SHADOW
4 OF ?
WARNING !
THIS YAOI , BL , MATURE , BDSM , ANGST
DON'T LIKE , DON'T READ !
ENJOY READING !
.
.
.
"aku tidak sabar menarik mu ke dalam kamarku saat ini kookiie"
Jantung berdetak dengan kencang seolah memompa darah ku dengan kuat, dia tertarik dengan ku batin ku tersenyum menyadari bahwa dia menginginkan ku, bahwa bukan hanya aku yang menginginkannya.
Karna kau jalang teriakkan seseorang didalam batin ku menghancurkan semuanya, menghancurkan semua harapan ku padanya, menghancurkan semua keinginan ku untuk memilikinya.
Dia tertarik dengan mu karna kau jalang, kau sama dengan pelacur yang lain, yang hanya dia butuhkan untuk menjadi budaknya sosok itu kembali berteriak menyadarkan ku bahwa aku hanya budak sex dari Kim Taehyung.
"Apa yang kau pikirkan?" sentuhan lembut tangan Taehyung menyadarkan keberadaan ku saat ini. Sosok itu menatap ku cemas dengan mata segelap malam miliknya. Mataku mengamati sekilas suasana yang terjadi saat ini dan aku hanya mampu menghembuskan napas berat ku saat menyadari begitu banyak pandangan menusuk yang ter arah kepadaku.
"tidak ada, aku tidak memikirkan apapun" matanya menyelidik merasa tidak puas akan jawaban ku.
'aku bersungguh-sungguh aku tidak memikirkan apapun -"
"Taehyung"
"apa?" aku tidak mengerti maksud ucapannya yang memotong ucapan ku
"panggil aku Taehyung, Jungkookiie" suaranya yang terdengar rendah dan berat itu mampu menghilangkan sesuatu yang menggejolak didada ku, aku tidak tahu kenapa nama ku terasa begitu indah saat di ucapkan olehnya, seperti alunan instrument di geraja yang menenangkan.
"Maaf aku tidak bisa memanggil anda seperti itu, " tatapan itu begitu tajam dan rahangnya terlihat mengeras tidak menerima bahwa aku menolak kemauannya.
"Hanya di saat seperti ini kau memanggil ku tapi saat hanya ada kau dan aku itu tidak berlaku, kau hanya harus memanggil ku Taehyung dan kau tidak berhak menolak, kau tahu bukan aku benci penolakan" napas ku tercekat dipangkal tenggorokkan ku saat salah satu sudut bibirnya ter angkat menampilkan senyum separuh yang mempersona.
" pemotretan sudah siap" ucapan salah satu kru disana tidak mampu membuatnya mengalihkan pandangannya dari wajahku.
"Ya, aku akan segera kesana" dan setelah mengatakan hal tersebut, tangan nya dengan lembut meraih tangan ku, menautkan jari-jari kami dan menggenggamnya dengan erat. Dirinya membimbingku dengan perlahan mengabaikan jutaan tatapan iri yang mengeliling kami.
Bolehkah aku berharap, bahwa hanya aku satu-satunya orang yang diperlakukan dengan begitu lembut olehnya
Tubuhku tersentak saat tangannya merengkuh pinggang ku mencengkramnya dengan erat dan menghapus jarak di antara kami.
"apa yang kau pikirkan sebenarnya? Kau terliha begitu tidak tenang" nada suaranya terdengar jelas begitu mengkhawatirkan ku.
"jika kau berpikir aku sering melakukan hal ini dengan yang lain buang pikiran tersebut, karna hanya kau yang mendapatkan perlakuan ini dariku" dia mengatakan hal tersebut dengan menyatuhkan kedua kening kami, menghiraukan hidung kami yang bersentuhan dan menghiraukan semua orang di dalam ruang ini.
Kilatan lampu yang menyakitkan menyadarkan ku, bahwa kami sedang melakukan pemotretan dengan posisi seperti ini. Aku dapat melihat Hoseok begitu sibuk menggerakan kakinya agar mendapat hasil gambar yang baik.
"kenapa?" suara ku terdengar seperti cicitan burung yang terjepit membuat nya mengerutkan keningnya mendengar ucapan ku.
"karna kau …." Jantung ku berdetak dengan kencang menanti kelajutan dari ucapannya.
"mempesona dan kau adalah masa depan ku, jadi bagaimana mungkin aku memperlakukan masa depan ku dengan buruk" ucapan yang di sertain dengan senyum yang penuh diseluruh bibirnya membuat jutaan kupu-kupu yang terperangka diperut ku keluar dengan bebasnya membawa jutaan rasa gelisah ku akan dirinya.
.
.
.
"kau berpacaran dengan nya?" aku menghembuskan napas ku dengan berat mendengar pertanyaan yang sama terlontak kembali dari mulut seorang Jung Hoseok.
"harus berapa kali aku berkata padamu, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya" sudut mata Hoseok tertarik hingga menimbulkan tatapan menyelidik dan tidak percaya akan ucapan Jungkook
"kau sedang tidak berbohong padaku kan?" aku kembali menghembuskan napasku dan menatap ke arahnya.
"tidak, aku tidak berbohong " suara ku terdengar lantang dengan penekanan di setiap katanya.
"baiklah, kali ini aku percaya dengan mu" aku memutar tubuhku menghadap cermin berniat menghapus bekas riasan diwajah ku.
"jadi kapan kau bersedia menjadi kekasih ku?" gerakan tangan ku terhenti mendengar ucapannya, Hoseok sering kali mengungkapkan perasaan nya kepada ku tapi aku tak pernah menerimanya, bagi ku memiliki kekasih tidak terlalu penting untuk saat ini dan aku juga tidak merasaan perasaan apapun kepadanya.
"Maaf, aku tidak bisa"
"Kenapa ?" suaranya terdengar sarat akan kekecewaan mendengar jawaban ku.
"karna dia milik ku" suara yang terdengar dingin dan begitu berat membuat ku terlonjak seketika begitu mendengarnya.
Secepat kekuatan angin pandangan ku dengan segera mengarah ke asal suara tersebut, dan disanalah dirinya berdiri dengan begitu angkuhnya. Dia menatap Hoseok seolah ingin membunuhnya detik itu juga.
Dirinya melangkah mendekati ku menimbukan suara ketukan sepatu dan lantai yang terdengar seperti alunan kematian.
"karna dia milik ku, sesuatu yang menjadi milik ku tidak akan pernah bisa menjadi milik orang seperti mu, karna kau tidak pantas bersaing dengan ku untuk mendapatkannya yang hanya diciptakan untuk ku"
.
.
.
T.B.C
