Sebelumnya, terimakasih kepada Chenma dan LuluSehun1423 yang udah kasih saran buat perbaikan epep absurd buatanku ini :'v serius, chap kemarin banyak typo nya T.T tp udh terlanjur di update, jd ku bisa apa? T.T maafin ke typo'an penulis kemarin yah :D
.
.
.
.
.
Heal Me
Cast: Always Hunhan and other
Genre: Yaoi Only
Rate : T
.
.
.
.
Malam hari nya Sera menangis hebat, sebagian dari dirinya menyesali keputusan yang ia ambil, ia tidak tega meninggalkan Sehun sendiri di Korea, apalagi dengan keadaan seperti itu. Bagi nya keadaan Sehun yang dirawat di rumah sakit jiwa merupakan sebuah aib, namun bukan berarti ia membenci adik nya, mungkin saat ini Sehun masih setengah sembuh, dan jika suatu hari nanti adiknya sembuh sepenuhnya, maka ia akan mencari alasan untuk mengatakan pada publik, bahwa kini adiknya sehat dan menjadi seorang pria yang berwibawa seperti dahulu.
Sera menghela napas nya beberapa kali, ia berpikir keputusan yang ia ambil tidak lah salah, suatu saat nanti ia harus menerima konsekuensi jika Sehun mengatai dirinya kakak yang egois, tapi disatu sisi dia tidak ingin berita yang menyebar menjadi semakin besar. Dengan bahu yang masih bergetar, tangan nya terulur untuk mengemasi pakaiannya kedalam koper, ia juga menulis sebuah surat pribadi untuk Luhan, beberapa kali ia harus menulis ulang suratnya karena air mata nya yang selalu jatuh diatas surat yang ia tulis.
Sera menoleh kearah jam, ingin sekali rasanya ia berlari menuju rumah sakit memeluk Sehun untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi untuk beberapa tahun, tapi ia tidak bisa, jika ia nekat melakukannya maka keputusannya untuk pergi ke Paris bisa batal karena tak kuasa meninggalkan adiknya yang kini mulai menerima keberadaannya.
"Sehunna sayang, jagalah dirimu baik-baik"
.
.
.
.
.
.
.
25 menit yang lalu, Luhan sudah berdiri didepan pintu rumah Chanyeol, ia datang kemari sendirian sambil menenteng sebuah tas berisi sepatu dan baju bayi. Luhan menghela napasnya, ada sedikit keraguan saat ia hendak menekan bel yang terpasang disebelah pintu, tapi ia datang kesini juga karena undangan Chanyeol, tidak mungkin ia dianggap apatis karena permusuhannya dengan Baekhyun.
Luhan memberanikan dirinya menekan bel tersebut beberapa kali, setelah ia tunggu tidak lama kemudian Chanyeol membukakan pintu nya, pria jangkung itu tersenyum lebar ketika mengetahui Luhan lah yang datang.
"Luhan!, mari silahkan masuk"
"Chan, ini untuk Jiwon" Luhan memberikan tas tersebut dan diterima dengan senang hati oleh Chanyeol
"Tunggu lah disini, akan aku buatkan minum"
Luhan mendudukan dirinya di sofa, aroma khas bedak bayi menyeruak di penciuman nya, ia melihat kesekeliling rumah Chanyeol, terlihat minimalis namun elegan seperti itulah menurutnya, jujur saja ini pertama kalinya ia bertamu kesini, Luhan memang tahu dimana letak rumah Chanyeol, namun ia tidak berani mengunjungi nya mengingat Baekhyun yang selalu memusuhi nya.
"Luhan?!, kenapa kau bisa disini?" Luhan tersentak ketika Baekhyun sudah berdiri dihadapan nya dengan tatapan memicing, ia gemetar dan sesekali menggigiti bibir bawahnya
"Chanyeol mengundangku dan aku juga—"
"Kau sedang tidak berniat menggoda suamiku dengan datang kemari kan?" sahut Baekhyun cepat membuat Luhan gelagapan menjawabnya
"Baek sungguh, aku hanya ingin menjenguk mu dan aku tidak memiliki niat seperti itu" Luhan mencoba menjelaskan
"Aku tidak perlu dijenguk oleh mu, jika kau ingin aku baik-baik saja, cepat pergi darisini!" usir Baekhyun halus dengan tidak hormat nya
"Baiklah" bahkan sebelum melihat Jiwon, dia sudah diusir dari rumah Chanyeol. Luhan tahu menjenguk Baekhyun adalah sebuah kebodohan yang menyita jam pulang nya, daripada harus beradu mulut dengan Baekhyun lebih baik ia memilih pulang saja.
Jalanan yang mulai sepi serta udara yang semakin mendingin, membuat Luhan beberapa kali merapatkan jaket tebal nya, ia pulang berjalan kaki karena jarak rumah Chanyeol dan rumahnya dekat, sambil bersenandung membuang rasa gundah nya tiba-tiba tangan nya ditarik oleh seseorang yang membuatnya terkejut
"Luhan, maafkan Baekhyun" Luhan tersadar jika dibelakang nya Chanyeol sedang mengejar nya, Luhan tersenyum memaklumi kearah Chanyeol
"Tidak apa-apa. Maaf, aku karena harus membuatmu berlari"
Chanyeol menyerahkan bungkusan berisi sekotak donat dan minuman kaleng sebagai ganti dari pemberian Luhan tadi, Luhan sungkan jika harus menolak dan ia menerima nya "Terimakasih Chan"
.
.
.
.
.
.
.
1 jam sebelum keberangkatan nya ke Paris, Sera menyempatkan diri mendatangi kantor nya untuk berpamitan pada Seolha dan juga pada pemilik perusahaan yang telah memberikan nya kesempatan mengenyam pendidikan S2 di Paris. Ketika Sera memeluknya, Seolha menangis. Perempuan anggun itu terus mengatakan 'jangan pernah lupa padaku atau hubungi aku jika butuh bantuan' Sera mengangguk paham dan tersenyum palsu sebelum ia melangkah pergi menuju bandara.
"Oh Sera, Tunggu!" pekik seorang wanita diujung sana
Sera menghentikan langkah nya, ia berbalik dan menegang mendapati Hani yang memanggil nya "Kau kenapa bisa disini?"
"Kau terlalu sibuk hingga tak tahu aku juga sudah bekerja disini sejak lama" jawabnya, Hani terus menatap Sera intens, ada satu hal yang ingin ia ketahui dari nya
"Soal rumor itu, apakah benar? Katakan bahwa itu hanyalah rekayasa" Hani berucap tegas, ia baru tahu mengenai rumor yang beredar di tempat kerjanya, Hani sungguh tidak percaya, bagi Hani, Sehun adalah pria yang kuat, tidak mungkin hal itu bisa terjadi kan?
"Bagaimana jika kukatakan, iya! Kau puas" Sera mendesah, hati nya sudah pasrah jika orang-orang selalu bertanya mengenai kondisi adik nya, apalagi yang bertanya sekarang adalah penyebab utama kehancuran Sehun
"Kau pasti bohong, aku tahu ditengah karir mu yang melonjak pasti ada segelintir orang yang mencari-cari skandal untuk menghancurkan mu, kan? Dan kau tidak ingin membela atau meneruskan ke meja hijau?" Hani masih bersikeras, ia mengutarakan semua yang ada di pikirannya, dia tipe orang yang tidak mudah percaya pada orang lain
"Aku tidak berbohong, adikku memang dirawat disana, dan semua itu karena kau!. Ingat hal itu baik-baik" Sera mendesis tajam, kemudian ia berjalan menghiraukan Hani yang masih mematung ditempat.
Tubuh Hani melemas, ia jatuh terduduk disana dengan pandangan kosong, ada rasa bersalah teramat besar yang menusuk hati kecil nya "Sehun, kenapa kau seperti ini sekarang"
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat ini Sera sudah berada dalam taksi menuju Bandara Incheon, ponsel nya yang berdering menampilkan nama Luhan dalam layarnya terus ia abaikan, surat yang ia titipkan pada Seolha sudah cukup membuat Luhan tahu bahwa ia harus pergi. Dan satu hal, ia tidak mampu jika harus mengunjungi Sehun disaat seperti ini.
...
"Kenapa tidak diangkat sih?" Luhan menggerutu di ruangannya, jemari nya yang tak bisa diam mengetuk-ngetuk meja sembari menunggu panggilan nya terjawab. Luhan mendesah, ini sudah yang ketiga kalinya ia menghubungi Sera namun tidak diangkat.
Luhan langsung berkacak pinggang ketika Kai datang dengan membawa koran yang berisi berita 'Oh pemimpin perusahaan tersukses, kini dirawat di rumah sakit jiwa' jelas saja Luhan tak tinggal diam, ia terus menghubungi Sera untuk meminta kejelasan tapi perempuan itu seakan mengabaikan keingintahuan nya.
"Dokter Xi, ini ada surat pribadi untuk mu" Jongdae meletakkan sebuah amplop putih di meja Luhan, laki-laki itu membungkuk kemudian keluar dari ruangan nya.
Luhan langsung menyambar surat tersebut, ia merobek nya secara asal dan menemukan sebuah kartu ATM beserta selembar kertas
"Dokter Xi, ini aku Oh Sera. Aku tidak tahu bagaimana bisa adikku mengetahui bahwa aku akan pergi jauh, kau pasti sudah mengetahui berita nya kan? Aku yakin kau pasti sama cemas nya seperti ku. Tidak usah khawatir, jagalah Sehun dari publik, jangan sampai ada wartawan yang menyelinap masuk. Aku akan melanjutkan studi S2 di Paris selama beberapa tahun, ini kesempatan emas bagiku, dan aku tak bisa melewatkan nya. Aku menulis surat ini karena ingin meminta tolong padamu, jagalah adikku, dan rawat dia sampai sembuh. Karena kau adalah orang yang kupercaya, aku menitipkan salah satu kartu ATM ku padamu, setiap ada kesempatan aku akan mengisi uang direkening tersebut, gunakan uang itu untuk hal yang bermanfaat Dokter Xi"
Oh Sera
Luhan meremat kertas tersebut hingga tak berbentuk lagi, ia mendengus, sedikit lagi Sehun akan sembuh jika Sera terus berada di sampingnya, dan berita sialan itu seakan mengacaukan segalanya, apa yang harus ia perbuat? Haruskah ia mengatakan yang sebenar nya pada Sehun?,tidak! Dia tidak bisa membiarkan Sehun tertekan lagi yang membuat kondisi mental nya semakin buruk, dan sekarang apa yang harus ia katakan padanya?
.
.
.
.
.
.
.
"Sehun, lihat! Aku membawa sesuatu" Luhan menggoyangkan sebuah jar berisi cairan sabun dengan warna merah yang mengkilat "Ayo kita keluar dan bermain!" tanpa basa-basi lagi, Luhan menarik Sehun dan membawanya ke taman rumah sakit
Mereka berdua duduk diatas rerumputan, Luhan membuka penutup jar tersebut kemudian mencelupkan sebuah stick dengan lubang kecil diatasnya kedalam cairan sabun, ia menarik kembali stick tersebut kemudian meniupnya, beberapa gelembung sabun keluar dari sana dan melayang-layang diatas mereka
"Woah..." Sehun tersenyum kagum melihat gelembung-gelembung yang terbang, tangan nya terulur untuk menyentuh salah satu gelembung tersebut, setelah ia sentuh gelembung tersebut pecah dan mulai menangkap gelembung-gelembung yang lain
"Mau coba?" Luhan menyodorkan jar tersebut beserta stick nya, tanpa penolakan Sehun langsung mengambil alih kedua benda tersebut, dan membuat gelembung sebanyak-banyak nya
Gelembung yang berterbangan tersebut membuat Ziyu dan Aleyna berlari kearah mereka, kedua anak beda umur tersebut berebut memecahkan gelembung-gelembung lalu mereka tertawa bersama. Luhan menghela napasnya, inilah yang ia suka dari pekerjaan nya, berinteraksi dengan pasien dan tertawa bersama membuatnya bahagia sepanjang hidupnya, ada rasa bangga yang terselip ketika ia menyadari bahwa membuat orang lain bahagia adalah suatu hal yang mahal harga nya, seseorang yang sekaya apapun tidak akan lengkap hidupnya jika tanpa kebahagiaan.
"Luhan, kenapa Noona masih belum datang? Biasanya dia akan datang disaat seperti ini" Luhan tersentak ketika Sehun sudah disamping nya dengan tampang cemberut,ohh tidak! Jangan sekarang, bahkan ia belum mempersiapkan apa yang harus ia katakan pada Sehun saat ini
"Entahlah, mungkin dia sibuk. Kau mengerti kan jika kakak mu sedang bekerja? Jika sudah selesai, dia pasti akan kemari jadi tunggulah..." tangan Luhan mengepal kuat, ia harus berbohong untuk saat ini, matanya melirik Sehun, laki-laki itu hanya mengangguk pasrah dan semakin membuat Luhan merasa bersalah
"Maafkan aku Sehun"
...
Apapun yang dikatakan Sera, Hani masih tidak percaya. Ia nekat mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa setelah orang suruhan nya menemukan identitas Oh Sehun disana, Hani hanya ingin memastikan bahwa Sehun yang dimaksud orang suruhan nya bukanlah Sehun mantan suami nya dulu yang ia khianati, ia masih percaya bahwa Sehun masih sehat-sehat saja.
Hani sampai disana dengan diantar sopir pribadi nya, ia datang dengan mengenakan kerudung yang ia sampirkan di bahu kanan-kirinya dan juga masker untuk menutupi wajah nya. Ia memastikan kesekeliling nya bahwa tidak ada orang yang mengintai, setelah ia rasa aman, Hani melangkahkan kaki nya masuk ke dalam sana dan langsung disambut oleh beberapa petugas.
"Anda ingin menjenguk siapa?" tanya salah satu perawat, Kim Minseok
"Aku kerabat nya Oh Sehun, bisa kau antarkan aku kesana?" pinta Hani dan Minseok mengangguk
"Mari ikut saya"
Tapi sebelum Hani benar-benar sampai di kamar Sehun, ia menghentikan langkah nya ketika menatap Sehun yang bermain bersama kedua anak kecil dengan seorang pria mungil disamping nya, Hani tidak percaya, mata nya tidak rabun kan?, pria itu mirip sekali dengan Sehun dan apakah dia Oh Sehun mantan suami nya dulu?
"Tidak mungkin!" gumam nya, hatinya mencelos ketika melihat kenyataan yang sesungguh nya,tidak! Bagaimana bisa ini terjadi? Ada beribu jarum yang menusuk hati nya, saat ini dirinya diliputi bersalah terhadap Sehun
"Anda baik-baik saja?" Hani masih terdiam ditempat, bahkan ketika Minseok bertanya ia tetap mengacuhkan nya. Tiba-tiba kaki Hani melemas, ia tidak kuat jika harus melangkah lagi mendekati Sehun
"Aku tidak jadi berkunjung..." ucap Hani pada akhirnya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian...
Sehun sudah menunggu lama, kakak nya tidak kunjung datang sejak saat itu. Ketika Sehun bertanya pada Luhan, ia terus memberikan alasan yang sama 'tunggulah dia sehun..' Sehun rasanya ingin menangis, kenapa kakak nya meninggalkan nya? Tidak cukup kah ia sudah ditinggal kedua orangtua nya beberapa tahun silam, Sehun takut kehilangan lagi, disamping nya hanya ada Luhan, satu-satu nya orang yang selalu menemani nya.
Tidak terhitung lagi berapa lama mereka bersama, Luhan yang terus disisi Sehun kapan pun itu, membuat tali ikatan mereka semakin erat, bahkan Sehun sudah menganggap Luhan lebih dari sekedar teman,Luhan adalah sosok yang special baginya, momen-momen kebersamaan mereka yang selalu diingat oleh Sehun membuat rasa yang dulu pernah ada muncul kembali.
Saat ini mereka berkumpul di ruang bermain, Luhan dengan senyum ceria nya bercerita sambil memainkan boneka tangan, semua anak-anak yang memperhatikan Luhan mendongeng, ikut tertawa lepas, kecuali Sehun. Tatapan nya menajam memandang sosok Luhan diseberang nya.
Luhan, dia orang yang mampu membuat Sehun tertawa, bahagia, dan tersenyum manis yang jarang ia dapatkan dahulu, senyum nya yang ceria seakan menghipnotis semua orang untuk tertarik pada nya, begitu juga Sehun. Selama ini presepsi nya tentang Luhan sedikit demi sedikit mulai berubah, Luhan memang teman nya tapi hatinya berkata lain, dan yang saat ini tengah ia rasakan adalah jantung nya yang berdebar, perasan ini mengingatkan nya pada ketiga mantan istrinya.
Sehun memejamkan mata nya erat, sekelebat bayangan buruk mengenai ketiga istrinya membuatnya bergetar, tidak! Dia tidak bisa jatuh dalam atmosfir cinta untuk yang ke-empat kalinya. Dia tidak ingin pengkhianatan kembali terulang pada nya, cinta itu dusta, hanya omong kosong belaka, cinta juga yang membutakan manusia, membuat beberapa orang mengabaikan kewajiban nya demi orang yang dicintai, semua itu tidak bisa Sehun terima untuk saat ini tapi hatinya seakan memaksa bahwa ia kini memang mulai menyukai Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sehun kau kenapa? Kenapa hanya diam saja?"
Selalu seperti ini, Luhan yang menatapnya dengan tatapan khawatir dan selalu mencemaskan nya membuat sebagian dari hati Sehun terisi oleh sosok Luhan yang ramah dan selalu tersenyum.
Sehun masih tak menganggap nya, ia hanya diam berperang dengan batin nya sendiri. Luhan yang diabaikan merasa cemas, tidak biasanya Sehun seperti ini, ataukah dia marah padanya karena tidak memberitahukan keberadaan Sera? Luhan semakin bingung dengan sikap aneh Sehun saat ini, ia mendekatkan dirinya dan mencoba bertanya lagi pada pria berkulit pucat tersebut
"Sehun jawab aku, kau baik-baik saja kan? Kenapa—"
"Pergi dari sini Luhan! Aku tidak ingin melihatmu..." usir Sehun halus namun dengan nada tajam yang menusuk disana
"Sehun..." panggil Luhan sekali lagi, ia merasa aneh dengan pria didepan nya kini
"Kubilang pergilah Luhan!" bentak nya. Luhan terperanjat,dia sungguh takut ketika Sehun berteriak pada nya, apa yang telah ia lakukan pada Sehun? Apakah ia telah membuat kesalahan yang membuat Sehun marah?
Luhan akhirnya menyerah, dan ia keluar dari kamar Sehun. Dengan langkah gontai ia menutup pintu nya dengan pelan , sehun mengembuskan napas panjang nya, ia mengacak rambutnya frustasi, apa yang telah ia katakan pada Luhan tadi? Ia telah membuat Luhan bersedih
"Maafkan aku Luhan..."
.
.
TBC
Penulis hanya ingin mengucapkan 'welcome to the climax' huahahaha :''v sengaja aku ulur-ulur kapan HunHan jadian biar ini jadi klimaks aja :'3 syedih gw ngeliat orang yang depresi gara-gara cinta :'' mau jatuh cinta tapi takut gagal lagi *lirik penulis :3 ingin tahu kelanjutan hubungan mereka kek gimana? Pantengin terus nih epep dan jangan lupa tulis perasaan kalian tentang epep ini dikolom review ^^ I Love you all...
