Title : Because I Miss….

Cast : Kyuhyun and all SJ member, etc.

Gendre : Brothership, Friendship, Hurt/Comfort, Angst

Length : Chaptered

Summary : "Baiklah, jika itu yang kau mau akan aku ceritakan beberapa kisah awal hingga akhir yang kau jalani sekarang ini." / "Mungkinkah Tuhan sudah mentakdirkan kisah akhir bagi kita semua?"/ Mereka berdua hanya saling berhadapan tanpa berkata. Seolah kelu mengatakan semuanya, meski dalam hati terdapat ribuan kalimat yang ingin terucap. / "Jadi apakah sebenarnya aku adalah orang yang jahat?" / Mata mereka berair ketika melihat penampakkan seseorang yang selama ini susah untuk ditemui. / "Memang sudah seharusnya kau berdiam diri dalam persembunyianmu." / Sang Petinggi SM tersenyum meremehkan ketika ekor matanya menangkap seseorang yang dikenalnya. Orang bilang mereka akan kalah jika bicara dengannya. Oh benarkah? / "Sudah hyung kira kau akan berada disini." / "Pilihannya ada di tanganmu Kyuhyunnie, kau yang menentukan jalan hidupmu sendiri. Appa hanya memberikan mu petuah saja." / "Jika aku bisa benar-benar sembuh, aku tidak mau hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Setidaknya aku harus berguna walau sedikit." / "Meski aku lupa, meski aku tidak tahu awal dan belum bisa menjalaninya. Jebal…. Izinkan aku untuk berdiri bersama kalian untuk satu kali lagi." / "Ayo kita mengulang bersama lagi. Untuk membuat kenangan yang tidak bisa dilupakan." / "Sampai kapan kau mempermainkan mereka? Tidak lelah?" / "Sampai jawaban kutemukan." / "Hanya itu yang bisa aku katakan Kyuhyun-ssi." / "Aku akan mengingat kalian kembali." / Tak ada yang bisa menerka-nerka takdir dengan 100 persen keyakinan. Bisa menjadi baik atau buruk bahkan bisa saja buruk tetapi mengisahkan yang baik. / "Karena pada dasarnya setiap pilihan yang diambil di dunia ini memiliki dampak baik dan buruknya masing-masing. Baik itu dilakukan ataupun tidak." / Binar matanya terperangah, seseorang yang lama tanpa hawa hidup itu berbincang dengannya seperti dahulu. / "Lama tidak berjumpa Manajer hyung." / "Ah aku tidak menyangka akan menjadi pribadi yang baik seperti itu kepada hyungdeul, bagaimana dengan gelarku sebagai evil magnae jadinya." / "Tentu saja pabbo, sampai kapanpun kau sahabatku." / "Mana? Kaset game yang kau berikan padaku itu masih belum cukup Chwang." / "Berdiri lagi di panggung setelah sekian lama rasanya seperti debut pertama kali." / "Kau juga kan hyung, akan disini lagi bersama kami bukan?" / "Jadi keajaiban itu benar-benar ada?" / "Pada dasarnya dia sendiri yang membuat keajaiban itu menjadi terwujud." / "Kenapa kau tega kembali?! Tega kembali untuk membohongi kami! Bahkan kau memberitahukannya di hari ini, hari dimana…." / "Aku hanya ingin kita menghabiskan hari ini tanpa memikirkan apapun. Melupakan semua rasa sakit, kesal, benci, sedih, marah. Hanya kita yang menghabiskan hari dengan menyenangkan. Tanpa perlu terbebani oleh apapun. Karena aku begitu merindukan hari-hari yang seperti itu." /

After hiatus? Author kembali lagi untuk melanjutkan FF ini, karena beberapa kesibukan tidak terduga yang datang. Apakah hiatus kali ini terlalu lama? Maafkan author jika begitu. Terlebih ada beberapa hal yang menjadi kendala (this about my privasi), kemudian ada beberapa kesulitan untuk melanjutkan ke arah mana cerita ini. Akhirnya setelah sekian lama setelah mengumpulkan beberapa ide author memutuskan untuk kembali. Maka ini adalah ending dari ff BIM. Gomawo sudah mau menunggu.

DON'T BE SILENT READER

DON'T BASH

DON'T COPY TANPA IZIN

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

KLIK FAVORITE IF YOU LIKE

ENJOYED

Taipei City Hospital

Cat yang masih tercium wanginya, mungkin saja rumah sakit tersebut baru saja diadakan pemeliharaan oleh sang pemilik. Meski demikian setelah pemmbaharuan tetap saja warna putih lah yang paling banyak mendominasi. Bau obat-obatan juga tentu saja adalah sebuah wangi yang familiar di tempat tersebut. Tempat dimana begitu banyak pengharapan dari semua yang 'tinggal' disana. Nyaman tapi ingin pulang, hanya itu kebanyakan kalimat yang ada dalam hampir semua orang yang merasa lelah akan kehidupannya terkurung dalam pengobatan.

Derit suara roda menggema menyusuri lorong rumah sakit. Kedua namja berbeda usia itu sedang mendorong dan di dorong. Hanya saja namja yang lebih tua lah yang berada dalam posisi di dorong. Namja pemilik mata senada dengan air bening itu mengamati setiap tempat yang telah mereka berdua susuri. Penuh senyum dan sesekali menyelipkan do'a agar sedikitnya pengharapan mereka yang ada disana bisa terkabul. Begitupula dengan pengharapannya. Jika saja ia bisa.

Pintu otomatis ruangan yang bergerak dari atas ke bawah dan bawah ke atas itu terbuka. Setelah beberapa lama menekan tombol. Memasukinya segera sebelum pintu terbelah dua itu kembali menutup dengan cepat. Satu, dua, tiga, dan empat. Tepat di lantai ke empat dari bangunan inilah mereka keluar dari ruangan pembawa otomatis atau orang menyebutnya sebagai elevator.

Tanpa banyak keluhan namja yang mendorong terus membawa sang namja yang di dorong. Hingga akhirnya sampailah mereka disini. Tepatnya sebuah kamar rawat inap yang akan dirinya tempati sendirian. Kelas VIP. Walau demikian mereka tidak pernah bermaksud untuk menyombongkan diri.

Meletakkan semua barang-barang yang mereka butuhkan selama perawatan di rumah 'penyembuhan' ini. Dengan telaten sang namja yang berstatus sebagai ayahnya tersebut menata dan merapikannya. Mata onyx itu menyipit, menggerakkan tangannya mencoba untuk membantu. Sayangnya tubuhnya yang belum bisa bergerak seperti sedia kala hanya membuatnya semakin kerepotan. Alhasil barang yang akan diletakannya terjatuh. Entah kelelahan atau apa, padahal beberapa waktu lalu dia sempat berhasil.

Sang ayah tersenyum memungut benda yang terjatuh tersebut. Tersenyum menatap dalam mata sang anak. Seolah mengatakan –cobalah lagi dan jangan menyerah, kau pasti bisa-. Dan benar saja semakin sang anak mencoba semuanya menjadi semakin lancer. Tipis. Senyuman tulus yang sudah lama tidak dilihatnya dari sang anak kembali walau hanya beberapa saat.

Ketenangan mereka berhenti ketika suara dering yang keluar dari benda berbentuk persegi panjang milik sang ayah. Siapa lagi jika bukan istri dan anak perempuannya yang pasti akan sangat cepat dan langsung menanyakan keadaan dua namja berbeda usia ini. Cho Younghwan mengeluarkan beberapa ekspresi sambil berbicara seakan membalas semua kalimat-kalimat yang terlontar dari istri dan anak perempuannya. Hingga setelah 15 menit mereka memutuskan sambungan. Sayangnya tangan Younghwan seakan licin benda berbentuk persegi panjang itu terjatuh dari genggamannya. Kyuhyun yang ada begitu dekat mengambilkannya. 'De javu'. Benar juga perasaan de javu-nya adalah hasil dari beberapa peristiwa yang baru beberapa saat lalu dirinya rasakan. Si namja asli China itu.

Mengembalikan handphone milik Younghwan, akhirnya Kyuhyun berbicara. "Tentang permintaanku tadi, bisakah anda menceritakannya sekarang?"

Tersenyum. Younghwan tahu akan datang saat ini. "Tentu saja." Mendekati sang anak dan duduk disampingnya. "Tapi pertama hal apa yang membuatmu ingin tahu lebih cepat dari apa yang aku tebak?"

"Namja China yang tadi mengembalikan handphone-ku yang terjatuh. Sama seperti peristiwa jatuhnya ponselmu. Aku merasa telah mengenalnya sangat lama, namun tatapan kami begitu sama penuh dengan luka dan kerinduan yang mendalam." Yang dimana kalimat yang diucapkan oleh Kyuhyun semakin akhir semakin pelan.

Mata yang senada dengan milik Kyuhyun itu menerawang. "Pada dasarnya aku hanya tahu garis besar kisah hidupmu. Karena kau sebenarnya lebih tahu dari apa yang aku ceritakan Kyuhyunnie."

"Setidaknya, setelah mendengar ceritamu aku bisa sedikit memberikan sambungannya appa." Kepala Kyuhyun menunduk, berani berkata demikian walau sebenarnya belum tentu apa yang dibilangnya itu pasti. "Mencoba untuk mengingatnya kembali? Termasuk dirimu."

Pada dasarnya hati kecil seorang Cho Younghwan merasakan kekhawatiran. "Apakah benar ini…."

"Tentu saja karena ini keinginanku sendiri appa. Meski sakit atau tidak akhirnya aku akan mencoba." Memotong kalimat sang ayah, memotongnya dengan jawaban dan mengakhirinya dengan senyuman.

"Baiklah, jika itu yang kau mau akan aku ceritakan beberapa kisah awal hingga akhir yang kau jalani sekarang ini." Younghwan mengedikkan kedua bahunya.

Cho Younghwan menghirup nafasnya sejenak. Tidak ada pilihan lain selain untuk menjawab ya kepada permintaan sang anak. Cerita dari suara sang ayah yang keluar seakan seperti nada-nada yang di dengarnya. Karena nada-nada cerita tersebut terdiri dari beberapa nada. Seperti nada kegembiraan, nada kekonyolan, nada kesedihan, nada keharuan, nada menyenangkan, hingga nada menyakitkan seakan terdengar di dua gendang telinga milik Kyuhyun.

Walau begitu banyak nada kegembiraan dan nada menyenangkan dari kisah-kisah hidupnya yang terlupakan tapi nada kesedihan dan nada menyakitkan itu juga tidak kalah banyak. Hingga kata 'pergi' dan 'berpisah' menjadi beberapa kata yang kini tidak disukainya. Bukan benci. Hanya saja kata itu seolah mengingatkannya dengan kejadian pahit.

Rupa-rupanya begitu banyak peristiwa kehidupan yang telah dirinya lalui. Pantas saja dirinya begitu familiar dengan rumah sakit, karena memang bukan akhir-akhir ini saja. Tetapi dahulu dirinya juga sangat lama melewati waktu hanya untuk kembali pulih seperti mula. Jika ini keajaiban kedua yang dirinya dapatkan, mungkinkah akan ada keajaiban ketiga yang menghampirinya juga? Meski amat kecil kemungkinannya, Kyuhyun benar-benar berharap.

Dan nada itu semakin tidak enak didengar di dua gendang telinga miliknya. Ketika sebuah kisah perpisahan yang terjadi diantara mereka semua. Hingga mencapai titik temu ketika sang ayah menceritakan perpisahan dengan namja china tersebut. Mereka berdua selalu mengatakan akan kembali suatu hari nanti tapi sampai detik ini tidak ada satupun yang berminat. Rasanya begitu sakit hingga akhirnya namja berkulit putih pucat itu tidak ingin lagi mendengar kelanjutannya.

Dengan nada yang amat pelan Kyuhyun berucap. "Hentikan..,,"

Mata Cho Younghwan menatap lurus kepala Kyuhyun yang kini sedang menunduk. "Kau lelah dan ingin beristirahat?" Tanyanya dengan penuh senyum.

"Aku hanya tidak ingin mendengar kelanjutan kisahnya." Kyuhyun meremas selimutnya.

Younghwan memejamkan kedua matanya. "Nde. Sebenarnya aku pun tidak ingin meneruskan semua cerita hidupmu."

"Aku…" Ada sejenak jeda yang terjadi di dalam kalimat Kyuhyun. "Aku hanya tidak ingin mendengar kata pergi dan berpisah. Seolah-olah banyak hal yang telah terjadi dan berubah." Memandang wajah milik sang ayah dengan tatapan sendu. "Rasanya begitu sakit."

Younghwan beranjak dari duduknya di samping Kyuhyun. "Itu hanya garis besar saja yang aku berikan. Mungkin karena kau belum bisa mengingatnya."

Kyuhyun membaringkan tubuhnya. "Iya… mungkin."

"Satu per satu pertanyaan mu akan terjawab jika kau mengingatnya. Karena seperti yang kukatakan sebelumnya, kisah hidupmu kau sendiri yang lebih tahu dibandingkan siapapun, termasuk aku." Beranjak duduk ke sebuah sofa yang memang disimpan disana. "Setelah kau menyadarinya nanti, aku yakin kau akan menemukan jawaban yang lebih baik daripada ini."

Hari semakin malam dan tubuh-tubuh mereka sudah berteriak meminta istirahat. Terlebih untuk tubuhya saat ini. Menutup kedua matanya perlahan-lahan, dan berharap setelah terbangun akan ada sedikit saja sesuatu yang mampu diingatnya.

Super Junior Dorm

Ruangan apartemen itu kembali ramai seperti saat dahulu. Dimana para penghuninya berkumpul di dalam sana walau tidak seluruh penghuninya. Merasakan kehangatan yang mereka ciptakan semenjak mereka pertama kali menapakkan karirnya. Tapi kali ini adalah suatu hal yang berbeda, karena meski ramai masing-masing kepala mereka menunduk ke bawah.

Bukan tanpa alasan mereka merasakan kesedihan yang sama. Alasan kuat mereka merasakan kesedihan yang sama adalah dengan kepergian tanpa pamit dari seseorang yang begitu mereka sayangi. Sayangi? Bukankah dahulu mereka mengabaikannya. Mereka akui bahwa mereka adalah orang yang munafik, tapi tetap saja mereka mengkhawatirkan seseorang tersebut.

"Jadi begini rasanya merindukan seseorang?" Yesung menengadahkan kepalanya menatap langit-langit apartemen yang berwarna polos.

Heechul tersenyum getir. "Memang begini bukan? Bahkan Kyuhyunnie merasakan kerinduan yang menyakitkan yang tidak kita sadari." Beranjak dari duduknya meninggalkan saudara-saudaranya yang masih berkumpul.

Ryeowook menundukkan kepalanya. "Cho ahjussi, Ahra noona dan eomma Cho tidak ada satupun dari mereka yang mau bicara mengenai keberadaan Kyuhyunnie. Padahal sudah berulang-ulang kali aku bertanya."

"Bukankah itu pertanda bahwa Kyuhyunnie mungkin tidak akan kembali lagi bersama kita." Kangin menimpali dengan kalimat seadanya.

"Mungkinkah Tuhan sudah mentakdirkan kisah akhir bagi kita semua?" Eunhyuk menunduk sedih.

Donghae merasa tidak terima dengan kalimat retoris dari Eunhyuk. "Hyuk hyung kenapa kau tega sekali mengatakan itu."

Eunhyuk mendengus. "Lantas apakah kita bisa jika tanpa Kyuhyunnie? Bisa untuk berdiri lagi? Rasanya akan sakit jika harus melakukannya." Mata miliknya mulai berkaca-kaca. "Mungkin aku mulai mengerti maksud dari Youngmin Sajangnim."

"Jika kita belum menemukan Kyuhyunnie, aku rasa kita masih belum bisa menentukan bahwa ini adalah akhir untuk kita semua." Akhirnya Sungmin yang sedari diam mengeluarkan isi pikirannya.

Siwon tersenyum sangat senang dengan pemikiran hyung-nya yang selalu berpikir positif itu. "Sungmin hyung benar. Kita bisa tahu jika sudah mengetahui jawaban yang akan diberikan oleh Kyuhyunnie."

"Jadi sudahlah kita tidak usah berpikir negatif dan patah semangat, saat ini yang harus kita lakukan adalah mencari keberadaan Kyuhyunnie." Shindong menimpali.

Enhyuk menatap sang hyung tertua yang sedari tadi tidak bicara sepatah katapun. "Teukie hyung, apa ada yang ingin kau sampaikan?"

Leeteuk menggelengkan kepalanya. "Tadinya aku berpikir negatif bahkan sama dengan pemikiran Eunhyuk tetapi setelah mendengar pendapat kalian masing-masing aku mulai mengerti. Seharusnya kita memang tidak boleh menyerah untuk mencari Kyuhyunnie."

"Jika begitu sudah dipastikan, kita akan tetap menemukan Kyuhyunnie dimanapun." Donghae berkata dengan antusias.

Mata namja cantik itu berkaca-kaca. Dia tadi meninggalkan percakapan begitu saja. Kenapa juga dia harus berpikir negatif. Bukankah magnae-nya dulu itu selalu berjanji tidak akan meninggalkan Super Junior sekalipun ke tempat yang jauh. Pasti ada sebuah alasan dirinya melakukan hal ini.

.

.

.

.

.

Taipei

Dua pasang mata itu saling menatap satu sama lain. Terdiam membatu dan hanya sesekali menikmati hidangan makanan yang tersaji di hadapan mereka. Tanpa mau menjadi orang yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Mereka berdua hanya saling berhadapan tanpa berkata. Seolah kelu mengatakan semuanya, meski dalam hati terdapat ribuan kalimat yang ingin terucap.

Seorang yang lebih muda dari salah satu namja itu sebenarnya menatap yang lebih tua dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dalam sana tersimpan sebuah perasaan rindu yang meluap, rasa kecewa yang luar biasa, rasa marah yang ingin dilampiaskannya, hingga rasa sedih yang ingin sekali membuatnya menangis terisak.

Semua itu karena namja yang dulu sering dirinya sebut sebagai gege itu meninggalkannya begitu saja. Padahal namja dengan panggilan gege itu yang dulu sering membantu dirinya dan Zhoumi hyungie-nya ketika mereka terjatuh dan seringkali mendapat penolakan dari banyak orang. Namun ternyata dirinya sendiri lah yang tidak mampu bertahan seperti mereka. Tega sekali bukan?

Tan Hangeng dapat memaklumi dengan raut wajah kecewa yang begitu tercetak jelas di wajah sang dongsaeng. Atau mungkin saja bukan hanya kecewa, banyak perasaan lain yang tercetak di wajahnya. Bukan hanya sang dongsaeng, Hangeng juga merasakan kekecewaan pada dirinya sendiri. Kecewa dengan semua yang telah dirinya lakukan.

Mulut Tan Hangeng akhirnya terbuka. "Henry-ah lama tidak bertemu."

"Sangat amat lama sekali bukan gege?" Kalimat retoris Henry itu memang tersirat dengan penuh kekecewaan.

Hangeng tersenyum getir. "Kau sedang syuting variety show baru Henry-ah?" Mencoba untuk tidak menjadi canggung.

"Ye. Aku sedang menjajal kemampuanku." Sebuah jawaban singkat yang diberikan oleh Henry.

Hangeng tidak kecewa dengan sikap sinis dari dongsaeng bungsunya itu. "Kau benar-benar tumbuh menjadi seseorang yang hebat."

Henry mengepalkan tangannya. Bukankah tadi dirinya melihat raut wajah gege-nya yang begitu menyedihkan. Sekarang berakhir di restoran ini. Sebenarnya apa Hangeng hanya ingin kembali membuatnya merasakan hal yang sama? Ditinggalkan? "Gege, aku rasa kau mengajakku kesini bukan untuk berbasa-basi bukan?"

"Kyuhyunnie….apakah dia baik-baik saja?" Kalimat Tanya itu terdengar begitu pelan.

Henry terperangah. "Setelah sekian lama dan setelah semua postingan jahatmu itu, gege baru bertanya mengenai Kyunnie hyung sekarang?"

"Aku hanya ingin memastikan." Hangeng menundukkan kepalanya.

Henry menghembuskan nafasnya kasar. "Kyuhyunnie hyung sudah bangun dari komanya. Gege tahu Kyuhyun hyung tidak akan bisa mengingat kita lagi setelah dia sadar. Kyuhyun hyung mengalami hilang ingatan yang tidak akan tahu kapan bisa pulih." Perasaan Henry mulai menjadi sesak kembali. "Dan mungkin ini akan membuat gege menjadi lebih gembira lagi. Sudah beberapa lama ini Kyuhyunnie hyung menghilang tanpa ada kabar. Kau puas?"

"Pantas saja Kyuhyunnie menatapku seperti orang yang begitu asing. Hilang ingatan…. Kursi roda…. Rumah sakit…" Hangeng benar-benar tidak bisa berkata setelah mendengar penjelasan Henry.

Mata namja yang lama tinggal itu membulat. "Apa gege tahu sesuatu?"

"Aku bertemu dengannya beberapa saat lalu, Kyuhyunnie duduk di kursi rodanya. Namun dia tidak mengenaliku. Henry-ya, Kyuhyunnie dirawat di Taipei City Hospital kau harus memberitahukan yang lainnya." Hangeng langsung berinisiatif untuk memerintah Henry.

Henry mengepalkan tangannya. "Lalu setelah itu kau akan meninggalkan kami lagi?"

Sebuah gelengan dan senyuman dari Hangeng membuat perasaan Henry menjadi tenang. Mengerti bahwa gege-nya itu akan kembali.

Manusia tidak akan bisa selamanya untuk bersikap kecewa dan marah kepada seseorang. Karena akan datang seuah kepastian bahwa manusia itu sebenarnya adalah makhluk yang penuh dengan kasih sayang. Seperti itulah yang kedua namja berbeda usia itu rasakan. Walau memang akan ada konsekuensi tersendiri yang akan didapatkan dan tentu saja konsekuensi itu harus dijalani bukannya dihindari.

.

.

.

.

.

Taipei City Hospital

Matanya menatap kepada setiap rintik hujan yang mengalir di hadapannya. Mengangkat tangannya untuk menangkap butiran air yang turun tidak terlalu deras tersebut. Memandang air yang sudah ada di genggamannya yang tertangkap sedikit. Air hujan itu begitu polos, tersirat dar warnanya yang begitu bening. Apakah itu bisa mengumpamakan dirinya yang sekarang?

Untung saja hujan yang turun itu tidak terlalu deras. Bisa dikatakan hanya sebuah gerimis yang berjatuhan dengan cepat. Karena tidak seharusnya namja berkulit putih pucat itu berada di bawah guyuran hujan. Tak ingin mendengar kalimat nasihat yang sebenarnya memarahi itu, namja berkulit putih pucat tersebut membawa kursi rodanya untuk kembali ke dalam kamar rawatnya.

Suara pintu yang terbuka itu membuat pandangannya beralih pada seseorang yang sedang merapikan buah-buahan yang baru saja dibelinya. Tunggu dulu bukankah tidak biasanya sang ayah membeli buah sebanyak itu.

"Appa kau sedang merayakan sesuatu?" Tanya Kyuhyun karena melihat buah-buahan yang banyak sekali.

Cho Younghwan mengedikan kedua bahunya. "Merayakan tanganmu yang dingin karena lagi-lagi menangkap air hujan."

Kyuhyun meringis, ayahnya itu memang tidak bisa dibohongi. "Aku serius appa. Eomma dan noona sedang berkunjung?"

"Appa rasa kau tahu bahwa mereka berdua sedang berada di Paris." Younghwan mendudukan dirinya di pinggir tempat tidur Kyuhyun.

Kyuhyun mengernyitkan keningnya tidak mengerti. "Lalu jika bukan mereka?"

Younghwan memandang Kyuhyun dengan serius. "Tentu saja hyungdeul-mu. Mereka sedari tadi sudah berkunjung dan ingin bertemu denganmu Kyuhyunnie. Jadi apakah kau akan menemui mereka seperti mereka ingin menemuimu?"

"Wae? Kenapa mereka bisa tahu mengenai keberadaanku?" Kyuhyun menundukkan kepalanya.

Younghwan menghela nafasnya. "Yang jelas mereka mempunyai cara sendiri untuk bisa menemukanmu tanpa perlu aku yang memberitahu mereka. Kau tahu appa-mu ini bukan seorang pengingkar janji?"

Tak ada bantahan dari mulut sang anak. "Aku tidak akan bertemu dengan mereka beritahu saja terima kasih dengan pemberian mereka semua."

"Arrasseo, aku akan memberitahu mereka semua." Younghwan mulai beranjak.

Kyuhyun membuang mukanya, sejujurnya dia harus tahu jawaban mengenai pertanyaan yang akan diajukannya ini. "Jadi apakah sebenarnya aku adalah orang yang jahat?"

Younghwan berhenti sejenak sebelum membuka pintu. "Jika kau ingin kejujuran dariku, kau memang menjadi orang yang jahat." Meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam.

Wajah-wajah mereka semua langsung sumringah ketika Tuan Cho keluar dari kamar rawat Kyuhyun. Terlihat jelas sekali pengharapan mereka yang benar-benar ingin bertemu dengan sang magnae. Sebuah senyum hangat diberikan oleh Younghwan kepada seluruh member Super Junior sebelum ikut duduk diantara mereka.

Sejak dahulu hyungdeul Kyuhyun di Super Junior itu memang orang-orang yang sulit untuk ditebak. Mereka masih saja terlihat begitu polos. Bahkan beberapa diantaranya benar-benar antusias memperlihatkan hadiah apa lagi yang sudah mereka bawa. Sayangnya hadiah itu mungkin tidak akan pernah sampai pada Kyuhyun.

Sungmin langsung bertanya kepada Tuan Cho. "Jadi apakah Kyuhyunnie bersedia untuk ditemui."

Sebuah gelengan Younghwan berikan. "Kyuhyunnie bilang dia masih tidak ingin ditemui oleh siapapun."

"Waeyo? Apakah Kyuhyunnie memang sudah tidak mau bertemu dengan kami lagi?" Mata si kecil Ryeowook kembali berair.

"Entahlah, aku sendiri sebagai ayahnya belum bisa mengetahui jalan pikirannya." Mata seorang Cho Younghwan menerawang. "Oh dia juga bilang terima kasih atas buah-buahan yang sudah kalian berikan."

Siwon berucap dengan nada getir. "Ti….tidak bisakah Kyuhyunnie sendiri yang langsung mengatakan terima kasih?"

Cho Younghwan menghembuskan nafasnya kasar. "Kalian tahu betapa keras kepalanya dia bukan?"

"Baiklah kalau begitu kami akan pamit pulang ahjussi, mianhae karena sudah membuat keributan malam-malam begini." Leeteuk memilih mengalah dan menuruti apa yang dimau oleh Kyuhyun.

Heechul mengepalkan kedua lengannya erat. "Jungsoo-ah kita bahkan belum melihat wajah Kyuhyun secara langsung dan kau ingin kita pergi begitu saja tanpa bisa mendengar jawaban apapun."

"Bukankah sudah cukup dengan menemukan keberadaannya?" Hanya itu yang bisa Leeteuk ucapkan.

Eunyuk kesal sendiri dengan pemikiran Leeteuk. "Bukankah hyung setuju dengan ini tapi kenapa kau kembali menyerah Teukie hyung?!"

"Lantas apakah kita akan tidak mendengarkan apa yang Kyuhyunnie inginkan dan membuat keadaan menjadi seperti dulu? Dimana itu hanya memperburuk semuanya?!" Maafkan Leeteuk jika dia harus berteriak.

Tanpa mereka sadari dari balik pintu kamar rawat yang tertutup itu Kyuhyun mendengarkan semuanya. Hatinya sakit mendengar keributan dan pertengkaran diantara hyungdeul-nya. Matanya mendadak buram, sekelebat ingatannya kembali terngiang.

"Wae? Kenapa kalian selalu pergi?! Kenapa kalian begini?!"

"Kami juga memiliki alasan Kyu."

"Alasan…alasan…. Kalau kalian ingin pergi tinggalkan saja aku dari dulu."

"Ini masa istirahat, dan kami juga punya kesibukan masing-masing."

"Bisakah kalian untuk kali ini kita mendengar dulu apa yang Kyuhyun inginkan."

"Jangan berpura-pura baik ataupun mengasihiniku setelah kau tahu semuanya! Ketidakpedulian kalian menyakitkan memang, namun kepura-puraan kalian membuatku muak dan lebih sakit!"

Kyuhyun memejamkan matanya untuk meredakan rasa sakit di kepalanya. Nafasnya benar-benar berat namun dia tidak sanggup lagi jika terus mendengar pertengkaran diantara hyungdeul-nya. Sekelebat ingatan yang tadi terlintas itu seolah memperjelas bahwa hubungan mereka sebenarnya tidak sebaik yang dia bayangkan. Dengan lemah Kyuhyun membawa kursi rodanya keluar dari kamar rawatnya.

"Geumanhae….!" Kyuhyun dengan sisa tenaganya berteriak dihadapan seluruh member Super Junior.

Mata mereka berair ketika melihat penampakkan seseorang yang selama ini susah untuk ditemui. Mulut seluruh member Super Junior yang dari tadi tidak lelah untuk berdebat kini terbungkam. Kyuhyun sang magnae yang terus dicari kini sudah ada di hadapan mereka, lengkap dengan kursi roda yang masih belum bisa dirinya tinggalkan.

"Aku mohon jangan temui aku lagi. Karena aku membenci kalian yang terus menerus pergi meninggalkanku." Kyuhyun menangis benar-benar menangis.

Younghwan menghampiri Kyuhyun yang menangis dengan keringat dingin yang mengucur. Mengerti bahwa putranya sedang tidak berada dalam keadaan baik-baik saja. Memberikan isyarat kepada seluruh member Super Junior untuk pergi tanpa membantah. Sungmin yang mengerti isyarat yang diberikan oleh Cho Younghwan mulai menggiring saudaranya untuk pergi meninggalkan rumah sakit. Sekaligus membungkuk sebagai pertanda maaf karena telah membuat keributan yang tak seharusnya.

Younghwan langsung membawa Kyuhyun kembali masuk ke dalam kamar rawatnya. Tidak lupa memanggil uisa yang bekerja disana untuk menangani Kyuhyun yang memang dalam keadaan tidak baik. Tidak begitu lama, uisa tersebut langsung membaringkan Kyuhyun dan mengecek keadaannya satu per satu. Setelah dirasanya kondisi Kyuhyun cukup stabil sang uisa memberikan suntikan agar Kyuhyun tertidur.

Sang uisa berkewarganegaraan Taiwan tersebut menatap Cho Younghwan yang berdiri menunggu di depan kamar rawat. "Akhirnya aku mengerti apa yang ditakutkan oleh Junwon."

"Mengenai kondisinya yang tidak akan stabil karena proses ingatannya yang akan kembali?" Pertanyaan yang sering dirinya dapatkan dari Junwon saat di Korea.

Sang uisa mengangguk. "Maka akan lebih baik jika Kyuhyun tidak mengingatnya dan fokus pada perkembangan fisik untuk memulihkan fungsi organnya keseluruhan."

"Kyuhyunnie yang ingin kembali mengingat ataukah mereka yang hilang dari ingatannya ingin kembali hadir. Bisakah anda menjawabnya?" Senyuman hangat mengakhiri kalimat yang sulit untuk dimengerti oleh uisa tersebut.

Sang uisa hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Baik aku maupun anda tidak akan mungkin bisa menjawabnya, karena Kyuhyun sendiri yang lebih mengerti dibandingkan kita bukan."

.

.

.

.

.

Tokyo Hospital

Satu menit, satu jam, satu hari, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan hingga begitu seteusnya sampai bulan lama tergantikan oleh bulan-bulan yang baru. Tentu saja akan ada perubahan dan perkembangan yang terjadi disana sini. Baik itu dari sisi teknologi, pendidikan, tidak luput juga sebuah perubahan dalam kehidupan.

Kali ini namja berkulit putih pucat itu sudah bisa berdiri tanpa memerlukan sebuah kursi dengan roda di sisinya masing-masing. Berbalut cardigan berwarna abu-abu dengan celana panjang dan kemeja berwarna putih namja itu menjalani harinya seperti biasa. Hidup bersama ayah dan ibunya, makan, tidur, beristirahat, dan kemudian melakukan sebuah kegiatan tambahan.

Kegiatan tambahan yang dimaksud yakni medical check up yang setiap bulan rutin dirinya jalankan. Melangkah masuk menyusuri lorong rumah sakit yang sudah sangat dirinya hapal begitu dalam. Seakan-akan menjadi rumah kedua bagi dirinya untuk disinggahi.

Namja pemilik mata sebening air itu terheran ketika melihat seseorang yang begitu dikenalinya. Seseorang itu sudah duduk di kursi tunggu rumah sakit. Melambaikan tangannya memberi sapaan pada namja pemilik mata sebening air itu, yang tentu saja disapanya balik dengan begitu hangat. Menunjukkan rasa hormatnya, namja itu kemudian duduk disamping orang yang mungkin sampai saat ini berstatus sebagai pimpinannya.

"Bagaimana perkembanganmu sekarang?" Tanya seseorang yang berstatus sebagai Sajangnim tersebut.

Kyuhyun mengedikkan kedua bahunya. "Seperti yang anda lihat cukup baik, anda benar-benar selalu tahu keberadaanku bukan?"

"Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk kesini dan bertemu denganmu Kyuhyun-ssi. Hanya saja sepupuku sedang dirawat disini dan kebetulan aku dengar kabar ada magnae Super Junior yang rajin check up disini. Mungkin ini bisa dikatakan sebagai takdir?" Kim Youngmin tersenyum dengan begitu liciknya.

Kyuhyun tidak ingin menanggapi kalimat meremehkan dari Youngmin. "Jadi kenapa anda sampai menyapaku dan menyuruhku agar duduk disini?"

Youngmin mengeluarkan sebuah kertas. "Tentu saja menyuruhmu untuk menandatangani ini." Kemudian menyerahkannya pada Kyuhyun.

"Penandatanganan pengakhiran kontrak, sekarang juga? Bukankah appa-ku sudah melakukannya?" Tanya Kyuhyun secara retoris.

Youngmin tersenyum meremehkan. "Aku rasa sang artis sendiri lah yang harus menandatanganinya bukan perwakilannya. Kenapa? Kau masih ingin bertahan di saat kondisimu bahkan tidak akan pernah lagi memungkinkan? Asal kau tahu Kyuhyun-ssi, aku itu pandai mencari informasi."

Kyuhyun meraih kertas itu dan menandatanganinya. "Aku lakukan dan tolong jangan beritahukan mengenai keberadaanku disini."

"Memang sudah seharusnya kau berdiam diri dalam persembunyianmu." Youngmin mengambil alih kertas itu. "Dan aku harap kita tidak bertemu lagi Kyuhyun-ssi."

Memang sudah seharusnya kau berdiam diri dalam persembunyianmu. Kalimat Youngmin itu terus terngiang di dalam pikiran Kyuhyun. Hatinya benar-benar sakit jika saja dirinya boleh jujur. Bersembunyi? Yang dikatakan oleh Petinggi SM itu memang benar adanya. Dirinya hanya berpindah-pindah tempat tanpa ingin diketahui oleh orang lain. Sama seperti jawaban ayahnya, Kyuhyun sendiri menilai dirinya sebagai seorang yang jahat sekaligus pengecut.

Youngmin merasakan kepuasan setelah merasa dirinya menang dan pertaruhan kali ini memang seperti perkiraannya. Selesai menjenguk sepupunya dirinya memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Namun pandangannya sedikit terkejut ketika melihat seorang namja berwajah dingin berdiri di dekat mobilnya. Sang Petinggi SM tersenyum meremehkan ketika ekor matanya menangkap seseorang yang dikenalnya. Orang bilang mereka akan kalah jika bicara dengannya. Oh benarkah?

Namja berwajah dingin itu tak menanggapi senyuman meremehkan yang diberikan oleh seorang Kim Youngmin. Untung saja dirinya mengikuti sang Petinggi SM hingga kesini. Yang pada akhirnya bisa menemukan keberadaan seseorang.

"Bagaimana jika sebelum anda berangkat kita berbincang sebentar." Namja berparas dingin itu berbicara tanpa basa-basi.

Youngmin menatapnya dengan pandangan sinis. "Apa yang kau inginkan dariku?"

"Tentu saja mencegahmu mengakhiri penandatanganan kontrak." Sahut Kibum dengan begitu singkat.

Youngmin tersenyum licik. "Sayang sekali dirinyalah yang sudah menandatanganinya."

Kibum membalasnya dengan senyuman yang tidak kalah liciknya. "Jika begitu anda bisa di masukkan ke peradilan karena pelanggaran kontrak."

"Maksudmu?" Mata Youngmin semakin menyipit.

Kibum tersenyum remeh. "Seharusnya anda lebih tahu daripada aku. Tapi jika anda lupa maka aku akan memberitahunya. Penghentian secara paksa secara sepihak itu adalah salah satu pasal dalam kontrak yang sudah anda buat. Anda sendiri yang membuat tapi anda sendiri yang melanggar. Adapun dimana pemutusan itu berasal dari kedua belah pihak biar pengadilan yang memutuskan."

Youngmin tertegun, orang dihadapannya ini benar-benar cerdas. "Pantas saja IQ-mu adalah yang paling tinggi diantara yang lainnya."

"Jadi Sajangnim, apakah perkaramu akan diselesaikan di meja hijau ataukah membiarkannya mengalir dengan sendirinya?" Kibum memberikan pertanyaan yang begitu bagus.

Youngmin melangkah masuk ke dalam mobilnya. "Aku akan menghubunginya bahwa kontrak masih berjalan dan belum berakhir."

.

.

.

.

.

Kyuhyun hanya sedang terduduk di dalam kamar apartemennya. Menatap suasana malam di ibu kota negara sakura ini. Memikirkan keputusan plin-plan yang sudah diambil oleh Petinggi SM. Padahal pagi tadi namja itu begitu dengan senyum kemenangannya merasa puas karena berhasil membuat dirinya mengakhiri kontrak kerja. Apakah dirinya hanya berada dalam permainannya lagi kali ini.

Suara bel apartemennya yang sedari tadi terus berbunyi menyadarkan pemikirannya yang sedang gundah. Mungkin saja itu adalah ayahnya yang baru kembali setelah mendatangi rapat perusahaan. Namun setelah membukakan pintunya, bukan sang ayah yang berdiri di hadapannya tetapi seorang namja berwajah dingin walau sebenarnya namja itu mempunyai wangi yang sama dengan ayahnya.

Perasaan milik Kyuhyun terasa bercampur aduk. Melihat namja berwajah dingin yang sudah duduk di atas sofa itu. Menyajikan sebuah teh untuk seorang tamu yang tidak diundang disini. Mata namja itu sekelam warna langit pada malam hari. Wajahnya yang begitu dingin itu menutupi dirinya yang sebenarnya adalah sosok yang begitu hangat. Tuggu dulu tidak menutup kemungkinan mereka saling mengenal satu sama lain.

Kibum tidak menyia-nyiakan teh hangat yang tersaji dihadapannya, kemudian meneguknya secara pelan. "Sudah hyung kira kau akan berada disini."

"Hyung?" Meski Kyuhyun tahu begitu banyak hyungdeul-nya di Super Junior rasanya dia tidak terlalu familiar dengan namja satu ini.

Kibum tersenyum dengan begitu tampan. "Kim Kibum imnida, wajar saja kau tidak akan begitu mengenaliku…."

Belum sempat Kibum meneruskan kalimatnya Kyuhyun sudah memotong terlebih dahulu. "Mian karena ingatanku masih belum kembali."

"Memang aku akan mengatakan itu? Maksudku wajar saja karena aku member yang meninggalkan Super Junior." Kibum menerawang sejenak. "Ah aku hanya berpisah dengan kalian bukan meninggalkan."

Kyuhyun mulai teringat sesuatu. Perpisahan, salah satu kisah hidupnya yang pernah diceritakan oleh sang ayah. "Kau salah satu yang memutuskan untuk tidak bersama Super Junior lagi."

"Benar. Dan jika kau memutuskan hal yang sama kau juga termasuk salah satu dari kami bukan?" Ada kekehan lembut yang keluar dalam kalimat Kibum.

Kyuhyun mengernyit tidak mengerti. "Kibum hyung apa maksudmu?"

Kibum meminum tehnya kembali kemudian melanjutkan bicaranya. "Sederhana saja Kyu. Apakah kau ingin benar-benar meninggalkan Super Junior? Apakah itu sesungguhnya isi hatimu? Asal kau tahu hyungdeul, sampai dengan Henry tidak akan pernah memaksa agar kita tetap tinggal bersama mereka. Jika kau ingin pergi maka mereka akan membiarkanmu pergi dan jika kau ingin tinggal tentu mereka akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi agar kau tetap nyaman." Mata seorang Kim Kibum kini mulai terlihat berkaca-kaca. "Bahkan ketika aku menyakiti member Super Junior termasuk dirimu kalian mempersilahkanku mengambil jalanku sendiri dengan memberikan senyuman. Aku pikir jalanku yang kupilih memang sudah tepat. Aku juga tidak akan memaksamu agar kau menemui mereka. Pilihan dengan sebuah keraguan hanya akan menjadi kisah tak berarti dan sia-sia. Karena Cho Kyuhyun mau hilang ingatan atau tidak, yang kukenal adalah seorang yang tidak patah semangat dan berusaha sekeras apapun."

"Aku…. Sejujurnya… ragu….. aku tidak ingin meninggalkan hyungdeul….." Jujur saja bibir Kyuhyun terasa kelu setelah mendengar penuturan Kibum.

Kibum tersenyum begitu tipis setelah mendengar jawaban memuaskan dari bibir sang dongsaeng. Memang sejak dahulu terkadang hanya mereka yang bisa mengerti satu sama lain. Kibum bersyukur mengenai itu. Mereka terlihat seperti saudara kandung walau sebenarnya jauh dari hubungan persaudaraan.

Cho Younghwan baru saja kembali dari rapatnya. Rupanya sang putra sedang kedatangan tamu hari ini. Sebuah senyuman tipis Younghwan tampilkan setelah melihat bahwa seseorang yang berstatus tamu putranya itu rupanya adalah salah seorang hyung-nya di Super Junior. Hyung-nya yang mungkin akan segera pulang.

Melihat Cho Younghwan sudah tiba dengan sopan Kibum memberikan salam hormat kepada sang ayah dari magnae kesayangannya. Karena sudah malam dan Kyuhyun harus beristirahat namja termuda itu memutuskan untuk undur diri. Menyisakan Kibum dan Younghwan yang masih setia berbincang dengan hangat.

Di dalam kamarnya, ternyata Kyuhyun masih belum tertidur. Dirinya memikirkan kalimat-kalimat yang tadi diucapkan oleh Kibum hyungie-nya. Setelah sekian lama dengan keraguan yang berkecamuk di dalam pikirannya, saat ini Kyuhyun sudah bisa memastikan mengenai pilihannya. Tidak dia tidak akan bersembunyi lagi seperti yang dikatakan oleh Sajangnim-nya yang begitu terhormat.

Suara knop pintu yang terdengar membuat Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada seseorang. Rupanya sang ayah sudah selesai berbincang dengan Kibum. Dalam hati Younghwan begitu bersyukur melihat sang putra yang kini mulai kembali bersemangat.

"Kibum hyungie?" Kyuhyun langsung menanyakan keberadaan Kibum rupanya.

Younghwan terkekeh. "Sejak dulu jika menyangkut hyung-mu yang satu itu kau begitu bersemangat. Dia sudah pamit untuk pulang, terlebih jadwalnya sedang padat."

"Semoga dia selamat sampai tujuan. Ternyata Kibum hyungie orang yang begitu hangat appa." Kyuhyun mulai mendudukan dirinya.

Younghwan memandang Kyuhyun dengan lembut. "Jeongmal? Kau kan lebih tahu daripada appa seharusnya."

Kyuhyun cemberut. "Appa itu karena ingatanku yang belum kembali."

"Benar bukan ketika kau mulai mengenal mereka satu per satu kembali kau bisa merasakan kepribadian, kehangatan, dan sifat mereka masing-masing. Dan mungkin saja sedikit demi sedikit kenanganmu akan tercipta atau bahkan membuahkan kenangan yang baru." Younghwan sudah berdiri sembari menatap keluar jendela.

Kyuhyun memandang punggung sang ayah yang begitu tegap. "Aku memang ingin kembali mengingatnya, tapi mengenai…." Kepala Kyuhyun mulai menunduk.

"Vonis itu? Sejak kapan Cho Kyuhyun yang keras kepala tunduk pada sebuah aturan? Bahkan laranganku agar kau tidak menjadi penyanyi kau bantah begitu saja." Younghwan mengingat sang putra dulu yang begitu membangkang.

Kyuhyun mengangkat kepalanya kembali. "Jadi kali ini apakah pilihanku appa? Apakah pilihanku ini akan menjadikanku orang yang jahat kembali appa?"

Younghwan menatap Kyuhyun dengan pandangannya yang begitu lembut. "Pilihannya ada di tanganmu Kyuhyunnie, kau yang menentukan jalan hidupmu sendiri. Appa hanya memberikan mu petuah saja."

"Jika aku bisa benar-benar sembuh, aku tidak mau hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Setidaknya aku harus berguna walau sedikit." Hanya kalimat itu yang Kyuhyun ucapkan.

Maka dengan kata lain Younghwan sudah tahu apa yang anaknya pilih.

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Tidak ada perubahan yang berarti disana. Meski seluruh member yang menjalankan wajib militernya sudah selesai dengan tugas mereka dan berkumpul di dorm itu. Hanya begitu saja setiap harinya memasang wajah begitu gembira di depan kamera yang merekam, namun setelahnya raut wajah sarat kesedihan itu mereka tumpahkan kembali di dalam dorm tersebut.

Hari ini tidak ada yang begitu istimewa juga. Hanya melaksanakan kegiatan seperti biasa sembari menunggu seseorang yang tidak kunjung pulang untuk datang kembali. Seharusnya mereka sendiri yang mencarinya bukan malah berharap dan menunggu seperti ini? Jawabannya adalah mereka sudah melakukan segala cara agar dongsaeng yang mereka sayangi ditemukan keberadaannya. Namun semakin lama dan semakin lama tidak ada titik temu yang bisa mereka dekati walau hanya sedikit.

Perasaan bersalah tentu saja menghantui diri mereka masing-masing. Kalimat-kalimat yang di awali dengan kata-kata jika saja dulu selalu menghampiri setiap pemikiran dari mereka masing-masing bahkan di setiap hari mereka.

Di luar dari pintu dorm itu seorang namja berkulit putih pucat memandang pintu tersebut dengan penuh keyakinan. Tangannya yang putih halus itu menekan sebuah tombol kecil atau orang-orang menyebutnya sebagai bel. Menandakan bahwa dirinya saat ini akan bertamu ke dalam dorm tersebut.

Sang leader yang pertama kali menyadari dengan suara bel yang berbunyi bergegas untuk segera membukakan pintu. Bisa saja itu adalah manajer hyung yang memang datang untuk menjemput mereka. Tapi entah kenapa ketika tangannya mulai akan bergerak membukakan pintu ada sebuah perasaan gugup seperti berharap bahwa yang menekan bel kali ini bukanlah manajer hyung. Dibukakannya lah pintu tersebut. Namja berkulit putih pucat, masker berwarna putih, cardigan berwarna abu-abu, kemeja putih, celana panjang serta sepatu yang begitu cocok dengannya berdiri di hadapannya.

Heechul yang melihat sang leader mematung di tempat langsung menghampirinya. Mulutnya langsung terasa kelu ketika melihat seseorang yang kini berdiri di depan pintu mereka. Bolehkah mereka tidak terbangun jika ini adalah mimpi? Sang namja berkulit putih pucat bingung sendiri dengan kedua hyung-nya.

"Emm bolehkah aku masuk hyung?" Tanyanya dengan begitu sopan.

Ini bukan mimpi. Ini adalah penantian yang selama ini mereka tunggu. Orang yang sekian lama sulit untuk ditemukan kini tepat ada dihadapan mereka. Dengan segera Leeteuk dan Heechul mempersilahkan Kyuhyun untuk masuk. Rasanya begitu canggung, padahal Kyuhyun jika ingin masuk tidak perlu meminta izin terlebih dahulu.

Ryeowook maju perlahan-lahan mendekati magnae-nya yang sedang duduk. "Be…benarkah ini kau Kyuhyunnie?"

"Aku duduk dihadapanmu emm Ryeowook hyung." Kyuhyun membalas dengan begitu lembut.

Donghae sedang mencoba untuk menahan air matanya. "Kau datang kesini bukan untuk memutuskan bukan."

Eunhyuk menegur kalimat Donghae tersebut. "Hae-ah jangan berbicara yang aneh-aneh."

"Aku datang untuk meminta maaf karena telah meninggalkan kalian." Ucap Kyuhyun dengan begitu tulus.

Heechul tidak terima jika magnae-nya yang minta maaf. "Seharusnya yang meminta maaf itu adalah kami karena tidak bisa menjadi hyungdeul yang baik untukmu."

"Yang dikatakan Chullie benar, bahkan sebagian besar keadaan yang telah terjadi ini adalah perbuatan kami." Leeteuk menambahkan dan mengelus rambut Kyuhyun dengan sayang.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Anniyo aku juga terlibat. Mianhae karena aku menjadi pengecut dan terus menghindari kalian. Aku terlalu takut hanya akan menjadi beban untuk kalian. Tapi sepertinya aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaan kalian yang terluka. Tapi setelah semuanya aku malah punya permintaan untuk kalian."

"Apa itu Kyuhyunnie katakana saja." Sungmin menatap Kyuhyun dengan lembut.

Kyuhyun berucap dengan penuh keyakinan. "Meski aku lupa, meski aku tidak tahu awal dan belum bisa menjalaninya. Jebal…. Izinkan aku untuk berdiri bersama kalian untuk satu kali lagi."

Shindong menatap Kyuhyun dengan antusias. "Maksudmu berdiri di atas panggung bersama kami lagi?"

"Sebenarnya kami tidak akan pernah menolak untuk itu." Yesung yang melihat anggukan kepala Kyuhyun langsung menjawabnya.

Leeteuk memandang Kyuhyun dengan lembut. "Tentu saja kami tidak akan meninggalkanmu lagi sendirian, kita akan saling menopang satu sama lain."

"Ayo kita mengulang bersama lagi. Untuk membuat kenangan yang tidak bisa dilupakan." Donghae berkata dengan begitu antusias.

Siwon akhirnya ikut berbicara. "Membuat kenangan baru juga akan seru."

"Benar akan sangat menyenangkan dan kita akan lebih sering bersama." Kangin menambahkan.

Heechul langsung mengacak rambut Kyuhyun dengan gemas. "Jangan sembunyi lagi magnae."

Yang dikatakan ayahnya adalah benar dengan memulai semuanya dari awal lagi mungkin tidak akan terlalu buruk. Karena hyungdeul-nya ini bukanlah orang-orang yang mengenalnya dalam waktu yang begitu singkat namun sudah sepuluh tahun lamanya.

.

.

.

.

.

SM Entertainment Building

Namja yang berstatus sebagai Petiggi SM itu menatap dengan senyuman kepada sebuah artikel yang ada di mejanya. Artikel itu memuat berita mengenai magnae Super Junior yang sudah kembali bahkan dengan keadaan pulih. Padahal dirinya lebih tahu dari maksud pulih yang sebenarnya bagi sang magnae Super Junior.

Pantas saja temannya dulu mengalami kesulitan ketika menghadapi member Super Junior. Mereka semua benar-benar di luar dugaan. Terlebih untuk magnae di grup tersebut. Pantas saja perusahaannya ini selalu mengistimewakan namja berkulit putih pucat itu.

Ekor matanya melirik siluet seseorang yang rupanya sudah berdiri dihadapannya. Orang tersebut membaca sebuah lembaran-lembaran kertas yang ada di tangannya dengan begitu lantang. Nada bacanya begitu tersirat akan kemarahan. Merasa frustasi terhadap orang yang sedang duduk sambil setia memberikan senyuman dihadapannya.

"Album solo, album untuk grup, lagu baru dan itu semua merenggut beberapa jadwal masing-masing mereka." Kalimat dengan nada lantang itu diucapkan oleh orang tersebut.

Youngmin tersenyum. "Bagus bukan? Jika mereka benar-benar serius mereka akan menetapkan pilihan yang benar."

"Sampai kapan kau mempermainkan mereka? Tidak lelah?" Pertanyaan ejekan itu diajukan oleh orang tersebut.

"Sampai jawaban kutemukan." Kemudian membalikan tubuhnya.

.

.

.

.

.

Hari ini seluruh member Super Junior sedang melakukan latihan bersama. Karena perusahaan sedang mempersiapkan album baru untuk mereka. Kyuhyun juga tentu ikut berlatih bersama hyungdeul-nya lain. Merasakan atmosfer seperti ini bukanlah untuk pertama kali bagi Kyuhyun. Namun karena ingatannya yang masih belum kembali tentu saja rasanya berbeda.

Seperti para trainee yang baru pertama kali akan debut Kyuhyun mengalami kesulitan. Tidak ada masalah dengan nada-nada atau rekaman, namun saat dilatih untuk menghafal gerakan Kyuhyun kebingungan sendiri. Namun Eunhyuk dan Donghae dengan sabar mengajari Kyuhyun setiap gerakannya.

Terkadang magnae mereka membuat gerakan-gerakan yang lucu yang tentu saja membuat member lainnya tidak bisa menahan tawa mereka. Benarkah Kyuhyun mereka sudah berumur 28 tahun? Tapi mengapa tingkahnya yang kebingungan malah persis seperti balita yang kehilangan mainan yang begitu disayanginya.

Berlatih, berlatih dan terus berlatih. Mereka akan membuktikan kepada sang Petinggi SM bahwa mereka mampu membangun karir mereka kembali dan menopang Kyuhyun agar tetap berdiri di puncak. Latihan terus berlanjut, sampai Eunhyuk memberikan perintah untuk beristirahat sejenak. Jujur saja dirinya juga cukup kesulitan dengan koreografi baru yang begitu rumit yang sengaja diberikan untuk mereka.

"Aish koreonya begitu rumit, aku tidak bisa menghapalnya." Shindong membaringkan tubuhnya yang lelah.

Donghae juga ikut membaringkan tubuhnya. "Padahal kau biasanya paling mudah hapal hyung."

"Jujur saja kita memang tidak akan sepenuhnya terbiasa dengan koreo ini." Eunhyuk juga mulai mengeluh.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. "Jika kalian saja mengeluh begitu bagaimana denganku yang belum bisa menghapal satupun, aku mungkin hanya akan menghambat."

Siwon yang berada disampingnya langsung merangkul pundak Kyuhyun dengan semangat. "Jangan bilang seperti itu Kyu, kita ini Super Junior termasuk dirimu. Jadi tidak akan susah bagi kita untuk menghapal gerakan mudah begitu."

"Yang Wonnie hyung katakana benar Kyuhyunnie. Kau juga mulai bisa menari meski." Ryeowook menahan tawanya.

Sungmin melanjutkan kalimat Ryeowook. "Kyuhyunnie menari seperti robot."

Ryeowook akhirnya tertawa juga. "Hyung kau tidak usah memperjelasnya. Lihat magnae kita jadi sedih."

"Ish hyungdeul menyebalkan." Tunggu… rasanya dulu Kyuhyun pernah merasakan hal yang sama.

Kembali sekelebat ingatan mulai terlintas di dalam pikirannya. Sebuah ingatan yang persis sama dengan keadaannya saat ini. Dirinya yang memang tidak berbakat untuk menjadi seorang penari yang hebat kemudian hyungdeul-nya lain yang ikut bersama-sama melatihnya hingga seluruh gerakan itu bisa dirinya hapal.

Sebuah senyuman langsung tercetak di bibirnya kala ingatan tersebut sedikit demi sedikit mulai terlintas. Namun ada sebuah konsekuensi yang harus didapatkannya. Siwon yang berada paling dekat dengan Kyuhyun, menatap dongsaeng-nya itu dengan penuh kekhawatiran. Sang dongsaeng mengeluarkan keringat dingin yang begitu banyak. Terlihat juga bahwa Kyuhyun sedang menahan sakitnya.

"Gwenchana Kyuhyun-ah?" Tanya Siwon yang mulai mengkhawatirkan Kyuhyun.

Mendengar Siwon bertanya demikian member lain langsung mendekati Kyuhyun. Leeteuk juga merasakan kekhawatiran yang luar biasa. "Kau berkeringat banyak sekali Kyuhyunnie, lebih baik kalau kau istirahat saja."

"Anniyo." Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa untuk diam saja kalau hyungdeul sedang berusaha dengan keras."

Heechul mengetuk kepala Kyuhyun dengan pelan. "Istirahat atau kau tidak boleh ikut latihan selamanya."

Kangin yang mendengar ucapan Heechul membuatnya bergidik ngeri. Jadi begini jika seorang Kim Heechul menjadi begitu protektif pada dongsaeng-nya? "Sebaiknya kau turuti saja perintah Teuk hyung… terutama Chullie hyung…. Dia itu begitu ganas."

"Kangin-ah aku juga bisa ganas padamu." Heechul menatap Kangin dengan kesal.

Kyuhyun terkekeh karena ulah kedua hyung-nya itu. Leeteuk mengelus rambut Kyuhyun dengan lembut. "Maukah beristirahat?"

"Nde hyung, aku akan beristirahat." Kyuhyun menganggukan kepalanya dan tersenyum.

Memilih untuk beristirahat dan melihat hyungdeul-nya yang lain meneruskan latihan memang pilihan yang tepat. Kyuhyun yakin jika dirinya berlatih terus bersama mereka malah membuat yang lainnya tidak fokus karena terlalu mengkhawatirkan kondisinya yang memang seringkali naik turun.

Keeseokan harinya seluruh member Super Junior termasuk Kyuhyun terus melakukan latihan guna memantapkan album baru mereka. Terus menerus sebelum hari akhir persiapan album mereka diluncurkan. Secara perlahan-lahan sedikit demi sedikit serpihan ingatan miliknya mulai berangsur untuk kembali ke dalam memori otaknya.

Seperti beberapa waktu yang lalu, Kyuhyun berhasil mengingat tentang dirinya yang debut pertama kali dan dikenalkan sebagai member Super Junior. Dengan mata hyungdeul-nya yang berkaca-kaca ketika menyambut cerita itu. Walau hanya sedikit serpihan yang mampu diingatnya setidaknya Kyuhyun sudah merasa bersyukur. Tapi jika itu adalah sedikit akan banyak kemungkinan yang membuat dirinya mampu menyambungkan kisah hidupnya yang sudah terlupakan itu bukan?

.

.

.

.

.

Samsung Hospital

Seorang namja berkulit putih pucat berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah lama tidak dipijaknya lagi. Ini adalah jadwal medical check up-nya setelah beberapa waktu lalu selalu melakukannya di salah satu rumah sakit di negeri sakura. Tidak lupa mengirimkan pesan terlebih dahulu kepada hyungdeul-nya bahwa hari ini dia akan sedikit terlambat untuk latihan.

Namja berkulit putih pucat itu menyapa kepada para ganhonsa yang ada disana. Ada beberapa ganhonsa yang sudah dikenalnya. Benar karena dulu namja berkulit putih pucat itu dirawat disini. Memperjuangkan nyawanya yan terus berada diambang kematian.

Sebuah pintu ruangan seorang uisa yang dikenalnya kini sudah ada dihadapannya. Rasanya sudah lama sekali. Mungkinkah sang uisa yang dulu merawatnya dan terjebak dalam konflik kehidupannya secara tidak langsung ini. Terkadang bertemu dengan uisa membuat namja berkulit putih pucat itu merasa takut.

Mengetuk pintunya terlebih dahulu, akhirnya namja berkulit putih pucat itu membuka pintu ruangan tersebut. Uisa yang ada di dalam sana langsung mempersilahkannya masuk. Rupanya uisa yang dirinya pikirkan masih tetap betah dan berada di rumah sakit ini. Uisa ber-nametag Kim Junwon itu memberikan senyuman hangatnya pada pasiennya yang sudah kembali pulang.

Hanya mengobrol beberapa saat sebagai salam sapaan, Junwon kemudian melakukan pemeriksaan kepada namja berkulit putih pucat tersebut. Secara serius dan mendetil memeriksa setiap keadaan dari tubuh sang pasien. Setelah beberapa lama Junwon akhirnya mengakhiri sesi pemeriksaannya. Si namja berkulit putih pucat yang berstatus sebagai pasien itu kembali duduk menghadap Junwon.

Namja itu sepertinya antusias untuk menceritakan sesuatu kepada uisa yang sudah lama tidak ditemuinya. "Junwon uisanim, anda tahu aku berhasil mengingat beberapa ingatanku yang hilang."

"Kemudian?" Tanya Junwon dengan singkat.

Namja itu berekspresi begitu riang. "Aku ingat saat pertama kali debut juga sedikit demi sedikit mulai mengenal hyungdeul-ku yang lain." Tak henti-hentinya senyum milik namja itu terpatri di wajahnya.

"Apakah yang kau rasakan setelah mengingatnya? Kepalamu sakit? Aku sudah bisa melihat dari kondisi tubuhmu Kyuhyun-ssi." Nada bicara Junwon terdengar menjadi serius.

Kyuhyun menghela nafasnya dan tersenyum kemudian. "Nde uisanim. Kepalaku rasanya mau pecah jika mengingatnya. Tubuhku lemas dan terasa begitu berat."

"Jika kau mengingat semua ingatanmu kembali kemungkinan 80% kemungkinan kesembuhanmu yang sudah pasti akan berakhir sia-sia. Bisa saja bakteri itu malah kembali berkembang karena imun tubuhmu yang semakin lama semakin melemah." Junwon menjelaskannya dengan begitu mendetail. "Kemudian ada satu hal yang perlu kau ketahui selain itu."

Kyuhyun hanya tersenyum dengan paksa. "Aku yakin bahwa itu adalah berita buruk bukan?"

"Tiga bulan… hanya tiga bulan bagimu jika kau terus memaksakan diri." Jujur saja Junwon sudah tidak ingin mengungkapkan kabar buruk bagi pasiennya lagi.

Rasanya Kyuhyun pernah merasakan ini sebelumnya. "Setidaknya itu tidak kurang dari tiga bulan bukan?"

Junwon menghembuskan nafasnya kasar. Tidak habis pikir dengan pasiennya yang satu ini. "Hanya itu yang bisa aku katakan Kyuhyun-ssi."

Kyuhyun bangkit dari duduknya. Sepertinya konsultasi hari ini selesai sudah kemudian seperti biasa, mungkin Tuhan belum mengizinkannya mendapatkan kabar yang gembira? Junwon sendiri hanya bisa memandang punggung namja berkulit putih pucat itu yang semakin lama semakin menjauh. Terkadang Junwon muak setiap kali harus memprediksi nyawa seseorang seperti ini. Dia pikir dia siapa? Tuhan kah? Pasti itulah yang sering terjadi jika orang-orang tidak menerima keteranganya. Namun berbeda dengan Kyuhyun, namja itu hanya berlalu dengan senyuman dan berusaha menjalani sisa hidupnya dengan sebaik mungkin.

Walau demikian tidak memungkiri namja berkulit putih pucat itu sedang menahan bulir air mata yang menggenang di sudut matanya. Bagaimana dia bisa untuk menghabiskan waktu yang begitu singkat ini dengan orang-orang yang disayanginya sementara dirinya ingin waktu yang melebihi kata singkat tersebut.

Beberapa lama kemudian Kyuhyun sudah kembali ke dorm. Hari ini sepertinya dia akan mendapat ceramah gratis karena melewatkan jadwal latihan. Di dalam sana Kyuhyun melihat semua hyungdeul-nya yang tengah berkumpul atau lebih tepatnya menyiapkan makan malam. Si koki kecil dibantu oleh Leeteuk yang memasak, sementara yang lainnya membereskan meja.

Melihat Kyuhyun yang sudah tiba Donghae langsung menghampiri magnae-nya tersebut. "Kyuhyunnie kau sudah tiba? Apa yang dikatakan oleh uisa?" Ekspresi Donghae begitu terlihat begitu penasaran.

-Amat buruk hyung. Kyuhyun memilih duduk dulu sebelum menjawab pertanyaan Donghae. "Cukup baik hyung lihat aku sudah sesehat ini."

Donghae menghela nafasnya lega. "Syukurlah awas saja bila si Junwon itu memberikan kabar yang buruk lagi."

Eunhyuk menjitak sayang kepala Donghae di sebelahnya. "Dia itu lebih tua darimu."

"Ah Kyuhyunnie hari ini kau tidak melakukan latihan apa kau merasa lelah?" Leeteuk langsung duduk disamping Kyuhyun.

Kyuhyun menganggukan kepalanya. "Sedikit hyung. Mianhamnida aku membuat kalian menunggu ya?"

"Ah anniyo-anniyo. Kami malah akan khawatir jika kau datang latihan dan malah menjadi sakit." Shindong yang menjawab ternyata.

"Lagipula kami hanya latihan tidak terlalu lama hari ini jadi tidak apa-apa jika terlewat sehari." Siwon menambahkan kalimat Shindong.

Kyuhyun mengangguk-anggukan kepalanya. Tapi ekor matanya melirik ke arah hyung berjari mungilnya yang sedang menonton sesuatu di benda kotak miliknya. "Yesung hyung kau sedang menonton apa?"

Yesung yang merasa terpanggil langsung bangkit dan menunjukannya pada Kyuhyun. "Menonton kita Kyu, Super Junior K.R.Y."

Kyuhyun melihat video tersebut. Benarkah salah satu diantara mereka itu adalah dirinya? "Apakah itu aku?"

"Aish Kyuhyunnie jelas-jelas itu kau mana mungkin kau tidak mengingat dirimu sendiri Kyu…." Yesung menghentikan kalimatnya seketika.

Heechul mendelik ke arah Yesung. "Otakmu tidak sekecil ddangkoma kan?"

Suasana menjadi canggung seketika. Yesung sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Kyuhyun mereka ada disana tapi bukan Kyuhyun mereka yang dulu. "Ah Ryeowook sepertinya sudah selesai memasak, ayo selesaikan makan malam." Sungmin langsung mencairkan suasana tersebut.

Kangin juga ikut membantu. "Benar-benar perutku juga sudah lapar."

"Kajja Kyuhyunnie yang lain sudah menuju meja makan." Leeteuk mengajak Kyuhyun dengan begitu lembut.

Kyuhyun mengangguk dan menuruti ajakan Leeteuk. "Ne hyung."

Suasana canggung tadi sudah kembali menjadi normal. Seluruh member Super Junior menikmati hidangan makan malam yang dibuat oleh Ryeowook. Ada tawa dan canda juga disana dan sesekali Kyuhyun juga ikut tersenyum walau masih terkesan canggung. Rasa segan tentu saja akan ada jika kita seolah-olah berada di sekitar orang yang lain tidak kita kenal.

Piring-piring di meja makan itu mulai mengosong. Gelas yang berisi air putih telah habis. Tentu saja sepertinya mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka. Sekarang adalah tinggal menentukan siapa yang akan membereskan meja dan mencuci piringnya. Seperti biasa mereka menentukannya dengan batu, gunting, kertas. Sayang sekali untuk kali ini Yesung harus kalah. Ekspresi memelas yang dikeluarkannya juga sudah tidak mempan untuk yang lainnya.

Karena merasa Yesung sudah menyerah, seluruh member Super Junior beranjak ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Meninggalkan Yesung yang sedang meratapi nasibnya. Dengan menghela nafas pelan dan langkah malas Yesung mulai membereskan meja dan akan memulai acara mencuci piringnya.

Yesung mengambil piring-piring kotor tersebut dan mulai meletakannya ke dapur. Beberapa piring sudah sampai disana, sekarang sisanya. Namun ketika namja pemilik julukan art of voice itu akan meneruskan aktivitasnya kembali sudut matanya melirik pada sang dongsaeng kecil yang masih belum memasuki kamarnya. Jujur Yesung merasa canggung karena kalimat tidak sengajanya tadi yang terlontar begitu saja untuk Kyuhyun.

Yesung buru-buru mencegah Kyuhyun untuk membantunya dengan halus. "Ah andwae Kyu, biar hyung saja. Kau seharusnya beristirahat tadi bilang sedang tidak enak badan bukan?"

"Aku sudah baikan." Tidak mengindahkan larangan dari Yesung. "Lagipula aku mau menunggu hyung." Sebuah senyuman mengakhiri kalimat Kyuhyun.

Yesung hanya bisa mengalah dan tidak bisa memaksa untuk mencegah Kyuhyun membantunya. "Kyuhyunnie.." Panggilnya begitu pelan. "Soal kalimat hyung tadi maafkan hyung. Tidak seharusnya hyung berbicara seperti itu." Yesung mengeluarkan senyuman canggungnya.

"Ah anniyo hyung. Seandainya saja aku bisa mengingatnya." Tiba-tiba saja Kyuhyun mendapatkan sebuah ide yang cemerlang. "Bagaimana kalau hyung menceritakannya saja, siapa tahu aku bisa mengingatnya?" Penawaran ide itu Kyuhyun berikan.

"Ah… anni Kyuhyunnie…. Kau tidak boleh memaksakan diri jika belum bisa." Yesung menolak dengan halus.

Kyuhyun menatap kedua mata Yesung dengan sungguh-sungguh. "Hyung, aku pastikan aku akan baik-baik saja setelah mendengar ceritamu. Aku juga bosan jika hanya canggung terus seperti ini, padahal kita semua sudah saling mengenal sangat amat lama bukan?"

"Baiklah." Menghembuskan nafasnya sesaat Yesung memulai ceritanya. "Cho Kyuhyun member baru Super Junior diperkenalkan pada kami secara tiba-tiba padahal baru trainee selama 3 bulan tapi sudah akan digabungkan ke dalam Super Junior 05. Ketika dia pertama kali tiba, kami menatapnya dengan pandangan berbeda hanya saja memiliki arti sama yaitu tidak menyukainya. Tapi kau Kyuhyunnie terus berusaha hingga kami semua bisa menerimamu. Berbagai macam cara kau lakukan agar kami menerimamu. Itu tentu saja membuahkan hasil. Kau magnae yang benar-benar mampu membuat semua orang terkejut." Jeda sesaat di dalam cerita tersebut. "Kau membuat kami marah, sayang, kesal, khawatir dan merasa bersalah. Apalagi ketika kecelakaan itu yang hampir merenggutmu dari kami namun akhirnya kau berhasil kembali pada kami. Aku bahkan berjanji tidak akan pernah marah jika kau menjahiliku sehabisnya…" Tidak bisa Yesung tidak mampu melanjutkan ceritanya lagi. Dadanya terasa sesak jika harus menghadapi kenyataan bahwa Kyuhyun sang dongsaeng yang dikenalnya sekarang sebenarnya tak mengenal dirinya lagi maupun yang lainnya. Jatuh sudah air mata Yesung disana.

Kyuhyun menatap salah satu hyung-nya yang tengah menangis itu. "Apakah rasanya sesakit itu dilupakan hyung?"

Yesung menggelengkan kepalanya perlahan. "Tentu aku akan menjawabnya dengan kata sakit Kyu. Tetapi mungkin inilah hukuman yang memang berlaku. Apa yang diperbuat manusia walaupun itu baik atau buruk mereka akan mendapat balasan setimpal atas perbuatannya." Yesung menyeka air matanya. "Dan itulah apa yang telah kami lakukan. Melupakanmu begitu saja walaupun kami sebenarnya tidak hilang ingatan. Kami adalah orang yang berusaha lupa termasuk aku."

-Jadi kilatan-kilatan ingatanku tentang kalian yang berusaha untuk meninggalkanku memang benar adanya. Aku juga akan menjawabnya dengan sakit hyung. Tapi kenapa aku juga merasakan sakit saat kalian harus menjatuhkan air mataku karena 'diriku' yang belum kembali. Kyuhyun berusaha setegar mungkin dihadapan hyung-nya. "Uljima hyungie, mulai saat ini aku tidak akan melupakan kalian lagi. Setelah mendengar kalimatmu tadi hyung, aku tahu bahwa aku sebenarnya merasakan sakit yang sama dengan perlakuan itu. Namun aku tidak ingin kita saling membalas, karena ini sama sekali bukan keinginanku untuk membalas kalian."

Yesung sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "Kyuhyunnie….."

"Aku akan mengingat kalian kembali." Kalimat dengan penuh keyakinan itu menandakan bahwa magnae-nya benar-benar serius.

Bukan hanya mereka berdua yang meneteskan air mata. Namun di balik pintu-pintu berbeda ruangan itu mereka juga menahan tangisnya. Karena tanpa disadari oleh Kyuhyun dan Yesung saudara-saudara mereka yang lain ternyata belum tertidur. Kalimat-kalimat sang magnae membuat mereka begitu terpukul atas apa yang telah mereka lakukan. Seharusnya mereka tahu bahwa magnae-nya tidak akan pernah membalas mereka sesakit apapun perbuatan mereka terhadapnya. Tidak akan lagi mereka mengabaikan orang-orang tulus seperti magnae mereka yang ada di kehidupannya masing-masing.

.

.

.

.

.

Putih….. itu adalah hal pertama yang dilihatnya setelah membuka kedua matanya yang tadi tertutup rapat. Dirinya melirik ke beberapa orang yang kini sedang melihatnya dengan tatapan khawatir. Dua orang namja dan dua orang yeoja. Rupanya mereka adalah dua pasangan. Pasangan yang satu sudah terlihat paruh baya sementara satu lainnya baru-baru saja menjalin ikatan pernikahan.

Tangan putih nan halus itu mengusap pipi namja yang baru saja membuka kedua matanya itu dengan lembut. Namja itu memejamkan kedua matanya ketika merasakan usapan lembut dari yeoja yang berstatus sebagai ibunya itu. Dia cukup senang karena kali ini sang eomma tidak lagi meneteskan air matanya dan meminta maaf namun sebuah senyuman selalu terhias di wajahnya.

Ekor matanya juga melirik pada sang appa yang sedang sibuk dengan ponselnya itu. Perlahan lengkungan senyum itu terpatri di wajah namja tersebut. Ayahnya memang layak untuk menjadi panutan baginya. Dia benar-benar namja yang kuat, seandainya saja dirinya bisa menjadi sang ayah. Namun dengan menjadi anaknya saja sudah lebih dari cukup untuknya.

Berbeda dengan yang lainnya yeoja yang sangat disayanginya dan hanya berbeda sedikit umur dengannya menatap dirinya dengan pandangan marah dan kecewa. Terlihat jelas ada jejak air mata di kedua sudut matanya. Dengan langkah marah yeoja tersebut pergi meninggalkan kamar sang dongsaeng dan membantingnya secara kasar. Sementara namja lainnya yang melihat sang istri pergi begitu saja langsung menyusulnya.

Tak ada yang bisa menerka-nerka takdir dengan 100 persen keyakinan. Bisa menjadi baik atau buruk bahkan bisa saja buruk tetapi mengisahkan yang baik. Tapi jika buruk mengisahkan hal yang buruk bukankah itu sama saja dengan melakukan hal yang sia-sia? Cho Ahra menghapus air matanya yang terus saja mengalir tanpa mau berhenti. Padahal ini bisa menjadi awal kisah yang baru untuk hidup dongsaeng-nya tapi kenapa selalu saja dongsaeng-nya memilih yang bukan keinginannya.

Ahra terus berjalan cepat meninggalkan rumah sakit namun lengan kekar seseorang menahannya. "Ahra-ya." Panggil seseorang tersebut dengan tegas.

"Yeobo.." Merasa nada panggilan sang suami begitu tegas Ahra akhirnya berhenti.

Namja yang berstatus sebagai suaminya itu menatap Ahra dengan lurus. "Tidak seharusnya kau seperti itu pada dongsaeng-mu."

"Tapi kenapa dia harus memilih itu yeobo? Tidak puaskah dia dengan melihat kita yang selalu menangisinya setiap hari?" Air mata Ahra kini mengalir kembali.

Sang suami tersenyum. "Cho Ahra dengarkan ini dengan baik…. Saat ini dongsaeng-mu bukanlah seorang anak kecil yang harus menuruti pilihan orang lain, dia bisa menentukan pilihannya sendiri."

Ahra mengepalkan kedua tangannya erat. "Pilihan yang buruk apa itu tidak boleh kucegah?"

"Lantas apakah jika kau melarang dongsaeng-mu mengambil pilihannya tersebut kehidupannya akan menjadi lebih baik?" Pertanyaan retoris sang suami membuat Cho Ahra terdiam.

"…"

Melihat sang istri yang terdiam dan tidak bisa menjawab, namja yang berstatus sebagai menantu keluarga Cho itu memegang pipi sang istri dan menatapnya dengan lurus. "Karena pada dasarnya setiap pilihan yang diambil di dunia ini memiliki dampak baik dan buruknya masing-masing. Baik itu dilakukan ataupun tidak."

"A….aku…. menemui Kyuhyunnie." Melepaskan pegangan sang suami di pipinya dan meninggalkannya disana.

Sang suami tersenyum, dia tahu bahwa istrinya akan meminta maaf jika merasa salah.

Perbincangan mereka semua terhenti ketika melihat Ahra yang sudah kembali di kamar Kyuhyun. Younghwan memberikan intruksi kepada Hanna untuk mengikutinya dan membiarkan kedua kakak beradik itu berbicara secara empat mata. Mereka juga harus menemani menantu mereka yang sudah jauh-jauh datang menyempatkan diri untuk menjenguk.

Namja yang duduk di ranjang rumah sakit itu hanya terus menundukan kepalanya. Tidak berani menatap sang noona yang memang amat kecewa sekali kepadanya. Bukan canggung hanya saja Kyuhyun belum berani menatap noona-nya yang cantik tapi tegas tersebut.

"Mianhae." Rupanya sang sulung yang mengeluarkan kata pertama.

Kyuhyun terperangah dengan ucapan Ahra yang secara tiba-tiba. "Noona tidak perlu meminta maaf, lagipula ini adalah salahku."

"Anni. Jelas noona yang harus meminta maaf. Karena noona sudah berusaha melarangmu mengambil pilihan yang mungkin jadi bahagiamu." Ahra mengembangkan senyuman terpaksanya.

Kyuhyun menatap sang noona dengan tidak percaya. "Jadi noona menyetujui? Kalau begitu aku juga akan mengingat noona sepenuhnya kembali."

Ahra mengelus rambut sang dongsaeng dengan sayang. "Tapi selama waktu yang tersisa ini biarkan noona menjadi yang terbaik untukmu. Agar noona merasa berguna untukmu."

"Nde tentu saja." Kyuhyun menganggukan keplanya dengan pasti.

Kedua kakak beradik itu pada akhirnya mau saling bercerita dan membagi kisah mereka masing-masing. Sang noona juga sudah tidak bisa memaksakan kehendaknya lagi. Kalaupun sang dongsaeng menuruti kehendaknya seperti kata sang suami tampannya tadi tidak akan menjamin bahwa itu akan menjadi bahagia untuk dongsaeng-nya.

Perbincangan kedua kakak beradik itu terhenti ketika mendengar langkah orang yang begitu banyak yang sepertinya akan memasuki ruangan rawat milik Kyuhyun. Cho Ahra menghela nafasnya, sudah tahu siapa saja yang akan masuk dengan langkah terburu begini. Tentu saja siapa lagi jika bukan semua hyungdeul Super Junior Kyuhyun yang amat terlalu menyayangi dongsaeng bungsunya.

Terkadang Ahra cemburu dengan kedekatan mereka semua. Seperti saat ini Kyuhyun tengah dimonopoli oleh semua hyungdeul-nya di Super Junior. Tapi mau bagaimana lagi bukankah ini adalah hal yang paling diinginkan oleh sang dongsaeng. Meninggalkan sang dongsaeng bersama hyungdeul-nya yang lain, karena Ahra harus segera kembali bersama suaminya.

Leeteuk mengusak rambut Kyuhyun dengan lembut. "Bagaimana keadaanmu Kyuhyunnie?"

"Sudah lebih baik hyung. Mian aku membuat kalian khawatir." Kyuhyun menjawabnya dengan senyuman.

Eunhyuk menggaruk tengkuknya canggung. "Apakah porsi latihan yang hyung berikan terlalu memberatkanmu?"

Heechul menatap Eunhyuk dengan tajam. "Itu tentu saja. Harusnya kau ingat dengan kondisi magnae kita."

"Ah anniyo. Lagipula aku yang memintanya sendiri. Itu karena aku belum bisa menghafal semua gerakannya." Kyuhyun langsung menghibur Eunhyuk yang sudah terlihat sedih.

Ryeowook menepukan kedua tangannya. "Sudahlah yang lebih penting sekarang Kyuhyunnie harus sembuh dulu."

"Aku punya ramuan agar kau cepat sembuh Kyu." Yesung mengucapkannya dengan nada penuh binar.

Siwon memelototkan matanya. "Andwae aku yakin itu ramuan aneh jika Yesung hyung yang mempunyainya."

Kangin juga ikut menambahkan. "Yesung hyung apakah kau benar-benar tidak terbentur sesuatu?"

"Aish daripada kalian memberikan Kyuhyunnie ramuan-ramuan aneh itu, setelah sembuh kau harus memakan masakanku yang kaya akan vitamin dari sayur." Ryeowook memasang wajah yang sok pasti.

Kyuhyun agak merasa takut mendengar kata sayur. "E…entah mengapa hyung aku sepertinya tidak terlalu akrab dengan sayur."

Sungmin terkekekh mendengarnya. "Rupanya kebiasaanmu tidak suka makan sayur masih terbawa hingga sekarang."

"Benar, dari dulu Kyuhyunnie tidak menyukai sayur. Maupun memakannya karena dipaksa." Shindong ikut menimpali.

"Teukie hyung bahkan selalu memarahimu." Donghae mengangguk-anggukan kepalanya.

Leeteuk tidak berhenti mengelus rambut Kyuhyun dan menerawangkan pandangannya. "Sangat sering, dan aku ingat ancamanku adalah menyita semua console game-mu." Kyuhyun bisa melihat mata leader-nya itu yang berkaca-kaca.

Cahaya siang kini mulai berganti dengan kegelapan malam. Hyungdeul-nya juga sudah beranjak untuk kembali ke dorm mereka. Menyisakan pemuda itu sendirian di ruangan yang sudah seringkali dirinya tinggali. Pikirannya mengingat sang leader yang tadi berbicara dengan mata berkaca-kaca.

Kyuhyun memejamkan matanya untuk tidur. Namun baru memajamkan matanya beberapa saat banyak memori yang melintasi pikirannya begitu saja. Kepalanya berdenyut sakit ketika memori-memori itu semakin terlihat jelas. Dirinya merasakan kebingungan yang luar biasa. Di sisi lain Kyuhyun ingin tahu apa arti dan mengingat semua memori yang terlintas itu namun di sisi lain dirinya ingin menghentikan tiap kilatan memorinya. Tentu saja semakin banyak ingatan yang terlintas semakin membuatnya kesakitan. Terbuka… akhirnya semuanya terbuka, air mata miliknya menetes begitu banyak. Dan yang terakhir dirinya dengar sebelum kehilangan kesadarannya adalah teriakan panik Junwon uisanim.

.

.

.

.

.

Seorang namja yang berstatus sebagai manajer salah satu boy group terkenal Korea kini sedang terlihat berjalan menyusuri setiap lorong rumah sakit. Sudah begitu lama rasanya akhirnya namja ini bisa bertemu kembali dengan salah satu anak asuhnya. Seorang yang sudah dirinya anggap sebagai dongsaeng-nya sendiri.

Senyuman mengembang di wajahnya ketika sudah tiba di depan pintu kamar milik anak asuhnya. Hari ini dia akan menjemputnya, tentu saja karena sang anak asuh sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Hyungdeul-nya tidak bisa menjemput karena sedang ada jadwal masing-masing. Walau sebenarnya mereka memaksa untuk ikut.

Sang anak asuh yang sedari tadi dipikirkan dalam pikirannya itu ternyata sudah siap dengan pakaiannya. Tempat tidurnya juga sudah kosong. Tidak dia tidak akan menyesalinya, bukankah ini sudah menjadi pilihannya sendiri? Pandangannya langsung beralih pada pintu kamar rawatnya yang sudah dibuka oleh namja yang berstatus sebagai manajernya juga.

Sapaannya begitu riang dan lantang. "Manajer hyung!"

Binar matanya terperangah, seseorang yang lama tanpa hawa hidup itu berbincang dengannya seperti dahulu. Menyapanya dengan penuh kegembiraan. Bukankah ini bisa dibilang sebagai pertama kalinya lagi mereka berdua. Tapi mengapa sang anak asuh menyapanya seperti dahulu, memberikan senyuman kekanakannya yang sudah lama dirinya tidak lihat. Ataukah ini hanya perasaannya saja?

Melihat sang manajer masih terus diam mematung, Kyuhyun menghampirinya. "Lama tidak berjumpa Manajer hyung."

"Kyu….Kyuhyunnie…" Manajer hyung sungguh tidak bisa berkata apa-apa.

Kyuhyun tersenyum. "Aku kembali sekarang Manajer hyung."

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Kyuhyun memasuki dorm-nya dengan langkah penuh ceria. Menatap sekeliling ruangan tersebut yang sudah lama tidak dia kunjungi. Dulu pandangannya menangkap ruangan ini menjadi luas dan sepi karena sudah banyak orang yang meninggalkannya. Sekarang sempit dan ramai menandakan bahwa semua orang yang dulu pergi kini benar-benar kembali.

Kyuhyun sendirian disana sekarang namun bukan kesendirian seperti dahulu. Dia sendiri karena tengah menunggu semua hyungdeul-nya yang belum menyelesaikan jadwal mereka. Waktu yang tersisa ini akan dirinya gunakan sebaik mungkin, membiarkan semua kejadian menjadi kenangan untuk mereka semua.

'Kriet' Suara pintu dorm terbuka akhirnya membuat Kyuhyun mengalihkan pandangannya. Rupa-rupanya semua hyungdeul-nya sudah pulang dari jadwal mereka. Seluruh hyung Kyuhyun di Super Junior langsung menghampiri magnae mereka yang sudah tiba di dorm dan tengah duduk manis di sofa. Namun mereka saling melirik satu sama lain ketika melihat dongsaeng bungsu mereka hanya memandang senyuman atau lebih tepatnya evil smirk. Sejak kapan itu kembali?

"Kalian lama sekali hyungdeul, seharusnya kalian menyambut kepulanganku dengan antusias." Kyuhyun langsung saja mengeluh.

Eunhyuk menundukan kepalanya. "Mi…mian tadi latihan kami kelamaan."

"Hyuk-hyuk jangan memasang ekspresi itu wajahmu semakin jelek kelihatannya." Kyuhyun mengejek salah satu hyung-nya itu.

Tunggu dulu sejak kapan Kyuhyun memanggil Eunhyuk dengan Hyuk-hyuk kembali? Yesung membelalakan matanya tidak percaya. "Kyuhyunnie apakah kau…"

Kyuhyun tersenyum dengan begitu tulus. "Aku mengingatnya. Siapa Cho Kyuhyun, Super Junior, kecelakaan 2007, Super Junior K.R.Y, kita yang berlatih keras setiap hari untuk kesuksesan album kita, Manajer hyung, ELF, penyakitku, operasi. Aku kembali hyungdeul… aku kembali, mianhae karena aku membutuhkan waktu yang banyak untuk mengingat semua ini lagi."

Leeteuk membuka mulutnya tidak percaya. Dengan cepat dihamburnya sang magnae ke dalam pelukannya. "Mianhae Kyuhyunnie…. Jeongmal mianhaeyo, kami tidak bisa menjagamu dan hanya menyakitimu terus. Mianhae…. Hiks….." Menangis tersedu di balik pundak sang dongsaeng.

"Selamat datang kembali evil magnae." Terlihat jelas Heechul hanya sedang menahan perasaan terharunya.

Donghae dan Ryeowook sudah menangis dengan banyak. Memanjatkan rasa syukur atas mukjizat yang tiada hentinya Tuhan berikan.

"Padahal aku sendiri sedang tidak mau menangis loh." Tentu saja ketika mengucapkannya air mata Kyuhyun jatuh perlahan.

Sungmin menatap dengan senyum pada sang magnae. "Kau memang tidak pernah menyerah Kyuhyunnie."

"Dongdong kenapa kau diam saja, ini adalah kenyataan Cho Kyuhyun sudah kembali." Kyuhyun menatap hyung bertubuh tambunnya itu yang masih terdiam saja.

"Kyuhyunnie….. dia hyung-mu dan lebih tua darimu." Leeteuk menegur Kyuhyun dengan lembut.

Kangin menghembuskan nafasnya kasar. "Kemana magnae yang sopan santunnya baik yang itu yah."

Kyuhyun memutar bola matanya malas. "Ah aku tidak menyangka akan menjadi pribadi yang baik seperti itu kepada hyungdeul, bagaimana dengan gelarku sebagai evil magnae jadinya."

"Mau bagaimana lagi bukan, inilah Kyuhyun yang sebenarnya. Kita semua lebih menyukai Kyuhyunnie yang seperti ini bukan?" Siwon berkata dengan bijak.

Heechul mengacak rambut Kyuhyun dengan gemas. "Tetaplah menjadi seperti ini magnae."

Setiap pilihan yang kita ambil pada akhirnya pasti berakhir dengan sebuah penyeslan. Tentu saja di awal pilihan itu kita tidak akan tau penyesalan apa yang akan kita rasakan hingga pada akhirnya kita menjalani pilihan tersebut dan seolah termakan kalimat 'oh ini akan baik-baik saja' hingga ketika penyesalan datang di akhir tangisan pun tidak akan terelakkan. Namun jika begitu, apakah kita bisa untuk tidak menyesali akhir dari pilihan tersebut? Bagaimana jika dengan menjadikannya sebagai penyesalan yang diinginkan?

Mungkin itulah yang akan menjadi jawaban dari seseorang yang sudah kembali mengingat semuanya. Meneguk butir-butir obat yang ada di telapak tangannya dengan sekali teguk.

"Aku mengiginkannya hingga penyesalan itu menjadi bahagia…"

.

.

.

.

.

Namja dengan tinggi di atas rata-rata itu duduk di sebuah café. Sebuah café yang dulu menjadi tempat terakhirnya berbincang dengan sahabat yang amat dibencinya itu atau dia harus mengakui bahwa dia terlalu menyayanginya. Terakhir kali sebelum sahabatnya tersebut benar-benar melangkah jauh meninggalkannya.

Shim Changmin menyajikan senyuman getir di wajahnya. Mereka memang masih sepasang sahabat sampai saat ini tapi semuanya tentu akan menjadi berbeda. Terlalu banyak bicara padanya yang sudah tidak mengingatmu pasti akan membuatmu merasa berbeda bukan? Padahal dahulu mereka selalu apa adanya tanpa menjaga image di depan mata masing-masing.

Mereka yang dulu sering bersama kini perlahan menjauh. Mereka yang dulu sering saling memarahi kini hanya berdiam diri. Segala sesuatu memang pasti akan berubah. Tapi Changmin sama sekali tidak menginginkan perubahan yang seperti ini. Dia tidak ingin dianggap sebagai orang lain oleh sahabat yang begitu disayanginya.

Melihat Changmin yang melamun saja, si sahabat berbicara dengannya menggunakan nada yang begitu malas. "Shim Changmin apakah aku mengajakmu kesini hanya akan membiarkanmu terdiam terus."

"Mi….mian…. aku hanya sedang memikirkan suatu hal Kyuhyun-ssi." Tertangkap, si sahabat bisa melihat ekspresi sedih teman baiknya itu.

Kyuhyun memaklumi apa yang dirasakan oleh Changmin. Dia yang tiba-tiba berubah seolah menjadi orang lain apalagi jika mengingat pertemuan mereka kembali di rumah sakit. "Sejak kapan kau berbicara sesopan itu padaku yang hanya lebih tua beberapa hari saja darimu? Kita ini kan sahabat, sahabat yang selalu bersaing."

Changmin menegakan kepalanya dan menatap Kyuhyun. "Sahabat?"

"Tentu saja pabbo, sampai kapanpun kau sahabatku." Kyuhyun memutar kedua bola matanya malas. Changmin sepertinya masih loading. Kyuhyun tau bahwa sahabat tiangnya itu belum mengetahui tentang ingatannya yang sudah kembali. "Shim Chwang, apakah kau senang jika caramel macchiato-mu sudah mengingat semuanya?"

Kalimat Kyuhyun membuat Changmin terperangah seketika. "Kau sudah mengingat semuanya kembali?"

Mendengarkan pertanyaan itu Kyuhyun menganggukan kepalanya dengan pasti. Changmin tidak bisa membendung air matanya yang mengalir secara perlahan. Kyuhyun tersenyum, memang seperti itulah sahabatnya. Tangan Kyuhyun tiba-tiba saja terulur. "Kalau begitu mana?"

"Mana apanya?" Changmin menyeka air matanya dan mengernyit bingung.

Senyum Kyuhyun terkembang. "Mana? Kaset game yang kau berikan padaku itu masih belum cukup Chwang."

"Aku rasa itu lebih dari cukup Cho-ssi, berapa banyak lagi yang kau inginkan." Kenapa dari semua harus kaset game yang paling mau diingatnya.

Kyuhyun memasang pose berpikirnya. "Belum cukup. Itu hanya beberapa saja dari semua keluaran yang baru. Kau bilang kau berjanji membelikan semua kaset game yang aku inginkan?"

Changmin terkekeh pelan mendengar penuturan sahabatnya. Mengulurkan tangannya balik pada Kyuhyun. "Akan kubelikan nanti. Tapi mana juga?"

"Mana apa?" Kyuhyun bingung mendengar Changmin yang juga meminta kepadanya.

Changmin tersenyum dan menatap Kyuhyun lurus. "Janjimu? Kau juga akan berbagi kesedihanmu dan bebanku padaku bukan?" Nadanya berubah menjadi bergetar. "Kau akan menghentikan kebiasaanmu yang hanya akan membagi bahagiamu padaku bukan?"

"Sejujurnya, waktuku sudah tidak akan lama lagi Changmin -ah." Kyuhyun menerawangkan pandangannya.

Changmin mencoba mengeluarkan senyumnya. "Kau akan bercerita mengapa itu bisa terjadi sekarang bukan?"

Pada akhirnya sang sahabat menceritakan semuanya juga. Dia tentu tidak akan melanggar janji yang telah dibuatnya. Menceritakan bagaimana ketakutannya mengenai pilihannya yang diambil. Menceritakan mengenai keraguannya tentang pilihan yang diambilnya. Dengan matanya yang tiada henti menampakkan air bening yang seakan ingin terjatuh begitu saja.

Seperti inilah Shim Changmin yang akan kau rasakan jika sahabatmu membagi penderitaannya padamu juga. Merasakan kesakitan yang sama terlebih merasa tidak bisa berguna karena tidak ada hal yang bisa kau lakukan untuk mengurangi penderitaannya. Namun selalu saja sahabatmu itu mengatakan bahwa dengan kau mendengarkan keluh kesuhnya saja itu sudah dirasa cukup untuknya. Walau dalam hati seorang Shim Changmin sebenarnya sangat ingin mencegah apa yang dilakukan oleh sang sahabat.

.

.

.

.

.

Super Junior ComebackSpecial Stage

M-Countdown

Warna khas shappire blue it uterus bersinar menerangi semua ruangan di dalam gedung pertunjukkan yang begitu besar. Nyaris tidak ada satupun warna lain selain shappire blue yang penuh sesak memenuhi ruangan. Meski bukan sebuah konser tetapi adalah comeback mereka jumlah penonton yang adalah fans mereka begitu antusias untuk hadir. Karena ruangan tersebut sepenuhnya disesaki oleh para everlasting friends.

Tentu saja mereka amat sangat antusias dalam menyambut comeback idola mereka kali ini. Terlebih sudah sejak lama mereka comeback setelah vakum beberapa tahun. Di dalam hiatusnya sang idola terjadi beberapa masalah yang menimpa mereka hingga kabar mengenai sakitnya sang magnae yang semakin memperburuk keadaan. Maka dengan demikian comeback ini akan dirasa menjadi comeback yang paling spesial.

Mereka idola yang mereka kagumi sedang bersiap-siap di belakang panggung. Terlihat sang leader sedang menghitung semua membernya satu per satu. Mulai dari 1 sampai dengan 11, karena yang ke-12 dan 13 sedang beristirahat dulu. Sebuah kebiasaan yang sejak dulu sering mereka lakukan. Beberapa menit lagi mereka akan menaiki panggung di depan sana. Panggung itu terasa amat megah.

Eunhyuk menatap panggung itu dengan kekaguman. "Berdiri lagi di panggung setelah sekian lama rasanya seperti debut pertama kali."

"Seperti bertanya-tanya apakah penampilan kita akan disambut meriah ataukah tidak?" Donghae mengenang masa lalu mereka pada saat itu.

Shindong mengiyakan kalimat Eunhyuk dan Donghae. "Walau sebenarnya kita sudah melewati panggung yang lebih dari ini, tapi setelah sekian lama 'terdiam' rasanya memang berbeda."

"Aku bahkan melatih vokalku dengan lembur." Ryeowook mengucapkannya dengan bangga.

Yesung juga tidak ingin kalah dari si eternal magnae. "Aku bahkan tidak memakan makanan berbinyak demi menampilkan yang terbaik sekarang."

"Jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih cepat." Kangin memegang dadanya yang gugup.

Sungmin ikut berbicara. "Semua itu hal yang wajar karena seperti yang Shindong katakan ini pertama kalinya lagi kita muncul dipanggung setelah sekian lama."

Kyuhyun memandang lurus ke arah panggung. "Aku tidak tahu apakah bisa menampilkan yang terbaik seperti yang lainnya, terlebih mungkin malah akulah yang banyak tertinggal."

Heechul mengacak rambut Kyuhyun dengan gemas. "Jangan berbicara seperti itu magnae. Aku yakin sambutan untukmu kali ini akan dua kali lipat daripada kau pertama kali tampil dipanggung bersama kami."

Leeteuk memandangi semua membernya satu per satu. "Kita yakin kita sudah berlatih dengan baik untuk hari ini maka sekarang kita hanya perlu tampil di atas panggung seperti biasanya." Menghirup nafasnya beberapa saat. "Super Junior FIGHTHING!"

"Mari kita tunjukkan pertunjukkan yang spektakuler!" Diakhiri dengan kalimat penuh semangat yang terucap dari Siwon.

Lightning dan cahaya lampu-lampu yang begitu besar itu meredup dan ruangan menjadi gelap. Layar besar yang satu-satunya masih menyala disana menunjukkan penghitungan waktu mundur. 5,4,3,2,1 lightning dan semua cahaya lampu disana langsung menyala seketika. Di atas panggung itu sudah berdiri ke-11 orang namja dengan begitu elegan.

Semuanya langsung riuh ketika melihat mereka semua sudah berdiri di atas panggung. Musik dengan beat lumayan cepat itu mengalun. Diikuti dengan suara-suara mereka yang bernyanyi dalam alunan musik tersebut. Gerakan-gerakan dengan apik mereka tunjukkan membuat semua yang ada disana menjadi semakin riuh.

Tiba di bagian killing part, sang magnae mendapat giliran spesial untuk tampil sebagai center diantara member Super Junior. Tanpa diduga rupanya bukan mereka saja yang memiliki kejutan untuk para elf, namun elf sendiri memiliki kejutan yang luar biasa tepatnya untuk sang magnae. Banner berwarna shappire blue itu menyala dengan terang. Bukan banner biasa namun sebuah banner yang menunjukkan video berdurasi pendek yang menampilkan Kyuhyun disana. Dan hingga akhir lagu mereka seluruh ELF mengangkat tulisan dengan huruf terpisah yang berisikan kalimat 'Selamat datang kembali Cho Kyuhyun.'

Air mata magnae Super Junior itu mengalir begitu cepat. Jadi begini rasanya tampil lagi bersama hyungdeul-nya. Bernyanyi diatas panggung untuk memberikan penampilan kepada para peri mereka. Bagaimana bisa dirinya dulu dengan begitu saja melupakan mereka semua dan meninggalkan mereka semua tanpa jejak. Dia benar-benar menjadi orang yang jahat. Mengapa dulu dengan mudah dia melakukannya. Semua elf yang memenuhi ruangan tersebut langsung berteriak uljima untuknya walau mereka sendiri juga ikut menangis. Seluruh member Super Junior yang lainnya juga ada yang menangis dan tengah menahan air matanya, mereka mengapit Kyuhyun untuk berada diantara mereka. Bersyukur karena dongsaeng yang mereka sayangi masih berdiri diantara mereka semua.

Super Junior mengakhiri pertunjukkan mereka dengan membungkuk dalam ke arah semua elf yang tidak berhenti untuk menyemangati mereka. Setelahnya mereka melambaikan tangannya sebagai salam terakhir dan mulai beranjak menuruni panggung. Magnae mereka menangkapnya, seorang namja dengan topi hitam. Namja yang membuatnya yakin untuk kembali lagi pada Super Junior. Mereka langsung memberi tatapan dengan ramah.

"Kau juga kan hyung, akan disini lagi bersama kami bukan?" Terlihat jelas namja yang ditatapnya itu menganggukan kepalanya.

Di salah satu negara di benua Asia seorang namja keturunan asli China itu menatap layar komputernya dengan haru. Sungguh dia amat berterima kasih pada Tuhan karena telah memberikan dongsaeng-nya keajaiban kembali. Melihatnya bernyanyi di atas panggung kembali membuat perasaannya ikut bahagia. Selalu berharap bahwa dongsaeng bungsunya itu akan seterusnya baik-baik saja.

.

.

.

.

.

-SKIP-

Comeback Super Junior pada waktu itu membuahkan hasil yang sangat melebihi ekspektasi. Album mereka terus terjual hingga mencapai ratusan ribu copy. Hampir setiap hari Super Junior mendapatkan jadwal baik on-air maupun off air. Kedudukan mereka di setiap chart tangga lagu juga terus berada di puncak. Meninggalkan saingan mereka dengan poin yang amat jauh perbedaannya.

Seluruh radio yang ada disana juga terus menyetelkan lagu baru milik Super Junior. Bahkan pencapaian mereka mampu mempengaruhi kenaikan harga saham milik SM Entertainment meninggalkan entertainment lainnya dengan harga saham mereka yang semakin baik setiap harinya.

Seorang namja dengan pakaian berdasi itu membaca dan mempelajari laporan-laporan yang ada di atas mejanya. Selama ini terus berlanjut dirinya yakin prospek perusahaan entertainment yang sedang dijalankannya ini akan semakin ke depan.

"Jadi keajaiban itu benar-benar ada?" Dirinya langsung mengeluarkan pertanyaannya ketika melihat seorang namja lain yang sudah berdiri dihadapannya.

Namja yang berdiri di hadapannya itu mengangkat kedua bahunya. "Pada dasarnya dia sendiri yang membuat keajaiban itu menjadi terwujud."

"Oh jadi begitu." Sang Petinggi hanya menyahutnya dengan singkat.

Namja yang berdiri dihadapannya itu memberikannya pertanyaan balik. "Jadi apakah kau sudah menemukan jawabanmu kali ini."

"Hanya sedikit lagi." Sahutnya dengan singkat kembali.

Namja itu tersenyum mendengar jawaban dari sang Petinggi baru. Setelah urusannya selesai namja itu undur diri.

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Sudah berlalu semenjak mereka sibuk dengan album baru mereka yang terus digandrungi semua orang. Seorang namja berkulit putih pucat memandangi kalender yang sudah dia tandai terus menerus semenjak hari itu. Waktunya sudah mendekati batas. Tubuhnya juga sudah berteriak untuk mengambrukan diri.

Leeteuk memandang magnae-nya dengan bingung. Ada apa sang magnae melihat kalender yang sudah ditandainya tersebut. Kyuhyun yang sadar dengan kehadiran hyung tertuanya itu menatapnya dengan senyuman. Ini saatnya untuk mengungkapkan semuanya kepada mereka. Dia tidak ingin memberikan pengharapan palsu seperti yang orang itu katakan dulu.

Leeteuk hanya menurut saja ketika Kyuhyun menyuruhnya untuk memanggilkan semua member Super Junior yang lain dan berkumpul di ruang tengah dorm yang seperti biasa dijadikan tempat mereka untuk meeting secara pribadi. Mereka semua sudah berkumpul disana tapi ada sesuatu perasaan aneh yang melingkupi mereka.

"Hari ini akan menjadi saat-saat terakhirku bersama kalian." Kyuhyun mengucapkannya dengan begitu tenang.

Sungmin mengernyit bingung. "Moseon suriya? Apa maksudmu dengan kalimat itu?"

"Aku masih sakit hyung." Kyuhyun memberi jeda beberapa saat. "Junwon uisanim sudah memberikan vonisnya padaku. Koma yang kualami lebih buruk daripada sebelumnya. Tubuhku tidak akan pernah bisa kembali seperti manusia sehat pada umumnya. Dan kondisiku akan semakin buruk jika ingatanku kembali, aku juga sudah banyak melakukan aktivitas yang seharusnya ada batasan-batasan. Satu-satunya cara adalah dengan aku berdiam diri seperti waktu aku mengasingkan diri di Jepang dan tidak menginginkan ingatanku kembali. Tapi sebenarnya itu juga tidak akan menjamin. Jadi jangan katakan padaku kalimat 'Seandainya saja kami tidak memintamu untuk mengingat.' Karena inilah jalan yang kupilih. Menikmati waktu 3 bulan ku bersama kalian kembali menjadi yang kuinginkan. Walau setiap pilihan pada akhirnya memberikan penyesalan setidaknya ini adalah yang kuinginkan." Walau berusaha untuk tegar matanya tetap berkaca-kaca.

Leeteuk memandang magnae-nya dengan tidak percaya. "Tiga bulan….. dan ini sudah akan menghampiri waktu akhir…. Tidak usah berbohong Cho Kyuhyun! Kalau kau ingin pergi maka pergilah."

Kyuhyun menunjukkan lembaran pemeriksaannya. Juga macam-macam obat yang begitu banyak. "Aku tidak ingin kalian tidak siap menerima kepergianku."

"Kenapa kau tega kembali?! Tega kembali untuk membohongi kami! Bahkan kau memberitahukannya di hari ini, hari dimana…." Heechul benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.

Siwon mendekati dongsaeng bungsunya itu. "Apakah kau bahagia dengan keputusanmu ini?"

"Tentu saja. Karena aku bisa merasakan kembali kebersamaanku dengan kalian yang begitu aku rindukan." Senyum tulus diberikan Kyuhyun. "Maafkan aku karena lagi-lagi aku membohongi kalian seperti ini. Karena aku tahu jika kalian mengetahuinya lebih dulu kalian tidak akan membiarkanku untuk berdiri dan berjuang lagi bersama kalian. Bukan karena kalian tidak menginginkanku sebagai beban tapi karena kalian teramat mencintaiku sebagai dongsaeng begitupun aku mencintai hyungdeul. Setidaknya waktu yang hampir habis untukku ini terasa berharga setelah kulalui bersama kalian semua yang bisa ku ingat kembali."

Ryeowook sudah menangis tersedu-sedu. "Kau bisa izinkan kami untuk terus bersamamu hingga benar-benar akhir Kyuhyunnie?"

"Aku akan sangat senang jika besok kalian menemaniku di rumah sakit sepanjang waktu." Kyuhyun seolah tahu bahwa besok dia akan mendekam di tempat itu lagi.

Donghae sudah mati-matian untuk tidak terisak. "Sampai tiba saatnya kita akan tetap berada disampingmu."

Shindong, Eunhyuk, Yesung, dan Kangin hanya bisa terdiam seolah belum percaya dengan semua ini.

.

.

.

.

.

Selang oksigen itu dengan rapih terpasang di wajahnya. Namja berkulit putih pucat itu tidak henti menampakan senyum tulusnya. Ternyata uisa yang menanganinya tepat dalam memprediksi. Tubuhnya saat ini sudah amat begitu lemas. Bisa saja dia kesulitan untuk bernafas karena dadanya yang terus-terusan merasa sesak jika tidak dibantu oleh selang oksigen itu.

Di sekelilingnya ada keluarga yang sudah setia untuk menemaninya. Noona-nya selalu ceria dan menampakkan senyum. Ayahnya juga selalu bersikap seperti biasa seolah-olah mereka memang sedang berkumpul seperti biasanya di rumah hanya saja kini mereka berkumpul di tempat yang juga rumah namun disambung dengan sakit.

Sang uisa yang menangani namja berkulit putih pucat itu memasuki kamar rawatnya. Junwon memeriksa semua keadaan Kyuhyun. Pasiennya itu masih bisa tersenyum dengan khas seperti itu, padahal detak jantungnya sudah amat lemah. Pemeriksaan yang tadi dilakukannya beberapa saat pun hanya menampil grafik yang begitu buruk. Setelah selesai Junwon mengajak Younghwan untuk keluar ruangan dan berbicara empat mata.

"Mianhamnida aku harus mengatakannya, Kyuhyun-ssi sudah tidak ada harapan lagi. Kesadarannya yang masih terjaga saat ini juga sebetulnya akan lebih cepat membuatnya… anda tahu jadi aku memberitahukan ini agar kalian tidak terkejut." Junwon menjelaskannya dengan tenang.

Cho Younghwan memejamkan kedua matanya. "Bahkan ketika dia mengambil pilihannya itu kami sudah tahu saat ini akan tapi pasti datang."

"Jeosonghamnida. Jeongmal jeosonghamnida. Aku masih belum bisa melakukan pengobatan terbaik untuk Kyuhyun-ssi dan malah seenaknya memberikan vonis seakan-akan aku ini adalah Tuhan." Junwon membungkuk begitu dalam dia merasa gagal menjadi seorang uisa. Walau harusnya dia tahu tidak semua pasien yang ditanganinya akan bisa selamat.

Cho Younghwan menyuruh Junwon untuk berdiri tegap. "Kau tidak seperti itu, kau memprediksinya karena memang pemeriksaan luar biasa yang telah dilakukan olehmu. Kau sudah lebih dari cukup melakukan yang terbaik untuk putraku. Kau adalah seorang uisa yang hebat Junwon uisanim."

Sementara di dalam kamar rawat Kyuhyun disana seluruh member Super Junior sudah berkumpul. Bukan hanya Super Junior sahabatnya Shim Changmin juga ada diantara yang lainnya. Perasaan mereka begitu sesak karena harus menyaksikan kembali magnae-nya mengenakan peralatan medis yang amat menyebalkan untuk mereka. Mata mereka terus berembun karena sesuatu yang ingin segera mengalir. Kyuhyun mengerti arti pandangan hyungdeul-nya dan sahabatnya itu.

"Aku hanya ingin kita menghabiskan hari ini tanpa memikirkan apapun. Melupakan semua rasa sakit, kesal, benci, sedih, marah. Hanya kita yang menghabiskan hari dengan menyenangkan. Tanpa perlu terbebani oleh apapun. Karena aku begitu merindukan hari-hari yang seperti itu." Kalimat itu dengan jelas mengalir dari bibir yang sudah memucat itu.

Changmin tersenyum menanggapi kalimat sahabatnya. "Tentu saja kita akan melewati hari ini dengan bersenang-senang kan?" Walau masih terdengar nada bergetar disana.

"Melihat sungai han seperti dahulu lagi pasti akan mengenang masa lalu." Yesung memberikan idenya.

"Aku rasa uisa juga tidak akan marah jika kita membawamu sebentar." Ryeowook menambahkan dengan begitu semangat.

Sungmin mengambilkan jaket Kyuhyun. "Hanya saja kau harus mengenakan pakaian tebal diluar sangat dingin."

"Benar sekali hyung saja yang bertubuh hangat bisa kedinginan." Shindong mendukung kalimat Sungmin.

Kangin juga berujar dengan gembira. "Setelah kembali kita akan memakan sup hangat yang super lezat buatan noona-mu yang amat cantik itu."

"Iyah benar sup rumput laut buatan noona memang paling enak hyung." Kyuhyun mengeluarkan ekspresi kekanakannya.

Heechul dengan sok judesnya berbicara pada magnae-nya tersebut. "Magnae cepat bersiap sebelum hari menjadi malam." Dan jika saja harapannya bisa terkabul bahwa dongsaeng-nya bisa menemani mereka sampai malam tiba.

"Kajja Kyuhyunnie biar hyung bantu kau bersiap." Leeteuk mengajak Kyuhyun dengan lembut.

Seperti apa yang diinginkan oleh dongsaeng bungsu mereka hari ini dilalui dengan bersenang-senang. Melupakan semua rasa sakit, khawatir, sedih dan takut akan kehilangan. Mereka bersenandung ceria walaupun mereka hanya pergi ke sungai han. Bagi mereka ini memberikan kenangan tersendiri.

Cuacanya sebenarnya tidak terlalu dingin, hari ini langit amat cerah. Seolah mendukung mereka semua untuk menghabiskan hari secara bersama. Tidak merasa disibukkan dengan jadwal mereka tertawa berbincang seperti seharusnya sebagai seorang saudara yang saling menyayangi. Tidak karena tuntutan di depan kamera. Semuanya terus bergembira, hingga dimana yang paling bungsu menggigil kedinginan.

.

.

.

.

.

Satu ruangan itu kini sudah dipenuhi oleh semua orang. Uisa dan beberapa ganhonsa juga ikut ada disana jika memang mereka diperlukan. Mereka semua berdiri mengelilingi namja yang satu-satunya terbaring disana.

Satu orang yeoja menggenggam dengan erat tangan putranya yang terbaring lemah itu. Berusaha menyalurkan kehangatannya pada tangan yang semakin kesini semakin dingin tersebut. Kesadaran namja itu sudah terasa seperti bayang-bayang. Kepalanya amat sakit. Disana dia bisa melihat orang-orang yang disayanginya ada disekitarnya.

"Eo…eom..ma…" Dengan kesadarannya yang tersisa Kyuhyun mengeluarkan suaranya.

Hanna mengelus tangan putranya dengan lembut. "Nde chagi?"

"Ka…ka…takan….pada… me….mereka….. bahwa…" Nafasnya sangat sesak, meski dibantu dengan selang oksigen tetap saja terasa sulit untuknya mengambil oksigen yang tersebar. "A…aku….ba…hagia….aku….ti…tidak…menyesal…ka…rena…..kerindu..an…ku….ber….akhir….manis." Memberhentikan kalimatnya disitu.

Hanna mencium kening Kyuhyun dengan dalam. "Mereka mendengarnya sayang…"

Kyuhyun mengerahkan semua tenaga terakhirnya untuk berbicara. "A….aku….ba…hagia…."

"Kami juga kami juga bahagia Kyuhyunnie…" Hanna menahan tangisnya.

Kyuhyun tersenyum setelah mendengarnya. Dan tangan yang sedari tadi digenggam oleh Hanna kini sudah terkulai lemas. Junwon dan ganhonsa langsung berusaha menyelamatkannya. Namun setelah semuanya dikerahkan hasilnya tetap sama. Tuhan sudah menentukan kehendak-Nya. Tangisan disana akhirnya pecah juga.

.

.

.

.

.

Satu tahun sudah berlalu semenjak kepergian seseorang yang begitu disayangi oleh semua orang. Semua sudah berjalan kembali normal. Mereka tidak mau terlarut terus menerus dalam kesedihan yang mendalam. Karena itu tidak akan berarti dan sia-sia terlebih mereka pasti akan membuat seseorang itu bersedih jika terus diam di tempat terperangkap dengan kenangan masa lalu.

Di salah satu gedung pencakar langit itu seorang namja tampak menyunggingkan senyuman tulusnya. Sebuah senyuman yang jarang sekali ditunjukan atau hampir tidak pernah dirinya biarkan terpatri di wajahnya.

"Sooman-ah aku sudah menemukan jawabannya." Menatap bayangan seorang namja yang terpantul dari balik kaca yang dilihatnya.

Namja itu tersenyum. "Sudah kubilang bukan kau hanya harus percaya pada mereka."

"Jawabanku adalah bahwa persaudaraan tanpa ikatan darah itu adalah nyata dan ada."

Lee Sooman tersenyum dan menatap layar disana. "Dan itu adalah mereka yang akhirnya memutuskan untuk kembali bersama."

.

.

.

.

.

END

Maaf Cuma bisa update kilat dan gabisa membalas review kalian satu per satu karena author sedang dalam deadline. Reader gomawo karena sudah mau menunggu kelanjutan dari ff ini. Mohon maaf atas terlalu lamanya dilanjuta dan author juga meminta maaf jika endingnya kurang atau mengecewakan kalian. Sekali lagi mohon maaf sebesar-sebesarnya jika ada yang kurang dengan keseluruhan FF ini. Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak review kalian nde. Akhir kata annyeong~

Eh reviewnya jangan lupa hihihi

Thank's to:

| 0932715630 | Ahsanriri22 | Anna505 | AtikahSparkyu | Axerleoulus Xenon Xelvarixion | Captain Potato | Cho Sun Eun | Desviana407 | Fitri My | FlowerKyuu | HyukRin67 | KLiieff19 | KimRaf | Kira Kim 19 | Kotonoha Mari-chan | Kyu4ever | LilisssRY | MissBabyKyu | Rina271 | Soonyoung35 | Yong Do Jin316 | auliaMRQ | bintang15 | cupidd(titik)cipudd | deushiikyungie | evayesiu12 | fanatwik | fatmawatiyustika | febbycho | gyuyomi88 | han(titik)hyunchan(titik)7 | han(titik)kyura | hulanchan | hyunnie02 | kimLr | kyukyu173 | ladyelf11 | mmzzaa | nissaasl | nnanissa | nurafaini | okaocha | readlight | restiana | riritary9 | seventeencarat | sparkyu(titik)yuri07 | tirah25 | viehyun | wcanon | whirstie | widiantini9 | xolovxy | yulielf123 | yuliyuzumaky | yuniimnida18 |