Naruto milik Masashi Kishimoto.

Standard warning appiled. AU, OOC. rate M for Mature content.

Happy reading!


Sasuke sampai pada pukul delapan malam ke apartemennya, setelah sebelumnya pria itu mengantarkan Ino pulang ke kediamannya dan betapa beruntungnya Sasuke karena tidak ditanyai macam-macam oleh keluarga Ino. Padalah si wanita pulang dalam keadaan mabuk dan hampir tidak sadarkan diri sehingga harus digendong masuk olehnya.

Begitu memasukan password apartemennya dan membuka pintunya, Sasuke mengernyit heran melihat lampu ruang tamunya yang terang menyala, dan kerutan di dahinya menjadi semakin dalam saat melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang duduk manis menunggu di sofa biru ruang tamunya.

Harus Sasuke akui bahwa dia senang melihat kehadirannya di tempat ini, dan Sasuke menahan seringainya dengan berdehem pelan. Temari tetap terlihat mempesona dalam aura kedewasaannya yang menyilaukan, terlebih perempuan itu memakai baju merah marun pemberian Sasuke beberapa waktu lalu. Hal itu jelas membuat Sasuke senang.

Wanita berambut pirang sebahu itu tersenyum padanya saat Sasuke berjalan perlahan mendekat ke arahnya. Senyumnya bukan suatu jenis senyuman ramah yang menyenangkan yang biasa wanita itu berikan untuk menyambut kedatangannya. Melainkan sebuah senyum sedih yang terasa ganjil dan membuat kesenangan Sasuke luntur di detik itu juga lantaran pria itu merasa yakin bahwa apapun alasan yang membuat wanitanya itu datang ke tempat ini, atau apa yang akan dikatakannya itu, pasti hal itu bukan lah sesuatu yang ingin Sasuke dengar.

"Temari," katanya pelan, ikut menghempaskan tubuhnya di atas sofa di samping wanita bernama Temari itu. Sasuje menahan napasnya dan mengembuskannya perlahan. "Kenapa tidak mengaktifkan ponselmu?" Dari sekian banyak hal yang ada di kepalanya dan ingin diucapkannya pada Temari, Sasuke merasa seperti orang dungu karena hanya itu yang bisa dia katakan. Pria itu duduk dengan tidak nyaman sambil berpikir, mencari-cari kata yang tepat yang bisa dikatakannya pada perempuan pirang itu setelah hampir satu minggu mereka tidak bertemu.

Temari tidak langsung membalas ucapannya. Wanita itu meraih salah satu tangan Sasuke dan menggenggamnya erat, seolah dia butuh tambahan kekuatan untuk tetap berada di tempat ini. Dia menarik napasnya sebelum mengucapkan sesuatu. Kesungguhannya terlihat jelas dari caranya menatap Sasuke.

"Aku tidak tahu harus memulainya bagaimana," kepedihan di matanya membuat Sasuke tidak yakin apa dia mau mendengar apa yang akan dikatakan Temari selanjutnya. Jadi pria itu berpaling, enggan menatap balik matanya, dan tidak berusaha menarik tangannya dari genggaman itu. "Tapi kurasa kita memang harus mengakhirinya."

Sasuke sengaja mendengus keras. Meski seorang Uchiha Sasuke tidak punya banyak pengalaman dengan yang namanya perasaan sakit hati, tapi dia jelas tahu perasaan apa yang tiba-tiba mencengkram jantungnya ini dan membuatnya sesak. Sasuke menoleh dan menatap Temari tajam dengan sorot mata terluka yang tidak berusaha ditutup-tutupi.

"Tidak, dengarkan aku dulu," pinta Sasuke saat Temari terlihat ingin melanjutkan ucapannya. Sasuke mengerang dalam hati, tidak yakin dengan apa yang ingin dia katakan. "Beri aku waktu satu atau dua tahun lagi, dan saat itu aku yakin aku tidak akan mengecewakaanmu, Sayang ..." Sasuke tidak pernah memohon, dan harga dirinya terlalu tinggi untuk memohon agar seorang wanita tetap berada di sisinya dan tidak pergi meninggalkannya, toh selama ini dia tidak pernah memohon. Jadi Sasuke tidak memohon, melainkan meminta Temari memberinya waktu lebih lama lagi. Tapi wanita ini adalah Temari yang keras kepala, yang Sasuke sendiri tahu bahwa jika Temari ingin, maka dia akan melakukannya.

Temari menghela napasnya, meremas tangan Sasuke dalam genggamannya.

"Dengar aku baik-baik, Sasuke." Temari tidak punya keraguan dalam nada suaranya, tidak juga dalam caranya menatap Sasuke. Dia sudah menyiapkan hatinya untuk hari ini, dan Sasuke tidak boleh lagi mendebat keputusannya itu. "Sebelumnya, punya satu pengakuan yang mungkin akan membuatmu membenciku," Sasuke hanya diam, menunggu. "Aku tidak pernah berbohong saat aku bilang aku mencintaimu, tentu saja aku mencintaimu selama lima tahun ini. Tapi aku juga ragu bahwa kau akan menganggap hubungan kita sebagai hubungan yang serius, melihat bagaimana kau selama ini memperlakukan wanita-wanitamu di belakangku. Tidak, dengarkan aku dulu (pinta Temari saat melihat Sasuke akan menyela ucapannya). Aku tahu kau pria yang baik, aku juga tidak bisa berharap menjadi satu-satunya dalam hidupmu. Jadi maafkan aku, sebenarnya selama setahun belakangan ini, aku menjalin hubungan dengan pria lain di belakangmu untuk diriku sendiri. Kau boleh menyebutku jalang, ya, aku memang jalang ..."

Sasuke terlihat terkejut beberapa detik sebelum akhirnya dia berhasil mempertahankan ekspresinya yang kaku dan datar, dan membiarkan Temari menyelesaikan perkataannya tanpa berniat menyelanya lagi.

"Aku tahu kau ini pria yang bebas, yang sebanyak apapun cinta dan air mataku tidak akan mampu meluluhkan hatimu. Selama lima tahun ini, haruskah kukatakan padamu bahwa apa yang kaurasakan padaku itu bukan cinta, Sasuke? Melainkan sebuah perasaan lain yang membuatmu merasa nyaman, dan merasa diinginkan yang kau salah artikan sebagai perasaan jatuh cinta?"

"Aku mencintaimu, kau tahu itu." Desis Sasuke yang kelihatan tersinggung.

Temari tertawa pelan dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya sebelum melanjutkannya lagi.

"Baik, jika kau mau aku menganggapmu mencintaiku, maka akan kuanggap begitu. Tidakkah aneh jika kau mencintaiku tapi selama ini kau memperlakukanku seperti pelarianmu, atau mungkin wanita simpananmu yang baik? Yang menunggu kau pulang setelah penat akan hidupmu dengan gaun tidur yang manis di atas ranjang?"

Sasuke terpengarah mendengar hal itu, "Aku tidak menganggapmu begitu, Temari." Dia menekan perkataannya.

"Tentu kau tidak mau mengakui kalau aku benar, kau memang selalu begitu. Tapi coba kau pikirkan lagi, perasaan yang mana yang benar-benar kau rasakan padaku."

Temari melepaskan genggaman tangannya, dan beralih merangkum wajah Sasuke dengan kedua tangannya, memaksa pria itu hanya menatap pada kedua matanya saja.

"Kau bahkan tidak marah ketika aku mengakui bahwa aku telah menyelingkuhimu selama hampir setahun ini," bisiknya, terdengar entah sedih atau kecewa, "lima tahun, aku butuh lima tahun untuk merasa yakin bahwa hubungan kita memang tidak punya masa depan. Itu lebih dari cukup bukan?"

Dia mencium pria itu sekilas, dan ciuman itu seperti sebuah ucapan perpisahan yang tidak bisa diungkapkan. Sasuke tahu hatinya sakit, tapi tampaknya Temari memang benar. Kenyataan bahwa wanita itu berselingkuh dengan pria lain memang mengejutkannya, tapi tidak mampu memancing kemarahan dalam hatinya atau mungkin Sasuke depresi sendiri memikirkan apa yang sebenarnya tengah dia rasakan. Sasuke mengerang dalam hati, merasakan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Tidak, jangan pergi Temari ... tidak, kau tidak tahu hatiku.

"Kau yakin?" bisik Sasuke, yang tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mencegah wanita itu meninggalkannya. Jika Temari ingin pergi, maka dia akan pergi. Sasuke benci dirinya yang tidak bisa seperti Temari. Sebab Temari selalu tahu apa yang hatinya inginkan sementara dia tidak. Sisi egois dalam dirinya meminta agar dia mempertahankan hubungannya dengan Temari, sebab dia butuh wanita itu dalam hidupnya.

Tapi sisi dirinya yang lain mengatakan bahwa hubungan ini memang sebaiknya harus diakhiri saja. Temari ingin membangun sebuah keluarga, dan Sasuke tidak yakin apa dia bisa meninggalkan semuanya demi Temari, melihat bagaimana Fugaku berusaha menjodohkannya dengan pilihannya selama ini. Menikahi Temari berarti melepaskan kebebasannya, dan namanya akan tercoret dari daftar warisan Uchiha.

Demi mempertahankan sesuatu, berarti harus siap melepaskan yang lain. Ini terlalu mendadak untuknya.

"Ya," Temari tersenyum, air mata mengalir lagi di pipinya. Biar bagaimana pun, perpisahan tetap merupakan suatu momen yang menyakitkan meski merasa hatinya sudah siap. "Kau pasti akan baik-baik saja tanpa aku."

Sasuke meringis tertahan.

"Apa kau pikir begitu?" suaranya terdengar serak dan dalam.

"Tentu. Sebab Yamanaka Ino adalah perempuan yang baik dan manis."

Sasuke mengernyitkan alisnya, menunjukan ekspresi terganggu di wajahnya, "... Bagaimana kau tahu?"

"Percaya atau tidak, sejak awal aku sudah tahu kalau kau dijodohkan dengan putri dari keluarga Yamanaka itu."

Dia hendak bertanya lagi sebelum akhirnya memilih menelan kembali lagi semua pertanyaannya karena Sasuke rasa dia tidak perlu mempertanyakan hal itu di saat seperti ini. Terserah bagaimana caranya Temari bisa tahu perihal hubungannya dengan Ino, suasana hatinya terlalu kacau untuk memikirkannya. Walau sejujurnya Sasuke tergoda juga ingin bertanya siapa pria lain yang selama satu tahun belakangan ini menjalin hubungan di belakang punggungnya, tapi dia tidak yakin ingin mendengar kejujuran Temari yang bisa saja melukainya. Sasuke mengembuskan napas, menarik tengkuk Temari dan mencium bibirnya, melepaskan semua rasa frustasi yang tidak dia mengerti.


"Kau bercanda ya?"

Pagi itu Ino nyaris tersedak susu dietnya dan ingin menyemprotkan isinya yang tinggal setengah ke wajah Haruno Sakura yang terlihat berseri-seri. Sakura tetap tersenyum lewat matanya, dia berdiri di depan meja Ino dengan setumpuk laporan keuangan yang tadinya ingin diberikan langsung pada Ditektur Uchiha. Namun meski Ino sudah memberitahu lewat telepon kantor ketika Sakura menanyakan keberadaan Direktur, dan menjelaskan bahwa bosnya itu sedang tidak ada di ruangan karena ada keperluan lain yang membuatnya datang terlambat, Sakura tetap menghampiri ruangan tempat Ino berada dengan maksud yang lain.

Bagi Sakura ini berita bagus, meski tidak terdengar begitu di telinga Ino. Sebagai sahabat yang sudah saling mengenal sejak lama, Sakura tentu tidak ingin menunda cerita bahagianya dan memanfaatkan ketidakhadiran atasannya itu untuk mengobrol. Reaksi Ino yang seperti itu sudah dia duga sejak awal.

"Hatake Kakashi tidak seburuk itu, kok." Bela Sakura, sambil sengaja membuat gerakan mengusap cincin berhias berlian tiga karat pemberian Kakashi yang berhasil membuat Ino melayangkan tatapan aneh seolah ada sesuatu yang tidak wajar menempel di wajah Sakura.

"Dia memang tidak seburuk itu, ya kau benar. Tapi mendengarmu punya hubungan khusus dengan Hatake Kakashi yang mungkin hampir berusia lima puluh tahun, kedengarannya jauh lebih buruk lagi. Kau malah kelihatan seperti cewek-cewek matrealistis yang menikah dengan pria tua demi mengambil harta mereka!"

Ino melipat kedua tangannya di perut sambil menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi yang mendadak terasa tidak nyaman. Sakura masih berdiri di depannya dengan ekspresi keasmaran yang membuat Ino berjengit.

"Usianya empat puluh lima, bukan lima puluh," koreksi Sakura, "dan jangan salah, wajahnya tetap setampan pertama kali kita melihatnya sewaktu sekolah dasar!"

Ino merasa sudut bibirnya berkedut, "Aku mana tahu, dia kan selalu pakai masker geez! Pokoknya kurasa kau sudah gila, Saki."

"Cinta memang gila bukan?"

Tawa keduanya meledak seketika dengan alasan yang berbeda.

Ino masih berkeras bahwa otak Sakura pasti terbentur sesuatu sewaktu perjalanan dinasnya selama seminggu di Australia itu. Aneh sekali mendengar bagaimana Sakura bercerita bahwa kedekatan antara dia dan Kakashi berawal dari ketidak sengajaan mereka bertemu dalam pesawat terbang yang sama menuju Perth, dan entah bagaimana kejadiannya hanya butuh kurang dari satu minggu untuk membuat mereka saling mencintai dan memutuskan menjadi sepasang kekasih. Ini Hatake Kakashi, lho. Masalahnya bukan soal kepopuleran pria itu sebagai pemilik judi pacuan kuda yang sukses besar yang wajahnya kadang menghiasi majalah bisnis. Bukan itu.

Tapi sejauh yang Ino tahu, Hatake Kakashi merupakan anak dari pemilik sekolah elit bernama Konoha Gakuen tempat dia dan Sakura pernah bersekolah selama dua belas tahun lamanya di sana. Ino ingat betul bahwa Kakashi pernah menjadi guru matematikanya di kelas empat sekolah dasar. Berapa umur mereka waktu pertama kali diajar oleh Kakashi itu? sekitar sembilan tahun!

Dan Sakura sempat mengakui bahwa dia sebenarnya sudah menyukai mantan guru mereka itu sejak lama, dan sungguh menyenangkan bagi Sakura sebab mimpi masa remajanya untuk menjadikan Hatake Kakashi sebagai kekasihnya benar-benar terwujud. Sakura ingin mematahkan anggapan banyak orang yang berkata bahwa cinta pertama biasanya tidak berhasil. Ino pikir sebaiknya Sakura mulai memikirkan untuk membuat janji dengan seorang psikolog.

"Well, Ino. Sampai jumpa di jam makan siang, ya?" Sakura mengerling ke arah pintu masuk di mana Uchiha Sasuke baru saja tiba bersama dengan Uchiha Itachi, kelihatan sedang mengobrolkan hal yang serius atau raut wajah keduanya memang seperti iti. Ino mengangguk dan bertanya apa Sakura mau menyerahkan sendiri laporan itu pada Direktur atau meninggalkannya di meja Ino, dan Sakura memilih menitipkan laporan itu di meja Ino sebelum akhirnya pergi setelah mengucapkan salam hormat pada kedua petinggi Uchiha Corp yang berkarisma itu.

Sejujurnya Ino merasa dia seperti tidak punya muka untuk berhadapan dengan Sasuke hari ini, setelah banyak hal tak terduga terjadi di antara dia dan Sasuke. Tentu saja Ino ingat meski tidak terlalu jelas dengan apa yang diucapkannya pada Sasuke kemarin sore. Saat itu dia mabuk, dan tidak merasa malu membeberkan hal-hal pribadi tentang dirinya sendiri, bodohnya. Tapi sekarang situasinya berbeda, Ino bukan lagi wanita yang sedang mabuk dan dia tidak bisa melarikan diri dari tempat ini hanya karena merasa malu bertemu dengan Sasuke lagi.

Itachi memberinya salam yang ramah sebelum masuk ke dalam ruangan Sasuke, sementara si bungsu tidak mengatakan apa-apa dan hanya melirik Ino sebelum mengekor masuk ke dalam mengikuti sulung Uchiha. Sasuke bersikap seperti yang Ino harapkan, seakan sesuatu yang terjadi pada mereka sebelum ini tidak akan mengubah apapun. Ino melihat sekilas raut wajah Sasuke yang murung. Dan sepanjang jam kerjanya Ino diganggu oleh keingintahuan penyebab di balik murungnya atasannya itu. Meski dia berkali-kali berusaha menyingkirkan rasa ingin tahunya, tapi gagal.

Ternyata Ino salah. Kedekatan mereka belakangan ini sedikit mengubah dirinya atau mungkin pandangannya terhadap Uchiha Sasuke, dan dia hanya terlalu gengsi untuk mengakui hal itu.


Ino dibuat keheranan oleh dirinya sendiri yang tidak menolak ajakan pulang bareng yang ditawarkan Sasuke padanya, setelah sepanjang jam kerja pria itu tidak mengganggunya seperti hari-hari biasa dan lebih banyak berdiam diri di dalam ruangannya. Kebetulan juga Ino tidak membawa mobilnya hari ini. Kebetulan sekali. Bukankah seharusnya Ino bersyukur karena tidak diganggu oleh Sasuke? Harusnya sih begitu.

Tapi kenapa juga Ino harus mengiyakan ajakan Sasuke dan bukan malah menolaknya mentah-mentah. Ino menarik napasnya dalam-dalam sambil mencoba memahami isi hatinya sendiri. Diam-diam Ino mengakui bahwa dia tetap merasa kurang nyaman berada bersama Sasuke seperti ini. Dan dalam hati Ino menertawakan dirinya sekali lagi yang dengan bodohnya juga tidak menolak saat Sasuke mengajaknya makan es krim di sebuah kedai yang dilewati mobil Sasuke yang kebetulan searah dengan distrik tempat Ino tinggal.

Ino memangku wajahnya dengan telapak tangan di atas meja berbentuk kotak untuk dua orang itu, dan matanya menatap Sasuke dengan pandangan aneh selagi es krim pesanan mereka belum sampai secara terang-terangan. Berbagai pikiran tidak menyenangkan mengusik benaknya. Apa Sasuke berniat melakukan genjatan senjata dengan bersikap semanis ini padanya dengan ekspresi yang dingin begitu? Ino mengernyit dan semakin bingung sendiri karena tidak menemukan jawaban atas hal-hal yang membingungkan ini.

"Berhenti menatapku seperti itu, Yamanaka."

Sasuke yang menyadari tatapan terang-terangan Ino padanya itu merasa mulai jengah juga ditatap demikian.

"Memangnya aku menatapmu seperti apa?" tanya Ino sengaja menantang, masih tidak mengalihkan tatapan anehnya dari Sasuke yang kelihatan tidak suka.

"Seperti ..." Sasuke mulai menunjukan ekspresi menyebalkan di wajahnya.

Ino mendengus dan mengangkat tangannya ke depan wajah pria itu sebagai pertanda bahwa dia tidak ingin mendengar apa yang akan Sasuke katakan sebab Ino sudah bisa menebaknya. Ino baru akan membuka suaranya lagi sebelum akhirnya tertunda lantaran seorang pelayan mengantarkan es krim pesanan mereka ke atas meja.

Perempuan yang hari ini menguncir rambut pirangnya itu sempat menatap gelas es krim rasa vanilanya dengan ragu, menimbang-nimbang berapa banyak lemak yang terkandung dalam makanannya itu dan membuatnya harus melakukan beberapa gerakan pemanasan sebelum tidur nanti untuk membakar lemak berlebih. Ino berjengit, memakan segelas es krim sama saja dengan membatalkan dietnya. Harusnya dia tidak usah pesan apa pun tadi, tapi karena sudah terlanjur ya mau bagaimana lagi, pikirnya.

"Well, sejak tadi aku bertanya-tanya ada apa denganmu hari ini, Uchiha-san?" Ino mengangkat bahu acuh tak acuh sebelum menyendok sedikit es krim dan memasukannya ke dalam mulutnya, rasa manis berlebih ini sudah lama tidak dirasakannya.

Ino diam-diam melirik es krim cokelat milik Sasuke yang belum disentuh oleh pemiliknya. Betapa aneh sekaligus manis melihat Sasuke dengan segelas es krim. Dari sekian banyak hal, bagaimana mungkin pria sedingin bosnya ini ternyata bisa mengajaknya makan es krim? Hal itu mengejutkan sekali. Perubahan sikap Sasuke padanya cukup membuatnya keheranan. Pertama pria itu mau menemaninya minum dan mendengar curahan hatinya, dan hari ini Sasuke meneraktirnya es krim sekaligus tumpangan pulang.

Apa jangan-jangan semua ini merupakan ajakan tidur bareng yang dikemas sehalus mungkin oleh Sasuke agar Ino tidak menolaknya lagi saat ada kesempatan? Ino merinding menyadari isi kepalanya sendiri.

"Kau pikir apa?"

Sasuke selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan yang lain. Ino menatapnya sinis, lalu kemudian ponsel dalam tasnya bergetar dan mengalihkan rasa jengkelnya. Ino meletakan sendoknya, buru-buru merogoh ponselnya. Ada apa sih ibu menelpon? Tumben.

"Hallo bu, ada apa?"

"Bagaimana kencanmu? Sasuke mengajakmu ke tempat es krim 'kan?"

"Hah? Bagaimana ibu bisa tahu?"

Mendengar ucapan ibunya yang seperti itu lantas membuat Ino melemparkan pandangan bertanya-tanya ke arah Sasuke. Apa hal yang sebenarnya mereka tahu sementara dia tidak.

"Kurasa jawabannya adalah iya. Baiklah kalau begitu, sampaikan salam ibu pada Sasuke ya."

Telepon ditutup sepihak oleh sang ibu tanpa menjawab rasa penasaran Ino. Dan karena ibunya menolak memberitahu, tentu saja Ino kini tengah menunggu penjelasan Sasuke atas omongan ambigu ibunya dengan tidak sabar. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, kemudian mendengus seperti menahan tawa. Tentu saja Sasuke akan menjelaskannya dengan senang hati.

"Kemarin waktu aku mengantarmu pulang, Bibi Carmel memintaku mengajakmu untuk kencan ke kedai es krim. Karena dia khawatir dengan diet ketatmu dan ingin sesekali kau memakan makanan yang enak. Kau pikir kenapa hari ini kau tidak bawa mobil, dan kebetulan aku mengakmu pulang bareng? Bukankah tidak ada kebetulan sebagus itu?"

Sepasang bola mata biru itu terbuka lebar dan waspada, bukan terkejut, tetapi lebih tepatnya Ino terpana mendengar penjelasan Sasuke yang lancar dan mudah dicerna itu. Pria itu benar, bahwa di dunia ini memang tidak ada kebetulan yang sebagus itu. Pantas saja pagi tadi ibunya bersikeras ingin memakai mobilnya dan membuat Ino akhirnya berangkat naik subway ke kantor dengan setengah hati. Ino sekarang mengerti. Sasuke dan es krim memang terlihat aneh sejak awal. Ino membulatkan bibirnya dan juga berusaha tidak memikirkan pertemuannya dengan si mantan pacar yang katanya hanya sebuah kebetulan.

"Kenapa? Kau berharap bahwa kencan ini merupakan inisiatifku sendiri hn?"

Ino mendesis, menekuk wajahnya dan dengan sebal memasukan sesendok es krim ke dalam mulutnya, dan berusaha agar tidak mempermasalahkan lemak yang terkandung dalam makanan itu.

"Tidak, hanya saja kupikir kau sedang galau makannya mengajakku makan es krim. Tahu 'kan? Katanya makanan manis bisa memperbaiki mood-mu."

Sasuke terlihat tertarik dengan ucapan Ino, dia memajukan wajahnya dengan sengaja, "Apa kau bisa melihat isi hatiku dengan melihat wajahku?" tanyanya ingin tahu.

Ino mengangkat bahu, "Entahlah."

Sasuke mengerutkan alisnya, teringat akan sesuatu yang sejak tadi sebenarnya sudah ingin dia tanyakan pada Ino.

"Bagaimana perasaanmu saat hubunganmu berakhir?"

"...hah?"

"Hn?"

Ino mendengus geli setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya atas pertanyaan Sasuke yang terdengar tidak biasa. Pria ini sedang menyinggung perihal masalalunya atau apa, mentang-mentang Ino sudah menceritakan hampir sebagian dari rahasianya. Wanita itu mencoba untuk tidak berpikir macam-macam, lalu matanya menatap Sasuke dengan tajam seolah berusaha mencari tahu maksud di balik pertanyaan itu, dan ternyata dia tidak menemukan apa pun di sana. Sasuke tidak membiarkan seseorang menebak isi hatinya lewat matanya. Dengan berat Ino menarik napasnya, dia tidak yakin apa dia bisa menjawab pertanyaan itu.

"Ah aku tahu, apa itu sebabnya kau kelihatan murung pagi tadi?"

"Kenapa tidak jawab saja pertanyaanku lalu setelah itu habiskan es krimnya?" Ujar Sasuke yang mulai tidak sabar.

"Kenapa aku harus membagi rahasiaku pada seseorang yang tidak mau membiarkan aku tahu apa yang sedang dipikirkannya?" balas Ino sengit. Sasuke mengembuskan napas, menaikan sebelah alisnya.

"Kau benar."

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Sasuke, dan kelihatannya pria itu tidak berminat memberi penjelasan atas maksud dari perkataannya sendiri. Ino melemparkan pandangan sebal, setelah dia mengerti apa yang Sasuke maksudkan, barulah Ino mulai memikirkan dan mengingat lagi perasaan yang sudah cukup lama ditinggalkannya itu.

"Dengar baik-baik, karena aku tidak akan mau mengulangi ucapanku lagi," Sasuke mendengus geli saat Ino sengaja meremehkannya. "Ketika akhirnya hubunganku kandas, saat itu rasanya yang kuingat setiap hari hanyalah sebuah kegagalan yang menghancurkan hatiku. Saat itu aku masih sangat muda dan naif, dan hubungan yang berjalan selama kurang lebih tiga tahun itu membuatku bermimpi bahwa hubungan kami pasti akan terus berlanjut dan mungkin saja sampai menikah kalau cukup beruntung." Ino menarik napas, memastikan apa Sasuke benar-benar tertarik mendengar ucapannya atau tidak. "Tapi nyatanya yang kuinginkan malah berakhir menyedihkan lebih dari apa yang selama ini kubayangkan."

Sasuke menatapnya serius.

"Maaf."

Ino mengerutkan alisnya, dia tidak mengerti kenapa Sasuke malah meminta maaf padanya. "Maksudmu?"

Sasuke bangkit dari posisi duduknya, lalu tangannya mengambil dompetnya dari dalam kantong celana dan meninggalkan beberapa lembar yen di atas meja. Masih dengan ekspresi yang ganjil Sasuke melirik Ino dengan ekor matanya, "Kau tidak mau pulang?"

Ino benar-benar tidak mengerti kenapa dia harus bertemu dengan orang seperti Sasuke di dunia ini. Memangnya Ino punya otak sejenius apa sampai Sasuke berpikir bahwa wanita itu pasti akan mengerti maksud dari perkataannya yang diucapkan setengah-setengah seperti itu? Ino menekuk wajahnya kesal dan berjalan mengekori pria itu, rasa jengkelnya membuatnya tidak menyadari bahwa Sasuke baru saja meminta maaf padanya untuk yang pertama kali.


"Aku harus menjemput seseorang. Dan yang terpenting aku sudah menepati janjiku pada ibumu. Kau bisa naik Taksi 'kan, Yamanaka?"

Ino memungut sepatu hak tinggi berwarna biru dongker miliknya yang kelihatan masih layak dipakai, setelah sebelumnya dia dengan murka melemparkan salah satu sepatu itu dan mengenai bagian belakang mobil Sasuke yang telah menghilang dari jarak pandangnya. Ino tidak habis pikir dengan pria yang satu itu, di satu waktu dia bisa menjadi sangat manis, dan di waktu lainnya dia bisa membuatmu bergairah, dan kemudian, dia juga bisa berubah menjadi tokoh antagonis yang tak berperasaan.

Sasuke pergi begitu saja setelah menyelesaikan ucapannya. Ino harusnya tahu bahwa dia tidak boleh berharap Sasuke menjadi lebih baik hanya karena pria itu bersedia menemaninya minum. Ekspresi Ino seperti ingin menangis saat dia mulai menyeret langkahnya untuk menyebrangi jalan dan menghampiri sebuah Taksi yang terparkir di seberang sana, sambil sesekali menghentakan hak sepatunya dengan kesal. Sasuke memang tidak waras, pikirnya.

Ino sudah berniat ingin masuk ke dalam Taksi sebelum matanya melihat seseorang berambut merah yang dia kenal baru saja keluar seorang diri dari toko roti yang letaknya tepat di dekat Taksi yang terparkir itu.

"Gaara!" Ino berteriak, suaranya terlalu keras untuk memanggil seseorang yang berdiri tidak terlalu jauh dari posisinya.

Pria itu menoleh ke arah Ino dan menatapnya dengan alis yang merengut. Ino buru-buru menghampiri Gaara dan tanpa berpikir lebih jauh dia sudah meraih lengan pria itu untuk menghentikan langkahnya. Gaara kelihatan bingung dengan sikap Ino yang aneh ini.

"Kau ini kenapa?" tanyanya heran, tapi tidak terlihat terganggu dengan apa yang Ino lakukan.

Ino menghela napas lega sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Syukurlah aku bertemu denganmu. Aku nyaris gila karena baru saja dicampakan seseorang!"

"Kau-" Gaara menipiskan bibirnya. Dia meraih telapak tangan Ino dan menggenggamnya, dan mulai memaksa wanita itu agar mengikuti langkahnya yang berjalan menuju mobilnya. "selalu saja semaumu sendiri."

Untuk ukuran seorang mantan pacar, Gaara tidak pernah membuat Ino kecewa selama ini. Dan diam-diam Yamanaka Ino meringis menyadari betapa jahatnya dia pada pria Sabaku ini. Ino berusaha meredam kekesalannya pada Sasuke dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa Sasuke pasti akan membayar semua perlakuan seenak jidatnya itu.

to be continue.


Note:

Yes, akhirnya sasuino kencan berdua ya meski bukan inisiatifnya Sasuke sendiri. Setelah setengah2 ngerjain fict ini karna kebanyakan ditunda-tunda nulisnya, saya akhirnya berhasil menyelesaikan chapter ini dan saya juga minta maaf kalo ceritanya agak nggak jelas dan mungkin gak sesuai ekspektasi kalian para pembaca:(

Suasana hati saya lagi gak bagus belakangan ini, entah karena apa. Mungkin juga karna saya berusaha mengingat apa yang saya rasakan ketika saya patah hati saat menulis bagian di mana Sasuke bertanya ke Ino bagaimana perasaan Ino ketika hubungannya berakhir, eh saya jadinya malah baper soalnya kenangan-kenangan berjatuhan kaya hujan di siang bolong.

Gaara? siapa itu Gaara? tunggu di chapter depan ya.

Terima kasih banyak sudah membaca chapter ini, dan silakan isi kolom review jika ingin mengeluarkan pendapat, masukan bahkan uneg-uneg, atau mungkin jika ada pertanyaan bisa kontak saya melalui PM ya. saya terima segala jenis review kok, tenang aja XD.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya!