Heal Me
Cast: Always Hunhan and other
Genre: Yaoi Only
Rate : T
.
.
"Mma..Maa.." bayi disamping kemudi itu mengoceh tak jelas, ia memperhatikan sang ibu yang sedang fokus meyetir.
"Apa sayang?, sebentar lagi kita akan sampai dirumah" ucap Hani, sang ibu dari bayi mungil tersebut. Ia menghentikan laju mobil nya sejenak ketika lampu lalu lintas berwarna merah dan menoleh kearah sang bayi, seulas senyum tersungging di bibirnya ketika menatap bayi itu.
Beberapa menit kemudian Hani beserta bayinya sudah sampai di mansion, dengan dibantu beberapa maid, ia menggendong sang bayi dan membiarkan kereta bayi itu diletakkan maid nya, Hani memasuki mansion megah tersebut yang dulunya adalah milik Oh Sehun, bangunan tersebut masih tetap sama hanya saja Junmyeon mendekorasi ulang hingga sesuai keinginannya.
Bayi dalam gendongan Hani menggeliat, ia bergerak-gerak tak nyaman, Hani mengernyit sesaat kemudian mengerti bahwa ini waktunya ia mengganti popok sang anak "Tunggu sebentar ya sayang" Hani memasuki kamarnya dan merebahkan sang bayi di kasur, ia melepaskan celana bayi tersebut serta menyobek popok yang dikenakannya, ia bawa sang bayi itu ke kamar mandi dan setelah selesai, ia memasangkan popok yang baru.
"Mimpi indah sayang" Hani mengecup dahi sang putri yang nampak tenang ketika tertidur, ia terperanjat ketika hendak menuju kamar mandi dan disana Junmyeon, suaminya tengah menatapnya nyalang
"Dari mana saja kau?" tatapan amarah itu selalu terpancar di wajah Junmyeon akhir-akhir ini, Hani mengerti bahwa urusan kantor menyebabkan suami nya tidak bisa mengendalikan emosi, dan ia tidak tahu jika Junmyeon akan pulang lebih cepat hari ini karena biasanya ia akan pulang ketika tengah malam.
"Aku hanya mengajak Jaemi keluar untuk jalan-jalan" ucap Hani, ia juga menatap Junmyeon dengan datar.
"Ohh..bukan untuk menjadi model di J&E Fashion?" selidik Junmyeon. Hani terdiam beberapa saat, matanya melirik ke bawah sibuk mencari alasan yang pas untuk ia katakan pada suaminya "Bukankah sudah berapa kali kubilang berhentilah dari dunia modeling, kau masih bersikeras ingin menjadi model setelah memiliki anak?" suara Junmyeon meninggi, wajahnya memerah dengan tangan terkepal, ia bisa saja menampar Hani saat ini juga melihat sang anak yang tengah tertidur pulas.
"Ya, itu karena kau terlalu sibuk hingga lupa mengisi rekening ku. Dan kau juga selalu pulang malam dengan kondisi mabuk, apa kau sering mengunjungi bar akhir-akhir ini?" selidik Hani balik, ia sudah merasakan ini sejak lama dan ia baru berani bertanya sekarang.
"Kau mencurigai ku sekarang?" Junmyeon mendelik tajam, "Katakan! Apa kau mulai berani padaku Huhh?" Hani memekik tertahan ketika Junmyeon menarik kasar rambutnya, ia mencoba melepaskan cengkraman tangan Junmyeon dari rambutnya namun gagal karena terlalu kuat.
"Lepaskan..."erang Hani, Junmyeon masih tak memperdulikannya ia mendekatkan wajahnya dan menatap Hani dari jarak yang begitu sempit "Segera hentikan profesimu atau aku akan segan-segan menamparmu setiap hari" ancam Junmyeon dan Hani masih terdiam setelah cengkraman tersebut lepas dari rambutnya, lalu ia beranjak meninggalkan Hani di kamar dengan pintu yang dibanting keras.
"Kau sendiri lupa memberiku uang belanja meskipun direkening mu tertimbun banyak uang, lalu Jaemi mau makan apa jika aku hanya berdiam diri menunggumu memberikan uang bulanan, pagi berangkat dan pulang ketika kami sudah tertidur, kau banyak berubah Junmyeon" desah Hani dalam hatinya
.
.
.
.
.
Sehun sedari tadi tak dapat memejamkan matanya, ia rasanya sangat lelah dan ingin tidur namun tidak bisa, dapat ia rasakan suhu tubuhnya sedikit menghangat, diliriknya jam yang masih menunjukkan pukul 10 malam, ia turun dari ranjang nya dan berjalan keluar mencari udara segar, setelah menutup pintu, ia dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggilnya
"Sehun?!" yang dipanggil itu menoleh dan mendapati teman baiknya berjalan kearahnya
"Kau belum tidur?" tanya nya cemas, melihat tas punggung yang dikenakan Luhan sepertinya ia akan pulang setelah ini
"Aku tidak bisa tidur" ucap Sehun, sedetik kemudian tangan Luhan sudah berada di dahinya. Sehun mengernyit heran saat Luhan menempelkan punggung tangannya beberapa saat kemudian melepasnya
"Kau tampak pucat, masuk lah kedalam" Luhan menggandeng Sehun memasuki kamarnya kembali kemudian membaringkannya
"Tunggulah sebentar Sehun, aku akan segera kembali" Luhan meletakkan tas punggungnya dikursi, kemudian ia keluar dari kamarnya sambil berlari. Sehun semakin bingung bukankah ia akan segera pulang?, tidak lama kemudian Luhan kembali lagi dengan nampan berisi baskom serta obat dan segelas air putih
"Kau demam Sehun" ucap Luhan, ia meletakkan nampannya itu di nakas dan memandang Sehun sejenak "Besok jangan sering-sering keluar kamar, kau sedang sakit. Tunggulah sampai kau sembuh, mengerti?" Luhan mengingatkan dan Sehun mengangguk sekilas
"Agar tidak semakin parah, ini minum obatnya" Luhan menyerahkan sebutir pil tersebut beserta segelas air yang langsung diteguk habis oleh Sehun bersamaan dengan obatnya
"Gomawo Luhan-ah" gumam Sehun, ia membaringkan tubuhnya lagi dan mendapati posisi paling nyaman. Luhan dengan cekatan memeras kain yang telah dicelupkan ke air hangat kemudian meletakkannya di dahi Sehun
"Masih belum bisa tidur?" Luhan mengamati Sehun dari samping, jemarinya merapikan poni Sehun yang ia bawa kebelakang agar kain tersebut tidak dihalangi oleh anak rambut Sehun
"Ya" lirih Sehun, hatinya menghangat ketika Luhan dengan sabar mengurusnya, dan sedikit merasa bersalah karena seharusnya ini waktunya Luhan pulang
"Baiklah, malam ini kutemani kau sampai tertidur" seru Luhan, ia menarik salah satu kursi dan menempatkannya disamping ranjang Sehun, tangannya ia lipat sebagai bantalan dan Luhan mencoba tertidur dengan posisi seperti itu
"Nanti tanganmu sakit" sahut Sehun yang melihat Luhan ingin tertidur dengan berbantalkan kedua lengannya, ia menggeser sedikit kepalanya dan menepuk bagian bantal yang tersisa "Tidurlah disini Luhan!" seru Sehun dan Luhan menurut, mereka berdua berbagi bantal bersama dengan Luhan yang masih dalam posisi duduk, ia tidak ingin seranjang dengan Sehun juga karena tidak mau ikut-ikutan tertular demam nya.
"Gomawo..." dan setelahnya keheningan menyelimuti mereka
.
.
.
.
.
Luhan terkesiap ketika ia malah ketiduran di kamar Sehun, ia melirik arloji nya yang menunjukkan pukul 10 lebih 15 menit, jadi ia tertidur disini selama 15 menit. Luhan memandang Sehun yang sudah terbang ke alam mimpi, sepertinya obat tersebut menimbulkan kantuk yang menyebabkan Sehun tertidur. Dengan hati-hati Luhan meletakkan kursi yang di duduki nya kembali ke tempat semula, lalu mengambil tas miliknya kemudian keluar dari kamar Sehun dengan langkah yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Sehun.
Rumah sakit pada jam seperti ini sudah nampak sepi, hanya beberapa petugas keamanan yang berjaga didepan sana, Luhan melangkahkan kakinya dengan perasaan was-was mengingat ini sudah malam dengan koridor rumah sakit yang begitu sepi.
"Arghhh...tolong hikss.." Luhan bergetar ketika mendengar suara tersebut, tiba-tiba bulu kuduknya meremang, siapa dokter yang masih bertugas di jam segini?, ia mendengar rintihan itu lagi dan semakin lama semakin pilu kedengarannya. Luhan menajamkan pendengarannya, sepertinya suara itu berasal dari ruang laboratorium, karena rasa penasarannya Luhan berjalan kearah sana kemudian mendorong pintu tersebut dengan untaian do'a didalam hatinya
"Baekhyun?!" napas Luhan tercekat ketika melihat kondisi Baekhyun yang sudah tidak bisa berdiri dengan darah tercecer dilantai
"Tolong aku akkhh...perutku.."
"Bertahanlah,ok! Aku akan menghubungi ambulan" Luhan menakan beberapa digit nomor diponselnya, dan setelah selesai ia memapah Baekhyun yang terus merintih kesakitan hingga berada didepan gerbang rumah sakit. 5 menit kemudian ambulance yang dihubungi datang dan para perawat tersebut membantu Baekhyun dengan Luhan yang terus menggandengnya selama menuju rumah sakit
.
.
.
.
.
Luhan berhenti didepan ruang operasi karena ia tidak diperbolehkan masuk, sedikit khawatir akan keadaan rekan kerjanya namun ia segera tersadar untuk menghubungi Chanyeol mengenai keadaan darurat istrinya
"Chanyeol-ah, Baekhyun sedang berada dirumah sakit. Ia akan segera melahirkan" ucap Luhan yang menyandarkan tubuhnya didinding
"Apa?! Kenapa baru mengatakannya padaku?, maksudku kenapa Baekhyun tidak menghubungiku?" Chanyeol berujar panik diujung sana
"Dia sudah tidak bisa berdiri tadi, untung saja aku menolongnya." Desah Luhan, ia merasa menjadi orang baik setelah menolong Baekhyun yang selalu membencinya
"Baiklah aku akan segera kesana!" setelahnya sambungan tersebut terputus, Luhan memandang ponselnya yang menunjukkan waktu pukul 10.30 malam, bus sudah berhenti beroperasi pada jam segini, Luhan mengembuskan napasnya sekali lagi, sepertinya ia harus meminta bantuan Chanyeol secara diam-diam setelah ini
Luhan hampir saja tertidur ketika suara derap langkah kaki Chanyeol membuatnya terkesiap, lelaki tinggi dihadapannya ini terlihat mengatur napas dengan keringat yang bercucuran, kemeja kantor masih melekat ditubuhnya, sepertinya Chanyeol baru saja pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja
"Kau baru pulang, Chan?" tanya Luhan, Chanyeol duduk disampingna dan masih mengatur napasnya yang tersengal
"Aku ngebut dijalanan agar sampai cepat disini, hari ini jadwalku jaga malam" jawabnya sambil mengelap keringat dengan sapu tangan miliknya
"Oh, lainkali perhatikan keselamatan dirimu juga. Jangan ngebut dijalanan" Luhan memperingatkan, ia mengeluarkan botol minum yang tersisa setengah dari tas nya kemudian menyodorkannya kearah Chanyeol "Mau minum?" tawarnya, dan dengan senang hati Chanyeol menerimanya dan meneguk air didalamnya sampai habis
"Aku sudah berbaik hati menolong istrimu hingga ketinggalan bus, apakah kau bisa mengantarku pulang?" Luhan menatap Chanyeol dengan penuh harap
"Tentu saja"
.
.
.
.
.
"Terimakasih banyak, Chan" ucap Luhan begitu mereka sampai di depan rumahnya
"Sama-sama, aku juga berterimakasih karena kau telah menolong Baekhyun" balas Chanyeol, Luhan telah melepaskan seat-belt nya dan sebelum ia keluar, ia teringat sesuatu
"Aku ucapkan selamat padamu Chan, dan juga...jangan katakan ini pada Baekhyun jika kau mengantarku malam ini, ia akan marah besar sampai mengetahuinya" Luhan sedikit menunduk, ia merasa bersalah, seharusnya Chanyeol tetap berada disana menunggu proses persalinan sang istri bukan malah mengantar mantan-nya kerumah.
"Tidak apa-apa, ohh ya apa Baekhyun masih membencimu?" tanya Chanyeol penasaran, sebenarnya ia sudah mengetahui ini sejak lama, dan istrinya itu memang sangat protektif padanya. Ingin sekali rasanya ia melihat Baekhyun dan Luhan bisa berdamai
"Seperti biasanya" desah Luhan kemudian ia tersenyum untuk menutupinya, "Cepatlah kembali ke rumah sakit sebelum si perawat mencari suami pasien nya" gurau Luhan dan Chanyeol terkekeh, Luhan segera keluar dari mobil dan melambaikan tangan nya
"Hati-hati dijalan!"
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, di pagi yang cerah ini matahari bersinar terang di langit Seoul. Cuaca yang cerah ini membuat Sera bersemangat kerja, ia berjalan sambil menggenggam ponsel nya, seperti biasa ia akan selalu mengupdate berita harian tentang dunia fashion maupun isu-isu hot yang melibatkan para designer terkenal
Begitu ia sampai di tempat kerja nya, semua orang memandang nya dengan tatapan yang Sera sendiri tidak tahu artinya, ia acuh-acuh saja hingga suara sahabatnya terdengar sedang memanggilnya "Oi- Sera!"
"Ya, Unnie?" Sera menatap perempuan yang tiga bulan lebih muda darinya, mata nya memancarkan tatapan berbinar, kentara sekali sahabatnya itu tengah berbahagia
"Kau tahu si aktris terkenal Jun Jihyun itu akan mengenakan busana rancangan perusahaan kita? Kudengar dia akan mengenakannya saat acara penghargaan besok" ucap Kang Seolha, sahabat Sera. dengan nada bersemangat
"Benarkah?" Sera menyahut dengan datar, ia juga ikut senang mendengarnya, dan kemungkinan sang manajer Jun Jihyun membeli busana rancangan designer senior di J&E Fashion. Tidak usah berharap lebih, karena Sera sendiri masih tergolong baru disana
"Hanya itu respon mu?" dengus Seolha, Sera memutar bola mata nya kemudian beralih menatap perempuan jangkung itu
"Lalu apakah aku harus terkejut begitu? Sudah pasti yang dipesan adalah rancangan EunHee sunbae—"
"Ya, kau harus terkejut!" sahut Seolha cepat, Sera memandangnya heran kemudian sahabatnya itu melanjutkan ucapan nya "Karena Jun Jihyun sendiri memilih gaun rancanganmu"
Sera merasa seperti tertimpa durian runtuh mendengarnya, benarkah? Ini benar-benar ajaib! Jun Jihyun si aktris yang selalu menjadi sorotan publik dalam hal berpakaian maupun barang-barang yang dikenakan nya, jika aktris tersebut mengenakan gaun rancangan nya di acara perhargaan bergengsi tersebut sudah dipastikan ia akan segera menjadi bahan pencarian publik
"Kau melamun? Heii-bersiap lah karena siang ini dia akan menemuimu!"
.
.
.
.
.
"Saya merasa terhormat anda sudi mengenakan gaun rancangan saya" ucap Sera dengan sopan dihadapan sang aktris fenomenal korea –Jun Jihyun yang didampingi sang manajer disamping nya
"Ahh tidak usah merendah seperti itu" komentar Jihyun, ia mengambil secangkir teh dihadapannya dan menyesapnya sedikit "Aku langsung terpikat dengan gaun-mu, meskipun kau sendiri adalah designer baru disini" puji Jihyun dan Sera menunduk malu
"Ya, saya baru direkrut disini beberapa bulan" jawab Sera yang masih memperhatikan style Jihyun yang notabene artis, datang ke perusahaan saja sudah mengenakan brand ternama asal Paris –batin Sera
"Bersiap-siap lah menjadi sorotan setelah ini" Jihyun menyungging kan senyum nya karena apapun yang ia kenakan pasti orang-orang akan mengikuti gaya nya, bisa dibilang ia adalah salah satu tredseter utama korea
Sera mendapati ponsel nya bergetar, ia ingin mengangkat panggilan yang masuk, dengan canggung ia meminta ijin pada Jihyun, namun sang aktris bangkit dan menyudahi acara pertemuan mereka, ia harus menghadiri beberapa pemotretan dan wawancara di berbagai majalah. Akhirnya setelah Jihyun dan manager nya pergi, Sera mengangkat panggilan yang masuk "Yeoboyoseyo"
"Sera, apa kau bisa datang kesini? Sehun sakit" begitu nama Sehun disebut dan Luhan mengatakan bahwa adiknya sakit, tiba-tiba napasnya tercekat ia harus segera kesana
"Baiklah, aku akan meminta ijin pada bos-ku" Sera memutuskan sambungannya sepihak
.
.
.
.
.
Sehun berbaring di kamarnya, rasanya sangat membosankan sekali, tubuhnya demam dan ia merasa sangat lemah, kepala nya pusing dengan tenggorokan gatal yang membuatnya batuk, sesekali ingus nya mendesak keluar dan ia harus bolak-balik mencabut tisu disebelahnya
Hati Sehun menjadi resah ketika ia mengingat mimpi nya semalam, otak nya me-replay ulang beberapa kejadian dirinya ketika bersama Sera saat kecil, kakak nya yang selalu khawatir saat ia terjatuh ataupun Sera yang akan melonjak kegirangan ketika Sehun mendapatkan peringkat-1 dikelas, semuanya diputar kembali dalam mimpinya. Sehun menghela napas, jujur saja ia merasa bersalah pada kakak nya, tapi ada satu hal yang membuat Sehun ingin bertemu Sera, tadi malam ia bermimpi akan berpisah dengannya dalam kurun waktu yang lama, tidak! Sehun tidak ingin hal itu terjadi, ia ingin bersama Sera lebih lama dan entah mengapa perasaannya seakan mengatakan bahwa mimpi tersebut akan benar-benar terjadi.
"Sehun kau baik-baik saja?" Sehun terkesiap ketika Luhan menggoyangkan bahu nya, ia baru saja tersadar dari lamunan aneh nya, namun perasaan khawatir tak beralasan tersebut masih menggerogoti benak nya
"Kau melamun lagi? Apa yang kau pikirkan hm.." Luhan duduk disamping ranjang Sehun, ia arahkan punggung tangannya di dahi Sehun dan mendengus ketika mendapati tubuh Sehun masih panas "Panas nya masih belum turun"
"Sehunna!" keduanya terkejut ketika Sera dengan spontan menyerukan nama Sehun, Luhan bahkan tidak tahu sejak kapan Sera berada disini secepat itu, padahal ia baru saja menelponnya beberapa menit yang lalu
"Sera-ya, kapan kau sampai—"
"Sehunna kau baik-baik saja kan? Astaga ternyata kau demam!" Sera bahkan mengabaikan Luhan dan panik sendiri ketika mendapati adiknya demam
"Dia demam mulai kemarin malam, hanya flu biasa. Tenang saja" Luhan menenangkan Sera, ia tahu wanita itu sangat menyayangi adik nya, Luhan sengaja memberitahunya sekarang agar wanita itu tidak cemas mengenai adiknya
"Noona, hiks..." Sehun langsung membawa wanita itu dalam pelukannya, sepertinya telepati yang ia kirimkan berhasil membuat Sera datang kesini dan langsung memeluknya, ia sungguh tidak ingin berpisah dengan kakak nya apapun yang terjadi
Sera membeku, ini rasanya seperti mimpi! Tuhan mengabulkan do'a nya selama ini, Sehun memeluknya adalah sebuah keajaiban baginya, astaga! Apakah Sehun sudah sembuh, ia ingin segera membawa Sehun pulang dari tempat aneh ini dan tinggal bersama dalam apartemen baru nya yang ia dapatkan secara gratis dari bos tempatnya bekerja
Luhan juga sama terkejutnya, mulutnya menganga lebar dengan matanya yang membelalak, ini tidak bisa dipercaya! Ia sendiri memperkirakan Sehun akan sembuh setelah hipnoterapi keempat nya, dan ini jauh dari dugaan nya, tapi Luhan sadar semua itu berasal dari diri sendiri dan ia sebagai terapis hanya menuntunnya saja
"Noona hiks..jangan pergi" ucap Sehun yang sesenggukan, kakak nya itu menatapnya khawatir sekaligus bingung pada adiknya
"Pergi kemana sayang?, aku tidak akan pergi kemana-mana" Sera menghapus buliran air mata adiknya. Luhan yang terabaikan disini meminta ijin keluar dan membiarkan kedua kakak beradik itu saling bercengkrama
Ponsel Luhan bergetar, ia mendapati nama Chanyeol terpampang dilayarnya, tanpa pikir panjang ia mengangkat panggilan tersebut "Ya, Chan ada apa?"
"Luhan-ah anak ketiga ku laki-laki lagi" Chanyeol yang saat ini menatap bayinya dari kaca box teringat dengan kejadian semalam, lalu menelpon Luhan untuk memberitahukan kabar bahagia ini
"Chukkae, kau beri nama siapa dia?" tanya Luhan yang tersenyum, mengingat mantan nya itu terlampau bahagia sekarang –bersama Baekhyun
"Park Jiwon, nama yang bagus bukan?" Chanyeol terkekeh setelahnya
"Ya, biasanya kau akan memberikan nama anakmu dengan nama western.Bagaimana keadaan Baekhyun?" Luhan sedikit khawatir mengingat semalam Baekhyun terlihat sangat kesakitan
"Dia baik-baik saja, saat ini dia sedang istirahat. Terimakasih ya Lu jika bukan karena kau—"
"Ya ya ya, kau telah berterimakasih padaku puluhan kali" potong Luhan cepat dan lagi-lagi Chanyeol terkikik mendengarnya
"Aku berhutang budi padamu, Lu. Ohh ya sebenarnya aku ingin mengundang mu untuk merayakan kelahiran Jiwon, kau mau datang kan? Terserah kapan yang penting kau punya waktu untuk menjenguk rekanmu, yahh..walaupun dia membencimu" Chanyeol merendahkan nadanya diakhir
"Akan kupikirkan..." jawab Luhan "Aku masih ada pekerjaan dan lakukan tugas mu sebagai suami yang baik. Aku tutup ya!" lalu sambungan mereka terputus
.
.
.
.
.
Seminggu kemudian.
Setelah mengetahui bahwa Sehun kini benar-benar tidak menjauhi nya lagi, setiap jam istirahat kerja nya akan Sera gunakan untuk menjenguk adik nya setiap hari, ia bahkan makan siang di kantin rumah sakit bersama Sehun maupun Luhan. Sera amat bahagia, ia berpikir setelah ia mengalami masa-masa sulit akhirnya sekarang ia merasakan buah manis dari seluruh usaha nya, saat ini ia menjadi designer yang diperhitungkan di korea, tak tanggung-tanggung setelah aktris Jun Jihyun yang memakai gaun rancangan nya, aktris-aktris lain seperti Park Shin Hye dan Kim Ji Won juga mengenakan gaun rancangan nya yang lain dalam berbagai acara, kini pamor Oh Sera sebagai designer meningkat drastis.
Ditambah dengan kondisi adik nya yang berangsur-angsur membaik membuat Sera semakin bersyukur pada Tuhan, namun Luhan sebagai dokter masih menahan Sehun di rumah sakit. Alasannya karena Sehun belum sepenuhnya sembuh, ia memang tidak lagi takut dengan Sera namun ia masih menolak ketika diajak berdekatan dengan perempuan lain, Luhan tidak bisa membiarkan Sehun hidup berbaur dengan banyak orang nantinya, karena di dunia ini tidak hanya dihuni oleh laki-laki namun juga perempuan.
"Sehunna, seret jari mu seperti ini. Jangan terlalu ditekan dengan kuku mu, lalu lepaskan...lihat burung nya terbang menabrak tumpukan kayu dan babi-babi itu" Sera menjelaskan pada adik nya cara bermain game angry bird di ponsel nya, Sera tahu semenjak Sehun disini pasti dia akan jarang memegang ponsel apalagi bermain game
Sehun menirukan yang diajarkan kakak nya, ia tersenyum girang ketika burung-burung virtual tersebut telah memusnahkan si babi-babi pengecut dan ia bertambah senang lagi ketika sudah menaiki level diatasnya
"Whoaa...belum-belum sudah level 5, Sehun hebat eoh" puji Sera, melihat senyum Sehun yang terkembang seperti itu membuat hatinya menghangat, sudah lama sekali ia tidak melihat senyum adik nya itu semenjak perceraiannya dengan Hani
"Dokter Xi, jeongmal gamsahamnida..." diam-diam Sera bertermakasih pada Luhan disamping nya yang selalu memantau keadaan Sehun bahkan ketika mereka sedang bermain
"Aku senang akhirnya Sehun kembali padamu" Luhan tersenyum penuh arti dan Sera semakin tenggelam dalam kebahagiaannya. Ponsel Sera bergetar, menyadari itu Sehun menghentikan permainannya dan Sera segera mengambil alih ponselnya
"Halo..ahh baiklah aku akan segera kesana" Sera mendengus kemudian menatap Sehun iba
"Sehun, aku harus kembali ke kantor. Tidak apa-apa ya?" tanya Sera cemas, ia merasa bersalah pada adiknya sebenarnya ia sendiri masih ingin berlama-lama dengan Sehun namun Seolha menelpon nya dan meminta ia untuk segera kembali karena ada urusan penting
"Aku mengerti Noona, lagipula disini ada Luhan" ucap Sehun, Sera bernapas lega kemudian pamit menuju kantor nya kembali
.
.
.
.
.
"Oh Sera, jawab aku secara jujur, apa benar kau memiliki adik yang dirawat dirumah sakit jiwa?" tanya sang pemilik perusahaan, Sera membeku ditempat, tiba-tiba lidah nya kelu untuk untuk menjawab, setetes keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis nya
"Kau tidak ingin menjawab?" tanya sang pemilik perusahaan sekali lagi, sejujurnya ia merasa kasihan mendesak perempuan lajang tersebut untuk mengakui bahwa dirinya memiliki adik yang mengidap gangguan jiwa, tapi gosip-gosip tak jelas diluaran sana yang menyangkut salah satu designer nya membuat sang pemilik perusahaan tak tinggal diam, setidaknya ia harus membuat jumpa pers untuk meredam gosip tersebut
"Ya sajangnim...tapi adikku sebentar lagi sembuh" aku Sera pada akhirnya, ia menunduk dalam merutuki kecerobohan nya karena media kurang pekerjaan itu bisa-bisanya menguntit saat ia mengunjungi Sehun
"Jadi itu benar, bahwa kau adalah kakak dari Oh Sehun yang dulu nya adalah pemimpin perusahaan ternama. Dan setelah penyitaan tersebut, dia mengalami yahh... dengarkan aku Sera, sebenarnya aku tidak berniat mengungkit masa lalu mu dan aku turut prihatin, tapi aku meminta padamu, berhentilah mengunjungi adimu mulai saat ini"
Sera langsung mendongak menatap atasan nya, ia ingin berteriak kencang memprotes keinginan sang pemilik perusahaan, tetapi gosip sialan itu seakan mengunci mulut nya untuk tetap diam, mendengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Pak tua tersebut
"Aku sudah memikirkan ini matang-matang, karena kau adalah designer handal...aku ingin mengirim mu ke Paris untuk menyelesaikan S2 mu disana" ucapan sang atasan seakan meruntuhkan segala kebahagiaan Sera "Itu juga demi kebaikan mu dan untuk meredam gosip tersebut hingga benar-benar lenyap. Apa kau ingin adikmu terus diintai oleh media?"
Sera membisu cukup lama, semua yang dikatakan atasannya benar. Disatu sisi ia tidak ingin berpisah dengan Sehun, disisi lain ia juga tidak bisa membiarkan adiknya terus dibicarakan oleh media, bagaimana pun juga setelah ini ia pasti akan dijadikan bahan cemoohan oleh senior-senior nya karena memiliki adik gila
"Saya menerima tawaran anda, sajangnim" ucap Sera pada akhirnya
.
.
TBC
Sekarang bukan hanya kehidupan HunHan yang bakal disorot, tapi juga orang disekitar nya. Sumpah gw sendiri yang nulis ikutan nyesek :'v Sehun udah akur sama Sera oeyy :'v tapi sayang nya Sera harus ke Paris buat nyelsain studi nya -,,- yang nungguin Sehun sembuh harap bersabar ya :3
Mind to review?
