Naruto milik Masashi Kishimoto. saya hanya meminjam karakter.

Warning: rate M for mature content. OOC.

ditulis untuk yg masih setia menunggu kelanjutan ff ini, dan juga untuk INOcent Cassiopeia yg sudah bersedia menjadi teman ngobrol selama saya berusaha merampungkan chapter ini...

happy reading!


Chapter 3.

Setelah berdiam diri cukup lama di dalam kamar mandi, akhirnya Ino memutuskan keluar dari tempat itu meskipun dia tahu sejak tadi dia tidak mendengar adanya suara bunyi dari pintu yang dibuka, yang itu artinya bahwa Sasuke masih berada di dalam kamarnya padahal Ino berharap pria segera itu pergi.

Ino mencoba untuk tetap tenang meski debaran jantungnya masih menggila saat matanya mendapati sosok Sasuke ada di sana. Salah satu tangannya terulur mencoba menutupi payudaranya yang tidak tertutupi dan yang satunya lagi tergesa-gesa memunguti pakaian beserta branya yang tercecer di atas lantai akibat ulah Sasuke.

Pria itu berbaring telentang di kasurnya, sementara matanya tengah mengawasi pergerakan Ino sejak sosok wanita itu menyembul keluar dari tempat persembunyiannya. Sambil menelan ludah dan memasang ekspresi wajah yang senormal mungkin, Ino membalas tatapan tajam pria itu dan mulai membuka suaranya dengan ragu-ragu.

"Err ... bisa tolong ambilkan bajuku di bagasi mobilmu dan beserta handuk juga?"

Sasuke terlihat menaikan sebelah alisnya seakan terganggu. Karena tidak nyaman ditatap seperti itu, Ino memunggungi Sasuke dan mulai mengenakan branya kembali sambil menghela napas dan menunggu jawaban darinya. Wajah dan seluruh tubuhnya terasa terbakar dipandangi seperti itu oleh pria yang beberapa waktu tadi hampir mengajaknya bercinta.

"Setelah mencampakanku barusan, kau pikir kau masih bisa menyuruh-nyuruhku, Nona?" dia mendengar ada kesinisan dalam nada bicara Sasuke. Yang mungkin penyebabnya berasal dari penolakan Ino yang membuat harga diri Sasuke sebagai seorang pria terusik. Karena posisinya yang memunggungi pria itu, Ino tidak bisa melihat bagaimana Sasuke menyeringai menatap punggungnya.

Ino menghela napasnya, menggigit bibir bawahnya menahan kekesalannya. Sasuke tidak pernah membuat semuanya mudah untuk Ino.

"Oke. Aku tidak butuh bantuanmu!" ujarnya dengan emosi dan langsung cepat-cepat memakai dress-nya di sana tanpa merasa harus kembali berlari masuk ke dalam toilet. Peduli amat bila Sasuke terpancing melihatnya sedang memakai baju di depan matanya, toh dalam hatinya Ino merasa sedikit senang karena telah berhasil melambungkan gairah pria itu lalu menjatuhkannya begitu saja.

Setelah memastikan pakaiannya telah terpakai dengan benar, Ino baru akan berbalik dan menuju ke pintu keluar, sebelum gerakannya berhenti karena entah sejak kapan Sasuke malah sudah berdiri di dekatnya dengan ekspresinya yang tidak bisa Ino mengerti. Pria itu membuatnya terpaku dengan salah satu tangannya yang sudah mengusap pipinya pelan. Rasanya memuakan sampai Ino langsung menepisnya kasar.

"Tunggu di sini saja. Kau harusnya berkaca dan melihat betapa berantakannya dirimu, Yamanaka."

Pria ini memang suka mempermainkannya dengan caranya yang menyebalkan, juga dengan matanya yang menatap Ino penuh hasrat. Wajah Ino semakin merah lantaran kesal, dia melemparkan pandangan yang seolah berkata "Ada apa dengan penampilanku sih?" dan Sasuke hanya membalas dengan memperlihatkan senyum yang menurut Ino sangat menyebalkan sebelum akhirnya pria itu berjalan santai ke luar kamar tanpa repot-repot memakai celana jeans-nya kembali. Meninggalkan Ino sendirian yang langsung buru-buru bercermin pada cermin yang menempel di lemari pakaian Sasuke.

Di detik yang sama ketika dia melihat pantulan dirinya dalam cermin, Ino membulatkan bibirnya. Rasa terkejutnya hanya sampai pada ujung lidahnya dan tidak berhasil diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata Sasuke benar. Dengan rambut pirangnya yang terurai berantakan, wajah merah, dan lipstik di bibir yang agak bengkak belepotan sampai ke bagian lain di wajahnya, pantas saja Sasuke bisa berkata seperti itu padanya.

Ino tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dia jika bertemu dengan seseorang di mansion ini bila Sasuke tidak mencegahnya keluar tadi. Haruskah Ino berterimakasih pada Bosnya itu? Ah, sepertinya tidak perlu, toh yang membuat penampilannya acak-acakan begini kan juga ulah pria itu sendiri.

Tangannya lalu menyentuh di bagian leher sambil mengangkat dagunya, mengecek kalau-kalau ada bekas kemerahan di sana sebab dia ingat Sasuke sempat menggigitnya, dan nyatanya lehernya bersih tanpa tanda itu. Ino mendengus, pria dewasa memang selalu tahu bagaimana menyembunyikan perbuatannya dengan tidak meninggalkan jejak merah keunguan yang kekanakan. Dan itu bagus.


Pagi itu Ino dengan lesu menyeret kakinya menuruni satu persatu anak tangga. Jejak-jejak kurang tidur di matanya berhasil disembunyikan dengan sempurna berkat concealer dan kontak lens transparan yang untungnya ada dalam kotak make-up milik Ino yang diselipkan ibunya bersama dengan pakaian.

Memang sih tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya semalam, hanya saja semalam Ino tetap merasa was-was sebab Sasuke yang tidur bersamanya itu tidak dalam keadaan mabuk dan bisa melakukan apapun padanya (seperti kejadian tadi sore, contohnya), dan karena kekhawatirannya yang beralasan itu menyebabkan Ino tidak bisa tidur lantaran resah sepanjang malam, sampai akhirnya dia baru bisa memejamkan matanya saat sudah menjelang pagi.

Dan yang lebih menyebalkannya lagi begitu Ino bangun dari tidur sesaatnya, Sasuke yang sudah lebih dulu bangun langsung menyadari bahwa Ino tidak tidur dengan nyenyak semalam. Dengan menahan kekehan tawanya dia mengejek Ino sambil berkata "Sebegitu inginnya kau kutiduri ya sampai tidak bisa tidur hn?"

Sasuke memang tidak bisa ditebak kelakuannya, Ino mau pria itu lenyap saja rasanya.

Biar bagaimana pun ngantuknya, Ino tentu tidak boleh kelihatan buruk di depan keluarga Sasuke. Dengan sundress merah marun dan rambut pirang yang dibiarkan jatuh tergerai, Ino yakin dia tidak salah kostum menghadapi orangtua Sasuke yang sudah berkumpul di meja makan dengan hidangan ala barat tersaji di atas meja sebagai sarapan. Ino menelan ludahnya karena kerongkongannya yang terasa kering, Sasuke sudah memberitahunya kemarin bahwa Fugaku ingin bertemu dengannya dan hal itu jelas membuat Ino merasa gugup.

Waktu di pertemuan pertamanya kan Ino bersama orangtuanya, dan kini dia hanya seorang diri. Sasuke juga sepertinya tidak berminat memberikannya bantuan dengan mengajaknya kabur dari sini. Sambil mengumbar senyumnya dia menarik bangku kosong yang ada di sebelah Sasuke.

Tenanglah, ini bukan eksekusi mati atau hal semacam itu.

"Tidurmu nyenyak semalam, Ino-chan?" Mikoto adalah orang pertama yang mengajaknya mengobrol. Senyumnya ramah dan hangat sampai membuat Ino berpikir mungkin saja apa yang akan disampaikan Fugaku tidak seburuk apa yang dipikirkannya.

"Ya, bibi."

Ino mulai memotong baconnya dan menjejalkannya ke dalam mulut meski sejujurnya porsi makan seperti ini termasuk berat untuknya. Ekor matanya melirik Sasuke yang masih dengan tenang menyantap sarapannya tanpa mempedulikan lirikan Ino padanya.

"Sejujurnya aku senang melihat kedekatan kalian," Mikoto berkata lagi. Ibu dari dua orang anak itu belum menyentuh sarapannya kecuali susu di gelasnya yang sudah sedikit berkurang, "Sasuke memang kelihatan dingin di luar, tapi kau harus tahu bahwa sebenarnya dia adalah pria yang penyayang."

Mendengar suara Mikoto yang riang entah kenapa malah membuat Ino tersenyum serba salah. Kalau Mikoto bilang Sasuke itu dingin, Ino jelas saja setuju sebab pria itu memang kadang dingin sekali sedingin tembok.

Tapi kalau penyayang?

Yang benar saja.

Ino mendengar Sasuke berdehem pelan.

"Kau hanya perlu terbiasa dengannya, Ino." Kali ini Fugaku yang mulai berbicara. Suara datar dan ekspresinya persis sekali dengan milik Sasuke.

"Tentu, paman. Sasuke memperlakukanku dengan cukup baik selama ini."

Ino tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit. Sebagai bentuk pujian bagi dirinya sendiri atas aktingnya yang luar biasa cerdas. Fugaku dan Mikoto tentu saja mempercayai ucapannya, kecuali Sasuke yang kini sedang melemparkan lirikan tajam padanya.

"Benar begitu Sasuke?"

Fugaku memastikan pada putra bungsunya yang selama ini terlihat senang bermain-main itu. Sebagai seorang ayah yang bijaksana, Fugaku merasa kalau Sasuke butuh seorang perempuan yang mampu membuatnya bertekuk lutut dan lebih serius menjalani hidupnya. Dan Yamanaka Ino tentu punya kualitas yang bagus untuk bersanding dengan putranya.

Sasuke menoleh untuk menatap Ino sekilas, lalu berpaling pada ayahnya, "Benar. Karena Ino tahu bagaimana caranya membuatku senang."

Jawaban ambigu itu lantas membuat Ino menahan napasnya dan meremas peralatan makan dalam genggamannya. Apa-apaan jawaban itu? Kenapa terdengar tidak menyenangkan buat Ino? Terlebih cara Sasuke mengucapkannya sama seperti ketika pria itu menggodanya. Namun kelihatannya tidak ada yang mempermasalahkan keanehan jawaban Sasuke, jadi Ino hanya menghela napasnya pelan-pelan.

Saat sarapan di piring Ino sudah hampir habis dan tinggal menyisakan kacang merah dan perutnya terasa terlalu penuh, dia mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Ino menoleh, melihat pria dewasa yang diketahuinya merupakan kakak dari Sasuke yang bernama Uchiha Itachi.

Pria berambut panjang itu datang bersama dengan seorang bocah laki-laki kecil berambut ungu dalam gandengan tangannya. Ino sering mendengar beberapa wanita di kantornya suka membiacarakan duda keren yang satu itu, tapi ini adalah pertamakali dia bertemu langsung dengannya karena Itachi memegang anak cabang perusahaan Uchiha yang lain.

"Pagi ayah, ibu. Maaf aku terlambat." Itachi memberi salam pada orangtuanya terlebih dulu sebelum pandangannya teralih ke arah Sasuke dan Ino, "Ah ya, pagi juga adikku dan ... em?"

"Namanya Yamanaka Ino, Itachi," ucap Mikoto mengingatkan.

"Pagi Ino-chan."

"Pagi juga, Itachi-san."

Setelah acara sapa menyapa selesai, ketiga orang dewasa itu langsung pamit menyingkir dari meja makan menuju ke ruangan lain untuk mendiskusikan sesuatu sepertinya. Bocah laki-laki yang sejak tadi mengikuti ayahnya itu langsung saja berjalan ke arah Sasuke dengan riangnya, yang mana hal tersebut membuat Ino agak terkejut dengan keakraban paman dan ponakan di depan matanya.

Sasuke bangun dari posisinya. Sarapannya sudah selesai. Sasuke mengangkat tubuh bocah berambut jabrik keunguan yang usianya delapan tahun bernama Amatsu itu ke dalam gendongannya. Ino menatapnya seakan dia baru saja melihat sesuatu yang aneh menempel di wajah Sasuke.

"Paman Sasuke! Aku kangen sekali dengan paman!" Amatsu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapih berkat kunjungan rutin tiap bulan ke dokter gigi langganannya.

"Hn benarkah Amatsu?"

Amatsu mengangguk antusias, dan kemudian bola matanya yang berwarna hitam berpaling, menatap penuh tanda tanya pada Ino yang masih mengamati interaksi mereka dalam diam.

"Jadi itu pacar paman?"

Sasuke mengerling sekilas pada Ino.

"Hn, menurutmu bagaimana?"

"Cantik sih, seksi juga."

Jawaban bocah itu langsung membuat Sasuke menyeringai melihat ekspresi terkejut di wajah Ino. Dalam hati Ino tidak habis pikir apa saja yang sudah Sasuke ajarkan pada bocah sekecil itu sampai-sampai Amatsu tahu bagaimana sosok cewek cantik dan seksi menurut versinya. Namun Ino mampu menahan dirinya agar tidak memarahi Sasuke dan berusaha tersenyum ramah. Lalu dia bangkit berdiri, mensejajarkan tingginya dengan wajah Amatsu dalam gendongan Sasuke.

"Hai, Amatsu-kun. Panggil aku bibi Ino nee?"

Sasuke terdengar membisikan sesuatu yang membuat bocah itu tidak langsung membalas ucapan Ino, malah wajahnya cemberut menatap wanita pirang itu. Firasat Ino mengatakan apa yang dikatakan Sasuke pasti bukan sesuatu yang bagus.

"Paman Sasuke bilang bahwa bibi Ino itu sangat panas. Ugh, benarkah begitu?"

Nah, benar kan?

Senyum Ino langsung luntur dan malah berganti dengan kedutan jengkel di sudut-sudut bibirnya. Dia memberikan tatapan galak pada Sasuke yang hanya dibalas dengan ekspresi seolah tidak bersalah dari pria berumur 27 tahun itu.

"Jangan mengajari anak kecil dengan hal-hal seperti itu, Tuan muda Uchiha..." desis Ino.


Padahal saat Sasuke bilang Uchiha Fugaku ingin bertemu dan berbicara dengannya, Ino sudah berpikir bahwa kepala keluarga Uchiha itu pasti ingin mengatakan suatu hal serius padanya. Namun Ino malah dibuat keheranan sebab Fugaku tidak mengajaknya berbicara lagi selain pembicaraan mereka tadi di meja makan. Malahan pria yang tetap gagah meski telah berumur itu meminta Ino dan Sasuke mengajak Amatsu jalan-jalan ke tempat hiburan dengan penuh konspirasi terselubung.

Hal itu jelas saja membuat Ino merasa keberatan lantaran dia sudah lelah sekali berada bersama pria itu sejak kemarin. Tidakkah ada yang mau berbaik hati dan membiarkannya pulang agar bisa bekerja dengan semangat di hari senin besok?

Sasuke yang hanya diam saja dan tidak berusaha menolak permintaan Fugaku pada akhirnya membuat Ino menyanggupi dengan berat hati. Sebelum berangkat Ino mengambil cardigan putih miliknya di kamar Sasuke dan memilih mengikat rambutnya karena dia tidak mau rambutnya kusut di wahana bermain.

Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke tempat tujuan. Ino yang masih bersikeras menampilkan wajah masamnya sementara Sasuke nampaknya tidak peduli dan sibuk mengobrol bersama Amatsu sambil menggandeng tangan bocah itu begitu keluar dari mobil yang sudah terparkir.

Begitu Ino selesai membeli tiket masuk untuk tiga orang dengan kartu debit yang Sasuke berikan padanya, dia menyeret langkahnya mengikuti dua laki-laki Uchiha itu. Wahana bermain yang ramai sekali dan cukup sesak, padahal ini masih bulan Mei dan liburan musim panas belum tiba. Tadinya Ino hanya berniat menunggu dua orang itu bermain dengan duduk di tempat sejuk sambil minum soda, sebelum Amatsu membuka suaranya.

"Bibi berani masuk ke wahana Rumah Hantu itu tidak?" Amatsu menunjuk sebuah tempat dengan dekorasi menyeramkan dan gelap yang antriannya cukup panjang. Sasuke hanya melemparkan pandangan meremehkan pada Ino yang kelihatan mulai gusar menanggapi pertanyaan Amatsu.

Haruskah dia mengatakan pada Amatsu bahwa dia tidak suka berada dalam tempat menyeramkan seperti itu? Pertama kali Ino ke tempat ini adalah waktu dia masih duduk di bangku kelas satu SMU bersama dengan seorang teman kencannya, dan pada saat itu juga Ino langsung kapok dan menjerit histeris, dan bersumpah kalau dia tidak akan mau lagi ke sana. Jadi sambil tersenyum, Ino mulai membujuk Amatsu.

"Tidak, lebih baik kau dan paman Sasuke saja ya? Bibi mending tunggu di luar."

"Yah aku padahal ingin ke sana bareng bibi Ino..."

Amatsu menunjukan tatapan kecewanya yang sangat lugu, yang mana membuat Ino mendadak bimbang sebab hatinya tidak tega mengecewakan perasaan seorang anak kecil. Ino meringis dan menatap Sasuke yang hanya diam saja dan berusaha mendapat bantuan, lalu menatap Amatsu lagi saat dia tahu kalau Sasuke pasti diam-diam malah menertawainya.

Dengan berat Ino menghela napasnya, "Baik, kali ini saja ya?" ujarnya setengah hati. Sasuke sudah menebak bahwa Ino tidak akan mampu menolak.

Mata Amatsu berbinar-binar. Melihat begitu ekspresifnya Amatsu, Ino jadi berpikir apa dulu Sasuke juga seperti ini saat kecil? Begitu polos dan bersemangat. Sifat menyebalkan tidak mungkin ada begitu saja 'kan?

Mereka mengantri dengan Amatsu yang berdiri di paling depan, lalu Ino, dan setelah itu Sasuke di belakang mereka. Padahal hantu-hantu di sini tidak nyata, tapi tetap saja Ino merasa bulu kuduknya merinding dan dia berkali-kali menghela napas menyiapkan nyalinya. Amatsu yang berjalan paling depan dibekali dengan sebuah senter yang berfungsi untuk menerangi jalan.

Suasana bangsal rumah sakit yang kuno dan mencekam menyambut mereka begitu mulai melangkahkan kaki masuk ke dalamnya. Ino berusaha menenangkan sekaligus mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini hanya sebuah permainan, yang hantu-hantu dan kengeriannya cuma bohongan.

"Hiiiihh, seram ya!" Amatsu berteriak antusias, untuk bocah berumur delapan tahun, dia termasuk pemberani. Sasuke terdengar sesekali menimpali celotehan Amatsu.

Ino berjengit kaget merasakan sebuah tangan yang melingkar posesif di pinggangnya, tidak perlu menoleh untuk tahu tangan milik siapa itu karena Sasuke sudah mendekatkan wajahnya di telinga Ino dan berbisik, "Tenanglah, aku akan menjagamu, Yamanaka..."

Ketika sedang erusaha menepis tangan itu di pinggangnya, Ino malah dibuat kaget dengan suara kasur yang berderit memilukan di dekat mereka. Jantungnya berdebar-debar, matanya menatap was-was, dan berharap kalau setelah ini tidak akan ada sesuatu merayap di kakinya. Masa bodoh dengan Sasuke yang masih bersikeras memeluk pinggangnya, Ino hanya terus melanjutkan langkahnya agar bisa cepat-cepat keluar dari tempat terkutuk ini.

"Paman apa kau melihat ada sesuatu melayang di sana?" dia menggerakan senternya ke arah kain putih yang melayang-layang dengan suara tertawa aneh.

"Hn."

"Akh!"

"Bibi kenapa?"

Ino dibuat kaget oleh ulah Sasuke yang menggigit bahunya yang dilapisi cardigan. Menekan keinginan untuk meneriaki Sasuke karena keisengannya yang keterlaluan, dia cuma bisa berkata tidak apa-apa untuk menjawab pertanyaan Amatsu, dan kemudian menginjak kaki Sasuke dengan hak tingginya keras-keras sebagai balasan yang dirasa pantas didapatkan pria itu. Sesuai dugaan Ino, Sasuke hanya mendesis sebagai respon atas rasa sakit di kakinya. Bisa-bisanya Sasuke mencari kesempatan di tempat menyeramkan seperti ini, pikir Ino jengkel. Rasanya dia ingin sekali menjerit dan memaki pria yang berdiri di belakangnya ini.


Ino mengusap wajahnya dengan air yang masih mengalir dari keran wastafel. Seakan-akan hal itu bisa menjernihkan pikiran sekaligus meredam emosinya yang mau meledak dalam dirinya, tanpa peduli kalau setelah ini dia harus kembali memoles riasannya lagi sebelum keluar meninggalkan toilet ini. Sasuke benar-benar keterlaluan. Hanya karena sekali dia membiarkan pria itu menciumnya dan menyentuh tubuhnya, bukan berarti Sasuke bisa seenaknya memperlakukannya seperti tadi. Ino muak dengan ketidakberdayaannya menolak Sasuke demi menjaga image-nya. Benar-benar muak sampai air matanya mengumpul di sudut matanya dan siap tumpah dalam sekali kedip.

Sampai kapan dia bisa bertahan berada di dekat pria yang semakin liar menggerayangi tubuhnya, meski itu adalah seorang pria yang telah dijodohkan dengannya? Ino sekali lagi mengusap wajahnya sebelum mengambil tisu dan membenarkan riasannya, berharap dia tetap punya kewarasan untuk tetap menghadapi Sasuke. Melirik arloji di pergelangan tangannya, ternyata dia sudah hampir lima belas menit berada di toilet, dan ketika memastikan dirinya sudah terlihat oke, Ino bergegas pergi ke tempat di mana Sasuke dan Amatsu menunggunya.

Umpatan kesal hampir lolos dari bibir Ino saat begitu dia keluar dari toilet dan melihat seorang pria yang dia kenal berdiri di dekatnya. Itu Shimura Sai, dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang pucat yang membuatnya berbeda dengan yang lain, berdiri seakan dia sudah menunggu Ino di sana sejak tadi. Dia seperti malaikat kematian dengan sabit maut tersembunyi dalam genggamannya, dan terlihat siap mematikan hati Ino sekali lagi.

Ino mencoba tetap tenang, dan berpikir bahwa dia hanya perlu berpura-pura tidak mengenal pria itu lalu berjalan melewatinya, itu saja. Namun Dewi Fortuna sepertinya belakangan ini sedang tidak minat berada di pihaknya, karena begitu dia ingin melewatinya, tanpa diduga Sai malah mencekal tangannya dan hal itu otomatis membuat rencana Ino gagal.

"Senang bertemu denganmu lagi, Ino."

Ino menunjukan ekspresi tidak senangnya secara gamblang, berharap pria itu terganggu dan membiarkannya pergi. "Kau mengikutiku?" tebaknya asal dengan nada yang sinis, melirik pada pergelangan tangan yang seenaknya dicekal.

Merasa tatapan Ino memberitahu bahwa dia tidak akan langsung pergi dari tempat itu, Sai melepaskan cekalan tangannya dari pergelangan tangan wanita itu. Kaca mata hitam sukses menyembunyikan pancaran emosi yang ingin Ino lihat darinya.

"Kau pikir begitu?" jawabnya kalem, memasukan salah satu tangannya ke dalam saku lalu tersenyum.

"Kenapa mengikutiku?"

Bagus, emosinya yang memang sudah mau meledak sejak tadi memberi Ino keberanian untuk menghadapinya. Karena jika Ino merasa marah, rasa sakit hatinya bisa terpendam jauh dalam lubuk hatinya dan terkalahkan oleh kemarahannya sendiri.

"Kau masih saja pemarah, Ino."

"Dan kau masih saja tersenyum bodoh seperti itu, Shimura" Ino mendecih, matanya nyalang menatap Sai. "Jangan panggil namaku seakan kita teman dekat," lanjutnya mengingatkan.

Sai masih bersikap tenang meski Ino sudah kelihatan marah dan terganggu atas ulah pria ini.

"Bukankah di antara kita pernah tidak ada batas? Jadi apa alasanku untuk pura-pura tidak mengenalmu, Ino?"

Sai tidak menunjukan ekspresi apapun selain senyumannya yang ganjil, bahkan saat pria itu mulai menyinggung tentang masalalu mereka yang bagi Ino sudah tidak pantas untuk diingatkan lagi. Hal itu menyakiti hatinya. Pria itu memang tidak punya hati, pikir Ino.

"Dengar, yang kausebut 'kita' itu cuma bagian dari masalalu."

"Hmm, kau benar, Ino," Sai tertawa pelan, "Jadi menurutmu masa depanmu sekarang adalah Uchiha Sasuke ya?"

Ino menipiskan bibirnya dengan dahi yang merengut. Dia tidak suka tebakan Sai yang mengusik privasinya. Apa hubungannya dengan Sasuke sekarang jelas bukan dan tidak akan pernah menjadi urusan Sai.

"Urus saja urusanmu, dan tutup mulutmu." Ino tidak bisa menahan suaranya yang bergetar karena marah.

Pria itu tertawa pelan, tangannya hampir menyentuh pipi Ino tapi langsung ditepis kasar oleh si pemilik pipi dengan kernyitan jijik di wajahnya.

"Aku tidak menguntitmu asal kau tahu. Kebetulan saja aku melihatmu sebelum kau masuk ke toilet tadi, Ino." Jelas Sai. Ino mendengus, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Tidak ada kebetulan yang terjadi sebagus itu, yang jelas Ino mulai menebak-nebak apa yang diinginkan Sai dengan mengajaknya mengobrol di tempat umum begini.

Harusnya pria itu tidak ada di sini, harusnya dia tetap ada di belahan dunia yang lain dan tidak perlu kembali lagi. Pria macam apa dia ini? Setelah pergi begitu saja, kini muncul di depannya lagi dengan harapan hubungan mereka masih bisa kembali seperti dulu. Jangan bercanda. Dunia berputar, dan seseorang mungkin bisa berubah, tapi Ino entah bagaimana merasa yakin Sai pasti belum berubah.

Kenapa tidak pergi saja sih?

Kenapa harus kembali?

Ugh, kenapa?

Ino tidak sanggup lagi menghadapi pria ini sebab jika dipaksakan untuk bertahan lebih lama lagi, dia tidak yakin kalau dia mampu menahan air matanya.

"Oh begitu? Terlalu banyak kebetulan jadi terlihat memuakkan ya?" menghela napasnya lagi, Ino sudah tidak tahu apakah perasaan yang dirasakannya kini pada Sai adalah kemarahan akibat masalalu mereka yang tidak berakhir baik, atau malah sesuatu lain yang membuatnya mati rasa. "Lupakan saja. Apa susahnya menganggap kita tidak pernah kenal. Kau bodoh jika berpikir kalau aku masih mencintaimu."

Perkataannya mungkin terdengar konyol dan kekanakan, Ino sendiri tidak percaya pada apa yang baru keluar dari bibirnya, tapi mungkin beranggapan seolah mereka tidak pernah kenal terdengar sebagai pilihan yanh cukup bagus untuk menyelamatkan hatinya dari cinta pertama yang katanya tidak pernah berhasil. Tanpa menunggu Sai membalas ucapannya, Ino langsung melangkah pergi, tidak berniat menoleh ke belakang sama sekali, dengan ledakan emosinya yang meluruh menjadi air mata yang membasahi pipinya yang merah.

Orang-orang yang dilaluinya memberikan tatapan penasaran, dan Ino tidak mau ambil pusing bahkan jika yang membuat dirinya menjadi diperhatikan adalah hal yang membuatnya kelihatan menyedihkan. Perkataan Sai yang sarat dengan harapan bahwa dia ingin memulai lagi semuanya dengan Ino sudah cukup membuat kepalanya terasa penuh. Saat ini yang dia inginkan hanya pulang ke rumahnya, jadi begitu melihat Sasuke yang tengah duduk berdua dengan Amatsu di sebuah bangku panjang dengan tiga cup es krim, Ino merendahkan harga dirinya dengan berbisik dan memohon pada Sasuke agar segera mengantarkannya pulang.


"Kenapa mengajakku ke sini? Kukira aku sudah memberitahumu dengan jelas bahwa aku ingin pulang!" Ino mendesah frustasi, tapi tetap berusaha mengikuti langkah Sasuke yang melangkah cepat-cepat masuk ke dalam gedung apartemennya setelah lebih dulu mengantarkan Amatsu ke kediaman Uchiha dan mengambil barang-barang Ino yang ditinggal di sana.

Pria itu tidak menoleh dan terus menggandeng (atau menarik Ino dengan paksa, lebih tepatnya) agar mengikutinya. Begitu dia sampai di dalam lift dan menekan nomor lantai tujuannya, Sasuke mulai membuka suara. "Kupikir kau butuh sesuatu untuk membuatmu lebih tenang."

Ino menyenderkan dirinya di dinding lift, merasa bahwa dia bahkan sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar mendebat Sasuke meski apa yang dikatakan pria itu terdengar ambigu, "Kaupikir apa yang bisa membuatku lebih tenang?"

Tidak ada jawaban, Sasuke memang senang membuat dirinya menjadi susah ditebak, pikir Ino jengkel.

Air matanya mengalir lagi, sesak di dadanya terasa sudah tak tertahankan. Sasuke sudah pernah melihat payudaranya dan Ino tidak merasa malu, jadi haruskah dia merasa malu menunjukan air matanya di depan pria itu? Ino tidak berpikir lebih jauh karena begitu pintu lift terbuka, Sasuke sudah kembali menariknya lagi, membawanya masuk ke dalam apartemennya dengan Ino yang berusaha menghapus jejak-jejak air mata di wajahnya.

"Karena kau terlihat menyedihkan, untuk kali ini saja aku akan berbaik hati padamu."

Ino menatap Sasuke dengan tatapan tidak mengerti, jika suasana hatinya lebih baik dari ini, Ino pasti akan menertawakan ucapan Sasuke yang terdengar konyol. Kebaikan hati macam apa yang ditawarkan pria ini?

"Wine?" tanya Ino begitu melihat Sasuke mengeluarkan sebotol wine dari lemari dapurnya, dan sambil memperhatikan yang Sasuke lakukan, wanita itu perlahan berjalan menuju meja bar lalu duduk. Ada kernyitan dalam di dahinya, "Kau mau menemaniku minum? Aku tidak yakin apa tidak ada sesuatu yang terselubung di balik kebaikanmu ini, mengingat bahwa kau tidak pernah sebaik ini padaku..."

Sasuke meletakan botol wine mahal itu di atas meja, membukanya, dan langsung menuangkan isinya pada dua gelas yang tersedia di sana. Dia duduk berseberangan dengan Ino, tatapan matanya terlihat serius, "Jika kau berpikir aku mau membuatmu mabuk trus memperkosamu, kurasa aku cukup terhormat untuk tidak melakukannya. Aku mungkin menginginkanmu, tapi tidak dengan cara seperti itu."

Baru kali ini Ino tidak terusik atau merasa ngeri melihat seringai di wajah Sasuke yang mengakui kalau pria itu menginginkannya. Ino mengambil gelasnya dan buru-buru menegak isinya, menyodorkannya lagi pada Sasuke agar mengisi gelasnya kembali. Mungkin, sekali ini saja dia bisa mempercayai pria itu.

"Apa kau tahu bagaimana menyebalkannya jika seseorang dari masalalu kembali datang padamu dan berusaha mendekatimu lagi?"

Ino menegak wine untuk yang keempat kalinya. Wajahnya memerah dan matanya menatap nanar pada Sasuke, merasa bahwa dia sudah cukup mabuk sampai isi hatinya yang sejak saat pertama kali bertemu kembali dengan Sai di pembukaan galeri keluar begitu saja dengan lancar dari mulutnya.

"Tidak," Sasuke kelihatan tidak yakin dengan jawabannya, tapi dia agaknya tahu siapa yang dimaksud oleh wanita pirang ini.

"Dia itu cinta pertamaku, ciuman pertamaku, bahkan ..." Ino tertawa getir, menggoyang-goyangkan gelasnya sebelum menegaknya dan melanjutkannya lagi dengan suaranya yang terdengar retak. "Dia juga adalah pengalaman seks pertamaku-" aku Ino tanpa keraguan. Di bagian ini Sasuke sejujurnya tidak mengerti kenapa semua perempuan kadang berlebihan mengartikan apa yang menurut mereka sebagai pengalaman pertama.

First love, first kiss, first sex? Apa bedanya dengan pengalaman selanjutnya setelah itu? Cinta pertama yang tidak berhasil, ciuman pertama yang terasa canggung, dan pengalaman seks pertama yang terburu-buru ... Bukankah rasanya sama saja? Sasuke bahkan merasa pengalaman pertamanya tidak begitu berkesan sampai harus diingat. Namun karena tidak tahu harus bagaimana menanggapinya, Sasuke memilih diam.

Ino nampaknya tidak keberatan dengan sikapnya, dari pada diberi nasihat, wanita yang mabuk itu sepertinya lebih ingin didengarkan. "Lalu setelah dengan teganya menghancurkan hatiku, dia kini kembali datang padaku dan seenaknya mengungkit-ungkit luka lama ... menggelikan sekali, aku rasanya tidak percaya bahwa dulu aku pernah mencintai pria sejahat itu."

Sasuke tahu seorang Yamanaka Ino tidak mungkin bisa berbicara seperti ini kalau sekarang dia tidak dalam keadaan mabuk, mengungkapkan isi hatinya pada seseorang yang selalu mengganggunya? yang benar saja, pasti besok di kantor wanita itu juga akan kembali seperti Ino yang biasa, yang melupakan bahwa dirinya pernah berbagi sebuah rahasia pada Sasuke.

Sasuke tidak ada niatan lain selain rasa pedulinya yang entah muncul dari mana dan membuatnya bersedia menjadi pendengar, padahal perang dingin yang terjadi dengan kekasihnya sendiri saja tidak bisa dia selesaikan, kini dia malah mendengarkan masalah yang lain. Untuk kali ini saja, pikir Sasuke. Ino kelihatan mulai tidak sadarkan diri, dengan kepala yang jatuh ke atas meja dan bibir yang sudah berhenti berbicara, sepertinya perempuan itu tengah tertidur.

Dua hari yang mereka lalui cukup membuat Sasuke terhibur. Ino yang kesal dan marah-marah sudah biasa dilihatnya, namun Ino yang berhasrat, pemurung dan menangis adalah hal yang baru untuknya. Baginya apa yang dilakukannya ini hanya sebuah bentuk kepedulian terhadap seorang kenalan semata.

"Hn, waktunya kuantar kau pulang, Nona..."

to be continue.


Note:

Well, saya sebenernya udah nulis ini dari seminggu yg lalu, cuma karna ngerasa banyak yg kurang di sini, dan saya juga lagi sibuk2nya hiks jadinya gak bisa langsung dipublish saat chapter ini rampung maafkan ya. Sai nya OOC banget ya? Semuanya emang OOC demi kepentingan cerita, tapi sebenernya awalnya saya ingin tokoh dr masalalu Ino bukan Sai sih, tapi karna bingung juga jadi yoweslah.

Karna di chapter ini dan chap sebelumnya mereka lagi weekend, jadi belum muncul lagi adegan2 di kantornya dan saya juga belum berhasil memperlihatkan pacarnya Sasuke ya :(

Sampai juma di chapter selanjutnya ya!