Previeous:

"Karena Ibumu telah tiada, jangan biarkan Sera pergi darimu juga"

Itulah akhir dari serangkaian proses Hipnoterapi, dalam keadaan tersebut Sehun masih sadar, ia masih dapat merasakan sekitarnya, bukan seperti hipnotis yang akan membuatnya lupa diri. Setelah penanaman sugesti tersebut, Luhan kembali menuntun Sehun menuju alam sadarnya dengan perlahan diikuti kedua matanya yang terbuka

.

.

.

.

.

*HunHan SeRaXi Present

Heal Me

Cast: Always Hunhan and other
Genre: Yaoi Only
Rate : T


.

.

Ketika Sehun membuka matanya, ia merasa aneh, tiba-tiba saja hatinya seakan tercekik entah mengapa, jantungnya berdetak tak karuan, ingatan akan masa lalu terus menyergap pikirannya, berbulan-bulan lamanya ia terjebak disana dan tidak dapat keluar, sekarang ia bingung dengan perasaannya sendiri, ia harus bagaimana?.

Sehun masih terdiam dan Luhan juga tidak berani bertanya banyak pada Sehun, setelah ini ia harus memberi Sehun waktu untuk merenungkan sugesti nya, walaupun Luhan yakin ini tidak akan berhasil sepenuhnya, tapi Luhan percaya bahwa Sehun dapat keluar dari lingkup hitam ketakutannya.

"Kau istirahat lah Sehun..." Luhan berucap lirih, Sehun bahkan tak melirik padanya, Luhan menatap Sehun sejenak kemudian pergi dari kamarnya diikuti Minseok dan Jongdae

"Minseok-ah, jangan lupa memberikan obat pada Sehun. Dan pastikan bahwa tidak ada perempuan yang masuk kamar Sehun, kecuali atas perintahku" Luhan mengingatkan perawat berpipi chubby tersebut dan yang dipanggil Minseok itu mengangguk

"Saya mengerti, Dokter Xi"

.

.

.

.

Luhan membeli sebotol air mineral sambil beristirahat dibangku taman, ia mengambil napas sebanyak mungkin dan menghembuskannya, udara di jam 9 pagi masih terasa hangat, matanya menikmati hamparan rumput dan mawar yang terlihat indah, Luhan memejamkan matanya hingga satu tepukan di bahunya membuatnya tersadar

"Ohh Kai?, kau disini?" Kai mengambil duduk disamping Luhan dengan senyum yang terus terpatri diwajahnya

"Entah aku harus berterimakasih atau bagaimana padamu Lu, kemarin Kyungsoo bertanya padaku, apa benar aku akan mengajaknya dinner? Haha tentu saja aku terkejut tapi ini semua karena ulahmu ya?" Kai tiba-tiba memicing kearah Luhan

"Bukankah mendekati Kyungsoo adalah keinginanmu?" Luhan bertanya balik dan Kai terlihat salah tingkah

"Ahh iya kau benar, tapi saat itu aku sedang kanker eoh.." Kai mengerucutkan bibirnya sebal

"kalau begitu kenapa kau tak pinjam uangku saja? Aku kan temanmu, aku akan membantumu jika kau meminta" Luhan menepuk punggung Kai

"Bahkan disaat seperti ini kau memanggilku, Lu?" Luhan mengoreksi dan Kai tersenyum

"Apa kau ingin mengunggulkan jabatanmu disini?" tanya Kai dan keduanya tertawa

"Aku mendapatkan gelar dokter dengan susah payah, jika kau tahu..." ucap Luhan

Sebenarnya Luhan dan Kai sudah bersahabat sejak lama, mereka saling kenal ketika duduk dibangku SHS yang sama, dan tidak disangka jika mereka bertemu lagi dengan Luhan yang ditempatkan sebagai Dokter, sedangkan Kai menjadi security disana. Luhan mengetahui tentang perasaan Kai yang menyukai Kyungsoo, karena itulah mereka dekat kembali dengan Luhan yang menjadi mak comblang nya.

"Kemarin ia kesal padaku karena membawanya ke kedai yang murah" Kai mulai bercerita

"Lalu?" sepertinya Luhan mulai tertarik dengan cerita Kai

"Dia marah-marah karena mie nya tidak enak, kau kan tahu sendiri aku sedang Kanker, lagipula itu adalah kesempatan emas untuk berduaan dengannya" Kai menunduk dan Luhan sedikit iba melihatnya

"Kalau aku jadi Kyungsoo, aku juga akan marah. Mana mau aku diajak berkencan dengan memakan mie yang bisa membuat lidahku masam?" Kai melotot kearahnya dan tiba-tiba merengek

"Kau bukannya menghiburku, malah sependapat dengan Kyungsoo" kai mencebik kesal

Luhan tertawa geli dan ia melirik sahabatnya itu "Ini pendapat seorang uke, kau harusnya peka akan itu"

"Heii-lihat! Pasien wanita baru itu, dia cantik tapi sayangnya gila haha..."

Plakk

Luhan menggeplak kepala kai, dan setelahnya ia mengaduh "Wae? Apa salahku eoh?"

"Bagaimana pun dia pasien rumah sakit ini juga! jika disini tidak ada pasien, mau digaji dengan apa kau? daun?" Luhan melipat kedua tangannya dan menyandar pada bangku

"Heii-bukan kah itu pasienmu?, dia sedang bertengkar dengan..."

Luhan mengikuti arah pandang Kai, dan sedetik kemudian ia melotot "Kai, ayo ikut aku!" Luhan menarik paksa lengan Kai dan berjalan cepat mendekati Sehun yang tengah digelanyuti seorang perempuan gila

"Pisahkan mereka Kai!" Kai langsung mencengkram kedua pergelangan wanita tersebut

"Sehun kau baik-baik saja?" Luhan bertanya khawatir, ingin rasanya ia membentak gadis yang diketahui bernama Krystal tersebut, tapi Luhan sadar bahwa dia sudah kehilangan akal sehatnya

"Heii-Kau! Kenapa membuang anakku eoh? Lepas Ughh..." Krystal meronta dalam cengkraman kuat Kai

Krystal meronta dengan kuat hingga cengkraman Kai terlepas, segera ia ambil boneka bayi yang tergeletak di lantai tersebut dan menimangnya "Ssssttt... jangan nangis sayang ya? Dia jahat sekali membuangmu.." Krystal menciumi boneka tersebut seakan benda itu benar-benar hidup

"Bawa dia ke kamarnya Kai!" Kai menggiring paksa Krystal ke kamarnya

"Sehun, kau tidak apa-apa kan? Dia sudah pergi" Luhan mengusap peluh Sehun yang terlihat mengkilat di dahinya, rahangnya masih tegas dengan alis menukik tajam, sepertinya Sehun masih marah karena didekati gadis tak waras itu

"Kenapa eoh? Ayo ikut denganku!"

Luhan menggandeng Sehun dan berniat mengajaknya bermain lagi, mereka berjalan menyusuri beberapa ruangan di rumah sakit ini, ketika melewati sebuah tempat bermain khusus anak, Luhan melihat Ziyu dengan pipi dipenuhi warna, saat ini dia sedang mencuci tanganya, dan Luhan berinisiatif memanggilnya

"Ziyu sedang apa Hmm.. kenapa pipimu kotor?" Luhan mengusapi pipi anak itu dengan air

"Hari ini Ziyu sedang melukis.." anak itu menjawab dengan lucu membuat Luhan gemas

"Benarkah, bolehkah aku melihat hasil lukisannya?" Luhan bertanya dan anak itu mengangguk semangat

"Ayo kita kesana dokter!" tangan Luhan ditarik menuju ruang bermain dan Sehun mengikutinya, diruang itu sedang dijaga oleh Yixing, dan perawat khusus anak itu memberi hormat ketika Luhan masuk

"Boleh aku bermain dengan mereka?" tanya Luhan dan Yixing mengangguk ramah

"Tentu saja Dokter Xi" jawab Yixing sambil tersenyum

Mereka bertiga duduk disebuah meja dengan hasil lukisan khas anak kecil bergambar tiga orang disana, Luhan mengernyit melihat gambar Ziyu "Ziyu gambar siapa?" tanya Luhan

"Ini Eomma, Appa, dan Ziyu..." wajah Luhan tiba-tiba berubah sendu saat menatap anak itu, Ziyu terlihat sangat ingin bertemu dengan orangtua nya

"Woahh..gambar Ziyu bagus sekali, iya kan Sehun?" Luhan melirik Sehun dan yang dilirik itu mengangguk sambil tersenyum

Bibir Ziyu mengerucut, ia menatap hasil lukisannya lama, tiba-tiba ia robek gambar tersebut dan Luhan terkejut

"Ziyu kenapa dirobek? Bukankah itu bagus?" ucap Luhan dan Ziyu menunduk sedih

"Ziyu ingin gambar lagi! Itu jelek" Ziyu berucap lantang, ia mengambil pensilnya dan berusaha menggambar lagi, namun tangan Luhan menahan anak itu

"Biar aku gambarkan, Ziyu mau gambar apalagi?" Luhan mengambil alih pensil tersebut

"Sama seperti tadi.." ucap Ziyu

Luhan menggambar seorang wanita yang tengah tersenyum sambil menggandeng anak laki-lakinya, dan disamping anak tersebut ia gambar ayahnya, Luhan tiba-tiba tersenyum, sudah lama ia tidak menggambar. Ziyu terfokus pada sketsa buatan Luhan dan ketika selesai, Ziyu tertawa girang

"Nahh..sudah jadi, bagus kan?" anak itu mengangguk, ia segera membasahi kuasnya, dan ingin cepat-cepat mewarnai gambar tersebut

Lagi-lagi Luhan menahan tangan anak itu yang hendak mewarnai gambarnya, Ziyu mengerucut kesal dan Luhan yang gemas mengusak rambut anak itu "Sini aku ajari cara mewarnai yang betul" Luhan mengambil kuas tersebut dan mencelupkannya pada cairan berwarna hitam, lalu ia poleskan pada daerah rambut gambar tersebut

"Jadi begini caranya agar tidak keluar garis, mau mencoba?" Ziyu mengangguk semangat, ia mewarnai bagian lainnya dengan cara seperti Luhan, dan hasilnya terlihat lebih baik meskipun ada sedikit noda yang mengotori kertasnya

"Sehun, ayo kita melukis juga!" ajak Luhan bersemangat, ia mengambil satu kertas lagi dan meminjam pensil Ziyu untuk menggambar

"Kita gambar apa ya Hun?" Luhan menatap Sehun dan lelaki itu sedang berpikir

"Euhm...mawar?" ucap Sehun dan seketika Luhan berbinar

"Ahh ide bagus, ayo kita buat mawar" Luhan menggerakkan pensilnya membuat pola bunga mawar yang sederhana, ia juga menambahkan daun serta tangkai agar gambarnya terlihat lebih cantik

"Mari kita warnai mawarnya!" Luhan berujar dengan semangat, daritadi ia tak pernah melepaskan senyum nya yang membuat Sehun tertular dan ikut tersenyum juga, Luhan menekan kemasan cat air tersebut dengan kuat dan tidak disangka nya warna tersebut muncrat mengenai wajah Sehun

Luhan tertawa melihat dagu hingga pipi Sehun yang terkena cipratan warna, ia tidak ingin menghapus nya karena Sehun terlihat lucu sekarang, setelah mengeluarkan warna merah secukupnya, Luhan membasahi kuas ditangannya dan memoleskan warna merah tersebut disalah satu kelopak mawarnya

"Kau cobalah juga.."

Luhan menyodorkan kuas tersebut dan Sehun menerimanya, ia mewarnai bagian kelopak lainnya dengan warna yang sama, Sehun tidak lah pandai dalam menggambar, tapi ia sedikit terhibur dengan melepaskan rasa tertekannya dengan menggambar. Luhan melirik gambar Ziyu, dan anak itu mewarnai gambarnya dengan warna yang ia suka. Luhan menyunggingkan senyumnya ketika melihat Ziyu dan ikut membantu mewarnai bagian lainnya.

Sehun melirik Luhan yang serius mewarnai, dipipi nya ada sedikit noda warna dan Luhan tak menyadarinya begitu juga Ziyu, mereka bertiga sama-sama bolepotan warna diwajah apalagi tangan. Sehun melanjutkan mewarnai bagian daun dan tangkai dengan warna hijau, meskipun saat ia mewarnai keluar garis begitu jauh, tapi ia seakan tidak peduli yang tadinya saat Luhan mewarnai menjadi bagus, kini terlihat jelek karenanya.

"Whoaa...punya Sehun sudah jadi" Luhan bertepuk tangan ketika melihat hasil lukisan Sehun, tanpa sadar Sehun tersenyum dan menggaruk tengkuknya kikuk

"Punya Ziyu sebentar lagi juga jadi" sahut Ziyu dan Luhan langsung menoleh

"Punya Ziyu juga bagus eoh..." Luhan memuji lukisan anak itu dan mencubitnya gemas

"Ini belum sepenuhnya jadi" timpal Ziyu, ia mengambil kuasnya lagi dan memoleskan sesuatu disana, ia membuat hangul Luhan dibawah gambar seorang wanita, tulisan Ziyu di gambar anak laki-laki dan terakhir Ziyu menuliskan nama Sehun pada gambar seorang laki-laki yang lebih tinggi

"Omo! Ziyu menggambar kita bertiga? Wae?" Luhan terkejut dan mencoba bertanya pada Ziyu namun anak itu terkekeh

"Sepertinya dokter lebih menyayangiku daripada eomma, dan Sehun Ahjussi...entahlah aku hanya ingin menuliskannya saja" ucap Ziyu dan tanpa sadar Luhan tersenyum

"Sampai kapan pun seorang eomma akan menyayangi anaknya, mengerti?" Ziyu mengangguk setelah Luhan menasehatinya

"Luhan, ini..." Sehun menunjukkan gambarnya, disana ada sebuah tulisan hangul yang berantakan namun masih bisa Luhan baca

'Luhan indah seperti mawar'

Seketika pipi Luhan merona, Luhan jadi gemas sendiri pada Sehun, pasien nya itu selalu membuat kejutan untuk nya, ia selalu melakukan hal yang tak pernah terduga , walaupun Luhan akui ia suka Sehun yang seperti ini

"Kau merayuku eoh..." sindir Luhan dan Sehun memerah, membuat Luhan tersipu sekali lagi

"Ayo kita cuci tangan dan bersihkan wajah kalian!"

Luhan bangkit diikuti keduanya, Luhan membantu Ziyu dan Sehun mencuci tangannya dengan sabun sampai bersih, setelah mereka keringkan tangannya, Luhan membersihkan pipi Ziyu terlebih dahulu dengan tisu basah, sebelum Luhan akan membersihkan pipi Sehun, tiba-tiba Ziyu menarik satu lembar tisu dan ikut membantu mengelap pipi Sehun, Luhan terkejut dan sedetik kemudian ia tersenyum sambil mengusak anak rambut Ziyu, Sehun juga ikut-ikutan menarik selembar tisu dan mengusapkannya pada wajah Luhan

Luhan terpaku sejenak, matanya terus menatap Sehun yang fokus membersihkan pipinya, entah mengapa seakan jantung nya berlomba-lomba saat ini, ia berteriak dalam hati 'tidak! jangan sampai aku menyukai pasienku sendiri'

"Dokter kenapa?" Luhan tersadar ketika Ziyu menarik-narik kerah bajunya, sesaat Luhan menjadi salah tingkah dan berusaha menyembunyikan pikiran negative nya itu

.

.

.

.

.

.

Malam ini Sera benar-benar datang sesuai permintaan Luhan saat itu, ditangannya kini ia menenteng sekotak pizza dan juga bubble tea kesukaan adiknya, walaupun ia sendiri belum yakin Sehun mau mendekatinya, namun ia berharap dengan membawa makanan ini, Sehun akan sadar dan menyayangi nya lagi seperti dulu

Wanita itu berjalan mencari ruangan Luhan, namun sebelum ia menemukannya, langkahnya dihadang oleh seorang perawat laki-laki, Kim Jongdae. Sera masih mengingat wajah perawat ini, ia tersenyum dan Jongdae bertanya "Mencari Dokter Xi?"

Luhan amat senang ketika mengetahui Sera datang, ia langsung mempersilahkan wanita itu duduk dan menghidangkan secangkir kopi untuk tamu nya "Sudah tidak sabar bertemu Sehun?" Luhan bertanya dan wanita itu mengangguk semangat

"Tentu saja!"

"Kau tahu, adik mu itu suka sekali membuatku terkejut. Dia melakukan hal-hal yang diluar dugaan ku, tapi setidaknya selama ia disini, ia mengalami banyak perkembangan" ucap Luhan dan wanita didepannya itu nampak berbinar

"Benarkah? Ahh..syukurlah" Sera mengusap dadanya

"Tapi aku belum memastikan bahwa phobia nya itu sudah hilang atau belum" sahut Luhan, ia menatap Sera sebentar "Aku harap kau bisa sabar..."

Sera menunduk pasrah, dia bergumam akankah do'a nya selama ini dikabulkan?, ia ingin Sehun segera sembuh dan tinggal bersama lagi seperti dulu, jika adiknya itu nanti memilih bujang hingga akhir hayat nya, Sera tidak akan mempermasalahkan hal itu, ia hanya menginginkan kesembuhan Sehun

.

.

.

.

.

Luhan membuka pintu kamar Sehun, ia melihat pasien nya itu sedang berbaring dengan menatap jendela seperti biasa, begitu terdengar derit pintu terbuka Sehun menoleh, dan tersenyum mendapati Luhan lah yang memasuki kamar nya

"Menikmati waktu sendiri mu eoh.." sapa Luhan dan Sehun hanya menatapnya datar

Diluar sana, Sera dapat melihat adiknya yang nampak lebih baik, ingin sekali rasanya ia masuk dan menerjang tubuh Sehun dengan pelukannya, tapi Sera harus menahan keinginan nya, ia tidak ingin Sehun ketakutan lagi, ia hanya bisa menatap adiknya lewat celah jendela sebelum Luhan mempersilahkannya masuk

"Sehun, apa kau lapar?" tanya Luhan dan Sehun menggeleng

"Seseorang membakanmu pizza dan bubble tea, kau mau?" tawar Luhan, Sehun mengernyit ketika Luhan mengucapkan kata seseorang dalam kalimatnya

"Siapa?" tanya Sehun

"Kau ingin tahu?" Luhan menyahut

"Sera Noona, masuklah!" Seru Luhan

Seketika tubuh Sehun membeku, ia menatap tajam Luhan dan sedetik kemudian matanya menangkap bayangan seorang wanita yang memasuki kamarnya, tiba-tiba napasnya tercekat, ia mencengkram pergelangan Luhan kuat dan bersembunyi dibalik punggung nya

Luhan menghela napas nya, Sehun masih ketakutan, jelas-jelas bahwa wanita ini tidaklah berbahaya dan Luhan sudah yakin jika penanaman sugestinya saat itu sudah tepat

"Sehun, Noona-mu datang, Ia membawakan makanan kesukaanmu" Luhan mencoba melepaskan cengkraman erat Sehun, namun Sehun tidak mau melepas nya, ia memilih bersembunyi di balik punggung nya dan enggan menatap kehadiran Sera

"Sehun sayang, ini Noona" ucap Sera dengan menahan tangis, ia memberanikan diri meyentuh pundak Sehun namun reaksinya sang adik malah membentaknya kasar

"Pergi! Pergi dari sini!, aku tidak lapar! Pergi!" usir Sehun kasar, air mata Sera sudah jatuh dengan derasnya, hatinya seakan tertusuk ribuan paku saat Sehun mengusirnya lagi

"Sehun kau bicara apa? Dia Noona mu! Bagaimana jika dia tidak ingin menjengukmu lagi? Kau mau?" ucap Luhan, disaat seperti ini ia harus memberi masukan kepada Sehun

Sehun masih terdiam dengan tubuh yang bergetar, mata nya melirik kesegala arah dengan ekspresi bingung, ia tidak tahu harus bagaimana "Sehun, dia Noona mu satu-satunya!" Luhan mengingatkannya lagi, tangan Sehun meremas kain bajunya kuat

"Kau tega membiarkan dia menangis?, setidaknya tatap dia Sehun" Luhan ikut mendramatisir, ia membisikkan kalimat itu ditelinga Sehun, ia mendongak dan menatap Luhan dengan sayu, ekspresinya seakan berharap bahwa Luhan sangat menginginkan ia menatap wanita itu

Sehun mencobanya, perlahan ia dongakkan kepala nya, dan sedetik kemudian pandangan mereka betemu, Sehun tidak kuat, ia langsung menundukkan kepalanya lagi, tidak! Ia masih belum siap. Disatu sisi Sera amat bahagia, adiknya itu mau menatapnya walau sebentar

Sera tidak ingin melihat adiknya ketakutan terus, ia meletakkan sekotak pizza nya lengkap dengan bubble tea, kemudian ia segera keluar dari kamar Sehun "Aku permisi dokter Xi"

"Lihat! Akhirnya dia pergi" Luhan mendengus kesal kearah Sehun, ingin rasanya Luhan egois tapi ia sadar, semuanya butuh proses. Luhan mengambil sekotak pizza tersebut dan membukanya, lalu menyodorkan sepotong pizza kearah Sehun, Sehun menggeleng tanda ia menolak dan Luhan sedikit kesal melihatnya

"Yasudah, biar kuhabiskan sendiri!" Luhan menggigit ujung pizza dan mengunyah nya, ekspresinya seakan-akan menggambarkan bahwa Luhan begitu menikmati makanan tersebut, Sehun hanya menatapnya dan tanpa sadar ia menelan ludah nya

"Kau juga mau kan?" Luhan dapat membaca ekspresi Sehun, dengan mulut masih mengunyah luhan mengambil lagi sepotong pizza dan menyuapkannya pada Sehun, Sehun mengambil alih pizza tersebut dan ikut memakannya bersama Luhan

Mereka tidak menghabiskan pizza sekotak berdua, Sehun sudah kenyang sedangkan Luhan tidak mau menjadi gemuk hanya karena ngemil pizza dimalam hari, ia menutup kotak pizza tersebut dan beralih mengambil bubble tea nya yang sedari tadi tergeletak di nakas, ia menancapkan sedotan tersebut lalu menyodorkannya pada Sehun

"Kau dulu..." ucap Sehun tapi Luhan menggeleng

"Ini kan untukmu, sebaiknya kau duluan!" Luhan bersikeras namun Sehun masih keras kepala, akhirnya Luhan mengalah dan menyedot bubble tea tersebut secukupnya

Luhan menyodorkannya pada Sehun, dan Sehun menghisap minuman tersebut dari sedotan yang sama -bekas Luhan- tiba-tiba Luhan memerah karena sadar, ia dan Sehun secara tidak langsung melakukan kissing

.

.

.

.

.

Luhan menghampiri Sera yang duduk dibangku pengunjung, ia mengambil tempat tepat disebelah Sera, Sera menoleh dan ia memandang Luhan dengan sayu "Apakah adikku akan tetap seperti itu?" tanya nya

Luhan menghela napasnya, lalu menatap Sera "Do'akan saja dia segera sembuh, aku telah berusaha"

"Aku minta maaf karena membuatmu kecewa" ucap Luhan, Sera langsung mendongak dan menggeleng keras

"Tidak, aku tidak kecewa denganmu, Dokter. Tapi aku hanya sedih, seperti ini kah akhir persaudaraan ku dengannya?" Sera menunduk dan Luhan mengusap punggung nya

"Aku tidak akan membiarkannya seperti itu" Seru Luhan

"Kumohon bersabarlah, itu wajar karena ini pertama kalinya ia mendapatkan hipnoterapi" ucap Luhan, Sera mengusap air matanya kemudian ia beranjak dari duduknya

"Aku mengerti, kalau begitu aku pamit pulang" Sera mengulurkan tangan nya dan dibalas jabatan tangan oleh Luhan

"Hati-hati dijalan!" pesan Luhan

.

.

.

.

.

Luhan hendak kembali ke ruangan nya, ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tanpa sengaja matanya melihat secercah darah di lantai, Luhan terkejut dan menutup mulutnya, ia melirik kesekeliling dan tidak menemukan siapa pun. Luhan tidak tahan, ia berbalik arah dan lewat jalan lain yang jaraknya agak jauh dari ruangannya

Tepat ketika ia memasuki ruangannya, ia melihat darah itu lagi dengan mawar-mawarnya yang berserakan, padahal kemarin ia telah mengganti mawar rusak itu dengan yang baru dan sekarang hilang lagi entah kemana, Luhan memejamkan matanya, siapa yang berani membuat ruangannya kacau seperti ini?

Luhan takut dengan darah, warna nya yang merah pekat dan bau nya yang anyir bisa membuatnya mual tanpa sebab, Luhan mengamati secercah darah itu lagi, banyak nya tidak seperti kemarin, tidak mungkin bangkai hewan mati ditempatnya dua kali beturut-turut, Luhan mulai mengguman 'siapa yang melakukannya?'

TBC

Masih ingatkah dengan insiden mawar berdarah? Author bakal ungkit lagi di chapter selanjutnya, sebelumnya author minta maaf karena telat update tapi yang penting udah diupdate kan? Wkwkwk yang nunggu Damn Iam Manly Oh Sehun, ditunngu ya ^^ gak lama lagi bakal diupdate kok hehe...

Mind to Review?