.

.

Chapter 6

.

.

"maka dari itu, Jeon Jungkook jadilah milik ku"

.

Jungkook terdiam, merasa terkejut akan ucapan yang baru saja Taehyung lontarkan, terlalu lambat bagi Jungkook untuk mengartikan semuanya, karena Taehyung bergerak lebih cepat dari apa yang dia kira

.

"bukankah terlalu cepat? Bukankah ini terdengar mustahil saat ini? Kau terlalu manis untuk mengucapkan itu kepada ku" Jungkook menatap lurus ke dalam manic mata Taehyung, membuat Taehyung terpaku dengan tatapan tersebut.

"bukankah cinta memang seperti itu? Bukankah dia datang tanpa bisa ku cegah?" ucap Taehyung membalas tatapan Jungkook.

"kau terlalu asing untuk ku" ucap Jungkook dengan mendorong bahu Taehyung perlahan, menjauhkan tubuh Taehyung dari nya.

"Benarkah aku begitu asing untukmu." Taehyung tersenyum miris begitu mendengar ucapan Jungkook, membuat Jungkook mengalihkan wajah agar tidak menatap Taehyung.

"Aku tidak mengenalmu dan tidak ingin mengenal mu." Jungkook Kembali.

Kembali menjadi Jungkook yang sebelumnya, Jungkook berwajah dingin dengan ekspresi datar andalannya.

"kau hanya belum merasa tertarik dengan ku Jungkook." Ucap Taehyung.

"Kenapa kau menjadi seperti ini? Apa kah ini cara terbaru mu untuk kembali menaklukkan ku ? kau ingin mengatur hidup kembali? Atau kau ingin mengendalikan ku?" Taehyung hanya menghembuskan napas lelah menanggapi ucapan sinis yang Jungkook berikan padanya.

"bisakah kau mempercayaiku? Hanya untuk kali ini." Lirih Taehyung.

"mempercayai orang yang sudah mengkhianati ku untuk yang kedua kalinya adalah hal yang mustahi untuk ku."

"Aku tidak mengkhianati mu Jungkook, semua yang kulakukan itu-"

"aku tidak perduli, saat kau sudah menjatuhkan harga diriku dan tidak mempercayaiku walaupun itu hanya semata kepura-puraan mu bagi ku itu sama saja, sama-sama sesuatu yang paling ku benci."

"Jadi biarkan aku keluar dari ruangan mu ini sebelum rasa benci diriku kepada mu semakin bertambah." Jungkook segera beranjak dari sopa diruangan Taehyung dan berniat meninggalkan ruangan tersebut sebelum Taehyung lebih dulu menarik lengan Jungkook dan menyatuhkan kedua belah bibir mereka.

Hanya ciuman semata, tanpa lumatan, tanpa kecapan, tanpa napsu.

Taehyung hanya ingin membuktikan kalau dirinya tulus mencintai Jungkook, tanpa berniat lain seperti yang dimaksud oleh Jungkook.

Jungkook yang yang mendapati bahwa bibir Taehyung tengah berada di atas bibirnya hanya terpaku, tidak mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini.

Jungkook mencoba memahami perasaan yang Taehyung coba sampaikan lewat ciuman ini, karena Jungkook ingin, ingin merasakan perasaan seperti itu.

Perasaan bahwa dia memiliki seseorang yang mencintainya, perasaan bahwa dirinya tidak akan merasa sendirian, perasaan yang membuatnya nyaman. Dan Hanya Taehyung yang mampu memberikan nya.

Bolehkan dia berharap lebih terhadap Taehyung, guru yang selama dua bulan ini mengusik hidupnya, gurunya telah membuat percaya bahwa dia akan…. Bahagia.

Taehyung melepaskan ciumannya saat merasaan napas Jungkook yang sudah mulai ter-engah, kemudian menyatuhkan kembali kedua kening mereka.

"Ku mohon kembalikan Jungkook-ku yang dulu, Jungkook-ku yang telah membuat ku berubah sejauh ini, Ku mohon kembalikan dia kepadaku." Bisik Taehyung lirih dengan nada suaranya yang bergetar.

Jungkook tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Taehyung, siapa Jungkook yang dimaksud Taehyung, dia ini Jungkook dan Jungkook sangat Yakin bahwa dia tidak pernah mengenal Taehyung sebelumnya.

Jungkook berniat menanyakan apa maksud dari ucapan Taehyung, sebelum seseorang dengan lancangnya masuk ke dalam ruangan Taehyung.

"Taehyung apa kau-" Orang itu-Park Jimin- hanya mampu membeku di depan pintu ruangan Taehyung saat melihat posisi yang terlihat begitu intim yang sedang dipertunjukan sahabatnya dengan muridnya itu.

Jungkook yang mengerti maksud dari apa yang di pikirkan jimin dengan segera mendorong Taehyung dan segera keluar dari ruangan Taehyung dengan terburu-buru hingga menabrak bahu Jimin.

Sedangkan Taehyung hanya berdecah kesal akan kedatangan sahabat nya itu.

"Jika kau ingin masuk cepat masuk dan tutup pintunya jangan seperti orang bodoh dengan berdiri disitu." Jimin bergerak tertatih menutup pintu ruangan Taehyung, pikirannya masih mem-proses kejadian yang baru saja dia lihat dan setelah mengerti akan kejadian tersebut membuat jimin memekik tertahan.

"Ya tuhan! Kalian berciuman?" Tanya Jimin antusias membuat Taehyung membuat kedua bola matanya menanggapi tingkah sahabatnya itu.

"Ya" ucap Taehyung singkat, membuat pekikan Jimin semakin keras.

Tidak memperdulikan tingkah Jimin, Taehyung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya dan menghubungi seseorang.

"Namjoon Hyung."

"….."

"ahh, Tidak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu."

"….."

"Terima kasih telat membantu Jungkook dan terima kasih telah menjaga nya sampai saat ini dan terima kasih telah melindunginya disaat aku tidak ada di sampingnya, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu Hyung dan aku berhutang budi denganmu."

"….."

"haha baiklah aku mengerti. Mulai saat ini biarkan aku yang menjaganya Hyung."

"…."

"Ne."

"….."

"Ne Hyung, Terima kasih. Aku akan menghubungimu lagi nanti." Taehyung mematikan panggilan telponnya dan menyimpan ponselnya dan Taehyung mendecah kesal begitu dia melupakan sesuatu, sesuatu bahwa dia tidak seorang diri di ruangannya saat ini.

Taehyung menatap Jimin yang mungkin sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan tajam dan penuh tanda tanya miliknya itu.

"Taehyung siapa Jungkook sebenarnya ? Dan siapa Jungkook bagi mu? Apa hubungan kalian selama ini? Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dan aku tahu kau mempunyai maksud lain di sini, karna tidak mungkin kau mengajak ku menyamar menjadi guru dan melepas kursi direktur mu semudah itu tanpa alasan."

.

.

.

T.B.C