Semuanya berjalan begitu cepat, Jungkook ditarik dengan gusar oleh kawan-kawannya keluar dari hutan, jalan keluar tak sesulit saat ia tersesat. Kini ia duduk termenung-menung didalam mobil Jip kakaknya, duduk dikursi belakang diapit Seokjin dan Jimin. Bayang-bayang kejadian yang baru saja terjadi masih berputar didepan matanya, wajah murka Taehyung sang penyelamatnya.
"Jungkook, sayang kau tidak apa-apa?" tanya Seojin disampingnya.
Jungkook tidak menanggapi, dia masih terperangah. Jimin hanya mengusap-ngusap punggung Jungkook untuk menenangkannya.
Bagaimana Jungkook tersesat, bagaimana dia bertemu Taehyung, bagaimana dia kembali bertemu kawan-kawannya belum sempat ia bagi ceritanya kepada mereka. Penilitian pun mendadak diberhentikan dan mereka kembali ke Seoul, meninggalkan sebuah tragedi didalam hutan.
*
*
*
The Amazing Boy
Cast :
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
and Other BTS member
TaeKook/VKook/BL/Fantasy/Romance
Note : Inspirition from Tarzan Film
All cast belongs to them, story and plot belongs to me
Happy reading !!!
*
*
*
*
*
Chapter 4
BigHit Corp. merupakan salah satu perusahaan gabungan para konglomerat ternama Bang, Kim, Min, Jung, Park di Seoul yang bergerak dibidang teknologi dan pengetahuan, mereka memiliki cabang dan menguasai berbagai aspek seperti pabrik smartphone ternama, mobil bahkan produk kecantikan, Laboratorium penelitian terbesar baik dibidang teknologi dan pengetahuan dan juga yayasan sekolah dari tingkat dasar sampai universitas yang nantinya menghasilkan para lulusan yang akan direkrut baik dipabrik maupun di laboratorium mereka.
Dan disinilah Jungkook mahasiswa semester empat Universitas BigHit duduk dikantin kampus memegang sebuah buku dengan kacamata baca bulat tergantung diujung hidungnya yang mancung. Tidak, dia tidak sedang membaca, dia hanya menatap kosong halaman buku dihadapannya itu, dia hanya- melamun. Sudah seminggu sejak insiden yang terjadi dihutan, Jungkook masih kadang berpikir tentang Taehyung, dia sempat bercerita kepada kakak dan teman-temannya kalau dia bertemu bocah luar biasa didalam hutan yang sudah menolongnya, namun tanggapan mereka hanyalah mengucapkan terima kasih dalah do'a, tidak bermaksud sama sekali meminta maaf atas apa yang sudah terjadi.
Jungkook berpikir, apa kabar Taehyung sekarang? apa dia masih marah seperti saat terakhir kali Jungkook melihatnya? Dan beberapa pemikiran lain yang menjadi tanda tanya besar di otak Jungkook. Bagaimana Taehyung bisa tinggal di hutan dan memiliki orang tua sepasang gorila sedang dirinya jelas-jelas termasuk dalam spesies manusia, terlepas dari kemampuan khusus yang ia miliki. Apa dulu dia sempat tersesat dan hilang dihutan? Atau dia ditelantarkan orang tuanya dihutan?
Berkutat dengan pemikirannya, tiba-tiba saja-
Cupp~
Sebuah kecupan singkat mendarat dipipi Jungkook, reflek buku yang disangganya terjatuh diatas meja.
"HYUUUNGGG~" protes Jungkook jengah tahu siapa sang pelaku, Jimin, yang sudah duduk dibangku dihadapannya.
"Salahkan dirimu yang melamun" Jimin meringis yang lalu mendapat dengusan dari Jungkook, dia mengambil buku yang jatuh terbalik diatas meja lalu menutupnya, melepaskan kaca mata bacanya yang kemudian ia letakkan diatas buku.
"Sudah ku bilang berhenti menciumku. Dasar hyung mesum" sebalnya. Kakak angkatan yang juga teman bekerja di laboratorium BigHit ini suka sekali menggodanya, entah karena naksir atau apa, bukan menyombongkan diri tapi Jimin memang seperti itu kepada Jungkook, awalnya memang terasa risih tapi seiring berjalannya waktu Jungkook sudah terbiasa oleh ulah Jimin, dan kadang Jungkook akui dia butuh Jimin menggodanya, KADANG. Hingga reaksinya sekarang bila Jimin mengodanya ia hanya akan mendengus atau kadang mengumpati Jimin.
"Aku tidak bisa menahannya kookie-ah, kau terlalu imut" kelak Jimin sembari menjawil dagu Jungkook jahil.
Jungkook hampir mengumpat pada Jimin kalau saja ponselnya tidak berdering. Jungkook mengambilnya dari saku celananya terlihat nama 'SeokJin Hyung' dilayar ponselnya, langsung saja ia mengangkat panggilan telpon itu mengabaikan Jimin dihadapannya.
"Ya hyung..."
Terdengar dari seberang sambungan kalau Seokjin memintanya mampir dulu ke rumah Namjoon sebelum ia berangkat ke Lab untuk mengambil salah satu hasil penelitian yang tertinggal di rumah Namjoon, dia hendak menolak karena Jungkook tidak pernah berkunjung ke rumah kekasih kakaknya itu, tapi dengan cepat Seokjin mengancam akan memotong jatah uang saku Jungkook kalau dia tidak mau membantu kakaknya itu. Jungkook mendengus lagi, salah apa dia memiliki kakak yang suka memerintah dan mengancam ini.
Akhirnya setelah panggilan terputus ia lalu bergegas mengemasi buku, kacamata dan ranselnya, menyesap minuman yang belum sempat ia habiskan lalu beranjak berdiri.
"Hyung aku pergi dulu, ada perintah dari nyonya besar, tolong bayar dulu minumanku ya !!!" Ujar cepat sebelum Jimin menanggapi dia sudah berlalu begitu saja sambil melambaikan tangannya secepat kilat menyambar.
"Ya... Jungkook-ah" Teriak Jimin begitu sadar, ia hendak akan ikut berlari mengejar Jungkook tapi karena dia mendapat tatapan mengerikan dari penjaga kantin Jiminpun berjalan terpaksa kearah kasir untuk membayar minuman Jungkook.
Jimin mengerutu panjang lebar sembari mengeluarkan black card dari dompetnya. Dan setelah menyelsaikan acara pembayaran minuman yang bahkan ia tidak nikmati barang setegak saja, kemalangan lain menimpanya. Dia menabrak dengan keras seseorang saat dia berbalik dari depan meja kasir, sehingga membuat keduanya terjatuh dilantai dengan Jimin yang menindih tubuh seseorang yang di tabraknya.
"YOONGI HYUNG..." teriak Jimin ketika menydari siapa yang sudah ditabraknya, yang langsung mendapat pandangan membunuh dari Yoongi, mati Jimin, sepertinya ia salah datang ke kantin siang ini.
*
*
*
Langit siang hari diatas hamparan hutan yang luas terlihat cukup cerah, Tahyung duduk diranting besar pohon yang cukup tinggi, mengayun-ngayunkan kakinya yang tergantung dari ranting, dia menatap burung-burung yang terbang melintasinya.
'apa kalian senang diatas sana? aku juga ingin terbang seperti kalian. Pasti sangat menyenangkan'. Ujarnya dalam benaknya berkomunikasi dengan burung-burung tersebut.
Perlahan tangannya meraih liontin emas berbentuk seperti arloji yang sebenarnya berfungsi sebagai kompas itu didepan dadanya, mengelus-mgelus permukaanya yang terlihat masih berfungsi karena jarum magnetnya masih menunjuk ke arah N dan S secara benar. Taehyung menurunkan pandangan dari langit menuju ke liontin yang ia gantungkan dilehernya itu. Kalung Liontin itu ia dapatkan dari ibunya sepeninggal ayahnya. Entahlah semuanya terasa janggal, kenapa ibunya memberikan liontin yang katanya ditemukan bersama bayi Taehyung itu setelah ayahnya meninggal. Ibunya hanya berucap kalau sudah saatnya Taehyung mencari orang tuanya, orang tua kandung Taehyung, manusia pastinya.
Dia membuka liontin itu menjadi dua bagian yang menyambung, di satu sisi nampak sebuah potret sepasang manusia dengan sang wanita menggendong seorang bayi mungil yang ia yakini itu dirinya, sang laki-laki memeluk keduanya dengan bahagia. Dan disisi permukaan yang lain terdapat ukiran miring bertuliskan 'We Love You Kim Taehyung, Our Son' meski ia tidak paham apa arti dari kalimat itu, tapi ia yakin kalimat itu berharga bagi dirinya, karena menyebut namanya didalamnya.
Ia mengelus potret itu sekali lagi beserta ukiran kalimat itu, lalu menutup kembali liontinnya. Dia kembali mendongak keatas melihat burung-burung yang terbang.
'kalau aku bisa terbang, apa aku bisa menemukan orang tua kandungku? ayah? ibu? dimana kalian? kenapa kalian meninggalkanku disini sendirian? dan... apa aku juga bisa menemuinya' -nya yang dimaksutkan Taehyung pastilah Jungkook, entahlah dia hanya ingin bertemu dengannya meski hanya sekali lagi terlepas dari apa yang sudah teman-teman Jungkook lakukan kepada ayahnya.
*
*
*
Jungkook sampai dirumah Namjoon sekitar pukul tiga sore, digerbang pintu rumah ia langsung disambut oleh penjaga rumah yang mengantarnya menuju rumah utama keluarga Kim menggunakan motorcar karena halaman keluarga Kim yang cukup besar, maklum, keluarga Kim merupakan merupakan salah satu pemilih saham terbanyak BigHit Corp. setara dengan keluarga Bang. Dengan sisa saham yang lain dimiliki oleh keluarga konglomerat Min, Jung dan Park.Keluarga tiri Jungkook bermarga Kim tapi keluarganya bukan termasuk keluarga Kim yang konglomerar merat itu. Keluarganya hanyalah keluarga sederhana, mereka, Seokjin dan jungkook beruntung dapat masuk dalam lingkungan BigHit murni larena prestasi mereka.
Sesampainya dirumah utama Jungkook berganti disambut salah satu maid Namjoon katanya sudah mendapat pesan dari tuan rumah kalau Jungkook akan mampir kekediaman mereka, bersyukur hal itu mempermudah Jungkook mendapatkan hasil penelitian yang ditinggalkan Jin di rumah kekasihnya ini. Entahlah kenapa kakaknya bisa berpacaran dengan Namjoon dia juga tidak mengerti.
Jungkook menunggu sebentar diruang tamu yang terlihat sangat mewah bagai istana itu, sang maid mengambilkan berkas yang dimaksud dari dalam ruang kerja Namjoon, katanya.
"Apa benar yang ini tuan Jungkook?" sang maid mengulurkan map tebal berwarna biru kepada Jungkook.
Jungkook mengamati, sepertinya memang benar itu, tapi karena takut salah dia berinisiatif mengambil ponselnya lalu memotret berkas itu untuk dikirimkan ke Seokjin untuk memastikan. Dan tak lama setelah itu Seokjin menghubunginya.
"iya, benar yang itu Jungkook. Cepat bawa kemari" pesannya dipanggilan lalu mengakhiri panggilan. Jungkook berdecak kesal, dianggap Jungkook ini adiknya atau babunya.
Jungkook bangkit dari duduknya lalu membungkuk kepada maid Namjoon berterima kasih lalu pamit. Namun saat kakinya hendak melangkah, matanya menagkap sesuatu yang menarik perhatiannya.
Sebuah figura besar dengan potret keluarga Kim bertengger didinding ruang tamu. Jungkook menyipitkan matanya sembari berjalan mendekati figura. Dia mengamati satu persatu sosok didalam potret tersebut.
Pertama yang diperhatikan sosok lelaki tua yang terlihat masih tegas duduk disebuah sofa, dia tahu sosok ini, sosok ini sangat terkenal Jungkook sering melihatnya di TV maupun majalah saat ia masih kecil, sosok ini pimpinan utama keluarga Kim, kakek Namjoon, yang Jungkook tahu, beliau sudah meninggal 3 tahun yang lalu, kemudian dia beralih ke sosok anak laki-laki yang dipangku pimpinan keluarga Kim dari wajahnya Jungkook yakin, anak laki-laki itu Namjoon. Dan kemudian dua sosok lainnya sepasang suami istri berdiri dibelakang sofa, Jungkook mengenal itu sebagai ayah dan Ibu Namjoon. Serta ada juga ketiga sosok yang lain yang tidak dikenali oleh Jungkook dari keluarga Kim. Sepasang suami istri lain yang berdiri disamping ayah dan ibu Namjoon dengan sang istri menggendong seorang bayi yang masih sangat mungil. Yang paling menarik perhatiannya adalah sosok sang bayi, wajahnya begitu familiar bagi Jungkook, wajahnya mirip... Jungkook berpikir menggali otaknya kira-kira wajah yang familiar itu milik siapa, wajah itu... mirip Kim Taehyung.
"Ada apa tuan Jungkook?" pertanyaan maid yang sudah berdiri disampingnya membuyarkan pandangan Jungkook dari figura besar itu.
"hhm... maaf, kalau boleh tahu mereka ini..." Jungkook menunjuk bergantian suami istri yang menggendong seorang bayi dalam potret tersebut "... siapa?"
"Ahh... anda tidak tahu? mereka ini tuan Kim Jaehyung putra kedua keluarga Kim bersama istrinya Nyonya Kim Taehee, dan bayi mungil yang sangat tampan ini adalah tuan muda Kim Taehyung" Maid itu menjelaskan sambil tersenyum seolah mengagungkan sosok-sosok yang diceritakannya.
Kim Taehyung? apa Kim Taehyung itu sama dengan Kim Taehyung yang Jungkook kenal? Lalu...
"Lalu dimana mereka sekarang? kenapa saya tidak pernah melihat mereka bersama diacara-acara keluarga Kim?" Tanya Jungkook yang seketika mengubah raut wajah sang maid yang tadinya sumringah menjadi meredup sendu.
"Mereka... " maid itu semakin menunduk menyembunyikan kesedihannya. "Tuan dan Nyonya Kim ditemukan meninggal karena serangan gorila saat melakukan penelitian dan karena polisi tidak menemukan tubuh tuan muda Kim Taehyung, mereka mengira kalau tuan muda Kim Taehyung menjadi santapan para gorila itu" Jelas maid itu terlihat sembari menyeka air mata diujung matanya yang hampir turun.
Jungkook membuka mulutnya lebar merasa tidak percaya, kalau benar yang diceritakan sang maid. Berarti kemungkinan besar Kim Taehyung yang dikenalnya merupakan salah satu keturunan dari keluarga Kim yang hilang. Tidak, Taehyung tidak menjadi santapan para gorila, justru para gorila itu yang merawat Taehyung.
"Tapi... Tapi kenapa mereka membawa seorang bayi dalam penelitian?" pertanyaan lain diajukan Jungkook sebagai rasa penasarannya. Semuanya terlalu mengejutkan baginya, bagai benang takdir yang memang digaris kan Tuhan, pertemuannya dengan Kim Taehyung di dalam hutan ternyata memiliki hubungan dengan keluarga kekasih kakak tirinya ini.
"Kami... Kami tidak tahu tuan, yang kami dengar hanya sebatas itu" Jungkook mengangguk mendapar jawaban dari sang maid, mengerti.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi. Selamat sore" Jungkook membungkuk kembali yang kemudian mendapat balasan dan ucapan yang sama dari sang Maid.
*
*
*
Sepanjang perjalan Jungkook masih saja memikirkan penjelasan salah satu maid dirumah Namjoon dari potret keluarga Kim. Jungkook terheran dengan kemampuaan menyetir, bagaimana ia bisa sampai dengan selamat diparkiran BigHit Laboratorium dengan begitu banyak yang ia pikirkan.
Sadar ia sudah ditunggu sang kakak, iapun bergegas mengambil berkas yang sebelumnya ia taruh dijok penumpang disampingnya, lalu keluar dari mobil menuju lobi laboratorium.
Sesampainya di lobi ia langsung mendapat sambutan pelukan dari kakaknya. "Kau penyelamatku, Kookie-ah"
Jungkook meringis canggung dengan pelukan kakaknya, yang benar saja, mereka berpelukan di lobi lab yang tidak sepi ini. "Baiklah... sudah kulakukan tugasku, sekarang lepaskan aku hyung" Jungkook menahan kedua bahu Seokjin untuk segera melepaskan pelukannya.
Seokjin tersenyum setelah melepaskan pelukannya lalu mengusap puncak kepala Jungkook yang langsung mendapat protes dari sang pemilik. Seokjin hanya semakin tersenyum, aduh, adik kecilnya ini sudah dewasa rupanya, dia sudah tidak mau diperlakukan seperti anak kecil lagi.
"kalau begitu aku kembali ke ruanganku kook, kau juga kan?" Seokjin meraih berkas ditangan Jungkook lalu hendak berbalik kalau saja Jungkook tidak menahan berkasnya untuk diberikan kepada Seokjin. Seokjin menoleh seolah bertanya ada apa lagi kepada adiknya itu.
"hhm... Hyung!!! Aku- Aku ingin kembali ke hutan itu" ujarnya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Seokjin. Tangan mereka masih sama-sama memegang berkas bersamaan.
"Apa? Kembali? Kehutan? Kau tidak ingat kita hampir celaka gara-gara..."
"Hyung, aku harus pergi kesana. Ada sesuatu yang harus kupastikan" sela Jungkook memotong kalimat Seokjin dengan mantap, ia dia sudah memutuskan, maka itu yang akan ia lakukan.
*
*
*
*
*
Tbc
-
Update tengah malam !!! udah kayak BigHit saja hehehe
Minal Aidzin ya maaf baru sempet update, saya lupa diri kalau lagi liburan, inspirasinya ilang begitu saja. Tapi percayalah ide awal cerita ini memang ini, alurnya memang seperti ini. Harap maklum ya kalau ada kejanggalan cz gk baca ulang previews chapternya. Nulisnya juga udah kayak karya anak SD. Ah sudahlah yang penting update!!!
Hansang Gomawo~ buat para readers yang udah baca sama yang udah reviews semoga gk bosen menantikan kelanjutan kisah kasih Taerzan dan Jungkook.
Salam Jibangie
