Pintu di dorong kasar oleh Luhan, Kyungsoo yang tadinya sedang menikmati coklat panas langsung tersentak dan menurunkan cangkir yang ia pegang. Laki-laki bermata doe itu menatap Luhan dengan tatapan bingung, Luhan terengah, ia lalu duduk disalah satu sofa dan ingin segera menuntut penjelasan dari Kyungsoo.
"Kyungsoo, kita perlu bicara" ujar Luhan serius, Kyungsoo mengernyitkan dahi nya lalu sedetik kemudian ia mangut-mangut mengerti. Luhan saat ini pasti ingin menuntut penjelasan atas Sehun.
"Santai saja Lu, aku tahu kau ingin bertanya mengenai Sehun kan?" Kyungsoo menarik selembar tisu dan mengusapkannya pada sisi pinggiran bibirnya yang terkena bekas coklat
"Apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu?" Kyungsoo bertanya disela-sela keheningan mereka
"Ya. Aku cukup terkejut mendengar nya" Luhan mengakuinya sambil menunduk, Kyungsoo beralih menatapnya dan tersenyum
"Sejak kapan dia sembuh?" Luhan beralih bertanya
"Yang jelas sudah lama, dia sudah bisa bersosialisasi dengan para perawat wanita. Jika kau melihatnya kau pasti senang, tapi satu hal yang harus kau tahu, bahwa dia selalu menunggumu disini"
Luhan terdiam beberapa detik, raut wajah kesal terpancar setelahnya "Apa?! Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Apa kau lupa jika aku walinya sekarang" bentak nya pada Kyungsoo
"Ini permintaan Sehun sendiri" ujar Kyungsoo menghela napas
"Jadi kau lebih menuruti keinginan pasienmu?" Luhan mengerutkan alisnya "Kau seharusnya memberitahu lebih awal, aku bisa menghubungi Sera untuk kepulangan Sehun dari sini. Jika dia sudah lama sembuh, kenapa masih harus menetap disini? Kau tahu kan kenapa R.S Seongnam dibangun? Itu karena banyaknya pasien yang tidak tertampung di R.S lain, kau sebagai dokter harusnya mengerti Soo"
Luhan meluapkan apa yang ada di otak nya, Kyungsoo membiarkan Luhan berbicara sampai puas. Dia menunggu sampai Luhan berhenti, jeda beberapa menit Kyungsoo mulai angkat bicara "Sehun, dia memberiku banyak inspirasi. Walau dia terlihat kuat diluar, tapi nyatanya dia seorang laki-laki yang menyedihkan" pandangan Kyungsoo kosong, ia lalu melanjutkan "Aku tidak memberitahumu bahwa dia juga mengidap Philophobia1, aku berusaha keras membantunya agar sembuh. Bukan karena insting seorang dokter, melainkan timbal balik yang ia berikan padaku, dia menyadarkanku akan keberadaan Kai selama ini, dan karena Sehun juga aku dan Kai kini menjalin hubungan. Sejak itu hidupku perlahan juga berubah"
"Apa maksudmu?" Luhan menyahut tidak mengerti
"Alasan dia menjauhimu saat itu, karena dia tidak bisa menerima perasannya sendiri. Hatinya berkata bahwa ia menyukaimu tapi otak nya menolak keras akibat trauma yang dialaminya. Karena itulah dia berusaha menjauhimu karena terbayang-bayang masa lalu nya yang kelam"
Luhan dibuat mematung akan ucapan Kyungsoo, tiba-tiba perasaannya menjadi tidak menentu "Jadi selama ini Sehun menyukai ku?" lirihnya, Luhan kehabisan kata-kata.
"Mungkin lebih tepatnya mencintai" Kyungsoo mengoreksi "Secara ajaib hatinya hanya tertuju padamu, hanya kau yang dapat membuatnya terjatuh dalam perasaan cinta" tambahnya
"Saranku, jangan menjatuhkan nya lagi kedalam lubang yang sama. Terima saja dia apa adanya" Kyungsoo berpesan, Luhan lalu bangkit dan pamit undur diri
"Kepalaku tiba-tiba pusing, aku permisi.."
.
.
.
Heal me Chapter 10
By: HunHan SeRaXi
.
.
Menghubungi Sera rasanya sulit sekali, panggilan Luhan berungkali tidak dijawab olehnya. Luhan mengerti bahwa wanita itu sibuk dengan urusannya di Paris, dan Luhan juga telah mengatur waktu jika malam hari disini maka pagi hari di Paris sana, pagi hari disini maka malam hari disana. Namun nyata nya di jam-jam itu pun Luhan menelpon juga tidak diangkat oleh Sera, Luhan berusaha bersabar. Meskipun panggilan luar negri bisa dibilang mahal, tapi ini semua demi kebaikan Sehun.
"Ya. Siapa?" jawab nya menggunakan bahasa Inggris yang khas, terdengar jelas dari suaranya bahwa Sera sepertinya kelelahan. Luhan jadi merasa tidak enak
"Sera, ini aku Luhan" Luhan bersorak senang dalam hati, akhirnya panggilan telepon nya dijawab oleh Sera. Meskipun harus mengesampingkan rasa kasihannya terhadap wanita itu
"Luhan?" Sera mengernyit, mata yang tadinya hampir terpejam langsung membulat dan segera menyandarkan tubuhnya di Head bed "Ohh Dokter Xi, astaga maafkan aku. Aku hampir saja tertidur, ada apa?" tanya nya semangat, walau terkadang rasa kantuknya tidak bisa diajak bekerjasama
"Apa kau sedang tidur? Ohh maafkan aku. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa sebentar lagi Sehun akan dipulangkan dari Rumah Sakit, jadi—"
"Sehun-ku sudah sembuh?" sela nya cepat, terdengar bahwa Sera amat terkejut mendengarnya
"Ya. Tapi Sehun akan tinggal dimana setelah ini?" tanya Luhan "Apa aku perlu mencarikannya apartemen?" tawar Luhan dan secepatnya Sera menyahut
"Tidak perlu! Apartemen pemberian bos ku bisa Sehun gunakan untuk tinggal, selama di Seoul aku juga tinggal disitu namun apartemen itu sekarang kosong karena kutinggal ke Paris" jelasnya, ia menjeda lalu melanjutkan "Akan kuberikan alamat nya lewat email besok pagi"
"Baiklah, terimakasih sudah meluangkan waktumu" Luhan lalu tersenyum
"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu Dokter Xi, aku bahkan tidak tahu harus membalas jasamu dengan apa" Sera berseru namun terdengar nada kesedihan disana, Luhan cepat-cepat menolak dengan halus
"Aku tulus membantu kalian, sebaiknya sekarang ku tutup. Kau harus banyak istirahat Sera, jaga kesehatanmu dan pulang ke Korea dengan bahagia" Luhan berpesan lalu terdengar suara Sera yang tertawa
"Baiklah, selamat Uhm..pagi disana" ujar nya
"Kau juga, selamat malam. Tidurlah yang nyenyak"
...
Pagi ini Luhan sudah menerima email yang dikirimkan Sera, ia baru saja keluar dari kawasan apartemen dengan mengantongi sebuah kunci yang ia dapat dari petugas disana setelah mendapat ijin dari yang bersangkutan. Setelah ini Luhan berniat menyusul Sehun dan mengemasi beberapa barangnya, ia juga rela meminta ijin libur sehari hanya untuk menemani Sehun seharian ini.
Sesampainya Luhan di R.S.J tempat Sehun di rawat, ia langsung bergegas menuju kamar nya. Tanpa mengetuk, Luhan langsung masuk kesana yang membuat orang didalam nya terkejut
"Luhan?" ujar nya tidak percaya
Luhan mendekati Sehun lalu menduduki sebuah kursi didekat nya "Sehun, hari ini kau harus pulang" ujar nya "Ini mungkin terlalu mendadak, tapi kau sudah diperbolehkan pulang sekarang" Luhan menambahkan
Sehun terdiam. Ia lalu menatap Luhan dengan mimik wajah bingung "Noona sedang berada di Paris kan? Lalu aku akan pulang kemana?"
Sekarang giliran Luhan yang terdiam, jadi Sehun sudah mengetahui nya? Ia lalu menghela napas "Kau sudah tahu ya? Maafkan aku tidak memberitahumu" Luhan menunduk tidak berani menatap Sehun, Sehun tersenyum maklum dan mengusap punggung Luhan "Aku tidak apa-apa"
"Kau akan tinggal di apartemen Sera. Hari ini kita harus bergegas, aku akan menemanimu seharian ini" Luhan lalu bangkit, ia membuka sebuah lemari disana dan mengemasi barang-barang Sehun. Pergerakan tangan nya terhenti ketika Sehun menahan lengan nya "Biar aku yang mengemasinya"
"Tidak!" Luhan menyahut "Segera ganti bajumu dan kita pulang"
.
.
.
Sehun terlihat layak nya orang normal, ia telah berganti pakaian yang pertama kali ia kenakan ketika datang ke Rumah Sakit ini, yaitu sebuah kemeja yang dipadukan celana jeans biru dan alas kaki berupa sneackers. Luhan mengakui dalam hati bahwa Sehun terlihat tampan, ia merutuki kebodohan nya karena lupa membelikan Sehun satu setel baju namun laki-laki itu tidak mempermasalahkannya.
"Sehun, hari ini kita belanja kebutuhanmu dulu ya" Luhan berujar ketika mereka sedang menaiki taksi menuju pusat perbelanjaan. Sehun hanya menurut saja dan memilih mengikuti kemanapun Luhan pergi
Mereka turun disebuah toko baju, Luhan menarik lengan Sehun dan menggandeng nya. Hati Sehun jelas senang sekali namun Luhan tidak menyadari nya, ia lebih sibuk memilih-milih baju dan meminta Sehun mencoba nya.
Sehun beberapa kali keluar dari ruang ganti dengan mengenakan beberapa pakaian yang berbeda, Luhan sampai dibuat berdecak kagum ketika melihat penampilan nya, setelah mencoba semua baju yang disarankan, Luhan segera menggesek kartu kredit milik Sera dan membawa beberapa papper bag ditangannya
"Biar aku yang bawa" Sehun langsung mengambil alih barang bawaan di tangan Luhan
"Setelah ini kita akan ke supermarket" ujar Luhan
Mereka masuk ke dalam Supermarket setelah menitipkan barang bawaan mereka ditempat penitipan barang. Luhan meminta Sehun mendorong troli dan ia mulai memasukkan bahan-bahan makanan hingga camilan yang nantinya dapat Sehun makan ketika sedang lapar.
Troli tersebut terlihat penuh dan Luhan membayarnya di kasir. Ia lalu menggandeng Sehun untuk mampir ke stand kimbap disana, mereka berdua kelaparan setelah sibuk berbelanja. Luhan memesan 2 porsi kimbap beserta 2 gelas Ice lemon tea.
"Selamat makan!" ujar Luhan lalu ia menyumpit makanan nya
Luhan terlihat bersemangat ketika menyantap kimbap nya, ia sampai tidak menyadari ada bekas di sudut bibir nya. Sehun tersenyum lalu ia menahan pergerakan tangan Luhan "Ada apa?" tanya nya
Sehun memang diam namun tangannya tergerak untuk mengusap noda disudut bibir Luhan, Luhan yang mendapat perlakuan tersebut menjadi sweetdrop, tanpa sadar pipinya memerah "Terimakasih.." ia menunduk malu
...
Saat ini mereka sudah sampai di apartemen Sera, setelah memasukkan beberapa digit sandi pintu tersebut terbuka. Mereka berdua masuk dan melepas alas kaki lalu meletakkan barang belanjaan tersebut di sofa.
"Hari ini kita bagi tugas, aku mencuci semua pakaian kotor termasuk bed cover dan taplak meja, lalu kau mengepel lantai, tapi sebelumnya bersihkan debu dengan vacum cleaner dahulu" Luhan mulai membagi tugas
"Arraseo" jawab Sehun
"Biar aku yang menata barang belanjaan ini" Luhan membuka satu persatu kantung kresek dan mengeluarkan semua isinya diluar, ia lalu membuka lemari es yang nampak kosong dan mengisinya dengan bahan-bahan makanan yang ia beli tadi.
Beralih pada beberapa papper bag, Luhan membuang label nya dahulu dan memasukkan pakaian baru tersebut kedalam keranjang cuci. Luhan meyakini bahwa pakaian baru mengandung banyak kuman dan bakteri sehabis dipajang sepanjang hari di toko, ia juga menyertakan bed cover dan beberapa taplak meja lalu ia masukkan jadi satu kedalam mesin cuci.
Sehun juga tidak kalah giat nya membersihkan debu lantai menggunakan vacum cleaner, setelah semua ruangan bersih, ia lalu mengepel nya. Beberapa kali ia mengusap aliran keringat yang keluar dari sela-sela dahinya, namun Sehun tidak berhenti dan tetap melanjutkan kegiatannya.
"Hahh..."mereka berdua menghela napas serentak, Luhan dan Sehun duduk disatu sofa panjang yang sama dengan sekaleng minuman di meja "Hari ini sungguh melelahkan ya..." ujar Luhan, ia meraih sekaleng soda dan meneguknya
"Ya. Tapi aku senang melewati hari ini bersamamu" Sehun berujar lirih, kontan saja Luhan langsung menoleh kearahnya
"Kau merayuku?" Luhan mengerutkan alis lalu setelahnya ia tersenyum simpul "Aku juga senang bisa menghabiskan waktuku denganmu" kata itu meluncur saja dari bibir Luhan, ia memang berbohong hanya demi menjaga perasaan Sehun. Setidaknya selama itu pula ia harus berakting seolah-olah ia juga mencintai Sehun.
Sehun ikut tersenyum, ia lalu memeluk Luhan dan berbisik di telinga nya "Biarkan seperti ini sebentar saja.." Luhan dibuat mematung dengan perlakuan Sehun, ia hanya diam dan membiarkan laki-laki itu puas memeluknya. Sehun merasakan kedamaian hati luar biasa ketika Luhan berada di pelukannya, ia menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Luhan. Luhan sendiri mengutuk dirinya bisa-bisa nya ia juga menikmati pelukan ini, Luhan secara tegas menolak nya namun ia khawatir ketika ingin mengatakannya pada Sehun.
Sehun lalu melepaskan pelukan nya, ia menangkup wajah Luhan yang terlihat cantik dibawah temaram lampu apartemen "Jangan pernah tinggalkan aku" ujar nya, Luhan dibuat terdiam sekali lagi. Ia tak berani membalas perkataan Sehun barusan.
"Aku akan selalu berada disisimu" yakin nya, dan Luhan sendiri tak yakin akan dapat menepati ucapannya
.
.
.
Tinggal sendiri disebuah apartemen membuat Sehun bosan. Pagi-pagi sekali sebelum Luhan menuju stasiun kereta, laki-laki manis itu menyempatkan diri untuk membuatkan Sehun sup sosis dan jamur. Dia juga berpesan untuk menyetrika baju baru nya sehabis dijemur semalam, Sehun sudah melakukan apa yang Luhan perintahkan, ia duduk didepan tv dan menguap bosan. Ia butuh sebuah kegiatan yang membuatnya tidak mengantuk.
Sehun melangkah keluar dari apartemen nya. Ia berjalan-jalan sambil sesekali menghirup udara segar. Dilihatnya beberapa orang yang sibuk lalu lalang di jalan, ia tersenyum riang. Sudah lama rasanya ia tidak melakukan kegiatan semacam ini, Sehun kemudian menghentikan langkah nya ketika ia melihat iklan lowongan kerja terpajang di jendela kaca kedai bubur. Ia mengamati seorang wanita tua yang kepayahan mengurusi beberapa pelanggan nya, Sehun jadi tergerak untuk membantu wanita tersebut.
"Bibi, biar aku yang bawa ini" Sehun mengambil alih nampan berisi piring kotor yang dipegang bibi tua tersebut. Si bibi itu mengernyit heran kearahnya
"Kenapa kau membantuku anak muda?" tanya si bibi
Sehun lalu tersenyum, "Bukankah bibi sedang membutuhkan pegawai baru? Bolehkah aku menjadi pegawai bibi?"
Si bibi tersebut melongo kearah nya. Pemuda setampan Sehun mau menjadi pegawai nya? Beliau pikir ia lebih cocok menjadi member boyband ketimbang pegawai kedai bubur. Lantas, tanpa pikir panjang si bibi langsung menyetujui lamaran pekerjaan Sehun. Menguntungkan juga jika nanti pengunjung yang datang tertarik padanya lalu kembali lagi ke kedai nya karena memiliki pegawai setampan Sehun.
"Baiklah, kau boleh bekerja disini. Tapi sebelum itu namamu siapa?" tanya si bibi
"Sehun" jawabnya singkat
"Tugasmu hanya mengantar makanan dan mencuci piring kotor dibelakang sana, aku akan menjadi kasir sekaligus chef di sini" si bibi tersebut lantas tertawa diikuti Sehun
"Kupikir 1 pegawai sepertimu sudah cukup" si bibi itu melangkah menuju jendela dan menarik selembar kertas berisi lowongan pekerjaan
...
Sehun pulang ke apartemen ketika jam menunjukkan pukul 7 sore, ia dibuat terkejut ketika mendapati sepasang sepatu yang ia yakini itu milik Luhan, tidak lama kemudian laki-laki manis itu menghampirinya sambil berteriak "Astaga Sehun, kau darimana? Aku benar-benar khawatir saat kau tidak berada disini" Luhan menatap cemas kearahnya, Sehun lalu tersenyum menanggapi
"Aku hanya jalan-jalan" jawab nya
Luhan lalu menghela napas, ia bersyukur Sehun baik-baik saja "Apa kau lapar? Aku akan buatkan makanan untukmu"
"Tidak usah" Sehun menyahut, ia sudah makan di kedai bubur tadi
"Baiklah" Luhan mendengus, ia lalu menarik lengan Sehun "Ada yang ingin kutunjukkan padamu"
Luhan menyodorkan sebuah benda persegi panjang kearahnya. Sehun lalu mengernyit, untuk apa benda ini baginya?, "Sehun, ini ponsel mu. Aku baru saja membelinya tadi, kupikir karena uang Noona mu banyak jadi aku membeli yang keluaran terbaru. Disini sudah ada nomorku, aku bisa menghubungimu kapan saja, jadi tolong bawa benda ini kemanapun kau pergi" pesan nya
Sehun mengamati benda berlogo apel berlubang tersebut, untuk saat ini ia rasa benda ini tidak terlalu penting, berbeda ketika ia dahulu menjabat sebagai direktur yang mengharuskannya mengantongi benda ini setiap saat, namun Luhan sudah membelinya. Sehun tidak enak jika harus menolak
"Terimakasih Luhan"
.
.
.
Keesokan hari nya, Sehun bekerja seperti biasa di kedai bubur si Bibi. Ia dengan cekatan mencatat pesanan pelanggan lalu mengantar mangkuk-mangkuk berisi bubur tersebut di meja nya. Beberapa pengunjung terutama remaja wanita sempat dibuat terpana dengan ketampanan Sehun, mereka datang setiap hari hanya untuk memandangi si pegawai baru tersebut.
Jam menunjukkan pukul 5 sore, kedai bubur tersebut sepi karena sudah melewati jam makan siang, beberapa orang mungkin harus kembali ke kantor atau pelajar yang kembali ke kelasnya. Di jam sepi pengunjung inilah yang Sehun gunakan untuk mencuci piring-piring kotor dibelakang.
"Sehun, kau bekerja keras hari ini" puji si bibi, Sehun hanya tersenyum menanggapi
"Ahh..usiaku semakin bertambah, aku tidak secekatan dulu ketika bekerja. Anakku benar, dia menyarankanku untuk mencari pegawai baru. Dan aku beruntung mendapatkan pegawai setampan dirimu" si bibi itu menepuk pundak Sehun lalu tertawa
"Bibi bisa saja" Sehun menarik sudut bibirnya, ia jadi ingin bertanya lebih pada si bibi "Apa anak bibi masih sekolah?" tanya nya
"Dia sudah bekerja" jawab si bibi sambil mengeringkan beberapa piring kotor dengan serbet
"Lalu suami bibi? Aku tidak pernah melihatnya kemari?" Sehun bertanya lebih jauh
"Suamiku sudah meninggal 3 tahun yang lalu" tiba-tiba tangan si bibi berhenti, pandangannya kosong
Sehun yang menyadari raut perubahan wajah si bibi, cepat-cepat meminta maaf "Bibi aku hanya bertanya, aku tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa" sahut si bibi
Tiba-tiba terdengar suara pintu kedai terbuka, langkah orang itu terdengar semakin mendekat kearah mereka disusul dengan teriakan lantang.
"Eomma, dimana?"
"Eomma, disini" sahut si bibi, orang itu lalu berbelok dan masuk ke ruang belakang dan terkejut mendapati Sehun disana.
"Luhan?!"
"Sehun?!"
Mereka berdua menyahut serempak, si bibi sampai dibuat bingung karenanya. "Kalian saling mengenal?"
Luhan gelagapan, tidak mungkin juga ia mengatakan Sehun adalah mantan pasien nya. Akhirnya ia beralasan "Kita satu SMA dulu, jelas aku mengenal nya"
"Benarkah Sehun, astaga! Jadi kalian saling mengenal ya?" si bibi itu mangut-mangut
"Eomma, buatkan aku semangkuk bubur. Aku lapar..."
...
"Lu, ini buburnya. Selamat makan" ucap Sehun ketika ia selesai meletakkan mangkuk berisi bubur panas tersebut
"Sehun, duduklah. Aku ingin bicara denganmu"
Sehun yang hendak membantu bibi terpaksa duduk didepan Luhan karena permintaan si anak majikannya. "Ada apa?" tanya nya
Setelah Luhan menelan sesendok bubur tersebut, ia lalu berujar "Jadi kau bekerja ya? Pantas saja sibuk hingga pesanku kau abaikan. Kau membawa ponsel mu tidak?" Luhan cemberut, bibir nya mengerucut lucu dan hal itu membuat Sehun gemas
"Maafkan aku" Sehun mengusap noda bubur di sudut bibir Luhan "Kenapa kau selalu meninggalkan bekas di sudut bibirmu sih?" runtuk Sehun, tiba-tiba pipi Luhan memerah
"Aku kan tidak memintamu membersihkannya" bela nya "Tapi, jangan sampai Eomma tahu hubungan kita yang sebenarnya" Luhan berujar lirih, lebih tepatnya seperti membisik
"Kenapa? Apa kau takut aku akan berakhir seperti Chanyeol?" tanya nya, hal itu sukses membuat Luhan membeku sekaligus geram
"Kau mengetahui hubunganku dengan Chanyeol? Maksudku—"
"Ya. Aku sudah tahu" sahut nya, Luhan benar-benar dibuat terdiam "Jangan pernah ungkit namanya lagi"
Mereka hening beberapa saat, Sehun memilih diam. Melihat reaksi Luhan, ia jadi tidak ingin bertanya lebih jauh. Suara seperti sebuah lonceng kecil membuat mereka berdua mengernyitkan dahi hingga Sehun menyadari di kaki nya seperti menyentuh bulu-bulu halus
"Kucing siapa ini? Kenapa bisa masuk?" Sehun lalu menggendong seekor kucing ras persia berbulu putih tersebut dan hendak mengeluarkannya dari kedai
"Ahjussi, itu kucingku!" suara lantang seorang anak kecil membuat Sehun mengurungkan niat nya untuk membawa kucing tersebut keluar
"Maafkan aku, kucingku ini memang suka berlari" jelas si anak kecil tersebut. Sehun tersenyum maklum lalu memberikan kucing tersebut pada si anak kecil
"Jaemi, astaga! Kau membuatku hoshh..." seorang wanita masuk setelahnya dengan napas terengah
"Eomma!" pekik si anak bernama Jaemi tersebut
"Hani?!"
Sehun tidak pernah lupa bahkan masih mengingat jelas wanita yang membuat hidup nya berantakan seperti ini, wanita itu lalu mendongak dan membeku mendapati mantan suami nya berada disini.
"Sehun, benarkah itu kau?" ujarnya tidak percaya, langkah kaki nya mendekat kearah pemuda jangkung tersebut
"Sehun, dia siapa? Hani mantan istrimu?" Luhan menyela cepat, ia langsung menghadang Hani yang berniat mendekati Sehun. Suasana memanas seketika
"Sehun, benarkah saat itu kau dirawat di R.S.J?" Hani mencoba bertanya, Luhan maupun Sehun sama-sama memberikan tatapan intimidasi padanya. Hani mengerti akan hal itu, namun ia mencoba untuk mengklarifikasi kebenaran berita yang menyebar 3 tahun yang lalu.
"Nyonya, sebaiknya anda pergi jika tidak memiliki kepentingan disini" usir Luhan secara halus, Hani tidak mengindahkan ucapannya
"Sehun jawab aku, benarkah itu?" setetes air mata jatuh dari sudut matanya, kedua tangan Sehun mengepal erat, ia hanya menunduk sama sekali tidak berminat melihat wajah perempuan iblis didepannya
Sehun menggeram, ia sudah tidak tahan berdiri di posisi nya. Ia lalu keluar dari kedai tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
.
.
.
"Sehun, tunggu aku! Hey.."
Luhan mengejar langkah cepat Sehun. Ia mengerti bahwa pemuda jangkung itu sedang marah, kejadian tadi benar-benar tidak terduga, jika saja ia dapat mencegah Hani bertemu dengan Sehun mungkin akhirnya tidak akan seperti ini. Luhan benar-benar takut jika Sehun melakukan hal yang nekat atau tidak diingankan nanti, setidaknya ia harus mengawasi nya.
Sehun mendorong pintu apartemen nya kencang hingga menimbulkan debuman keras, disusul Luhan yang juga membuka pintu tersebut dan segera menghampiri Sehun yang tengah terduduk di sofa. Sehun memegangi kepala nya dengan kedua tangan, ia menunduk dengan bahu bergetar, isakan lirih terdengar setelahnya. Luhan memandangi Sehun yang menangis dari samping, tangan kanan nya terangkat untuk mengusap punggung laki-laki didekatnya, ia mendengar dengan jelas bahwa Sehun tengah menangis kencang, ia lalu membawa tubuh laki-laki dalam dekapannya, berulangkali ia membisikkan 'Sehun tenanglah, ada aku disini' ditelinga nya namun laki-laki itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan berusaha keras menghentikan sesenggukannya.
Luhan mengerti bahwa Sehun menyimpan trauma yang mendalam terhadap wanita itu, sulit baginya untuk sekedar melupakan atau bahkan memaafkan kesalahan Hani terhadap nya. Bukan hanya Sehun, Sera juga mengungkapkan kebencian teramat sangat pada sosok Hani. Meskipun Luhan tidak pernah berurusan dengannya tapi ia juga tidak bisa ikut-ikutan membenci wanita maksud membela, namun dari pandangan Luhan, Hani merasa bersalah. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang menampakkan kekhawatiran berlebih terhadap Sehun, bahkan tetesan air mata yang dikeluarkan wanita itu bisa membuktikkan bahwa ia menyesal telah mengkhianati mantan suaminya dulu.
"Sehun uljimma, kau lapar kan? Akan aku masakan sesuatu" Luhan beberapa kali mengusap punggung Sehun lalu melepaskannya, sesaat ia merasa bahwa disebelah bahu kirinya terasa basah. Luhan tersenyum maklum kemudian ia beranjak ke dapur untuk memasak sesuatu.
Sehun terus memperhatikan Luhan dari belakang, laki-laki mungil itu sibuk memilah bahan makanan di kulkas. Memandangi Luhan rasanya menjadi kesenangan tersendiri baginya, sejenak ia melupakan ketegangan nya terhadap Hani tadi.
...
Sekian lama tidak bertemu dengan Sehun membuat Hani sedikit merasa canggung sekaligus malu, ia tidak menyangka bahwa hari ini ia ditakdirkan bertemu kembali dengannya, mengingat Sehun membuat nafsu makan Hani tiba-tiba hilang. Ia merasa khawatir terhadap laki-laki itu, walaupun ia dan Sehun telah resmi bercerai namun sikap perhatian Sehun dulu membuat Hani merasa berdosa telah bergabung dalam rencana licik Junmyeon.
Hani menyesal sekarang, dulu ia memang mencintai Junmyeon bahkan sebelum bertemu dengan Sehun. Awalnya Junmyeon marah ketika dia tahu bahwa ia menjalin hubungan dengan Sehun, namun tiba-tiba Junmyeon menyunggingkan senyum misteriusnya, Hani bahkan dipaksa menikah dengan Sehun dengan iming-iming mendapat sebagian harta nya. Saat itu ia hanya model biasa, tidak terlalu terkenal seperti saat ini membuatnya begitu tergiur dengan tawaran Junmyeon. Tapi sekarang, ia baru sadar bahwa harta yang dimaksud Junmyeon adalah hasil rampasan milik Sehun dan Sera, mereka diusir dengan cara yang tidak hormat, dan dengan gampang nya ia menceraikan Sehun lalu menikahi Junmyeon dan menjadi Nyonya besar di mansion Oh, Hani tidak memikirkan nasib kedua kakak-beradik yatim piatu tersebut, ia bahkan baru tahu bahwa Sehun sempat dirawat di R.S.J dan itu menjadi pukulan terberat baginya.
"Hani-sshi, pemotretan nya sebentar lagi" suara seorang penata rias membuyarkan lamunan nya, Hani terkesiap lalu mengangguk
"Baiklah"
Hani bangkit dari posisi duduk nya, ia merasakan perutnya bergejolak seperti ingin mual, tadinya ia meninggalkan jam makan siang karena nafsu makannya yang hilang setelah bertemu Sehun, akhir-akhir ini ia juga merasakan demam namun Hani mengabaikannya. Suara sang fotografer memanggilnya, Hani segera menuju lokasi pemotretan tapi sebelum itu—
Brakk..
"Hani-sshi, astaga!" beberapa orang yang berada di lokasi pemotretan langsung mengurubungi Hani yang jatuh pingsan disana, beberapa lelaki menggotong tubuh perempuan tersebut dan membawanya ke rumah sakit
.
.
.
Junmyeon terduduk lesu di meja bar, berulangkali ia mengembuskan napas kasarnya. Junmyeon tidak tahu mengapa dirinya bisa sekacau ini, masalah Perusahaan yang membuatnya serasa dicekik selalu menghantuinya di tengah malam dan membuatnya tidak bisa tidur. Ia sedang stres memikirkan kerugian perusahaan yang baru saja dialaminya, ia memperkirakan bahwa proyek yang ia gagas akan laku dan sukses besar di pasaran, namun semua itu hanya angan-angan saat para investor tidak ada sedikitpun yang melirik padanya, semenjak berita tentang Direktur Oh yang katanya masuk Rumah Sakit Jiwa membuat sebagian orang merasa berempati pada pemuda tersebut, kebanyakan mereka selaku investor merasa enggan untuk bekerjasama dengan Junmyeon karena nama nya juga disebut-sebut ikut andil dalam rumor tak jelas itu.
Dengan segala cara, Junmyeon memutar otak nya untuk memberikan penawaran yang terbaik. Namun sampai saat ini upaya yang dilakukannya hanya dianggap angin lalu saja, tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk promosi bahkan hingga ia memperkirakan bahwa perusahaannya tidak mendapat keuntungan sepeser pun, tetap saja mereka mengacuhkannya meskipun ditawari keuntungan yang besar. Dalam hitungan bulan, sedikit demi sedikit pamor perusahaan nya menurun. JM corp bukan lagi perusahaan yang menempati peringkat atas jajaran perusahaan ternama. Ia mengalami kerugian besar untuk pertama kali, hutang-hutang perusahaan nya menumpuk, beberapa karyawan nya harus ia kurangi mengingat modal perusahaan semakin menipis.
Junmyeon menghela napas, ia menungakan satu gelas bir lagi dan meneguknya sarkas. Kepala nya semakin terasa berat dari tadi, pandangan nya mengabur, ia berjalan dengan keseimbangan yang semakin menipis, beberapa orang ia tabrak dan sebagian dari mereka mengumpat kasar padanya. Junmyeon tak mengindahkan umpatan kasar yang ditujukan padanya, ia memasuki mobilnya untuk segera pulang menuju apartemen pribadi nya, akhir-akhir ini ia lelah berurusan dengan Hani maupun Jaemi yang semakin merepotkan hidup nya, masa bodoh jika ponsel nya terus menggumamkan nama Hani tanpa berniat menjawabnya.
Junmyeon melajukan mobil nya dalam kecepatan tinggi, ia sendiri tak sadar menginjak pedal gas dengan kekuatan penuh, matanya tidak fokus menatap jalanan, suara klakson dari pengguna jalan yang lain memekikkan telinganya. Junmyeon mengumpat, ia ingin segera pulang dan tidur dengan tenang, mata nya melebar ketika ia menatap sebuah pembatas jalan dan mobil yang ia tumpangi mengarah kesana, cepat-cepat ia mengerem namun kesalahan fatal terjadi ketika ia malah menginjak pedal gas. Tubuh Junmyeon terhentak kuat ke depan, darahnya mengalir deras dari ujung dahi nya akibat terbentur keras, sejenak ia tidak sadarkan diri dalam sisa kesadaran yang semakin menipis.
...
Luhan mengerjabkan mata nya, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Ia melirik kesamping dan menemukan Sehun masih terbang dialam mimpi nya, semalam Luhan menemani Sehun tidur di apartemen, laki-laki manis itu terus mendekap Sehun agar dia tidak mengalami mimpi buruk. Luhan lalu tersenyum mengingatnya, ia menyibakkan selimut dan beranjak turun menuju kamar mandi.
"Lu.." suara serak Sehun menghentika langkah nya, Luhan berbalik lalu mengampiri pemuda tersebut.
"Apa aku membangunkanmu tadi? Maafkan aku.." Luhan berujar yang cepat-cepat dibalas gelengan oleh Sehun
"Tidak, kau tidak membangunkanku" sahut nya, Luhan menampilkan senyum termanis nya kearah Sehun lalu duduk disamping nya "Apa hari ini kau merasa baikan?"
"Kurasa begitu..." lirih nya, Sehun sendiri tidak dapat memperkirakan berapa persen mood nya saat ini
"Hari ini tanggal merah, ayo kita keluar kencan!" seru Luhan bersemangat
Sehun dibuat tersedak air liurnya sendiri, barusan Luhan bilang apa tadi, kencan? Jelas Sehun tidak akan menolaknya.
...
Semalam Hani baru saja siuman, namun hal itu tak berlangsung lama ketika sekertaris Junmyeon bersama seorang lelaki paruh baya yang ia sendiri tak mengenalnya -kecuali Junmyeon mungkin, datang dengan membawa berita yang cukup mengejutkan.
"Nyonya Kim, Tuan Kim Junmyeon baru saja mengalami kecelakaan" seru sekertaris Ahn
"Bagaimana keadaannya?" Hani tiba-tiba shock saat dirinya baru saja siuman
"Tuan Kim mengalami pendarahan hebat, dan tepat pukul 1 dini hari tadi, Tuan Kim meninggal" jelas sekertaris Ahn, rahang Hani langsung jatuh, ia tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya. Marah, kecewa, sedih, semuanya bercampur menjadi satu dalam benak nya ketika mengingat Junmyeon
"Segera urusi proses kremasi nya" ujar Hani
.
.
.
"Sehun, apa kau pernah bermain Ice skating sebelumnya?"
Pertanyaan itu terlontar ketika mereka sedang berjalan beriringan melewati alun-alun kota, Luhan teringat jika saat ini masih diakhir Desember dan esok lusa nya tahun baru, karena inilah ia mendapat libur khusus dan ingin menghabiskan nya bersama Sehun.
"Pernah, tapi hanya sekali-dua kali dulu bersama teman-temanku ketika SMA" Sehun jadi teringat masa-masa SMA nya, ia tersenyum lalu menatap Luhan "Kau sendiri?"
"Dulu Ayah pernah mengajakku, tapi aku tidak pernah bisa. Maukah kau mengajariku?" Luhan memberikan tatapan sarat permohonan, namun apapun yang ia minta akan dituruti oleh Sehun. Luhan begitu mempesona dan Sehun tidak dapat menolak nya.
"Tentu saja, sayang"
Luhan dibuat terdiam setelahnya, barusan dia memanggilnya apa tadi, sayang? Astaga! Luhan bahkan lupa jika ia menyetujui pernyataan cinta Sehun waktu itu. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan ia akan membohongi perasaannya sendiri terhadap pemuda jangkung disamping nya, Luhan seakan menutup mata, ia tidak pernah menengok ketulusan Sehun selama ini, yang ia lakukan hanya lah kepura-puraan semata, ia yakin jika Sehun mengetahui yang sebenarnya pasti akan marah.
"Kenapa diam?" pertanyaan Sehun barusan sukses membuatnya terkesiap, Luhan segera menepis pemikirannya tersebut dan tersenyum lebar kearah nya
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit—"
"Kau kedinginan?" Sehun bertanya, ia menyentuh telapak tangan Luhan dan merasakan suhu dingin berlebih di kulit putih tersebut. Sebenarnya bukan karena kedinginan, melainkan Luhan terlalu cemas dengan perasaannya sendiri hingga menimbulkan keringat basah yang terasa dingin karena suhu diluar.
Sehun melepaskan syal merah pemberian Sera, ia melilitkan kain panjang tersebut di leher Luhan. Sekali lagi Luhan benar-benar dibuat mematung atas sikap Sehun, terbesit rasa bersalah di benak nya juga gelanyar aneh yang menimbulkan kesan tersendiri disetiap ujung tubuh nya, apa mungkin ia sendiri juga menyukai Sehun?
...
"Sehun, pelan-pelan. Astaga! Aku takut" Luhan terus menunduk menatap cemas sepatu skat nya, tangan nya tidak pernah lepas dari genggaman Sehun, ia khawatir akan jatuh terpeleset karena tidak dapat menjaga keseimbangan. Ekspresi cemas Luhan membuat Sehun terkekeh, pemuda manis ini benar-benar lucu hingga membuatnya gemas.
"Kalau kau seperti ini terus kapan bisa nya?" Sehun lalu mendengus, perlahan ia merenggangkan genggaman tangan nya "Gerakkan kedua kaki mu, Lu. Jangan takut jatuh, kau pasti bisa"
Luhan mencoba berjalan diatas permukaan es tersebut, tangan nya sesekali menyentuh lengan Sehun ketika ia hendak terjatuh, Sehun terus mengawasi nya, pandangan nya sedikitpun tidak pernah lepas dari pemuda manis itu. Perlahan Luhan dapat menjaga keseimbangan tubuh nya, ia meniru orang-orang yang bermain ice skating tersebut dengan mudah. Luhan tertawa senang setelahnya, akhirnya ia bisa. Mereka lalu berputar mengelilingi permukaan es tersebut sampai puas.
...
"Yang tadi itu benar-benar mengesankan" ungkap Luhan ketika mereka berdiri didepan stand jajanan kentang spiral, Luhan tiba-tiba ingin memakannya mengingat udara diluar cukup dingin dan kentang spiral yang hangat mampu memanjakan lidah nya dengan tambahan bumbu barbeque.
"Tidak kusangka kau belajar cepat" Sehun lalu mengusak rambut Luhan. Ketika giliran antrian mereka, Luhan langsung memesan 3 tusuk kentang dan membayar nya
"Terimakasih sudah mengajariku, hari ini aku yang mentraktirmu" Luhan menyodorkan setusuk kentang spiral kearahnya dan diterima dengan senang hati oleh Sehun
"Yang 2 itu untukmu sendiri?" Sehun memicingkan mata nya
"Tentu saja!" Luhan menyahut tegas
"Awas jika nanti kau gemuk" Sehun mengingatkan dan tatapan horor Luhan ia dapatkan setelahnya
"Apa katamu huh?!"
Sehun tertawa kencang, seluruh beban nya serasa terangkat ketika berhasil menggoda Luhan. Melihat Sehun yang tertawa lepas membuat Luhan merasa senang, ia berhasil membuat Sehun lupa akan masalahnya terhadap Hani, tanpa sadar ia juga ikut tertawa "Kalau aku gemuk, Sehunnie harus menggendongku nanti"
Mereka terdiam setelahnya, Luhan sibuk menyantap kentang spiral nya begitu juga dengan Sehun sampai suara dering ponsel milik Luhan mengganggu acara keheningan mereka. Luhan mengeluarkan benda persegi panjang itu dari saku nya dan membelalak ketika nama Sera terpampang jelas di layar nya.
"Sera? Ada apa menelpon?" Seru Luhan panik dan langsung mendapat tatapan penuh dari Sehun ketika nama Noona nya disebut
"Apa! Kau sudah berada di Bandara?"
.
.
.
"Sehunna!"
"Noona!"
Sahutan kedua kakak beradik itu menggema setelah beberapa tahun terpisah. Baik Sehun maupun Sera keduanya saling memeluk erat untuk melepaskan kerinduan mereka, Sera yang sengaja merahasiakan kepulangan nya ke Korea berinisiatif untuk membuat kejutan untuk Sehun, ia tidak ingin membuat adik nya khawatir saat mengetahui dirinya akan pulang. Setelah melepaskan pelukan tersebut, Sera lalu menangis. Ia terlalu bahagia mendapati Sehun sudah selayaknya orang normal sekarang, bagi nya ini adalah sebuah mukjizat, ia selalu berdo'a semoga Sehun segera sembuh, dan do'a nya dijawab sudah ketika ia berdiri disini.
"Kenapa Noona menangis?" tanya Sehun, meskipun ia sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa haru nya
"Aku terlalu bahagia. Bagaimana kabarmu, Sehun?" Sera mengamati wajah sang adik dari dekat, Sehun terlihat lebih tampan dan gagah sekarang
"Karena Luhan, aku baik-baik saja" jelas nya, Sera lalu menoleh kesamping dan mendapati Luhan tengah tersenyum kearahnya
"Dokter Xi, terimakasih banyak" ujar Sera
"Yeah, nikmati waktu kalian berdua" pesan Luhan
...
Proses kremasi Junmyeon sudah dilaksanakan kemarin, hanya Hani dan Jaemi saja yang ikut andil dalam prosesi tersebut, tidak ada kerabat yang datang dikarenakan Junmyeon sejati nya adalah anak yang tidak diinginkan, Ayah nya yang dulu juga menjabat Presdir di perusahaan besar berselingkuh dengan ibu nya yang saat itu hanya menjadi seorang pelayan cafe. Ketika besar, Junmyeon hanya diberikan setengah cabang milik perusahaan Ayah nya, beliau meminta Junmyeon untuk mengembangkan dan mengurus nya sendiri, tapi dengan satu syarat bahwa ia harus tinggal terpisah di apartemen bersama ibu nya yang terus bermusuhan dengan Nyonya besar, namun belum sempat mereka tinggal bersama, Ibu Junmyeon memilih mengakhiri hidup nya dan menjadikan Junmyeon seorang diri tanpa siapapun.
Karena iri dengan kakak tiri nya yang lebih sukses, menjadikan Junmyeon begitu berambisi untuk menyainginya. Ia melakukan segala cara agar perusahaan nya bisa menggaet perusahaan lain untuk diajak bekerja sama dan mengakibatkan pamor perusahaannya semakin meningkat. Sejak saat itu Junmyeon menjadi egois dan serakah, karena sifatnya inilah ketika perusahaan nya sedang terancam ia stres lalu berakhir dengan mabuk berat.
Hani menghela napas nya ketika mendengar cerita riwayat hidup Junmyeon dari sekertaris Ahn, lelaki paruh baya itu dulunya teman Junmyeon semasa SD hingga kuliah, tidak diragukan jika pria itu mengenal Junmyeon sangat dekat, bahkan melebihi Hani yang berstatus sebagai istri nya.
"Nyonya Kim, ini masalah besar. Perusahaan saat ini lambat laun menuju kemunduran dengan hutang-hutang yang belum lunas, sedangkan Tuan Kim sudah meninggal. Tidak ada pengganti yang dapat memimpin perusahaan, sedangkan penerus anda adalah seorang perempuan yang bahkan masih berusia 4 tahun" jelas Sekertaris Ahn, Hani benar-benar dibuat pusing. Ia lalu memijit pelipis nya
"Mana mungkin aku bisa menggantikan posisi Junmyen" desah nya
"Saat ini seluruh aset yang dimiliki Tuan Kim jatuh ke tangan anda dan juga Jaemi, tapi karena hutang perusahaan yang begitu besar akan berakibat fatal jika tidak segera dilunasi, seluruh harta anda akan disita sebagai gantinya"
Hani meneguk ludahnya kasar, seluruh tubuh nya menegang. Teringat akan masa lalu ketika dirinya tertawa bahagia menikmati hasil harta sitaan dari tangan Sehun. Kini Tuhan membalikkan keadaan, Hani harus merasakan kepahitan ini sebentar lagi, tidak! Dia tidak ingin hal itu terjadi. Bayangkan! Jaemi masih kecil, haruskah ia hidup sendiri dengan mengandalkan gajinya sebagai model? Ini mimpi buruk! Dia harus mengambil sebuah tindakan besar saat ini. Terlintas di otak nya bahwa Sehun dapat mengembalikan semuanya, ia mungkin malu akan meminta bantuan padanya, tapi ini mendesak. Lagipula mansion Oh dulunya adalah tempat tinggal Sehun kan? Hani ingin mengembalikan Mansion ini pada pemilik asalnya.
"Sekertaris Ahn, tolong buat surat pernyataan bahwa aku memberikan Mansion ini beserta isinya kepada Oh Sehun. Mantan direktur perusahaan Oh Corp "
"Apa?! Anda bercanda Nyonya Kim?" ujar Sekertaris Ahn tidak percaya
"Sebagian aset Junmyeon, termasuk mansion ini dulunya adalah milik Sehun. Sudah seharusnya aku mengembalikan yang bukan milikku" Hani menjelaskan "Aku hanya menerima aset yang resmi milik Junmyeon, walaupun tidak seberapa banyak" Hani menjeda sejenak "Aku yakin Sehun dapat menggantikan posisi Junmyeon saat ini, segera buat surat pernyataan itu dan selesaikan urusan perusahaan kalian!" Hani berteriak kesal pada Sekertaris Ahn yang tidak kunjung menuruti perintahnya
"Akan segera saya laksanakan"
...
"Apa Noona hidup bahagia disana?"
Sehun memandangi wajah kakak nya, ia begitu merindukan sosok perempuan itu. Yang ditatap itu memberikan senyum pahit, wanita itu menunduk lalu menatap Sehun
"Semuanya terasa hambar tanpa dirimu" pandangan Sera kosong, ia mengingat kembali masa-masa hidupnya di Paris. Meninggalkan adiknya seorang diri di Korea sedangkan ia dengan egois lebih mementingkan kuliah nya, membuat setiap kali Sera mengingatnya, ia merasa bersalah.
"Maafkan aku" kalimat itu meluncur dari bibir Sera, sedetik kemudian wanita itu menangis dan memeluk Sehun kembali "Noona terlalu egois, maafkan aku Sehun. Aku bukan kakak yang baik" rancau nya dipelukan sang adik
Sehun mengusap punggung sang kakak "Tidak apa-apa, aku tahu kenapa Noona melakukan hal itu" Sehun menjeda, ia mengetahui semuanya dari Kyungsoo saat itu "Noona ingin menghindari gosip tentangku kan? Noona pasti malu memiliki adik yang pernah dirawat di R.S.J" suaranya terdengar lirih dan putus asa, dengan cepat Sera menyangkal pendapatnya
"Tidak! Kau adikku. Aku tidak pernah berpikir seperti itu tentang mu" sangkal nya "Jangan berpikir bahwa aku malu memiliki adik sepertimu. Aku bangga memiliki adik yang kuat sepertimu, kau bahkan bisa sembuh dari depresimu selama bertahun-tahun"
Sehun membisu. Ia terharu mendengar pernyataan Sera tentangnya, sang Kakak sangat menyayangi nya dan tetap menganggap Sehun sebagai adik, walaupun pernah dirawat di R.S.J yang merupakan aib besar jika semua orang tahu keadaan mereka sebenarnya.
"Terimakasih Noona, aku menyayangimu" ujar Sehun
"Aku Juga" sahut Sera
...
Suara wajan penggorengan, gesekan antara pisau dan telenan, serta bau sedap yang menguar kemana-mana beradu menjadi satu di pagi hari. Untuk pertama kalinya, Sera memasakkan sesuatu untuk Sehun setelah lama berpisah, ia sudah terbiasa memasak makanan sendiri di Paris dan menjadikan nya lebih mandiri. Ketika ia sedang sibuk berkutat di dapur, Sera meruntuk kesal pada seseorang yang berulangkali menekan bel apartemen nya. Sehun masih belum bangun, dan mengharuskan nya meninggalkan kegiatan itu sejenak untuk membukakan pintu.
"Siapa?" teriak nya dari dalam, tanpa melihat dulu siapa diluar dari layar monitor. Sera langsung membukakan pintu
"Sera?!" orang itu memekik, sedetik kemudian ia tersenyum lalu menyapa nya "Ohh..Halo, lama tidak bertemu"
"Darimana kau tahu tempat tinggalku?" Sera menggeram "Pergilah sialan! Melihatmu membuatku muak" usir nya, ia hendak menutup pintu apartemen lagi sebelum seorang lelaki menahan tangan nya
"Ada yang ingin kami sampaikan. Ini penting, mohon kerjasama nya" si laki-laki itu, atau Sekertaris Ahn menjelaskan secara baik-baik
"Setelah merampas seluruh harta adikku kau masih berani datang kemari?" bentak nya sarkas "Apalagi yang kau harapkan dari kami huhh..?!" pandangan Sera sayu, ia terlalu muak mengingat perlakuan wanita iblis didepan nya.
"Dengarkan aku, Junmyeon suamiku barusan meninggal!" nada bicara Hani berubah tinggi "Saat ini perusahaan sedang krisis dan tidak ada yang bisa menggantikan, aku berniat mengembalikan Mansion serta aset kalian dulu yang kami rampas. Dengan syarat Sehun kembali memimpin di perusahaan tersebut"
Sera dibuat terdiam, lalu Hani melanjutkan "Junmyeon tidak memiliki siapapun sebagai penerus, aku dan Jaemi perempuan, tidak mungkin bisa memimpin perusahaan apalagi dalam kondisi mengenaskan. Tolong pikirkan ini baik-baik Sera, aku benar-benar membutuhkan bantuan Sehun" pinta nya memelas, "Izinkan aku bertemu dengan nya" Hani memohon dihadapan Sera
"Ada apa?" suara berat seorang lelaki mengintrupsi perdebatan panas mereka, Sera maupun Hani menoleh dan dibuat terkejut ketika Sehun sudah berdiri disana dengan rambut yang masih basah sehabis mandi
"Sehun!" Hani langsung berlutut dihadapan Sehun, ia mengabaikan Sera yang melotot horor padanya. Sehun dibuat bingung, apa yang dilakukan wanita ini?
"Sehun kumohon, jadilah Direktur kembali di perusahaan JM corp atau sekarang kau dapat menggantinya dengan nama Oh Corp" pinta nya memohon, Sehun dibuat heran sekali lagi
"Apa maksudmu?" Sehun memperjelas
"Sebaiknya kau jelaskan semua di ruang tamu" Sera mengintrupsi, dan keempat orang yang berada disana beralih menuju ruang tamu
.
.
.
Luhan keluar dari kereta bawah tanah, ia sudah sampai di Seoul sekarang. Ketika akan keluar dari stasiun, seseorang meneriakkan nama nya lalu mengejar ke tempat ia berdiri.
"Sehun, kau menjemputku?" tanya Luhan yang tersenyum
"Ya, tidak baik membiarkan kekasihku pulang sendirian dari stasiun" jawab Sehun sambil memperhatikan Luhan yang semakin cantik, bahkan saat wajah nya lelah sekalipun.
Luhan dibuat tersipu dengan perkataan Sehun, sudah lama ia menyukai pria ini. Dan baru sekarang ia bisa menerima keberadaan Sehun disamping nya, "Terimakasih, aku mencintaimu Sehun" ungkap nya untuk pertama kali
"Aku lebih mencintaimu" sahut nya tegas lalu mereka berdua bergandengan tangan, dan berjalan keluar dari stasiun.
...
"Lu, ada yang ingin aku kukatakan padamu" Sehun membuka percakapan ketika mereka singgah duduk disebuah kursi taman
"Apa" Luhan menyahut penasaran
"Hani datang ke apartemen tadi pagi" ia mulai bercerita, Luhan yang mendengar itu tertarik dan meminta Sehun meneruskan ceritanya "Ia memintaku kembali menjadi Direktur di perusahaanku yang dulu"
"Bagaimana bisa?" sahut Luhan tidak percaya
"Suaminya meninggal lusa kemarin. Perusahaan itu sedang bermasalah dan tidak memiliki pengganti setelah kematian Junmyeon" Sehun menjelaskan, Luhan menghela napas lalu menatap nya sendu
"Aku turut berbela sungkawa" ujarnya "Tapi, apa kau menyetujui permintaan Hani?" Luhan bertanya
"Itulah yang aku pikirkan, menurutmu aku harus bagaimana? Dia bersedia mengembalikan seluruh asetku dulu asalkan aku menjadi Direktur disana" Sehun meminta penjelasan Luhan
"Terima saja, wanita itu membutuhkan bantuanmu." Luhan menjeda "Saat aku melihatnya, ia seperti memiliki empati khusus padamu. Seharusnya aku membenci Hani mengingat perlakuannya padamu tapi entah mengapa melihat wajahnya yang muram itu membuatku kasihan padanya, tidakkan kau menyadari hal itu Sehun?" Luhan bertanya, ia adalah seorang dokter kejiwaan. Hal yang lumrah baginya membaca suasana hati orang lain, dan Luhan peka terhadap hal itu.
...
Atas pertimbangan Luhan, dan juga Sera. Akhirnya Sehun menyetujui permintaan Hani tersebut. Ia menandatangani surat perjanjian beserta penyerahan aset miliknya yang telah ditempeli materai dan resmi secara hukum. Hani berulangkali mengucapkan beribu terimakasih padanya, ia begitu senang Sehun menyetujui hal ini, dengan begitu masalah perusahaan tidak membebani pikirannya lagi.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sehun memakai jas resminya kembali serta dasi yang menggantung formal di kerahnya. Ia dapat merasakan empuk nya kursi jabatan paling tertinggi di perusahaan yang kini berada di genggaman nya, Sehun menghela napas begitu mengetahui kekacuan yang dibuat Junmyeon dimasa lampau yang kini menyebabkan perusahaannya diambang kehancuran. Ia harus memulai dari awal lagi dan membangun semuanya dari nol.
Sehun mengambil langkah awal dengan mengurangi karyawan besar-besaran, ia berjanji akan merekrut mereka kembali saat kondisi perusahaan sudah stabil. Ia juga mulai menggaet beberapa investor untuk diajak bekerja sama, mengetahui Direktur Oh sudah kembali membuat mereka satu-persatu menyetujui kerja sama tersebut. Sehun dikenal karena kebijaksanaannya sebagai pemimpin, karena itulah banyak orang yang segan padanya. Sehun juga rela bekerja hingga lebur dengan dibantu beberapa orang kepercayaan nya dahulu yang pernah mengabdi padanya.
Luhan mendengus ketika intensitas pertemuannya dengan Sehun semakin menipis. Ia menyadari hal itu karena kini Sehun yang dulu telah kembali. Luhan sebenarnya bangga akan hal itu, namun ia harus rela jarang bertemu dengan kekasih nya. Dalam sebulan, Sehun hanya akan mengajaknya makan malam sekali atau dua kali, Luhan menyemangati dirinya sendiri dan terus bersabar menunggu sang kekasih.
...
Hari ini Sera menyelenggarakan acara peragaan busana rancangan nya, ia bekerja sama dengan perusahaan fashion tempat dulunya ia bekerja, J&E Fashion. Beberapa orang yang hadir merupakan sahabat dekatnya, para senior-senior nya serta beberapa artis yang juga menyempatkan hadir untuk melihat hasil rancangan salah satu designer tersohor di Korea.
Dengan anggun, Sera naik keatas catwalk dan menerima beberapa buket bunga lalu melambaikan tangannya pada orang-orang yang hadir, ia lalu mengambil mic dan mulai berpidato pada semua hadirin "Aku Oh Sera, mengucapkan banyak terimakasih pada semua orang yang hadir" ia menjeda, ada sedikit rasa gugup mengingat ini peragaan busana pertamanya yang ia rancang sendiri "Aku tidak menyangka bisa menyelenggarakan acara ini dengan sukses tanpa bantuan orang-orang terdekat ku"
"Pertama, untuk Kim sajangnim. Presdir utama J&E Fashion yang telah memberiku kesempatan mengadakan acara ini, dan juga adikku Sehun. Yang selalu memberiku semangat hidup untuk terus berkarya lagi, hari ini aku ingin memperkenalkan dia pada kalian semua. Beri tepukan yang meriah untuk adikku, Oh Sehun"
Suara tepukan meriah panjang terdengar setelahnya, seorang laki-laki yang mengenakan setelan jas trendy naik keatas catwalk dan berdiri disamping kakak nya "Hadirin semua, perkenalkan ini adikku Oh Sehun. Dia sempat menjadi pembicaraan panas beberapa tahun yang lalu, saat ini aku ingin menegaskan bahwa adikku baik-baik saja, aku mengakui bahwa ia sempat dirawat di R.S.J tapi saat ini dia sudah sembuh, ia bahkan kembali menjabat sebagai Direktur di perusahaan Oh corp. Mohon dukungan nya semua" Sera lalu membungkuk diikuti Sehun
Mic berpindah ketangan Sehun, ia lalu mulai bersuara "Halo semua. Aku adik dari Oh Sera, Oh Sehun. Semua yang dikatakan kakak ku benar, aku berterimakasih pada seseorang yang kini juga hadir disini.." Sehun lalu melirik Luhan yang duduk dibarisan paling belakang "Dia lah yang menemani masa-masa sulitku ketika depresi dan dia pula yang membuatku sadar bahwa dunia begitu indah" Luhan yang duduk diujung sana menangis terharu
"Aku akan segera melamar nya.." lalu tepukan meriah menggema berasal dari penonton yang terharu ketika mengingat kisah kedua kakak-beradik ini, baik Sera maupun Luhan sangat terkejut mendengarnya. Di acara resmi ini Sehun berani berkata pada publik bahwa ia akan melamar seseorang. Jangan heran di acara seperti ini pun wartawan sudah memenuhi barisan depan hingga venue menjadi sesak.
.
.
.
"Lu, tambahkan bubuk cabai nya!" seru sang Ibu yang sibuk mengaduk-aduk sawi putih di baskom besar.
"Nde eomma-nim" sahut Luhan lalu menuangkan serbuk-serbuk halus berwana merah yang apabila dimakan akan menimbulkan rasa pedas berlebih
Disaat mereka sedang keasikan membuat kimchi, tiba-tiba pintu rumah nya diketuk, dan sang ibu memintanya untuk membukakan pintu. Ia melepaskan sarung tangan nya lalu mencuci tangan sekilas dengan air
"Siapa sih yang datang malam-malam begini?" runtuk Luhan, ia membuka pintu tersebut dan terkejut mendapati Sehun berdiri disana dengan membawa sebuket mawar besar. Luhan terdiam, ia memandangi penampilan Sehun dari bawah keatas. Laki-laki itu mengenakan setelan jas seperti biasanya, mungkin baru pulang dari kantor –pikirnya.
"Lu, kau baik-baik saja?" Sehun melambaikan tangan nya pada kearah Luhan, laki-laki manis itu terkesiap setelahnya
"Ahh maaf.." sesal nya
Teriakan sang ibu yang berasal dari dapur ia abaikan, karena kesal sang ibu menghampiri nya sekaligus penasaran siapa orang yang datang "Kenapa lama sek—" pekikan sang ibu tertahan ketika melihat Sehun membungkuk didepan nya dengan sopan
"Halo Ahjumma, masih mengingatku?" Sehun hanya memastikan, dan Ibu Luhan dibuat mengaga lebar karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
"Kau Sehun? Pegawaiku dulu?" seru nya tidak percaya, Sehun terkekeh lalu ia mengangguk
"Ya. Bibi benar, aku Sehun yang pernah bekerja di kedai anda saat itu" jelas nya
"Ahh Sehun silahkan masuk" Ibu Luhan langsung menggandeng Sehun, dan mempersilahkan pemuda itu masuk "Ahh maaf ya rumah bibi kotor" ujarnya, dan Sehun mengatakan ia tidak keberatan
"Aku tidak percaya kau seperti ini sekarang" puji nya "Saat itu aku gelisah ketika kau berhenti bekerja di kedai ku, ternyata kau sekarang bekerja di kantor ya?" tebak bibi itu
"Lebih tepat nya aku pemilik perusahaan saat ini" Sehun mengoreksi dan bibi itu dibuat mengaga lebar setelahnya "Benarkah? Wahh..Kau sungguh hebat" si bibi itu dibuat takjub mendengar penuturan Sehun
"Ohh tapi ngomong-ngomong ada apa kau kemari?" si bibi penasaran
"Sebenarnya aku hmm.. ingin mengajak Luhan makan malam" ungkap Sehun
"Heii- apa kalian berpacaran?" si bibi bertanya antusias dan Sehun mengangguk
"Ya, bahkan sudah lama" jelas Sehun, disamping nya Luhan hanya terdiam
"Dasar anak ini, kenapa tidak pernah bercerita pada Ibu!" sang ibu menggeplak kepala Luhan dan anaknya itu mengaduh kesakitan setelah nya
"Ibu, ini sakit" Luhan mengusap kepala nya
"Ahh Sehun, ini masih belum terlalu malam. Kau boleh mengajaknya kencan" si bibi itu tersenyum manis, lalu mendelik kearah Luhan "Hei- cepat ganti bajumu!" perintah sang ibu, namun Sehun menahannya
"Ahh tidak usah bibi, Luhan pasti mengantuk setelah bekerja. Aku akan segera pulang sekarang" Sehun hendak bangkit namun si bibi menahannya "Kenapa terburu-buru sekali, ayo duduk lah" dan Sehun merasa sungkan jika menolak permintaan orang yang lebih tua darinya
"Bukankah kalian telah lama berpacaran? Jadi kapan kalian akan menikah?"
Pertanyaan sang ibu barusan sukses membuat Sehun maupun Luhan diam memantung, Luhan melirik heran pada ibu nya sedangkan Sehun tiba-tiba merasa canggung
"Apa bibi merestui hubungan kami?" Sehun bertanya canggung dan si bibi menyahut semangat
"Tentu saja! Kau adalah laki-laki yang baik bagi putraku"
Luhan dibuat bingung akan pemikiran ibu nya, dulu Chanyeol bersikeras melamar dirinya dihadapan sang ibu. Laki-laki itu bahkan telah melakukan segala cara agar ibu nya mau meretui hubungan mereka, namun Luhan tidak mengerti kenapa sang ibu selalu menolak mentah-mentah kebaikan Chanyeol. Dan kini bahkan Sehun yang hanya mengajak nya makan malam langsung direstui oleh sang ibu.
...
"Kau benar-benar pandai Luhan! Akhirnya sebentar lagi hidupku akan terasa mudah. Sehun yang sekarang menjadi kaya raya, ahh senangnya memiliki menantu seperti nya" sang Ibu tersenyum bahagia membayangkan dirinya tinggal dirumah mewah dengan tumpukan uang, ketika menginginkan suatu barang ia tinggal menggesek kartu nya, tidak perlu membuat bubur lagi untuk menghidupi putra nya.
Luhan menangkap suatu maksud tersembunyi dari sang Ibu, ia menggeram. Jadi karena Ibu nya tahu bahwa Sehun kaya, lalu ia langsung merestui hubungan putra nya dengan Sehun begitu saja? Luhan mendengus, memang benar jika secara finansial Sehun lebih unggul dibanding Chanyeol. Yang ia tahu sang Ibu termasuk dalam golongan Homophobic, namun ia malah merelakan putra nya menikah dengan seorang lelaki karena status nya yang kaya. Benar-benar menjengkelkan...
.
.
.
END
*Philophobia – adalah ketakutan berlebih terhadap jatuh cinta.
.
.
EPILOG
.
Tidak kurang dalam kurun waktu setengah tahun, perusahaan Sehun yang awal nya mengalami krisis kini perlahan naik dan kembali merebut jajaran peringkat 10 perusahaan teratas di Korea. Sejak ia mengungkapkan kemunculan dirinya di publik, banyak orang yang bersimpati padanya sehingga tertarik untuk kembali bekerja sama dengan Oh Corp. Walaupun belum mencapai posisi 3 jajaran teratas yang selalu Sehun dapatkan dulu sebelum adanya Junmyeon, namun ia bersyukur setidaknya saat ini ia merasa pantas untuk melamar Luhan.
Tidak perlu perdebatan panjang, sang calon Ibu mertua langsung memberi ijin untuk segera mempersunting Luhan, bahkan terkesan memaksa sekaligus tergesa-gesa. Si bibi itu terlalu bersemangat memilihkan setelan Tuxedo untuk Luhan beserta cincin pernikahan nya.
Dan kini semua harapan Sehun maupun Luhan terwujud ketika mereka berdua telah berdiri dialtar dan mengucap janji suci sehidup semati, yang mana bagi Sehun ini adalah keempat kalinya sedangkan Luhan yang pertama. Sehun yakin, bahwa Luhan adalah orang yang ditakdirkan Tuhan untuk nya. Semua undangan yang hadir bertepuk tangan, dan untuk pertama kalinya kedua pengantin itu berciuman setelah diresmikan secara hukum.
"Aku mencintaimu" bisik Sehun
"Aku juga"
...
"Sehunna, segera persiapkan alat panggang nya. Aku dan Hani akan memotong daging nya" Seru Luhan sambil memegangi perutnya yang terlihat membuncit
"Tentu saja, sayang" Sehun mengecup mesra kening Luhan, ia bahkan tidak malu saat Hani maupun Jaemi juga berada di tempat yang sama
"Luhan-ah, jangan terlalu memaksa. Kau sedang hamil, sebaiknya aku yang memotong daging nya" jelas Hani lalu ia mulai membuka plastik daging tersebut
"Tidak, tidak. Aku juga ingin ikut andil disini" karena Luhan merupakan tuan rumah, Hani tidak bisa menolak nya
"Ziyu-ah, tolong bawa meja kecil itu kesini!" anak lelaki berumur 7 tahunan itu membantu ayah angkat nya mengangkat meja kecil untuk digunakan memanggang nanti.
"Gomawo Ziyu-ah. Anak pintar.." Sehun mengusak rambut putra angkat nya tersebut
Saat mereka menikah, Ziyu ikut ke acara pemberkatan nya di gereja. Anak itu menangis kencang karena Luhan sudah menikah dan pasti akan melupakannya, kebetulan saat itu Ziyu sudah dinyatakan baik-baik saja oleh dokter dan dipindahkan ke panti asuhan. Daripada tinggal disana, Luhan dan juga Sehun memiliki keinginan untuk mengangkat Ziyu sebagai anak dan anak lelaki itu tidak keberatan.
Setelah semuanya siap, Sehun memanggang potongan daging tersebut sesudah dilumuri bumbu oleh Luhan. Bau harum khas daging menguar dimana-mana, setelah matang daging tersebut disajikan diatas piring dan Hani segera menyiapkan nasi nya.
"Wah baunya enak sekali" gumam Luhan, melihat daging matang tersebut membuat sang jabang bayi ingin ikut melahap nya
"Jaemi, mau? Ayo duduklah, eomma akan ambilkan" Hani menyiapkan semangkuk nasi dan beberapa irisan daging diatasnya lalu meletakkan nya di depan Jaemi "Gomawo eomma"
"Jaemi-yah, makanlah yang banyak. Saat besar nanti kau akan jadi sekertaris Sehun Ahjussi di perusahaan nya ya?" goda Luhan dan Jaemi hanya tersenyum
"Ziyu-ah ayo makan!" pekik Luhan
"Sebentar Eomma, aku sedang membantu Appa" sahut Ziyu
Lalu seorang wanita datang dengan ekspresi kesal, ia menghentak-hentakkan kaki nya dan mendengus menatap Sehun "Hey kau melupakan aku? Aku tidak diajak begitu?" Sera mendengus lalu melipat kedua tangan nya
"Salah sendiri sibuk dengan pacar bule nya" balas Sehun yang masih tetap memperhatikan daging-daging panggang tersebut
"Eonni bergabung lah dengan kami" ajak Hani lalu Sera memilih mendudukkan dirinya disalah satu kursi meja makan
"Wahh kelihatannya enak" mata Sera berbinar, ia lalu menyumpit seiris daging tersebut
"Bagaimana?" tanya Luhan
"Tidak buruk" komentar nya
Sehun telah selesai memanggang semua daging nya. Ia lalu duduk disamping Luhan dan Ziyu memilih duduk disamping Sera. Mereka semua menikmati daging panggang tersebut diakhir pekan sekaligus menghabiskan waktu luang bersama keluarga. Mereka semua tertawa bersama, menambah kesan harmonis diantara keluarga tersebut. Baik dari pihak Sehun maupun Hani mereka berdua telah berdamai dan menjalin hubungan baik sekarang. Bagi Sehun inilah kebahagian yang hakiki. Ketika semua orang yang kau cintai berkumpul dan menghabiskan waktu senggang bersama-sama.
