Previeous:

"Sehun, kenapa kau takut terhadap wanita?" Luhan mencoba bertanya

"Entah.." begitulah jawaban Sehun

"Lalu kakakmu sendiri juga perempuan, apa kau akan terus menghindarinya juga?" Luhan bertanya lagi

"Entah..." jawab Sehun tanpa memandang Luhan

"Apa kau masih menyayangi Sera Noona?" Luhan menatap intens kearah Sehun

"Ya..." satu jawaban berbeda itu membuat Luhan sedikit diberi kepercayaan bahwa ia bisa melakukannya

"Apa kau ingin sembuh, Sehun?" Luhan sangat berharap akan jawaban Sehun sebentar lagi

.

.

.

*HunHan SeRaXi Present

Heal Me

Cast: Always Hunhan and other
Genre: Yaoi Only
Rate : T

.


.

Sehun hanya diam tak merespon pertanyaan Luhan, sang dokter itu menghela napas pelan, ia tahu menanyakan hal serumit itu pada Sehun adalah kebodohannya, tapi setidaknya ia sudah berhasil memancing pernyataan Sehun tadi, dia masih menyayangi kakaknya itu wajar, tapi phobia itu seakan jadi penghalang baginya, dan Luhan-lah yang bertugas untuk menghapuskan penghalang tersebut.

"Ini sudah malam Sehun, tidurlah.." Luhan beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar Sehun, setelah ia bereskan barang-barang di ruang kerja miliknya, Luhan segera pulang ke rumah dengan menaiki bus

"Aku pulang.." Luhan berucap ketika ia membuka pintu rumahnya, sang ibu langsung menyambutnya dan meminta Luhan untuk mandi sementara ia menyiapkan makan malam untuk sang anak

Seusai Luhan mandi, ia langsung duduk bersila dilantai berhadapan dengan meja yang dipenuhi makanan, ibunya sudah menyiapkan ia makanan sepulang kerja, dengan bersemangat Luhan menghabiskan makanan tersebut dan tersenyum riang kearah ibunya

"Euhm..mashitta.." Luhan mengacungkan 2 jempolnya pada sang ibu setelah ia meneguk segelas air putih

"Makanlah yang banyak agar kau cepat tinggi.." ucap ibunya

"Haishh..apa aku kurang tinggi, bu?" Luhan mendengus lalu membantu ibunya merapikan piring sisa makannya tadi

"Biar ibu yang cuci ini, kau kembalilah ke kamar dan tidur.." setelahnya Luhan menurut dan beranjak menuju kamarnya

Luhan mendudukkan dirinya dimeja belajar dekat ranjangnya, sebenarnya ia masih kepikiran dengan apa yang akan ia lakukan pada Sehun, Luhan mencoba membuka buku psikologi-nya kembali, ia berusaha mengingat-ingat informasi yang pernah dosennya dulu ajarkan, setelah sekian menit membolak-balikkan buku tersebut, Luhan mendesah pelan dan menyandarkan punggungnya dikursi

"Aigoo..apa yang harus kulakukan?" runtuknya dalam hati

Ia mulai berpikir lagi, Kyungsoo mengatakan jika sang pasien saja tidak bisa diajak kerjasama, maka terapi itu akan sia-sia, tapi Luhan berusaha menampik itu, Sehun adalah pasiennya dan ia yang lebih tahu kondisi Sehun, setelah ia amati kelakuan Sehun, Luhan rasa Sehun belum mencapai tahap gangguan jiwa, ia masih dalam tingkat dibawahnya yaitu depresi

Tapi jika depresi dibiarkan maka mustahil gangguan jiwa tidak akan terjadi, Luhan tidak bisa membiarkan ini sebagai dokter, ia harus mengambil tindakan, depresi lebih mudah dikendalikan dan ia harus memanfaatkan itu baik-baik, ia tidak peduli lagi bahwa yang ia lakukan bisa saja gagal, ia belum mencoba dan harus membuktikkan bahwa pendapatnya lebih tepat daripada Kyungsoo

"Aku harus melakukannya..." gumam Luhan

Saat ia menyusun rencana untuk jadwal Hipnoterapi Sehun besok tiba-tiba ponselnya bergetar, Luhan mengernyit ketika Chanyeol yang tiba-tiba mengiriminya sms malam-malam begini

"Aku minta maaf atas kejadian tadi siang, Lu"

"Tidak apa-apa, aku yang seharusnya minta maaf karena masih mengkhawatirkanmu" Luhan membalas pesan tersebut

"Kau belum tidur, Lu? Jangan sering begadang dengan segelas kopi, itu buruk bagi kesehatanmu"

Luhan tersenyum kecut ketika membacanya, Chanyeol masih memperdulikannya?, setelah beberapa tahun tinggal seatap dengan Chanyeol, tentu laki-laki itu masih mengingat kebiasaannya yang suka minum kopi ketika begadang. Wajahnya tiba-tiba menjadi sayu, ahh..tak seharusnya ia mengingat masa lalu dengan suami orang.

"Ya, kau juga" setelahnya Luhan menekan menu send-nya

Esok paginya ketika Luhan akan berangkat kerja, ia melihat sang ibu sedang memegangi kepalanya dengan berjalan terhuyung, Luhan yang khawatir langsung menghampiri sang ibu dan memintanya untuk berbaring

"Ibu baik-baik saja?" tanya Luhan panik

"Ibu pusing seperti biasa.." jawab Ibunya lemah, Luhan yang mengerti langsung menuju kotak obat dan mencari obat penambah darah

"Astaga! Obatnya habis.." Luhan menghela napasnya, sang ibu sering terkena anemia hingga membuatnya lemas, Luhan menghampiri sang ibu dan pamit menuju apotik

Sambil berjalan Luhan berusaha menghubungi jongdae, ia meminta sang perawat itu untuk membawa Sehun ke laboratorium dan meminta seluruh hasil pemeriksaannya pada Dokter Park, ia akan berangkat agak siang setelah mengurus ibunya dan mengatakan akan mengambil hasil laboratorium itu ketika ia sampai disana

Sesampainya Luhan di apotek, tampaknya pagi ini sudah ramai, ia duduk mengantri dibangku pengunjung dan menunggu orang-orang berbaris itu selesai, ketika ia duduk Luhan dikejutkan oleh orang yang tiba-tiba menepuk pundaknya dan ia menoleh

"Chanyeol?!" Luhan membelalak

"Haii-Luhan, kau membeli obat untukmu?" tanya Chanyeol ramah

"Ani, itu untuk ibuku" jawab Luhan sedikit canggung "Kau sendiri?"

"Ahh ini untuk Jesper, ia demam semalam" Chanyeol tersenyum menanggapi

"Kemana Baekhyun? Bukankah dia yang seharusnya mengurus anakmu?" tanya Luhan sedikit menyindir

"Aku tak enak menyuruhnya, ia terlihat kelelahan semalam..." ucap Chanyeol

Mereka hening sejenak kemudian Chanyeol berucap lagi, "Semalam, aku hanya..."

"Ya, aku mengerti—" potong Luhan cepat, ia sedang tak ingin membahas masalah sms semalam

"Ini giliranku, kalau begitu aku duluan..." Chanyeol beranjak meninggalkan Luhan yang masih terdiam disana

Setelah mereka berdua mendapatkan obatnya, mereka saling tersenyum sebelum pulang "Semoga anakmu lekas sembuh" ucap Luhan dan Chanyeol berterimakasih setelahnya

"Kau juga..."

Entah kebetulan atau apa ia akhir-akhir ini sering bertemu dengan Chanyeol, ia tahu jika Baekhyun sampai mengetahuinya ini tidak akan baik, Luhan berusaha menampik pikiran negative tersebut, sesampainya dirumah, ia langsung menghampiri sang ibu dengan membawakan segelas air juga

"Kenapa Lama sekali?" tanya sang ibu

"Apotek sedang ramai dan aku bertemu Chanyeol disana" ucap Luhan, ia sedikit melirihkan ucapannya ketika nama Chanyeol disebut

"Apa kau masih tidak bisa melupakannya?" tanya ibunya sinis

"Tidak, kami memang sering bertemu tapi sewajarnya" jawab Luhan

"Kenapa kau mencintai pria itu? Kau adalah dokter jiwa dan seharusnya kau mengerti jika mencintai sesama jenis itu adalah kelainan" sindir ibunya lagi

"Tapi WHO telah menghapuskan itu sejak lama, bu. Gay bukanlah penyakit sekarang" Luhan memberitahu yang sebenarnya tapi meskipun begitu ibunya tetaplah tidak percaya

"Percuma saja, kau seharusnya mengobati dirimu sendiri dulu sebelum orang lain" sindiran ibunya begitu menusuk hati kecil Luhan, ia ingin membentak marah tapi ia masih ingat jika orang dihadapannya ini adalah ibu kandungnya

"Jika ibu sudah meminumnya, istirahatlah. Aku berangkat kerja dulu" Luhan membungkukkan badannya sebelum ia pergi meningggalkan sang ibu yang masih terbaring

Sesampainya ia dirumah sakit, Luhan langsung menemui Jongdae dan perawat itu mengatakan jika siang nanti hasilnya baru bisa diambil, Luhan yang mengerti kemudian menghubungi Sera untuk meminta persetujuannya

"Baiklah, aku akan segera kesana..." Luhan memutuskan sambugannya dan beranjak menuju cafe tempat ia dan Sera akan bertemu

Luhan sampai duluan disana, ia duduk disalah satu bangku dan memesan secangkir kopi, 15 menit kemudian orang yang ia tunggu itu datang

"Ahh kau datang duluan..." Sera menjabat tangan Luhan kemudian duduk dihadapannya

"Bagaimana harimu tanpa Sehun?" Luhan membuka obrolan

"Puji Tuhan, semenjak kejadian itu aku seolah mendapat keajaiban. Baru-baru ini aku diterima di perusahaan fashion ternama sebagai designer" Sera tersenyum setelahnya

"Selamat untukmu, Ahh..aku memintamu datang kemari karena aku ingin membicarakan tentang adikmu.." Luhan mengambil jeda dan Sera tampak serius menyimak

"Aku sudah mendiagnosis penyakitnya, ia mengidap Venustraphobia. Karena itulah ia menjauhimu" Luhan melirik sejenak kearah Sera dan bisa ia lihat raut wajah perempuan itu sedikit terkejut

"Aku sudah memikirkan ini matang-matang, aku ingin memberikan Hipnoterapi padanya. Jadi aku meminta persetujuanmu sebagai keluarga pasien sekarang" ucap Luhan

"Aku setuju, lakukan apapun agar adikku sembuh" Sahut Sera cepat dan ia tampak memohon dihadapan Luhan

"Tapi kesembuhan itu bertahap, dan aku meminta bantuanmu juga agar ini berhasil" ucap Luhan

"Aku tidak peduli walau itu menghabiskan banyak biaya, lalu apa yang harus aku bantu?" Sera bertanya

"Setelah kau pulang kerja, bisakah kau mampir untuk mengunjungi Sehun? Kurasa tidak cukup sekali, tapi bisakah?" Luhan bertanya balik

"Baiklah, aku sanggup.." Ucap Sera final

"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengendalikannya jika ia memberontak" Luhan memberi tahu "Kalau begitu terimakasih sudah mau bekerja sama denganku" Luhan mengulurkan tangannya dan Sera menjabat uluran tangan tersebut

"Aku berharap sepenuhnya padamu, dokter Xi"

Seusai menemui Sera tadi, Luhan kembali menuju rumah sakit dan bergegas menuju ruang laboratorium untuk mendapatkan hasil pemeriksaan psikis yang akan dijadikan acuan apakah Sehun bisa menerima terapi itu atau tidak, Luhan membuka knop pintu ruang Laboratorium dan disana terdapat Dokter Park tengah membaca sesuatu.

"Permisi Dokter Park, aku ingin meminta hasil tes dari pasien Oh Sehun."

Dokter dengan nama yang tertulis di jasnya, Park Baekhyun itu mendongak lalu kemudian tatapan sengit itu tercetak jelas diwajahnya ketika melihat Luhan.

"Ini..." Baekhyun menyerahkan map berisi lembaran hasil uji laboratorium, Luhan hendak menerimanya, namun Baekhyun menarik kembali map tersebut

"Tidak semudah itu Dokter Xi" Baekhyun memberikan tatapan tajamnya

"Dokter Park, aku sibuk saat ini! Tolong—" Luhan mengentikan ucapannya ketika orang dihadapannya itu berdiri dan berjalan kearahnya

"Ada hubungan apa kau antara suamiku?" Baekhyun mengatakan itu dengan lirih namun menusuk, Luhan menghela napasnya, kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini, seingatnya ia tidak melakukan apapun dengan Chanyeol semenjak mereka telah melangsungkan pernikahannya.

"Jawab aku Luhan!" Baekhyun meninggikan suaranya

"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya..." dalam kondisi seperti ini, Luhan harus bersikap tenang, ia tidak mungkin ikut membentak Baekhyun yang tengah hamil sekarang

"Tidak ada hubungan katamu?" Baekhyun memicing, ia membuang mukanya lalu beranjak mengambil tas miliknya dan mencari-cari sesuatu disana

"Lalu ini apa?" Baekhyun menunjukkan ponselnya yang menampilkan hasil Screenshot pesan pribadinya dengan Chanyeol semalam

"Itu tidak seperti pemikiranmu Baekhyun..."sergah Luhan cepat, ia tidak ingin namja hamil ini salah paham dengan dirinya

"Apa kau berusaha mendekati Chanyeol?, kenapa ia meminta maaf padamu?, dan kau seharusnya tidak menunjukkan kekhawatiranmu juga kan?" Baekhyun menyerbunya dengan berbagai macam pertanyaan hingga Luhan bingung, ia harus menjawab darimana

"Kita memang pernah tinggal bersama, jadi wajar jika dia masih mengingat kebiasaanku. Dan kemarin suamimu itu datang keruang kerjaku, aku sempat terperangah ketika melihat keadaannya yang berbanding terbalik dengan dulu saat ia bersamaku, ia dulu adalah pria yang tampan dan gagah, dan sekarang setelah ia menikah denganmu, kenapa ia tampak kurus? Aku juga melihat kepalanya yang sedikit botak itu, kau apakan Chanyeol? Apa dia tertakan hidup bersamamu?"

Sekarang giliran Luhan yang ingin tahu, ia tahu ia lancang, tapi ia juga tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi pada Chanyeol hingga ia seperti itu?, Luhan ganti menatap Baekhyun lekat dan namja hamil itu terlihat sedang menahan amarahnya sekarang

"CHANYEOL MILIKKU SEKARANG! KENAPA KAU IKUT CAMPUR DALAM RUMAH TANGGA KAMI EOH?!" Baekhyun membentak Luhan secara kasar, ia sedikit terengah ketika habis membentak

"Aku hanya ingin tahu Baek, sama sepertimu yang ingin tahu dibalik pesan itu kan? Haha.." Luhan tertawa sinis "Aku dan Chanyeol, meskipun kami telah berpisah, tapi kami masih menjaga hubungan baik. Kau tak seharusnya mengajakku bertengkar hari ini dan menanyakan hal itu langsung pada suamimu" Luhan yang tidak tahan langsung merebut map tersebut dari tangan Baekhyun dan beranjak keluar

Namun Baekhyun mengejarnya, ia menjambak rambut Luhan secara kuat dan Luhan harus mengaduh kesakitan karena itu "Hentikan Baek!, ini sakit!" rintih Luhan yang berusaha melepaskan tangan Baekhyun dari rambutnya

"Dengarkan aku jalang, berhentilah bersikap perhatian didepan suamiku! Kau tak pantas melakukannya karena ia milikku sekarang, dan juga carilah laki-laki lain yang akan kau goda, kuakui kau cantik Luhan, dan namja diluaran sana lebih menginginkanmu dibandingkan dengan suamiku" bisik Baekhyun tepat ditelinganya, dan ia langsung melepaskan cengkraman tangannya dirambut Luhan

"AKU TAK SEMURAH ITU BAEKHYUN! BUKANKAH DULU KAU SENDIRI YANG MEREBUT CHANYEOL DARIKU? KAU TELAH MERENDAHKANKU, BAEK." Luhan menangis sekarang, hatinya berdenyut sakit ketika ia dikatai Jalang, serendah itukah dirinya?

"Aku tak peduli, dasar penggoda!" caci Baekhyun lalu ia mendorong Luhan keluar dari ruangannya

Luhan bangkit setelah ia jatuh terduduk akibat dorongan Baekhyun, sambil berjalan ia menangis sekarang, tangannya yang sedari tadi menggenggam map tersebut terlihat kusut karena berulang kali Luhan merematnya, ia duduk dibangku pengunjung yang terletak diteras rumah sakit, ia menyembunyikan wajahnya dan menangis hebat disana, entah kenapa hari ini ia ditimpa begitu banyak cacian, mulai dari ibunya sendiri yang mengatainya kelainan hingga Baekhyun yang mencacinya dengan sebutan namja penggoda

"Serendah itukah aku? Hiks..aku masih memiliki harga diri untuk itu, aku bahkan harus hidup sendiri tanpa Chanyeol disisiku saat itu, Hikss.." sambil sesenggukan Luhan bergumam pada dirinya sendiri, berusaha mengoreksi apa kesalahannya, tapi Luhan terlanjur sakit hati dan tidak dapat menahannya, ia ingin curhat tapi pada siapa?, menangis adalah cara terbaik untuk menenangkan dirinya sekarang.

"Uljimma..." Luhan tersentak ketika ada seseorang yang menyentuh pundaknya, pria itu memberikan Luhan setangkai mawar kecil dan Luhan menatapnya, pria itu adalah pasiennya sendiri, Oh Sehun.

Sehun menghapus airmata Luhan, dan hal itu sukses membuat tangisan Luhan terhenti sejenak, sungguh ia tak percaya pada apa yang pasiennya lakukan, Sehun duduk disamping Luhan dan memeluknya persis ketika Sehun juga sedih saat itu, Luhan terkesiap ia bahkan tak bisa berkata apa-apa, Luhan merasakan dada bidang Sehun yang memeluknya dengan hangat, dan memberikan ketenangan tersendiri baginya.

"Luhan kau kenapa?" tanya Sehun, bahkan dari cara bertanya-pun Sehun seolah meniru apa yang Luhan lakukan padanya kemarin, tanpa sadar Luhan tersenyum senang dan melupakan kejadian barusan yang begitu menyayat hatinya

"Aku baik-baik saja Sehun, Gomawo..." Luhan menghapus airmatanya cepat dan tersenyum kearah Sehun

"Kenapa kau bisa menemukanku disini?" tanya Luhan, Sehun mengerjab beberapa kali dan ia nampak bingung akan menjawab apa

"Ehm... aku sedang berjalan-jalan lalu kau menangis" Sehun saat itu ingin kembali melihat hamparan mawar ditaman dan tak sengaja melihat Luhan duduk dengan bahu bergetar, Sehun tahu temannya itu sedang menangis dan ia langsung memetik setangkai mawar untuk ia berikan pada Luhan

"Sehunna, hari ini aku sibuk. Aku pergi dulu ya!" Sehun terlihat cemberut saat Luhan meninggalkannya, sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan Luhan, tapi temannya itu terlihat sedang terburu-buru sekarang

Luhan segera menuju ruangannya, ditengah jalan ia berpapasan dengan Jongdae, ia meminta perawat itu untuk memberikan peringatan dikamar Sehun bahwa hanya dokter dan perawat laki-lakilah yang boleh masuk, selain itu tidak diizinkan. Perawat itu mengangguk paham dan Luhan tinggal memeriksa hasil labnya

Luhan membuka map tersebut dengan tergesa, ditelitinya tiap deretan kalimat tersebut dan semuanya menunjukkan hasil negatif, Luhan akhirnya bisa bernapas lega, itu artinya dia bisa memberikan terapi tersebut pada Sehun, sebenarnya masalahnya hanya simple, Luhan sebagai dokter harus bisa menghapuskan ketakutan Sehun dan membantunya keluar dari jeratan masa lalu

Setelah Sehun selesai sarapan pagi, Luhan bersama Jongdae dan Minseok datang ke kamar Sehun, kedua perawat itu ditugaskan untuk membantu Luhan jika Sehun berontak nantinya, seperti biasa Luhan akan menyapa Sehun dengan ramah dan berusaha membuat topik terlebih dahulu

"Selamat pagi Sehun, apakah tadi makanannya enak?" tanya Luhan, ia mengambil duduk tepat disebelah ranjang Sehun dan menatapnya sambil tersenyum

Sehun hanya mengangguk, ia merasa tidak nyaman ketika dua perawat itu terus memperhatikannya, Luhan yang mengerti situasi ini berusaha menenangkan Sehun "Kita akan bermain bersama" ucap Luhan dan dua perawat itu mengangguk bersamaan

"Jongdae-yah, tolong bukakan jendelanya!" begitu mendengar perintah sang dokter, Jongdae langsung beranjak membuka jendela yang tadinya tertutup itu

"Bagaimana? Udaranya masih segar sekali kan?" Luhan mengambil napasnya diikuti Sehun dan menghembuskannya bersama, mereka melakukan itu beberapa kali hingga akhirnya Luhan meminta Sehun untuk memejamkan matanya

Begitu Sehun memejamkan matanya, kedua perawat tersebut langsung mengambil tempat disisi kanan dan kiri, mereka tidak akan melakukan apapun sebelum perintah diajukan, Luhan sebagai seorang terapis, mencoba membawa Sehun kedalam alam tenangnya, ia bahkan memutarkan musik instrumen piano yang membuat jiwa pendengarnya stabil, sekilas kegiatan tersebut seperti meditasi, Luhan memberikan penggambaran khusus yang akan dibayangkan Sehun dalam alam tenangnya, seperti udara, air, hewan dan sejenisnya

15 menit berlalu, Luhan merasa Sehun sudah berada dalam alam bawah sadarnya, Luhan meminta Minseok untuk mematikan musiknya dan ia sebagai terapis mencoba fokus sekarang

"Sehunna, dengarkan aku. Bayangkan didepanmu ada sosok wanita dengan rambut digelung, wajahnya sangat cantik meskipun kerutan samar terdapat diwajahnya, dia saat ini tersenyum padamu, dia berjalan mendekat...semakin mendekat kearahmu..."

Bisa Luhan rasakan, Sehun mulai bergerak gelisah, ia meminta kedua perawat tersebut untuk memegangi kedua tangannya, napas Sehun tiba-tiba tidak beraturan, kerutan didahi nya tercetak jelas, ia ketakutan sekarang

"Sehunna, biarkan dia mendekat, biarkan dia memelukmu..." Sehun semakin berontak, ia tidak bisa diam dan berusaha membuka matanya tapi Luhan menahannya

"Wanita itu berbadan ideal, perutnya rata dan tidak menggembung" setelah mengucapkan kata itu Sehun mulai diam, ia mengurangi pergerakannya namun kerutan didahinya itu tidak kunjung pudar

"Dia sangat menyayangimu, dia tidak mungkin mengkhianatimu. Jangan kau dorong dia, biarkan dia memelukmu!, orang itu sangat penting dalam hidupmu, dia adalah...ibumu"

Sehun terdiam, raut wajahnya berubah sendu, samar-samar tetesan air mata itu keluar melewati kedua pelipisnya, nafasnya tersengal, Luhan yang melihat itu langsung menghapus air mata Sehun dan mengusap dadanya

"Tapi ibumu melepaskan pelukannya, dia melangkah menjauh dirimu, menjauh...dan makin jauh, dia akan meninggalkanmu lagi, kejar dia Sehun! Kejar!, jangan sampai dia meninggalkanmu lagi"

"Kau telah menahannya, wanita itu menatapmu dan sedetik kemudian ia menangis, ia menangis tepat dihadapanmu, kau telah membuatnya sengsara dulu, jangan biarkan wanita itu menangis, tenangkan dia"

"Tapi wanita itu harus berpisah denganmu Sehun, ia melepaskan pelukannya dan berjalan mundur semakin mundur dan jauh darimu"

"Kau berusaha mengejarnya lagi namun tiba-tiba kau tersandung, sebelum kau jatuh ada seorang wanita lagi yang menahanmu, ia kini membantumu berdiri lagi dan juga tersenyum tepat dihadapanmu seperti wanita tadi"

"Jangan takut, wanita itu juga memiliki perut yang rata dan tidak menggembung, dia juga sama menyayangi dirimu, yang menemanimu ketika kecil hingga saat ini, dialah keluarga satu-satunya yang kau miliki, dan tidak mungkin mengkhianatimu, dialah Oh Sera"

"kau kini berjalan mundur menghindarinya, wanita itu terus mengejarmu dan kau tetap mundur, dia menangis dan kau membiarkannya, ia bahkan sampai terjatuh demi mengejarmu, tapi kau tetap mengacuhkannya"

"Wanita itu hancur, ia sangat sedih mengetahui adiknya tidak menyayanginya lagi" Luhan menjeda ucapannya sejenak, ia membiarkan Sehun bermain dengan perasaannya sekarang, ia telah menanamkan bibit-bibit sugesti yang dapat mengubah phobia tersebut

"Sekarang dengarkan aku baik-baik Sehun, kedua wanita itu penting dalam hidupmu. Apa kau tega membiarkannya pergi darimu?, ingatlah bahwa mereka menyayangimu lebih dari apapun. Jangan kau anggap semua wanita itu sama, mereka berdua adalah wanita yang menyayangimu setulus hati. Jadi bukalah hatimu untuk mereka, dan biarkan mereka memasuki hidupmu lagi"

"Karena Ibumu telah tiada, jangan biarkan Sera pergi darimu juga"

Itulah akhir dari serangkaian proses Hipnoterapi, dalam keadaan tersebut Sehun masih sadar, ia masih dapat merasakan sekitarnya, bukan seperti hipnotis yang akan membuatnya lupa diri. Setelah penanaman sugesti tersebut, Luhan kembali menuntun Sehun menuju alam sadarnya dengan perlahan diikuti kedua matanya yang terbuka

.

.

TBC


Sebenarnya author juga kurang tahu hipnoterapi itu prakteknya kek gimana, tapi setelah cari2 referensi, hipnoterapi hampir sama dengan hipnotis tapi bedanya pasien masih dalam keadaan sadar, dan orang yang dihipnotis itu biasanya diberi sugesti2 tertentu tapi sebelumnya sang terapis harus bisa menggapai alam bawar sadar pasiennya dengan cara seperti meditasi tadi

Yahh kurang lebihnya begitu lah, kalo readersnim ada yang lebih tahu coba tulis dikolom review, sekian dari author, annyeong ^^