Love Button

.

.

Chapter : 4

.

.

.

Author's POV

"Maaf, aku keterlaluan mempermainkanmu."

Tae-hyungiie…

"OOOHH~~~" Jungkook melamun memikirkan kejadian kemarin. Ahhh~ Indahnya!~ Taetae Hyung~~

BRAK!

"Woy! Berisik, tahu!" suara pintu dibuka dengan kencang disusul dengan suara Yoongi yang keras membuat Jungkook terkejut. "Lho? Yoongi Hyung di sini?" tanya Jungkook dengan muka memerah karena malu. "Aku memanggilmu dari tadi. Sudah waktunya makan!" jawab Yoongi dengan kesal.

Jungkook berdiri dari kursinya, "Oh, i-iya, iya. Aku ke sana."

Saat di ruang makan, suasana tidak begitu bagus. Seakan-akan ada aura-aura hitam kelam yang menyelubungi kedua bersaudara tersebut. "Yoongi-ah, lagi kesal ya? Diapakan adikmu?" tanya ibu sambil meletakkan piring untuk ayah. "Eoh, Jungkook-ah, ibu kaget, lho."

"Ng?"

"Begitu pulang, Jungkook langsung pelukan sama pacar."

Perkataan ibunya tersebut membuat Jungkook menyemburkan makanan yang sedang dikunyahnya. "Yak! Kotor, nih!" teriak Yoongi kesal. Jungkook menutup mulutnya panik. "Ma-maaf."

"Sejak kapan Jungkook punya pacar? Ya kan, Ayah?" tanya ibu Jungkook pada suaminya.

"Huh, laki-laki macam apa tuh! Selama kita pergi, kau selalu menangis dan murung! Pasti karena laki-laki itu, kan!" seru Yoongi kesal. Jungkook memegang sumpitnya dengan gugup. "Jangan-jangan, kau dipermainkan laki-laki iseng?"

Pertanyaan simpel itu mampu membuat Jungkook membuka mulutnya lebar-lebar dan ayah Jungkook menjatuhkan sumpitnya. Untung saja ibu perempuan yang kuat, jadi dia tidak menjatuhkan nampan yang berisikan lauk pauk.

"BENAR BEGITU, JUNGKOOK-AH?" tanya Ibu histeris. "Orang seperti apa dia?!"

"Bu-bukan! Kim Taehyung orang baik, kok!" Jungkook berusaha menenangkan orang tuanya.

"Maksudmu, cuma kau yang bisa mengerti dia? Dasar bodoh."

"Anak Bungsuku…"

Jungkook panik setengah mati melihat ayahnya yang sudah berpose pasrah. "Bu-bukan begitu, appa!"

"YOONGI-AHHH!"

"Bukan begitu, kooookkkk!"

.

.

.

Jungkook's POV

"Hahahahaha. Bodoh? Hahaha."

"Ini sama sekali tidak lucu, Tae-hyung" kataku sambil menyatukan kedua telapak tanganku, memohon. "Terus, bagaimana jadinya? Eoh? Pose apa itu? Hahaha."

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan apa maksudku. "Mianhaeyo, aku tahu permintaanku ini mustahil, tapi… da-datanglah ke rumahku, temui keluargaku."

Aku melirik ekspresi Taehyung yang tidak bisa dibaca.

"Eomma minta, aku mengajakmu sesekali! Aku tidak bisa bilang kalau kita belum pacaran resmi."

Aku kembali melirik ekspresi Taehyung saat belum ada jawaban. Uwaaa, bagaimana nih? Apa dia akan menarik diri gara-gara permintaan yang menekan ini?

"Boleh saja!" seru Taehyung riang. Eoh?

"Aku memang ingin kenalan dengan keluargamu. Jadi, kapan?"

Eh… Sungguhan nih? Kenapa?

"Sabtu atau minggu?"

Kenalan dengan orang tua, lho!

"Hehe, rasanya ini… seperti mau perkenalan untuk nikah, ya!" ujar Taehyung tiba-tiba. Aku kaget setengah mati!

Aku akan mengenakan tuksedo putih sambil menggenggam sebuket bunga yang indah, lalu Taehyung akan mengenakan tuksedo hitam yang sangat pas di tubuhnya.

Tae-Taehyung …. Apa kita… akan segera pacaran resmi?!

Ahh~ Taehyung~~ㅡ

"Jungkook-ssi?"

"Ah! Ne!"

"Sebagai tanda maaf, aku mau kerjasama."Aku tersenyum riang.

Eoh? Apa katanya? Kerjasama?

"Aku menyulitkanmu soal batas waktu percobaan, juga bertanggung jawab karena membuat keluargamu khawatir. Makanya aku akan bekerjasama! Dengan 'berpacaran'!"

Kata-kata Taehyung barusan benar-benar menimpaku tepat di atas kepala. Huh, kau ini berpikir apa sih, Jungkook? Tidak mungkin Taehyung menyukaiku kan.

Taehyung tertawa kecil lalu mengelus-elus kepalaku. Aku mendongakkan kepala dan melihat senyum malaikatnya lagi.

"Aku akan berusaha supaya keluargamu tidak membenciku."

Aku terpaku. "I-iya."

Uh… ini juga seperti dialog perkenalan pernikahan. Aku tidak akan tertipu!

.

.

Author's POV

"Yoongi-ah! Jangan pergi dulu, Taehyung-ssi mau datang."

Yoongi menoleh dengan wajah masam. "Apa sih, kenapa dia yang datang jadi pada kalang kabut. Huh!"

"Sudah siap, Bu?" tanya Jungkook dengan panik. "Se-sedikit lagi." jawab Ibu dengan gugup, memasak makanan untuk Taehyung. Sementara Ayahnya berpura-pura tenang dengan membaca koran di sofa.

TING TONG

"I-iya!" jawab Jungkook sambil berlari ke pintu masuk. Sementara Ibu dan Ayahnya mengintip dari belakang. "Geser, dong, Ayah! Gendut, sih!" bisik Ibu sambil menggeser-geser ayah.

Sementara Yoongi menatap mereka berdua dengan tatapanㅡseriusan?-apaan-sih-mereka-ini.

"Selamat datang, Tae-hyung" sapa Jungkook. Taehyung masuk dengan kotak roti di tangannya. "Permisi."

"Lewat sini, Tae-hyung" Taehyung mengangguk dan tiba-tiba matanya menangkap Ayah dan Ibu Jungkook yang sedang mengintip. "Eoh, selamat siang." Taehyung membungkukkan badannya setengah. "Aku kakak kelas Jungkook. Kelas 2-1, Kim Taehyung." Taehyung membungkuk lagi dengan penuh hormat. "Terima kasih telah mengundangku."

Ayah dan ibu Jungkook langsung tersenyum senang. "Eh, iya." jawab ibu Jungkook. "Anak muda yang menyenangkan." ujar ayah Jungkook dengan lega. "Iya, Ibu suka deh."

Jungkook tersenyum-senyum di belakang Taehyung. "Ayo, silakan duduk, nak Taehyung."

"Taehyung-ssi, kau masuk kelas khusus?" tanya ayah Jungkook. "Ne"
"Wah! Siswa unggulan!"

Jungkook menoleh kesana-kemari. "Lho? Omong-omong, Yoongi Hyung mana?" tanya Jungkook. "Mungkin di kamarnya." jawab ibu Jungkook. "Duuh! Yoongi Hyung! Tae-hyung sengaja datang kemari, lho. Ayo kenalan sini." teriak Jungkook.

Yoongi pun keluar dari kamarnya setelah mendengar suara berisik dari adikknya. "Nah, Tae-hyung, kenalkan, ini kakakku, Yoongi Hyung, kelas 3 SMA" kata Jungkook. Sementara Yoongi memasang wajah masam tanpa menatap Jungkook ataupun Taehyung.

"Hai, aku Taehyung. 3 SMA? Kelihatan sangat dewasa, ya." ujar Taehyung sambil tersenyum. Yoongi mengangkat wajahnya dan melihat Taehyung tersenyum padanya.

Deg

Yoongi langsung memalingkan wajahnya dengan semburat-semburat merah yang terlihat samar di pipinya.

"Yoongi-ah, mau bolu? Tadi dibawain Taehyung, lho. Mont Blanc juga ada." Yoongi segera pergi dari hadapan mereka tanpa mengucap satu patah kata pun.

"A-ah.. mi-mian. Dia memang tidak ramah." kata Jungkook. "Mungkin aku yang salah." jawab Taehyung. "Aniyo, dia memang begitu."

"Padahal aku mau mempertemukan Yoongi Hyung denganmu. Dia yang bilang aku bodoh." lanjut Jungkook.

Taehyung hanya diam menatap pintu yang beberapa detik yang lalu dimasuki Yoongi. Rasanya ada yang aneh.

.
.

"Eh, kenapa tiba-tiba ingin lihat kamarku?" tanya Jungkook dengan wajah memerah dan kepala menunduk. Taehyung masuk sambil menutup pintu, meninggalkan sedikit celah.

"Jungkook-ssi." panggil Taehyung tiba-tiba. "I-iya?!" jawab Jungkook dengan terkejut. Ia menolehkan wajah ke arah Jungkook dan melihat wajah Taehyung yang terus mendekat ke wajahnya.

Eh… Eeh?! Tidak mungkin! Kyaaa!

Dari sisi lain, kamar Yoongi yang tepat berada di depan kamar Jungkook, melihat kepala Taehyung yang dekat sekali dengan wajah Jungkook, seperti ciuman.

Yoongi buru-buru menutup pintu kamarnya dengan perasaan tak menentu.

"Tae…" Dahi Taehyung dan Jungkook sudah nyaris bersentuhan.

"Tae-Tae-Tae-Tae-hyung?!" seru Jungkook gugup sambil memundurkan kepalanya. "Pssst!" Taehyung meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya. "Yang itu, kamar Kakakmu?" tanya Taehyung menunjuk pintu kamar dari sela-sela. "Eoh? Iya."

"Dia sedang mengintip. Lebih baik kita tunjukkan sisi bagus untuk menenangkannya." ujar Taehyung. "A, ah… begitu ya?"

Jungkook meletakkan telapak tangannya pada kedua pipinya yang terbakar. Kaget deh…

Taehyung yang melihat tingkah Jungkook tersenyum kecil. "Ah! Mungkin dia melihat lagi!" seru Taehyung. "Ayo kita berakting!"

Taehyung langsung meletakkan tangan kanannya pada punggung Jungkook sebagai sanggahan, sementara tangan kirinya menahan di tembok.

"Tae-Tae-hyung, a-anuㅡ"

"Diamlah. Pura-pura saja, kok."

Jungkook memejamkan matanya dengan perasaan berdebar. Sementara Taehyung menutup matanya dengan senyum jahil yang terukir di bibirnya.

Taehyung membuka mata dan melihat Jungkook yang tampak sangat gugup. Senyum jahilnya tergantikan oleh wajah serius. Taehyung menutup matanya kembali dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Jungkook. Tinggal beberapa senti lagi dan mereka akan…

JDUG!

Jungkook langsung membuka matanya dengan keadaan shock. Jungkook memegang dahinya yang berdenyut dengan kepala kosong. "Duh… ahahahaha!" Taehyung tertawa kencang sambil memegang perutnya.

"Eoh?" Jungkook menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar Yoongi yang ternyata tertutup. "Tertutup! Dia gak lihat! Ka-kau menipuku?!" seru Jungkook kesal dengan wajah memerah.

"Nyebeliiin!"

Sementara Taehyung hanya tertawa puas melihat wajah kesal Jungkook.

"Ada apa? Kok ribut? Ada sesuatu?" tanya Ibu Jungkook dari lantai bawah. Jungkook melongokkan kepalanya dari pintu. "Nggak apa-apa, kok!" seru Jungkook.

Taehyung yang ikut mengintip dari atas kepala Jungkook tersenyum kecil saat Jungkook menoleh kearah Taehyung dengan tampang kesal.

Apa maksudnya iseng begini, sih?! Aku kan deg-degan banget, tahu

!

Taehyung mengacak-acak rambut Jungkook dengan gemas.

Hari ini, dengan datangnya dia ke rumahku, apa aku… boleh berharap?

.

.

"Kim Taehyung baik ya! Ganteng lagi." kata Ibu Jungkook saat sedang mencuci piring. Jungkook yang sedang mengelap piring menjawab dengan ceria. "Iya, kan? Taehyung belajar juga di bimbingan belajar Seongguk, yang dekat stasiun." jelas Jungkook. "Wah, itu kan terkenal bagus. Levelnya tinggi."

"Eomma, aku juga ingin belajar di sana." ucap Jungkook.

"Eomma!" Jungkook dan Ibunya menoleh, menemukan Yoongi. "Aku juga ingin belajar di sana."

.

.

"Tae-hyung!" Jungkook yang melihat Taehyung di depannya memanggilnya. Taehyung menoleh dan sedikit terkejut melihat Jungkook. "Eoh, Jungkook-ssi… dan Kakaknya." Taehyung menghampiri Jungkook yang sejak tadi tersenyum. "Kami juga mau ikut bimbingan belajar. Sekarang mau tes masuk." jelas Jungkook.

"Oh, kau yakin? Susah, lho." jawab Taehyung dengan wajah heran. "Ah! Nggak terlalu pede sih, tapi aku akan berusaha keras!"

.

"Jungkook-ssi." panggil Taehyung begitu Jungkook keluar dari kelas tesnya. "Gimana tesnya?" tanya Taehyung. Jungkook hanya tersenyum tanpa menjawab apa-apa. "Gagal, ya?" tebak Taehyung. Jungkook langsung memasang tampang tertekan sekaligus suram. "Katanya, dengan kemampuan akademisku lebih baik belajar dengan guru privat." jawab Jungkook.

"Ooh, begitu. Sayang, ya. Aku pikir kita bisa belajar bareng di sini." jawab Taehyung dengan senyum maklum. Jungkook yang memiliki hati selembut sutera pun melengkungkan bibirnya ke bawah. "Tae-hyung… aku juga mau, hiks hiks."

Yoongi yang melewati mereka berdua menatap kesal pada adiknya. "Aku pulang duluan!" serunya pada Jungkook. "Ah! iya. kakakku diterima. Meski beda kelas, aku titip dia, ya." kata Jungkook. Yoongi menganggukkan kepalanya pada Taehyung dengan tatapan datar. Taehyung merasakan ada yang aneh dengan Kakak Jungkook. "Oh, iya."

.

.

.

"Wah, wah. Aku baru lihat, nih."

"Cantiknya!"

Taehyung yang melihat hal seperti ini jarang terjadi penasaran dan melihat kerumunan orang yang sedang berpusat pada sesuatu. "Wah, daebak. Cantik sekali. Dia sekolah dimana ya?"

"Manis, deh."

Pipipi

Taehyung mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Jungkook.

"Kakakku mulai les hari ini. Kalau bertemu titip, ya. Pelajaran sampai jam berapa? Semangat, ya!"

Taehyung tersenyum kecil sambil memikirkan Jungkook yang pasti sebenarnya ingin menuliskan kata-kata 'kangen' atau sejenisnya lalu membalas pesannya.

"Aku baru selesai, sudah mau pulang. Lapar, nih."

Pipipi

"Iya, ya. Kalau belajar perut jadi lapar. Harus cepat pulang, tuh." Taehyung terkikik geli. Dia yakin kalau sebenarnya Jungkook ingin sekali bertemu dengannya.

"Taehyung."

Taehyung menoleh dan menemukan Yoongi. "Aah, kakaknya Jungkook. Baru mau mulai?" tanya Taehyung. Yoongi tersenyum. "Nggak, sudah selesai."

"Eoh?"

"Aku menunggu Taehyung." kata Yoongi dengan senyum yang tak biasa di bibirnya. Dia sangat berbeda. "Soalnya hanya di sini saja bisa bertemu denganmu tanpa dia."

"Ada waktu?" Taehyung menatap heran Yoongi. Ada sesuatu yang terasa ganjal. Matanya…

Taehyung mengetik sesuatu pada ponselnya.

"Maaf, sekarang aku sudah ada janji." ujar Taehyung sambil tersenyum ramah. Yoongi hanya bisa memasang wajah terkejutnya.

.

.

.

Jungkook's POV

"Aku ingin makan di sekitar sini, mau bareng?"

Kyaaa! Kapan lagi Taehyung bakalan ngajak aku makan bareng? Duuh! Gimana, nih? Pakai apa… Baju bajuuu!

Aku berlari menuju tempat janjian kami. Dari kejauhan kulihat Taehyung sedang bersender pada tembok. "Taetae-hyung!"

"Maaf! Lama, ya?" tanyaku. Taehyung menoleh sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Mau makan dimana?" tanya Taehyung. Aku memikirkan sejenak. Enaknya dimana ya? Hmmm. Aku mengedarkan pandanganku dan menangkap sosok kakakku sedang berjongkok di balik pagar tanaman. "Eoh, Yoongi Hyung?"

"Yoongi sudah selesai juga? Makan bareng, yuk!" ajakku riang. Tapi Yoongi malah membuang wajahnya dengan tampang kesal dan melenggang pergi. "Ada apa, ya?" tanyaku bingung. "…entahlah."

.

.

.

Author's POV

"Hanya di sini bisa ketemu kamu tanpa dia…"

Kepala Taehyung sedari tadi memutar ulang omongan Yoongi padanya. "Jungkook-ssi… kakakmu itu…"

"Ya?" jawab Jungkook dengan wajah gembira. Dipikirannya hanya berisi, "Makan siang bersama Taehyung! Makan siang bersama Taehyung!"

Taehyung yang melihat wajah sumringah Jungkook pun mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang Yoongi. Taehyung tersenyum kecil, "Nggak. Di mana restorannya?"

"Sebentar lagi. Ah, ini dia! Kedai kecil dan imut!" seru Jungkook sambil menunjuk sebuah kedai yang terlihat sangat girly.

Jungkook dan Taehyung terpaku saat melihat harga-harga di menu yang terpampang di depan kedai.

"Ha… .ha. Daging domba 45.000 won, daging sapi 52.000 won, ikan 39.500 won…." ujar Jungkook shock.

"Untuk dua orang?" tanya pelayan kedai begitu melihat Jungkook dan Taehyung di depan. "Eh, anu."

Aduuuh! Ternyata mahal sekali!

Jungkook melihat ke arah Taehyung yang terlihat serius.

Gawat, nih.

"Maaf, anu… akuㅡ"

"Hei, di sini memang bagus, tapi mumpung cuacanya cerah, makan di luar saja, yuk?"

.

.

Jungkook's POV

Sudah kuduga, Taehyung memang orang yang baik. Kan bisa saja dia bilang padaku kalau aku ini tidak pernah berpikir dulu. Aku memang belum pernah ke sana dan aku tidak tahu kalau tempat itu sangat mahal. Taehyung benar-benar baik.

Aku memandang sungai yang terasa begitu sejuk. "Wah, nyamannya!" seru Taehyung sambil memandang lurus ke depan. "Dekat sungai enak, ya!" ujarnya. "Rotinya baru dipanggang. Masih hangat, lho." lanjutnya sambil memberiku roti. Aku menatap Taehyung dengan perasaan berdebar-debar. Sementara Taehyung tersenyum seperti tidak ada yang terjadi.

Kim Taehyung… meski kadang iseng, dia juga baik hati. Aku suka sekali.

"Maaf… dan terima kasih." ujarku pelan sambil menggigit roti. "Kenapa?"

Sejak kejadian golden week, aku merasa dia lebih perhatian. Aku juga merasa dia mulai mendekat… mungkin aku bisa menanyakannya, tentang perasaannya padaku?

"Hm?"

Aku tersenyum, "Aniya."

Aku berpikir sejenak. "Eng… anu…"

"Apa?"

Ternyata malu rasanya!

"Engg… eng… Tae-hyung … apa kamu…"

"Ya?" tiba-tiba saja Taehyung mendekatkan dirinya padaku. De-dekat sekali!

"Apa? Apa katamu?" Taehyung terus saja bertanya dengan senyum menawannya itu, mana dia sangat dekat lagi! Aku deg-degan tahu!

Taehyung tertawa melihatku yang wajahnya sudah pasti memerah. Lagi-lagi aku dikerjai!

"Lho? Jungkookie!"

Aku dan Taehyung menoleh dan menemukan Jimin sedang memegangi sepedanya. "Uwa! Ada Taehyung juga!"

"Ji-Jimin Hyung!" aku beranjak dari dudukku dan menghampirinya. "Jungkookie tinggal di sekitar sini? Aku juga, cuma naik sepeda."'

"Oh, begitu."

"Ada kumpul-kumpul di rumahku. Bambamie kuundang, tapi nggak bisa datang. Aku ditolak!"

Aku bingung harus merespon apa, jadi hanya kata, "Oh." yang keluar dari mulutku, disertai tawa kecil yang kupaksakan. "Jungkookie mau ikut? Taehyung tinggal saja."

Aku langsung menggeleng-geleng tanpa berpikir dulu. "Yaah, sayang."

"Jimin-ah! Ayo!"

"Ah, ne ne!" Jimin menoleh padaku. "Sampai ketemu di sekolah! Kapan-kapan main sama aku, ya!" serunya sambil berlalu pergi.

Setelah kepergiannya, suasana yang semula ramai kembali hening. Aku menoleh pada Taehyung. Kira-kira… apa yang dipikirkannya saat aku mengobrol dengan Jimin ya?

"Ah, Jimin akrab dengan Bambam, temanku. Kami sekelas, jadi sering ngobrol. Dia akrab sama semua orang." jelasku panjang lebar. Taehyung mengangguk. "Ooh."

Eoh?

Hanya itu? Ha-ha-ha. Apa sih yang kau harapkan Jungkook? Dia nggak peduli.

.

"Seru! Seperti piknik!" seru Taehyung saat kami sudah sampai di depan rumahku. "Iya!"

"Tapi lebih asyik kalau bawa bekal, ya."

Eoh!

Dia ingin bekal!

"A-aku akan buatkan!" jawabku semangat. "Eh?"

"Be-bekal!ㅡ"

"Aku pulang."

"Oh, Yoongi Hyung. Baru pulang, ya."

"Minggir, dong." aku menyingkir dari depan pintu dan mempersilakan Yoongi masuk. Seperti biasa, anak itu selalu saja memancarkan aura-aura seram dan judes.

"Dia itu," kata Yoongi tiba-tiba sambil menoleh. "Sama sekali nggak bisa masak!"

Aku ternganga mendengar pernyataan Yoongi yang mematikan. Bisa habis aku dimata Taehyung!

AAAH! JEON YOONGI!

"Valentine tahun ini, dia hampir membuat orang mati." lanjut Yoongi cuek. Sementara aku hanya bisa gigit bibir. "Yoo-Yoongi Hyung!" sementara Yoongi melenggang pergi masuk ke rumah.

Aku menoleh dan melihat ekspresi Taehyung yang kosong. "Eh, anu, Tae-hyung. Anu.. aku akan berlatih."

Taehyung sepertinya melamun hingga dia baru menjawab pertanyaanku beberapa detik kemudian. "Eh? Ah iya."

Taehyung tersenyum tulus. "Aku tunggu hasilnya, deh." aku tersenyum lega.

Berarti… ada kesempatan?

Aku melambaikan tanganku pada Taehyung.

Aku harus berlatih!

.

.

.

"Jadi, aku yang cicip makanan uji coba ini?" tanya Bambam dengan tangan terlipat, menginterogasiku. Kami berdua sedang berada di kelas, di mejaku. Aku mengeluarkan kotak bekal dan membukanya. Bambam menatap bekalku dengan tatapan ngeri.

"A-Aku mohon." jawabku memelas. Bambam menambil sumpit dan menusukkannya pada telur dadar gulung yang kubuat. "Apa boleh buat!"

Entah datang dari mana, tiba-tiba saja Jimin datang dan mengambil telur dadar gulung buatanku. "Wah! Apa ini? Jungkookie yang buat? Aku makan ya!"

Terlambat. Aku tidak bisa mencegah Jimin memakan makananku. Masa bodohlah!

Saat Jimin dan Bambam memasukkan makananku ke mulutnya. Wajah mereka berubah total. Mereka langsung meletakkan telapak mereka di mulut, seakan-akan ingin muntahㅡmungkin memang ingin muntah.

"Se-segitu nggak enaknya?!" teriakku shock. Kupikir makananku kali ini tidak akan menimbulkan reaksi semacam Jimin dan Bambam barusan tunjukkan. Aku menundukkan kepalaku pasrah. Mereka benar-benar tampak sekarat.

"Untuk kapan…?" tanya Bambam. "Seminggu lagi." jawabku pelan. Bambam menatapku dengan tatapan kasihan. "Bikin yang layak dimakan manusia, dong."

.

Sampai di rumah pun aku tetap berlatih sampai malam. "Kamu tidak terampil, beda dengan Yoongi." ujar Ibu sambil mengawasku menggoreng telur. "Ah! Eomma, eotteohke? Gosong." kataku sedih. Huhu… Kenapa aku terlahir tanpa kemampuan apa pun?

"Percuma saja latihan segala." aku menoleh dan menemukan Yoongi Hyung baru keluar dari kamarnya. "Masakan nggak enak, cuma bikin repot saja, tahu!" serunya jutek. Aku terbengong mendengar perkataan Yoongi Hyung.

Kakakku benar-benar kejam…

"Hei, gosong tuh!" seru Ibu. Sementara di otakku hanya berputar-putar kalimat, "Bikin repot!"

"Bikin repot!"

"Bikin repot!"

.

.

.

Author's POV

Jungkook menghela napas berat sambil menatap bekalnya nanar. "Memang bikin repot ya." ujar Jungkook pasrah. "Aku juga repot nih!" seru Bambam kesal. "Yah, walaupun sudah mendingan sih." lanjut Bambam lebih tenang. "Maaf, deh." jawab Jungkook lesu. "Taehyung pasti mau makan, kok. Rasanya udah lumayan."

"Waktu kubilang mau membuatnya, kupikir dia tulus." kata Jungkook sambil memajukan bibirnya. "Dia iseng lagi, kali." kata Bambam sedikit kesal. Bambam merasa kesal setiap kali Jungkook selalu begitu karena Taehyung. Tapi mau bagaimana lagi? Kalian yang pernah jatuh cinta pasti pernah merasakannya kan? Iya kan?

"Ah, itu orangnya!" seru Bambam sambil menunjuk Taehyung yang berada 3 meter di depan mereka. "Ah, Jungkook-ssi. Pagi." sapa Taehyung ramah, seperti biasa. "Eh, iya, pagi." balas Jungkook dengan gugup. "Ng… Aku duluan ya!" kemudian Bambam pergi disertai tatapan heran dari Taehyung. Suasana mendadak aneh begitu Bambam meninggalkan Jungkook dan Taehyung.

Jungkook menoleh pada Jungkook sambil tersenyum. "Ada perlu apa?"

"Eoh, aniya! Buru-buru ya?" tanya Jungkook, "Soalnya… hari ini Tae-hyung nggak ada les, mu-mungkin kita bisa bersama sebentar." usul Jungkook dengan wajah sepanas air rebus. Jantungnya berdegup dengan keras. Taehyung tersenyum kecil dengan suara tawanya yang semakin lama semakin terasa enak di telinga Jungkook. Huh, dia iseng lagi! Kenapa sih dia selalu menertawaiku? Tapi nggak apa-apa sih… aku tetap senang. Hehe, pikir Jungkook.

"Jungkookie~~ Pagiii!" seseorang tiba-tiba datang dan menyapa Jungkook.

"Eoh, Jimin Hyung" sapa Jungkook saat melihat Jimin yang telihat sangat ceria. "Hari ini bekalnya enak nggak?" tanya Jimin. Jungkook terlihat ragu untuk menjawab tetapi ia tetap menjawab. "Gimana ya? Ehe."

"Aku tunggu, lho."

Taehyung yang sedari tadi diam sejak Jimin datang, mengerutkan keningnya heran. "Bekal?" Jungkook menoleh pada Taehyung

"Ah!~ Rupanya kau tidak tahu ya, Taehyung? Si Jungkook sedang latihan masak. Belum pernah makan? Hahaha. Yang iniㅡ"

"Ji-Jimin Hyung!" Jungkook menghentikan Jimin sebelum dia membeberkan semua rasa bekal Jungkook. "Ba-baru latihan, kok! Belum bisa kuberikan padamu! Masih percobaan! Yang sekarangㅡ" Jungkook menoleh pada Taehyung dan terkejut melihat ekspresi wajahnya yang baru pertama kali ini ia lihat.

"Kalau begitu, aku tidak akan makan dulu." katanya sambil tersenyum. Tapi senyum itu… bukan Taehyung. Bibirnya tersenyum, tapi matanya tampak dingin. "Aku ke kelas dulu, ya."

Taehyung… apa itu? Meski tersenyum, wajahnya tampak tak senang.

Punggung Taehyung semakin menjauh, semakin terlihat dingin. Jungkook pun berlari mengejarnya. Jungkook tahu, walaupun bekalnya tidak enak, Taehyung pasti akan memakannya dengan senyuman.

Taehyung membalikkan badannya. "Aku… menyerah." ucap Jungkook sambil menundukkan kepala. "Kalau menurutmu nggak enak, aku nggak akan senang."

"Aku nggak mau Tae-hyung nggak ingin memakannya." udara seketika disekelilingi udara yang hening.

"Apa aku pernah bilang begitu?" tanya Taehyung. Jungkook mengangkat wajahnya. "Katamu, 'nggak akan makan dulu' kan?" katanya sedih. Jungkook merasa seperti telah ditolak beribu-ribu kali oleh Taehyung.

"Eh? Aah.."

Taehyung meletakkan tangan kirinya di dagu. Bingung harus memulai bicara dari mana. Namun, saat ia melihat wajah Jungkook yang menunduk dengan semburat-semburat merah dan wajah sedih, Taehyung langsung menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Tanpa bisa ditahan pun pipinya memerah.

"Jungkook-ssi." panggil Taehyung. Jungkook mengangkat wajahnya. "Apa bekal buatanmu masih ada?" tanya Taehyung. "Ada." jawab Jungkook. "Keluarkan."

"EEEH?!" seru Jungkook kaget dan sontak memegang tasnya dengan erat. Jungkook menggeleng-geleng. "Ayo cepat." Jungkook masih terlihat ragu namun akhirnya tetap mengeluarkan bekalnya dan memberikannya pada Taehyung dengan wajah khawatir.

Taehyung melihat bekal Jungkook dan memakan telur gulung buatan Jungkook. Jungkook melihat Taehyung dengan waswas saat Taehyung memakan bekalnya. "Eo-eottaeyo?" tanya Jungkook ragu. Taehyung kembali memegang dagunya sambil terus mengunyah. "Hm, kau masih harus latihan." kata Taehyung sambil menilai-nilai makanan di mulutnya. "Tuh, kan!"

Jungkook menunduk lesu. "Yang pertama lebih parah dari ini. Aku minta Bambam mencobanya, katanya nggak layak dimakan manusia." katanya. Kata-kata Jungkook barusan membuat Taehyung tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha! Aku mengerti. Jadi, Jimin makan itu?"

"Eoh Jimin Hyung? Iya. Dia ambil sendiri." jawab Jungkook heran. Sementara Taehyung masih terus tertawa. "Siapa yang mati saat valentine?" tanya Taehyung. "Ah, itu… Aku membuatkan Ayah kue. Tapi masih hidup kok!"

"Ayahmu? Hahaha."

Taehyung terus tertawa hingga membuat Jungkook bingung. Saat Taehyung berhenti, ia menatap Jungkook dengan senyum menawannya. "Buatkan bekalnya, ya. Aku tunggu." ucapnya, lalu melanjutkan. "Jungkook-ssi, aku baru sadar. Ternyata, sifat posesifku kuat, lho."

Jungkook membulatkan matanya. Taehyung tersenyum lalu melenggang pergi. "Eh…?" Jungkook tidak bisa berkata-kata selain wajahnya yang memanas dan memerah.

.

.

.

Teeng Teeng Teeng

Jungkook berdiri di samping loker Taehyung ketika Taehyung datang dengan tasnya. "Annyeong, Jungkook-ssi. Mian, rapatnya lama." Jungkook tersenyum lalu membetulkan letak tasnya. "Gwaenchanha."

"Apa tidak apa-apa mengantarku pulang?" tanya Jungkook begitu mereka berdua sudah di luar sekolah. "Kan jadi berputar jauh."

"Jungkook-ssi terganggu?" tanya Taehyung. "A-aniyo. Aku malahan sangat sangat senang!" jawab Jungkook dengan wajah memerah. "Geuraeyo? Baguslah, hehe."

Jungkook menduduk, pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi. "Sifat posesifku kuat, lho."

Jangan-jangan Taehyung-ssi…. pikir Jungkook.

"Ng, Tae-hyung. Yang kau bilang tadi pagi itu… ma-maksudnya apa ya?" tanya Jungkook malu-malu. Taehyung menoleh pada Jungkook dan menutup bibirnya dengan punggung tangannya.

"Ah, itu." walau samar, bisa terlihat semburat merah dari pipi Taehyung. Taehyung mengantungi tangannya ke saku celana dan tersenyum. "Silakan bayangkan sendiri, ya."

"Eh?"

"Kaja. Keretanya datang. Palli!"

Sementara Taehyung sudah pergi, Jungkook melengkungkan bibirnya ke bawah. "Itu benar-benar bikin bingung, tahu, Taehyung!"

.

.

.

Ciiit

Jimin memberhentikan sepedanya di depan rumah bertuliskan marga "Jeon". "Wah! Ternyata dekat sekali kalau lewat jembatan!" seru Jimin. "Ada perlu apa datang kemari?" tanya seseorang. Jimin menoleh dan langsung terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari Yoongi sampai-sampai ia menjatuhkan sepedanya.

Waaaahhhhh manisnya! Daebaaak! pikir Jimin.

"Sepedamu jatuh, tuh! Kau teman adikku?" tanya Yoongi. "Eoh?"

"Seragamnya sama." tunjuk Yoongi. "Aaah! Aku teman adikkmu! Aku Park Jimin! Waah! Kalian adik kakak manis-manis ya! Jungkookie sudah pulang? Tadinya aku ingin mengajaknya kencan, tapi sama kamu saja ya! Mau kencan denganku, kan?" Jimin meraih tangan Yoongi dengan wajah gembira sedangkan Yoongi melihat tangannya dengan horor. Yoongi segera melepaskan tangan Jimin dengan wajah kesal. "Kayaknya, Adikku sudah punya pacar, tuh!" seru Yoongi.

Pulang sana! Pulang! seru Yoongi kesal dalam hati.

"Ha? Punya pacar? Si Taehyung? Bukan, kok! Itu masih masa percobaan!" seru Jimin. Yoongi yang mendengarnya membulatkan matanya. "Masa percobaan?"

"Iya, Jungkookie yang bilang suka, tapi Taehyung masih menggantungnya. Jahatkan ya? Kalau aku sih tulus sama Jungkook."

Yoongi hanya diam. Mimik wajahnya berubah. "Jadi… masih ada kesempatan, dong." ujarnya pelan, tapi cukup didengar oleh Jimin. "Yup! Masih ada kesempatanㅡeh? Maksudmu apa? Jangan-janganㅡ"

"Yoongi Hyung?" Jungkook memanggil Yoongi yang entah kenapa bisa bersama Jimin. Taehyung yang berdiri di samping Jungkook melihat Yoongi dengan intens. Semenjak kejadian itu, ia punya firasat buruk.

"Ah!" seru Jimin.

"Jungkookie sudah pulang! Aku main ke sini. Kok ada Taehyung lagi sih?!" protes Jimin sambil menatap Taehyung tajam. "Ji-Jiminㅡ"

"Omong-omong, aku boleh masuk rumahmu, gak?ㅡ"

"Mengganggu saja!" geram Yoongi dengan wajah super galak. Jimin langsung diam sambil menatap Yoongi ngeri. "Sepertinya repot ya. Sampai sini saja." kata Taehyung. Ia melambaikan tangannya sambil melangkah menjauh. "Dah! Sampai besok, ya." Jungkook menundukkan wajahnya sedih. Ia sebenarnya ingin bersama lebih lama dengan Taehyung. Tanpa disadari, Yoongi pun melihat perubahan wajah adikknya.

"Oh iya." Taehyung berhenti dan membalikkan badannya. "Jungkook-ssi, lain kali main ke rumahku ya." ajak Taehyung sambil tersenyum. Semburat merah itu semakin terlihat jelas di pipi Jungkook. "Eoh?"

"Aku pernah bertamu ke rumahmu kan? Kalau segan, nggak juga nggak apa-apa." Taehyung melanjutkan. "Orang tuaku pulang larut, jadi cuma ada kita berdua saja." Mata Jungkook, Yoongi dan Jimin membulat. "EEHH?" seru Jungkook kaget.

"NGGAK BOLEH!" seru seseorang. Semua orang menoleh pada Yoongi yang ternyata yang berteriak tadi. Yoongi menelan ludahnya dan berdeham. "Ng, maksudku, aku juga boleh ikut?" tanya Yoongi. "EH? Kalau begitu aku juga ikut!" seru Jimin dengan semangat. "Hm… Gimana ya?" Taehyung berpikir sejenak.

"Ok! Baiklah, kalian semua boleh datang."

Jungkook memanyunkan bibirnya. Tidak apa deh, yang penting aku sudah diundang ke rumahnya.

.

.

.

"Waaah!" Jungkook dan yang lainnya terpana begitu memasuki rumah Taehyung yang ternyata merupakan mansion mewah. "Mansion yang indah!" seru Jungkook takjub. Jungkook dan Jimin heboh melihat jendela besar yang menyuguhkan kota Seoul. "Silakan duduk, aku akan buatkan teh." kata Taehyung. "Biar kubantu." kata Yoongi sambil tersenyum. "Eh! Aku juga mau bantu!" seru Jungkook. "Jungkook-ssi bantu aku, Yoongi-ssi santai saja di sini." kata Taehyung.

Wajah Yoongi merengut kesal. Tidak ada yang melihat perubahan wajah Yoongi itu saat Taehyung dan Jungkook pergi ke dapur.

"Jungkook-ssi, kau dan kakakmu akrab ya?" tanya Taehyung sambil memperhatikan Jungkook mengaduk teh. "Eh? Masa? Kami biasa saja, kok."

"Tapi, dia mau menemanimu ke sini." kata Taehyung sambil bersender pada counter dapur. "Oh, ini sedang tumben-tumbenan saja. Tapi, kalau terlihat begitu, aku senang." ujar Jungkook sambil tersenyum. Ia kembali mengaduk teh dan melanjutkan. "Yoongi Hyung itu mandiri. Aku sering dimarahi dia. Aku khawatir dia membenciku." kata Jungkook. "Seandainya aku bisa jadi adik yang baik, dia pasti akan tergantung padaku."

Taehyung terpana mendengar ucapan Jungkook. "Kau suka kakakmu, ya." Jungkook mengangguk. "Eung, neomu joha!"

"Eh, toilet di mana?" tanya Jimin yang melongokkan kepalanya di ambang pintu. "Keluar dari koridor, sebelah kanan." ujar Taehyung. "Ok! Sebentar ya."

Jungkook dan Taehyung kembali ke ruang tamu sambil membawa teh dan beberapa camilan. "Main game, yuk." ajak Taehyung sambil meletakkan beberapa CD play station. "Waaah, lengkap sekali." kata Jungkook sambil memotong kecil kue bolu untuk dimakannya. Saat mau memasukkan kue bolu tersebut, Jungkook malah menjatuhkannya dan sekarang bajunya dinodai coklat.

"Ah, yaah!"

"Nggak apa-apa?" tanya Taehyung. "Iya, cuma kotor sedikit. Maaf, aku ke toilet dulu." Jungkook bangkit dari duduknya dan menuju toilet. Setelah selesai menghilangkan noda di bajunya, Jungkook segera keluar dan bertemu dengan Jimin yang sedang mengintip-intip ke suatu ruangan.

"Jimin Hyung, sedang apa?" tanya Jungkook bingung. "Psstt! Aku sedang menyelidiki." ujar Jimin sambil berbisik. "Eoh? Ini kamar Taehyung, kan?" tanya Jungkook bingung. "Sekarang, akan kutunjukkan yang sebenarnya." Jimin terkekeh. "Sebenarnya apa?"

"Si Taehyung pasti menyembunyikan beberapa majalah yadong."

"EEHH?! Ti-tidak mungkin! Taetae-hyung bukan orang seperti itu!" seru Jungkook kesal.

"Duuh, Jungkookie dan Yoongiie berkhayal berlebihan soal Taehyung!"

"Aku nggak… Eh? Yoongiie?"

Jimin segera menutup mulutnya rapat. "…Gawat."

Jimin menghela napasnya. "Jungkookie, aku berat bilangnya. Tapi, mungkin… Yoongiie suka Taehyung."

.

.

.

To be continued