Previeous:

Jika dihubungkan dengan kejadian barusan, dimana Sehun berteriak ketakutan ketika melihat Seulgi, bisa dipastikan Sehun mengidap ketakutan berlebih pada wanita cantik. Seulgi jika dilihat sekilas memang cantik dan tunggu, Sera juga menjelaskan untuk yang pertama kalinya Sehun berani mengusir dan membentak kakaknya, tapi jika Luhan amati, Sera juga cantik. Mungkin itulah yang membuat Sehun tidak tahan dan ingin Sera segera menjauh darinya.

"Mungkinkah Sehun mengidap Venustraphobia?" gumam Luhan

HunHan SeRaXi Present

Heal Me

Cast: Always Hunhan and other
Genre: Yaoi Only
Rate : T


Sebuah diagnosa yang dijatuhkan pada seorang pasien, tidak mungkin melalui dalam satu kali pengamatan, Luhan sebagai dokter harus bijak, ia tidak mungkin langsung memvonis Sehun mengidap Venustraphobia sebelum menguji sang pasien beberapa kali.

Luhan beranjak menemui Jongdae, ia meminta sang perawat laki-laki itu untuk memberikan segelas air putih pada Sehun. Awalnya Jongdae sempat bingung, tapi Luhan menjelaskan bahwa ia sedang bereksperimen sekarang, ia berjanji akan bertanggung jawab pada Jongdae jika terjadi sesuatu padanya, Luhan hanya perlu memperhatikan Sehun dari jauh saja.

Cklekk..

Jongdae membuka pintu kamar Sehun, ia mendekati sang pasien yang daritadi hanya menatap luar melalui jendela, ia mengguncang bahu Sehun beberapa kali dan membuatnya terkesiap, Luhan tetap mengawasi mereka dari balik pintu, ia menanti reaksi apa yang Sehun berikan terhadap Jongdae.

Sehun menatap Jongdae lekat, Jongdae yang merasa ditatap itupun sedikit kikuk, ia menyodorkan segelas air putih tersebut padanya, Sehun menolak dengan memberikan isyarat memalingkan mukanya. Jongdae menoleh kearah Luhan, sang dokter itu memberikan isyarat agar Jongdae terus mendekatinya.

"Kau baik-baik saja?" Jongdae berucap pelan dan Sehun mengangguk, Jongdae memberanikan diri menyentuh bahu Sehun, reaksi yang diberikan Sehun awalnya terkejut namun kemudian ia hanya tetap diam, tidak memberontak seperti yang ia lakukan pada Seulgi.

"Istirahatlah.." bahkan ketika Jongdae keluar dari kamarnya pun, Sehun masih terdiam di tempat, ia sama sekali tidak memberikan reaksi apapun yang membuatnya berteriak ataupun mengamuk.

"Kerja bagus, sekarang kembali ke tempatmu.." Luhan berucap lirih kearah Jongdae, setelah Jongdae pergi, Luhan tetap mengamati Sehun dari balik pintu, ia melihat laki-laki itu terus merenung tanpa memperdulikan waktu yang terus berputar.

Eksperimen keduanya berhasil dengan bantuan Jongdae, Sehun tidak memberikan respon apapun ketika Jongdae masuk ataupun menyentuh dirinya, saat ini diagnosa Sehun atas Venustraphobia masih berlaku padanya, ia akan membuktikan sekali lagi dengan mengirim perawat Seohyun setelah ini.

Pintu kamar Sehun terbuka lagi, atas perintah dokter Xi, Seohyun mencoba mendekati Sehun dengan dalih mencatat kondisinya. Sehun membelalak, ia terus memundurkan tubuhnya ketika Seohyun berusaha mendekat kearahnya, ia tak berani menatap perawat perempuan tersebut, kedua tangannya bergetar hebat dengan hawa yang tiba-tiba serasa mencekam bagi Sehun.

"Permisi, aku hanya ingin mengetahui denyut nadimu.." Seohyun mencoba meraih pergelangan Sehun, namun tiba-tiba tubuhnya didorong kuat oleh sang pasien, Sehun memeluk kedua lututnya dengan erat, ia menyembunyikan wajahnya disana. Seohyun tidak menyerah, ia menyentuh lengan Sehun perlahan dan...

"Pergi! Jangan sakiti aku, hiks..." Sehun terisak, Luhan yang mengawasi mereka dari jauh pun langsung memasuki kamar Sehun dan meminta Seohyun keluar

"Sehun, ini aku Luhan..."sang pasien itu mengangkat wajahnya ketika suara Luhan yang didengar, Luhan dapat melihat bekas ketakutan diwajah Sehun dengan genangan air mata yang membasahi pipinya, Luhan tersenyum manis kearah Sehun, ia mengarahkan jemarinya untuk mengusap aliran air mata tersebut.

"Jangan takut, ada aku disini. Lihat! Aku sudah mengusir perempuan itu" Luhan berucap tegas kearah Sehun, sang pasien itu melihat kesekelilingnya, wanita itu sudah pergi, ia bisa bernapas lega setelahnya, tubuhnya tidak lagi bergetar dengan keringat dingin yang bercucuran, Sehun meraih jemari Luhan dan menatapnya penuh harap

"Aku takut, jangan tinggalkan aku sendiri..." Luhan terkejut mendengar penuturan Sehun, tiba-tiba ia bersorak dalam hati bahwa ia berhasil mendekati Sehun, dengan begitu proses terapi maupun pengobatan akan lebih mudah ia jalankan nanti

"Aku tidak akan meninggalkanmu. Jangan takut, aku ada disini bersamamu sekarang" Luhan memeluk Sehun dan mengusap punggung lelaki itu, berusaha menyalurkan ketenangan dalam diri sang pasien, setelah ia rasa Sehun agak baikan, Luhan berencana akan mengajaknya bermain setelah ini

"Kau pasti bosan kan disini terus? Ayo kita keluar!" Luhan berdiri dan menarik tangan Sehun agar mau mengikutinya, awalnya Sehun enggan namun karena Luhan terus memaksanya, akhirnya ia memilih untuk mengikuti kemauan teman barunya ini

Luhan menggandeng Sehun menuju taman dihalaman rumah sakit, disana hamparan mawar dan rerumputan hijau tampak menyegarkan dimatanya, Luhan melirik sekilas kearah Sehun, ia melihat wajah sang pasien yang nampak kagum dengan pemandangan didepannya, tanpa sadar Luhan tersenyum

"Kenapa kau melihat ini lewat jendela?, bukankah jika kau kesini secara langsung mawar-mawar itu tampak lebih indah?" Luhan menatap Sehun yang lebih tinggi darinya, wajah sang pasien yang terkena sinar matahari terasa lebih jelas dimata Luhan, ia terpesona akan ketampanan wajah Sehun, tanpa sadar Luhan tersipu dan memalingkan mukanya.

"Kenapa hanya diam disini?, ayo kita duduk disana!" Luhan memecah keheningan diantara mereka, ia ingin melangkah namun tiba-tiba terhenti ketika melihat seorang anak kecil yang sedang duduk menyendiri dibangku taman

"Ziyu..?" anak kecil itu menolehkan kepalanya ketika namanya disebut, Luhan mendekati Ziyu, ia mengusap kepala anak itu dan berlutut didepannya

"Kenapa menyendiri?" Luhan menatap anak itu intens, sedari tadi Ziyu hanya menundukkan kepalanya tanpa mau menatap kearah Luhan

"Sehunna, kemarilah..." Luhan melambaikan tangannya kearah Sehun, namja itu mendekat kearah Luhan yang sekarang bersama seorang anak kecil, Luhan menggendong balita tersebut dan menimangnya

"Ziyu sedang sedih ya?, jangan sedih... Lihat! Ada om Sehun disini" Ziyu menatap kearah Sehun, ia masih asing dengan pria didepannya dan Luhan mengerti akan hal itu

"Ziyu, kenalkan ini Om Sehun. Beri salam padanya.." pinta Luhan

"Annyeonghaseyo..." Ziyu memberi salam kepada Sehun dengan menundukkan kepalanya imut

Luhan tersenyum senang setelahnya, Ziyu sudah 2 tahun berada di rumah sakit ini, ia dibawa kemari oleh pihak berwenang setelah kasus penyiksaan yang dialaminya oleh kedua orangtuanya sendiri, Ziyu yang masih polos itu harus menerima pukulan dan tamparan setiap harinya hanya bisa menangis hingga mengakibatkan trauma mendalam dalam dirinya, diketahui jika orangtua Ziyu positif menggunakan narkoba dan melakukan penyiksaan tersebut secara tidak sadar

Namun kini Ziyu mengalami perkembangan pesat disini, ia sudah bisa tertawa dan bermain dengan anak-anak penghuni rumah sakit yang sama-sama bermasalah dengannya, Ziyu tidak lagi mengurung dirinya dan berteman baik dengan siapapun sekarang, termasuk Luhan

"Sehunna, dia Ziyu.." Luhan memperkenalkan Ziyu pada Sehun

"Jja, duduklah..." mereka bertiga duduk dibangku taman dengan pohon rindang diatasnya, semilir angin berhembus mengenai kulit mereka yang terasa sejuk dengan suasana yang menenangkan

"Ziyu tadi kenapa eoh? Coba ceritakan padaku.." Luhan memangku Ziyu dan membelai anak rambutnya

"Ziyu iri dengan teman-teman Ziyu yang dijenguk mama-papanya, Ziyu juga ingin seperti mereka" Ziyu berucap dengan polosnya dan menyenderkan kepalanya didada Luhan

"Ohh, jadi Ziyu sedih karena itu?, apa Ziyu tidak takut jika mama-papa Ziyu memukul Ziyu lagi?" Luhan bertanya kearah Ziyu, ia memandang anak itu iba, ia tahu pasti bagaimana perasaan anak sekecil itu ketika berpisah denga orangtuanya

"Ziyu saat itu nakal, pantas saja Ziyu sering dipukuli.." adu Ziyu, anak ini terlalu polos hingga tak mengakui kejahatan orangtuanya sendiri, setelahnya Luhan tersenyum kearah Ziyu, Luhan dengan jahil menggelitiki pinggang anak itu, dan sukses membuat Ziyu kegelian

"Hentikan dokter, Ziyu geli...haha" akhirnya Ziyu tertawa, Luhan tersenyum penuh arti kearah anak itu, tiba-tiba suara pesawat terbang terdengar diatas sana, Luhan menunjuk pesawat tersebut dan memberitahukannya pada Ziyu

"Ziyu lihat! Disana ada pesawat, coba panggil pesawat itu agar Ziyu bisa ke Jeju" Luhan menunjuk pesawat diatas sana dan Ziyu tersenyum

"Pesawat!, bawa Ziyu ke Jeju.." Ziyu berteriak nyaring dan mengangkat tangannya seolah ingin menggapai pesawat tersebut

Sehun hanya diam memperhatikan interaksi keduanya, Luhan sangat penyayang terhadap anak kecil, membuat Luhan berkali-kali lipat lebih mempesona dimata Sehun. Setelah pesawat itu menghilang dari pandangan mereka, Luhan tersadar akan Sehun, ia menoleh kesamping dan menemukan Sehun sedang menatapnya juga, tiba-tiba pipinya memerah tanpa sadar.

Plukkk...

Sehun maupun Luhan terkejut ketika Ziyu menepuk pipi Sehun, Sehun tanpa sadar memberikan tatapan datarnya kearah Ziyu dan membuat anak kecil itu sedikit takut

"Kenapa Om Sehun hanya diam?" tanya Ziyu lirih, ia menundukkan wajahnya dan semakin takut ketika pandangan datar itu tetap ada diwajah Sehun, Ziyu menyembunyikan wajahnya didada Luhan dan meremat kemeja Luhan kuat

"Dokter, Om Sehun marah ya sama Ziyu?" terdengar dari nada bicaranya Ziyu hampir menangis, Luhan menatap Sehun tajam tapi kemudian melunak ketika melihat Sehun lebih dulu mengeluarkan airmatanya

"Astaga Sehun kau kenapa?" Luhan menatap Sehun khawatir, Ziyu mendongak dan ikut memperhatikan Sehun juga, tanpa sadar Ziyu menangis keras

"Huwaaaa...maafkan Ziyu om, Ziyu tahu Ziyu salah hiksss..." Ziyu meraung dikemeja Luhan yang nampak basah karena airmata anak itu, Luhan bediri dan menimang anak itu lagi, mengusap punggungnya dan berusaha menenangkannya

"Bukan salah Ziyu kok, Om Sehun sedang Kelilipan hingga ia menangis.." Luhan mencoba meyakinkan Ziyu jika itu tadi bukanlah kesalahannya, ia sendiri juga bingung mengapa saat Ziyu menepuk pipinya tiba-tiba Sehun menangis

"Dokter Xi, biar saya yang urus Ziyu.." Yixing, perawat laki-laki khusus anak-anak itu menawarkan bantuan kepada Luhan dan dengan senang hati, Luhan memberikan Ziyu pada perawat itu

"Terimakasih, perawat Yixing.." setelahnya perawat itu membungkuk kearah Luhan dan membawa Ziyu pergi

"Sehun kau kenapa?" Luhan mengusap helaian rambut Sehun, ia memperhatikan Sehun lekat, berusaha memberikan perhatian lebih padanya

"Anakku..." satu kata itu terucap dibibir Sehun, tiba-tiba Luhan merasa hatinya seakan diremat, begitu kejamnya takdir yang diberikan Tuhan pada Sehun, Luhan saat ini berusaha tersenyum untuk menghibur pasiennya

"Dia bukan anakmu..." Luhan mengingatkan, Sehun seakan terpukul ketika mendengar ucapan itu lagi, ketika ia datang ke restoran tengah malam untuk menjemput Hani dan ternyata ia berselingkuh tepat dihadapan Sehun, dan dengan tidak tahu malunya mengatakan bahwa anak yang sedang ia kandung bukanlah anaknya

Sehun menyembunyikan wajahnya, ia menangis kencang diantara kedua lengannya, ingatan akan masa lalunya dulu begitu menusuk dalam hati kecilnya membuat amarah terpendam itu semakin menggebu-gebu dan tidak dapat dibendung lagi, Sehun hanya bisa menangis meratapi nasibnya, semua yang ia miliki telah sirna, harta, cinta, kasih sayang,kebahagiaan, dan buah hati, semuanya telah direnggut secara mendadak.

Luhan membawa Sehun kedalam pelukannya, ia mengusap punggung lelaki itu dan membisikkan kalimat penenang untuknya, ia membiarkan kemejanya basah sekali lagi terkena cairan air mata Sehun, ia memeluk sang pasien makin erat dan membiarkan Sehun bersandar diantara ceruk lehernya

"Dia memang bukan anakmu, tapi kau bisa menganggap Ziyu sebagai teman..." Luhan mengusap kepala bagian belakang Sehun

"Ziyu dan aku akan selalu berada disini, kau tidak perlu khawatir..." Luhan melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Sehun, ia memberikan senyuman terbaiknya pada sang pasien

"Kau tunggu disini.." Luhan beranjak dari tempat duduknya, ia berlari menuju semak-semak yang dipenuhi mawar kecil, kemudian memetik satu tangkai lalu ia bawa kearah Sehun

"Jangan menangis, kenanglah mawar ini jika kau sedih..." Luhan memberikan mawar itu pada Sehun, dan sang pasien menatapnya bingung

"Kau tahu mengapa aku menyukai mawar?, itu karena mawar adalah bunga yang sempurna, ia ditakdirkan memiliki mahkota yang indah, dan setiap hewan maupun manusia akan jatuh cinta ketika melihatnya, tapi jika kau ingin memetik setangkai mawar, kau harus berhati-hati karena ia memiliki duri, kau bisa saja terluka karena duri-duri itu" Luhan mulai bergumam

"Itu sama seperti kehidupan, kau berusaha memetik mawar itu sekarang, tapi kau ceroboh. Jari-jarimu mengenai perangkap duri itu dan melukai kulitmu, tapi kau terus berusaha mendapatkannya hingga akhirnya setangkai mawar itu berhasil kau petik, terkadang sesuatu yang indah itu harus kau dapatkan melalui luka terlebih dahulu" Luhan menambahkan lagi

Mereka terdiam cukup lama, Sehun sudah mulai menghentikan isakannya, Luhan berhasil mengendalikan emosi sang pasien, tanpa sadar ia tersenyum lagi, ia menatap Sehun lama dan rasa empati sedikit demi sedikit muncul dalam hati Luhan untuk Sehun

"Sehunna, ayo kita kembali! Ini waktumu makan..." Luhan menuntun Sehun menuju kamarnya

Setelah mengantar Sehun kekamarnya, ia tiba-tiba merasa lapar juga, ia yang tadinya hendak kembali ke ruang kerjanya mengubah haluan menuju kantin. Setelah memesan beberapa makanan, kebetulan Luhan melihat Dokter Kyungsoo, ia segera mengambil tempat disebelah dokter bermata bulat tersebut

"Apa kabar dokter Kyung.." sapa Luhan dan orang yang dipanngil itu tersenyum

"Kuperhatikan tadi kau hebat sekali menenangkan kedua pasienmu yang sedang menangis, haha.." Kyungsoo berusaha membuat lelucon

"Yahh..begitulah, aku seperti mengurus dua bayi, haha.." Luhan tertawa juga

"Dokter Kyung, kuberitahukan padamu, Kai akan mengajakmu makan malam setelah ini..." Luhan berbisik kearah Kyungsoo

"Benarkah?, ahh dia selalu menggangguku.." Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, entahlah ia merasa jika Kai disekelilingnya, hari-harinya akan kacau

"Tapi pipimu merona, aww..aww.. ada yang sedang jatuh cinta ya?" Luhan menggoda Kyungsoo sekali lagi

"Yaishh.. hentikan!, namja tolol itu bukan tipeku" seru Kyungsoo, dan Luhan terdiam setelahnya

Setelah menghabiskan makanannya, tiba-tiba Luhan teringat sesuatu "Dokter Kyung, apa setelah ini kau ada waktu?, ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Luhan dan Kyungsoo duduk dikursi pengunjung rumah sakit, setelah mendengar permintaan Luhan tadi, Kyungsoo langsung meng-iyakan ajakannya

"Aku ingin tahu pendapatmu mengenai Hipnoterapi, apa mungkin aku dapat memberikan terapi itu pada pasienku?" Luhan meminta pendapat Kyungsoo

"Kau bisa saja melakukannya, tapi apa kau yakin cara itu akan berhasil?, apa mungkin kau dapat mengendalikan alam bawah sadar pasien jika si pasien saja memiliki gangguan jiwa?" Kyungsoo bertanya balik

"Dan juga, kau harus memastikan apa dia siap menerima terapi itu atau tidak. Begitu juga persetujuan keluarga pasien dan kondisi mental pasien juga harus kau perhatikan" Kyungsoo menambahkan

"Aku tahu akan hal itu, tapi ini tidak bisa dibiarkan. Pasienku itu mengidap Venustraphobia. Aku sebagai dokter khawatir padanya, tidak mungkin aku membiarkannya terus menerus takut setiap melihat wanita, lagipula ia juga memiliki seorang kakak yang juga perempuan" Jelas Luhan

"Sebaiknya kau lakukan terapi alamiah saja, didampingi obat-obatan medis juga..." Saran Kyungsoo

"Tapi apakah itu akan bekerja?, dia memiliki riwayat hidup yang kelam menyangkut mantan-mantan istrinya yang cantik. Aku rasa cara itu tidak akan ampuh padanya" Luhan menyangga ucapan Kyungsoo

"Dia adalah pasienmu, kau bisa melakukan apapun padanya, tapi aku sarankan sebaiknya kau jangan gegabah, kau membuang waktumu hanya untuk memberikan hipnoterapi yang kemungkinan berhasil saja kecil" Kyungsoo mengingatkan

"Satu hal yang harus kau ingat dokter Xi, Hipnoterapi tidak akan berhasil jika sang pasien saja tidak mau diajak bekerja sama" Luhan terdiam setelahnya, perkataan Kyungsoo ada benarnya, tapi membiarkan Sehun hidup dengan rasa ketakutan berlebih disetiap harinya, itu sama saja bisa membuat tingkat depresinya semakin parah.

Luhan melangkahkan kakinya dengan gontai, sedari tadi ia berjalan dengan kepala menunduk memikirkan ucapan Kyungsoo yang masih terngiang dipikirannya. Luhan menghentikan langkahnya ketika ia berada didepan kamar Sehun, ia melirik sekilas ke kamar tersebut dan Sehun terlihat sedang duduk melamun, ia melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut

"Sehun, kau belum tidur?" Sehun tersadar ketika Luhan tiba-tiba mendatanginya

Luhan mendudukan dirinya disamping Sehun, ia memandang wajah sang pasien yang terlihat kusut.

"Sehun, kenapa kau takut terhadap wanita?" Luhan mencoba bertanya

"Entah.." begitulah jawaban Sehun

"Lalu kakakmu sendiri juga perempuan, apa kau akan terus menghindarinya juga?" Luhan bertanya lagi

"Entah..." jawab Sehun tanpa memandang Luhan

"Apa kau masih menyayangi Sera Noona?" Luhan menatap intens kearah Sehun

"Ya..." satu jawaban berbeda itu membuat Luhan sedikit diberi kepercayaan bahwa ia bisa melakukannya

"Apa kau ingin sembuh, Sehun?" Luhan sangat berharap akan jawaban Sehun sebentar lagi

~TBC~


Fast update yeee mumpung author libur \^o^/ yang kemarin minta m-preg gimana cubak kalo udah kayak gini :'''v tenang aja author udah merencanakan jalan cerita ini dengan matang :3 sedikit bocoran kalo nih epep bakal berakhir happy :''3 eniwei ada kemarin yang bilang author,kakak :3 saya 01 line looh :3 seharusnya author yang panggil kalian eonni/oppa :''v baiklah sekian pidato author hari ini, kurang lebihnya dimaklumi -,,- review again guyss... ^^