SHADOW

7 OF ?

WARNING !

THIS YAOI , BL , MATURE , BDSM , ANGST

DON'T LIKE , DON'T READ !

ENJOY READING !

.

.

"aku tahu kau begitu sangat menginginkan ku Jeon Jungkook."

Pintu lift itu tertutup setelah dia menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya mampu terdiam merasakan Jantung ku yang berdetak sangat keras tanpa henti. Tanganku meraba dinding lift mencoba bertumpuh disana.

Kalimat laki-laki itu bukanlah kalian yang baik aku tahu itu, kalimatnya seolah mengejekku dan aku harus mengakuinya bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah kenyataan.

Seseorang dalam diriku berbicara kembali, mengejek ku seperti sebelumnya tapi aku tidak terlalu memperdulikannya kali ini, pikiranku hanya terpaku akan ucapan laki-laki itu.

"jangan bersikap bahwa kau ini orang suci, sialan. Kau hanya perlu mengiyakan ucapannya dan dia menjadi milikmu seperti yang selama ini kau inginkan." Sisi burukku berteriak marah menanggapi tingkahku yang seperti orang bodoh.

Aku menyetujui ucapannya, kenyataan bahwa aku ingin dia menjadi milikku adalah keinginan terbesarku saat ini, tapi menjauhi Hoseok bukanlah kenyataan yang bagus. Aku lebih mengenal Hoseok lebih dari aku mengenal laki-laki itu.

"jangan menjadi seseorang yang tamak dengan menginginkan mereka berdua dasar jalang." Sosok jahat itu kembali berbicara dengan kasar memukul perasaanku.

Benar siapa aku yang menginginkan mereka berdua di saat yang bersamaan? Bukankah aku terdengar seperti pelancur jika seperti itu? Ah bukan, aku memang pelacur karena begitu menginginkan sosok Tuan Kim dalam hidupku.

"kau memang pelacur jadi jangan pernah berpikir bahwa kau lebih baik dariku." Pintu lift yang ku tumpangi terbuka seiring denganUcapan kasar yang ku terima dari sisi jahatku.

Aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam lift secara perlahan, kepala ku terasa berputar-putar, pandangan ku mulai berbayang. Aku berjalan dengan sangat perlahan bertumpuh pada dinding disamping.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, ucapan laki-laki itu dan sisi jahat ku terus berputar-putar dipikiranku.

"Tuan Jeon!" salah satu orang yang mengenalku berteriak memanggilku saat melihat tubuhku jatuh terduduk begitu saja.

"apakah anda baik-baik saja Tuan Jeon?" sosok yang tadi berteriak memanggilku menghampiriku. Tangannya mengguncang bahu ku perlahan mencoba menyadarkanku.

"Ya." Suara ku terdengar begitu pelan, aku bahkan tidak yakin bahwa sosok ini mendengar apa yang baru saja ku katakan.

"anda bisa beristirahat disini dulu Tuan jika anda merasa kurang sehat." Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat menolak usulannya, karena aku tidak ingin bertemu dengannya untuk saat ini.

"tidak perlu. Aku akan langsung kembali ke kantorku saja." Ucapku mencoba berdiri dengan dibantu sosok itu.

"kau ingin pergi dengan kondisi yang seperti ini? Yang benar saja. Apakah kau menginginkan aku mati karena mengkhawatirkanmu?"

suara itu.

Suara itu, surat berat yang sangat ku kenali.

Suara milik seorang Kim Taehyung.

Aku mencoba menolehkan kepalaku ke belakang dengan perlahan dan menemukan dirinya yang sepertinya baru saja keluar dari dalam lift.

Matanya memandang tajam diriku dan seperti sebelumnya aku hanya mampu tertunduk jika dia menatap dengan pandangan seperti itu.

Dia berjalan menghampiriku dan berdiri tepat dihadapanku. "aku akan mengantarkanmu pulang." Ucapnya begitu saja. "tidak perlu, aku bisa kembali ke tempatku sendiri Tuan Kim." Ucapku menolak tawarannya begitu saja membuatnya mendesis tidak suka dengan ucapanku.

"aku sudah pernah mengatakannya padamu bukan? Bahwa aku sangat membenci sebuah penolakkan Tuan Jeon Jungkook." Tatapannya semakin mengintimidasi diriku bersiap untuk beragumentasi dengan ku jika aku menolaknya.

"Tapi Tuan Kim –"

"berenti menjadi keras kepala Jeon Jungkook. Cukup turuti apa yang aku katakana saat ini." Suara meninggi seiring dengan penolakanku.

"kau akan pulang bersamaku apapun yang terjadi." Ucapannya yang penuh penekanan membuat ku terdiam.

Sialan, kenapa aku harus selalu merasa lemah jika menyangkut dirinya

"kau sakit, dan aku harus memastikan bahwa kau pulang ke rumah dan beristirahat dengan cukup." Suaranya kembali seperti biasa.

Tangannya terulur menarik pinggangku dan aku tidak menolak saat dia dengan perlahan menuntunku dengan perlahan.

Aku menundukkan kepalaku saat merasa semua orang yang berada di lantai ini menatap ke arahku. "berhentilah bersikap merendah seperti ini, kau akan menjadi milikku dan kau harus terbiasa dengan semua ini." Dia berucap pelan tanpa memandang ku sama sekali.

Miliknya? Aku bahkan belum memastikan hatiku untuk memilihnya.

Aku terlalu terlarut dengan pikiran ku hingga tidak menyadari bahwa kini aku sudah berada didepan gedung miliknya dan semua mobil mewah yang terparkir tepat dihadapanku.

"masuklah." Dia kembali menuntunku untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.

Beberapa detik kemudian dia sudah berada di dalam mobilnya dan duduk di tempat kemudi.

Dia tidak menggunakan jasa supirdahi mengerut saat melihat dia yang akan mengendarai mobil tersebut.

"aku tidak ingin siapapun mengganggu waktu kita." Dia menjawab begitu saja seolah mengerti maksud pandanganku dan aku lebih memilih untuk diam.

"aku akan menegur atasan mu karena menyuruhmu bekerja disaat kau sedang sakit seperti." Dia berbicara tanpa memandangmu, aku dapat melihat rahangnya yang tegas dengan jarak sedekat ini.

"tidak perlu, aku tidak sakit." Aku membatah ucapannya membuatnya mendelik kesal ke arahku.

"apanya yang kau katakan tidak sakit? Kau bahkan hampir tidak bisa berjalan jika aku tidak menuntun." Aku mengerang tidak suka dengan ucapannya yang seolah mengejekku.

"aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa seperti itu, aku merasa diriku baik-baik saja sebelum datang ke tempatmu." Dia terdiam begitu mendengar ucapanku.

"jangan katakan kalau kau sakit Karena diriku…." Aku terdiam mendengar ucapannya.

"karena itu membuatku terluka." Sambungnya. Matanya menatapku penuh rasa ke khawatiran dan sedikit rasa takut.

Sebelah tangannya menggenggam tanganku dan mengelusnya dengan lembut. "istirahatlah kau pasti sangat lelah." Aku tidak menjawab ucapannya dan lebih memilik terdiam menatap ke luar kaca mobilnya.

Suasana hening terus menyelimuti perjalanan ini sampai kemudian telah sampai di depan rumahku. "masuklah dan istirahat yang cukup jangan paksakan dirimu untuk bekerja terlalu keras." Tangannya terulur membelai surai hitamku.

Senyum tipis terpantri dengan indah dibibirnya dan itu cukup memberikan kejutan menyenangkan dihatiku. "apakah kau marah padaku?" aku tidak tahu bagaimana pertanyaan itu meluncur begitu saja keluar dari mulutku.

Diam terdiam beberapa saat dan menatapku. "aku tidak marah kepadamu, aku hanya merasa marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menjadikanmu milikku se utuhnya."

Ucapannya benar-benar memberikan semua lonjakkan besar dalam hatiku, sisi jahat dalam diriku bahkan tertawa senang begitu mendengar ucapannya.

"maka dari itu aku memberikanmu pilihan kau memilihku atau kau memilih- '"

"aku memilihmu. aku memilihmu Tuan Kim Taehyung. Aku ingin bersamamu."

.

.

.

T.B.C