"Sehun. Katakan padaku, kau kenapa?" Luhan berusaha bersabar
"..."
"Kenapa kau ingin aku pergi? Apa aku melakukan kesalahan besar padamu?"
"..."
"Kenapa kau diam, Sehun?" Luhan mulai jengah "Apa yang harus ku lakukan agar kau tidak seperti ini?"
"Pergi!" satu kata penuh penekanan keluar dari mulut Sehun
"Jika aku pergi, apa kau tidak akan seperti ini lagi?" nada kekecewaan terdengar jelas dari bibir Luhan
"Ya.."
Luhan meremat tangan nya, menahan mati-matian emosi nya yang telah dipermainkan oleh Sehun. Laki-laki itu kenapa? Apa yang telah ia perbuat hingga dia seperti itu? Luhan butuh kejelasan, tapi karena Sehun selalu menolak kehadirannya, Luhan memilih mengalah.
"Baiklah" satu helaan napas panjang Luhan keluar "Selamat tinggal, Sehun"
Dan Luhan beranjak keluar dari kamar nya dengan perasaan kecewa sekaligus marah.
.
.
.
Heal Me Chapter 9
By: HunHan SeRaXi
.
.
"Kyungsoo. Kumohon, Saat ini aku meminta padamu sebagai teman" Luhan kini tengah berada di ruangan Kyungsoo, ia berlutut pada sahabat baik nya untuk bertukar pasien
"Memangnya apa yang terjadi padamu dengan Sehun? Bukankah kalian sangat dekat?" Kyungsoo merasa heran, mustahil jika pasien sudah akrab dengan dokter nya lalu tiba-tiba menjauhinya begitu saja
"Aku juga tidak tahu, dia tidak mau memberiku alasan mengapa ia memintaku pergi"
Kyungsoo menghela napas, ia lalu menatap Luhan prihatin "Pasti ada yang disembunyikan oleh nya.."
"Dia tidak menunjukkan gelagat yang aneh sebelumnya.." desah Luhan, ia terlalu pusing memikirkan Sehun saat ini
"Baiklah, kita akan bertukar pasien. Tapi ingat! dia lebih parah dari Sehun, dan kau harus sabar menangani nya" Kyungsoo memberi tahu, dan Luhan hanya mengangguk saja
"Aku mengerti. Terimakasih sudah mengijinkan ku, Soo" Luhan berujar lesu, ia lalu keluar dari sana dengan secercah harapan jika ia menjauhinya maka Sehun akan berubah
.
.
.
Ini adalah pertama kalinya ia menangani pasien bernama Kim Taehyung. Dengan perasaan sedikit gugup, Luhan mendekati si remaja laki-laki yang nampak asyik memandangi langit, ia hanya terfokus pada satu objek saja dan tidak menghiraukan yang lain, Luhan semakin mendekat dan memposisikan dirinya disamping laki-laki itu.
"Taehyung..." Luhan menepuk pundak nya yang otomatis membuat laki-laki itu menoleh
"Siapa?" tanya nya sambil mengerutkan alis
Luhan tersenyum lalu ia berujar "Aku Luhan, mulai saat ini aku yang akan menanganimu..."
"Lu-Han?" Taehyung mengeja namanya, dan Luhan mengangguk
"Ya, cukup panggil aku Luhan saja"
...
"Jadi kau yang namanya Sehun?" Kyungsoo mengamati pasien barunya, ia memperhatikan penampilan nya dari atas ke bawah, lalu menggeleng heran
"Kau tidak seperti pasien RSJ. Terlihat baik-baik saja" komentar nya
"Ahh ya..namaku Do Kyungsoo. Panggil aku Hyung karena aku lebih tua darimu, aku tidak suka dipanggil nama seperti Luhan"
Mendengar nama Luhan disebut membuat Sehun menatap laki-laki mungil itu tajam "Untuk apa kemari?" tanya nya dingin
"Pertanyaan bagus" Kyungsoo bertepuk tangan "Luhan meminta bertukar pasien denganku, dan mulai sekarang aku yang akan menjadi dokter mu"
Mata Sehun membola, ia terkejut mengetahui Luhan akhirnya menjauhi nya. Inilah akibatnya, Sehun harus menjaga jarak dengan Luhan walaupun dalam hati kecilnya ia tak ingin berpisah dengan Luhan
"Kenapa hanya diam? Apa kau tidak suka jika aku yang menjadi doktermu?" Kyungsoo menyilangkan kedua tangannya angkuh
"Tidak!"
"Baguslah, kalau begitu sampai bertemu besok" ia lalu keluar dari kamar Sehun
'Sial' umpat Sehun dalam hatinya
.
.
.
Hari ini Sehun baru saja mendapat hipnoterapi pertama dari Dokter Do atau Kyungsoo. Cara penanganan Kyungsoo dengan Luhan sangat berbeda jauh, jika Luhan selalu menggunakan sikap ramah nya dalam menangani pasien, beda lagi dengan Kyungsoo yang terkesan arogan dan dingin, namun pria mungil itu terlihat masih memiliki kepedulian terhadap pasien-pasien nya.
Sehun mendudukkan dirinya dibangku taman, sekilas terlihat dirinya sedang memandangi semak-semak mawar namun bukan itu yang sedang ia perhatikan, melainkan 2 orang yang sedang bersama dimana salah satu nya adalah Luhan.
"Taehyung, ayo minum obatmu!" seru Luhan, namun laki-laki itu menggeleng
"Bulan dimana?" Luhan menepuk dahi nya, benar kata Kyungsoo jika laki-laki ini lebih parah dari Sehun. Dia begitu terobsesi dengan sebuah objek yang bernama Bulan
"Ini masih siang hari, nanti malam akan datang..." Luhan berujar ramah
"Biasanya bulan disana!" satu jari telunjuk Taehyung mengarah ke arah langit
"Bulan masih tidur, dia harus minum obat agar dapat bersinar terang. Dan kau juga harus meminum obatmu agar dapat melihatnya lagi" alasan tidak masuk akal, namun sangat efektif bagi penderita gangguan jiwa
"Benarkah?" Taehyung mendesah lesu, ia lalu menatap Luhan "Baiklah, aku akan minum obat"
Taehyung meneguk nya membuat Luhan bersorak senang "Nah begitu, sekarang apa kau ingin melihat bulan lagi?"
Perkataan Luhan barusan sukses membuat Taehyung mengangguk semangat
"Ayo ikut aku!" Luhan menarik Taehyung, menuju ke tempat yang ia maksud
Sehun merasakan sesak dalam dada nya, biasanya Luhan hanya akan tersenyum untuk nya, dia hanya bisa tertawa jika bersamanya, namun kali ini Sehun harus melihat sendiri jika Luhan juga bisa seperti itu dengan orang lain, apalagi laki-laki itu lebih muda darinya dan dapat membuat senyuman Luhan kembali lagi, tidak seperti dirinya, mengusir Luhan tanpa alasan membuat senyuman laki-laki manis itu pudar, Sehun menyesal. Dia ingin meminta Luhan kembali, namun otak nya menentang keras keinginan hati kecil nya, dia masih belum siap, dia tidak bisa membiarkan perasaan suka itu terus menjalari disetiap rongga hatinya membuat ia teringat akan kenangan pahit dimasa lalu yang bisa saja terjadi lagi.
Sehun tidak tahu kenapa kaki nya berjalan mengikuti mereka, 2 orang itu berhenti diruang bermain. Mengingatkannya akan kenangan melukis bersama Ziyu, ternyata apa yang sempat ia pikirkan tadi terjadi, Luhan mengajak Taehyung menggambar. Pria manis itu menggerakkan tangan nya membentuk pola abstrak diatas kertas, tidak lama kemudian Luhan meraih 1 krayon berwarna kuning dan mengaplikasikannya pada gambar yang barusan ia buat.
Sehun terus memperhatikan keduanya, mereka berebut krayon untuk ikut andil dalam mewarnai, terkadang Luhan akan mempoutkan bibir nya jengkel yang membuat Taehyung tertawa, Taehyung mencoba mengambil warna hijau namun Luhan langsung mencegah nya ketika akan mewarnai bagian yang lain
"Jangan disitu, langit itu berwarna hitam kebiruan. Kalau hijau untuk bintang nya saja ya?" Luhan mengambil alih krayon hijau tersebut yang otomatis membuat tangannya dengan Taehyung bersentuhan, Taehyung mungkin akan menyepelekan hal itu, namun tidak bagi Sehun.
Dan entah mengapa, semakin lama ia memperhatikan keduanya, semakin sesak hatinya yang terus berontak menyaksikkan keduanya bersama.
.
.
.
Kai sedang menghitung lembaran Won hasil gaji nya bulan ini. Ia menghela napas, tabungan nya masih kurang untuk melamar Kyungsoo- walaupun Kyungsoo sendiri masih tetap menolak nya, semalam ibu nya memaksa dirinya untuk segera menikah, ia tahu ibu nya sudah berusia 70 tahunan dan ingin segera menimang cucu, tapi apa daya hatinya hanya berlabuh untuk Kyungsoo- yang ditakdirkan laki-laki.
Tapi gay bukanlah alasan, buktinya Dokter Park alias Baekhyun juga bisa mengandung, bahkan kini sudah beranak tiga. Betapa iri nya Kai melihat kebahagiaan Baekhyun, ia juga ingin seperti itu dengan Kyungsoo namun mengingat ketus nya laki-laki itu padanya membuat sebagian nyali nya untuk kembali mendekati Kyungsoo menciut. Kai telah bersusah payah menghidupi ibu nya seorang yang sudah sakit-sakitan, sembari menabung untuk menata kehidupannya kedepan bersama Kyungsoo- mungkin.
Kai lalu tertawa pahit, otak nya telah merencanakan sesuatu untuk mendekati Kyungsoo kembali, apapun caranya.
Malam ini Kai sedang menguntit Kyungsoo. Ia memperhatikan laki-laki itu yang sedang berbicara di telepon, dengan tangan menggenggam sebuket mawar- hasil rangkaiannya sendiri dengan memetik mawar-mawar ditaman, Kai berjalan mendekati Kyungsoo lalu menepuk pundak nya dari belakang yang sukses membuat laki-laki mungil itu terkejut
"Astaga Kai!" Kyungsoo melotot kearahnya, ia lalu mendekatkan ponsel nya ke telinganya lagi "Hyung aku tutup dulu ya" dan namja mungil itu beralih menatap Kai dengan tangan dilipat angkuh
"Kenapa mengagetkan ku?" tanya nya ketus, Kai menggaruk tengkuk nya kikuk
"Ini untuk mu Soo" Kai menyodorkan sebuket mawar, lalu ia berlutut didepan laki-laki mungil itu
"Cih.." Kyungsoo berdecih, kenapa ia disuguhkan pemandangan yang terkesan klise ini. Ia mendengus dan berujar ketus "Sudah kubilang berapa kali padamu, aku—"
"Soo, kali ini kumohon. Tidakkah kau melihat ketulusanku padamu selama ini, aku benar-benar mencintaimu" raut wajah Kai berubah serius
"Semudah itu mengatakannya?" Kyungsoo menyela cepat
"Memang itu yang kurasakan Soo, aku tahu aku miskin tapi aku punya cinta yang tulus" Kai mulai melembut, ia menggenggam tangan pemuda bermata doe didepannya
"Cinta saja tidak akan bisa menghidupi ku" Seru Kyungsoo
"Lihat! Aku telah menabung selama 5 tahun untuk masa depan kita!" Kai menunjukkan buku tabungan nya didepan Kyungsoo, sepertinya Kai sudah merencanakan ini matang-matang
"Masa depan kita, katamu? Aku bahkan—"
"Karena aku hanya mencintaimu, hatiku hanya dapat tertuju padamu" Kai berujar lemah, ia sudah sangat lelah dengan sikap arogan Kyungsoo
"Selama ini kau masih single kan? Dan kau tahu aku menyukai mu, kenapa tidak mau mencoba menerima cintaku? Akan kulakukan yang sebaik-baiknya hanya demi kau, Soo" Kai menjelaskan, Kyungsoo hanya terdiam
"Aku pernah mencoba untuk berpaling darimu, tapi tidak bisa. Kau pikir apa yang dapat menyebabkanku hingga terus tetap mencintaimu? Hati tidak akan pernah bisa berbohong"
"..."
"Rasa ini muncul secara tiba-tiba saat melihatmu, mungkin Tuhan sudah menakdirkannya, perasaanku murni dan tulus kepadamu, cinta adalah anugerah, tidakkah kau ingin mencobanya Soo?"
"..."
"Untuk apa kau menumpuk uang hasil bekerja, sedangkan hatimu kosong? Hidup mu akan lengkap jika ada seseorang yang kau cintai datang menyambutmu.."
"..."
"Kyungsoo. Sekali ini saja coba pikirkan kembali sifat arogansi mu, kumohon.."
"Cukup Kai! Aku lelah.."
Lalu kyungsoo beranjak darisana tanpa menerima sebuket mawar dari Kai
.
.
.
Kai terduduk lesu dibangku taman, ia sudah memperkirakan beginilah hasil akhirnya, ia tidak pernah berpikir muluk-muluk jika ia datang membawa Ferari lalu Kyungsoo akan menerimanya, tidak! Laki-laki mungil itu tidak menggilai harta, namun Kyungsoo adalah pribadi yang workaholic. Kai tahu akan itu, Kyungsoo didalam hatinya pasti merasa kesepian, namun ia menampik nya dan selalu memasang wajah dingin nya setiap saat.
"Kenapa sedih?"
Kai tersadar ketika ada seseorang duduk disampingnya. Kai mengenalnya, dia adalah Sehun pasien Luhan yang kini ditangani Kyungsoo
"Kyungsoo menolakku lagi" Kai menunduk sedih
"Apa arti Kyungsoo bagimu?" tanya Sehun, sebenarnya ia sedari tadi mengintip Kai yang tengah mendekati Kyungsoo, namun dokter nya itu menolak laki-laki tan ini
"Segala nya.." Kai tidak dapat menjabarkan secara rinci apa arti Kyungsoo bagi nya, namun kata 'Segalanya' sudah dapat mewakili seluruh perasaannya tersebut
"Jika Kyungsoo hyung pergi, kau bagaimana?" tanya Sehun lagi
"Aku hancur, aku tidak bisa membiarkan Kyungsoo pergi. Apalagi jika dia bersama orang lain" Kai lalu mendesah, dan beralih menatap Sehun
"Kenapa bertanya seperti itu?" Kai balik bertanya
"Aku juga merasakan hal yang sama terhadap Luhan" Jelasnya "Tapi aku tidak bisa, aku takut.."
"Apa yang kau takut kan?" Sahut Kai
"Aku mengalami kegagalan rumah tangga hingga 3 kali, semua istriku mengkhianatiku. Aku berpikir jika cinta hanyalah omongan kosong belaka, pernikahan kami tidak pernah dilandaskan cinta melainkan harta" lalu Sehun menunduk lesu, Kai mengusap punggung nya
"Kau bilang jika cinta adalah anugerah.."
"Ya, memang benar" Seru Kai
"Bagiku itu hanyalah bualan semata saja" tampik Sehun
"Kau hanya belum menemukan orang yang tepat" Jawab Kai bijak "Aku tidak berniat membual pada Kyungsoo" Kai menegaskan
"Kau beruntung dapat merasakan cinta" Sehun berujar lesu, Kai terdiam mendengarnya "Aku juga ingin Luhan terus berada disisiku, tapi aku takut. Semuanya karena cinta"
'Jadi masih ada beberapa orang didunia ini yang takut merasakan cinta?'- batin Kai
.
.
.
"Luhaaaan!" Seru Taehyung semangat, laki-laki itu tersenyum lebar ketika Luhan menghampirinya
"Kenapa berteriak hmm..?" Luhan mengusak rambut Taehyung, ia lalu mengernyit sedang apa Tehyung disini? Bediri didepan semak-semak mawar
Taehyung mengeluarkan tangan yang sejak tadi ia sembunyikan dibelakang, Luhan terkejut mendapati sebelah tangan Taehyung sedang menggenggam setangkai mawar yang paling besar dan- indah.
"Katanya Luhan suka mawar?" Taehyung tersenyum lebar "Aku memetik mawar ini untukmu, lihat! Jariku sampai berdarah untuk mendapatkannya" Taehyung menunjukkan jari tengah nya yang terlihat jelas goresan merah disana
"Astaga Taehyung!" Luhan memekik, ia lalu mengeluarkan plester dari saku jas putih nya. Untung nya Luhan selalu menyediakan plester di jas kerja nya dimanapun ia pergi, ia lalu membuka plester tersebut dan memasangkannya di jari Taehyung yang berdarah
"Lain kali hati-hati" ujar Luhan dan dibalas anggukan Taehyung
"Taehyung senang karena Luhan kemarin membawakan Bulan untukku, hari ini aku ingin membalasnya dengan mawar ini, meskipun jariku sampai berdarah. Kemarin kau bilang suka mawar kan?" ujarnya polos, Luhan pun tertawa mendengarnya
"Biaklah, terimakasih mawar nya" Luhan menerima setangkai mawar dari Taehyung. Ia lalu menghirup aroma bunga tersebut, wangi sekaligus menenangkan. Inilah yang ia suka dari mawar selain kelopak nya yang indah
...
"Sehun! Kau dimana?" Kyungsoo menghentikan langkah nya begitu orang yang ia cari sedang berdiri di depan pohon dekat taman
"Sehun?!" Kyungsoo memanggil nya namun laki-laki itu masih bergeming. Kyungsoo mengikuti arah pandang Sehun, disana ia melihat objek Luhan dan Taehyung tengah tertawa. Ia lalu melirik Sehun, terlihat jelas disana raut wajah nya berubah dingin dengan alis menukik tajam
"Kau baik-baik saja?" sedikit terpancar raut kekhawatiran dari Kyungsoo. Sehun menoleh kearahnya, dan secepat mungkin merubah ekspresi dinginnya tadi
"Ya.." suara serak Sehun terdengar setelahnya
"Setelah ini ada terapi tambahan untukmu. Tapi, apa yang kau perhatikan tadi?" Kyungsoo bertanya pada Sehun, ia sedikit merasakan hawa yang tidak enak ketika melihat raut Sehun tadi
"Bukan apa-apa" Sehun menjawabnya asal
"Kau menyembunyikan sesuatu!" Kyungsoo menuduhnya, Sehun mendengus lalu ia menggeleng
"Bukan hal yang penting, Hyung..." Sehun mendesah
"Sehun. Apapun yang dirasakan pasienku, aku harus mengerti. Siapa tahu aku bisa membantumu" Kyungsoo menjelaskan dengan bijak. Sehun menghela napasnya lagi lalu menatap Kyungsoo
"Aku tidak suka Luhan bersama orang lain" Sehun mengakuinya dengan suara lirih
"Apa?!"
.
.
.
"Sajangnim, anda memanggil saya?" Luhan berdiri didepan pintu atasannya. Sang pemilik Rumah Sakit Jiwa tempatnya bekerja
"Masuklah!" setelah mendengarnya, Luhan mendorong pintu tersebut lalu membungkuk sejenak dihadapan atasannya
"Silahkan duduk" titah seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik diumur 50 tahunan
"Terimakasih, Sajangnim" Luhan lalu mendudukkan dirinya di sofa dengan sopan
"Aku memanggilmu kesini karena ada beberapa hal yang ingin kusampaikan" wanita itu menjeda "Apa kau tahu jika pemerintah belum lama ini membuka RSJ baru di daerah Seongnam?"
"Ya, lalu?" sahut Luhan
"Rumah sakit itu membutuhkan beberapa dokter untuk menjadi relawan, setiap rumah sakit harus mengirimkan satu dokternya untuk dikirim kesana. Dan aku melihat kinerjamu yang baik terhadap pasien, jadi aku lebih memilihmu dibandingkan yang lain, kau setuju Luhan?"
"Saya setuju apapun yang anda perintahkan untuk saya. Suatu kehormatan jika anda lebih memilih saya dibandingkan yang lain"
Lalu wanita itu tersenyum "Ini undangan nya, disitu juga terdapat alamat rumah sakit. Baru 2 hari pembukaan saja, sudah 150 pasien yang dirawat disana" cerita wanita itu dan Luhan mengangguk
"Aku harap kau melakukan tugasmu dengan baik" ujarnya
"Jika hanya itu yang anda sampaikan, saya permisi" Luhan membungkuk lalu meninggalkan ruangan atasannya dengan menggenggam selembar kertas undangan
...
"Jelaskan padaku! Apa maksudmu kau tidak menyukai Luhan bersama orang lain?" Kyungsoo layak nya sedang mengintrogasi Sehun, ia membawa pasien nya itu kembali ke kamar dan berbicara empat mata secara tertutup
"..."
"Kenapa? Kau tidak ingin menjawab?" nada bicara Kyungsoo meninggi, ia butuh suatu kejelasan dari mulut Sehun
"Apa ini terkait dengan kau yang mengabaikan Luhan sebagai terapis mu?" alis Kyungsoo bertaut, ia semakin bingung dengan pasien dihadapannya ini
"..."
"Ohh apa karena Luhan tidak memberitahumu tentang Sera?"
"Ada apa dengan kakak ku?" Sehun menyahut cepat. Kyungsoo tahu-tahu segera mengatupkan mulut nya, ia keceplosan.
"Dia...baik-baik saja" Kyungsoo beralasan
"Hyung juga menyembunyikan sesuatu" tuduh nya, Kyungsoo memicing kearah Sehun
"Sekarang kau menuduh ku?!" bela nya tak terima
"Ya!. Asal Hyung memberitahuku soal Sera, maka aku akan mengatakan semuanya..."
Kyungsoo berpikir sejenak, ia lalu menatap Sehun sendu "Berjanjilah kau tidak akan kecewa mendengar nya..."
"Memang nya kenapa? Apa yang terjadi pada kakak ku?" Sehun tiba-tiba menjadi resah
"Luhan bahkan merahasiakan ini darimu..." Kyungsoo menunduk tak berani menatap Sehun "Sebaik nya kau tidak perlu tahu.." desah nya
"Tidak! Katakan padaku, kumohon..." Sehun menatap Kyungsoo dengan tatapan berharap nya "Aku berjanji tidak akan sedih, aku akan menuruti semua perintah mu Hyung.." Sehun memberikan janji pada Kyungsoo
"Sera. Kakak mu, dia...berada di Paris" Kyungsoo sedikit terbata ketika mengucapkannya "Belum lama ini dia pergi kesana untuk kuliah" Kyungsoo lalu mendesah "Dan yang selama ini mengurusi administrasi mu adalah Luhan, ku harap kau mengerti Sehun..." ia lalu menunduk
Keheningan menyelimuti mereka berdua. setelah mengakui semuanya pada Sehun, Kyungsoo tak berani berucap ataupun menatapnya, ia khawatir setelah ini kondisi mental Sehun semakin memburuk, tapi jika Kyungsoo pikir lagi, Sehun harus tahu soal itu, agar nanti tidak terjadi kesalah pahaman dan juga sadar bahwa Luhan sangat berjasa pada nya.
"Sekarang giliranmu untuk menceritakan semuanya padaku..." Kyungsoo memecah keheningan, Sehun lalu berdehem
"Alasan mengenai aku menjauhi Luhan adalah..." Sehun menjeda, ia sedikit tidak ikhlas akan mengatakannya pada Kyungsoo namun ia telah berjanji "Karena aku takut..."
Kyungsoo lalu tertawa. Sehun mengernyit, apa yang sedang laki-laki mungil itu tertawakan? Kyungsoo lalu berdehem dan kembali serius "Astaga! Apa katamu? Kau takut dengan Luhan? Apa wajah nya begitu menyeramkan bagimu?"
Sehun mengerucutkan bibirnya, kali ini Kyungsoo salah paham mengenai pengakuan nya "Bukan itu, aku takut untuk semakin...jatuh cinta padanya"
Kyungsoo terdiam, ia lalu menatap Sehun lekat "Kau menyukai Luhan?"
Sehun mengangguk, ia lalu berujar memohon "Tolong jangan katakan ini padanya..."
"Ya..ya, tapi apa yang membuatmu takut? Tentang masa lalu mu begitu?" Kyungsoo menebak, dia bisa saja membantu Sehun untuk melupakan masa lalu nya jika Sehun mau menceritakan semua keluh kesah nya padanya
"Ya, aku mengalami masalah percintaan yang pelik, dulu" aku nya "Dan sekarang aku takut untuk memulai kembali, apalagi perasaan ini muncul dalam diriku sendiri" Sehun menunduk, ia meremat jari nya yang tidak bersalah
Kyungsoo tersenyum pahit menatap Sehun, ia tiba-tiba teringat ketika Luhan dulu juga pernah mengalami kegagalan cinta "Luhan, dia dulu juga pernah mengalami hal itu" Kyungsoo mulai bercerita yang mulai menarik atensi Sehun untuk mendengarnya lebih jauh
"Kau kenal Dokter Park atau Baekhyun?" Kyungsoo bertanya, Sehun sempat mengingat-ingat lalu dia mengangguk
"Suaminya, Park Chanyeol. Dia dulu adalah mantan kekasih Luhan, mereka memang belum menikah tapi Chanyeol tiba-tiba memutuskannya sepihak. Luhan bahkan terkejut ketika Chanyeol menikahi Baekhyun begitu saja"
Sehun terdiam, ia meresapi apa yang Kyungsoo ceritakan "Sejak saat itu ia mulai tertutup mengenai masalah percintaannya, dia tidak pernah mengungkit masa lalu yang membuatnya depresi. Dan yang kutahu sampai saat ini Baekhyun memusuhi Luhan karena hal itu"
Tiba-tiba saja Sehun merasa benci pada seseorang bernama Baekhyun, namun ia juga iri dengan lelaki bernama Chanyeol itu karena telah bersama Luhan-nya dulu "Karena itulah, aku menceritakan ini agar kau mencontoh nya. Masalahmu mungkin lebih berat, namun jika kau melaluinya dengan tegar aku yakin kau pasti bisa dan tidak akan seperti ini akhirnya"
Kyungsoo menasehati nya dengan bijak, Sehun mendengus. Padahal dia sendiri tidak becus dalam permasalahan cinta, ia jadi teringat ucapan Kai kemarin "Hyung, kau sendiri kenapa tidak menerima pernyataan cinta Kai?"
"Huh?!"
.
.
.
Ini adalah hari keduanya di Seongnam. Kemarin Luhan sempat mengikuti seminar dengan beberapa dokter yang lain, disana ia bertemu dengan orang-orang baru yang seprofesi dengannya, mereka membicarakan tentang apa yang akan mereka lakukan untuk tugas sukarelawan ini.
Saat ini Luhan mendapat tugas untuk menangani seorang pasien laki-laki berumur sekitar 45 tahun. Istrinya sudah meninggal, sedangkan anak nya pergi merantau ke Kota. Laki-laki itu tertekan selama hidupnya, ia bekerja serampangan dan sempat mencoba bunuh diri akibat kerasnya hidup, laki-laki itu mengaku ia ingin segera menyusul istrinya ke surga namun percobaan bunuh dirinya digagalkan karena ada beberapa orang yang melihatnya
Laki-laki itu hidup menggelandang setelah kabur dari Panti jompo, ia membuat beberapa keributan karena pernah mencuri makanan di toko, berbuat onar dan tidur sembarangan didepan kios-kios tertutup, orang-orang disekitar nya melapor pada polisi lalu membawa laki-laki itu kesini. Mereka berpendapat bahwa laki-laki ini sudah tidak waras dan harus dirawat di rumah sakit jiwa.
Luhan dibantu dengan beberapa perawat, harus bersabar ketika akan menyuntikkan cairan penenang dalam tubuh laki-laki itu. Dia terus memberontak atau bahkan menggigit lengan sang perawat kencang, Luhan juga tak tinggal diam, bagaimanapun caranya cairan itu harus masuk kedalam tubuh sang pasien.
Setelah berhasil menyuntikkan cairan tersebut, laki-laki itu lemas lalu tak sadarkan diri. Beberapa perawat menggotong nya kembali ke kamar, Luhan bernapas lega. Ia sedikit tak tega melihat laki-laki itu, ini mengingatkannya pada ayah nya dulu yang kini telah meninggal 3 tahun yang lalu, Luhan lalu mengusap air matanya, ia bertekad ketika kembali ke Seoul nanti ia harus berziarah ke makam ayah nya.
...
Kai menyesap kopi nya sambil membaca berita harian terbaru dikoran, sudah menjadi kebiasaannya dipagi hari ketika sampai disana. Sambil sesekali bersenandung, ia juga memberikan salam beserta sapaan hormat jika ada dokter maupun atasannya yang datang. Kai bukan lah satu-satunya satpam disana, ada banyak malah mengingat pasien rumah sakit jiwa itu sangat agresif dan mengharuskan para penjaga diluar bersiaga penuh menghadapi pasien-pasien itu.
Kyungsoo sebenarnya sudah datang sejak tadi, ia memperhatikan Kai dari kejauhan. Masih banyak orang yang belum datang mengingat ini masih pagi, dengan langkah pelan dan juga sedikit ragu, ia mendekat kearah Kai dengan sedikit menunduk malu
"Kai.." sapa nya
"Ohh Kyung, sudah datang?" Kai langsung meletakkan koran nya lalu ia berdiri "Ada apa kemari? Membutuhkan bantuanku?" tanya nya
"Ehh..tidak!" sahut Kyungsoo cepat
"Lalu?"
"Eung..ini soal waktu itu..." Kyungsoo mati-matian menahan rasa malu nya, pipinya sudah memerah layaknya tomat. Kai diam menunggu kata selanjutnya dari Kyungsoo
"Aku ingin... mencoba menerimamu Kai"
Lalu Kai terdiam beberapa saat.
...
"Hyung, kau sendiri kenapa tidak menerima pernyataan cinta Kai?"
"Huh?!"
"Kai bilang cinta adalah anugerah..." Sehun mengungkit nya kembali "Hyung seharus nya menerimanya karena tidak semua orang bisa merasakan cinta yang tulus...sepertiku" nada bicara Sehun merendah diakhir
Kyungsoo terdiam cukup lama, ia memang selalu menolak Kai karena gengsi nya. Namun hari itu, apa yang diucapkan Sehun seolah menohok hati nya "Jangan mencampuri urusanku.."
"Aku juga ingin merasakan, seseorang yang mencintaiku tanpa embel-embel harta" Sehun menunduk, ia jadi menyedihkan begini ketika bercerita masa lalunya
"Hyung beruntung memiliki orang yang peduli terhadap Hyung.."
Kyungsoo tersadar bahwa hidup nya memang tidak lengkap tanpa kehadiran orang-orang yang selalu mencintainya.
.
.
.
Setelah mencurahkan segenap keluh kesahnya pada Kyungsoo waktu itu, akhir-akhir ini Sehun mendapat jadwal terapi lebih sering dibandingkan biasanya. Laki-laki bermata doe itu membisikkan kalimat berupa unsur sugesti yang mengatakan bahwa cinta tidaklah seburuk yang ia kira, setiap manusia hidup dengan cinta dan kasih sayang sejak kecil dari orangtua nya, lalu ketika ia beranjak dewasa nanti, hati setiap manusia akan terisi oleh orang-orang yang dianggap nya istimewa.
Daripada terapis, Kyungsoo kini lebih terlihat seperti seorang Pastor digereja-gereja. Terkadang dirinya juga bisa menjadi motivator untuk Sehun, sebenarnya ini terlihat seperti timbal balik, Sehun yang menyadarkan Kyungsoo akan cinta Kai, dan Kyungsoo yang membantu Sehun untuk mengatasi ketakutan nya terhadap cinta.
"Hyung, aku tidak melihat Luhan beberapa hari ini" Keluh Sehun sehabis diterapi oleh Kyungsoo
"Dia memang tidak berada disini. Luhan diminta untuk menjadi relawan di rumah sakit di daerah Seongnam"
"Kenapa Hyung baru mengatakannya padaku?" protes Sehun, lalu Kyungsoo terkekeh
"Aku takut kau merindukannya..." ujar nya tersenyum, Kyungsoo tidak lagi bersikap dingin pada Sehun. Mereka sekarang lebih akrab, dan terlihat seperti kakak-beradik
"Tenang saja, hari ini mungkin dia pulang.."
Sehun lega mendengar nya, jika saja ia tidak canggung bertemu Luhan, mungkin ia akan memeluk nya erat
...
"Taehyung!" pekik Luhan
"Eoh Luhan? Astaga!" Taehyung berlari kencang kearah Luhan, ia bahkan mengabaikan seorang anak kecil yang tengah bermain dengannya
"Luhan kemana saja? Taehyung rindu.." aku nya, ia lalu memeluk Luhan sekilas
"Lihat! Apa yang aku bawa, tada.." Luhan menggoyang-goyangkan sebuah boneka pisang berbentuk melengkung seperti bulan sabit, sengaja Luhan membelinya di Seongnam karena teringat Taehyung yang menyukai Bulan
"Wahh Bulan..." pekik nya senang, Luhan terkikik. Taehyung bahkan langsung mengira benda tersebut berbentuk bulan walau sebenarnya pisang dengan ujung batang berwarna hijau
"Tapi ini apanya?" Taehyung mengernyit, ia mengamati lekat ujung boneka nya yang berwarna hijau
"Itu topi nya" Luhan beralibi "Bulan tertidur juga memakai topi"
Dan Taehyung mengangguk-angguk saja, benar-benar polos...
...
Beberapa hari kemudian, setelah kepulangan nya dari Seongnam. Luhan kembali dipanggil ke ruangan atasan nya, ia sedikit merasakan hawa yang tiba-tiba tidak mengenakkan dalam benak nya, Luhan berdo'a semoga saja ia dipanggil dengan maksud membawa kabar baik
"Luhan, sebenarnya aku merasa tidak enak harus mengatakannya padamu. Tapi ini penting..." wanita itu meremas jari-jarinya, ia tidak ikhlas jika harus kehilangan Luhan- dokter paling ramah.
"Katakan saja, Sajangnim.." Luhan mempersiapkan hatinya untuk mendengar kata selanjutnya dari wanita itu
"Selama di Seongnam kau terus diamati oleh beberapa Pengawas dari daerah kan?"
Luhan mengangguk, wanita itu melanjutkan "Mereka mencari dokter yang layak untuk RSJ itu, dan kau...terpilih" lalu wanita itu menunduk, Luhan mengembuskan napasnya
"Tidak lama lagi, kau..akan dipindah tugaskan kesana. Jujur saja Luhan, aku sendiri tidak rela jika harus kehilangan dokter sepertimu" Wanita itu mengakui
"Sebentar lagi kau akan mengikuti jejak Chanyeol, aku sendiri tidak bisa membantah. Ini keputusan Pemerintah Daerah"
"Saya akan melakukannya, Sajangnim"
.
.
.
Tanpa terasa, Luhan sudah 6 tahun bekerja dirumah sakit ini. Rasanya baru kemarin ia menginjakkan kaki disini lalu sekarang ia harus pindah bekerja ditempat lain yang jaraknya sedikit jauh dari rumahnya. Luhan telah mengemasi barang-barang nya diruangan, ia lalu berpamitan pada karyawan rumah sakit juga beberapa perawat dan khususnya para Pasien nya yang ia sayangi seperti Ziyu, Taehyung, Aleyna dan juga..Sehun.
Luhan menangis ketika perayaan perpisahannya dirayakan, dari beberapa pasien yang ia pamiti hanya Sehun yang belum. Alasannya, Luhan sedikit canggung ketika menemuinya mengingat saat itu laki-laki itu terus mengusirnya dan tak ingin melihatnya lagi, padahal dalam lubuk hati terdalamnya, ia sangat merindukan Sehun.
Sehun sendiri sebenarnya juga tahu mengenai hal ini, sebetulnya dia benar-benar tidak rela. Ia tidak ingin berpisah dengan lelaki itu apalagi jika harus kehilangan jejak nya sebentar lagi. Sehun mendesah berat, Luhan pasti menyetujui kepindahannya dikarenakan dirinya.
"Luhan, jaga dirimu baik-baik disana" pesan Kyungsoo
"Ya, dan juga Sehun... aku ingin kau merawatnya dengan baik" Luhan sedikit mengkhawatirkan Sehun mengingat ia diberi amanat oleh Sera untuk mengurusi administrasi nya selama wanita itu berada di Paris.
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja bersamaku"
...
"Hyung bagaimana ini? Luhan sudah tidak bekerja disini.." malamnya, Sehun menggerutu kesal keruangan Kyungsoo, laki-laki mungil itu mendesah ketika Sehun menjadikannya pelampiasan emosi nya
"Ya mau bagaimana lagi, itu kan tugas!" Kyungsoo menghela napas
"Tapi aku bahkan belum menyatakan cinta padanya.." Sehun menyesal, ia lalu menunduk. Dia sendiri bahkan tidak yakin akan dapat mengatakannya pada Luhan suatu hari nanti
"Dia pasti akan datang menjenguk sesekali.." Kyungsoo memberi secercah harapan, Sehun menatapnya dalam
"Benarkah?" Sehun sedikit berbinar mendengarnya
"Aku yakin dia pasti juga merindukan rumah sakit ini suatu saat nanti" arah pandang Kyungsoo kosong, ia juga masih belum merelakan kepindahan Luhan
"Dan selama dia tidak ada, kau harus bangkit. Cepatlah sembuh lalu kau dapat menyatakan perasaanmu padanya.." Kyungsoo memberikan sebuah ide yang brilian kepada Sehun, laki-laki itu kemudian bersemangat kembali
"Apa Hyung yakin bisa?" Sehun sedikit ragu
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini" Kyungsoo berucap mantap
.
.
.
3 tahun kemudian...
Sehun melewati masa-masa yang sulit tanpa kehadiran Luhan, dengan sabar Kyungsoo terus membimbingnya untuk mengatasi rasa ketakutan berlebihannya terhadap sesuatu seperti wanita cantik dan jatuh cinta. Namun karena tekad dan semangatnya yang kuat, dalam kurun waktu yang terbilang singkat hidup Sehun perlahan berubah, dia tidak lagi takut terhadap wanita cantik dan sedikit demi sedikit ketakutannya terhadap cinta tergantikan oleh rasa suka nya yang berlebih terhadap Luhan.
"Sehun, aku membuatkan kukis lezat untukmu"
Dan seperti inilah kesehariannya, semenjak ia tidak takut lagi terhadap wanita cantik, Kyungsoo telah mengijinkannya untuk kembali berbaur dengan beberapa perawat wanita. Mereka setiap hari mendekatinya dengan membawa bekal ataupun coklat untuk Sehun, maklum saja semakin hari Sehun semakin tampan walau dalam balutan pakaian pasien.
Sehun sendiri sebenarnya sedikit merasa risih karena terus digoda oleh beberapa perawat. Tapi ia bahagia karena ini merupakan suatu kemajuan baginya, pernah ada yang menyatakan ketertarikan pada Sehun namun ia menolaknya secara halus, meskipun telah menerima terapi beberapa kali, namun ia kapok untuk menjalin suatu hubungan dengan para wanita.
Hari ini bertepatan dengan musim dingin ketiga tanpa kehadiran Luhan, sebentar lagi akan ada natal. Ia berharap Luhan akan datang dan menemuinya, Sehun bertekad akan langsung menyatakan seluruh perasaannya pada laki-laki itu ketika dia datang menghampirinya
...
"Dokter Xi! Ada paket untukmu.."
Luhan tersentak ketika Minhee dengan semangat membawa sebuah kardus besar ke meja nya. Ia melihat alamat pengirim paket tersebut dan terkejut ketika menyadari bahwa paket itu berasal dari Paris dengan pengirim Oh Sera
"Terimakasih Minhee, kau boleh kembali ke ruanganmu.." sebelum Luhan membuka paket tersebut, ia tidak enak jika harus dilihat Minhee- perawat kepercayaannya.
"Baiklah, tapi Oh Sera itu siapa? Jangan-jangan..." Minhee menebak dengan senyum tersungging dibibirnya
"Jangan berpikir yang macam-macam!" Luhan mengingatkan. Minhee mengerucut sebal lalu ia meninggalkan ruangan Luhan segera
Luhan membuka nya dengan asal, disana terdapat sebuah syal yang kelihatannya mahal juga jas mewah yang pastinya dari Paris, kota mode terkenal didunia. Luhan segera meraih sepucuk surat yang diletakkan didalamnya, lalu ia membacanya
'Dokter Xi atau sebaiknya aku memanggilmu Luhan, aku benar-benar berterimakasih padamu. Kau sudah merawat Sehun dengan baik disana, aku juga terus mengecek uang yang selalu kukirimkan padamu dan kau menggunakannya dengan baik. Aku senang ada orang yang memperhatikan adikku selain diriku, ohh ya bagaimana kabar nya? Apakah ada kemajuan yang berarti selama 3 tahun ini?
Luhan, aku benar-benar minta maaf padamu. Sebenarnya studi S2 ku telah selesai setahun yang lalu, namun kini aku diajak bekerja sama dengan perusahaan ternama di Paris, aku belajar banyak disana dan aku sangat sibuk bahkan untuk pulang ke Korea pun rasanya sulit. Mungkin suatu hari nanti aku akan pulang dan menjenguk Sehun lagi, aku merasa berdosa telah meninggalkannya sendiri di Korea tanpa siapapun, tapi untung nya ada kau. Sebentar lagi natal kan? Aku mengirimkan jas itu sebagai hadiah untukmu dan syal merah tersebut untuk Sehun, berikan padanya sebagai hadiah dariku.'
Terimakasih untuk semuanya selama ini Luhan
Luhan menghela napas, ia lalu meraih syal tersebut dan membungkusnya ulang. Dengan lebih rapi dan cantik tentunya.
.
.
.
Tepat sehari setelah natal, Luhan menyempatkan diri berkunjung ke rumah sakit ini. Dia meninggalkan tempat dulunya ia bekerja dan baru kembali lagi sekarang, rasanya ia ingin terharu. Dengan pelan ia melangkahkan kakinya dan mengunjungi area bermain sebagai tempat persinggahan pertamanya
"Annyeonghaseyo..." sapa Luhan. Mereka semua yang berada disana terkejut terutama Ziyu dan Aleyna
"Luhan!" pekik mereka riang, Ziyu langsung berlari kearahnya dan memeluk Luhan erat
"Ziyu kau sudah semakin besar" pujinya. Ziyu tersenyum tanpa melepaskan sedikitpun pelukannya terhadap Luhan
"Akhirnya kau kembali..." Kyungsoo berucap, laki-laki itu saling memeluk melepaskan kerinduan
"Hari ini aku membawa banyak hadiah" Luhan berujar, ia lalu memanggili Ziyu dan Aleyna untuk ia beri kado natal
"Sepertinya kau mewakili Sinterklas malam ini, haha.." tawa Kyungsoo renyah, Luhan ikutan tertawa
"Tuhan memberkati kita semua" ujar nya "Ini untukmu.." Luhan memberikan sebuah kotak berukuran sedang kepada Kyungsoo
"Terimakasih Lu, aku juga sudah menyiapkan hadiah untukmu"
Luhan melangkahkan kakinya mencari Taehyung, setelah ia melihat laki-laki itu dia langsung memeluknya erat. Entah mengapa Luhan sangat bahagia ketika ia kembali banyak orang yang begitu merindukannya.
"Luhann!" pekik Taehyung gembira, senyumnya bertambah lebar ketika Luhan mengusak rambutnya
"Selamat natal! Ini kadomu.." Luhan menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna kuning yang Taehyung terima dengan senang hati
"Terimakasih Luhan" ujar nya bahagia
Tinggal tersisa satu kado, dan itu yang paling istimewa diantara kado yang lain. Luhan berniat memberikannya untuk Sehun, setelah ia pikir-pikir lagi 3 tahun adalah waktu yang lama dan cukup untuk Sehun melupakan keberadaannya.
Luhan mengetuk pintu kamar Sehun. Karena tidak ada jawaban Luhan langsung membuka nya, disana ia melihat dengan jelas bahwa Sehun kesepian, di hari yang bahagia ini seharusnya ia tersenyum dan menerima banyak kado dari orang terkasih
"Luhan?!" Sehun tersentak cukup kaget dengan kedatangan Luhan yang tiba-tiba, beberapa tahun lamanya berpisah dan kini laki-laki itu kembali menemuinya, benar kata Kyungsoo bahwa Luhan akan kembali ketika ia sembuh
Tanpa berkata-kata lagi, Sehun memeluknya erat bahkan terkesan sangat kencang hingga Luhan sulit bernapas. Luhan menyadarinya, ia sendiri juga begitu merindukan Sehun setelah mengalami permasalahan pelik beberapa tahun lalu. Luhan merasa bersalah karena jarang mengunjunginya apalagi Sehun belum mengetahui pasti tentang kakak nya yang berada di Paris
"Bagaimana kabarmu? Kau tahu aku sangat merindukanmu" Luhan terharu, air matanya tanpa sadar menetes sejak tadi. Ia menyentuhakan kedua tangannya ke dagu runcing Sehun, Luhan sangat merindukan bagian favoritnya dari tubuh Sehun
"Aku juga, mungkin melebihimu..." Sehun menatapnya sayu, terkadang ia lelah menunggu Luhan namun rasa cinta nya menguatkan segalanya
"Apa maksudmu?" Luhan menuntut penjelasan
"Apa kau tahu alasan mengapa aku menjauhimu saat itu?" Sehun akan mengungkapkan semuanya sekarang, ia tidak mau menunggu lebih lama lagi "Karena aku takut untuk jatuh cinta padamu.."
Luhan tertegun mendengarnya, bibir nya terkatup rapat dan berat rasanya untuk mengatakan sesuatu pada Sehun "Alasan mengapa aku menjauhimu saat itu karena aku menyukaimu... dan aku takut untuk jatuh cinta mengingat masa lalu ku"
"Sekarang aku sudah sembuh Luhan, dan aku disini menunggu kedatanganmu. Kau sudah mendengar semua pengakuanku kan? Lalu apa jawabanmu?" Sehun merutuki dirinya yang tidak bisa romantis tetapi ia telah berusaha
"Ini terlalu tiba-tiba Sehun.." Luhan mendesah, ia tak berani menatap mata tajam Sehun
"Jika kau tidak percaya, tanyakan semua ini pada Kyungsoo Hyung. Dia lah yang menuntunku untuk sembuh" Sehun membela, Luhan tahu-tahu menyahut cepat
"Tidak! Maksudku..baiklah, aku menerimanya"
Sehun rasanya seperti diterbangkan ke langit ketujuh. Ia terlalu bahagia mendengar nya langsung dari bibir tipis Luhan, namun ia terlalu larut dalam kebahagiannya sampai tidak menyadari bahwa pernyataan Luhan barusan mengandung arti dan maksud yang lain.
'Aku memang menerima pernyataan cinta nya, tapi itu tidak semudah yang ia ucapkan. Aku tidak tega setelah ia mengalami kemajuan pesat lalu aku menjatuhkannya lagi dengan menolaknya. Baiklah..tidak apa-apa aku jalani saja dulu. Nanti jika waktunya tiba, mungkin aku akan mengakhirinya...'- Luhan
TBC
Semakin mendekati ending, please jangan pelit review aku udah susah2 ngetik nih apalagi chp ini 5000 word lebih. Dan juga sedikit lagi yang ngefav bakal mendekati 100. Yang siders mohon pengertiannya ya, seenggaknya di fav lah ato dikomen jangan Cuma di follow -_-
