Chapter 2 : Nii-chan Onegai?

Sebelum membaca, saya beritahukan ini pairnya SasuNaru

Otaku-kun to Asuriito-chan

Copyright © Kiiroame

Happy Reading!

Kushina melepas celemek yang dipakainya saat dia memasak tadi. Rambut merah sepunggungnya dikibaskan bak iklan shampo. Tangannya mulai meletakkan piring-piring ke atas meja makan. Tiap-tiap piring berisikan dua butir telur mata sapi dan sosis yang dipotong kecil-kecil. Hanya tiga piring, untuknya sendiri dan kedua anaknya. Sesekali dia bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar di radio.

Setelah melihat meja makannya yang tertata rapi, dia tersenyum sumringah. Dia lalu duduk di salah satu kursi dan menyesap kopi pagi harinya. Desahan puas terdengar seakan ingin membuat seisi dunia tahu kalau dia tengah melewati pagi yang sempurna. Tangannya terangkat menyentuh pipinya. Dia sangat bersyukur memiliki anak-anak yang disiplin sehingga dia tidak harus berteriak-teriak setiap pagi hanya untuk membuat mereka bangun seperti di cerita-cerita yang pernah dibacanya.

Ngomong-ngomong soal anak, dia memiliki dua anak, satu orang putera dan satu puteri. Oh, apakah tadi dia sudah menyebutkan soal anak-anak kebanggaannya?

Anak sulungnya bernama Naruto Namikaze yang berumur 23 tahun, memiliki rambut pirang seperti ayahnya namun mewarisi wajah ibunya. Naruto adalah seorang atlet Kyuudo yang sudah digelutinya sejak kecil dan juga memiliki sebuah event organizer sejak beberapa tahun yang lalu. Anak yang juga memiliki mata biru seperti dirinya ini adalah seorang workaholic layaknya dia dan suaminya. Hal ini kadang-kadang membuatnya kesal karena Naruto selalu mendahulukan pekerjaannya daripada melakukan hal yang biasa pria seumurannya lakukan. Pacaran, misalnya.

Sedangkan anak bungsunya bernama Karin Namikaze. Berbeda dengan Naruto, Karin memiliki rambut merah panjang seperti ibunya. Saat ini dia sedang mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas. Gadis berkacamata ini lebih suka belajar daripada olahraga, karena olahraga akan membuatnya berkeringat dan bau. Tipikal gadis remaja.

Speak of the devil, Karin masuk ke ruang makan dengan seragam sekolahnya serta tas hitamnya. Dia langsung duduk di seberang ibunya. Melihat hanya ada tiga piring, alis merahnya terangkat heran.

"Di mana ayah?" tanyanya singkat. Dia meraih segelas susu di depannya dan mulai menenggak minuman putih itu. Matanya melirik sang ibu, menantikan jawaban.

"Ayahmu sudah pergi duluan tadi." jawab ibunya. Dia tersenyum melihat Karin mengikat rambutnya, kebiasaan anak itu sebelum makan. Kushina berjalan ke belakang Karin, dia menyentuh pundak anaknya itu dan mulai menyisir rambutnya dengan jari. Karin hanya tersenyum kecil, membiarkan ibunya mengurus rambut merahnya.

Tangan terampil Kushina mulai membentuk jalinan-jalinan rambut seperti menganyam. Sudah lama dia tidak begini, mengingat dia berada di Boston selama empat bulan terakhir. Alasan dia di sana adalah karena ibu mertuanya sedang sakit. Karena suaminya tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya, jadi dia yang harus pergi ke kampung halaman suami tercintanya itu. Malang sekali ibu mertuanya di sana, sendirian setelah suaminya meninggal dan anak tunggalnya berada di Jepang. Andai saja ibu mertuanya itu mau pindah ke Jepang bersamanya. Usulan pindah ke Jepang itu selalu ditolak dengan alasan dia ingin mengenang masa-masa dia bersama suaminya.

Anyaman rambut Karin sudah sampai ke ujung, Kushina lalu mengikatkan karet gelang di sana dan menutupinya dengan sebuah pita berwarna putih. Dia menepuk-nepuk tangannya kegirangan melihat hasil kerjanya yang memuaskan. Dia bertatapan dengan Karin sambil tersenyum. "Arigatou, ibu." ucap Karin.

Sebelum Kushina sempat beranjak dari tempatnya berdiri, pipinya sudah dikecup oleh anak sulungnya. Senyum kembali merekah di wajah ibu dua anak itu ketika sang pelaku penciuman itu juga mengecup pipi Karin. "Ohayou." sapa Naruto kalem.

Naruto lalu duduk di samping Karin dan ibu mereka juga duduk di tempatnya semula. "Nii-chan ohayou!" sapa Karin riang. Kakaknya itu tersenyum pada sang ibu lalu mulai menyantap sarapan. Dari penglihatan Karin tentang kakaknya yang memakai pakaian santai serta handuk kecil yang mengalung di lehernya itu, pasti Naruto habis mandi setelah lari pagi.

Naruto memanglah atlet Kyuudo, tapi dia sangat menyukai lari. Paling tidak dia harus lari lima kilo meter perhari agar menjaganya tetap bugar. Sampai-sampai tubuh bagian bawahnya lebih terbentuk daripada tubuh bagian atasnya. Belum lagi dia akan ikut marathon tahunan, jadi dia harus mengikuti menu latihannya dengan ketat.

"Ah, Karin, ingat apa yang ibu katakan tadi malam? Jangan lupa pergi ke rumah keluarga Uchiha setelah pulang sekolah." ucap Kushina tiba-tiba membuat Karin tersedak. Naruto langsung menyuguhkan segelas air putih pada adiknya. Saat Karin minum, Naruto mengelus punggung adiknya. Kepalanya menengok untuk melihat ibunya.

"Kenapa?" tanya Naruto singkat. Dia tahu betul kalau teman ibunya adalah salah satu anggota keluarga itu. Dia juga kadang-kadang menemui Mikoto oba-sama, tapi ini pertama kalinya mendengar ibunya menyuruh Karin kesana. Padahal ibunya tahu kalau Karin tidak begitu bagus dalam hal bersosialisasi.

Pelukan erat tiba-tiba diterima Naruto. Adiknya itu memeluknya sambil dengan pandangan berkaca-kaca. Tangan Naruto terulur untuk mengelus kepala Karin. "Ibu akan menjodohkanku dengan anak dari keluarga Uchiha, Nii-chan. Padahal aku kan masih sekolah dan juga aku sedang naksir dengan seorang senpai. Hueee Nii-chaaan!" Kushina langsung menyerngit kesal mendengar puterinya meraung pada sang kakak.

Naruto memandang ibunya heran. "Bukannya Itachi Nii-sama sudah menikah? Masa ibu tega menjadikan Karin isteri kedua? Lagipula Karin masih terlalu belia, ibu." bela Naruto sambil masih berpelukan dengan adiknya. Sedangkan si adik menyeringai di dalam pelukan kakaknya.

Mendecak kesal, Kushina bersedekap memandang kedua anaknya yang bersikap berlebihan. "Kalian berbicara seolah ibu akan menikahkan Karin hari ini. Ibu kan hanya memintanya untuk bertemu dengan Sasuke, bukan Itachi. Kalau tidak cocok kan bisa menolak." jelas sang ibu setengah kesal. Kakak beradik di depannya ini kadang sangat kompak dalam hal bela-membela.

"Aku tetap tidak mau! Kenapa bukan Nii-chan saja yang pergi? Lagipula kan dia juga aneh, mengatakan sesuatu seperti 'laki-laki atau perempuan tidak masalah'." Karin melepas pelukannya lalu bersedekap mengikuti ibunya,

Naruto langsung kesal, "Kenapa jadi aku?" adiknya ini benar-benar, padahal tadi sudah dibela tapi si habanero kecil ini malah melimpahkan masalah padanya.

"Memangnya Nii-chan pernah tertarik dengan perempuan? Tidak, 'kan?" suara Karin meninggi. Kushina mengurut keningnya, kenapa kedua anaknya jadi bertengkar begini? Hancur sudah paginya yang sempurna.

"Tapi kan bukan berarti aku tertarik dengan laki-laki. Maksudku, aku tidak punya waktu untuk ini." sahut Naruto agak kesal sambil mencoba untuk tetap tenang.

"Mou, Nii-chan. Gantikan aku yah? Aku juga tidak punya waktu untuk ini, kau tau aku harus belajar keras agar aku bisa masuk universitas yang bagus nantinya 'kan? Kumohon." Alis menukik Karin tadi tiba-tiba hilang dan tergantikan dengan tatapan memelas. Kedua tangannya ditempelkan dan membentuk gestur memohon.

'Saa, Nii-chan tidak akan kuat menolakku hehe.' batin Karin dalam hati. Kakaknya ini kan sangat sayang padanya, mana mungkin dia bisa melihat adik kecilnya memohon-mohon. Terbukti dari tatapan kesal Naruto yang mulai pudar. Naruto menghela napas berat,

"Haah, baiklah. Aku yang akan pergi." ucap Naruto pada akhirnya. Karin memang tahu kelemahannya yang satu ini. Dia menulikan telinganya dari kata-kata terimakasih Karin. Dia juga menghiraukan Karin yang mencium pipinya sambil mengucapkan ittekimasu. Dia tidak percaya kalau adiknya baru saja memanfaatkannya.

Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini memang sudah tugasnya sebagai kakak. Dia juga tidak bisa membiarkan Karin dijodohkan saat usianya masih begitu muda. Naruto menghela napas lagi lalu menatap ibunya yang setengah menyeringai. "Jangan melihatku begitu, aku hanya akan menemuinya sebentar lalu pulang."

Mendengar itu, ibunya mengerucutkan bibir bak anak gadis yang sedang ngambek. "Hee, tidak asik! Padahal ibu pikir kau akhirnya akan punya pacar." Naruto memutar bola matanya. Kenapa dari dulu ibunya ini bersikeras sekali menginginkan dia punya pacar. Pacar itu kan cukup merepotkan dan membuang-buang waktu.

"Memangnya ibu tidak apa-apa jika aku punya pacar pria? Bu-bukannya aku mau pacaran dengan dia loh." Kushina terkikik geli. Naru-chan kesayangannya ini begitu manis ketika sifat tsundere-nya sudah keluar.

"Tidak apa-apa, lagipula kan sekarang teknologi sudah canggih. Kalau kau ingin memiliki anak dari hubungan sesama jenis kan gampang."

"I-ibu! Kenapa memikirkan hal sejauh itu!"

Kushina tergelak bebas melihat wajah anak sulungnya yang merah padam. Menggoda anaknya yang satu ini memang paling menyenangkan. Dia menenggak air putih sebelum berdiri. "Naru-chan yang manis, ibu akan pergi. Jadi tolong bereskan meja makan yah. Jangan lupa memakai pakaian yang bagus jam dua nanti, siapa tahu kau jatuh cinta pada Sasuke-kun." Kushina kembali tergelak mendengar Naruto mengerang malu. Dia lalu mengacak rambut pirang Naruto sebelum pergi dari ruang makan itu.

Naruto menghela napas berat. Dia menatap piringnya dengan tidak selera namun tetap memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dia mengingat ulang kejadian mengejutkan yang baru saja terjadi sebelum akhirnya mengerang frustasi. Memejamkan matanya, dia memutuskan untuk menerima semuanya dengan tenang.

'Jam 2 ya..."


Terimakasih kepada seluruh pembaca, dan reviewer serta yang sudah memfavoritkan dan mengikuti cerita ini

Terimakasih yang spesial kepada fadiazzhra, Hyull, cc, Guest, shirosuke

Untuk reviewer yang sudah log in, saya akan balas lewat pm 😊

Guest-san, pairnya sudah saya sebutkan di awal. Terimakasih sudah review!

Cc-san, Sasu pasti sama Naru kok. Kecuali saya ada ide jahat ke depannya nanti heheh. Terimakasih sudah review!