SHADOW

6 OF ?

WARNING !

THIS YAOI , BL , MATURE , BDSM , ANGST

DON'T LIKE , DON'T READ !

ENJOY READING !

.

.

.

Dia menghilang.

Terhitung sudah satu bulan aku lewati sejak kejadian itu dan Dia menghilang begitu saja dari kehidupanku..Aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana ekpresi terakhirnya yang dia berikan kepadaku dan itu mampu membuat jantung bekerja dengan buruk, begitu buruk.

Dua sisi dalam diriku saling berteriak satu sama lain, meneriaki argumentasi mereka tentang keputusan yang ku ambil.

Satu sisi baik ku memujiku, mengatakan apa yang aku lakukan adalah benar. Keputusan yang ku ambil untuk menjauhinya adalah benar.

Sedangkan, satu sisi buruk mencaciku. Mengatakan bagaimana ke munafikan diriku yang mencoba menyangkal pesonanya. Bagaimana perkataan bodoh yang keluar dari mulut ku menyakitinya.

Dan aku lebih menyetujui apa yang dikatakan sisi burukku.

Aku meremas rambut ku dengan kuat merasakan kepalaku berputar-putar saat suara-suara mereka semakin memekakkan telingaku.

"Jungkook" aku mengangkat kepala ku dan segera merapikan rambutku saat atasan berdiri dengan tegas di hadapanku.

"Jungkook bisakah kau berkunjung ke perusahaan Tuan Kim? Aku membutuhkan tanda tangannya diberkas ini sesegeranya mungkin. Aku tunggu secepatnya." Atasan ku membalik tubuhnya dan melangkahkan kakinya pergi dari hadapanku.

Meninggalkan sebuah berkas dan sebuah pertanyaan tanpa memerlukan jawaban, ah tidak itu lebih terdengar seperti perintah untuk ku.

Pikiran ku terasa kalut menatap setumpuk berkas yang di tujukannya.

Sebagian hati ku bersorak gembira mengetahui bahwa aku akan bertemu dengannya dan sebagian hati ku merasa begitu gelisah memikirkan apa yang akan dia lakukan kepada ku.

Aku tidak ingin bertemu dengannya, untuk saat ini.

Tapi aku tidak memiliki pilihan apapun, aku harus bertemu dengannya sesegera mungkin sebelum jabatan ku terlepas begitu saja karna perasaan ku.

.

.

.

Aku memeluk erat berkas yang berada dalam dekapan ku. Perasaan ku semakin kalut saat lift yang membawa ku bergerak cepat mengatarkan ku ke ruangannya.

Apa yang harus kulakukan batin ku terus menjerit meneriaki perkataan yang sama setiap menitnya. Dan suara lift yang berdenting bagaikan sebuah lonceng kematian yang siap mengantarkan ku ke neraka.

Kakiku bergetar dengan sendirinya saat aku melangkahkan kaki keluar dari dalam lift dan mendekati satu-satunya pintu yang berada dilantai tersebut.

Aku menahan napas ku saat menempelkan sebuah kartu pengenal ke monitor kecil dengan tangan yang bergetar.

" Welcome to " sama seperti pertama kali aku berkunjung kesini, sambutan suara mesin itu menyambutku di sertai dengan terbukanya pintu tersebut.

Aku melihatnya, aku melihatnya.

Aku melihatnya yang memandang tajam diriku dari balik meja kerjanya. Tatapannya begitu mengintimidasi dan aku tidak dapat membaca apa yang sedang dipikirkannya melalui wajahnya.

Kakiku semakin bergetar saat melangkah mendekatinya, tubuhku mengeluarkan keringatnya dengan berlebihan saat mata gelap tajamnya menghujani setiap langkahku.

"dimana berkas yang harus ku tanda tangani Tuan Jeon?" ucapannya begitu dingin. Sangat dingin dan itu menyakitkanku.

Tidak ada satupun kalimat pembuka yang dikatakannya untuk menanyakan kabarku, dia terlihat begitu asing. Dia bersikap seolah kami tidak saling mengenal.

Dia membaca berkas itu tanpa memperdulikan ku, tanpa mempersilakanku duduk seperti sebelumnya dan itu hanya mampu membuat ku tersenyum miris.

Batinku mencerca mengatakan bahwa inilah yang aku inginkan dan aku sudah mendapatkannya dengan sangat pahit.

"katakan pada atasanmu untuk tidak mengirimmu kembali menemuiku atau dia bisa menghubungi salah satu asistenku dan mereka yang akan segera mengambilnya." Perkatannya mampu membuyarkan pikiranku.

Dia membenciku.

Kalimat itu terus berputar dipikiranku saat mendengar ucapannya. Aku tidak pernah merasakan perasaan yang begitu sakit seperti ini dan aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan.

Aku menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca darinya, tanganku dengan bergetar mengambil berkas yang diletakannya dimeja.

"Terima kasih Tuan Kim atas ketersediannya waktu anda dan maaf jika mengganggu." Aku mengbungkukkan tubuh ku sebentar dan segera melangkahkan kaki ku pergi dari ruangan itu tanpa mendengar jawabanya.

Tubuhku bergetar menahan ribuan air mata yang berdesakkan dari kelopak mataku.

Aku memejamkan mataku membiarkan airmataku mengalir dengan sendirinya sembari menunggu kedatangan lift yang akan membawaku pergi dari tempat ini dan pergi dari kehidupannya.

Suara dentingan lift yang terbuka membuat ku dengan segera melangkah masuk ke dalam sana. Pintu lift itu hampir tertutup sebelum seseorang menahannya membuat ku terkejut.

Dia ada disana, dia berada tetap dihadapanku dengan menahan lift tersebut, dia Kim Taehyung.

"aku memberimu sebuah pilihan." Suara nya terdengar mencekamkan masuk kedalam telingaku.

"menjauh dari pria bajingan itu atau menjadi milikmu."

"kau harus memilihku karna…." Napas ku terasa berhenti menanti sambungan dari ucapannya.

"aku tahu kau begitu sangat menginginkan ku Jeon Jungkook."

.

.

.

TBC

Yang kangen sama ff ini mana hayoooooooooooooo…

Sebelumnya aku mau bilang terima kasih untuk yang sering kasih masukan buat tulisan aku, aku ga merasa tersinggung sama sekali hehe. Karna emang kenyataan begitu jadi terima kasih atas masukannya.

Terus kenapa ff nya pendek? Sejujurnya aku orang yang gabisa nulis dibawa tekenan jadi aku nulis semampunya aku. Maaf yaaaa

Alur nya kecepetan ? aku malah merasa ff ini itu alurnya yang paling lambat, karna aku emang menyembunyikan siapa taehyung disini jadi aku langsung ambil point inti mereka ketemu makanya alur ini serasa kecepetan. Untuk penjelasan tentang Taehyung akan di bahas di saat yang tepat jadi nantikan aja ff ini ya.