Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto. kalau milik saya sih pasti kapal saya nggak akan tenggelam (((sudahlah, nak)))
Standard warning applied. AU. OOC. Rate M for Mature content.
Happy reading!
Saat itu jam di pergelangan tangan Ino masih menunjukan pukul sembilan pagi, namun suasana hatinya sudah jelek sekali.
Sejak tadi Ino cuma memandangi dengan bosan pada kerumunan orang yang berlalu lalang di sekitarnya, sambil sesekali menyesap susu rendah kalorinya, dan sesekali juga sebuah gerutuan kesal keluar dari mulutnya. Wajahnya masam, antara karena efek belum mandi dan tidak pakai make-up, atau merasa kesal sendiri pada apa yang bosnya itu lakukan padanya pagi tadi. Ternyata cukup menjengkelkan juga dituduh yang macam-macam oleh seseorang yang sudah susah payah ditolong olehmu semalam, pikir Ino.
Bahkan yang lebih menyebalkannya lagi adalah Uchiha Sasuke meninggalkannya begitu saja dalam apartemennya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sosoknya benar-benar tidak kelihatan setelah mendengar penjelasan Ino tentang apa yang terjadi pada malam di mana pria itu mabuk. Entah karena bosnya itu malu atau bagaimana, waktu Ino juga tidak mau ambil pusing sebenarnya jadi tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, langsung saja Ino pergi dari apartemen milik Sasuke setelah merapikan penampilannya terlebih dahulu.
Ino mendengus, menyadari betapa konyolnya pemikirannya sendiri. Memangnya dia berharap apa? Berharap ucapan terima kasih? Tidak akan, Sasuke terlalu sombong untuk mengucapkan terima kasih pada seseorang.
Tapi harusnya dia tidak lenyap begitu saja! Setidaknya harusnya dia bersyukur berkat kepedulianku padanya!
Sejujurnya Ino juga merasa aneh pada dirinya sendiri. Mengapa semalam dia tidak langsung pergi saja setelah memastikan bahwa pria itu sudah tertidur aman di atas ranjangnya? Kenapa juga dia malah harus merasa kasihan melihat Uchiha Sasuke yang biasanya angkuh berubah menjadi sangat menyedihkan sampai akhirnya hatinya luluh dan membiarkan dirinya berbaring menemani Sasuke sampai ketiduran. Ah, mungkin ini pasti hanya karena Ino tumbuh besar di dalam didikan untuk peduli terhadap sesamanya, termasuk pada orang yang senang memandanginya dengan tidak senonoh.
"Semakin dipikirkan malah semakin menjengkelkan," desisnya dengan sudut bibirnya yang berkedut.
Padahal ini adalah hari liburnya. Seharusnya Ino menghabiskan waktunya untuk memanjakan diri sendiri, terlebih menjadi sekretaris Uchiha Sasuke itu sejujurnya berat bagi tubuh mau pun jiwanya. Namun dia juga tidak mengerti kenapa malah memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di tempat ini, tepat di salah satu kedai yang letaknya masih dalam distrik Shibuya dan memesan segelas susu rendah lemak dan seporsi salad dengan granola yang tidak benar-benar bisa dinikmati olehnya.
Ino sadar kalau apa yang dilakukannya memang kurang kerjaan. Sebab harusnya dia pulang saja langsung ke rumahnya dan tidak perlu mampir ke tempat yang tidak dibutuhkan seperti ini hanya karena suasana hatinya yang buruk. Ino menyesap susunya lagi, berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa dan berharap susu hangatnya setidaknya bisa membuat syaraf-syaraf di otaknya yang tegang menjadi agak lebih rileks.
Tepat saat Ino mulai bosan, ponselnya yang sengaja diletakan di atas meja berbunyi, dan Ino malah semakin badmood saja melihat ada nama bosnya di layar ponsel yang menyala. Sambil mendengus, Ino mengangkat panggilan itu ogah-ogahan.
"Ada apa?" ujarnya yang dibuat sedatar mungkin. Menahan diri agar tidak mengeluarkan isi hatinya pada seseorang yang entah sedang ada dimana itu.
"Kau sekarang sedang dimana, Yamanaka?" Suara Sasuke pelan dan penuh penekanan. Suara ini sama seperti biasa ketika pria itu menyuruh-nyuruh Ino di kantornya. Sudut-sudut di bibir Ino kembali berkedut jengkel, membuat senyuman aneh muncul di wajahnya yang masam.
"Yang jelas aku sudah pergi dari tempat tinggalmu, jika hal itu yang ingin kau tahu. Jadi tidak usah terlalu cemas, Uchiha-san." Sahutnya sarkas sambil memasukan sesendok salad ke dalam mulutnya. Tidak mungkin kan dia bakal tetap bertahan dalam tempat itu sedangkan si pemiliknya saja sudah pergi entah kemana.
"Aku ada di rumahmu sekarang-"
"Uhuk!" Ino tersedak saladnya yang belum benar-benar melewati tenggorokannya, dan dia kini sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tidaķ terlihat memalukan karena tersedak di depan umum. Hanya karena mendengar seorang pria yang tadi meninggalkannya begitu saja kini ternyata sedang berada di rumahnya.
Sejujurnya bukan hal yang asing jika Sasuke bisa berada di rumahnya. Semenjak rencana perjodohan itu diumumkan, baik keluarganya maupun keluarga dari pihak Sasuke selalu punya cara untuk mendekatkan mereka berdua, dengan banyak cara. Tangan Ino melambai pada pelayan yang melihat ke arahnya, dengan bahasa isyarat Ino meminta segelas air mineral dan pelayan itu mersepon dengan anggukan seolah mengerti apa yang coba Ino katakan.
Ino masih terbatuk-batuk saat Sasuke membuka suaranya lagi, "Kau ini kenapa?"
"Tidak, aku baik-baik saja," ujarnya setelah menerima sebotol air mineral dan langsung menegak isinya, menghela napas lega. "Terima kasih," kali ini dia berkata ramah pada si pelayan muda yang wajahnya cukup tampan menurut Ino.
"Jadi sebenarnya sekarang kau dimana?" Sasuke bertanya lagi, nada bicaranya jelas sekali menunjukan bahwa dia sudah tidak sabar pada Ino.
"Aku sedang sarapan di tempat yang cukup jauh dari rumahku, Pak Direktur." Ino hanya mengacak-acak saladnya dengan garpu, sambil menebak-nebak ada apa gerangan yang membuat Sasuke yang tadi menghilang begitu saja kini tahu-tahu sudah berada di kediamannya. Pria itu sedang bercanda atau apa sih? Pikir Ino keheranan, tapi tidak mau diambil pusing.
Biarkan saja, toh Sasuke memang suka bertingkah seenaknya. Ino hanya harus mulai terbiasa dengan sikap atasannya yang satu itu.
"Pulang sekarang kalau kau ingin tahu kenapa aku di rumahmu."
"Sepertinya kau senang sekali menggangguku ya, Uchiha ..." desis Ino sebal, "Aku sampai tidak bisa menelan saladku gara-gara kau," tambahnya lagi sambil mendengus. Sebenarnya dia suka rasa granola dalam saladnya. Namun Ino merasa benar-benar tidak bisa menikmati sarapannya. Melewatkan waktu sarapan sebenarnya sudah biasa buat Ino, dia bahkan bisa hanya minum segelas air putih sebagai pengganjal perut sampai jam makan siang akibat dietnya yang ketat. Ino berkata seperti itu hanya ingin Uchiha Sasuke tahu bahwa pria itu benar-benar merusak mood-nya.
"Oh bagus. Kalau mau kau bisa menelan milikku sebagai pengganti sarapanmu, Yamanaka."
Sasuke sepertinya sengaja menekan ucapannya pada satu bagian, dan nada suaranya terdengar menyebalkan sekali di telinga Ino. Menyadari hal itu lantas membuat Ino tertawa aneh, dengan empat buah sudut siku-siku tercetak di dahinya. Ino seperti kehilangan kata-katanya sendiri untuk membalas ucapan itu, dan mengingat dia harus jaga image di tempat umum, Ino menahan umpatan kesal yang ingin diberikan untuk Sasuke. Mendadak sosok Sasuke yang menyeringai muncul dalam kepalanya seperti hantu masa kecilnya yang memuakkan. Perutnya terasa mual.
Keparat. Sialan.
Kalau bukan karena Sasuke sedang tidak punya seseorang yang bisa diajaknya untuk melihat sebuah pembukaan perdana galeri milik salah satu teman satu asramanya sewaktu kuliah di Prancis dulu, dan juga perihal keinginan ayahnya yang disampaikan pada ibunya lewat telepon beberapa jam yang lalu, Sasuke pasti tidak akan memutuskan untuk datang ke kediaman milik keluarga Yamanaka ini untuk menjemput putri tunggal mereka. Terlebih sejujurnya harga dirinya masih terusik karena kejujuran Ino pagi tadi padanya. Namun tentu saja sepertinya lebih baik mengajak sekretaris pirangnya, dari pada mengajak kekasihnya yang belakangan ini mulai semakin menjauh darinya.
Sasuke menahan ekspresi terganggu di wajahnya ketika pikiran mengenai dirinya yang kehilangan kontrol karena mabuk kembali berputar dalam kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa menunjukan begitu saja kepada seseorang yang baru dikenalnya itu mengenai sisi dirinya yang lain? Sedangkan di dalam keluarganya, ada sebuah peraturan yang tidak tertulis yang isinya adalah mengharuskan bahwa seorang Uchiha harus bersikap tenang dan terkendali.
Selain Suigetsu yang merupakan satu-satunya sahabat yang dia miliki, tidak ada orang lain yang pernah melihat sosok dirinya yang menyedihkan itu. Tidak ada, bahkan kekasihnya pun juga tidak pernah. Tapi kenyataannya Ino melihatnya. Suigetsu pasti mengerjainya dengan mencampur vodka hadiahnya itu dengan sesuatu yang entah apa itu, dan dia harus memberi balasan pada pria Hozuki itu.
Memikirkan Yamanaka Ino yang pasti diam-diam menertawakannya semalam membuatnya kesal. Mengingat bagaimana Ino hampir selalu berusaha membunuhnya dengan tatapan matanya ketika Sasuke menggodanya habis-habisan entah kenapa membuat Sasuke membayangkan bagaimana perempuan itu tersenyum penuh kemenangan melihat dia tidak berdaya semalam. Sasuke mengusap wajahnya, dan berusaha membuang pikiran jeleknya itu sejauh mungkin. Sesuatu dalam dirinya berkeras bahwa Ino tidak akan begitu.
Meski dia belum tahu bagaimana sifat asli Yamanaka Ino, tapi sejauh pengamatannya Sasuke tahu kalau perempuan itu sebenarnya punya hati yang ... lembut. Atau bagaimana menjelaskannya ya? Walau kelihatan garang, namun wanita itu cukup sensitif dan selalu memakai hatinya, dia tahu hal itu sebab belakangan ini memperhatikan Ino termasuk hal yang menarik minatnya.
Buktinya perempuan itu terlalu peduli padanya sampai-sampai dia memilih tetap bertahan di sisinya semalam padahal bisa saja Ino tidak peduli dan membiarkan Sasuke membeku di kantornya sendirian. Ino tetap baik padanya walaupun hampir setiap hari Sasuke melihat ekspresi marah di wajah Ino yang ditujukan padanya sewaktu di kantor, dan terang-terangan menghindarinya seakan Sasuke adalah virus mematikan dan dia bisa mati bila berada di dekatnya.
Sasuke mendesah, masih berusaha tidak memikirkan kebodohannya itu. Dia menyenderkan punggungnya pada sofa ruang tamu Yamanaka yang empuk, menatap tanpa minat lukisan-lukisan dan hiasan antik yang ada di dalam tempat itu. Tidak perlu menunggu lama setelah panggilan telepon darinya itu, Ino datang menghampirinya dengan wajahnya yang ditekuk dan tidak mengatakan apa-apa, selain berusaha bersikap pura-pura ramah padanya sebab dia sudah tahu kalau Ino takut ibunya akan memarahinya kalau dia bersikap bar-bar di depan calon suami pilihan ayahnya.
Perempuan itu selalu menjaga image-nya. Meski wanita itu tidak seformal biasanya seperti saat di kantor padanya. Ino pasti kesal karena apa yang dilakukannya pagi tadi.
"Uchiha-san, kau mau duduk seperti itu sampai kapan?"
Karena terlalu fokus pada pikirannya sendiri, Sasuke sampai tidak menyadari bahwa Ino telah berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya di dada. Dengan sepasang mata biru terang yang menatap jengkel padanya. Ada kerutan sekilas di dahi Sasuke, namun tanpa membuang waktu, bungsu dari dua bersaudara itu langsung bangkit dari posisinya dan membuat Ino kaget sebab tangan pria itu langsung saja melingkari pinggang ramping Ino dengan seenaknya, membuat jarak di antaramereka semakin dekat. Ino dibuat tidak berkutik dan menahan napasnya saat wajahnya menabrak dada bidang lelaki itu.
"Kau sengaja memakai baju seperti penari telanjang ya?" goda Sasuke berbisik tepat di telinganya, sebuah seringai menghiasi bibirnya.
Wajah Ino langsung merah karena kesal. Ino mengepalkan tangannya yang terlipat di dadanya, dia ingin sekali mendorong pria itu sampai terjungkir di sofa kalau saja sekarang mereka sedang tidak berada di kediamannya. Sayangnya dia harus menahan keinginannya itu meski sekarang hanya ada mereka berdua di ruang tamu. Sebab Ino tidak mau membayangkan ceramah macam apa yang akan diberikan oleh ayah dan ibunya jika keduanya sampai tahu Ino baru saja mendorong pria pilihan ayahnya itu dan membuat kegaduhan. Ibunya punya banyak mata di rumah ini.
"Cepat pergi dari sini, Uchiha." Ino menggeram dan agak memohon, dia tidak mau mendongak untuk menatap wajah Sasuke yang berada terlalu dekat dengannya. Sebab dia tidak suka melihat bagaimana cara mata itu memandangnya.
Seringai Sasuke semakin lebar. Harum vanila yang manis dari rambut Ino mengusik dirinya, tapi dress bodycon berwarna abu-abu yang dipakai perempuan itu jauh lebih mengusik gairahnya sebagai seorang pria dewasa. Yamanaka Ino memang sangat tahu bagaimana memperlihatkan kelebihannya itu.
"Kau memang benar-benar panas, Hon. "
Berusaha mengendalikan emosinya, Ino sengaja membalas ucapan pria itu, "Oh ya? Apa panasku cukup untuk menghanguskanmu?" bisiknya sinis.
"Tentu. Kau benar-benar membakar diriku."
Pembukaan galeri seni itu cukup ramai. Letaknya ada di pusat kota, dan orang-orang yang datang sepertinya diundang dari berbagai kalangan. Sejak tadi Ino sudah sebal bukan main pada bosnya itu, jadi dia merasa tidak bisa ikut mengagumi lukisan-lukisan yang ada dalam galeri ini, meski sejujurnya gambarnya bagus sekali dan terlihat tidak asing baginya. Keluarganya cukup menggemari seni, ibunya pasti girang kalau diajak ke sini, pikirnya. Ino hanya diam sambil mengikuti Sasuke yang berjalan mendahuluinya, pria itu benar-benar membuatnya mengekor seperti anak anjing yang mengikuti majikan.
Ekspresi wajah Sasuke tenang dan terkendali, malah pria itu sesekali mengomentari sebuah lukisan dan terlihat enggan mengganggu Ino di tempat ramai seperti ini. Namun di mata Ino, entah kenapa Sasuke kelihatan seperti sedang terbebani oleh sesuatu, dan seperti biasa Ino tidak mau ambil pusing dengan menebak-nebak apa yang sedang mengganggu pikiran Sasuke itu.
Ino sedang bersender di tembok di samping Sasuke yang sedang melihat sebuah lukisan anak kecil saat seorang pria melambai ke arah mereka dan berjalan mendekat.
"Ah, Uchiha!"
Keingin tahuan membuat Ino memajukan kepalanya untuk melihat siapa itu, wanita itu langsung membulatkan bibirnya lalu menutupnya lagi, matanya menatap tidak percaya pada pria berkulit pucat yang perlahan tapi pasti menghampiri mereka. Mendadak Ino menyesal kenapa dia tidak tanya dulu tadi pada Sasuke siapa temannya yang akan membuka galeri itu, harusnya dia tahu bahwa ada kemungkinan dari 100% kalau Shimura Sai akan kembali ke Jepang dan membuka galerinya di Negara ini.
"Oh, Shimura."
"Aku senang kau menyempatkan untuk datang."
Mereka bersalaman, Sasuke tidak balas tersenyum melihat senyum pria berambut eboni itu, tapi tatapan matanya ramah. Sementara Ino tidak mau terpaku lama-lama dan langsung berusaha menyembunyikan dirinya di balik punggung Sasuke dan berharap pria di depan Sasuke itu tidak melihatnya. Hatinya sudah lolos ke perut sejak menyadari kalau pria yang menghampiri Sasuke itu adalah Shimura Sai yang adalah mantan kekasihnya yang paling tidak mau Ino temui di belahan bumi manapun seusai kandasnya hubungan mereka.
"Hn, aku suka karyamu."
Puji Sasuke, melirik pada lukisan yang tadi dipandanginya sebelum Sai menyapanya.
"Kau memang pintar memuji."
"Hn."
"Omong-omong kau datang sendiri ke sini?" Sai masih menunjukan senyumnya, tapi matanya mencoba melirik sebuah kepala pirang yang seingatnya tadi ada di dekat pria Uchiha itu.
"Tidak, aku bersama-" Sasuke menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat orang yang setahunya sejak tadi hanya mengekor padanya itu, tapi kerutan di dahinya muncul saat dia melihat bahwa perempuan itu seperti sedang berusaha bersembunyi dan memakai tubuhnya sebagai tameng. "Ada apa denganmu?" ujar Sasuke heran.
Ino memberikan tatapan horror pada Sasuke sebagai isyarat untuk tetap diam, yang dibalas oleh pandangan tidak mengerti dari pria itu.
"Ah maaf Uchiha-san. Aku mau ke toilet..." bisiknya, menggigit bibir bawahnya resah.
Di luar dugaan Sasuke malah menarik pergelangan tangannya agar tubuh Ino tidak lagi bersembunyi di belakangnya. Ino bersumpah dia ingin sekali mencakar-cakar wajah datar Sasuke itu.
"Yamanaka, kenalkan ini Shimura Sai temanku." Ujar Sasuke tenang, begitu tenang sampai tidak menyadari bahwa temannya yang berkulit putih pucat itu menampilkan ekspresi terkejut beberapa saat sebelum menggantinya dengan sebuah senyuman yang ramah.
Ino merasa mual, dia tidak suka senyum Sai yang seperti itu. Biar bagaimana pun di masalalu pria itu pernah menjadi kekasihnya, jadi dia tahu senyuman yang terlihat ramah di mata orang lain itu sebenarnya tak lebih dari sebuah senyum palsu yang memuakkan.
"Aku sudah mengenalnya, Uchiha."
Sai masih tersenyum, sedangkan Ino ingin menghilang saja rasanya saat ini juga. Bertemu Shimura Sai membuat Ino kembali mengingat sakit hatinya yang sudah mati-matian dia pendam.
"Nih," Sasuke menyodorkan sekaleng bir yang dibelinya di minimarket dekat tempat ini pada Ino yang duduk dengan murung di salah satu kursi kayu panjang yang ada di taman kota. Perempuan itu lebih banyak diam sejak pertemuan mereka tadi dengan Sai di galeri miliknya. Ino menerima bir itu tanpa berkata apa-apa, langsung membukanya dan menegak isinya tanpa pikir panjang.
"Kupikir kau jenius. Tapi isyaratku saja tidak paham," gerutu Ino sesudah menegak birnya.
Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya dan mengambil duduk di sampingnya. Dia merasa tidak mengerti kenapa dirinya harus peduli pada masalah perempuan berambut pirang yang sedang menggerutu tidak jelas di sebelahnya ini.
"Kau pikir aku paham kode seperti itu?" dengus Sasuke, matanya melihat orang-orang yang sedang mengerubungi sesuatu yang entah apa itu. Sebuah pertunjukan sulap kah? tebaknya.
"Oh ya, pria memang selalu begitu. Kapan sih mereka bisa berubah sedikit lebih peka?" Ino masih menggerutu dan menghabiskan birnya, dia tidak bisa lagi menahan perasaannya yang rasanya mau meledak. Biar saja Sasuke mau ngomong apa tentang dirinya, dia terlalu malas untuk peduli pada pendapat pria itu. "Aku benci pria, aku benci Sai, terlebih aku benci kau."
Ino menghentakan sepatu hak tingginya di tanah dengan kesal, sebuah tingkah yang terlalu kekanakan untuk perempuan berusia dua puluh lima tahun sepertinya. Dadanya sesak menahan air mata yang terus mendesak di pelupuk matanya sejak dia bertemu lagi dengan Shimura Sai tadi. Padahal sudah satu tahun berlalu, tapi Ino merasa seakan sakit di hatinya masih terasa sakit sekali.
"Shimura itu siapamu?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Sasuke, merasa heran juga melihat bagaimana Ino selama ini mencoba menjaga image-nya di hadapan Sasuke namun kini wanita itu malah membiarkan dirinya kelihatan mengenaskan seperti seorang pecinta yang putus asa. Ino menatap Sasuke tajam, tapi pria itu masih memilih untuk tetap melihat kerumunan orang-orang di dekat mereka.
"Memangnya kau peduli?" sahutnya sinis.
"Tidak." Sasuke menjawab tanpa ekspresi.
"Tentu saja tidak." Ino tertawa pahit. "Harusnya aku tidak usah bertanya." Dia mencengkram kaleng bir dalam genggamannya sampai membuat kaleng itu agak penyok. Seakan hal itu bisa membuat beban di hatinya berkurang.
Sasuke mendengus. Kini pria itu menatap wanita di sampingnya itu, tatapannya dingin sekali sampai membuat Ino merinding. Kadang-kadang dia berpikir apa Sasuke punya gangguan kepribadian? Kenapa pribadi pria itu aneh sekali menurutnya.
"Kau berisik sekali, Yamanaka." Sasuke menghembuskan napasnya, lalu melanjutkan, "Apa kau juga seberisik ini di ranjang?" Lanjutnya santai.
Bibir Ino mengatakan "Oh"tanpa suara, dan tangannya hampir bergerak sendiri untuk melempar kaleng birnya ke wajah datar pria itu. Tidak bisakah setidaknya Sasuke sedikit saja mengerti situasi mereka saat ini? Atau mungkin situasinya, meski mereka bukan seorang teman yang dekat?
"Kau sebegitu inginnya ya tidur denganku?" Ino sendiri tidak mengerti kenapa dia mengatakan pertanyaan semacam itu, dengan kedua alisnya yang merenggut. Dan Ino juga tidak yakin apa dia mau mendengar jawaban Sasuke atas pertanyaan anehnya.
Di luar dugaan Sasuke malah terkekeh pelan, meminum birnya sebelum membalas pertanyaan itu, "Apakah aku harus memuji pertanyaan kelewat narsismu ini, Yamanaka?" pria itu mendekatkan wajahnya pada Ino. Keduanya saling menatap satu sama lain. Ada yang berbeda dalam tatapan mata Uchiha itu, Ino menyadarinya, namun tidak tahu apa artinya.
"Ah sudahlah," katanya pada akhirnya. Ino membuang wajahnya untuk menolak tatapan intens itu. Bagaimanapun dia juga seorang wanita biasa yang bisa luluh ditatap seperti itu. Pikirannya terus saja menggumamkan kalau Sasuke itu bukan tipenya agar mencegah Ino tidak ikut hanyut ke dalam pesonanya.
"Hn."
Sasuke bangkit berdiri dan memasukan salah satu tangannya ke saku jeans -nya. Ino menatap pria itu heran, lalu bertanya, "Kemana?"
"Memang mau di sini sampai kapan?"
Sejak awal juga sebenarnya Ino tidak mengerti kenapa Sasuke memarkirkan mobilnya di taman kota seperti ini dan menyodorkan sekaleng bir padanya. Apa pria itu berniat menghiburnya dengan suasana yang ramai di tempat ini? Ah tidak mungkin, pikirnya.
Hari sudah hampir sore saat Sasuke mengatakan bahwa dia akan mampir ke rumah keluarga Uchiha lebih dulu sebelum mengantarkan Ino pulang ke rumahnya. Wanita itu hanya diam dan tidak berniat protes meski sebenarnya dia ingin cepat-cepat sampai rumah, terlebih datang ke kediaman Uchiha berarti Ino harus berakting semanis mungkin menghadapi orang tua Sasuke. Ayahnya akan langsung mencoretnya dari daftar warisan kalau sampai Ino mengatakan keberatannya mengenai perjodohan itu, pasti.
Ino menoleh ke arah Sasuke yang sedang mengemudikan mobilnya dalam diam. Sebenarnya sejak awal dia ingin bertanya pada pria itu kenapa sepertinya Sasuke membiarkan begitu saja dirinya dijodohkan, padahal menurut Ino pria itu pasti bukan tipe orang yang mau terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan. Mana mungkin playboy sepertinya mau bertahan dengan seorang wanita seumur hidupnya kan?
Ino sedang tersenyum sinis saat mendapati Sasuke melirik padanya.
"Apa?"
Ino langsung membuang mukanya menatap ke jendela kaca mobil Sasuke sambil berusaha menguasai dirinya dan tidak menjawab pertanyaan itu.
Begitu mereka sampai di kediaman Uchiha, benar seperti dugaan Ino, Uchiha Mikoto sudah menunggu kedatangan putra bungsunya di ruang tamu.
"Wah, Ino. Ini pertama kali ya Sasuke mengajakmu ke sini." Wanita berusia akhir lima puluhan yang masih cantik itu tersenyum ramah, memberikan sebuah pelukan pada Ino yang dibalas dengan seulas senyum terpaksa darinya.
Ini pertama kalinya dia benar-benar menginjakan kaki di mansion ini meski sebelumnya Ino pernah bertemu dengan orang tua Sasuke pada sebuah acara makan malam bersama kedua orang tuanya juga. Tentu saja itu adalah saat memberitahukan mengenai rencana perjodohan. Dan sekarang dia di sini, hanya mengikuti Sasuke dan merasa canggung berada di rumah pria itu.
"Kebetulan tadi kami habis menghadiri acara pembukaan galeri dan Sasuke bilang dia mau mampir ke rumahnya dulu, Bi." Ino masih tersenyum canggung, matanya melirik Sasuke yang masih berdiri di sampingnya, agak aneh menyebut nama pria itu dengan bibirnya.
"Bagus kalau begitu. Bibi senang melihat kedekatan kalian seperti ini."
Seolah mengerti kegugupan Ino, salah satu tangan Sasuke menggenggam jemarinya. Ino kaget tapi langsung berusaha menguasai dirinya sendiri, dia tidak ingin bersikap aneh di depan Mikoto.
"Bu, aku dan Ino mau pamit ke kamarku dulu."
Entah mana yang lebih baik di antara tetap bertahan di ruangan ini dan membalas antuasiasme Mikoto padanya atau mengikuti Sasuke ke dalam kamarnya. Ino tidak sempat berpikir saat Sasuke sudah menarik tangannya agar mengikuti pria itu berjalan ke lantai dua yang mana kamar pria itu terletak di sana.
Ino duduk di pinggir ranjang itu, melihat dekorasi kamar Sasuke yang tidak jauh berbeda dari kamar pria itu di apartemennya yang kebanyakan di dominasi warna abu-abu. Sedangkan si pemilik kamar menghilang di pintu yang Ino yakin kalau itu adalah kamar mandi.
"Kita mau ngapain di sini?" tanyanya, agak heran melihat Sasuke yang keluar dari kamar mandi dengan celana boxer. Kenapa tidak memakai kembali jeans-nya?
Pria itu menatap Ino sekilas sebelum berjalan ke arah lemari.
"Tentu saja menginap, mau apa lagi?"
Ino tidak menyembunyikan kekagetannya dan langsung berjalan menghampiri Sasuke.
"Siapa bilang aku mau menginap?" ujarnya dengan suara yang meninggi, "Aku mau pulang!" lanjutnya ketus.
"Tadinya aku berniat memberitahumu di rumah kalau kau akan menginap di rumahku, tapi melihatmu yang pasti akan berisik sekali membuatku memilih untuk tidak mengatakannya. Ini keinginan Fugaku, ayahku ingin bertemu denganmu besok pagi entah kenapa, dan ibuku menelponku untuk membawamu menginap. Toh ibumu juga sudah tahu, dan dia setuju."
Sasuke mengakhiri ucapan terpanjang yang pernah Ino dengar selama mengenal pria itu. Libur dua hari dalam seminggu akan dihabiskannya dengan bersama Sasuke? Ya ampun, Ino ingin sekali memprotes hal itu kalau bisa.
"Tapi 'kan aku tidak bawa baju!" Katanya kemudian, wajahnya memerah entah karena apa. Kemunculan Sai saja sudah membuatnya pusing, kenapa lagi sekarang dia harus tahu kalau kepala keluarga Uchiha ingin bertemu dengannya besok pagi?
"Hn, ibumu sudah memasukan bajumu di bagasi mobilku," ingin sekali Ino menghancurkan ekspresi datar yang menyebalkan di wajah Sasuke itu. Pria itu lalu berdiri lebih dekat padanya, dan dengan satu gerakan tangan Sasuke sudah melingkar di pinggang Ino, menarik wanita itu mendekat padanya. Dia menundukan wajahnya agar menatap perempuan itu lebih dekat, "Jangan bilang kau takut tidur denganku?"
Wajah Ino memerah, sambil menarik napas dia membalas tatapan pria itu, "Tidak. Memangnya aku gadis remaja yang akan menjerit-" Ino belum menyelesaikan ucapannya saat Sasuke langsung membungkam bibirnya dengan bibir pria itu.
Matanya membulat merasakan bibir Sasuke yang menekan bibirnya lalu menghisapnya pelan. Tangan Ino lantas naik untuk mendorong pria itu, tapi salah satu tangan Sasuke yang lain malah menekan payudaranya keras dan hal itu malah membuat Ino membuka mulutnya lantaran kaget. Lidah Sasuke yang panas melesak masuk ke dalam mulutnya mencari lidahnya. Dengan akal sehatnya Ino masih mencoba menjauhkan pria itu meski dia sendiri kewalahan dengan ciuman Sasuke yang datang dengan tiba-tiba.
Kedua tangannya yang kaku malah mencengkram punggung kaos polo Sasuke dan akhirnya menyerah dan mulai membalas ciuman pria itu. Telapak tangan Sasuke sampai di punggungnya, mengusap perlahan punggung Ino dengan gerakan yang terlatih. Ciuman Sasuke mulai turun ke rahangnya, lalu lehernya, lidahnya menjilati kulit Ino yang mulai memerah seperti terbakar. Ino menggigit bibir bawahnya dan menahan napasnya saat pria itu menarik resleting dress-nya dan menurunkan baju itu sampai sebatas pinggang, tatapan matanya liar menjelajahi tubuh Ino yang hampir telanjang. Ditatap seperti itu membuat Ino menahan napas.
Sasuke lalu mendorong Ino duduk di pinggir ranjangnya, sambil berlutut di depan Ino, tangan pria itu membuka kaitan branya dengan tidak sabaran. Begitu payudara Ino sudah tidak dihalangi sehelai benang lagi, mulutnya langsung memasukan salah satu puting payudara wanita itu yang menengang dan menghisapnya, membuat pemiliknya merintih tertahan.
Ino mabuk kepayang dibuatnya, dan dengan sisa kewarasannya dia menjambak rambut Sasuke agar menjauh dari payudaranya yang putingnya menegang.
"Tidak," gumamnya pelan. Napasnya memburu dan dadanya naik turun seiring debaran di jantungnya yang menggila, "Tidak. Kau mengerti maksudku 'kan?" dia berkata lagi, matanya menatap pria itu seakan memaksa Sasuke agar mengerti maksud dari perkataannya. Ino berusaha untuk tidak terjerat lebih jauh ke dalam kabut pesona Sasuke yang kelam.
"Tidak apa?" Sasuke berbisik menggoda, dan dengan tubuhnya dia mendorong Ino berbaring di ranjang dan menindih wanita itu agar tidak meronta, "Coba jelaskan, aku tidak mengerti." Suaranya rendah dan dalam. Matanya menatap puas pada tubuh Ino yang nyaris telanjang.
Lalu tanpa membiarkan Ino berkata lagi, pria itu langsung kembali menciumnya. Lidahnya melesak masuk ke dalam mulutnya lebih liar dari sebelumnya, sedangkan salah satu tangannya mencoba meloloskan dress Ino dari tubuhnya dan tangannya yang lain memainkan payudaranya, meremasnya dengan gemas. Sasuke menyeringai dalam ciumannya, sedangkan Ino melesakan lebih dalam kepalanya ke kasur saat tangan Sasuke masuk ke balim celana dalamnya dan mengusap miliknya dengan jari-jarinya yang panjang. Wanita itu menjambak rambut Sasuke lagi ketika pria itu tengah menghisap payudaranya secara bergantian. Membiarkan Sasuke menyetubuhinya sama saja membuat pria itu girang lantaran secara tidak langsung Ino mengakui kekalahannya. Seks memang bukan hal baru untuknya, tapi tetap saja Ino tidak ingin bercinta dengan pria ini.
Sesuatu dalam lubuk hatinya memberinya peringatan untuk berhenti, kali ini lebih keras. Ino berusaha menahan hasratnya yang meletup-letup dan menahannya sampai ke titik terendah dan mengumpulkan akal sehatnya untuk mendorong pria itu dengan tenaganya yang entah bagaimana berhasil didapatkan kembali. Sasuke yang tidak siap dengan apa yang dilakukan Ino langsung terjungkal jatuh dari kasurnya, ekspresinya terkejut antara bingung dan marah.
Ino yang sudah hanya memakai celana dalam langsung duduk di kasur itu, wajahnya masih merah padam dan ekspresi di wajahnya sudah tidak keruan. Dia menatap Sasuke yang masih terkejut dengan tajam, "Kita tidak bisa melakukannya," ujarnya tegas, meski suaranya bergetar menghianatinya. Dengan secepat kilat Ino langsung berlari ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya keras-keras. Tubuh Ino merosot di balik pintu itu, dengan napasnya yang masih memburu Ino berusaha menekan hasratnya sendiri. Dia tidak mau bercinta dengan pria yang tidak dicintainya itu. Ino tertawa aneh dan berusaha menghilangkan efek sentuhan Sasuke pada seluruh bagian tubuhnya.
Sedangkan Sasuke sendiri masih belum beranjak dari posisinya, merasa kaget dan heran pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol gairahnya pada wanita itu hingga dia sendiri tidak mau berhenti. Sambil menyeringai lebar, Sasuke ingin melihat sejauh mana perempuan itu mampu menolak dirinya. Lihat saja.
to be continue.
Note:
Hallo semua, sebelumnya makasih banyak ya atas responnya hehehe. maaf kalau ada yang kurang suka sama tokoh Ino atau Sasuke di sini, dan juga saya mencantumkan rate M untuk adegan-adegan dewasa yang mungkin ngebuat nggak nyaman XD. Karena masih awal-awal, SasuIno belum menunjukan ketertarikan satu sama lain, terlebih Sasuke masih jatuh cinta sama pacarnya dan Ino juga "mungkin" masih ada something sama Sai (mungkin lho ya).
Buat yg bertanya apa Sasuke bakal suka sama Ino, pasti dong ini kan SasuIno hehehe, tp mungkin pelan-pelan ya /maksudnya. Kalau ada yg mau ditanyakan atau ada sesuatu yg mengganjal, sok diisi kotak reviewnya teman-teman, saya senang mendapat masukan dalam bentuk apapun:)
