Previoeus:

Luhan hendak kembali ke ruangan nya, ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tanpa sengaja matanya melihat secercah darah di lantai, Luhan terkejut dan menutup mulutnya, ia melirik kesekeliling dan tidak menemukan siapa pun. Luhan tidak tahan, ia berbalik arah dan lewat jalan lain yang jaraknya agak jauh dari ruangannya

Tepat ketika ia memasuki ruangannya, ia melihat darah itu lagi dengan mawar-mawarnya yang berserakan, padahal kemarin ia telah mengganti mawar rusak itu dengan yang baru dan sekarang hilang lagi entah kemana, Luhan memejamkan matanya, siapa yang berani membuat ruangannya kacau seperti ini?

Luhan takut dengan darah, warna nya yang merah pekat dan bau nya yang anyir bisa membuatnya mual tanpa sebab, Luhan mengamati secercah darah itu lagi, banyak nya tidak seperti kemarin, tidak mungkin bangkai hewan mati ditempatnya dua kali beturut-turut, Luhan mulai mengguman 'siapa yang melakukannya?'

.

.

.

.

.

.

.

*HunHan SeRaXi Present

Heal Me

Cast: Always Hunhan and other
Genre: Yaoi Only
Rate : T

.


.

Semalam Luhan tidak bisa tidur kerena memikirkan mawar berdarah tersebut. Ia mulai berpikir kira-kira ulah siapa dibalik semua ini, pikirannya mengatakan bahwa itu ulah salah satu pasien, tapi siapa? Sehun rasanya tidak mungkin mengingat ia tidak pernah datang ke ruangannya, lalu Ziyu?, anak kecil itu setau Luhan tidak pernah lancang, ahh..bisa jadi Kai yang mencuri mawarnya untuk diberikan pada Kyungsoo, tapi mana mungkin Kai sampai berdarah seperti itu?, tidak mungkin, atau mungkin Baekhyun mengingat dia sangat membenci Luhan, namun tiba-tiba Luhan membelalak saat otaknya mengatakan 'apakah saat itu Baekhyun mengalami kontraksi hingga darahnya menetes ke lantai?' itu bisa saja terjadi karena istri Chanyeol itu tengah mengandung anak ke-3 nya.

...

Pagi nya Luhan berjalan dengan tergesa menuju ruangannya, syukurlah petugas kebersihan itu sadar dan ketika Luhan masuk darah tersebut sudah hilang, Luhan meletakkan tas nya lalu beranjak keluar, saat ia menutup pintu Kai menyapa nya dan Luhan langsung menahan pergelangan Kai saat laki-laki itu hendak mendahuluinya

"Ada apa?" tanya Kai bingung, ia melihat raut Luhan yang nampak khawatir

"Apa kau yang merusak mawar-mawarku?" Luhan menatap Kai dengan pandangan intimidasi

"Aku bahkan tak tahu kau punya mawar" Kai menaikkan sebelah alisnya

"Jadi kau tidak tahu?, kupikir kau mengambil mawarku untuk melamar kyungsoo" Kai tergelak dengan ucapan Luhan

"Huhh..dia sulit untuk kudekati" Kai mendesah "Aku tidak merusak mawar mu Luhan, coba kau tanya yang lain" ucap Kai lembut

"Baiklah, maaf kalau aku menuduhmu" Luhan menatap Kai dengan perasaan bersalah

"Tidak apa-apa, tapi ngomong-ngomong kau kenapa?" tanya Kai dan sedetik kemudian Luhan menggeleng

"Aku baik-baik saja? Aku..hanya penasaran" bohong Luhan "Ahh.. aku harus ke kamar Sehun sekarang" Luhan berjalan mendahului kai dan lelaki tan itu menatapnya sambil geleng-geleng kepala

...

Cklekk..

"Luhan?"

"Hai Sehun! Kau sudah bangun?" Luhan berjalan menghampiri Sehun yang tengah duduk dikursi sambil memainkan jarinya

"Sehunna, apa kemarin malam kau ke ruanganku?" tanya Luhan yang mendudukkan dirinya disamping Sehun

"Tidak.." jawab Sehun sambil memandang Luhan yang menampilkan raut tidak biasanya

"Lalu jika kau memetik mawar dimana?" tanya Luhan lagi

"Taman.." Luhan mendesah, ciri khas jawaban Sehun selalu singkat padat dan jelas

"Luhan kenapa?" Sehun bertanya balik, ia merasa Luhan sedang kecewa karenanya

"Tidak, aku baik-baik saja. Kalau begitu aku keluar dulu..." Sehun mengedipkan matanya beberapa kali, temannya hari kenapa?, biasanya ia akan datang dengan raut ceria khas nya, tidak seperti saat ini.

...

Luhan saat ini berpikir, Kai dan Sehun jelas-jelas mereka tidak tahu apa-apa soal mawarnya, ahh... masih ada terduga lainnya yaitu Baekhyun dan Ziyu, ketika matanya melihat Ziyu tengah menyusun balok nya, Luhan menghampirinya dan duduk didekat anak itu.

"Ohh..Dokter?, mau bermain denganku?" tawar Ziyu dan Luhan menggeleng

"Tidak, bolehkah aku bertanya padamu, Ziyu?" ucap Luhan dan seketika anak itu menatapnya

"Dokter ingin bertanya apa?" Ziyu menatapnya dengan polos, dalam hati Luhan merasa berdosa jika menuduh anak sepolos ini yang merusak mawarnya

"Apa kemarin Ziyu ke ruanganku?" tanya Luhan dan anak itu langsung menyahut

"Tidak, aku hanya bermain disini seharian"

"Jadi Ziyu tidak tahu tentang bunga mawaku?" Luhan memastikan dan anak itu tetap menggeleng

"Ziyu tidak tahu dokter" ucap Ziyu

"Baiklah, lanjutkan bermain nya..." setelahnya Luhan beranjak dari sana

...

"Apa Baekhyun ya yang melakukannya?" gumam Luhan, ia telah berada didepan pintu laboratorium, ia sedikit ragu ketika akan mendorong pintu tersebut mengingat orang didalamnya begitu membencinya

Namun Luhan sediri tak dapat memungkiri kalau Baekhyun-lah pelakunya, dia begitu membencinya dan kemungkinan melakukan teror itu ada, tapi apa mungkin Baekhyun sampai melakukan itu padanya, pasalnya orang yang sering meneror itu biasanya mereka memiliki gangguan mental, dan mana mungkin jika Baekhyun bisa bekerja disini kalau ia memiliki gangguan mental?.

Luhan memantapkan hatinya, dengan pelan ia mendorong pintu tersebut dan disana Baekhyun tengah menempelkan headset diperutnya, lelaki hamil itu menatapnya tak suka lalu mematikan musiknya

"Mau apa kau kesini? Kau mengganggu istirahatku" desis Baekhyun dengan pandangan sinis

"Apa kau yang merusak mawar ku dan memberikan tetsan darah disana?" Luhan langsung to the point dan menatap lawan bicaranya tajam

"Apa maksudmu? Aku terlalu bodoh untuk membuang waktu ku hanya demi meneror mu, masih banyak yang harus kuteliti disini" Baekhyun juga menatap Luhan tak kalah tajamnya

"Apa saat itu kau mengalami kontraksi hingga darahmu berceceran diruangan ku?" tanya Luhan dan Baekhyun langsung mengernyit ketika mendengarnya

"Aku baik-baik saja! Dan ingat ya, aku tak sudi datang keruangan mu jika tak penting" Baekhyun membuang mukanya, ia tak tahan harus menatap orang yang dibencinya lama-lama

"Aku tahu kau membenciku Baek, tapi apa sampai sebegitu nya kah rasa bencimu? Chanyeol telah kurelakan dan apa salahku? Kau takut aku merebutnya kembali?" tanya Luhan jengah, ia sendiri muak jika harus bersitengang dengan Baekhyun setiap saat

"Ohh.. apa kau masih berusaha mendapatkannya?" Baekhyun menatapnya tajam, ada rasa amarah yang tertahan disana

"Tidak maksudku- - "

"Pergilah! Sudah kukatakan berapa kali padamu kalau aku tak sudi datang keruangan mu jika tak penting, dan aku tak tahu soal mawar-mawar mu" Baekhyun mendorong Luhan agar segera pergi dari ruangannya dan Luhan mendesah kecewa

"Tak usah mendorongku, aku bisa jalan sendiri" desis Luhan tajam dan Baekhyun sama sekali tak takut akan hal itu

...

"Sehun bukan, Kai bukan, Ziyu apalagi, dan tidak mungkin juga Baekhyun" gumam Luhan sambil menunduk, ia berjalan hendak menuju ruangannya kembali sampai ia melihat seorang ahjussi yang menenteng ember beserta alat pel

"Ahjussi tunggu!" pekik Luhan dan lelaki paruh baya itu menoleh kearahnya

"Ohh Dokter Xi, ada apa?" tanya lelaki itu

"Apa Ahjussi yang membersihkan ruanganku semalam?" tanya Luhan dan lelaki itu mengangguk

"Ya, ruangan anda semalam kotor dengan cairan merah dan kelopak-kelopak bunga yang berserakan" jelas lelaki itu, Luhan menghela napasnya lega, ia sempat berpikir apakah dirinya sendiri yang mengalami halusinasi

"Hahh..syukurlah, kalau begitu terimakasih " Luhan tersenyum dibalas dengan bungkukan sopan lelaki tersebut kemudian berlalu meninggalkan Luhan

"Dokter Xi!" Luhan menoleh kebelakang dan mendapati Jongdae berlari kearahnya

"Anda kemana saja? Apa anda lupa jika hari ini pasien Oh Sehun harus menjalani hipnoterapi nya yang kedua" sesaat Luhan tersadar dan menepuk dahinya pelan

"Astaga aku lupa, baiklah ayo kita kesana!" seru Luhan dan Jongdae mengikutinya

...

Cklekk...

"Hai Sehun, hari ini aku harus memberimu terapi lagi agar kau sembuh. Kau mau kan?" Luhan menatap Sehun sambil tersenyum dan yang ditatapnya itu hanya mengangguk

"Baiklah, tapi sebelum itu berjanjilah kau harus menuruti semua ucapanku" Luhan mengeluarkan jari kelingking nya, lama Sehun tidak membalasnya hingga membuat Luhan gemas sendiri kemudian mengangkat pergelangan Sehun dan menyatukan kelingking mereka

"Aku anggap kau setuju" ucap Luhan mutlak

.

.

.

.

.

.

.

Ini adalah terapi kedua Sehun, meskipun diawal mereka gagal tapi Luhan yakin satu kali terapi saja tidak akan cukup bagi Sehun, dengan sabar dan telaten Luhan menuntun Sehun menuju alam paling tenang nya, dimana ia bisa merasakan rileks secara fisik dan batin.

Luhan tetap menggunakan musik sebagai media pembantu nya, jika kemarin ia membahas masalah soal ibu dan kakak nya, kali ini ia mencoba mencari sugesti baru dan membisikkan kalimat-kalimat tersebut ditelinga Sehun.

Dibanding dengan terapi pertama, saat ini Sehun terlihat lebih tenang, meskipun begitu Jongdae maupun Minseok terus bersiaga jika Sehun kembali berontak, namun Luhan memastikan bahwa ia harus lebih cermat menuntun Sehun menuju titik dimana ia bisa merasakan kebahagian yang sesungguhnya, memberi kalimat-kalimat positif untuk mengubah arah hidupnya dan membebaskan phobia yang selama ini membelenggu hidupnya.

Sudah satu jam setengah Luhan menghabiskan waktunya untuk memberikan Sehun terapi, terapi kali ini durasinya lebih lama karena Luhan berpikir kemarin terlalu cepat dan Sehun belum mencerna dengan baik seluruh sugestinya, Luhan berharap setelah ini akan ada perubahan sedikit dalam diri Sehun mengenai phobia nya.

Sehun membuka matanya setelah proses hipnoterapi itu selesai, matanya melirik kesekeliling dan mendapati Luhan dengan kedua perawatnya tengah tersenyum kearahnya, Sehun bangkit dan mendudukkan dirinya, hari ini ia merasa sangat nyaman sehabis diterapi

"Istirahatlah dan juga jangan lupa minum obatmu" ucap Luhan dan ia beranjak dari kamarnya

...

Sehabis memberikan Sehun terapi, Luhan berniat kembali ke ruangan nya untuk menenangkan diri, sebelum dirinya masuk ke ruangan itu, ia melihat seorang gadis remaja tengah memegang mawar yang Luhan yakini itu adalah mawarnya, langsung saja Luhan berlari kearah gadis tersebut dan mencekalnya

"Yakk! Darimana kau mendapatkan ini?" Luhan merebut paksa setangkai mawar tersebut dari tangan si gadis yang ia kenal bernama Aleyna, Luhan melirik ruangan nya dan disana ada sebuah darah tercecer lagi dengan kelopak-kelopak mawar yang berserakan

"Apa selama ini kau yang membuat ruangan ku seperti ini?" tanya Luhan lagi namun gadis itu tetap diam, ia terus menunduk dan mengabaikan Luhan yang tengah menatapnya tajam

Luhan sungguh kesal, sedari tadi ia terus diabaikan oleh gadis itu, ia ingin memarahi nya tapi mengingat gadis ini memiliki gangguan jiwa, Luhan mengurungkan niatnya

"Mawar milik dokter bagus, aku suka..." ucap Aleyna lirih

Luhan menarik dagu Aleyna agar menatapnya, tampak raut ketakutan disana hingga Aleyna tak berani menatap Luhan. Luhan menghela napas nya, ia alihkan pandangannya kearah lain dan ia terkejut mendapati dibelakang Aleyna berdiri nampak secercah darah disana, Luhan melirik paha gadis tersebut dan sepertinya darah itu menetes darisana,Dengan cepat Luhan membalik tubuh Aleyna, dan noda kemerahan terlihat jelas dibagian belakang rok yang dikenakan gadis tersebut

Luhan tercekat, ia adalah seorang laki-laki dan tak seharusnya melihat hal semacam ini, ia terus memperhatikan darah yang masih menetes hingga menodai lantai putih tersebut, ini sudah jelas jika darah-darah yang ia lihat selama beberapa hari ini adalah darah menstruasi

"Ayo cepat ikut aku!" seru Luhan sambil menggandeng Aleyna

.

.

.

.

"Maafkan kelalainku Dokter Xi, mulai saat ini aku akan terus mengawasi nya. Saya tidak tahu jika Aleyna mengalami datang bulan, karena ini adalah yang pertama baginya" jelas sang pengasuh anak yang tentu saja bergender perempuan

"Ya, aku mengerti. Tolong ajari dia cara memakai pembalut disaat seperti ini terjadi, ini wajar karena dia perempuan, aku memakluminya" ucap Luhan ramah, sang wanita pengasuh tersebut terlihat lega karena sang dokter tidak memarahi nya

"kalau begitu aku permisi, pekerjaan ku masih banyak..." Luhan beranjak dari tempat tersebut dan ingin segera menemui petugas kebersihan untuk membersihkan ruangannya lagi

...

Seorang pria berbadan kekar tengah berjalan melewati beberapa ruang rumah sakit, ia terlihat tengah mencari-cari seseorang dengan membuka satu-persatu pintu yang dilihatnya, Luhan yang kebetulan lewat sana mengernyit bingung ketika pria tersebut jalan seenaknya tanpa seorang perawat maupun penjaga yang mendampingi, seharusnya jika ada pengunjung yang datang, mereka akan ditemani oleh seorang perawat demi menjaga keselamatan orang tersebut dari amukan pasien disini

Luhan berjalan mendekati pria tersebut, ia mencoba bertanya apa yang pria itu lakukan disini?, Luhan menepuk pundak pria tersebut dan menoleh kearahnya

"Maaf ahjussi, tapi apa aku boleh bertanya anda ingin menjenguk siapa? Seharusnya anda didampingi salah seorang perawat sekarang" ucap Luhan sedikit bergetar mengingat pria tersebut menatapnya intens

"Kau dokter disini kan?" pria tersebut memperhatikan penampilan Luhan dari atas kebawah, kemudian ia tersenyum menatap Luhan

"Ya, aku dokter disini" jawab Luhan gugup

"Boleh aku membicarakan sesuatu dengan mu?" tanya pria itu dan Luhan mengangguk

"Silahkan, apa yang ingin anda bicarakan?" Luhan menatap pria itu dengan senyuman ramahnya, mereka berdua duduk disebuah bangku yang terletak disana, walaupun tampang pria didepannya ini layaknya preman pasar, namun ia tidaklah menakutkan ketika berbicara dengannya

"Aku ingin membawa Aleyna pulang" ucap pria itu "Aku adalah ayahnya, namaku Kim Jae Han" tambah pria bernama Jae Han tersebut

Luhan terdiam sejenak, ia teringat ketika saat berumur 8 tahun Aleyna dibawa ke rumah sakit ini karena mengalami trauma akibat masalah keluarganya, ayah dan ibunya yang sering bertengkar mengakibatkan ia menjadi anak broken home ditambah ayahnya yang suka berjudi dan pulang dalam keadaan mabuk membuat kondisi keluarga Aleyna semakin parah, tamparan keras yang sering dilayangkan pada gadis tak berdosa tersebut membuat mentalnya menjadi tak terkendali, ini tidak bisa dibiarkan, sebagai dokter ia tidak bisa mengembalikan Aleyna pada orangtua nya mengingat kondisi keluarga mereka seperti itu

"Maaf, meskipun anda adalah ayah nya, tapi kami tak bisa mengembalikan Aleyna pada anda, kami tidak bisa membiarkan Aleyna tersiksa seperti dulu" ucap Luhan, pria tersebut bahkan sampai berlutut pada Luhan memohon agar anak gadisnya bisa pulang bersamanya

"Tidak dokter, aku sudah tobat!. Aku janji tidak akan menyiksa Aleyna lagi" ucap pria itu yang masih memohon padanya

"Meskipun anda akan terus berlutut dihadapanku itu tidak akan berarti, karena megembalikan pasien yang masih belum sembuh harus melalui proses dan permohonan ijin yang panjang. Maaf, aku sedang sibuk sebaiknya anda pergi darisini" usir Luhan secara halus, lelaki didepannya itu terlihat geram dengan tangan yang mengepal kuat, Luhan tak memperdulikan hal itu dan mencoba beranjak darisana, namun langkah kakinya ditahan dan sedetik kemudian punggungnya membentur tembok

"Sudah kubilang kembalikan Aleyna!" bentak pria tersebut, ia mengungkung pergerakan Luhan yang terlihat berkeringat dingin disana, jika dilihat perbandingan tubuh mereka sangat jauh, Luhan dengan tubuh mungilnya mungkin akan kalah jika pria tersebut membanting nya

"Lepaskan aku tuan Jae Han!" Luhan memberontak ditengah kedua tangannya yang dicengkram erat oleh pria tersebut, napas nya terputus-putus saat pria itu mengarahkan jemarinya pada leher Luhan dan mencekiknya kuat

"Akhh..sakh..kit, kumohon lephh..assh" Luhan rasanya ingin mati, saluran pernapasannya ditekan kuat oleh pria tersebut, seperti ia tengah menelan biji kedondong, bahkan berbicara pun sulit dengan napas yang mulai menipis, wajahnya memerah pucat dan semakin lama cengkraman pada lehernya semakin kuat, setidaknya ia harus meminta maaf pada sang ibu dahulu jika hari ini ia ditakdirkan mati ditangan pria ini

"Aku akan melepaskan mu jika Aleyna kau berikan" ucap pria itu dingin dengan menatap Luhan tajam

"Samhh..pai kapan..pun, hhh..tidak akan per..nahhh" balas Luhan yang saat ini mulai kesusahan bernapas

"Masih bertahan juga rupanya..." pria tersebut menyerigai, ia semakin menambah cengkraman tangannya pada leher Luhan lebih kuat dan bahkan Luhan hingga mendelik saking sakitnya

"Akhh..."

BUGH...

"Sehun?" Luhan membelalak tak percaya, Sehun meninju pipi kanan pria tersebut hingga jatuh tersungkur, Luhan bersyukur saat ini ia bisa bernapas bebas kembali namun sepertinya akan terjadi baku hantam antar Sehun dan pria tersebut

Bugh..

"Sehun Hentikan! Sudah... " Luhan semakin khawatir saat pria itu juga menghajar Sehun hingga sudut bibirnya berdarah, Kai yang tak sengaja lewat didepan mereka langsung memisahkan kedua pria yang saling meninju satu sama lain, begitu juga dengan Luhan yang menahan pergerakan Sehun

"Aku baik-baik saja Sehun, terimakasih..." Luhan membisikkan ucapannya ditelinga Sehun dan seketika pergerakan lelaki itu terhenti

"Kai, bawa dia keluar! Dia adalah penyusup yang tak memiliki ijin datang kemari" titah Luhan dan Kai langsung menggiring pria tersebut keluar dari rumah sakit

"Lepaskan aku sialan! Aku ayahnya pasien disini!" pria tersebut tetap memberontak namun Kai menghiraukannya dan memaksa pria tersebut keluar

"Terimakasih Sehun..." ucap Luhan, ia mengusap darah disudut bibir Sehun dan menempelkan plester yang selalu ada di saku jasnya, Luhan sangat anti dengan darah karena itulah jika ia melihat sesuatu yang berdarah, maka ia akan langsung mengobatinya

Sehun memperhatikan Luhan dari jarak sedekat ini, wajahnya terlihat jelas ketika temannya itu fokus menempelkan plester disudut bibirnya, tanpa sadar Sehun tersenyum karena ia senang hari ini ia sudah menyelamatkan teman baiknya

"Selesai, lainkali berhati-hatilah..." Sehun mengangguk kemudian Luhan mengacak gemas rambutnya

"Sekali lagi terimakasih Sehun, aku berhutang budi padamu..."

...

Sera masih berkutat pada pekerjaan nya, ia sedang mengaitkan beberapa jarum pentul pada sehelai kain yang membungkus patung manekin tersebut, sebagai designer diperusahaan J&E fashion, ia harus selalu menciptakan inovasi trend fashion terbaru yang selalu berubah-ubah disetiap tahunnya.

Ketika jarum-jarum tersebut sudah melekat sepenuhnya, Sera berhenti. Ia menatap hasil pekerjaannya kemudian tersenyum bangga 'ini bagus' gumamnya, ia melirik arloji nya dan ini sudah waktunya ia menjenguk Sehun untuk yang ke-2 kalinya, Sera membereskan barangnya dan segera keluar dari gedung perusahaan menuju sebuah kedai untuk membelikan adiknya oleh-oleh

"Ahjumma, berapa semuanya?"

"Totalnya 35000 Won" Sera mengeluarkan beberapa lembar Won dari dompetnya dan memberikan pada Ahjumma itu

"Terimakasih, kau selalu datang kesini tiap hari dan memesan satu bubble tea untuk dibungkus, untuk siapa?" tanya ahjumma itu ramah dan Sera tersenyum

"Untuk adikku yang sedang sakit" jawab Sera dengan senyuman pahit

"Semoga dia cepat sembuh" ucap sang ahjumma itu dan Sera hanya meng-amin kan

"Aku sendiri bahkan tak tahu apakah dia akan benar-benar sembuh atau tidak?" gumam Sera dalam hatinya

Sera sudah tidak sabar untuk bertemu Sehun, ia berjalan dengan langkah cepat sambil menenteng kresek berisikan Bubble tea kesukaan adiknya, ia terlalu bersemangat hingga tak memperhatikan jalannya sampai tubuhnya menabrak seseorang

"Ohh Mian, aku terlalu terburu-buru..." Sera menundukkan kepalanya meminta maaf

"Aku juga tak lihat jalan, maafkan aku" ucap wanita yang ditabraknya tadi, wanita itu mengulurkan tangannya untuk Sera, dan Sera yang masih terduduk itu mendongak dan terkejut ketika mendapati wanita yang ia benci itu kembali dihadapannya

"Kau Hani?" tanya Sera masih dalam ekspresi terkejutnya

Orang dihadapannya itu juga sama-sama canggung, Sera melirik sesosok bayi yang bermain dengan boneka nya di kereta bayi samping Hani, Sera kemudian mengernyit "Dia anakmu?" Hani mengangguk

Sera menghela napasnya "Dia seharusnya jadi keponakan ku, kan?" sindirnya, lalu ia tertawa remeh menatap Hani

"Bagaimana kabar Sehun?" tanya nya, ia sendiri kalut kenapa pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya

"Kau masih bisa bertanya seperti itu setelah membuat adikku gila?" bentak Sera emosi, beberapa pengunjung melirik kearah mereka, Hani terdiam ditempat lalu ia berpikir mungkin ia salah dengar

"Apa maksudmu?" Hani menuntut penjelasan

"Bukan urusanmu, aku harus segera pergi..." Sera berjalan dengan sedikit menyenggol bahu Hani

"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Hani, entah mengapa ia tiba-tiba mengkhawatirkan kondisi mantan suaminya itu

...

"Sehunna, hari ini Noona mu datang!" ucap Luhan, Sehun melirik sekilas wanita dihadapannya itu tanpa minat

Sera mendekat, bisa ia lihat adiknya itu tidak lagi mengusirnya. Sehun hanya diam saja, meskipun dikamar ini terdapat 3 orang namun rasanya tetaplah sunyi ketika Sera datang menjenguk, ia mencoba menyentuh pundak nya tapi Sehun langsung menampik tangan tersebut

"Jangan sentuh..." titahnya tegas, Sera menjauhkan tangannya dan menatap harap sang adik

"Sehun sayang, sekali saja...tatap aku, Noona merindukanmu" setetes cairan bening jatuh dipelupuk Sera, mengingat pertemuannya dengan Hani tadi seakan merubah mood-nya menjadi tidak mengenakkan

Sehun tetap diam dengan menundukkan kepalanya, ia masih belum siap ditatap maupun disentuh oleh Sera yang secara darah maupun hukum adalah keluarganya sendiri, meskipun telah berkali-kali diberi pengertian oleh Luhan, tapi ia merasa belum siap secara lahir batin

"Bersabarlah Sera, aku tahu kau adalah wanita yang kuat" ucap Luhan menyemangati

"Ya! Aku masih percaya suatu saat nanti Sehun akan sembuh" Sera berseru mantap

"Bagus, jika dia terbiasa nanti lama-kelamaan dia akan menerimamu kembali" Luhan mengusap punggung Sera yang masih terisak

"Kau tahu Dokter Xi, aku tadi betemu Hani, mantan istri Sehun" Sera berbisik ke telinga Luhan

"Mwo!" Luhan terkejut dan segera mengajak Hani keluar kamar Sehun

"Ya, aku bertemu dikedai saat itu aku bertabrakan dengannya..."

"Apapun yang terjadi jangan sampai Hani tahu Sehun disini, apalagi hingga menemuinya, semua terapi yang kuberikan akan gagal dan bisa saja phobia nya semakin parah" Luhan mengingatkan dan Sera mengangguk patuh

"Tolong jaga adikku sebaik mungkin..."pesan Sera

"Tentu saja..."

.

.

.

TBC


Huft...akhirnya misteri mawar berdarah sudah terpecahkan dan sekarang si cangcorang/? Kembali lagi a.k.a Hani yang sekarang jadi Kim Hani (kan udh jadi istrinya junmyoen) haha... mungkin Hani dan kisah keluarga barunya akan dibahas lagi dalam chapter-chapter selanjutnya dan tentu saja masih ada hubungannya sama HunHan. Btw kemaren gak ada yang bener nebak siapa pelaku dibalik mawar berdarah, bhaks :3

Mind to review?