Sequel Of Heal Me
~Special Author B'Day~
By: HunHan SeRaXi
.
.
(WARNING! THIS IS RATED M)
.
.
.
Masih terekam dengan jelas saat momen prosesi pernikahannya bersama Sehun, detik-detik menjelang pemberkatan, Luhan merasa gugup luar biasa. Ini adalah kali pertamanya menikah, setelah rencana pernikahannya dengan Chanyeol saat itu gagal karena terhalang restu sang Ibu. Luhan tidak lagi ingin mengenangnya, ini adalah pernikahannya dengan Sehun, lelaki yang dulu pernah menjadi pasiennya dan sebentar lagi akan resmi menjadi pendamping hidupnya.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri dicermin besar, setelan tuxedo putih dengan hiasan mawar di sakunya, hasil rancangan calon kakak iparnya, Sera. Dan juga sebuket mawar putih yang ia gengam ini, Sera memaksanya untuk membawa benda tersebut, sedikit merasa malu karena dirinya laki-laki. Namun Sera mengatakan agar hadirin tahu bahwasannya Luhan adalah pihak pengantin perempuannya disini.
"Dokter sangat cantik. Berhentilah bercermin dan duduk dengan manis!"
Luhan mendengus, wanita itu membawa sepasang cincin yang akan ia kenakan bersama Sehun setelah ucapan janji suci. Sera mendekat lalu sedikit merapikan tatanan kerah jasnya. sekali lagi, wanita itu tersenyum mendapati calon pengantin adiknya sangat cantik, walaupun dia laki-laki.
"Sehun akan sangat bahagia, dokter begitu cantik"
Luhan mencebikan bibir kesal, ia lalu membalas "Noona sudah mengatakannya berulang kali, dan juga sebentar lagi kita akan menjadi saudara. Berhenti memanggilku dokter"
"Hahaha... baiklah, as you wish my brother bride"
Pintu ruang tunggu pengantin terbuka, membuat Sera otomatis menghentikan tawanya. Luhan juga ikut menoleh kemudian ia mendapati Baekhyun beserta Chanyeol datang hari itu. Baekhyun tiba-tiba mendekatinya, ia memeluk Luhan dengan erat sambil membisikan kata selamat.
"Aku turut bahagia mendapati kabar pernikahan mu" Lalu Baekhyun menyerahkan buket bunga yang sedari tadi ia bawa kepada Luhan
"Aku terkejut, tidak kusangka kalian datang hari ini"
Luhan masih canggung, ia merasa tidak enak dengan Baekhyun setelah kejadian waktu itu. Diam-diam ia melirik Chanyeol yang turut tersenyum bahagia melihatnya "Selamat atas pernikahanmu, Luhan"
"Euhm.. ya, terimakasih"
"Kisah cinta mu sungguh dramatis, kau jatuh cinta dengan pasien mu sendiri" tukas Baekhyun, yang sebenarnya membuat Luhan semakin merasa aneh. Kenapa tiba-tiba pria itu bersikap baik padanya.
"Aku datang untuk meminta maaf atas sikap ku selama ini, jujur saja aku terlalu mencintai mantan pacarmu sehingga aku terlalu posesif padanya. Dan juga, setelah mengetahui kabar pernikahanmu, hatiku menjadi lega. Kau tidak memiliki alasan lagi untuk mendekati suami ku, kan?"
"Hentikan Baek..." Chanyeol menyahut pelan
Luhan tersenyum kecut, Baekhyun datang kesini pasti juga memiliki alasan. Walaupun laki-laki itu telah meminta maaf padanya, tapi kata-katanya tadi seakan merendahkan harga diri Luhan. Mengerti Baekhyun membuat Luhan tersinggung, cepat-cepat Chanyeol menyeret istrinya keluar dari ruangan tersebut.
"Luhan, aku minta maaf. Pemberkatanmu sebentar lagi, jadi kami harus segera keluar" Chanyeol secara formal membungkuk, lalu keluar bersama Baekhyun. Menyisakan Luhan bersama Sera.
"Laki-laki itu benar-benar..." Sera menggerutu
"Tidak apa-apa, dia memang seperti itu" Luhan memaksakan senyumnya
Kemudian Ibu Luhan masuk, ia berseru semangat pada putra nya "Ayo lekas keluar Luhan, Sehun sudah berjalan di altar!"
Dan detik itu juga, Luhan dibuat berdebar cepat dan rasanya tidak ada hari dimana ia lebih gugup daripada saat ini.
Luhan mengambil napas, ia melangkahkan kaki nya percaya diri menyusul Sehun di depan sana. Ia berjalan sendiri dengan diiringi tepukan meriah penonton. Sehun luar biasa bahagia melihat Luhan dengan anggunnya berjalan mendekatinya, Luhan-Nya sangat cantik, pengantinnya itu menunduk malu-malu menatapnya, Sehun bahkan tidak dapat mengontrol degup jantungnya sendiri. Ia merasa seperti baru pertama kali menikah.
Ketika jarak mereka semakin dekat, Sehun mengulurkan tangannya yang langsung digapai oleh Luhan. mereka berjalan beriringan dengan Sehun yang menggenggam tangannya erat. Mereka berhenti tepat dihadapan pastor, kemudian mengubah posisi saling berhadapan.
"Oh Sehun, apakah kau bersedia menerima Xi Luhan sebagai pendamping mu, senang maupun susah, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin untuk selamanya?"
"Ya, saya bersedia"
"Xi Luhan, apakah kau bersedia menerima Oh Sehun sebagai pendamping mu, senang maupun susah, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin untuk selamanya?"
"Ya, saya bersedia"
"Dengan ini aku meresmikan kalian berdua menjadi sepasang suami-istri"
Baik Sehun maupun Luhan tersenyum bahagia, penonton bertepuk tangan heboh. Mereka berdua telah mengucap janji sucinya, Luhan begitu lega ketika usai diresmikan menjadi istri Sehun, apalagi Ibu nya yang kini menjerit bahagia diujung sana. Pikiran Luhan yang berkelana membuatnya tak fokus hingga tiba-tiba Sehun menarik pinggangnya dan secara spontan menciumnya untuk pertama kali dihadapan para hadirin.
Luhan pada awalnya terkejut kemudian ikut memejamkan mata. Ia membalas lumatan Sehun pada bibir nya, tidak begitu lama karena Sehun buru-buru menyudahinya, nanti saja ketika selesai, setidaknya ia harus bisa menahan diri untuk saat ini.
"Dokter Xi, aku merindukan mu!"
Pekikan suara anak itu membuat keduanya menoleh, Luhan terlihat begitu senang ketika Ziyu datang bersama Kyungsoo dan Kai.
"Kau membawa nya?, terimakasih Kyungsoo-yah" gumam Luhan, ia kemudian berjongkok dan ikut memeluk Ziyu yang saat ini diperkirakan usianya sudah 7 tahun.
"Dokter juga merindukan mu" Luhan mengusapi punggung anak itu
"Dokter jahat! Setelah meninggalkanku, kini dokter akan hidup bersama dengan Sehun ahjussi, sedangkan aku tinggal sendiri di panti" Ziyu mengucapkannya sambil menangis, ia begitu kesal terhadap Luhan
Luhan gemas, ia mengusap buliran air mata Ziyu di pipi nya "Lalu kau ingin kita terus bersama?"
"Tentu saja!" pekik Ziyu
Luhan menoleh kearah Sehun, suami nya itu mengangguk menyetujui "Baiklah, kau bisa ikut dengan kami nanti"
"Benarkah?" Ziyu seakan tidak percaya, namun anggukan Luhan membuatnya begitu senang
"Terimakasih, Dokter. dan juga Sehun ahjussi" gumamnya girang
...
Tiba-tiba Luhan tersenyum sendiri, semuanya begitu membekas dalam ingatannya, bagaimana pengalaman pernikahannya yang begitu menegangkan sampai berujung haru. Namun tiba-tiba ia harus berjengit kaget ketika Sera memekik dengan nyaring
"Luhan!, hey.. aku memanggil mu berulang kali dan kau terus melamun!"
Luhan kembali ke alam sadar nya, ia menatap gaun pernikahan yang dikenakan Sera kemudian menggumam "Kau cantik, gaun itu cocok untuk mu"
Sera berdecak, sekali lagi ia berkaca di cermin sambil memutar tubuh nya "Kau pasti mengingat masa-masa pernikahanmu dulu ya, sampai melamun begitu?"
Luhan mengaruk tengkuk nya, "Maaf, tapi Ini juga gara-gara Noona yang mengajakku ikut memlihkan gaun"
Luhan tidak bohong, tadi siang Sera memintanya untuk ikut memilihkan gaun pernikahan yang akan dikenakan wanita itu bersama calon suami bulenya. Luhan sebenarnya menolak ajakan tersebut mengingat perutnya semakin membuncit, dan ia takut jadi bahan tontonan orang-orang. Namun Sera terus memaksa yang akhirnya membuat Luhan mengalah.
"Baiklah, aku pilih yang ini" Sera memutuskan memilih gaun tersebut untuk ia pakai di acara pernikahannya
.
.
.
Sebentar lagi matahari akan terbenam, Luhan cepat-cepat membereskan meja nya kemudian menyampirkan tas selempang nya di pundak kiri. Ia begitu bahagia ketika jam pulang nya tiba, walaupun sebenarnya ia diberi dispensasi pulang 3 jam lebih awal karena kondisi kehamilannya. Ditengah langkah kaki nya ia berpapasan dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai perawat, refleks Luhan tersenyum sambil menyapanya.
"Pewarat Han!"
"Oh, Dokter Xi mau pulang?" wanita itu menyahut
"Ya, tapi sebelum itu aku ingin menjemput Ziyu dulu"
Dia tersenyum lebar "Anak itu pasti sudah besar, sampaikan salamku padanya"
"Tentu, ohh ya. Tapi kapan kau akan segera menyusulku?" Luhan asal bertanya
"Maksudmu?"
"Kau tidak ingin segera menikah dan memiliki anak?"
Wanita itu sempat terdiam, dengan canggung ia hanya menjawab "Kalau itu, aku tidak tahu. Hehe..."
"Kau semakin tua, jangan terus menunda nya. Aku permisi" Luhan mengerling sambil tersenyum mengejek
Diam-diam Perawat yang sudah menjadi temannya itu mengumpat jengkel di belakang nya "Dasar, mentang-mentang dia sudah menikah lalu mengejekku. Tchh.."
Luhan berjalan menuju parkiran, beranjak menuju mobilnya yang terpakir. Dengan santai ia duduk di kursi kemudi sambil memasang sabuk pengamannya. Pedal gasnya Ia injak, mobil yang ia kendarai melaju perlahan meninggalkan kawasan Rumah Sakit.
.
.
.
"Eomma!"
Ziyu yang dulunya kecil ketika digendong Luhan, kini telah tumbuh menjadi Ziyu berusia genap 10 tahun. Anak laki-laki itu begitu gembira ketika Ibunya datang untuk menjemput, Luhan turun dari mobil dan langsung mendekap anak itu, mencium dahinya dengan lembut.
"Bagaimana pelajaran mu hari ini?" Luhan bertanya seperti biasanya, namun Ziyu malah menunjukkan mimik sendu
"Maafkan aku, Eomma. Tapi hari ini aku remidial matematika" Ziyu menunduk sedih
"Kenapa bisa?" Luhan menyahut, ia mengusap surai anak angkat nya
"Aku sedikit kurang paham dengan soal yang diberikan Guru, itu benar-benar sulit" Ziyu polos berucap jujur, Luhan tetap tersenyum untuk anak itu
"Tidak apa-apa, Eomma tidak marah. Tapi jangan diulangi lagi ya, jika ada materi yang kurang paham tanyakan pada Guru atau Guru privat mu" Luhan memberi nasehat
"Ya, Eomma. Aku tidak akan mengulangi nya"
"Ayo kita pulang!"
"Eomma, tunggu—"
Luhan yang hendak menggandeng Ziyu terpaksa menghentikannya, "Kenapa?"
"Jaemi sedang menunggu Ibunya juga, aku kasihan jika harus meninggalkannya sendiri"
Luhan menepuk dahi, sedari tadi ia tidak melihat gadis kecil itu yang sedang menunggu Hani, ibunya. Luhan tersenyum ketika melihat Ziyu yang mulai peduli terhadap Jaemi.
"Jaemi, kemari sayang! Ayo kita tunggu Ibumu datang"
Jaemi mendekat kearah mereka, gadis kecil itu hanya diam ketika Luhan menggandengnya bersama Ziyu ke bangku dekat gerbang.
"Sambil menunggu Eomma mu, bagaimana kalau kita makan es krim?. Kau mau?" tawar Luhan
"Aku mau!" Ziyu menyahut semangat
"Baiklah, tunggu disini sebentar" Luhan kemudian beranjak menuju toko dekat sekolah yang kebetulan menjual es krim
Ziyu menjaga Jaemi dengan baik, mereka sangat dekat karena Hani sering berkunjung ke rumah nya. Jaemi sudah seperti adik nya sendiri, secara naluri ia juga ikut menyayangi gadis tersebut. Diam-diam Jaemi menangis sesenggukan, hal itu membuat Ziyu menjadi khawatir.
"Kenapa menangis?" Ziyu mengusapi air mata Jaemi
"Eomma biasanya tidak selama ini membuatku menunggu, hikss.."
"Jangan khawatir, ada aku dan Eomma yang menemani mu" tukas Ziyu sambil memamerkan gigi putih nya
"Hey!, kenapa Jaemi menangis, eoh?" Luhan ikut berlutut, menyamakan posisinya dengan gadis itu
"Jangan menangis, ini es krim mu"
Jaemi menerimanya dengan sopan, ia membuka bungkus es tersebut kemudian menjilat nya. Gadis itu mencoba mengalihkan atensi agar tangis nya mereda, dan rupanya es krim cukup membuatnya berhenti menangis, hingga tak lama kemudian mobil Hani sampai di gerbang sekolah putrinya.
"Nah, itu Ibumu datang" sahut Luhan
"Eomma!"
Jaemi memekik sambil berlari menuju Ibu nya. Hani yang terlihat letih nampak memaksakan senyum nya pada si putri kecil.
"Maaf, Mama terlambat " Hani memeluk Jaemi sambil mengusapi poni anak nya
"Dia menangis karena menunggumu" Luhan mengadu, Hani menunduk meminta maaf
"Acara Launching nya tadi cukup lama, aku tidak bisa meninggalkan acara tersebut begitu saja karena aku model utamanya" ungkap Hani, ia sedikit merasa bersalah
"Terimakasih sudah menjaga Jaemi" tambah nya
"Lain kali aku akan mengantarnya pulang, jika kau mengijinkan" tukas Luhan
"Tidak perlu" Hani menyahut, "Aku sudah banyak berterimakasih, lain kali aku akan mentraktir jajan Ziyu juga"
Luhan tersenyum, Hani yang hendak masuk ke mobil nya tiba-tiba berhenti. Kemudian berbalik kearah Luhan untuk memberitahukannya sesuatu "Maaf jika aku sering bergosip, tapi kudengar Direktur Oh tadi terlihat kacau. Ia hampir memarahi seluruh bawahannya"
"Benarkah?" refleks Luhan menyahut
"Kurasa Suamimu sedang ada masalah, ahh.. aku duluan. Permisi"
Hani tidak ingin Jaemi menunggu lebih lama lagi, wanita itu mengemudikan mobil nya menjauh dari area Sekolah. Luhan masih terdiam ditempatnya, entah mengapa perasaan khawatir menyergapnya saat ini. Hani memang sering diminta menjadi model di perusahaan Sehun, bisa jadi yang dikatakan wanita itu ada benarnya.
"Ziyu, ayo kita segera pulang" intrupsi Luhan, bocah itu bangkit dari duduk nya
"Ya, Eomma"
.
.
.
Sampai dirumah, Luhan masih memikirkan ucapan Hani. Entah sesuatu apa yang bisa menyebabkan suaminya seperti itu. Jujur saja ia sangat khawatir, selama 2 tahun rumah tangganya dengan Sehun, Luhan berusaha menjadi istri yang baik, sebisa mungkin ia dan Sehun menghindari pertengkaran, dan juga karena riwayat Sehun yang pernah menjadi pasiennya, Luhan mengusahakan agar tidak membuat Sehun stres dan berujung pada depresi lagi. Mengingat di masa lampau, hidup Sehun begitu berantakan.
"Aku pulang"
Pintu utama terbuka, Luhan menolehkan kepala nya dan benar saja ternyata Sehun yang datang. Luhan berjalan mendekati lalu meraih tas suaminya tersebut.
"Kau ingin makan apa malam ini?" Luhan menatap lurus wajah tirus Sehun yang nampak kelelahan, tangannya yang terampil melepas jas mewah suaminya
"Terserah" jawab nya datar, ia bahkan tidak tersenyum seperti biasanya
Luhan mulai merasakan keanehan, sepertinya yang dikatakan Hani memang benar "Aku akan menyiapkan air hangat"
Sehun menatap punggung Luhan yang semakin menjauh, ia mengembuskan napas. Merasa bersalah karena hari ini ia tidak mencium bibir Luhan seperti biasanya. Rasa kesal yang terbawa dari kantor sebisanya ia tahan agar keluarganya tidak kena dampratnya juga malam ini.
.
.
.
Sehun masih tetap melanjutkan pekerjaannya sehabis mandi, melihat keadaan yang seperti itu seharusnya ia lekas tidur untuk menenangkan diri, namun sepertinya Sehun memaksa, mencoba mengalihkan fokus dengan menyibukkan diri, yang malah membuat suasana hatinya semakin tidak menentu saja.
"Kau perlu istirahat"
Sehun mendongak, Luhan datang ke ruang kerja nya dengan membawa segelas teh. Hal itu membuat Sehun terpaksa menurunkan penanya.
"Terimakasih, tapi aku tidak memintamu, kau seharusnya tidur" Sehun mencoba berujar tenang
Luhan menampilkan senyum nya, tanpa rasa malu ia sedikit mendorong kursi beroda Sehun, kemudian mendudukkan dirinya diatas pangkuan suaminya.
"Bagaimana aku bisa beristirahat, jika hari ini kau nampak bermasalah" Luhan mengerucutkan bibirnya, dalam jarak sedekat ini ia bahkan melingkarkan tangannya di leher Sehun
"Kau mengetahuinya?" Sehun menyahut, dan Luhan mengangguk
"Apapun itu masalahmu, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan buat semua orang khawatir" jari-jemari Luhan menari diatas permukaan kulit pipi Sehun
Sehun nampak menikmatinya, tanpa sadar satu senyuman terkembang di bibir "Arraseo, Luhanku yang cantik" ia menyentil hidung mungil Luhan
"Habiskan teh mu" titah Luhan, Sehun menurutinya. Prianya itu menutup berkas-berkas yang hendak ia garap. Kemudian merapikannya kembali, Sehun menghentikan hisapan teh nya dan hendak protes namun Luhan menyela duluan.
"Beristirahatlah, ini permintaan si kecil kita" Luhan menoleh kebelakang sambil terkikik lucu, Sehun jadi mengurungkan niat jika mendengar alasan 'si kecil kita'
"Ahh... aku lupa menyapanya" Sehun merutukinya
Luhan duduk diatas meja kerjanya, suaminya itu menarik kursinya mendekat.
CUP
Sehun menghujani perut buncit Luhan dengan kecupannya, Luhan lantas tersenyum melihat tingkah suaminya yang tidak sabar menanti si kecil mereka lahir. Semua orang menantikan bayi yang tengah dikandungnya ini, bahkan para maid-maidnya itu berulangkali mendoakannya agar bayi ini sehat. Membayangkan ketika bayi ini lahir, dia pasti akan dilimpahkan banyak cinta dari orang-orang disekitarnya.
"Apa kau tumbuh dengan baik di dalam sana?, cepatlah lahir. Papa menunggumu"
Sehun mengatakannya dengan bibir yang menempel pada perut Luhan, tangannya itu juga turut mengusap lembut gundukan dibalik kaos Luhan. merasa kurang, Luhan sedikit meyibakkan kaos yang ia kenakan sampai sebatas dada, ia semakin mendekatkan perutnya pada kepala Sehun.
"Kau mendengar sesuatu?" tanya Luhan disela-sela kegiatan Sehun bermain dengan perutnya
"Tidak, kau merasakannya?" Sehun lantas mendongak menatap Luhan
"Aku mendengar dia menjerit minta sesuatu lagi" Luhan berujar polos
"Katakan!" Sehun menyahutnya, apapun yang Luhan minta selama masa mengandung. Sehun akan berusaha menuruti keinginan bayinya, bahkan jika Luhan memintanya menjadi badut sekalipun, tetap akan ia lakukan.
"Ikut aku!"
Sehun mengerutkan dahi. Tidak cukup sampai disitu, Luhan menuntunnya menuju kamar. Sehun hanya diam memperhatikan Luhan yang menarik tangannya menuju kamar mereka berdua. Begitu mereka sampai, Luhan secara perlahan mendorong tubuh Sehun ke kasur.
"Apa yang kau—"
Ucapannya tertahan di tenggorokan. Sehun lantas bangkit hingga posisinya duduk di pinggir ranjang, Luhan yang ia pikir sedang agresive kembali duduk dipangkuannya, sambil meletakkan satu telunjuk di di depan bibir Sehun, ia berbisik seduktif "Diam, dan nikmati saja ini"
Jemari lentik Luhan merambat disekitar dada nya, Sehun menahan napas. Ia sedikit tidak percaya dengan ini, jarak Luhan yang begitu dekat membuat indra penciumanya dapat menghirup aroma sedap yang berasal dari balik leher istrinya. Ia bahkan tidak sadar jika 3 kancing nya sudah terlepas, dalam satu tarikan ia telah bertelanjang dada akibat perbuatan Luhan.
"Berbaring-lah dalam posisi tengkurap"
Sehun semakin tidak mengerti. Mungkin-kah Luhan ingin melakukan ahh.. –ia jadi gusar sendiri, tapi kenapa ia yang disuruh tengkurap? Apakah Luhan akan...
Sreet..!
Sehun semakin merinding begitu merasakan kedua tangan Luhan berada di pundak nya. Benarkah Luhan ingin melakukan itu padanya?
Puk.. puk..
"Ughh...!"
Diluar dugaan, Sehun malah melenguh merasakan tangan halus Luhan memijit daerah tengkuk nya. sesekali Luhan mengoleskan minyak aromaterapi, lalu dengan terampil memijat nya di bagian yang pegal. Sehun jadi ingin tertawa sendiri dengan pemikirannya tadi, apa-apaan itu? Mana mungkin Luhan akan melakukan itu padanya.
"Bagaimana, sayang. Enak kan?" tanya Luhan disela pijatannya
"Eunghh... disana, ahh iya enak hhh.." Sehun merancau
Tangan Luhan turun memijat daerah Punggung, ia mengoleskan beberapa tetes minyak lagi sehingga permukaan kulit Sehun licin. Ia bisa dengan mudah mengurutnya walaupun Luhan sendiri tidak begitu pengalaman. Terkadang mendengar Sehun merancau seperti itu membuat pekerjaanya tidak fokus, suaminya ini sedang dipijat atau.. ahh
Luhan menggelengkan kepala nya, ia telah berpikiran kotor.
"Ahh... enak nya, kenapa kau bisa tahu aku membutuhkan pijatanmu?" Sehun memejamkan mata, rileks.
"Sudah kubilang jika bayi ini yang menginginkannya" dengus Luhan
Selesai di daerah pinggang, Luhan meminta Sehun telentang. Tangannya yang masih terbalut minyak ia oleskan di dada Sehun, dapat ia lihat suaminya itu menatap nya intens, Luhan tiba-tiba jadi merona. Semakin turun kebawah hingga tangan licinnya sengaja menyentuh otot perut nya yang terbentuk, Luhan selalu menyukai ini ketika mereka sedang melakukan senggama. Jari-jarinya mengikuti pola otot tersebut, namun secara tiba-tiba tangannya dicekal oleh Sehun.
"Cukup! Kau membuatku ingin—"
Luhan terkekeh namun ia tetap saja bangkit. Melepaskan setelan pajama yang melekat ditubuhnya secara mandiri hingga telanjang bulat, ia menatap Sehun tanpa dosa
"Aku milikmu! saranghae"
Dan setelah kalimat itu terucap, Sehun mendorongnya. Laki-laki itu merangkak keatas Luhan kemudian mengecupi setiap sisi wajah nya, kedua mata kanan dan kiri, hidung mungil nya, bibir merah ceri, dagu, kedua pipi kanan dan kiri beserta dahi. Dari mimik wajahnya terpancar aura kasih sayang teramat dalam disana.
"Kau bukanlah yang pertama bagiku, tapi ku pastikan kau akan jadi yang terakhir untuk selamanya"
Luhan rasanya begitu bahagia hingga ia tersenyum lebar, memang bukan masalah ia menikahi duda. Hatinya sudah terpaku pada pria diatasnya, dengan leluasa ia membiarkan Sehun menjamah ceruk leher nya. merasakan setiap gigitan kecil serta hisapan disana, lidahnya menyapu bagian bawah telinga, lalu mengulum cuping telinga kirinya. terasa berdebar sekaligus geli.
"Mmmh..."
Jemari lentik nya menjambak rambut belakang Sehun. Pria nya itu kini beralih menyesap putingnya, Luhan mengerang dibawah kungkungan Sehun, tangan kirinya bekerja untuk memilin puting kanannya sedangkan yang kanan meremas-remas bagian bawahnya. Seluruh bagian sensitive tubuhnya dirangsang, hingga rasanya ia menjadi hard.
"Luhan, katakan ini bila tidak nyaman. Aku khawatir pada bayi kita" ujar Sehun disela pekerjaannya
"Tidak! Dia baik-baik saja, jangan khawatir" sahutnya, ia mengusap peluh di dahi Sehun
"Peringatkan aku bila kau kesakitan" pesannya, pekerjaan yang tertunda tadi ia lanjutkan kembali
Sehun merunduk, memberikan banyak kecupan manis di perut Luhan. sesekali menjilat nya, tepat diatas organ sensitive Luhan, sehingga Luhan merasa geli hingga tubuhnya mengelinjang. Kepala Sehun semakin turun kebawah, ia gesekkan lidahnya dengan milik Luhan yang menegak. tangan besarnya juga ikut meraba selangkangan Luhan, terkadang jari-jari nakal itu berusaha menerobos anus berkerut istrinya, satu jari yang masuk saja sudah disedot sedemikian rupa oleh dinding ototnya, Sehun semakin tidak tahan.
"Sehun, cepatlah..." Luhan memaksa, ia mendorong kepala Sehun semakin dalam
3 jarinya sudah berhasil menembus lubang sempit Luhan, Sehun menghentikan penetrasinya dan mencabut jari tersebut, membuat Luhan merasa begitu hampa. Pria itu lantas bangkit, mengubah posisinya menjadi menyandar diranjang.
Luhan mendekati Sehun, ia lepas semua kancing-kancing kemeja suaminya dan melempar pakaian tersebut secara asal. Sehun ikut membantunya melepaskan celana beserta dalaman, kini mereka berdua impas, sedari tadi hanya Luhan yang telanjang sedangkan Sehun berpakaian lengkap.
"Kau curang" gerutu Luhan sambil mengerucut
Bibir yang mengerucut tersebut segera dikecup oleh Sehun, "Cantik. Aku ingin kau melakukannya dari belakang"
"Tapi, kenapa—"
Sehun meraup bibirnya kembali secara cepat, lalu melepaskannya "Aku ingin bermain aman, lagipula mari kita mencoba hal yang baru"
Luhan merona, ia tidak mempercayai jika Sehun yang dulunya polos menjadi seperti saat ini ketika sudah sembuh. Dan Luhan juga tidak bodoh, jelas dulu ia sering melakukannya. Ia kini mulai berbalik, menghadap kearah yang sama dengan Sehun. Secara hati-hati ia sedikit menukik, mencoba melesakkan penis Sehun kedalam lubangnya, juga dibantu Sehun yang juga memegangi pinggulnya hati-hati.
"Akhh..!"
Luhan memejam erat ketika kepala penis suaminya itu berhasil masuk. Perlahan ia menggerakkannya semakin dalam dan pinggulnya ia angkat naik turun, mencoba sebagai pihak dominan kali ini walau rasanya agak sakit. Ia bergerak lambat untuk mencari titik prostatnya. dari belakang Sehun juga turut membantu, ditangkupnya kedua bongkahan pantat Luhan agar pekerjaan prianya tidak begitu berat, bisa ia rasakan lubang berkedut Luhan memijat miliknya di dalam sana dengan baik.
"Ah, Ah.. aku mendapatkannya!" desahnya kacau
Luhan kembali menaik turunkan pinggulnya dengan semangat, pergerakannya kali ini lebih cepat. Ia mendapatkan sensasi kenikmatan dari hasil usahanya sendiri, terkesan menyenangkan. Tangan Luhan nampak memeluk perutnya sendiri, ia mengusapnya sayang. Sehun dibelakangnya sedikit mendorong punggung Luhan agar menyandar padanya, rileks. Kini ia yang bekerja, menumbuk protat Luhan berulang-ulang hingga rasanya Luhan terhentak-hentak hebat.
"Sehun, haah.. akuuh.. ahh!"
Puncaknya semakin dekat. Luhan memejam erat, bibirnya ia gigit kuat. Bayangan kabur putih menjemputnya seiring orgasme melandanya. Sehun memberinya kesempatan waktu untuk bernapas, Luhan nampak masih terengah-engah, Sehun memanfaatkan keadaan dengan membuat tanda dibelakang tengkuknya, sesekali menggigit atau sekedar memberi kecupan ringan. Tangannya terulur kedepan untuk memeluk sekaligus mengusap perut buncit Luhan.
"Kita lanjutkan"
Seusai instruksi tersebut terucap, dengan perlahan ia meminta Luhan untuk menungging kedepan tanpa melepas penyatuan. Sebisanya Luhan menghindari agar perutnya tidak sampai tertimbun karena menahan beban tubuhnya sendiri. Dari belakang, Sehun menyodokkan miliknya kuat, hal tersebut membuat Luhan memejam nikmat sekali lagi, penis tegang suaminya menghujam prostatnya telak secara beruntun, ia sampai dibuat kewalahan untuk meladeni hasrat suaminya yang diujung tanduk.
"Sehun, pelan-pelan..." Luhan merintih
Suara tubrukan antara skrotum dengan pantatnya terdengar nyaring, gairahnya semakin memuncak sejalan dengan tumbukannya yang semakin keras, dapat Luhan rasakan benda di dalam semakin panas dan membesar, Luhan membantunya dengan semakin mengetatkan otot anus nya sehingga penis Sehun benar-benar terjepit. Sehun mengerang, tanpa sadar menampar bongkahan pantat Luhan hingga si pemilik mengaduh. Ia tidak peduli dan dalam 3 tumbukan terakhir Sehun telah mendapatkan orgasmenya.
"Argghh...!"
Cairannya mengalir dengan deras dalam lubang Luhan, terasa hangat dan basah. Luhan bernapas lega, Sehun kemudian melepas tautan tubuhnya. Membantu Luhan berbaring dengan hati-hati, ia mensejajarkan posisinya dengan Luhan, mengecup dahi berpeluh tersebut yang terlihat semakin seksi.
"Terimakasih, apa bayi kita merasa terganggu?" tanya Sehun sambil mengelus perut Luhan
"Tidak, dia merasa senang. Kau mengajaknya bermain tembak-tembakan, haha..." Luhan terkikik geli
"Si polos yang binal" sindirnya, Sehun menyentil hidung mungil Luhan
"Tapi kau menyukainya kan? jangan munafik" Luhan balas mendecih
Ganti Sehun yang tertawa, "Baiklah, aku mengakuinya"
Luhan menggesekkan rambutnya di dada Sehun, ia ingin sedikit bermanja-manja sebentar. Sehun juga menyisir helaian rambut belakang nya, ia kecupi ujung kepala Luhan berkali-kali. Jari-jari Luhan juga menyusuri bagian dada Sehun, menari-nari kecil disekitar sana. Sehun dan Luhan sama-sama menikmatinya, tidak ada yang ingin bicara saat ini. Hingga sebuah suara gaduh membuat mereka berdua berjengit kaget.
"Sehun, kau dengar?" Luhan mendongak kearah Sehun
"Segera pakai pakaian mu, kita kesana!" interupsi Sehun
.
.
.
"Huhuhuhu... hikss... Nenek maafkan aku hiks..."
Perempuan tua yang merupakan Ibu Luhan memicing tak suka, sambil bersedekap tangan ia melotot dengan wajah garang ke arah Ziyu. Si kecil yang diperlakukan demikian merasa ketakutan dan menangis kencang.
"Apa Ibumu tidak mengajarimu sopan santun? Lainkali pakai mata ketika jalan!" sentak Neneknya
Saat ia datang, tiba-tiba Ziyu menabraknya hingga membuatnya jatuh kebelakang. Wanita itu kesal dan Ziyu juga merasa bersalah. Tadinya ia hanya terobsesi pada belalang yang higgap diatas daun kemudian berlari untuk mengejarnya sebelum serangga itu pergi. Namun bocah tersebut tidak pernah menyangka akan menabrak neneknya yang baru saja datang.
"Maafkan aku, hik..hikss... aku tidak sengaja" Ziyu bersimpuh dibawahnya dengan berlinang air mata
Dari arah belakang, Sehun dan Luhan muncul. Sebagai anak dan menantu, mereka menunduk hormat pada wanita itu "Selamat datang, Ibu. Kenapa tidak memberitahuku jika akan berkunjung?" ujar Luhan seraya menyambut kedatangannya
"Aku hanya ingin menjenguk putraku, bagaimana bayimu? Sehat?" Ibunya mengusap perut buncit Luhan, ia tersenyum dan selalu menanti anak itu lahir.
"Ya, tentu. Semuanya berkat do'a ibu" Sehun menimpali, ia telah membawa tubuh mungil Ziyu dalam gendongannya
"Apakah tadi terjadi sesuatu, maafkan Ziyu yang membuat Ibu kesal" Luhan menunduk pada Ibunya
"Lain kali ajari dia tata krama pada yang lebih tua" Ibunmya Luhan berujar ketus
Ibu Luhan menghela napas, ada rasa tidak suka tersendiri melihat wajah Ziyu. Walaupun anak dan menantunya telah mengadopsi bocah itu, tapi tetap saja ia tidak setuju. Kalaupun bukan karena Sehun yang berkuasa disini, ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Ibu, silahkan duduk. Aku akan meminta Bibi Kim membuatkan teh"
"Tidak usah" wanita itu spontan menyahut
"Kenapa? Sudah lama Ibu tidak berkunjung, apa Ibu tidak ingin kita berbincang sebentar?" tukas Sehun
Wanita itu mengibas rambut terawatnya, mengamati satu persatu kukunya yang dilukis lalu berujar "Sayangnya tidak, aku sudah ada janji dengan seseorang sekaligus membenarkan kuku-ku yang mulai tidak beraturan. Ahh... astaga! Aku lupa, kurang 15 menit lagi diskon tas import besar-besaran di mall! Kalau begitu Ibu pergi dulu, aku cukup senang mendengar kau dan bayimu sehat"
Wanita itu melenggang pergi, tidak ingin menyempatkan diri hanya untuk sekedar berbincang melepas rindu dengan putranya yang sudah berumah tangga. Luhan menghela napas, semenjak ia menikah dengan Sehun, rasanya sang Ibu selalu memanfaatkan kekayaan suaminya. Bukan ia tidak suka, hanya saja Ibunya terlalu menghamburkan uang Sehun untuk kesenangannya sendiri.
"Sehunna, aku tidak menyangka Ibuku berubah sampai seperti ini" tukas Luhan kemudian, sambil menunduk
"Tidak apa-apa, biarkan beliau seperti itu. Hanya itu kan yang membuatnya senang?" Sehun mengusap pundak Luhan
"Ya, kau benar. Hanya saja—"
"Sudahlah, sekarang aku dan si jagoan kecil merasa lapar. Tolong buatkan makanan lezat wahai Ratu manly" titah si Raja dengan sedikit gurauan
"Ya ya Paduka Ratu, pangeran kecilmu lapaaar sekali hehehe..."Ziyu yang awalnya hanya termenung sedih sekarang tertawa lebar menikmati perannya sebagai pangeran di rumah ini
"Huftt... tidak sopan menyuruhku sebagai Ratu untuk memasak" Luhan mengerucut tapi kemudian "Pengecualian jika kalian yang meminta, aku akan membuatnya dengan sepenuh hati untuk yang tersayang"
Mulai dari yang kecil ia kecup sayang sampai yang besar, pengecualian untuk yang satu ini. Sehun meminta jatah lebih, dengan sekilas saling memagut bibir kemudian melepasnya. Luhan mendelik, tidak enak jika aksi keduanya disaksikan Ziyu. Beruntungnya si kecil sedang memandang kearah televisi.
"Cepatlahh... aku lapar!" rengek Sehun
"Arraseo"
.
.
.
Kim Seol mi. Wanita 48 tahun yang melahirkan Luhan 27 tahun yang lalu. Dahulunya ia hidup dalam keterbatasan ekonomi sejak suaminya meninggal, menghidupi dirinya bersama Luhan dengan mengandalkan usaha bubur miliknya, kini berubah 360 derajat menjadi seorang wanita sosialita dadakan.
"Nyonya Seol Mi, lihat! Aku memakai gelang limited eksklusif, hadiah ulangtahun dari suamiku" ujar temannya sambil memamerkan gelangnya
"Aku juga, barusan aku membeli tas keluaran terbaru Prada" Seol Mi menimpali, tidak mau kalah
Bisa ditebak darimana ia mendapatkan seluruh barang-barang mahal tersebut, mulai dari ujung rambut sampai mata kaki semuanya terkesan glamour. Rambut indah hasil perawatan salon, pakaian bermerk, lukisan kukunya yang artistik, untaian perhiasan yang menggantung ditubuhnya, tas impor sampai high hells yang membuat kakinya semakin jenjang. Rasanya ia kembali muda 10 tahun yang lalu.
"Seol Mi!" seseorang memekik
"Hi Sayang, aku disini" ia melambaikan tangan, pria itu menuju kearahnya
"Jadi berkencan hari ini?"
"Tentu" Seol Mi menyahut, lantas ia berpamitan pada teman-temannya "Hari ini aku tidak bisa berlama-lama dengan kalian, aku punya janji"
"Semoga kencanmu menyenangkan" tukas temannya
Semenjak ia mendadak kaya, perlahan ia lupa perannya sebagai Ibu. Awalnya, Sehun memintanya untuk tinggal bersama di mansion megah tersebut, namun ia menolak. Ia malah meminta dibelikan apartemen dan berjanji akan sering-sering menjenguk putranya walau tidak tinggal bersama. Nyatanya wanita itu mengingkari janjinya sendiri, ia lebih sering menghamburkan uang Sehun untuk bersenang-senang.
Malam ini Luhan tengah dilanda rindu berat pada sang Ibu, sudah beberapa hari ponsel Ibunya tidak aktif. Akhirnya ia mengambil inisiatif untuk mengunjungi Ibunya, tapi ternyata wanita itu tidak berada dirumah. Luhan mendengus betapa ia muak melihat apartemen ini, tas-tas berserakan sampai botol anggur yang tidak dirapikan.
"Dia seperti bukan Ibuku" gumamnya jengkel
Ia tetap membersihkan apartemen tersebut meskipun kondisi perutnya semakin membuncit, kalaupun Sehun tahu, suaminya itu tidak segan-segan untuk mencegahnya melakukan aktivitas berat. Ketika ia bersih-bersih, sesekali matanya melirik barang-barang mahal milik Ibunya, Luhan jadi tersenyum masam. Apakah Ibunya hanya memanfaatkan kekayaan Sehun?
Sejatinya ia maupun Sehun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun Luhan berandai jika Sehun jatuh lagi seperti dahulu, hidup terkatung-katung dan tidak memiliki apapun. Apakah Ibunya akan tetap menyayangi Sehun sebagai menantunya? Luhan mau dipersunting Sehun karena ia mencintainya, bukan karena uangnya. Tidak masalah jika Perusahaan suaminya bangkrut, ia sudah berjanji dihadapan Tuhan untuk terus berada disisinya dalam kondisi apapun.
"Ibu, aku hanya ingin kau tulus menyayanginya. Benar-benar menganggap laki-laki itu sebagai menantumu. Bahkan jika suatu hari kekayaan tersebut lenyap"
Brakk
Luhan terkejut, ia menoleh kebelakang dan mendapati Ibunya tengah mabuk sambil dibopong oleh seorang laki-laki berumur
"Siapa kau?! Apa yang terjadi pada Ibuku?" kontan Luhan menginterupsi, namun pria itu malah menyerigai
"Oh, jadi kau putranya? Ahh... aku kekasih –tidak aku hanya bilang cinta didepannya saja. Ibumu terlalu bodoh, karena rasa cintanya aku dengan gampang memoroti uangnya" pria itu lantas terbahak
Luhan mengepalkan tangan, pemandangan dihadapannya membuat ia semakin muak. "Pergi kau!"
"Sayang, aku mengantuk" rancau Ibunya digendongan pria itu
"Kau dengar—"
"Pergi atau ku—"
"Luhan?!"
Sehun berseru, lantas suaminya itu membelakanginya. Berusaha mencegah Luhan untuk tidak berhadapan dengan pria itu "Pergi darisini atau aku akan memanggil pihak keamanan"
Tahu bahwa Sehun nampak lebih kuat, akhirnya pria itu mengalah "Baiklah"
Dengan gampangnya pria itu menjatuhkan Ibu Luhan, untung saja Luhan menangkapnya dan memapah wanita itu ke ranjang. Melepas sepatu mahalnya kemudian menyelimuti wanita itu agar tetap hangat.
"Biarkan Ibu istirahat, aku ingin bicara sebentar" tukas Luhan, ia matikan lampu tidur sebelum beranjak menuju sofa ruang tamu
"Untungnya kau datang" gumamnya
"Kau baik-baik saja?" Sehun mengamati Luhan
"Aku baik, terimakasih. Malam ini ijinkan aku menginap sehari saja" pintanya
"Baiklah, jaga kesehatanmu dan juga si kecil kita" Sehun menyempatkan diri mengusap lantas mengecup perut besar Luhan
"Dia selalu sehat" Luhan mengembangkan senyum "Ingin kubuatkan teh?"
"Tidak usah" Sahutnya, "Apa yang ingin kau bicarakan?" Sehun mengalihkan topik
"Itu... tentang Ibuku, kurasa dia banyak berubah" Luhan menunduk
"Ibuku selalu mengahamburkan uang yang kau beri, aku tidak suka. Setiap hari dia berfoya-foya untuk kesenangannya, aku—"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Uangku masih cukup untuk menghidupi kalian semua. Kalau tidak ada Ibumu, laki-laki baik sepertimu tidak akan lahir ke dunia. Aku cukup beruntung dan bahagia bisa memilikimu" Sehun menggapai telapak tangan Luhan, mengusapnya kemudian mencium tangan suci tersebut dengan sayang
"Aku hanya khawatir, apakah ia benar-benar menganggapmu sebagai menantu? Bukan karena uang, tapi aku ingin dia menyayangimu penuh sebagai menantu terlepas dari alasan uang" Luhan menimpali
"Hanya dirimu disisiku. Itu sudah cukup" tukasnya
"Maafkan Ibuku, aku mewakili—"
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu sampai meminta maaf"
Luhan menghela napas, menatap Sehun dalam "Pulanglah. Kau nampak lelah"
Sebelum berpisah, Sehun melumat bibir Luhan tanpa ijin. Namun Luhan tetap meladeninya, hanya 5 menit namun pagutan tersebut semakin lama semakin dalam dan terkesan intim. Tidak disadari bahwa kelamaan Sehun jadi profesional sekarang.
"Aku pergi" jemarinya mengusap sudut bibir Luhan yang dilelehi saliva mereka
"Hati-hati di jalan"
.
.
.
Siang ini, meskipun udara diluar cukup panas dan begitu menyengat kulit. Namun saat ini merupakan siang hari yang bersejarah, bagaimana tidak? Satu lagi keturunan Mendiang Oh akan melangsungkan pernikahannya.
Ya, wanita 27 tahun yang cukup dewasa, yang selalu ada disamping adik laki-laki tercintanya, Oh Sehun. Ia tidak pernah malu mengakui bahwa hidupnya sempat terpuruk beberapa tahun silam, memiliki adik yang pernah dirawat di Rumah sakit jiwa. Namun siapa sangka, kini keluarganya bangkit kembali dengan aura kebahagiaan yang selalu menyertai. Kehadiran Luhan –merupakan salah satu faktornya, dan sekarang akan bertambah satu lagi bagian dari keluarga Oh, lelaki asal Perancis yang akan mendampingi hidup Oh Sera kedepannya.
Balutan gaun pengantin putih membungkus apik tubuh sintalnya, rok nya menjuntai indah, serta hiasan bunga-bunga mekar dikepala beserta buket yang ia bawa. Luhan tidak pernah tidak takjub memandangi wanita baik hati tersebut.
"Noona, aku begitu terpana melihatmu sampai mataku tidak pernah lepas memandangimu"
Sera bersemu, namun kemudian bibirnya mengerucut. Ia mengeluh pada Luhan "Kau tidak bohong, kan? Semalam aku tidak bisa tidur dan katung mataku –astaga, aku sudah menutupinya sampai menebal tapi—"
"Kau tetap cantik, Noona. Mau sampai kapan aku mengulanginya terus?" Luhan mendengus, dalam pangkuannya Ziyu bergerak tidak nyaman
"Bibi sangaaaaat cantik sekali" Ziyu menimpali, ia mengacungkan dua jempol mungilnya
"Dengarkan Ziyu, dia masih polos. Mana mungkin berbohong padamu" ujar Luhan
Sera mengembuskan napas, ia menyerah "Baiklah, tapi aku sedikit merasa tidak percaya diri"
"Bertaruh denganku, kalau sampai suamimu itu tidak memujimu cantik hari ini. Kelak ketika aku datang ke apartemen barumu, sediakan banyak cup besar bubble tea lengkap dengan camilannya. Kau sanggup?"
"Deal" Sera langsung menjabat tangan Luhan
"Aku tidak pernah lupa akan janji, ku jamin itu" tukas Sera
"Selamat untukmu, Sera Unnie"
Tiba-tiba suara perempuan menginterupsi, keduanya menoleh. Rupanya Hani yang datang bersama Jaemi. Hani memeluk Sera dan sekilas menempelkan kening. Wanita itu menyodorkan buket bunga Lily sebagai hadiah.
"Aku senang kau ikut menghadiri upacara pernikahanku. Juga terimakasih untuk bunganya" tukas si pengantin
"Tidak masalah" ujar Hani, ia melirik Luhan sebentar kemudian pamit "Kalau begitu aku keluar dulu, sekali lagi selamat ya"
"Jangan lupa foto bersama nanti!" pekik Sera
"Itu bisa diatur" sahutnya lantas menggandeng Jaemi, ia hendak membuka pintu namun didahului oleh seseorang
Krieet...
Rupanya Sehun. Suaminya.
"Direktur Oh, senang bertemu anda disini" sapanya
"Bicaralah informal jika sedang tidak di kantor" tukas Sehun, ia menyahut "Terimakasih atas kehadirannya"
"Sama-sama. Aku permisi, Direktur" Wanita itu tersenyum sekilas dan berlalu pergi darisana.
"Papa...!"
Ziyu langsung berlari kearah Sehun dan mendekapnya kuat, sang Papa menggendongnya dengan sayang. Sehun melirik Luhan yang terus tersenyum hari ini "Sayang, upacara pernikahannya akan segera dimulai. Bisa tinggalkan Noona cantik kita sekarang?"
"Tentu saja" Luhan menyahut, dengan senyum yang merekah ia mengangkat dua tangan terkepalnya "Semangat, Noona! Kau pasti bisa. Jangan gugup, mengerti?"
"Ya ya ya... aku tidak menyangka kalian yang menasehatiku sekarang. Tahu begini aku menikah lebih dulu sebelumnya" ujarnya disertai dengusan yang dibuat-buat
"Terimakasih adiku, Luhan, serta kehadiran Ziyu dalam keluarga ini. Aku tidak percaya akhirnya akan berlangsung bahagia seperti sekarang, aku terharu. Mengingat kita semua dalam jeratan kilas pedih masa lalu. Semuanya masih terasa mendadak, ak.. aku—"
"Sudahlah, Noona. Masa lalu jangan diingat kembali" Luhan membawa Sera dalam pelukan hangatnya. Wanita itu menangis sesenggukan di pundaknya, Sehun ikut terharu. Ia menurunkan Ziyu dan ikut memeluk Noona tersayangnya, ia teringat bagaimana dulu ia sangat menolak kehadiran wanita ini, dan sekarang ia menyesal. Wanita ini bagaikan pondasi dalam hidupnya.
"Lihat sekarang, aku berani memeluk Noona dengan erat. Tidak menolak kehadiranmu lagi seperti dahulu, semua ini juga berkat bantuan Luhan. Kalau saja Noona meninggalkanku, entah jadi seperti apa keluarga ini. Terimakasih karena telah bersabar merawatku, Noona. Kini saatnya kau berbahagia dengan laki-laki pilihanmu"
Hati Sera menghangat, antara rasa haru dan bahagia begitu membuncah. Ia tergerak untuk memeluk Sehun, adiknya begitu erat dan penuh sayang "Ya, dan aku juga tidak sabar menanti keponakanku lahir, dia akan menghidupkan lagi keceriaan keluarga kita yang sepi dulu"
"Hmm... itu hadiah terindah dariku, Noona" Adiknya menimpali
"Noona, haruskah aku membenahi riasanmu lagi?" Luhan menyahut menawarkan diri
Si pengantin wanita tertawa ringan, ia mengusap lelehan air matanya "Tidak usah, biarkan aku jelek agar suamiku tidak jadi memuji. Dengan begitu tantangan darimu akan gagal"
"Noona benar-benar..."Luhan berdecak
.
.
.
Janji suci sudah terucap, baik Sehun maupun Luhan bahagia melihatnya. Dari awal acara sampai sekarang ia tidak pernah luput memandangi dua sejoli yang tengah berbahagia itu, sama bahagianya dengan dirinya saat ini.
"Sayang, apa kau juga merasa bahagia?" Sehun berujar lirih pada Istrinya, namun tidak ada sahutan. Ia menoleh, mendapati Luhan seperti sedang mencari seseorang. Namun pria-Nya itu kemudian mendengus jengkel.
"Kenapa?" interupsinya lagi
"Eomma tidak hadir, padahal ini acara—"
"Ssst... sudahlah, biarkan saja Ibumu"
Sehun menghela napas, lagi-lagi Luhan mempermasalahkan Ibunya. Tetapi apa yang dirasakan Luhan juga sama sepertinya, setidaknya Ibu mertuanya itu juga turut hadir walau sesibuk apapun. Hanya saja Sehun tidak pernah melontarkannya secara langsung, ia takut ucapannya melukai hati Luhan.
"Apa kau tidak lapar? Hmm... bau hidangannya sampai tercium kesini" Sehun berseru, ia mencengkram pergelangan Luhan dan membawa istrinya kesana
Kue-kue beserta hidangan lezat lainnya tersaji apik dengan tampilan menggugah selera. Luhan tidak bisa mengontrol nafsu makannya jika dihadapkan dengan semua ini. Paling tidak ia bisa mencicipi semuanya, persetan dengan diet. Semenjak kehamilannya, bobotnya terus naik. Bentuk tubuhnya juga mengalami sedikit perubahan, namun suaminya itu tetap mengatakan bahwa ia cantik.
"Masa bodoh, Sera juga tidak mungkin menikah dua kali. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya umhh..."
Luhan melahap kue-kue itu beringas, efek rasa manis yang ditimbulkan membuatnya semakin bersemangat. Sehun yang disampingnya tetap membiarkan sambil mengembuskan napas berat. Melihat Luhan dalam kondisi hamil, nafsu makannya bertambah dua kali lipatnya.
"Astaga! semua ini enak umh... nyam nyam... yang disana juga—"
Intonasinya menurun, Luhan terdiam bahkan kue yang ia pegang terjatuh. Sehun disampingnya panik, ia hendak bertanya pada Luhan namun pria-nya itu memandang kosong. Satu tangannya terangkat dan mendarat pada perutnya, semakin lama rasa nyeri itu menjadi-jadi.
"Akhhh...!"
Luhan jatuh limbung, dengan sigap Sehun menggapainya. Ia merasakan Luhan mencengkram lengannya erat, mukanya memerah padam serta keringat yang mengucur deras. Oh tidak, Luhannya sedang menahan sakit. Ini pertama kalinya, dan Sehun amat panik.
"Asisten Kim, Cepat siapkan mobil!" teriaknya
Sehun memandangi Luhannya yang sedang merintih, mata rusanya sesekali memejam menahan sakit.
"Bertahanlah sebentar, sayang"
Sebagai penenang, Sehun mengecup dahi Luhan lama dan begitu sarat akan cinta.
.
.
.
Ditemani Hani, Sehun berulangkali mengembuskan napas berat sambil mulutnya bergerak-gerak merapalkan doa pada Yang Kuasa. Sebagai calon Ayah, rasa gugup tersebut sangat besar ketika menanti persalinan buah hatinya. Ya, buah hati yang tumbuh atas dua perasaan saling mencintai antara dirinya dan Luhan –lelaki yang telah ia percayai untuk selamanya.
Tidak ada yang menyangka, bahwa si jabang bayi akan lahir sekarang. Kakaknya, Sera. Masih harus menjalani prosesi pernikahan, sedangkan Ibunya? Ahh... wanita itu. Sebenarnya ia tak ingin durhaka, namun kelamaan wanita itu membuatnya kesal setengah mati. Namun untungnya Hani bersedia menemaninya disini, wanita cantik itu menjaga Jaemi beserta Ziyu selagi menanti tangisan seorang bayi dari dalam ruangan sana.
"Semangat! Luhan pasti bisa melewatinya, aku yakin itu" ujar Hani ditengah kesunyian
"Ya. Aku begitu tegang, terimakasih semangatnya" timpalnya
Hani tersenyum, sekelebat ingatan saat ia melahirkan Jaemi dulu. Junmyeon juga sama cemasnya, harusnya Sehun yang merasakan itu. Namun ia terlanjur berkhianat dan terjebak dalam permainan Junmyeon. Tapi itu masa lalu, diantara mereka tidak ada lagi yang mempermasalahkannya.
Lama mereka terdiam lagi, Hani berinisiatif untuk membeli dua kaleng kopi. "Kau mau kopi, kurasa nanti malam kau harus begadang?"
"Tidak usah, aku—"
Oeeekk... oekkk...
Tubuh Sehun menegang, ia menatap teduh pada pintu ruangan dimana di dalamnya terdapat Luhan beserta bayinya. Sehun mendengarnya, buah hatinya itu menangis dengan keras. Ia terharu, dia adalah anaknya setelah 4 kali menikah. Dan itu bersama Luhan.
"Ya Tuhan. Aku tidak percaya ini" ia bergumam lantas bernapas lega
"Sehun-ah selamat! Kau jadi seorang Ayah sungguhan sekarang" Hani bersorak girang, ia menepuk pundak Sehun berkali-kali
"Ziyu-yah, kau dengar? Adikmu telah lahir ke dunia!" Sehun menciumi dahi putra angkatnya, Ziyu juga nampak senangnya seperti yang lain
"Ayo Papa! Aku ingin lihat adik bayi" serunya bersemangat
.
.
.
Namanya Oh Haowen. Bayi laki-laki tersebut memiliki wajah domianan seperti Papa nya. Kulit putih, mata sipit serta dagu lancipnya benar-benar duplikat seorang Oh Sehun. Luhan tak pernah berhenti menatap lekat putra yang baru saja dilahirkannya. Bayi tersebut sedang menyusu rakus, sedangkan jemari Luhan mengusap dahinya sayang.
"Jadilah anak yang pintar seperti Papa, dan baik hati seperti Bunda. Kelak saat besar, kau juga harus akur dengan Hyungmu" Luhan bergumam sayang
Dari samping, Sehun juga mengenggam jemari mungil bayinya yang terus mengepal. Ia mengelusnya sayang lantas ikut bergumam "Bundamu benar, aku begitu bahagia ketika kau lahir. Seluruh kebahagiaanku terasa lengkap berkat kehadiranmu"
"Bukankah semua orang menantikan kelahirannya?" Luhan menyahut, Sehun juga mengiyakan
"Benar, apalagi aku. Ahh... rasanya aku jadi tidak sabar mendengarnya memanggilku Papa"
Bayi dalam pelukan Luhan menggeliat-liat. Rupanya ia sudah kenyang. Perlahan si mungil memejamkan matanya sampai tertidur lelap.
"Kapan Haowen besar? Aku tidak sabar ingin mengajaknya bermain bersama!" Ziyu berseru, menatap lekat Haowen dengan penuh cinta
"Sabar ya Ziyu, nanti kalau Haowen bermain denganmu kau harus bisa mengalah. Arraseo?"
"Nde eomma!"
Krieet...
Pintu terbuka, beberapa pria laki-laki bertubuh tegap datang dengan seragam polisi lengkap. Sehun dan Luhan dibuat saling berpandangan, apa gerangan mereka datang kemari? Sebagai kepala keluarga, Sehun yang maju menghadapi mereka.
"Selamat siang Tn. Oh, kami mengucapkan selamat atas kelahiran putramu. Tapi kami mohon maaf jika harus menyampaikan berita tidak mengenakkan ini—"
Ditempatnya Luhan menegang, ia takut terjadi sesuatu.
Dipoisinya Sehun mencoba bersikap tenang "Apa yang terjadi?"
Beberapa dari mereka menghela napas, rasanya sungkan ketika melihat keluarga tersebut sedang dilanda rasa kebahagiaan. Namun mereka tetap harus menyampaikannya walaupun pahit.
"Ny. Seol Mi meninggal di apartemennya. Ia ditemukan tewas diatas ranjangnya dengan beberapa luka tusukan serta bekas cengkraman tangan pada lehernya. Setelah kami selidiki, barang-barang berharga korban juga dibawa kabur. Kami masih mencari identitas pelaku untuk menangkapnya"
Luhan bersandar lemas, rasa bahagianya kandas tergantikan dengan bulir tangisan pilu.
"Kami mengharap kerjasama anda untuk ikut ke TKP saat ini juga"
Sehun melirik Luhan, ia tahu istrinya sedang terguncang. Langkah pelannya ia bawa untuk memeluk erat Luhan, mengecup dahinya berkali-kali hanya untuk memberikan rasa tenang. "Kau tunggulah disini, aku akan segera kembali"
"Sehunna hikss..."
"Ssstt... tenanglah sayang, ingat Haowen masih membutuhkanmu" bisiknya sambil terus mengusap belakang kepala Luhan
Pria-nya mengangguk mengerti, perlahan ia melepas pelukannya. Membiarkan Sehun pergi
.
.
.
Sekelebat ingatannya saat wanita itu dengan tulus merawatnya, mengantarkannya sampai sejauh ini, walau terkadang beberapa ucapannya menyinggung hati terdalamnya. Luhan tidak pernah lupa, untuk terakhir kalinya saat sang Ibu menjenguknya, dia mengatakan bahwa ingin segera melihat Cucu tersayangnya.
Luhan tahu, bahwa Ibunya tidak menyukai kehadiran Ziyu.
Meski telah berubah banyak, namun naluri seorang Ibu tidak pernah luntur dalam dirinya. Bisa ia pastikan, ketika bertemu Haowen Ibunya akan langsung menggendong bayi tersebut dan menumpahkan seluruh kasih sayangnya, sama seperti ketika Luhan lahir dahulu.
Namun kini semuanya hanya angan, Ibunya telah tiada akibat perbuatan keji seseorang. Harusnya ia melarang sang Ibu tinggal sendiri, harusnya ia bisa menjaga Ibunya, harusnya—
"Hahhh..."
Luhan memejamkan mata, meresapi rasa kehilangan yang menyedot seluruh pikirannya. Ia salah, membuang stamina primanya untuk menangisi kepergian sang Ibu. Sehun berkata benar, Haowen disini masih membutuhkannya. Hanya saja ini lain cerita, keadaannya begitu sulit. Ia bahagia Haowen lahir dengan selamat namun ia harus membayar setimpal atas kepergian sang Ibunda.
Ia melirik Haowen, bayi tersebut menggeliat resah dalam tidurnya.
"Kau belum minum sejak tadi" Luhan menggumam, ia melepas dua kancing atas kemejanya. Mendekatkan bibir mungil si bayi pada putingnya
Sayangnya, Haowen menolak minum. Hal tersebut semakin membuat Luhan gusar
"Apa yang terjadi padamu, nak? Kenapa menolak susu Ibumu? Apa kau juga merasakan kepedihan yang sama sepertiku?"
Oeeek... oekkk...
Tangis Haowen pecah, Luhan kelimpungan. Untungnya Babysitter tersebut langsung tanggap untuk membantunya.
Luhan terduduk lemah, masih terdiam untuk beberapa menit. Tiba-tiba Sehun sudah berdiri disampingnya, membawa sebuah guci berisi abu yang ia yakini itu milik Ibunya.
"Setidaknya aku ingin kau memberikan penghormatan terakhir" Sehun berujar lirih, tidak tega melihat kondisi Luhan
Luhan bangkit, mengusap sekilas air matanya. "Ayo!" serunya
Dengan hati-hati, Sehun meletakkan guci tersebut disamping guci lain milik Ibu dan Ayahnya. Sehun dan Luhan berdiri sejajar, membungkuk hingga bersujud sebagai bentuk penghormatan pada mending sang Ibu.
Setelah bangkit dari sujudnya, Luhan terisak kencang. Masih belum merelakan kepergiannya.
"Sehunna, tanpa Ibu ak-aku merasa... hikss..."
"Jangan bersedih, masih ada aku disini" Sehun membawa Luhan dalam dekapan hangatnya
Luhan tidak bisa bicara lagi, ia sesenggukan hebat. Sang empu juga merasa jas bagian pundak kanannya terasa amat basah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengusap punggung prianya dan membisikkan kata penenang. Ya, seperti dulu ketika Sehun terpuruk.
"Aku pernah mengalami hal serupa. Kini kita tidak memilki orangtua lagi. Namun kehadiran Noona, kau, dan anak-anak kita. Aku sudah merasa lengkap"
"Jangan pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu, kita akan terus bersama walau sesulit apapun keadaan. Tetaplah disampingku dan jangan buat aku kecewa. Aku... telah percaya sepenuhnya padamu"
Satu senyuman tersungging di bibirnya "Kau yang terakhir walau bukan yang pertama, aku mencintaimu untuk selamanya"
"Na.. hikss... d-do..."
"Jadi sekarang, mari kita tetap selalu bersama. Dalam suka maupun duka. Seperti janji suci yang kita ucap dulu dihadapan Tuhan, sekalipun aku tak pernah mengingkarinya. Pegang janjiku, Luhan. Aku bersumpah atas seluruh cinta dan kasih sayangku. Semuanya milikmu"
.
.
.
-o0o0o0-
Kepikiran beberapa readers yang minta sequel sana-sini, akhirnya aku buatin juga (mumpung mood lagi baik gara-gara abis ultah :v ) Alhamdulillah seluruh kegiatan bermalam udah selesai, bertahap FF ku yang lain akan dilanjut secepatnya. sampai jumpa lagi :)
