…."

"Ya Zhoumi-ah." Panggilan Hangeng padanya sejak dahulu tidak pernah berubah,

Zhoumi menyuruh Hangeng duduk dulu disampingnya. Hangeng menurut, menyuruh Sun Le agar menunggu diluar. "Berita itu? Semuanya bohong bukan?"

"Aku tidak akan membuat suatu skandal hanya untuk menaikan pamorku Zhoumi-ah."

Zhoumi menghela nafasnya. "Kau benar-benar akan meninggalkan kami?"

"Hanya itu yang bisa kulakukan. Lagipula kenapa aku selalu terseret dalam masalah kalian? Aku bintang yang sudah menjauh." Hangeng mengeluarkan senyum palsunya untuk meyakinkan Zhoumi.

"Mungkin aku dan yang lainnya akan membiarkanmu pergi jika memang kau menginginkannya. Tapi Kyuhyunnie?" Zhoumi menerawang, magnae-nya adalah yang paling ingin mempertahankan keutuhan mereka.

Hangeng menghela nafasnya. "Kyuhyunnie bisa menerima ini lam….."

"Dia itu bintang…. Bintang yang paling bisa bersinar terang tanpa kita namun sang bintang selalu ingin berada diantara yang lainnya yang terkadang meninggalkannya lebih dahulu." Zhoumi sudah sadar bahwa ada setitik air mata yang menetes dari sudut matanya.

Hangeng terdiam. Dia salah satu bintang yang menjauh itu.

Zhoumi menghapus air matanya dan pamit meninggalkan Hangeng. "Jebal hyung jangan pernah membohongi dirimu lagi."

.

.

.

.

.

SM Entertainment Building

Semua nampak sibuk dengan meja dan kursi yang akan digunakan sebagai alat untuk melakukan konferensi pers pada malam hari ini. Sudah lama sekali SM tidak mengadakan acara konferensi pers langsung di gedung perusahaan. Jika memang benar, konferensi pers yang diadakan kali ini memang akan memuat berita yang amat penting untuk semua orang, tak terkecuali SM stan.

Leeteuk menghitung semua membernya. Nampaknya sudah lengkap. Meskipun lima orang. Tentu saja itu lengkap, karena ada lima member yang sedang menjalani wajib militer dan satu orang member yang terbaring sakit. Kenapa hanya ada Super Junior? Karena perusahaan secara mendadak bahwa konferensi pers kali ini adalah berita besar mengenai Super Junior.

Mereka tengah duduk berkumpul di waiting room. Menunggu panggilan jika memang semua keadaan sudah siap. Hanya saja konferensi pers ini begitu mendadak. Tumben sekali dan ada angina apa?

Leeteuk mulai bertanya pada Manajer hyung yang juga sedang berkumpul bersama mereka. "Hyung, apa yang akan dilakukan sebenarnya? Ini begitu mendadak."

"Jangankan kalian, aku sendiri tidak diberitahu mengenai apa yang akan dilakukan Sajangnim dengan melakukan konferensi pers ini." Manajer hyung menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak tahu juga.

Kangin memejamkan matanya. "Entah mengapa aku berfirasat buruk."

Manajer hyung teringat akan sesuatu hal. "Yang aku dengar ini berkaitan dengan kalian dan juga Kyuhyunnie."

"Mwo? Tersanjung sekali sampai Youngmin sajangnim turun tangan sampai sejauh ini." Heechul entah mengapa membenci rasa kepedulian Youngmin yang begitu tiba-tiba begini.

Kangin menghela nafasnya. "Semakin dijelaskan begitu rasanya firasat burukku semakin menguat."

"Ah hyung jangan dulu berprasangka buruk. Mungkin saja Youngmin berubah pikiran dan mengklarifikasi bahwa Kyuhyunnie sebenarnya masih bersama Super Junior." Ryeowook mencoba memberikan masukan yang positif.

Yesung mengangguk menanggapi Ryeowook. "Bisa jadi. Lagipula kan semenjak berita itu menyebar Sajangnim belum menyatakan peryataan resminya."

"Jeongmal? Dia itu orang yang begitu cerdik. Semudah itukah berubah pikiran?" Heechul masih saja kukuh dengan pendapatnya.

Leeteuk mencoba menenangkan keadaan yang tegang saat ini. "Lebih baik kita melakukannya dengan sebaik mungkin. Sajangnim juga mengatakan bahwa ketika sudah duduk dan mulai untuk bicara dia akan memberitahukan semuanya."

Pernyataan yang terjadi dalam konferensi pers adalah perpanjangan kontrak Super Junior. Youngmin juga memberikan pernyataan resmi dan klarifikasinya. Klarifikasi bahwa mereka sudah mengakhiri kontrak dengan Kyuhyun. Pernyataan resmi bahwa Super Junior hingga akhir kontrak barunya akan tampil tidak bersama Cho Kyuhyun. Youngmin juga memberikan pernyataan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan Kyuhyun.

Semua member Super Junior yang duduk disana merasa perasaannya menjadi kosong seketika. Firasat buruk dalam hati mereka masing-masing memang adalah kenyataan. Dia menutupinya dengan keadaan manis yang sengaja dibuat. Heechul yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung pergi meninggalkan tempat konferensi pers. Member lain juga satu per satu melakukan hal yang sama.

Youngmin tersenyum licik. Rencananya sudah sukses besar. Rengekan mereka untuk memperpanjang kontrak sudah dilakukannya. Tapi untuk mempertahankan orang yang sudah tidak berguna? Tidak akan pernah ada dalam kamus kehidupannya. Youngmin setelah menenangkan keadaan dan mengakhiri acara konferensi pers dengan baik langsung meninggalkan lokasi.

Dirinya sudah ada di dalam waiting room di gedung SM. Menghembuskan nafasnya lega. Dirinya sudah merasa melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan. Tapi sebelum kembali menuju ruangannya, di depannya sudah berjejer semua member Super Junior yang menatapnya dengan penuh pandangan amarah.

"Kim Youngmin! Kau memang mengabulkan perpanjangan kontrak! Tapi bukan kontrak kami harusnya Kyuhyun!" Heechul sudah tidak mempedulikan lagi siapa Kim Youngmin.

Youngmin tersenyum meremehkan. "Kalian hanya memikirkan orang yang sudah tidak berguna itu? Apa kalian lupa kontrak kalian juga akan berakhir sebentar lagi?"

"Sajangnim, kami tidak akan mau memperpanjang kontrak tanpa Kyuhyunnie." Leeteuk masih bisa meredam amarahnya.

Heechul mengepalkan tangannya erat. "Kau memberikan kamuflase yang baik Youngmin Sajangnim."

Ryeowook sudah menangis saat ini. "Jebal Sajangnim, biarkan Kyuhyunnie tetap bersama kami."

"Untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak berguna lagi?" Youngmin menanggapi permintaan Ryeowook dengan sinis.

Heechul menatap Youngmin dan menerjangnya dengan penuh amarah. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"

"Benar Youngmin Sajangnim, biarkan untuk saat ini kami tidak menuruti anda." Leeteuk sudah tidak bisa menahan lagi emosinya.

"Pikirkan, apakah kalian akan menang jika bertanding melawanku?" Youngmin menghentakan lengan Heechul dan berlalu meninggalkan mereka.

Yesung yang sedari tadi diam hanya bisa menanggapi semua keadaan ini dengan miris.

.

.

.

.

.

Youngmin tidak bermain-main dengan kata-katanya kemarin. Dia melakukannya selangkah demi selangkah. Kalender seluruh artis SM untuk tahun 2017 sudah diluncurkan. Hampir semua artis asuhan SM mempunyai bagiannya. Hampir, disana tidak memuat kalender Super Junior untuk edisi tahun 2017.

Namja yang sedang mendapat jatah libur di akhir tahun dari militernya itu mengigit bibirnya dalam. Emosinya benar-benar memuncak. Setelah menyatakan resmi mengenai pengakhiran kontrak kini adalah penghapusan dari list. Shim Changmin sangat marah. Meskipun Super Junior bukanlah grup yang didiaminya, tapi disana ada sahabatnya. Sahabatnya yang selalu berucap dengan bangga jika sudah berbicara menyangkut mengenai Super Junior.

Changmin lagi-lagi menatap toko kaset game yang selalu dilewatinya. Lagi-lagi keluar edisi game terbaru. Terbayang wajah Kyuhyun yang akan berbinar. Tapi sepertinya membelikan kaset game tidak akan membuatnya menjadi ceria. Perasaannya kali ini pasti tengah merasakan suatu emosi yang sama dengan keadaan saat ini.

Changmin memasuki area rumah sakit dengan memberikan senyuman ramahnya. Satu buket bunga lili putih sudah ada dalam genggamannya. Memasuki ruangan yang sudah amat sering dirinya kunjungi. Menata bunga yang dibawanya ke dalam vas yang memang sudah tersedia disana. Changmin terkikik memikirkan ekspresi wajah sang sahabat jika tahu dirinya membawakan bunga setiap kali berkunjung. Sahabatnya itu akan protes dengan mengeluarkan mimic lucu bahwa tak seharusnya Changmin memperlakukannya selayaknya yeoja. Kemudian dia akan mengomel bahwa lebih baik membelikan kaset game saja daripada bunga menyebalkan. Walau pada akhirnya Kyuhyun akan menyimpan bunga dari sang sahabat dan merawatnya dengan baik.

Mata Changmin teralih kepada tubuh sang sang sahabat yang masih setia dengan 'mimpi'nya. Air mata Changmin hampir menetes ketika memandang ngeri peralatan-peralatan medis yang menusuk Kyuhyun. Changmin menggeleng, dia selalu ingat perkataan Kibum. Kini Changmin hanya memandang Kyuhyun seperti sedang tertidur dengan biasa. Obrolan monolog Changmin terus dimulai, walau tidak ada sedikit pun respon.

Pikiran Changmin menerawang dengan masalah-masalah mengenai Super Junior. "Caramel macchiato semua begitu kacau karenamu, bahkan perasaanku juga kacau saat ini."

Sahabatnya tidak terusik sama sekali dalam tidurnya.

"Hei carbonara! Cepat bangun dan perbaiki semua keadaan ini dan juga perasaanku." Changmin kesal, betah sekali Kyuhyun dengan tidurnya.

Kyuhyun tidak berniat untuk membuka matanya.

Changmin tersenyum getir namun langsung terganti dengan senyuman evil-nya. "Ataukah untuk saat ini aku yang akan menang darimu Kyuhyun-ah?"

Jika saja sahabatnya bisa terbangun dengan cepat setelah mendengarkan kalimat Changmin.

Changmin menutup pintu ruangan kamar rawat Kyuhyun. Meski sudah tidak terlalu seperti dulu tetap saja rasanya begitu sesak. Changmin merindukan Kyuhyun, merindukan sang sahabat. Dia jahat karena tidak ada saat Kyuhyun membutuhkannya. Changmin memegangi dadanya yang mulai terasa sesak.

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Kim Kibum tersenyum setelah tiba di tempat tujuannya. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung ke rumah yang dulu menjadi rumah keduanya itu. Dimana banyak sekali orang dan ramai dengan canda tawa mereka semua. Pada saat itu, Kibum juga berada disana. Ikut ambil andil dan merasakan semua feeling yang terjadi.

Password-nya masih sama. Hyungdeul-nya benar-benar tetap memasang password tersebut. Padahal Kibum pernah mengatakan bahwa itu terlalu mudah untuk ditebak. Namun bantahan mereka agar semua member yang mulai meninggalkan dorm tetap bisa mengetahui password-nya. Salah satu cara agar mereka bisa mengingat kebersamaan mereka dahulu.

Keadaannya sekarang benar-benar sepi. Ah Kibum ingat, dorm sekarang hanya ditempati oleh beberapa member saja. Itupun jika member tidak sangat sibuk. Hanya Kyuhyun yang setiap hari menempati dorm. Magnae-nya itu pernah menceritakan bahwa dia akan ketakutan jika salah satu manajer meninggalkannya sendirian. Kibum tersenyum, itu adalah sebuah kode. Kode bahwa Kyuhyun merindukan kebersamaan mereka. Hingga kerinduan itu tidak bisa terlihat oleh mereka. Semua hal memang berubah.

Leeteuk cukup terkejut ketika melihat Kibum yang tengah memperhatikan seisi ruangan dorm. Namja berwajah dingin itu memberikan senyumannya kepada hyung tertua yang dimiliki Super Junior tersebut. Kibum melirik sesaat ke arah belakang Leeteuk. Rupanya baru leader-nya saja yang pulang dari jadwal.

Leeteuk bertanya dengan agak kikuk. "Ah Kibum-ah, sejak kapan kau disini? Hyung buatkan minum nde?"

"Ah anni hyung. Aku hanya akan sebentar disini." Kibum menolak dengan halus tawaran Leeteuk.

Leeteuk hanya bisa mengangguk dan duduk disamping Kibum. "Jadi kau mau apa kesini Kibum-ah, ada yang ingin dibicarakan?"

Kibum tersenyum menanggapi pertanyaan hyungnim-nya itu. "Kadang aku bertanya siapakah yang lebih begitu terluka disini."

"Terluka?" Jujur saja amat susah mengerti kalimat dari Kibum yang memang memiliki tingkat IQ diatas 138 itu.

Kibum mengangguk. Menghela nafasnya beberapa saat dan mulai menjelaskan. "Aku dan Hangeng hyung kah yang terluka? Hyungdeul-kah yang terluka? Fans kah yang terluka? Changmin kah yang terluka? Tapi setelah aku berpikir dengan begitu banyak, aku mulai sadar Kyuhyunnie lah yang paling terluka disini. Mungkin tanpa aku jelaskan lebih lanjut hyung bisa lebih mengerti. Dia adalah yang ditolak dan terus ditolak tapi dia adalah orang yang terus selalu berusaha mempertahankan. Padahal dia bisa bersinar dengan sayapnya sendiri."

"Kau benar Kibum-ah. Magnae kita memang istimewa." Leeteuk amat mengerti sekarang penjelasan Kibum.

"Jadi bertahanlah sebentar lagi untuk Kyuhyunnie. Untuk kali ini kita yang akan mempertahankan Kyuhyunnie."

.

.

.

.

.

Namja itu masih mengitari taman indah yang begitu luas disana. Merasakan sejuknya angin yang menerpa setiap helaian rambutnya. Suasana tenang dan senyuman khas semua anak-anak yang ada di taman membuatnya merasakan perasaan yang begitu nyaman.

Lagi-lagi anak yang selalu sendirian itu. Namja itu entah mengapa selalu ingin mengikuti arah perginya sang anak laki-laki tersebut. Terakhir kali melihat anak laki-laki itu tengah menatap intens salah satu bunga yang telah layu dan pada saat itu hati namja ini juga merasa ikut tersayat.

Namja itu sampai setelah berlari untuk mengejar sang anak laki-laki. Tidak ada bunga layu lagi di hadapannya. Namun anak laki-laki itu memandang hanya menatap langit biru cerah diatas dengan pandangannya yang nanar. Tiba-tiba saja anak laki-laki itu menangis, meski tanpa isakan. Air matanya begitu banyak. Namja itu panik dan ikut memandang langit mencoba mencari sesuatu yang membuat anak laki-laki itu menangis.

Namun namja itu hanya melihat langit yang biru. Ada suatu kilasan setelah beberapa menit. Namja ini mendengar begitu banyak orang yang menangis. Melihat siluet-siluet orang-orang yang terus memanggil dirinya setiap hari. Meski tidak mengenal siapa mereka rasanya dia sudah menjadi orang yang paling jahat. Namja ini ingin menyentuh mereka semua, namun tidak bisa.

"A….aku…. aku ingin keluar dari tempat ini." Ini adalah suara pertama yang dikeluarkannya disertai dengan tangisannya yang begitu banyak.

.

.

.

.

.

Samsung Hospital

Ahra tersentak begitu melihat sang dongsaeng menjatuhkan begitu banyak air matanya. "Gwenchanayo Kyuhyunnie… jeongmal gwenchanayo….." Meski dirinya sendiri ikut menangis.

Namun Ahra semakin panik dan menghentikan tangisannya saat menyadari bahwa kondisi Kyuhyun sepertinya tidak stabil. Dengan cepat Ahra memencet tombol darurat yang ada di samping tempat tidur Kyuhyun. Setelah beberapa menit, Junwon langsung tiba ditemani para ganhonsa untuk memeriksa kondisi Kyuhyun.

Ahra menjauh dari sana. Memberikan ruang, agar Junwon bisa melaksanakan pemeriksaannya dengan baik kepada Kyuhyun. Tubuh yang sudah lama terbaring itu akhirnya merespon rasa sakit, matanya mengerjap walau begitu sulit. Ada ringisan dari Kyuhyun. Tubuhnya merasa sangat keakitan. Junwon bisa menyimpulkan, akhirnya pasien tersadar dari kondisi komanya. Ahra membekap mulutnya tidak percaya, sang dongsaeng benar-benar terbangun setelah sekian lama.

.

.

.

.

.

Semua langsung menangis haru ketika mengetahui bahwa Kyuhyun benar-benar sudah sadar dari komanya. Junwon membiarkan mereka untuk memasuki ruangan kamar rawat Kyuhyun. Walau pada awalnya Junwon tidak menyetujui, karena keadaan Kyuhyun masih terbilang lemah untuk saat ini. Namun melihat wajah memelas mereka membuat Junwon tidak bisa untuk menolak.

Junwon bertanya pelan kepada pasien yang baru sadar beberapa jam lalu itu. "Nah Kyuhyun-ssi, kedua orang ini adalah eomma dan appa-mu. Kim Hanna dan Cho Younghwan."

-Eomma, appa, Kyuhyun? Nugu? Kyuhyun hanya memandangi mereka semua.

"Mereka appa dan eomma-mu Kyuhyun-ssi." Junwon kembali menjelaskan dengan pelan.

Kyuhyun amat bingung dengan uisa yang terus berbicara kepadanya itu. -Kepalaku begitu pusing rasanya mau meledak, aku tidak ingat ini dimana dan kenapa aku disini. Sebenarnya aku ini kenapa?

Ryeowook mencoba bertanya. Dengan penuh semangat menunjuk seluruh member Super Junior. "Kalau begitu Kyuhyunnie, kau ingat kami?"

Kyuhyun ingin sekali menggerakan kepalanya untuk menggeleng. Namun rasanya sangat sakit dan amat kaku. Mulutnya juga terasa kelu untuk berbicara. Mereka semua terus bertanya hal-hal aneh kepadanya. Saat ini Kyuhyun benar-benar sakit, hanya telinganya saja yang masih berfungsi dengan baik. Namja yang masih terbalut masker oksigen itu menangis dengan banyak. Dirinya sendiri tidak mengerti. Mulutnya ingin berbicara namun begitu kelu.

Junwon langsung terlihat panik dengan keadaan Kyuhyun. "Kyuhyun-ssi gwenchana? Kyuhyun-ssi?"

-Kyuhyun-ssi? Kyuhyun-ssi nugu? Nan nuguya, nan eodiya, dan mereka siapa? Dia merindukan mereka semua tapi kenapa tidak ada satupun benang merah yang mampu menyambungkannya? Kyuhyun memejamkan kepalanya yang kembali amat sakit.

Leeteuk mengepalkan tangannya erat. Rasanya sangat sakit.

Junwon langsung menyuruh semua orang yang ada disana untuk keluar. Dia menangkap detak jantung Kyuhyun yang kembali tidak normal. Keadaan Kyuhyun kembali menurun. Memantau semua peralatan medis yang menancap pada tubuh Kyuhyun dan menyuruh para ganhonsa membawakan peralatan medis tambahan. "Kyuhyun-ssi bertahanlah. Bertahanlah Kyuhyun-ssi. Kau bisa mendengarku Kyuhyun-ssi?"

"Mianhamnida, keadaan pasien sedang menurun drastis saat ini. Silahkan tunggu diluar." Suster menutup pintu ruangan rawat Kyuhyun dengan rapat.

Kyuhyun tidak akan meninggalkan mereka bukan?

.

.

.

.

.

.

To Be Continue…..

Ternyata chapter ini juga begitu panjang terdiri lebih dari 10.000 kata. Ini sama sekali tidak rencanakan author hanya mengikuti alur di summary saja. Ah author rasanya begitu menyukai hujan, setiap hujan turun author langsung mempunyai feel untuk melanjutkan ff ini aka seperti apa. Ada beberapa fakta yang perlu kalian tahu disini. 1) Tan Sungeun memang adalah wali kelas saat Kyuhyun duduk di kelas dua SMA. Cerita saat dia menelepon Cho Younghwan ayah Kyuhyun juga adalah fakta. Termasuk Kyuhyun memang bolos untuk main game saat seharusnya mengikuti mata pelajaran tambahan di liburan musim panas dan berakhir dengan Younghwan yang memarahi Kyuhyun. 2) Kim Ueono memang salah satu sahabat di SMA Kyuhyun, mereka sudah dekat sejak membentuk band dari kelas tiga SMP. Ueono juga sama sangat hobi gaming seperti Kyuhyun. Di saat murid lain memilih untuk menghabiskan waktu ke perpustakaan Kyuhyun dan Ueono akan lebih memilih ke game center dan bermain starcraft. Semasa band Kyuhyun memang berposisi sebagai vokalis dan tidak bisa memainkan alat music pada awalnya. Lagu-lagu yang sering mereka bawakan adalah lagu-lagu dari band X-Japan. 3) Cho Younghwan memang datang menyaksikan festival sekolah Kyuhyun saat anaknya itu duduk di kelas tiga, dan kaget karena sadar bahwa vokalis band yang tampil dilihatnya disana itu adalah Kyuhyun. 4) Kyuhyun pada awalnya memang akan meneruskan bisnis pendidikan ayahnya, namun impian Kyuhyun menjadi penyanyi mulai ada ketika ada seorang guru yang mengatakan padanya seperti ini 'Mengapa kau tidak menjadi penyanyi saja?' dan disitu Kyuhyun memutuskan untuk menjadi penyanyi. Tapi sudah banyak yang tahu Cho Younghwan sangat menentang keras keingan Kyuhyun, hingga mereka mengambil kesepakatan dengan syarat Kyuhyun bisa masuk ujian universitas dengan nilai terbaik. 5) Kyuhyun memang pada saat itu di restoran China hanya bisa mengatakan fuyuwuar yang artinya pelayan. Dan ketika pelayan menghampirinya dan membalas menggunakan bahasa China, Kyuhyun sama sekali tidak mengerti ucapannya. Terjadi ketika Kyuhyun masih belum fasih dalam bahasa China. 6) Nowon memang adalah salah satu distrik di kota Seoul yang terkenal dengan pendidikannya. Semua orang-orang disana kebanyakan mempunyai otak yang berada di atas rata-rata. Fakta-fakta itu, author ambil dari buku dan juga berbagai macam sumber. Tapi dialog yang author buat tidak sepenuhnya adalah ucapan yang sebenarnya terjadi, itu hanya pengimajinasian author setelah menghubungkan fakta-fakta yang ada. Fakta dan imajinasi kembali tertuang dalam ff ini.

Reply review:

ladyelf11: akhirnya Kyuhyun sadar di akhir-akhir dari chapter ini. Setelah dibaca, gimana apa bisa menyimpulkan?

Songkyurina: jari bergerak itu belum bisa memastikan seseorang bisa terbangun dari komanya. Berita pemutusan kontrak dengan Kyuhyun. Gorok aja gorok wkwkkw.

restiana: sudah dilanjut jadi sekarang silahkan membaca dan menikmati hehehe.

GyuhaeCho: lah kenapa bisa telat? Kemana aja emangnya eoh? Lain kali sempetin solat tahajud biar gak telat lagi wkwkwk. Emm kan eonni juga gamau sakit, sakit itu gak enak wkwkwk mending nurut aja. Itu karena memang tbcnya sudah harus mentok disitu hahaha. Di chapter ini kyunnie sadar kok. Kasian juga kalau terlalu lama. Chwang kan cinta mati sama sahabatnya itu walau mereka sering berantem. Dari sini apa bisa tahu?

Nanakyu: wuah author yang harusnya berterima kasih karena kamu selalu meninggalkan review disini. Yang ini ternyata panjang juga wkwkwk.

angel sparkyu: dan harapan kamu terkabul dalam chapter ini.

okaocha: tisu mana tisu uljima wkwkwk masih pagi udah nangis.

Ahsanriri22: orang koma memang suka tidak tentu kapan waktunya untuk bisa sadar hehehe.

Lenny chan: jangan kenceng meluknya gak bisa nafas wkwkkw. Jeongmal? Padahal gak kepikiran buat bikin chap itu sampai sesedih ini wkkwkw. Sepertinya kamu akan dikeroyok para ELF akhirnya wkwkw. Ah Way belum mau terusin dulu mian~

michhazz: youngmin sepertinya memang cocok dijadikan karakter antagonis. Hahah sudah next kok. Seneng banget ya sama Kibum?

kyukyu173: kalau semakin berat cobaan itu tandanya Tuhan semakin menyayangi kita.

Yong Do Jin316: udah masuk kok udah masuk wkwkkw. Ah gapapa yang penting bisa meninggalkan review? Uh benarkah kamu adalah orang yang sedingin Kibum? Jadi penasaran kkkk~. Hampir semuanya nangis eoh? Wkwkwk

dd: iyah iyah Kyuhyun udah bangun kok.

nnanissa: log in terus favoritin *ngarep, iyah kamu pintar kwkwkwk. Ah jangan dong jangan begadang gak baik loh kkkk. Gimana sih saya mah orangnya tegaan atuh da wkwkwk.

kyuchoco13: sepertinya Kyuhyun tidak mengingat apapun. Dan sepertinya emang chapter ini menjadi panjang lagi huhuhu.

Kata: nah loh, kemarin-kemarin kemana aja? Wkkwkw. Iya di chap ini Kyuhyun mulai sadar walau agak mengkhawatirkan wkwkwkw.

cho sabil: sepertinya Kyuhyun sadar itu adalah di chapter ini bukan chapter kemarin mian wkwkwk.

lovelyrose98: Caranya? Entahlah tenggelemin Youngmin ke laut aja bisa tuh wkwkwk. Hibernasinya udahan kok sekarang di chap ini. Itu kan emang resiko buat orang yang terlalu lama dalam keadaan koma. Wkkwkw iya Kyu kalau manja itu imut. Wkwkwk Cuma bisa main PSP, daripada kagak bisa main PSP sama sekali nantinya kkkk.

mmzzaa: Aigoo emang tidur bikin capek eoh? KKkkk.

Desviana407: sudah mau akhir tahun, Kyuhyun baru terbangun wkwkwk. Makasih karena udah selalu menantikan kelanjutan ff ini. Aah mian, itu summary kemarin emang ceritanya buat spoiler untuk mengetik FF ini, dan summary nya gak nyangka juga bakalan sepanjang itu. Wkwkkw setelah dipotong pun kelanjutan ff ini tetap terdiri lebih dari 40 halaman A4. KKkk kyunnie sudah bangun kok.

masya25: kadang menunggu itu selalu membuat frustasi bukan? Dan berakhir dengan kata menyerah. Itulah yang dirasakan oleh eomma Cho.

wcanon: aigoo kalau inget 2007, author juga merasakan kesedihannya. Tapi disana Kyu Cuma 4 hari untung aja wkwkkw. Hallo review baru senengnya dapet review baru wkwkkw.

caramel machiato: Ah Annyeonghaseyo. Apa kabar? Nggak nyangka lagi-lagi author dapat Malaysian reader. Author berterima kasih karena kamu sudah mau membaca dan memberikan komentar untuk Fanfiction ini. Thank you for your attention to this story. Sekarang chapter ini sudah up. Hope you can read and enjoyed this chapter 7 of this fanfiction. Saya juga terlalu bingung untuk berbicara Melayu. Tidak apa-apa bahasa negara kita pada dasarnya hampir mirip. Sekali lagi terima kasih banyak.

auliaMRQ: wuah jangan dong itu merupakan tindakan kejahatan hihihi.

KuroNaShiro: Sekarang Kyuhyun sudah bangun, apakah senang?

xyz: lagipula kalau tidak memaafkan mereka juga apa untungnya. Kesalahan pasti bisa diperbaiki bukan? Author juga berterima kasih.

Gamekyuoppa: tentu saja rasa bersalah karena penyesalan sangat menyakitkan. Heechul benar-benar menyesali tindakannya yang sudah keterlaluan. Di kenyataan Heechul itu sangat protektif pada Kyuhyun walau dia jarang menunjukannya ke depan kamera.

fatmawatiyustika: yeay Kyuhyun sepertinya mendengar permohonan kamu. Karena pada chapter ini akhirnya Kyuhyun sadar, walau tak semulus yang dibayangkan. Kayaknya benci banget ma Youngmin yah kamu? Jujur sih author gak terlalu mengenal Youngmin Cuma tahu-tahu sekilas kkkk.

Lina: bahkan Youngmin sudah memberikan pernyataan resmi dalam konferensi persnya di chapter ini.

Sparkyunee13: Ah mian banyak typo, karena ff ini memang ff yang diketik dan dipost satu kali jadi. Tapi baik chapter 5 maupun chapter 6 semuanya sudah di remake dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Silahkan dibaca ulang jika masih kebingungan. Terima kasih karena udah mengingatkan wkwkwk. Semoga chapter ini juga bisa lebih baik?

liliwati: nah diantara semua reader cuma kamu loh yang gapapa Kyuhyun berakhir kontraknya sama SM. Wkwkkwkw.

SILAHKAN KLIK FAVORIT FANFICTION INI JUSEYO~ *ngarep wkwkwk.

Thank's To:

| 0932715630 | Ahsanriri22 | Anna505 | AtikahSparkyu | Axerleoulus Xenon Xelvarixion | Captain Potato | Cho Sun Eun | Desviana407 | Fitri MY | FlowerKyuu | KimRaf | Kira Kim 19 | Kotonoha Mari-Chan | Kyu4ever | LilisssRY | MissBabyKyu | Yong Do Jin316 | auliaMRQ | bintang15 | | fanatwik | fatmawatiyustika | febbycho | gyuyomi88 | .7 | hulanchan | hyunnie02 | kimLr | kyukyu173 | ladyelf11 | mmzzaa | naylahadi20 | nnanissa | nurafaini | okaocha | readlight | restiana | riritary9 | seventeencarat | 07 | tirah25 | whirlstie | widiantini9 | xolovxy | yuliefl123 | yuliyuzumaky |

Kalian bisa menjumpai author di Facebook : Dewi Andriani (Super Junior Fanfiction)- sekaligus info-info mengenai Kyuhyun

Kalian bisa menjumpai author di BBM : d1057d69

Kalian bisa menjumpai author di blog : dewisparkyu(titik)wordpress(titik)com tempat untuk mempost ff author juga.

Kalian bisa menjumpai author di Line : driani96