Title : Because I Miss….
Cast : Kyuhyun and all SJ member, etc.
Gendre : Brothership, Friendship, Hurt/Comfort, Angst
Length : Chaptered
Summary : Semua orang disana sudah berdiri lemas dengan mata mereka yang berkaca-kaca, ketika sang uisa keluar dari ruangan seseorang yang begitu mereka kasihi. / "Saat ini hanya satu sampai dua orang saja yang bisa mengunjunginya. Terlebih dengan kondisinya yang terbilang masih amat lemah." / Namja yang masih terbaring lemah itu merasakan rindu yang amat mendalam kepada yeoja paruh baya yang sedang duduk di sampingnya. Namun lagi-lagi perasaan bingung melandanya. / "Hanya perlahan-lahan Kyuhyunnie, semua akan kembali seperti semula." Meski dibalik kalimat penenang itu sebenarnya terdapat ruam luka yang amat dalam. / "Noo..na…ku…. c…. cantik….go….mawo." Senyum mengembang di bibir manis milik Ahra. Dongsaengnya yang selama ini diam kini bisa menyapanya. / "Ada keadaan Kyuhyun-ssi, yang harus saya jelaskan." / Meski masih agak terbata-bata hanya untuk bicara, tapi setidaknya perkembangan Kyuhyun cukup cepat. Walau diketahui pada kenyataannya tubuhnya masih saja menjerit. / Akward. Changmin merasa ini tidak seharusnya. "Kau adalah seseorang bagiku, Kyu." Sementara Kyuhyunn, namja yang masih terbaring lemah itu memandang Changmin dengan aneh. / Satu bulan sudah berlalu semenjak orang yang mereka kasihi membuka kedua matanya, walau masih belum bisa bergerak Kyuhyun sudah bisa lebih leluasa dalam menggerakan kedua tangannya. Mereka bersyukur, sekecil apapun itu. Karena saat ini Kyuhyunnya masih ada diantara mereka. / Leeteuk menegang ditempatnya ketika mendengar pertanyaan itu. "Apakah kita juga akan mendapat akhir yang sama?" / Malam ini namja pemilik kulit pucat itu sendirian. Kesepian yang tadi akan melandanya hilang sudah saat pintu ruangannya dibuka. / "Apa yang istimewa dari dirimu yang sekarang sehingga mereka begitu mempertahankanmu sampai seperti ini? Bisa kau jelaskan Kyuhyun-ssi?" / "Kenapa kalian menungguku samapai seperti ini?" / Namja ini sudah memutuskan untuk tidak membuat beban bagi mereka. Maka dari itu dia benar-benar akan pergi. / "Kyuhyun pindah rumah sakit hyung… ….. Kyuhyunnie…..Bukan di Korea, tapi luar negeri hyung…." / Seringkali semenghindar apapun kau dari sesuatu yang dibenci, keadaan malah terbalik. Dimana kebencianmu yang tidak ingin dilihat kini berada begitu dekat denganmu sendiri. Namun perasaan seseorang ini masih tidak bisa menentukan apakah dia membencinya ataukah hanya lari dari kenyataan. "Xie…..xie…." Dan namja yang menjadi 'korban' ini mengeluarkan air matanya begitu saja, dadanya sesak." / Younghwan langsung menghampiri cemas Kyuhyun, ketika anaknya itu memegangi kepalanya sendiri dengan erat. "Gwenchana, kepalamu sakit?" / Kyuhyun memandang Younghwan sang appa dengan lurus. "Bisakah anda menjelaskan sebenarnya siapa aku ini?" / Namja yang tinggal lama di Kanada itu terpaku. Gege-nya yang selama ini hilang berdiri dihadapannya. "Aku orang yang jahat Henly-ya… aku orang yang jahat…."
Mohon maaf FF ini baru bisa author teruskan lagi di hari ini. Karena pada beberapa waktu lalu author kehilangan ide untuk kelanjutannya, alhasil perlu merenung dulu untuk memikirkan kelanjutannya seperti apa supaya ff ini benar-benar menjadi alur cerita yang menyambung. Harusnya hari Rabu up tapi di hari sabtu di up nya mianhae nde. Kkkk semoga kelanjutannya tidak membuat bosan. Jangan lupa untuk tinggalkan review kalian.
DON'T BE SILENT READER
DON'T BASH
DON'T COPY TANPA IZIN
DON'T LIKE DON'T READ
KEEP REVIEW
KLIK FAVORITE IF YOU LIKE
ENJOYED
Air biru yang terbentang di samudera sedang diam begitu tenang. Kicauan burung yang seakan bernyanyi makin membuat semuanya menjadi tenang. Suasana hari indah dan begitu menyejukan membuat kehidupan yang begitu rumit terasa tenang dan ringan jika bisa menghayatinya. Di setiap sudut kamar dalam sebuah rumah rumah akan merasakan nyanyian tenang dan melarutkan mereka kembali ke alam mimpi. Sayangnya keadaan itu berbeda dengan salah satu kamar rumah sakit ini, dimana para uisa dan ganhonsa sangat sibuk untuk menangani pasien mereka yang kembali ke dalam keadaan kritis.
Suara-suara mereka terdengar lantang dan tegas. Berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kehidupan seseorang yang kini kembali menuju jurang kematiannya. Tak ada perjuangan yang tidak membuahkan hasil. Para uisa dan ganhonsa itu dapat menghembuskan nafasnya lega ketika pasien mereka kembali ke dalam keadaan stabil. Dengan satu nilai plus, namja tersebut juga kembali membuka matanya.
Seorang namja paruh baya ini tidak berhenti memanjatkan do'anya untuk mengharapkan keadaan sang putra akan baik-baik saja. Kemudian matanya langsung terbuka ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Semua orang disana sudah berdiri lemas dengan mata mereka yang berkaca-kaca, ketika sang uisa keluar dari ruangan seseorang yang begitu mereka kasihi. Junwon sang uisa menatap mereka semua dengan pandangan harunya. Tentu saja dirinya terharu, karena sang pasien begitu mempunyai banyak orang yang menyayanginya.
Kim Hanna langsung memberondong Junwon dengan pertanyaannya. "Bagaimana keadaan Kyuhyun?"
"Kyuhyun-ssi, dia sudah baik-baik saja." Junwon menjawab dengan penuh senyuman.
Hanna menatap Junwon dengan tidak percaya. "Jeo…jeongmalyo?"
"Nde." Sahut Junwon dengan begitu ramah kembali.
Younghwan merangkul sang istri yang masih menangis karena bahagianya. "Hanna-ya uri Kyuhyunnie berhasil kembali."
Junwon teringat untuk mengatakan sesuatu kepada mereka. "Saat ini hanya satu sampai dua orang saja yang bisa mengunjunginya. Terlebih dengan kondisinya yang terbilang masih amat lemah." Setelahnya meringis melihat hyungdeul Kyuhyun yang sudah ingin menerobos langsung ke dalam kamar pasiennya.
"Ah… aku mengerti." Younghwan sedikit tersenyum melihat arah pandangan sang uisa. "Tentu saja, aku akan mengatur jadwal kunjungannya."
"Junwon uisanim….." Akhirnya salah satu member Super Junior yang hanya diam kini mengeluarkan suaranya. Yesung.
Junwon memandang Yesung kemudian. "Nde?"
"Uisa tidak akan mengatakan 'tapi' lagi kan setelah mengatakan bahwa Kyuhyun baik-baik saja?" Ryeowook bertanya dengan wajah polosnya.
Junwon menggelengkan kepalanya. "Anniya, kata 'tapi' itu sudah berlalu."
Namja yang masih terbaring diatas tempat tidur hanya bisa menatap sekeliling ruangan yang baginya serba putih itu. Tak ada satu pun hal yang bisa menjelaskan ke dalam pikirannya sendiri mengenai alasan dirinya bisa ada di atas tempat tidur tersebut dengan alat-alat yang menusuki tubuhnya sendiri.
Waktu itu dirinya menangis, berharap ingin pulang dan tidak tinggal di taman itu kembali. Meski disana nampak begitu menyenangkan. Karena rasanya seperti ada sesuatu yang hilang, dan membuat dadanya terasa sakit. Amat sakit. Dan ketika terbangun disinilah dia sekarang berada di dalam salah satu ruangan intensif rumah sakit.
Hanna membuka pintu kamar rawat anaknya dengan begitu hati-hati. Tidak ingin mengejutkan Kyuhyun yang alhasil bisa membuat tubuhnya terguncang. Perlahan-lahan yeoja cantik itu mendekati ranjang Kyuhyun. Mata yang selalu tertutup itu kini benar-benar terbuka. Hanna merasa bersalah kembali ketika mengingat beberapa waktu lalu dia menginginkan kematian anaknya sendiri. Hanna duduk disamping ranjang Kyuhyun dan menggenggam tangan sang putra dengan erat.
Kyuhyun memandang yeoja yang masih asing tersebut dengan lurus. Genggaman tangannya begitu hangat. Membuat rasa sakit tubuhnya yang selalu dirasakan menghilang begitu saja. Rasanya Kyuhyun menjadi orang terjahat karena membuat yeoja itu menangis. Namja yang masih terbaring lemah itu merasakan rindu yang amat mendalam kepada yeoja paruh baya yang sedang duduk di sampingnya. Namun lagi-lagi perasaan bingung melandanya.
Hanna menghapus air matanya ketika merasakan tangan Kyuhyun yang bergerak gelisah. "Mianhae… disaat seperti ini aku malah menangis."
-Gwenchana, aku malah jahat karena membuatmu menangis. Sayangnya untuk membuka mulut pun Kyuhyun begitu kelu.
"Jika kau bertanya-tanya siapa aku? Aku adalah eomma dari seorang Cho Kyuhyun yang begitu hebat." Hanna memaksakan senyumannya.
-Eomma. Rasanya begitu hangat. Kyuhyun hanya bermonolog dalam pikirannya sendiri.
Hanna menarik nafasnya beberapa saat. "Aku…. Aku eomma yang jahat. Aku mengharapkan kematian putraku sendiri…." Lagi setetes air bening itu mengalir.
-Aku memang sakit mendengarnya. Tapi aku lebih sakit melihat mu menangis. Uljima. Kyuhyun hanya berharap yeoja itu bisa mendengarnya.
"Gomawo, karena Kyuhyunnie sudah mau kembali lagi kepada eomma." Hanna semakin menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat.
-Eomma, akulah yang berterima kasih karena kau sudah mau menungguku kembali. Aku mengerti karena waktu itu sudah tidak mungkin untuk ku kembali. Kyuhyun tersenyum hangat pada Hanna.
.
.
.
.
.
Namja dengan tubuh mungil itu menatap wajahnya di depan cermin. Memperhatikan setiap inci dari penampilan yang telah dikenakannya. Menghembuskan nafasnya lega, berpakaiannya sudah cukup rapi dan bisa pergi sekarang. Kim Ryeowook menatap kepada kotak-kotak beroda yang sudah tersimpan kembali di tempat yang seharusnya.
Sejauh apapun dirinya pergi, Ryeowook tahu dia tidak akan mampu untuk tidak kembali ke sebuah tempat yang sudah menjadi persinggahannya selama sepuluh tahun ini. Ryeowook tersenyum ketika mengingat bagaimana marahnya sang magnae ketika sang dongsaeng mengetahui dirinya akan pindah. Lalu kenapa pada saat itu mereka semua malah marah? Harusnya mereka termasuk dirinya sendiri sudah tahu bahwa dongsaeng mereka tengah amat kesepian.
Baru saja Ryeowook akan melangkah meninggalkan dorm, hyung dengan kepala besarnya sudah terlihat dengan pakaiannya yang begitu rapi. Sebelum berangkat, Ryeowook menghampiri Yesung terlebih dahulu.
"Oh hyung, kau sudah mau memulai jadwal?" Tanya Ryeowook ketika berpapasan dengan Yesung.
Yesung mengangguk, namun dengan wajah yang cemberut. "Nde Wookie. Syuting untuk drama terbaru hyung dimulai hari ini."
"Voice? Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." Ryeowook menatap Yesung dengan berbinar.
"Hyung akan melakukan yang terbaik." Kalimat itu sebenarnya kalimat semangat tapi Yesung mengatakannya dengan begitu lemas.
Ryeowook menatap malas Yesung. "Ck. Yesung hyung, kau terlihat tidak semangat sama sekali. Waeyo?"
"Hyung ingin mengunjungi Kyuhyunnie. Tapi Cho ahjussi, memberikan jadwal paling terakhir untukku bertemu. Aku ingin pertama." Yesung membeberkan perasaannya itu dengan cemberut.
Ryeowook terkekeh melihat tingkah kekanakan hyung kesayangannya tersebut. "Mau bagaimana lagi, Kyuhyunnie masih dalam keadaan lemah saat ini. Terlebih dia juga belum bisa mengingat apapun. Tiba-tiba dikunjungi banyak orang pasti membuatnya syok. Tentu saja dimana wajah banyak orang ini sama sekali tidak dikenalinya." Ada nada getir setelahnya.
Yesung menyadari tingkahnya yang berlebih. Beralih untuk mengelus pundak dari salah satu dongsaeng-nya tersebut. "Gwenchana, perlahan-lahan semua akan kembali seperti semula."
Disana satu orang namja lagi tersenyum menyaksikan semua interaksi yang kembali terjalin diantara mereka. Rasanya ada sebuah kerinduan yang perlahan-lahan mulai terobati. Tangan milik namja pemilik lesung pipi itu meraba bagian dadanya. Hangat. Rasanya sudah lama dirinya tidak merasakan kehangatan ini.
Mata miliknya mulai berkaca-kaca. Apa yang diinginkan oleh dongsaeng-nya selama ini hanyalah sebuah obat untuk mengobati perasaan seperti yang dirinya alami. Namun apa yang telah mereka perbuat hanya menganggap semua itu sebagai hal yang sudah tidak perlu dilakukan kembali. Mungkinkah dongsaeng-nya bisa bahagia jika mengetahui bahwa apa yang diinginkannya terkabul sekarang? Namun beribu sayang, tak ada satupun memori yang berkaitan dengan mereka.
.
.
.
.
.
Kyuhyun hanya memandang langit-langit rumah sakit. Tepat lurus diatas tubuhnya ada dua bola lampu yang menyala. Cahaya dari lampu-lampu tersebut merupakan hal pertama yang bisa dirinya lihat ketika pertama kali membuka kedua matanya. Cahaya lampu itu begitu putih dan bersinar, jika diterjamahkan tampak seperti sebuah perasaan yang kosong.
Seperti keadaan dirinya saat ini. Hanya kekosongan yang dirinya tahu. Semua orang selalu memanggilnya 'Kyuhyun.' Semua seolah-olah sudah mengenal dirinya semenjak lama, tapi Kyuhyun sendiri tidak ingat kapan dirinya dilahirkan. Apakah begitu banyak kehidupan yang telah dirinya lalui? Apakah dirinya sudah melewati banyak waktu dalam hidupnya? Apakah dia sudah berbuat kebaikan sehingga semua orang selalu menahan tangisnya di depan dirinya sendiri? Apakah dirinya sudah berbuat keburukan untuk menjadi alasan lain mereka untuk menahan tangisnya di depan dirinya? Tidak. Namja yang masih menggunakan selang oksigen tersebut tidak tahu dan 'lupa'. Apa yang dirinya ingat hanyalah hari pertama kali dirinya bangun di atas ranjang di sebuah gedung yang semua orang menyebutnya sebagai rumah sakit.
Sakit. Memikirkan semua itu membuat Kyuhyun merasakan sakit di kepalanya. Namja berkulit pucat itu berusaha sekuat tenaga untuk mengingatnya. Tapi nihil. Hasilnya hanyalah sama. Sebuah kekosongan dan ruangan putih di setiap isi pikiran dan perasaannya. Dirinya ingin berteriak, namun begitu kelu. Apakah Tuhan sedang mempermainkannya?
Kyuhyun hanya tidak menyadari sedari tadi ada sang appa yang berdiri diam tanpa suara memperhatikan sang putra. Perasaannya terhubung dengan apa yang dirasakan oleh Kyuhyun disana. Hatinya juga ikut teriris perih menyaksikan semua yang harus dialami oleh anaknya sendiri. Anniya. Dia tidak akan menjadi seorang appa yang cengeng lagi. Bulir air mata yang akan terjatuh itu berhasil dirinya kalahkan. Perlahan mendekati ranjang sang anak dan duduk di sampingnya. Kyuhyun memandang namja yang uisa bilang sebagai ayahnya tersebut.
Younghwan mengelus rambut Kyuhyun dengan lembut. "Pasti berat dan membuat kepalamu sakit bukan?"
-Rasanya hangat. Kenapa namja ini selalu tahu bagaimana apa yang kurasakan? Appa? Dia appaku bukan? Mulutnya tetap terasa kelu.
Younghwan tersenyum ketika Kyuhyun memandangnya. "Jangan paksakan dirimu untuk mengingat semuanya lagi. Jangan terlalu sering bertanya kepada dirimu sendiri tentang siapa dirimu? Seberapa banyak kehidupan yang telah kau lewati? Seberapa banyak waktu yang telah kau lalui? Itu hanya akan membuat mu hanya kesakitan." Memberikan pandangan teduhnya pada Kyuhyun.
-Namja yang katanya adalah appa-ku, kenapa kau egois? Kenapa kau tidak membiarkanku untuk mengingatnya? Kalimat dalam monolog Kyuhyun itu sesungguhnya kalimat yang tidak bernada marah.
"Ah… aku benar-benar orang yang egois. Disaat semua orang ingin ingatanmu kembali, aku hanya menyuruhmu untuk jangan lakukan." Terkekeh perlahan, dan melanjutkan kembali. "Tapi inilah kehidupan. Kita harus bisa menerima apa yang sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Terkadang ada takdir yang tidak bisa diubah bukan? Aku tidak akan memaksamu untuk mengingatku ataupun mengingat dirimu sendiri, kenangan yang telah kita lewati kembali." Berhenti di kalimat terakhirnya.
-Lantas untuk apa aku disini dan hadir kembali diantara kalian? Aku hanyalah sesosok manusia rapuh yang tidak ber….. Seakan bisa mendengar suara hati milik Kyuhyun, Younghwan memotong ucapannya.
"Tapi jangan mengira kau sudah menjadi tidak berguna. Pada dasarnya kau adalah harapan dan cahaya yang sudah dinantikan olehku, eomma-mu, noona-mu juga semua hyungdeul-mu. Kita hanya perlu memulainya dari awal lagi bukan?" Younghwan bertanya retoris pada dirinya sendiri juga pada Kyuhyun.
-Dari awal? Akhir dari kisah hingga aku bisa terbaring di tempat ini pun aku tidak mengetahuinya. Ada sebuah senyum getir yang terlihat begitu tipis di sudut bibir Kyuhyun.
"Jangan salah perkiraan mengenai apa yang aku ucapkan." Tersenyum begitu lembut pada Kyuhyun. "Maksudku adalah seperti ini. Namaku Cho Younghwan, seorang yang sudah mempunyai dua orang anak dari satu orang istri bernama Kim Hanna. Putri pertamaku Cho Ahra sudah menikah. Dan magnae-ku Cho Kyuhyun, sedang dirawat di rumah sakit untuk sembuh dari penyakitnya."
-Entah mengapa ketika kau yang memanggil namaku Cho Kyuhyun perasaanku merasa bahagia. Appa, mianhae. Kyuhyun tidak tahu, rasanya dia ingin mengucapkan kata maaf.
Younghwan tersenyum dan membelai surai lembut milik putranya kembali. "Kau tidak perlu mengingat siapa dirimu kembali. Yang hanya perlu kau lakukan adalah menjadi putraku kembali Kyuhyunnie."
'Tes' Air mata itu mengalir dari dua sudut mata Kyuhyun. –Entah apapun itu, setelah mendengar semua yang kau ucapkan aku ingin memelukmu. Jika kau bisa mendengarnya, bolehkah aku memelukmu appa?
Benar saja, Younghwan langsung membawa Kyuhyun ke dalam pelukannya dengan lembut. Tubuhnya hanya bereaksi langsung saja untuk memeluk sang magnae.
Ryeowook mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan rawat magnae-nya. Dia tidak mau mengganggu momen mengharukan diantara ayah dan anak tersebut. Biarlah untuk saat ini mungkin Kyuhyun memang lebih membutuhkan keluarganya dibandingkan dirinya yang tidak sedikit pun memiliki hubungan darah.
Merasa Kyuhyun sudah tenang, Younghwan melepaskan pelukannya secara perlahan. Ekor mata miliknya menatap Ryeowook yang berdiri bingung antara mau meninggalkan ruangan Kyuhyun atau tetap tinggal. Younghwan beranjak dan menghampiri Ryeowook yang masih berdiri disana.
"Ryeowook-ssi." Sapa Younghwan dengan ramah.
Ryeowook sadar dari lamunannya. "Ah ahjussi, mianhata. Sebaiknya aku kesini lain waktu saja."
"Anniya. Kunjunganku juga sudah selesai, sekarang kau bisa masuk." Younghwan menggelengkan kepalanya dan berbicara halus.
Ryeowook menunduk perlahan dengan berkata begitu pelan. "Tapi sepertinya Kyuhyunnie lebih membutuhkan keluarganya dibandingkan a..aku…"
"Kau juga keluarganya, kau hyung-nya." Younghwan tersenyum begitu lepas.
Ryeowook mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk. "Ahjussi….."
Ryeowook sudah memasang wajah terharunya yang membuat Younghwan ingin tertawa. "Jadi karena kau juga adalah keluarganya, jelas Kyuhyunnie juga membutuhkanmu. Masuklah."
"Go…gomawo… aku tidak akan membuat Kyunnie kenapa-kenapa janji." Ryeowook membungkuk dan masuk ke dalam sana.
Ryeowook masuk dengan langkah yang amat pelan ke dalam ruangan Kyuhyun. Mencoba tersenyum ketika sudah tiba di samping ranjang milik sang dongsaeng. Kyuhyun sendiri hanya bisa memperhatikan namja bertubuh pendek yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum terus kepadanya.
Mereka tampak canggung satu sama lain. Terlebih Kyuhyun, karena dirinya sama sekali merasa tidak tahu dengan namja yang tengah berdiri di depannya ini. Lama mereka terdiam satu sama lain, akhirnya Ryeowook berinisiatif untuk memulai percakapannya.
"Kim Ryeowook imnida. Hyung-mu yang ke-11 di Super Junior."
Kyuhyun sedikit mengernyit ketika namja berperawakan mungil ini menyebutnya sebagai hyung nomor sebelas untuknya. Jika begitu berapa banyak hyung yang dirinya miliki di Super Junior itu, jika namja yang ada bersamanya ini adalah nomor sebelas?
Akhirnya Ryeowook bisa mengatasi kecanggungannya. Kyuhyun juga pada akhirnya bisa mengetahui bahwa hyung nomor sebelasnya ini begitu cerewet. Banyak sekali yang dirinya ceritakan pada Kyuhyun. Apalagi jika bercerita mengenai lagu-lagu ballad dan girl group. Suara Ryeowook juga begitu nyaring, namja ini memiliki suara yang bagus. Ballad? Ada sesuatu yang tidak asing bagi Kyuhyun mengenai itu.
.
.
.
.
.
Sudah ada beberapa hyung yang mengunjunginya beberapa hari ini. Diantaranya adalah hyungdeul-nya yang menggunakan seragam seperti tentara. Awalnya Kyuhyun bingung sendiri, apakah mereka memang tentara? Kebingungan Kyuhyun terjawab ketika hyungdeul-nya tersebut menjelaskan mengenai wajib militer yang tengah dijalani mereka.
Hari ini dirinya juga tengah menunggu kedatangan salah satu hyung-nya lagi. Kyuhyun malah merasa senang ketika para hyungdeul-nya itu datang mengunjunginya. Menatap pintu kamar rawatnya yang masih belum terbuka juga. Seandainya saja tubuhnya tidak sekaku ini, ingin sekali Kyuhyun turun dan berjalan-jalan keluar.
Setelah berapa lama, pintu ruangan Kyuhyun terbawa. Sesosok namja tampak masuk. Tingginya hampir sama dengan Ryeowook, hanya saja namja ini lebih tinggi sedikit dari Ryeowook. Namja itu tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih dan nampak seperti kelinci itu.
"Mianhae. Aku harus mengurus istriku dulu tadi." Sungmin kembali tersenyum setelahnya.
-Namja ini sudah menikah. Kenapa aku merasa kesepian mendengarnya. Kyuhyun merasa lebih lama mengenal Sungmin.
Sungmin menatap Kyuhyun dengan sekilas. "Gwenchana? Berapa lama lagi kau mau tinggal di tempat ini?"
-Tidak ada air mata yang ingin terjatuh seperti yang lainnya. Kau siapa? Lee Sungmin? Kyuhyun benar-benar ingin bertanya seperti itu.
"Kau hanya melewati ini bukan? Tidak akan ada lagi rasa sakit yang akan kau lawan setelah semua ini. Karena aku tahu kau bisa melewatinya seberat apapun itu." Sungmin berkata dengan tegas dan jelas.
-Sungmin hyung, kau hyung terbaikku kah? Kau sama sekali tidak menganggapku seperti orang yang lemah. Kenapa kau seyakin itu denga diriku yang bahkan untuk turun dari ranjang pun belum bisa? Kyuhyun mendebat pernyataan Sungmin jika seandainya suaranya bisa keluar.
Sungmin menerawangkan pandangannya. "Karena aku sudah melihatmu melewati semua yang bahkan lebih dari saat ini."
Bukan rasa marah yang ingin Kyuhyun berikan kepada namja yang kini duduk di sampingnya. Melainkan sebuah rasa kagum. Rasa menghormati. Kyuhyun memang ingin melawan semua ucapannya. Tapi seperti terhadap appa-nya, bantahan demi bantahan yang akan diberikan pada namja ini tidak jadi dirinya utarakan. Setiap kalimat yang dikatakan oleh Sungmin seakan fakta yang memang benar adanya. Dimana mereka berdua memang mengalami itu seperti kenyataan yang terjadi.
.
.
.
.
.
Zaman yang semakin modern membuat perputaran waktu terasa semakin cepat. Dulu seseorang yang menanti selama dua jam lamanya akan selalu mengeluh karena merasa terlalu lama menunggu. Kini waktu dua jam itu tidak akan mendapat keluhan, karena seiring berjalannya waktu itu terasa berlalu dengan begitu cepat.
Seperti namja yang masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakitnya ini. Setelah menghitung malam demi malam yang telah dilewatinya, sudah terhitung tujuh hari tujuh malam semenjak dirinya bisa membuka kembali kedua matanya atau dapat disimpulkan sudah satu minggu dirinya disana. Sayangnya semua yang tubuhnya lewati hanyalah sebuah kesamaan. Yaitu hanya terbaring dengan posisi yang sama.
Pandangannya mengedar ketika melihat beberapa orang dengan pakaian serba putih mereka memasuki ruangan rawatnya. Mereka bilang padanya bahwa orang-orang tersebut dapat dipercayai untuk mengembalikannya menjadi seperti semula. Semula yang tidak pernah dirinya ingat sendiri.
"Kyuhyun-ssi, selamat pagi. Hari ini aku akan memberikan kabar gembira." Uisa atau Junwon uisanim menyapa Kyuhyun dengan begitu ramah.
-Kabar gembira? Kyuhyun mengernyitkan kepalanya.
Junwon memeriksa Kyuhyun terlebih dahulu setelah itu kembali berbicara. "Ini adalah tepat satu minggu setelah kau sadar. Berdasarkan perkembangan pemeriksaanmu juga cukup baik. Jadi Kyuhyun-ssi kita akan memulai latihan untuk mengembalikan kondisi fisik mu seperti semula. Ini akan menjadi titik awal dimana kau bisa menjadi 'normal' kembali."
Kyuhyun mendengar dengan seksama semua penjelasan uisa yang menanganinya tersebut. –Benarkah? Benarkah aku akan kembali? Lalu bagaimana yang akan terjadi setelah aku kembali normal? Kehidupan seperti apa yang akan kujalani?
"Kyuhyun-ssi bisakah kau mengangkat tanganmu secara perlahan-lahan? Dimulai dari lengan kiri kemudian lengan kananmu." Junwon memberikan intruksi pertamanya.
Kyuhyun berusaha melakukan perintah Junwon. Lengannya amat terasa berat bahkan hanya untuk mengangkatnya. Seluruh tenaga dirinya kerahkan, akhirnya masing-masing lengannya bisa terangkat walau hanya sedikit.
Junwon menyuruh ganhonsa yang bersamanya untuk mencatat itu kembali. "Gerakan secara perlahan-lahan kepalamu ke kiri dan ke kanan."
Uisa ini menyuruhnya untuk menengokan kepalanya. Bahkan lehernya sampai saat ini terasa kaku. Kyuhyun mencoba dengan keras. Berhasil.
Junwon tersenyum, pasiennya memang mengalami kemajuan yang cukup pesat. "Sekarang angkat badanmu sedikit demi sedikit untuk duduk." Kini Junwon benar-benar memusatkan perhatiannya untuk Kyuhyun.
Tubuhnya? Hanya mengangkat lengannya sendiri saja sudah berat apalagi tubuhnya. Kyuhyun mencoba menaikan tubuhnya perlahan demi perlahan. Rasanya sakit sekali. Sudah dua menit bahkan sedikit pun dirinya tidak bisa mengangkatnya walau hanya sedikit. Peluh juga sudah membasahi wajah milik Kyuhyun. De javu. Kyuhyun merasa pernah merasakan ini dulu. Di sebuah rumah sakit entah rumah sakit ini ataukah yang di rumah sakit yang berbeda. Kepalanya berdenyut sakit. Sakit sekali. Nafasnya menjadi sesak.
"Kyuhyun-ssi kau tidak perlu memaksakan diri. Yoora-ah cepat pasangkan selang oksigen Kyuhyun-ssi." Junwon langsung bertindak ketika menyadari pasiennya tidak bisa mengambil nafas.
"Junwon uisanim, kurasa terapi untuk hari ini kita cukupkan saja." Yoora tahu tanpa menyuruh Junwon pun, dia pasti akan menghentikan terapinya.
Junwon mengangguk. Mengiyakan apa yang dikatakan oleh ganhonsa tersebut. "Kyuhyun-ssi, jangan terlalu memaksakan diri. Sekarang istirahatlah."
Kyuhyun beralih untuk memejamkan matanya. Dirinya memang perlu istirahat sebentar.
Junwon menghembuskan nafasnya kasar setelah menutup ruangan Kyuhyun. Ada dugaan yang dirinya buat setelah melihat kondisi Kyuhyun. Namun Junwon tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan dugaannya tersebut.
Junwon langsung menegapkan tubuhnya kembali ketika melihat dihadapannya sudah berdiri noona dari Kyuhyun. Mereka saling memberikan sapaan ramah satu sama lain. Sebenarnya Ahra dari tadi sudah tiba, namun salah seorang ganhonsa mengatakan bahwa dongsaeng-nya sedang ditangani oleh uisa untuk melakukan terapi fisik.
Ahra melihat setiap usaha keras yang dilakukan dongsaeng-nya untuk terapi tadi. Dirinya sungguh bangga melihat perjuangan sang dongsaeng. Walau dirinya juga tadi terlihat khawatir ketika melihat Kyuhyun mengeluarkan keringatnya begitu banyak.
"Ahra-ssi terapi Kyuhyun-ssi hari ini sudah selesai." Junwon membuka percakapan dengan penjelasannya.
Ahra membungkuk berterima kasih. "Khamsahamnida uisanim, kalau begitu aku akan masuk ke dalam."
"Ah Ahra-ssi." Junwon menghentikan langkah Ahra yang akan membuka pintu Kyuhyun. Membuat yeoja bernama lengkap Cho Ahra itu menoleh kearahnya. "Perkembangan Kyuhyun-ssi cukup bagus sebenarnya, tetapi ada sesuatu yang perlu kami pastikan kembali."
Ahra membenarkan posisinya dan menatap lurus pada Junwon. "Sesuatu apa uisanim?"
"Ini hanyalah dugaan sementara, kami hanya menakutkan bahwa kondisi Kyuhyun-ssisebenarnya berada dalam kata buruk." Hanya kejujuran itulah yang bisa Junwon berikan.
Ahra terdiam untuk beberapa saat.
Junwon menyadari keterdiaman yeoja di depannya ini. "Tenang saja, itu hanya kemungkinan kecil. Karena kemungkinan besarnya Kyuhyun-ssi benar-benar sembuh."
.
.
.
.
.
Perasaan de javu yang tadi dirinya rasakan terus terngiang di pikirannya sendiri. Rumah sakit? Rumah sakit mana dulu dirinya pernah tinggal? Apakah bukan hanya satu kali ini dia masuk rumah sakit? Apakah bukan hanya satu kali ini dia melakukan terapi menyakitkan tadi?
Ahra mendekati ranjang Kyuhyun dan mendudukan dirinya di samping Kyuhyun. Membuat namja yang masih terbaring itu menatap dirinya. Ahra tersenyum. Meskipun sudah lama berlalu pandangan sang dongsaeng masih terlihat begitu polos. Terlebih dengan dirinya yang seakan menjadi bayi yang baru terlahir kembali.
Kyuhyun merindukan yeoja dihadapannya seperti merindukan yeoja yang menyebut dirinya sebagai eomma. Yeoja ini tidak banyak bicara dengannya. Dirinya hanya sibuk mengusap peluh Kyuhyun. Membersihkan tubuh sang dongsaeng dengan telaten. Hanya dengan mengelapnya. Kyuhyun sendiri tidak menolak. Rasanya dia begitu merindukan semua hal yang dilakukan oleh yeoja ini kepadanya.
Ini begitu nyaman dibandingkan ketika para ganhonsa yang melakukan hal-hal ini kepadanya. Seperti sudah lama sekali Kyuhyun tidak merasakan semua hal yang dilakukan yeoja ini kembali. Hatinya hangat dan merasa sangat menyayanginya. Sebaliknya Kyuhyun dapat merasakan bahwa yeoja ini juga begitu menyayanginya.
Ahra sudah tidak tahu berapa kali lagi harus melihat keadaan sang dongsaeng yang terbaring lemah di rumah sakit. Dirinya hanya berharap bahwa ini adalah kali terakhir sang dongsaeng mengalaminya. Ahra merasakan air matanya sebentar lagi akan tumpah. Semoga keajaiban Tuhan kembali berpihak lagi kepadanya. Bobol sudah pertahanannya.
Ahra menangkupkan telapak tangannya pada wajah miliknya sendiri. "Hiks… gomawo… Kyuhyunnie. Gomawo karena kau sudah mau kembali. Kau tahu noona merasa menjadi orang yang tidak berguna ketika kau masih belum mau membuka matamu. Berjanjilah pada noona jangan begitu lagi arra?"
-Uljima. Ujilmayo. Aku sangat tidak ingin melihatmu menangis. Apapun itu aku akan berjanji padamu. Kyuhyun merasa begitu sakit kala melihat air mata yang begitu banyak tertumpah di wajahnya.
"Kau pasti syok dengan kedatanganku yang tiba-tiba menangis. Aku terlahir bukan sebagai seorang namja yang menjadi hyung yang bisa dibanggakan dengan kehebatannya. Aku terlahir sebagai seorang yeoja, tapi kau bisa bisa menmbanggakanku karena aku bisa menjadi noona yang menjagamu." Ahra menghapus air matanya kemudian tersenyum.
-Kakak perempuanku? Cho Ahra. Meski aku terlahir kembali pun dan tetap tidak bisa mengingatmu, aku tetap berharap kau adalah noona-ku. Kyuhyun menggerakan jarinya dan beralih menggenggam tangan sang noona yang masih bertumpu di ranjangnya.
Ahra melihatnya. Dongsaeng-nya menggenggam tangannya dengan erat. "Hanya perlahan-lahan Kyuhyunnie, semua akan kembali seperti semula." Meski dibalik kalimat penenang itu sebenarnya terdapat ruam luka yang amat dalam.
Kyuhyun dapat merasakan cinta yang begitu besar dari yeoja yang berstatus sebagai noona-nya ini. "Noo..na…ku…. c…. cantik….go….mawo." Senyum mengembang di bibir manis milik Ahra. Dongsaengnya yang selama ini diam kini bisa menyapanya.
"Captain Cho. Selamat datang kembali." Ahra benar-benar bersyukur karena Tuhan mendengar do'anya.
.
.
.
.
.
Super Junior Dorm
Di salah satu ruangan apartemen terlihat beberapa orang namja yang berkumpul. Mengistirahatkan diri mereka yang baru saja menyelesaikan jadwal mereka hari ini. Meski kegiatan group mereka memang sedang vakum tapi kegiatan solo dan jadwal pribadi mereka masih begitu padat. Mau bagaimana lagi itu memang konsekuensi yang harus mereka terima yang berkecimpung dalam dunia hiburan.
Yesung yang harus melakukan syuting untuk drama terbaru. Leeteuk yang masih sibuk sebagai MC di berbagai acara begitu juga dengan Kangin. Heechul sendiri juga masih harus mengisi beberapa variety show yang memang dirinya bintangi. Shindong dan Sungmin masih harus menyelesaikan wajib militer mereka sebelum beberapa hari lagi resmi keluar. Hanya Ryeowook yang nampak sedikit agak senggang. Itu semua karena namja pemilik suara melengking tersebut sebentar lagi akan menjalankan kewajibannya seperti hyungdeul-nya yang lain.
Setelah membersihkan diri masing-masing, mereka makan malam bersama di dorm. Tentu saja yang memasakan mereka adalah si koki mungil Kim Ryeowook. Lagipula sudah amat lama mereka semua tidak merasakan masakan sang eternal magnae.
"Aku dengar Kyuhyunnie sudah semakin membaik keadaannya." Yesung bicara di sela makan mereka.
Heechul menatap Yesung dengan mata berbinarnya jika menyangkut sang magnae. "Jeongmalyo? Kim Kyu sudah akan kembali sehat?"
Yesung menganggukan kepalanya pasti. "Cho ahjussi selalu memberikan kabar baik akhir-akhir ini bukan?"
"Oh iya aku juga dengar bahwa Kyuhyunnie sudah mulai terapi fisiknya." Kangin menambahkan kalimat Yesung.
Ryeowook juga tersenyum cerah mendengarnya. "Akhirnya uri magnae bisa kembali lagi."
"Tapi aku akan meragukan Youngmin Sajangnim. Suara Kyuhyun juga belum bisa keluar. Kalian tahu seberapa buasnya orang itu bukan?" Yesung hanya bisa mengeluh jika sudah mengingat bos mereka.
Ryeowook mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan isi pesan yang ada di ponselnya. "Hyungdeul bisa melihatnya bukan? Ahra noona bilang Kyuhyun sudah bisa bicara, meski masih terbata-bata."
Kangin mendecak kagum. Tidak sabar untuk menanti kembalinya sang magnae. "Ini benar-benar kekuatan Tuhan."
"Hei Jungsoo kau kenapa hanya diam saja?" Heechul bertanya pada Leeteuk yang sedari tadi hanya terdiam.
Jungsoo tersenyum lembut. "Anniya. Aku hanya memikirkan saja. Kalian tahu ingatan Kyuhyunnie belum kembali bukan? Tak ada satupun yang dirinya ingat tentang kita semua. Aku hanya bertanya dengan ingatannya yang hilang, apakah Kyuhyunnie mau kembali bersama dengan kita semua lagi?"
"Sebenarnya aku merasakan kekhawatiran yang sama seperti Teukie hyung. Ini akan sulit." Yesung membenarkan kekhawatiran Leeteuk.
Heechul mengepalkan tangannya. "Mengapa kalian begitu pesimis? Seharusnya kalian mempercayai Kyuhyunnie. Anak itu yang mengingkan kita semua kembali seperti semula maka tidak akan mungkin dia meninggalkan kita setelah berhasil melakukannya bukan?" Walau namja cantik sendiri itu pun memiliki kekhawatiran yang sama.
"Chullie hyung benar. Kita hanya perlu mempercayai Kyuhyunnie." Ryeowook mencoba memberikan keyakinan seperti Heechul.
Kangin memberikan sebuah idenya. "Bagaimana kalau kita memperkenalkan kembali siapa itu 'Super Junior' dan siapa itu 'Kyuhyun Super Junior' kepada Kyuhyunnie kembali?"
Semua member yang ada disana menganggukan ide dari Kangin.
Akhirnya setelah mengobrol cukup panjang dan menghabiskan makanannya mereka telah selesai. Seperti biasa mereka membagi tugas untuk siapa yang membersihkan piring-piring makanan. Tentu saja untuk mengulang masa lalu mereka mengundinya dengan kertas gunting batu. Sayangnya hyung tertua di Super Junior alias sang leader lah yang kalah.
Leeteuk melakukannya dengan perasaan senang. Dulu ada begitu banyak piring yang harus dicuci. Namun seiring berjalannya waktu piring-piring yang harus dicuci itu hanya berkurang sedikit demi sedikit. Pandangan Leeteuk mengedar pada langit malam yang mulai menghiasi setiap daratan dunia. Ada sebuah bintang yang begitu bersinar terang disana. Sayangnya bintang yang paling bersinar itu terletak begitu jauh dari gerombolan bintang lainnya.
"Kau tidak perlu lagi sendirian untuk menemukan kami kembali. Karena kamilah yang akan menemukan dirimu kembali Kyuhyunnie. Jadi bisakah kau menunggu kami?" Leeteuk bermonolog sembari menatap satu bintang tersebut.
.
.
.
.
.
Samsung Hospital
Ruangan itu berisi satu meja kerja dilengkapi dengan kursinya. Kertas-kertas serta dokumen-dokumen yang tertera di atas meja. Tidak lupa satu buah unit komputer berwarna hitam dengan monitor tipisnya ikut berdiri di atas meja. Cat dalam ruangan tersebut bernuansa serba putih. Hanya mungkin cat untuk meja dan kursinya saja yang berbeda dari warna putih yang mendominasi di ruangan tersebut.
Dua pasang mata tersebut saling berpandangan lurus satu sama lain. Dimana kedua pasang mata tersebut dimiliki dari dua orang namja yang sedikit berbeda usia dan profesi itu. Lagi-lagi entah untuk kesekian kalinya Cho Younghwan harus duduk tegap dan menatap lurus seseorang yang selalu berstatus sebagai seorang uisa.
Bisakah kali ini dirinya memohon bahwa apa yang akan disampaikan oleh sang uisa adalah kabar baik? Bukan maksudnya untuk tidak menerima takdir yang diberikan Tuhan. Hanya saja bolehkah kali ini dirinya meminta untuk mendapatkan satu kabar baik dari seorang uisa. Karena hanya dari seorang uisa lah satu-satunya orang yang tidak pernah menyampaikan berita bahagia secara sepenuhnya.
"Ada keadaan Kyuhyun-ssi, yang harus saya jelaskan." Junwon menghela nafasnya beberapa saat sebelum mengatakan kalimat tersebut.
Younghwan akan siap dengan kabar apapun yang akan dirinya terima saat ini. "Mwoga? Jika memang itu penting dan perlu katakan saja dengan sejujurnya tanpa perlu takut menyakitiku."
"Kyuhyun-ssi pada dasarnya masih amatlah lemah. Anda tahu sendiri waktu koma yang putra anda alami bukanlah sehari dua hari atau bahkan satu minggu melainkan berbulan-bulan. Oleh sebab itu setelah kami melakukan pemeriksaan kembali, bisa disimpulkan kondisi organ dalam Kyuhyun-ssi tidak dapat kembali berfungsi secara maksimal." Junwon terdiam beberapa saat sembari membaca hasil pemeriksaan Kyuhyun kembali. "Mengembalikan fungsi organ dalam menjadi seperti semula tidak semudah untuk mengembalikan kondisi fisik. Bukankah fisik juga dipengaruhi oleh kondisi organ dalamnya juga? Oleh karena itu ketika melakukan terapi fisik Kyuhyun merasa sangat kesakitan."
Younghwan mengerti semua penjelasan uisa profesional tersebut. "Dengan kata lain kondisi putraku sebenarnya tidak baik-baik saja? Akan sangat sulit untuk mengembalikan semua fungsi organnya?"
Junwon menganggukan kepalanya pelan. "Jikapun bisa itu akan memakan waktu yang amat lama. Namun tetap kondisinya tidak akan pernah mencapai sampai 100 persen stabil. Terlebih paru-parunya yang semakin menurun fungsinya."
"Apakah ada lagi yang perlu kudengar?" Younghwan hanya perlu menguatkan dirinya sendiri
Junwon menghembuskan nafasnya kasar. "Sebenarnya fungsi organ dalam Kyuhyun-ssi bisa kembali ke dalam 80 persen jika melakukan terapi dengan baik. Hanya saja untuk melakukan semua proses terapinya itu Kyuhyun-ssi tidak boleh berada dalam keadaan kondisi stres. Dengan demikian jika Kyuhyun-ssi mengalami proses pengembalian ingatannya pikirannya akan tertekan yang akan mempengaruhi semua terapi yang dijalankan dan alhasil terapi tersebut tidak akan pernah bisa berjalan sesuai harapan."
"Dengan kata lain, jika putraku mengingat ingatannya kembali..." Kalimat Younghwan tersebut langsung diputus oleh Junwon.
"Hanya ada dua konsekuensi. Ingatannya kembali tapi dengan kondisi yang sama seperti sekarang atau mungkin lebih buruk. Kemudian kondisinya membaik meski tidak 100 persen tanpa harus ingatannya kembali." Sebuah kesimpulan tegas diucapkan oleh Junwon.
Younghwan meninggalkan ruangan Junwon setelah mendengar semua itu. Apakah dirinya harus berteriak marah? Menyalahkan takdir? Menangis kembali dengan semua hal yang baru saja dirinya dengar? Tidak. Dirinya hanya perlu untuk tetap tegap berdiri membantu sang putran dan menopangnya untuk melewati semua ini. Dan dia tidak akan mengubah semua keputusan yang dirinya katakan tadi kepada Junwon.
-Biarkan Kyuhyunnie mengingatnya kembali walau akan sulit-
.
.
.
.
.
Namja dengan tinggi di atas rata-rata itu memasuki area rumah sakit dengan senyum yang terus mengembang di bawahnya. Berjalan dengan tidak lupa dengan sebuah barang yang ada di tangannya. Dimana barang tersebut adalah sebuah hadiah yang dirinya janjikan untuk memberikannya pada seseorang.
Namja pemilik suara tinggi tersebut nampak tampan dengan rambut cepak serta setelan busana casual yang digunakannya. Tentu saja karena namja ini akan segera mengakhiri kewajibannya untuk mengabdi kepada negara sebagai rakyat yang baik. Padahal hanya tinggal beberapa hari lagi, tapi selalu saja dirinya tidak bisa mengalahkan seseorang yang selama ini selalu menjadi orang yang paling disayanginya.
Para perawat yang ada di rumah sakit menyapa hangat kedatangan namja dengan tinggi di atas rata-rata tersebut. Akhirnya namja ini tiba di depan ruangan seseorang yang amat berharga baginya. Entah kenapa dirinya merasa gugup. Rasanya seperti akan bertemu yeojachingu-nya untuk pertama kali saja.
Dan dibukalah pintu ruangan rawat tersebut. Disana seseorang tengah bersandar di tepian ranjang rumah sakitnya. Dimana ranjang rumah sakit tersebut memang sengaja dinaikan. Shim Changmin mendekati seseorang tersebut dan menunjukan sebuah bingkisan yang sedari tadi dibawanya pada orang yang sekarang telah membuka matanya kembali sembari memberikan cengiran khasnya.
Cho Kyuhyun hanya bisa memandang namja bertubuh tinggi tersebut dengan aneh. Namja itu datang tiba-tiba, tersenyum begitu lebar, dan menunjukan sebuah bingkisan. Mungkinkah hari ini adalah ulang tahunnya? Kyuhyun rasa bukan. Karena meskipun dirinya hilang ingatan keluarganya pasti memberikan sesuatu padanya. Lalu untuk apa namja tersebut menunjukan bingkisan yang tepatnya lebih seperti hadiah itu padanya? Bukannya merespon tatapan Kyuhyun, namja jangkung itu masih setia dengan posisi anehnya. Sepertinya Kyuhyun lah yang harus berbicara terlebih dahulu padanya. Meski masih agak terbata-bata hanya untuk bicara, tapi setidaknya perkembangan Kyuhyun cukup cepat. Walau diketahui pada kenyataannya tubuhnya masih saja menjerit.
"Nu…nu…guya…?" Kyuhyun dengan susah payah mengucapkan pertanyaannya.
Changmin terperangah ketika mendengar suara Kyuhyun bicara padanya. Dia harus mengerti bahwa Kyuhyun saat ini tidak akan memberikan respon seperti dulu kepadanya. "Shim Changmin imnida. Seorang sahabat yang menantikan…." Tidak dia tidak boleh menangis. "Sahabat baikmu. Ahahaha. Bingkisan ini adalah kaset game terbaru."
Kyuhyun bisa melihatnya, Shim Changmin hanya tengah berpura-pura kuat saja. "G….game."
"Kau tahu caramel machiatto. Kaset-kaset ini sangat mahal. Kau selalu saja memenangkan pertandingan melawanku. Padahal hanya tinggal beberapa hari lagi aku akan keluar dari wajib militerku tapi kau sudah sadar duluan carbonara." Changmin mengeluarkan senyuman canggungnya. "Tapi aku senang karena kau kembali menang lagi. Aku menerima kekalahanku kali ini, karena Tuhan sudah menjawab do'aku."
Kyuhyun menangkap bagaimana mata seseorang yang adalah sahabatnya itu tengah berkaca-kaca. Kalimatnya juga amat tulus. Kyuhyun merindukannya. Mereka berdua hanya terdiam satu sama lain meski masih dalam posisi yang sama.
Akward. Changmin merasa ini tidak seharusnya. "Kau adalah seseorang bagiku, Kyu." Sementara Kyuhyunn, namja yang masih terbaring lemah itu memandang Changmin dengan aneh.
"Se…se..orang… se… per….ti apa?" Kembali dengan terbata-bata Kyuhyun berbicara. Sepertinya dirinya masih menyukai yeoja walaupun dirinya hilang ingatan.
Changmin menatap Kyuhyun dan tersenyum lembut padanya. "Kau segalanya Kyuhyun-ah. Meski setelah ayah, ibu, dan istriku nanti. Seseorang yang akan tinggal di hatiku selamanya. Sahabat, hyung, chingu, sainganku, dan juga penyemangatku. Kau tahu aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat mengetahui kau kembali koma pada waktu itu. Aku merasa hancur Kyuhyun-ah. Aku memarahi diriku sendiri seperti orang bodoh Kyu. Karena aku hanya orang bodoh yang tidak bisa mengetahui penderitaanmu."
"Changmin-ah, bagaimana jika aku koma lagi atau kehilangan ingatan tentangmu? Apa yang akan kau lakukan?"
Sekelebat memori itu muncul begitu saja. Bahkan begitu jelas. Kyuhyun bisa melihat dirinya dan Changmin yang tengah duduk di sebuah café berdua. Kyuhyun bisa melihat sebenarnya dirinya dan Changmin melakukan banyak percakapan. Tapi hanya satu kalimat yang dirinya ucapkan yang bisa Kyuhyun ingat. Kyuhyun berusaha untuk membaca kalimat dari setiap mulut Changmin disana. Sayangnya kepala Kyuhyun berdenyut sakit.
"Kyuhyun-ah gwenchana?" Changmin menatap khawatir Kyuhyun yang mulai berkeringat banyak.
Kyuhyun berucap dengan lemah. "Gwen…chana…"
Changmin mengepalkan tangannya erat. "Geumanhae. Bisakah kau berhenti untuk menyembunyikan penderitaanmu dariku?! Kau tidak adil Kyuhyun-ah. Kau selalu mengetahui bagaimana penderitaanku tapi aku tidak bisa mengetahui penderitaanmu! Berhenti bersikap hanya untuk membagi kebahagiaanmu saja kepadaku. Karena aku ingin kau berbagi kesedihanmu juga." Liquid bening itu menetes dari mata Changmin pada akhirnya. "Meski aku kalah, bisakah kau mewujudkan taruhanku caramel machiatto?"
"A..akan..ku..lakukan Changmin-ah." Kyuhyun tersenyum begitu lembut pada Changmin.
Mereka memang tidak memiliki hubungan darah yang kuat. Mereka juga tidak mengenal satu sama lain semenjak kecil. Mereka dipertemukan oleh takdir. Takdir indah yang mempertemukan dua kepribadian yang sama dalam suatu kisah kehidupan. Meski tidak sepenuhnya mereka selalu akur. Karena sejauh apapun keberadaan seorang sahabat, mereka tetap akan saling menemukan satu sama lain.
.
.
.
.
.
Hari-hari yang dilewati di salah satu negara yang berada di kawasan Asia Timur tersebut dijalani seperti biasa. Dimana di dalamnya terdapat orang-orang dewasa yang bergerak untuk memenuhi pekerjaannya. Para mahasiswa yang melaksanakan kuliahnya untuk memperoleh gelar. Para anak-anak dan remaja yang pergi melaksanakan sekolah mereka. Tentu saja ada beberapa mobil yang sibuk berlalu-lalang di jalanan kota-kota besar di dalam negara tersebut.
Jika seperti demikian, hari yang dijalani setiap harinya hanya begitu saja. Monoton. Tanpa ada perubahan. Maka disinilah ada sebuah titik balik. Dimana sebenarnya semua orang berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik diantara yang lainnya. Mewujudkan perubahan untuk meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.
Seperti dirinya yang saat ini tengah berlatih kembali untuk berubah menjadi 'normal' kembali. Mengangkat setiap tubuh yang seharusnya bisa digerakkan. Walau baginya untuk menggerakan itu kembali terasa amat berat. Namun inilah proses yang wajib dirinya kembali jika ingin menaungi kembali sebuah cerita kehidupan miliknya sendiri.
Disana ada saudara-saudaranya yang memperhatikan Kyuhyun dengan tidak lupa untuk menyemangatinya. Mereka tahu begitu perih sebenarnya kembali harus menyaksikan hal yang sama seperti dulu. Satu bulan sudah berlalu semenjak orang yang mereka kasihi membuka kedua matanya, walau masih belum bisa bergerak Kyuhyun sudah bisa lebih leluasa dalam menggerakan kedua tangannya. Mereka bersyukur, sekecil apapun itu. Karena saat ini Kyuhyunnya masih ada diantara mereka.
Setelah beberapa jam akhirnya proses terapi Kyuhyun selesai. Hyungdeul Super Junior Kyuhyun segera mendekati ranjangnya. Tidak terlalu ramai, karena ada beberapa member yang masih harus menuntaskan wajib militer mereka.
Leeteuk menyapa Kyuhyun untuk pertama kali. "Bagaimana keadaanmu?"
"Gwenchana." Salah satu perkembangan pesat Kyuhyun. Namja berusia 28 tahun itu sudah dapat kembali berbicara secara normal.
Ryeowook meletakan sebuah bungkusan yang baru saja dirinya beli. "Ini hyung membawakan herbal yang bisa membantu mu cepat pulih."
"Gomawo." Hanya itu. Jawaban-jawaban pendek. Karena Kyuhyun belum 'mengenal' mereka sepenuhnya.
Kangin mencoba mencairkan suasana kecanggungan diantara mereka. "Kyuhyunnie, apakah sekarang kau sudah bisa makan secara normal?"
"Nde." Lagi-lagi hanya itu, sebuah jawaban pendek.
"Wuah. Aku yakin kau pasti mengeluh karena makanan rumah sakit yang tidak enak dan pahit." Yesung menambah nada kemeriahan dalam kalimatnya.
Mata Kyuhyun memandang sedih ke bawah. "Makanan itu tidak berasa sama sekali."
"Tentu saja itu tidak akan enak. Karena kau selalu menyukai makanan berkalori akhir-akhir ini." Ketus Heechul.
"Ah itu wajar, karena kau kan baru bisa makan secara biasa lagi." Ryeowook memberikan penjelasan yang masuk akal.
Kyuhyun tersenyum miring. "Jeongmalyo?"
Leeteuk mengangguk dan menjawab Kyuhyun. "Tentu saja."
Setelah itu mereka mulai terdiam kembali. Tidak dipungkiri ada sesuatu khawatiran yang kembali melingkupi perasaan mereka. Apakah benar sang dongsaeng sudah baik-baik saja? Apakah benar ini yang mereka nanti? Apakah benar ini adalah harapan mereka? Untuk menelan pun sang dongsaeng mengatakan begitu sakit. Jadi seberapa parah kondisinya sebenarnya? Apa ini kesembuhan yang mereka harapkan selalu dari Tuhan?
Ryeowook sudah mati-matian untuk menahan air matanya yang sebentar lagi akan terjatuh. Kenapa dia merasa harus menyesal telah mengharapakan Kyuhyun untuk kembali sadar? Menambahkan penderitaannya kembali kah? Yesung yang menyadari situasi yang akan menjadi kacau segera mencairkan suasana dengan melakukan beberapa hal konyol. Mereka bersyukur karena diantara mereka ada seorang seperti dirinya.
Kyuhyun sendiri menanggapi tingkah konyol para hyungdeul-nya dengan tertawa kecil. Benar, dirinya tidak boleh tertawa terlalu keras dahulu karena itu dapat memberinya tekanan. Senyum riang milik Kyuhyun perlahan-lahan berubah menjadi sendu. Melihat mereka begitu akrab satu sama lain. Berbaur seakan tidak ada jarak. Kyuhyun bertanya apakah benar seperti yang orang-orang selalu bilang padanya bahwa dirinya juga begitu dekat dahulu sebelum dirinya kehilangan ingatannya?
Tiba-tiba saja Ryeowook terpekik setelah melihat ponselnya. "Aigoo, 2ne1 bubar lihat ini."
"Benar. Sungguh disayangkan mereka padahal sudah berjalan selama 7 tahun." Heechul menganggukan kepalanya setelah melihat ponsel Ryeowook.
Kangin ikut menambahkan. "Bukan hanya 2ne1, banyak grup yang sudah memutuskan untuk bubar belakangan ini."
"Nde. Kalau tidak bubar ada satu member atau dua member yang memutuskan untuk mundur. Padahal mereka sudah bersama-sama sejak lama." Yesung berbicara.
Heechul menerawang. "Tentu saja semakin waktu berjalan akan banyak hal yang berubah."
"Super Junior sudah berapa lama? Mianhae, karena ingatanku yang belum kembali aku tidak tahu." Kyuhyun bertanya tiba-tiba
Leeteuk tersenyum dan mengelus lengan sang dongsaeng. "Sudah hampir 11 tahun."
"Geroum. Kita juga sudah mengalahkan kutukan 7 tahun." Heechul berbicara dengan bangga.
Leeteuk menatap Kyuhyun kemudian. "Lalu ada apa kau bertanya seperti itu Kyuhyunnie?"
Leeteuk menegang ditempatnya ketika mendengar pertanyaan itu. "Apakah kita juga akan mendapat akhir yang sama?"
"Akhir yang sama?" Yesung sedikit kurang mengerti.
Kyuhyun berbicara dengan panjang. "Kalian bilang, seiring berjalannya waktu akan ada hal yang berubah seperti mereka yang kalian bicarakan. Bukankah Super Junior grup kita juga mengalami hal yang sama? Dan salah satu perubahannya adalah aku. Tak ada satu ingatan pun yang kutahu tentang kalian. Jangankan untuk menari, saat ini bernyanyi pun aku belum dikatakan bisa. Dengan kata lain…"
Heechul mengepalkan tangannya erat. "Geumanhae! Apakah kau sudah selesai dengan kalimatmu Cho Kyuhyun? Jika kau menginginkan akhir yang sama dengan mereka yang dibicarakan, jadi untuk apa kami menantimu hingga saat ini? Jangan lagi kau membuat kami menjadi orang yang bersalah!"
"Chullie hyung tenanglah, Kyuhyunnie hanya khawatir." Ryeowook mengelus pundak hyung tertua keduanya itu.
Kangin tersenyum lembut pada Kyuhyun. "Kyuhyunnie kami mengerti kekhawatiranmu. Tapi tolong percayalah pada kami. Bahwa akhir dari kita akan berbeda. Sekalipun akan berakhir Super Junior, itu adalah akhir yang indah."
"Kangin benar Kyu, tolong untuk berjanji pada kami. Meskipun kami pernah hampir pergi meninggalkanmu dulu berjanjilah untuk tidak meninggalkan kami." Leeteuk kembali mengelus rambut Kyuhyun.
"Waeyo Kyu? Kau sakit?"
"Ko..koper itu?"
"Ah.. kami tidak akan tinggal disini lagi."
"Wae? Kenapa kalian selalu pergi?! Kenapa kalian begini?!"
"Kita ini sudah dewasa, jadi hentikan sifat kekanakanmu Kyuhyun-ah."
"Kami juga memiliki alasan Kyu."
"Alasan…alasan…. Kalau kalian ingin pergi tinggalkan saja aku dari dulu."
Lagi-lagi sebuah memori melintas dalam dirinya. Mendengar kata pergi membuat memori itu terngiang-ngiang begitu saja. Kenapa? Bukankah mereka terlihat selalu bersama-sama setelah dirinya sadar? Kenapa ada memori yang menyakitkan seperti itu yang terlintas? Apakah mereka benar meninggalkannya?
Semua member Super Junior langsung panik ketika melihat Kyuhyun memegangi kepalanya sendiri. Bukan hanya itu bahkan magnae mereka terus menggumamkan kata kajima yang tidak berhenti. Ingatannya membuat Kyuhyun terlalu sakit. Dadanya juga sesak. Mata seluruh member langsung melebar, ketika melihat Kyuhyun kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
.
Kyuhyun merasa kesal karena Junwon untuk malam ini lagi-lagi mengenakannya masker oksigen. Uisa itu bilang bahwa itu bisa membantu kesembuhannya untuk selanjutnya. Selain itu Kyuhyun juga kesal karena lagi-lagi dia harus pingsan. Sehingga waktu bersama member lainnya menjadi berkurang. Terlebih di waktu yang tidak tepat.
Benar saat ini dirinya merasa begitu kesepian. Meskipun tidak sepenuhnya mengenal mereka, setidaknya para hyungdeul-nya dapat membuatnya nyaman. Malam ini namja pemilik kulit pucat itu sendirian. Kesepian yang tadi akan melandanya hilang sudah saat pintu ruangannya dibuka.
Mata milik Kyuhyun tadinya akan berbinar cerah saat membayangkan bahwa orang yang akan datang itu adalah sang appa. Karena belakangan ini appa-nya itu cukup sibuk. Tapi Kyuhyun mengernyit ketika melihat seorang namja asing yang mengenakan jas memasuki kamar rawatnya.
Entah mengapa Kyuhyun merasa begitu memalukan dipandangi oleh namja asing tersebut rasanya. Kyuhyun hendak melepaskan masker oksigennya. Lagipula keadaannya sudah baik-baik saja. Namja asing tersebut tersenyum begitu arti mendekati ranjang Kyuhyun, ketika melihat mantan anak asuhan perusahaannya tersebut mulai menyandarkan tubuhnya ke senderan ranjang dengan susah payah.
Dengan berbaik hati, namja asing tersebut membantu Kyuhyun untuk mendudukan dirinya. Ada perasaan takut yang membuncah ketika Kyuhyun bertemu dengan namja asing tersebut. Karena sebenarnya baik sebelum dan sesudah hilang ingatan Kyuhyun belum pernah bertemu dengan namja asing tersebut.
Merasa Kyuhyun terus memandanginya, namja asing tersebut mengeluarkan kartu nama miliknya dan memberikannya pada Kyuhyun. Kyuhyun memandang tidak percaya ternyata namja asing tersebut adalah pimpinan tertinggi dimana Super Junior bernaung.
"Gomawoseoyeo. Anda telah repot-repot untuk datang mengunjungiku Youngmin Sajangnim." Tentu saja Kyuhyun agak tersanjung, disela kesibukannya sang pimpinan tertinggi datang hanya sekedar untuk menjenguk.
Youngmin tersenyum setelah meletakan buah-buahan yang sengaja dibawanya. "Gwenchanayo. Tidak perlu tersanjung begitu, karena ini bukan pertama kali dikunjungi oleh Pimpinan paling tinggi di SM ketika sakit."
"Pernahkah aku dulu?" Kyuhyun bertanya heran.
Youngmin menepukan kedua tangannya. "Ah aku lupa. Kau bahkan mengingat satu pun ingatanmu."
"Akan kucoba lebih keras agar dapat mengingatnya dengan cepat kembali. Dengan begitu kami bisa melakukan aktivitas kami seperti biasa." Kyuhyun memberikan kalimat penenangnya.
Youngmin menghentikan kegiatan mengotak-atik handphone-nya. "Aku rasa kau tidak perlu terburu-buru Kyuhyun-ssi."
"Tapi bukankah aktivitas grup harus segera berjalan?" Kyuhyun tidak mengerti apakah namja asing ini mengkhawatirkannya sehingga menyuruhnya untuk jangan terburu-buru.
"Geroumde. Aktivitas mereka akan segera berjalan dengan cepat. Kemudian DUAR mereka akan berada dipuncak kembali. Jika saja tidak ada yang menghalangi mereka seperti saat ini." Youngmin merubah mimiknya menjadi amat serius.
Kyuhyun mengernyitkan keningnya. "Siapa yang menghalangi mereka?"
"Kau. Cho Kyuhyun," Youngmin mendekatkan wajahnya pada telinga Kyuhyun dan berbisik.
Kyuhyun merasa ada sebuah pisau yang mengirisnya ketika mendengar pernyataan itu. "Nae..naega.."
Youngmin menjauhkan wajahnya dan mengangguk. "Tentu. Jadi apakah kau bisa menjawab pertanyaanku sekarang."
"Mwo?" Kyuhyun bertanya pelan.
Senyum sinis terpatri di wajah Youngmin. "Apa yang istimewa dari dirimu yang sekarang sehingga mereka begitu mempertahankanmu sampai seperti ini? Bisa kau jelaskan Kyuhyun-ssi?"
Kyuhyun diam. Apakah ada yang bisa dirinya banggakan dengan keadaannya saat ini?
Youngmin mendecih. "Bahkan untuk berpikir pun sebenarnya membuatmu merasa sakit. Aku bukan orang yang bodoh bisa percaya keajaiban akan datang dua kali pada orang yang sama. Jadi jangankan untuk mengingat kembali dan dapat menari dengan sempurna, membopong tubuhmu sendiri yang sekarang ini pun membuat mu kesakitan."
"Anniyo. Semua tidak berkata demikian. Semuanya bilang bahwa harapan mereka untukku akan terwujud." Kyuhyun menggelengkan kepalanya.
Youngmin menatap mata Kyuhyun lurus dengan tajam. "Kau tahu apa yang dimaksudkan dengan harapan palsu? Itu mungkin dapat mendeskripsikan tentang dirimu. Kau hanya sebuah angan palsu yang tidak akan mungkin dapat mereka capai. Sedangkan aku adalah harapan pasti milik mereka. Karena sebuah harapan palsu selalu membuat seseorang dalam kehancuran. Jadi mundurlah saat ini juga kau harapan yang tidak pasti."
"Aku tidak akan mundur." Kyuhyun menegapkan pikirannya.
Youngmin tertawa mengejek. "Ah. Maka dari itu aku sudah mempersiapkan senjata, Karena tanpa kau mundur sendiri pun, kontrakmu dengan SM sudah selesai."
-Jadi mereka hanya menunggu ketidakpastian dariku saja selama ini. Kyuhyun ingin berkata-kata tapi menjadi kelu.
Youngmin mengundurkan diri dari kamar rawat Kyuhyun. "Ini sudah terlalu malam. Baiklah aku pamit. Oh ya aku harap kesembuhanmu bukanlah harapan yang tidak pasti."
Pantas saja mereka selalu memiliki waktu bersama dengannya begitu banyak. Pantas saja mereka tidak sesibuk orang lain pada umumnya sebagai selebriti. Karena kesempatan itu mereka buang hanya demi untuk menungguinya. Akhirnya namja berkulit pucat itu mengerti kenapa tubuhnya selalu berteriak kesakitan.
Junwon bertemu tatap Youngmin yang baru saja keluar dari kamar rawat Kyuhyun. Ada senyuman kemenangan di sudut bibir Youngmin yang bisa Junwon lihat. Junwon langsung membuka pintu kamar rawat Kyuhyun untuk melihat keadaannya. Pasiennya itu sedang menangis begitu banyak. Kyuhyun menatap Junwon yang sudah berdiri di depannya.
"Keluarlah uisa. Dan tentu saja sebelum keluar kau harus menjelaskan keadaanku yang sebenarnya secara detail tanpa ada yang kau tutupi."
Junwon merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia karena sudah mengatakan semua itu pada Kyuhyun.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari pertama Kyuhyun untuk melakukan terapi berjalannya. Semakin cepat dirinya bisa berjalan akan semakin baik. Selain itu dirinya juga tidak usah membebani orang-orang terdekatnya lagi.
Disana dirinya ditemani oleh appa, eomma serta noona-nya yang dengan sengaja datang di sela kesibukan mereka masing-masing. Junwon menuntun Kyuhyun untuk berdiri dari duduknya di atas kursi roda. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya Kyuhyun berhasil bangkit dari atas kursi rodanya.
Kemudian dengan dibantu dituntun oleh para ganhonsa, Kyuhyun mulai berjalan sedikit demi sedikit. Hingga kedua orang ganhonsa itu membiarkan Kyuhyun berjalan sendiri dengan berpegangan kepada dua buah besi penyangga yang disediakan di ruang terapi tersebut. Kakinya terasa begitu berat, nafasnya juga terengah-engah. Padahal hanya baru sedikit langkah yang baru dirinya ambil.
Melihat hal itu Ahra ingin menghentikan sang dongsaeng dan membantunya. Namun hal itu tidak terjadi karena Younghwan mencegah Ahra. Ditatap begitu tenang oleh sang appa membuat Ahra akhirnya megalah. Kyuhyun mati-matian menahan tubuhnya yang sudah mulai bergetar dan akan segera terjatuh. Keringat dingin sudah membasahi wajahnya.
Kyuhyun akan hampir terjatuh jika tidak mendengar teriakan-teriakan penyemangat dari para hyungdeul Super Juniornya yang datang secara bersamaan. Mendengar hal itu membuat semangat Kyuhyun menaik. Berhasil beberapa langkah sudah dirinya ambil. Tinggal sedikit lagi sebelum mencapai ujung. Tapi gemetar tubuhnya semakin hebat. Bobot dirinya sendiri terlalu berat. 'Bruk' Tubuh Kyuhyun terjatuh dengan cepat. Para ganhonsa langsung membawa Kyuhyun kembali ke atas kursi rodanya. Merasa bahwa terapi hari ini sudah cukup. Nafas namja berkulit putih pucat itu juga sudah memendek.
Setelahnya, Kyuhyun kembali ke dalam kamar rawatnya untuk beristirahat. Dirinya juga ditemani oleh semua member Super Junior yang memang sengaja datang. Tadi eomma dan noona-nya pamit karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Appa-nya pergi keluar sebentar untuk membiarkan Kyuhyun berkumpul bersama member yang lain.
"Untung saja kita datang tepat waktu untuk menemani Kyuhyunnie terapi." Ryeowook berucap pertama.
Kangin menatap kesal Yesung. "Kita hampir terlambat karena Sungie hyung."
"Mian, soalnya tadi aku lupa menaruh mantel kesayanganku." Yesung melepaskan cengiran khasnya.
Kyuhyun memandang hyungdeul-nya satu per satu "Kenapa kalian menungguku samapai seperti ini?"
Heechul mencubit pelan sekali pipi Kyuhyun. "Tentu saja karena kami ingin menemanimu."
"Dan lagi kau akan merengek nantinya karena kesepian tidak ada kami yang menemani." Kangin berpura-pura mengejek Kyuhyun.
Ryeowook tersenyum gemas. "Kau kan magnae manja."
"Lalu bagaimana dengan jadwal kalian?" Tanya Kyuhyun kemudian.
"Yesung hanya syuting drama, Heechul variety, Kangin juga sama dengan Heechul, Ryeowook istirahat untuk mempersiapkan wajib militernya, dan aku memang sedang kosong." Leeteuk menjelaskannya dengan jelas.
-Begitukah? Bukankah kalian hanya menolak semua jadwal karena terus menungguku. Comeback kalian juga akan tertunda bukan? Kyuhyun mencoba bertanya kembali. "Kenapa kalian tidak mencoba jadwal dengan tampil sebagai satu grup? Bukankah akan ada rencana comeback?"
"Tentu saja kami akan melakukannya denganmu juga member yang lainnya. Baru itu namanya aktivitas grup." Heechul menjawab dengan enteng.
Kyuhyun hanya memasang wajah mengertinya. "Oh begitu ya." –Tentu saja menantikan member yang telah selesai wajib militer akan pasti tergapai. Tapi aku? Aku sudah tidak akan mungkin untuk sembuh. Kumohon hyungdeul jangan terus berharap padaku. Karena aku tidak bisa mewujudkannya. Apa yang harus kulakukan agar kalian semua berhenti mengharapkanku?
"Kyuhyunnie gwenchana? Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Leeteuk yang menangkap gelagat aneh dongsaeng-nya tersebut langsung bertanya khawatir.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Anniyo. Aku hanya senang kalian selalu menemaniku."
Kyuhyun menatap satu per satu wajah hyungdeul-nya yang begitu cerah. Seakan memang akan bisa menggapai harapan mereka yang ada pada dirinya. Kyuhyun tidak ingin wajah cerah mereka hilang begitu saja. Namja ini sudah memutuskan untuk tidak membuat beban bagi mereka. Maka dari itu dia benar-benar akan pergi.
.
.
.
.
.
Seorang namja dengan lesung pipi di wajahnya serta rambut cepak dibalut sweater berwarna merah tengah berjalan menuju rumah sakit. Tempat dimana salah satu dongsaeng kesayangannya dirawat disana. Ini adalah pekan-pekan terakhir sebelum dirinya menyelesaikan wajib militernya. Maka ada beberapa waktu senggang yang dirinya dapat. Maka pada waktu senggang inilah dirinya menyempatkan diri untuk menjenguk sang dongsaeng.
Tentu saja dengan wajah tampan yang dimilikinya membuat para ganhonsa yeoja disana terpekik tertahan. Namja bernama lengkap Choi Siwon itu tentu membalas mereka dengan ramah, yakni memberikan senyumannya yang membuat namja bermarga Choi itu semakin tampan.
Siwon memandang sebuah hadiah yang sengaja dirinya bawa untuk magnae kesayangannya itu. dibukanya pintu kamar rawat milik sang dongsaeng. Namun bukan senyuman milik sang dongsaeng yang menyapanya melainkan sebuah kasur kosong yang telah dibereskan sedemikian rupa. Siwon langsung berlari dan menuju ruangan Junwon.
Junwon tahu akan ada salah satu hyung Kyuhyun yang mendatanginya. "Kyuhyun-ssi pindah rumah sakit."
"Eodiga?" Siwon bertanya dengan nada tidak sabar.
Junwon menatap Siwon dengan lurus. "Bukan Korea. Tapi di luar Korea. Entah di negara mana dia pindah. Kyuhyun-ssi tidak memberikan detail mengenai di rumah sakit dan di negara mana dirinya pindah."
Siwon menutup pintu ruangan Junwon dengan pelan. Mulai melangkah meninggalkan area rumah sakit. Jadi seperti ini rasanya ditinggalkan? Seperti inikah dulu yang dirasakan oleh Kyuhyun? Tapi kenapa dirinya sangat tidak bisa menerima semua ini begitu saja. Siwon merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel miliknya dan menelepon sang leader.
"Kyuhyun pindah rumah sakit hyung… ….. Kyuhyunnie…..Bukan di Korea, tapi luar negeri hyung…."
Sementara itu di lain pihak seorang namja tengah tersenyum dengan puas. Satu kemenangan lain telah dirinya dapatkan kembali. Benar karena seorang penghalang tidak sepantasnya berada dekat dengannya.
.
.
.
.
.
Taipei City Hospital
Seorang namja berkulit putih pucat tengah duduk di atas kursi rodanya menanti sang appa yang tengah mengurusi kepindahan rumah sakitnya. Rumah sakit kepindahannya adalah salah satu rumah sakit yang cukup terkenal di Taiwan. Karena kebetulan juga sang appa memiliki yayasan pendidikan di Taiwan.
Namja berkulit putih pucat itu tengah menatap layar ponselnya. Sejak kemarin handphone miliknya sengaja tidak dirinya nyalakan. Dan kala menyala begitu banyak pesan yang masuk dan panggilan tidak terjawab yang semuanya berasal dari hyungdeul-nya yang tengah berada di Korea.
Kembali. Ponsel miliknya bordering. Membuat namja berkulit putih pucat ini tidak sengaja menjatuhkan ponsel miliknya. Namja berkulit putih pucat itu mencoba untuk meraih ponselnya yang terjatuh tapi tidak bisa. Dia ingin berdiri, namun perjalanan lintas negara ini membuat tubuhnya merasa kelelahan. Sehingga untuk mengangkat tubuh pun terasa begitu berat.
Hangeng merutuki kecerobahannya sendiri ketika melakukan adegan berbahaya membuat lengannya terkilir. Alhasil karena dirinya adalah seorang selebriti Sun Le sang manajer memaksanya untuk memeriksakannya ke rumah sakit. Disinilah Hangeng sekarang di sebuah rumah sakit ternama di Taiwan.
Pada awalnya Hangeng hanya duduk diam dan tenang menunggu Sun Le yang sedang mendaftarkan pemeriksaannya. Hingga akhirnya dirinya melihat seorang laki-laki yang duduk di atas kursi roda tengah berusaha mengambil ponselnya yang terjatuh. Tidak ada yang membantu laki-laki tersebut. Dengan tulus Hangeng membantu untuk mengambil ponsel miliknya. Akhirnya kedua mata mereka bertemu.
Seringkali semenghindar apapun kau dari sesuatu yang dibenci, keadaan malah terbalik. Dimana kebencianmu yang tidak ingin dilihat kini berada begitu dekat denganmu sendiri. Namun perasaan seseorang ini masih tidak bisa menentukan apakah dia membencinya ataukah hanya lari dari kenyataan. Mematung tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. "I..ini…"
"Xie…..xie…." Dan namja yang menjadi 'korban' ini mengeluarkan air matanya begitu saja, dadanya sesak.
Hangeng langsung berbalik meninggalkan namja yang dulu amat dikenalnya tersebut. Sementara itu namja berkulit putih pucat tersebut hanya memandang punggung yang perlahan menghilang tersebut dengan nanar. Ada sebuah rasa rindu yang mendalam di dalam diriya dan ada rasa sakit juga yang begitu dalam. Kepalanya mulai kembali berdenyut sakit. Younghwan yang telah selesai menyelesaikan pendaftaran langsung menghampiri sang putra.
Younghwan langsung menghampiri cemas Kyuhyun, ketika anaknya itu memegangi kepalanya sendiri dengan erat. "Gwenchana, kepalamu sakit?"
Kyuhyun memandang Younghwan sang appa dengan lurus. "Bisakah anda menjelaskan sebenarnya siapa aku ini?" Karena jujur saat ini begitu banyak hal yang belum bisa dirinya mengerti dan terima.
.
.
.
.
.
Hangeng menjalankan mobilnya dengan cepat sepanjang jalan. Tidak mempedulikan sang manajar yang terus saja menghubunginya. Tidak lagi juga peduli dengan rasa sakit pada lengannya yang terkilir. Setelah sekian lama. Setelah lebih dari enam tahun lamanya mereka kembali bertemu.
Perasaannya merasa teriris kembali ketika mengingat pandangan seseorang tersebut. Dimana tidak ada rona binar ketika memandangnya. Karena seseorang tersebut memang tengah 'lupa' dengan semua hal yang pernah terjadi kepadanya. Juga keadaan seseorang tersebut yang memang sedang tidak baik-baik saja.
Mobil Hangeng berhenti di sebuah lokasi yang sedang dijadikan tempat syuting. Disana terdapat satu orang dongsaeng-nya yang berasal dari China. Hangeng memutuskan turun dari mobilnya. Melihat ada kesempatan Hangeng menghampiri namja berpipi mochi tersebut. Saat ini dia tidak ingin menyembunyikan lagi bebannya. Henry berbalik ketika merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya dengan pelan.
Namja yang tinggal lama di Kanada itu terpaku. Gege-nya yang selama ini hilang berdiri dihadapannya. "Aku orang yang jahat Henly-ya… aku orang yang jahat…."
.
.
.
.
.
Seorang namja bermarga Kim tengah berpikir sembari menatap langit-langit yang berada di luar apartemennya. Dibelakang namja Kim tersebut terdapat kertas-kertas yang berisi keputusannya. Namja cerdas ini sudah membulatkan keputusannya. Sudah tidak mempedulikan dampaknya kepada dirinya nanti.
"Kau berhasil Kyu, berhasil membuatku merindukan kalian lagi."
.
.
.
.
.
To Be Continue…..
Sudah selesai juga menyelesaikan chapter 8 dari ff ini. Maaf kalau waktu update nya begitu lama. Karena sulit sekali untuk menentukan kelanjutan dari ff ini akan jadi seperti apa. Author akan memohon maaf sebesar-besarnya jika chapter yang di update begitu lama ini hasilnya malah membuat kalian kecewa. Tapi sebisa mungkin author berharap reader cukup puas dengan kelanjutan ff ini. Terima kasih untuk semua reader yang telah sabar menanti ff ini. Jangan lupa tinggalkan jejal review kalian. Karena itu akan menjadi penghargaan sendiri bagi author. Maaf juga jika masih banyak kekurangan di dalamnya.
Reply Review:
Nae Axselia: Sampai dia benar-benar dengan apa yang telah dirinya lakukan. Tapi untung kyu sadar juga wkwkwk.
Lenny chan: itu karena memang sudah seperti itu takdir Kyu di FF hehehe. Haha mian updatenya kelamaan yah.
GyuhaeCho: sekesel apalagi sekarang sama Youngmin? Karena hangeng sebenarnya gamau terlibat konflik lagi dengan SM. Hehehe makasih udah sabar menunggu.
restiana: sudah dilanjut, semoga tidak mengecewakan.
AtikahSparkyu: hehehe makasih yah udah seneng. Semoga yang ini juga gak mengecewakan.
michhazz: kondisi kyu udah kembali stabil kok. Iyah kyu itu udah nakal dari kecil wkkwkw. Bener tuh kalo kibum hyungnya sedingin apapun selalu lindungin kyu.
hyunnie02: kyu udah lumayan baik hihi.
kyuchoco13: sepertinya akan sulit kalau kyuhyun mau inget semua ingatannya lagi. seperti kata junwon uisanim di chapter ini.
Ahsanriri22: hahahaha yah begitulah kelakuan si Youngmin.
Dd: iyah gimana dong kyu amnesia hehehe.
Songkyurina: akhirnya hankyung menyesal hehehe. Iyah kyu beneran jadi amnesia.
angel sparkyu: karena sebenarnya keadaan kyu emang sudah lemah.
nnanissa: eh iyah mian lupa hehehe. Hyungdeul harus berjuang keras supaya kyu bisa ingat mereka lagi.
deushiikyungie: jeongmalyo? Makasih udah mau membaca ff ini hehe. Sepertinya kyu harus hilang ingatan. Hihi.
okaocha: itu kan emang konsekuensi kyunya. Hehe.
Yong Do Jin316: kyunya sih enak banget kalau dibikin menderita wkwkwk kidding. Iyah eomma cho benar-benar dilemma waktu itu. kan kasian liat anaknya lama2 harus di rumah sakit.
Desviana407: Hehe mian yah chapter ini bikin menunggu begitu lama. Kyuhyun jadi polos kembali hehe.
liliwati: iyah kyu jadi sulit mengerti dengan orang-orang yang ada disekitarnya, kejadian-kejadian yang seharusnya dulu pernah dia rasain. Nah keknya di chapter ini dia mulai akan ingat dah wkwkwk.
ladyelf11: kata kyu capek tidur mulu wkwkkw.
auliaMRQ: si Youngmin wkwkwk
fatmawatiyustika: yah begitulah kan kepemimpinan seseorang akan berbeda masing-masing. Tpi youngmin agak gimana gitu yah wkwkwk. Akhirnya si tiang merelakan uangnya untuk kaset game kyu wkkwkw.
Nanakyu: hehehe gomawo udah selalu mau membaca dan memberikan respon positif untuk ff ini.
Choding: hehehe kemana aja ayo selama ini? Ah gapapa gomawo udah meninggalkan review.
mmzzaa: iyah capek wkwk. oh yang gak kenal wajah itu kan?
lovelyrose98: emang enak daging youngmin dimasak? Wkwwk. Waduh kamu kanibal. Tapi sepertinya tugas mereka gakan semudah itu.
Lina: semoga yang ini juga menjadi sempat dibaca lagi. kibum kata-katanya always menusuk wkwk. kyu harus tertindas wkwk.
han(titik)kyura: sepertinya akan sesuai prediksi kamu wkwkwk.
dian: ini sudah dilanjut hehe.
Thank's to:
| 0932715630 | Ahsanriri22 | Anna505 | AtikahSparkyu | Axerleoulus Xenon Xelvarixion | Captain Potato | Cho Sun Eun | Desviana407 | Fitri My | FlowerKyuu | HyukRin67 | KLiieff19 | KimRaf | Kira Kim 19 | Kotonoha Mari-chan | Kyu4ever | LilisssRY | MissBabyKyu | Rina271 } Soonyoung35 | Yong Do Jin316 | auliaMRQ | bintang15 | cupidd(titik)cipudd | deushiikyungie | evayesiu12 | fanatwik | fatmawatiyustika | febbycho | gyuyomi88 | han(titik)hyunchan(titik)7 | han(titik)kyura | hulanchan | hyunnie02 | kimLr | kyukyu173 | ladyelf11 | mmzzaa | nissaasl | nnanissa | nurafaini | okaocha | readlight | restiana | riritary9 | seventeencarat | sparkyu(titik)yuri07 | tirah25 | viehyun | wcanon | whirstie | widiantini9 | xolovxy | yulielf123 | yuliyuzumaky | yuniimnida18 |
