*HunHan SeRaXi Present

Heal Me

Cast: Always Hunhan and other
Genre: Yaoi Only
Rate : T

Previeous:

Prang...

Sehun membanting sebuah vas yang berada disebelahnya, ia terlalu masuk dalam masalahnya hingga tak kuat menahan amarah yang menggebu dalam benaknya, Sera tentu terkejut, ini tidak bisa dibiarkan, sehun bisa saja melukai dirinya sendiri jika dibiarkan

"Haruskah aku mengirimnya ke rumah sakit jiwa?" Sera menjatuhkan airmata dalam keterdiamannya, ia masih memperhatikan Sehun yang meraung, sungguh ia masih menyayangi adiknya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sendiri tak bisa mengendalikan adiknya yang amat terpuruk.


"Ahjumma, Ice americano hana juseyo.." Namja itu berucap pada seorang bibi penjaga kantin

"Heii-Dokter Xi, kau terlihat cantik hari ini" Namja yang dipanggil dokter Xi itu menoleh, dan tiba-tiba ia menggeplak orang yang barusan menyapanya

"Aku namja, bodoh!" Luhan mengerucutkan bibirnya

"Tapi aku kan jujur hihi..." Namja itu terkikik sendiri

"Huhh.. awas saja jika kau bertanya tentang dokter D.O, aku takkan memberitahumu!" sungut Luhan dan ia sedikit menyerigai

"Yakk! Jangan... baiklah Dokter Xi kau tampan hari ini" Namja itu memasang aegyo nya

"Kau menggelikan Kai" komentar Luhan dan ia mengambil cup ice americano nya kemudian pergi meninggalkan Kai

Luhan memasuki ruang kerjanya, aroma mawar langsung menyeruak ketika ia masuk. Luhan sangat menyukai mawar, karena itulah disetiap sudut jendela pasti ada pot berisi mawar. Luhan menuangkan air kedalam pot tersebut dan sesekali mencium harumnya mawar, Luhan tersenyum rileks dan ia meletakkan gelas yang digunakan untuk menyiram tadi.

Pintu kerjanya terbuka, Luhan menoleh dan sesorang yang notabene anak buahnya itu berjalan kearahnya

"Selamat pagi dokter Xi, aku kemari ingin memberitahumu tentang pasien baru yang akan dirawat dirumah sakit ini, ini adalah biodata pasien dan riwayatnya, anda bisa membacanya semua disini" salah seorang perawat menyerahkan sebuah map kepada Luhan

"Baiklah, kapan keluarga pasien datang?" Luhan bertanya

"Mungkin siang nanti, bersamaan dengan sang pasien juga" perawat laki-laki itu menjelaskan

"jika mereka datang segera antar ke ruanganku ya! Terimakasih Jongdae-yah"

"Tentu, kalau begitu saya permisi" Jongdae membungkukkan badannya dan ia keluar dari ruangan atasannya

Luhan mengamati map tersebut, ia membuka satu-persatu isinya. Luhan mengamati foto sang pasien yang masih tampak gagah disana, tiba-tiba Luhan tersenyum, sejak kapan ia terpikat dengan pasiennya sendiri?, Luhan mengalihkan fokusnya, ia membaca detail biodata sang pasien yang sebentar lagi akan ditanganinya.

"Oh Sehun, pemimpin sebuah perusahaan, usia 26 tahun, status bercerai. Sepertinya dia berasal dari kalangan atas" Luhan bergumam sendiri, ia lalu membuka berkas satunya berisi riwayat pasien

Luhan membaca deretan kalimat yang ditulis keluarga pasien dengan teliti, ia sedikit emosi ketika mengetahui sang pasien ini ternyata depresi akibat ulah istrinya sendiri, seluruh hartanya dikuras dan ia menceraikan si pasien setelahnya, dan yang membuatnya tercengang adalah istri si pasien ini sedang mengandung yang bukan anak si pasien.

"Heol..istri macam apa dia?!" Komentar Luhan emosi, ia tak habis pikir disana tertulis jika pasien sudah menikah 3 kali dan semuanya harus berakhir dalam perceraian. Tiba-tiba Luhan teringat akan rumah tangganya sendiri yang juga mengalami kegagalan, Luhan tersenyum pahit dan berusaha melupakan kejadian itu.

"Kenapa dunia ini begitu kejam padanya? Seharusnya dia bersenang-senang karena kesuksesannya di umur yang masih muda, tapi sayang... dia harus berakhir dirumah sakit ini" Luhan bergumam lagi, ada sedikit empati dalam hatinya mengingat riwayat sang pasien yang begitu memilukan.

Tok..tokk..

"Masuklah..." begitu Luhan mempersilahkan, pintu tersebut terbuka

"Chanyeol?" Luhan tersentak ketika mengetahui siapa yang datang

"Bagaimana kabarmu Luhan?" Chanyeol menatap Luhan tersenyum

"Semuanya baik-baik saja, Chan" Luhan balas tersenyum walau dalam hatinya ada rasa sakit disana

"Bagaimana kabarmu?, kenapa kau tampak kurus sekarang?" Luhan menangkup pipi Chanyeol dengan kedua tangannya, ia mengamati Chanyeol lekat dengan ekspresi cemas.

"Benarkah?, ahh aku terlalu kelelahan mungkin, aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku" Chanyeol menurunkan tangan Luhan yang berada di pipinya

"Apa Baekhyun mengurusmu dengan baik?" Luhan tahu itu adalah topik yang sensitive, tapi ia tak dapat memungkiri apa Chanyeol hidup dengan baik setelah menikah secara sah dengan Baekhyun.

"Dia juga sama sibuknya" Chanyeol tersenyum kearah Luhan menandakan ia baik-baik saja

"Duduklah! Ada apa kau kemari?" tanya Luhan

"Tadi Baekhyun melupakan obatnya, jadi aku mengantarnya kesini. Setelah ini aku akan ke rumah sakit, tapi sebelum itu aku hanya ingin mengunjungimu" Chanyeol sedikit canggung

"Ahh kau pengertian sekali padanya" Luhan sedikit menyindirnya, ia masih memperhatikan Chanyeol dan tiba-tiba ia sedikit terkejut ketika mendapati rambut Chanyeol sedikit mengalami kebotakan.

"Chanyeol-ah, rambutmu..." Luhan menunjuknya

"Ahh ini aku..." Chanyeol berusaha menutupinya

"Yeol-ah, sudah kubilang padamu jangan terlalu memfolsir tenagamu eoh" Luhan sedikit kesal dan Chanyeol nampak berkacang pinggang

"Eung... ini karena aku sering mengganti warna rambutku" Chanyeol mencari alasan

"Kau pikir aku bodoh?, aku juga dokter Yeol" Luhan membuang mukanya

"Tidak, kau salah sangka. Hidupku bahagia sejak bersama Baekhyun, untuk apa aku tertekan, Luhan?" Chanyeol berusaha meyakinkan Luhan

"Tapi—"

"Luhan, aku harus segera ke rumah sakit. Aku pamit" Chanyeol berpamitan pada Luhan dan ia segera keluar dari ruangan tersebut sekaligus menghindari Luhan yang masih overprotektif padanya.

Luhan tersenyum pahit, ia masih ingat ketika ia dan Chanyeol menjalani hubungan yang tak direstui oleh ibu Luhan, membuat ia dan Chanyeol memutuskan tinggal seatap tanpa adanya pernikahan. Tapi semenjak Baekhyun datang, lambat laun hubungannya dengan Chanyeol semakin merenggang, itu dikarenakan dulu Chanyeol juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Luhan dan kebetulan Baekhyun juga menjadi dokter saat itu.

Tapi sekarang Chanyeol dipindah tugaskan dirumah sakit jiwa lain, itu karena rumah sakit baru tersebut membutuhkan beberapa dokter dibagian mereka menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Luhan, tiba-tiba Chanyeol mengiriminya undangan pernikahan dengan Baekhyun yang tentu saja membuatnya kaget, tapi setelah melihat keadaan Chanyeol tadi, ia sedikit ragu apakah dia hidup dengan baik atau tidak, walaupun sekarang Luhan bukan apa-apanya tapi tentu saja Luhan tetap mengkhawatirkannya karena Chanyeol dulu adalah suami tidak sahnya.

"Dokter Xi, keluarga pasien sudah datang" Luhan tersadar begitu Jongdae memberitahunya

"Persilahkan masuk.." perintah Luhan, dan Sera masuk setelahnya dengan menjabat tangan Luhan

"Selamat siang dokter, aku adalah kakak dari pasien Oh Sehun. Sera imnida" Sera memperkenalkan dirinya

"Senang bertemu denganmu, yang ku tahu kedua orangtua kalian meninggal ya?" Luhan memastikan dan Sera mengangguk

"Ya benar, kedua orangtua kami meninggal dalam kecelakaan pesawat saat itu" Sera menjelaskan

"Ahh begitu.." Luhan manggut-manggut "Aku sudah membaca sekilas riwayat pasien, bisa kau jelaskan setelah kejadian penyitaan aset kalian itu, kondisi Sehun bagaimana?" Luhan mulai mewawancarai keluarga pasien

"Dia jadi agak pendiam, saat itu aku ingin dia bercerita padaku, tapi aku terlalu sungkan. Aku sendiri tak dapat membayangkan bagaimana kecewanya dia saat itu, karena sejak kecil, ia selalu mengerjakan semuanya sendiri, ia jarang mengeluh pada kami. Dia juga pandai menyembunyikan perasaannya. Jadi aku sendiri tak dapat memperkirakan" Sera menjelaskan dengan pandangan tertunduk

"Apa Sehun ini sudah dibawa ke psikiater sebelumnya?" Tanya Luhan lagi

"Tidak, aku terlalu sibuk mengurusi butik ku hingga mengabaikannya" Sera semakin menyesal

"Sebelum Sehun mengalami depresi, kepribadian sehari-harinya bagaimana?" Luhan bertanya lagi

"Dia orang yang bertanggung jawab, baik perusahaan maupun keluarganya. Dia juga sangat menyayangiku dan juga mantan-mantan istrinya" Sera membuang muka setelah mengingat wanita-wanita itu "Tapi tiba-tiba dia berubah, dia sering membentakku atau bahkan mengusirku. Jika ia kesal maka ia akan membanting barang-barang disekitarnya, aku benar-benar khawatir, dokter" Sera mengelap airmatanya dengan tisu

Luhan mulai menyimpulkan dalam otaknya apa yang terjadi pada Sehun, "Sebelumnya dia tak pernah membentakmu?" Tanya Luhan dan Sera mengangguk, "Apa kau punya foto-foto pasien bersama mantan istrinya dulu?" setelahnya Sera menunjukkan ponselnya yang tertera dalam layar gambar Sehun bersama Suzy,Yoona, maupun Hani.

"Boleh aku meminta foto ini?" pinta Luhan dan Sera mengangguk, lalu ia mem-bluetooth foto-foto tersebut

"Aku hanya ingin tahu, jika kau menyadari Sehun berubah. Kenapa kau tak segera bertindak untuk mendekatinya? Ini bisa diminimalisir jika kau membawa Sehun ke psikiater sebelumnya" Ucap Luhan disela menunggu ponselnya selesai melakukan bluetooth

"Maafkan aku, aku sendiri juga punya kesibukan. Tidak mungkin selama sehari penuh aku terus berada disampingnya setiap hari" Sera menunduk lemah

"Aku turut prihatin dengan kondisi keluargamu, kau yang sabar ya. semoga Tuhan lekas memberikan mukjizat pada adikmu" Luhan tersenyum empatik dan berusaha menyemangati keluarga pasien

"Amiin.. aku sangat berharap padamu dokter, dia adalah anggota keluargaku satu-satunya yang tersisa hikss.. tolong bantu dia agar sembuh hikss.." Sera mulai menangis lagi

"Sebagai dokter aku juga manusia biasa, berdo'a lah pada Tuhan agar aku diberi kemudahan untuk mengobatinya. Dan perlu ku informasikan bahwa saat ini aku hanya bisa mendiagnosa awal penyakit Sehun, jika aku sudah mendiagnosanya, aku akan segera menghubungimu" Luhan mejelaskan

"Tolong jaga adikku dokter, aku sangat berharap padamu.." Sera menatap Luhan dengan sayu

"Ya aku mengerti" Luhan tersenyum meyakinkan

"Kalau begitu saya permisi dokter" Sera membungkuk sebelum keluar dari ruangan tersebut

Setelah itu Luhan menghela napasnya, ia menyandarkan punggungnya di sofa ruang kerjanya. Luhan terdiam sejenak kemudian beranjak keluar dari ruangannya. Ia berjalan menuju kamar pasiennya yang baru, Oh Sehun. Ditengah perjalanan ia ditabrak oleh seorang anak kecil yang tengah berlari ketakutan, Luhan langsung menahannya

"Ziyu, ada apa? Kenapa berlari?" Luhan sedikit khawatir pada anak itu, dan menggendongnya

"Takut..." Ziyu menyembunyikan wajahnya didada Luhan

Seorang yeoja remaja berlari menghampiri mereka berdua, ditangannya terdapat bangkai kecoa. Dan Ziyu semakin meraung ketika yeoja itu menakutinya dengan bangkai tersebut

"Aleyna Buang itu! Jangan buat Ziyu takut!" Luhan mendelik tajam kearah Aleyna yang nampak ketakutan, Luhan mengambil bangkai tersebut dan membuangnya ke sampah

"Maafkan dokter ne, Aleyna" Luhan mengusak rambut gadis tersebut dan menggandengnya berjalan besama Ziyu yang masih dalam gendongan Luhan

"Perawat Yixing, bisakah kau ajak kedua anak ini bermain? Aku masih harus mengurusi pasienku" Luhan menyerahkan kedua anak itu pada perawat bernama Yixing

"Baiklah, ayo anak-anak kita bermain" Yixing menggandeng mereka menuju ruang bermain

Luhan melanjutkan perjalanannya yang tertunda menuju kamar pasien Oh Sehun, ketika ia sampai disana, Luhan melihat pasien itu hanya diam. Biasanya pasien baru yang pertama kali masuk ke rumah sakit ini akan memberontak yang membuat para suster itu kewalahan menahan pergerakannya.

Luhan mendekati Sehun yang masih membelakanginya, ia asik memperhatikan hamparan bunga mawar dari celah jendela kamarnya dan tak menyadari ada seseorang yang masuk ke kamarnya

"Sehun..." Luhan memanggilnya dan Sehun menoleh

"Aku akan jadi teman barumu, Luhan." Luhan tersenyum manis kearah Sehun, dan si pasien tak menggubrisnya

Luhan tersenyum kecut setelahnya, jadi dokter di RSJ memang unik, ia setidaknya harus mengajak berbicara sang pasien yang tentu saja tidak akan bisa mencerna setiap ucapannya. Tapi berbicara juga termasuk terapi, untuk memperbaiki penurunan daya bicara pasien.

"Huhh.. sepertinya kau perlu waktu sendiri sementara waktu. Baiklah aku pergi..." Luhan beranjak dari tempat itu, Sehun sedikit ragu, ia melihat orang itu berparas Cantik tapi ia berpenampilan laki-laki dengan rambut pendek berponinya. Karena itulah Sehun hanya diam tak menoleh sedikitpun kearah Luhan.

Sehun tak mengerti, akhir-akhir ini tubuhnya selalu bereaksi aneh ketika ia melihat wanita berparas cantik. Tiba-tiba saja tubuhnya berkeringat dingin dengan napas yang megap-megap disertai detak jantung yang bekerja lebih cepat. Sehun takut sekali jika ia mengalami kejadian yang sama, dimana wanita-wanita cantik yang pernah ia nikahi selalu berakhir menyakitinya. Dan sepertinya Sehun menganggap jika wanita-wanita itu sama saja, dalam artian sama-sama munafiknya.

Luhan berjalan menuju ruang kerjanya lagi, ia tengah berpikir jika Sehun dibiarkan terus tertekan maka ia akan semakin parah, tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Luhan memerintah perawat perempuan tersebut untuk memberikan obat antidepresan pada Sehun.

"Perawat Seulgi, tolong beri obat antidepresan pada pasien, Oh Sehun." Perintah Luhan dan Seulgi mengangguk

"Baik dokter Xi, akan segera saya laksanakan" Seulgi membungkuk hormat pada Luhan

Luhan berjalan lagi dan membuka pintu ruang kerjanya ketika sampai, sesaat dia terkejut ketika kelopak-kelopak mawarnya jatuh berserakan diruang kerjanya dan yang membuatnya takut adalah kelopak tersebut juga digenangi darah, entah darah apa.

Luhan jatuh terduduk, tiba-tiba ia merasa pusing. Luhan sangat takut dengan darah, ia akan jadi lemah jika melihat darah, aroma kelopak mawar yang dicampur jadi satu dengan amisnya darah membuatnya semakin tak berdaya, ia masih terduduk dilantai dengan pejaman mata yang kuat.

"Dokter Xi, anda baik-baik saja?" Jongdae nampak khawatir dan ia membantu Luhan untuk berdiri kemudian memapahnya keluar

"Jongdae-yah, itu darah apa?" tanya Luhan lemah, ia masih bersandar dikursi pengunjung dekat ruangannya

"Entahlah, saya akan memanggil petugas kebersihan. Tapi sebelum itu anda harus kekamar pasien Oh Sehun, ia mengamuk hebat sekarang" Jongdae memberitahu dan Luhan membelalak seketika

"Minta petugas kebersihan untuk segera membersihkannya..." Perintah Luhan dan Jongdae mengangguk

Luhan berlari kekemar rawat Sehun, ia bisa melihat disana Sehun melempari Seulgi dengan apapun yang berada disekitarnya, Sehun nampak kalut ketika Seulgi mendekat

"Jangan mendekat, kumohon.." Pinta Sehun histeris, ia bahkan melemparkan selimut kearah Seulgi

"Aku takkan pergi sebelum kau meminum obatmu" Seulgi bersikeras

"Seulgi-yah, kau pergilah. Biar ku urus dia" Luhan memerintah dan Seulgi menurut, ia meletakkan nampan berisi obat dan air putih tersebut diatas meja nakas

Setelah Seulgi pergi, Sehun sedikit tenang. Ia mulai berhenti melempari barang disekitarnya, Luhan mendekat kearah Sehun, ia memperhatikan sang pasien lekat, terlihat jelas gurat kekhawatiran disana dan Luhan sedikit menemukan titik terang.

Sehun juga memperhatikan Luhan, ia melihat dengan jelas orang dihadapannya itu. Wajahnya memang cantik, tapi ia juga memiliki jakun seperti dirinya. Sepertinya Luhan bukan wanita, dia pria berparas cantik, begitulah pikir Sehun.

"Kau agak baikan?, sekarang ayo minum obatmu!" Luhan menyodorkan pil tersebut beserta segelas air putih, Sehun tidak bergeming ia memilih mengabaikan Luhan. Dan ide jahil terlintas di otak Luhan

"Seulgi-yah, kamarilah..." Begitu Luhan mengucapkannya, Sehun langsung merebut pil tersebut dan menenggaknya bersamaan dengan air putih

"Bagus.." Komentar Luhan senang, "Sebaiknya kau tidur" saran Luhan dan ia beranjak dari kamar Sehun dengan membawa nampan berisi gelas kosong tersebut

"Seulgi-yah, tolong kau bawa ini" Luhan menyerahkan nampan tersebut dan ia menuju ruang kerjanya lagi, sesampainya disana ruangannya tampak rapi kembali dengan petugas kebersihan yang baru saja mengepel ulang lantainya.

"Selamat siang, dokter Xi. Saya sudah membersihkan ruangan anda" Petugas kebersihan itu membungkuk kearah Luhan

"Darah apa itu tadi?" tanya Luhan penasaran

"Mungkin bangkai tikus yang dimakan kucing.."Ucap sang petugas

"Kenapa bisa masuk kesini?, lalu siapa yang mencabuti kelopak mawar-mawarku?" Luhan nampak jengkel

"Saya juga tidak tahu, kalau begitu saya permisi. Lantai baru saja dipel sebaiknya anda berhati-hati ketika jalan" Petugas itu memberitahu

Luhan mendudukkan dirinya dikursi, ia menghela napas. Luhan memutar musik lewat ponselnya untuk menenangkan diri, sambil mendengarkan ia berpikir, Sehun tadi sangat ketakutan dengan Seulgi, ia rasa ini aneh dan ada yang tidak beres.

Lama berpikir hingga akhirnya ia menemukan suatu kesimpulan awal. Tunggu, jika ia membaca riwayat Sehun sekali lagi dan dipadukan dengan penjelasan Sera tadi siang sepertinya Sehun phobia terhadap wanita. Ini kemungkinan besar terjadi karena mantan istri-istrinya dulu yang mengkhianatinya, hingga membuat Sehun berspekulasi bahwa perempuan hanya akan menyakitinya lagi.

Luhan mematikan musiknya, ia mulai membuka folder galeri di ponselnya. Ia melihat ketiga foto tersebut yang di dapat dari hasil bluetooth melalui ponsel Sera, ia mengamati wajah-wajah mantan istri Sehun, dan dari ketiganya, Luhan akui istri-istri Sehun yang dulu memang cantik-cantik.

Jika dihubungkan dengan kejadian barusan, dimana Sehun berteriak ketakutan ketika melihat Seulgi, bisa dipastikan Sehun mengidap ketakutan berlebih pada wanita cantik. Seulgi jika dilihat sekilas memang cantik dan tunggu, Sera juga menjelaskan untuk yang pertama kalinya Sehun berani mengusir dan membentak kakaknya, tapi jika Luhan amati, Sera juga cantik. Mungkin itulah yang membuat Sehun tidak tahan dan ingin Sera segera menjauh darinya.

"Mungkinkah Sehun mengidap Venustraphobia?" gumam Luhan

~ TBC ~


*Venustraphobia adalah ketakutan berlebih terhadap wanita cantik

Jika readers-nim udah baca chap awal, mungkin readers-nim sadar kenapa Sehun bisa kena phobia itu. Dan yang kemarin bilang GS -_- sorry GS not my style -_- nahh kalo Sehun udah kena phobia itu maka kemungkinan Sehun menjadi Gay itu ada kan? :3

RFF juseyooo... ^^