TaexBugi
.
.
Kim Taemin.
Kim Jonghyun.
Support : Kim 'Kangin' Youngwoon, Hwang Minhyun, Ong Seungwoo, Kang Dongho, Jung Chaeyeon.
Mentioned! PD101 S2 Members.
.
.
.
Chapter : 2
.
.
.
Jonghyun berjengit kecil, saat tiba-tiba pundaknya ditempeli oleh kepala. Dan ia hanya bisa mengkesah pendek, karena hanya satu orang yang selalu berbuat seperti itu terhadapnya.
"lah, taemin? Tumben gak bareng 3 sekawan lu itu?"
Taemin tersenyum ramah pada seungwoo yang barusan berujar.
"lagi libur dia, ong. Lagi bener otaknya"
Taemin terkekeh menyahuti ucapan minhyun lalu melingkarkan lengannya sepanjang pinggang jonghyun.
"lu kenapa lagi? Ketauan sebat? Kena kemplang bokap lagi?"
Taemin mengangguk kecil atas pertanyaan Ong Seungwoo, yang memang adalah tetangga sebelah kirinya di unit apartment yang sekarang ia tempati bersama dengan sang ayah.
"gua lupa buang bungkusannya keluar. Gua malah ngebuang bungkusannya di tempat sampah kamar gua. Abis gua sama pak dokter yang terhormat"
"bloon lu tuh emang gak ada yang bisa nandingin, taem. Salut gua"
Itu dongho yang barusan berujar dan dengan seenaknya ia mengambil tempat di antara jonghyun dengan taemin. Membuat taemin misuh sendiri karena di pisah paksa saat tengah asik menggelayuti sang mantan ketua komisi kedisiplinan siswa tersebut. Dan mendapatkan tawa geli dari 3 sisanya yang memperhatikan kelakuan keduanya.
"dong"
"apaan?"
"gua kemaren liat paca sama sewoon lagi jalan abis balik sekolah. Nonton mereka. Lu tau gak?"
Dongho yang ingin menyuap ramyun cup ke dalam mulutnya, mengurungkan niatnya saat mendengar celetukan taemin barusan.
"kemaren?"
Taemin mengangguki sahutan seungwoo. Jonghyun dan minhyun saling bertukar tatap lalu kompak menatap dongho dengan khawatir setelahnya.
"emang lu beneran ngincer si sewoon, dong? Gua nanya seriusan nih"
Dongho menatap taemin tanpa berkedip. Tangannya yang menyendok ramyun, bahkan masih menggantung. Ada hening yang terasa canggung disana. Membuat minhyun gerah sendiri dan akhirnya, menyepak tulang kering taemin dibawah meja. Membuat lelaki bermarga kim satu itu mengaduh keras.
"pak ketua padus anarkis banget, astaga"
Minhyun berdecak dan membuat taemin diam seketika, waktu matanya menyiratkan perintah untuk diam saat menyorot taemin.
Dongho terkekeh kecil lalu memasukkan ramyun tersebut kedalam mulutnya.
"iya. Gua ngincer si sewoon. Bilangin sama youngmin"
Taemin menatap dongho lalu mengangguk kecil sembari mengacungkan ibu jarinya.
"kalo gak dapet gimana, dong?"
Dongho menatap seungwoo lalu tersenyum lebar.
"kan masih ada minhyun. Yang setia nungguin gua"
Minhyun mengenyit lalu tangannya naik untuk memberikan tepukan keras pada pucuk kepala dongho.
"astaga. Gak boleh kasar sama calon pacar, hyun. Gak baik"
"diem lu!"
Dongho tergelak bersama yang lain.
"siapa? Kak minhyun calon pacarnya bang dongho?"
Anak terakhir keluarga kim menampakkan dirinya dengan sebotol jus anggur ditangannya. Minhyun sedikit menggeser duduknya agar junghyun mendapatkan tempat bersama mereka.
"iya, dek. Doain ya supaya abang sama kak minhyun cepet jadian"
"dongho. Anjir. Apaan sih!"
"anjir-anjir, mukanya merah tuh"
"yeu! Ini mah gara-gara panas, bloon"
"iya. Kepanasan gara-gara hadep-hadepan sama calon pacar gini. Iya kan, yang?"
Junghyun menggeleng takdzim. Dongho yang suka melantur sudah bukan hal baru lagi baginya. Walaupun saat tengah berkumpul dengan anggota komitenya, dongho akan terlihat sangat berwibawa dan berkarisma. Tapi, dihadapan teman-teman dekatnya, dongho hanyalah lelaki pecinta ikan hias, yang suka sekali tertawa karena hal kecil, yang menurun pada adiknya, Kang Euigeon.
"lah? Kak minhyun kan lagi deket sama hyunbin, bang"
Minhyun menoleh cepat pada junghyun dan menyuruhnya bungkam, lewat tatapan matanya.
"hyunbin? Hyunbin—temen lu itu, dek? Yang sering kerumah?"
Junghyun mengangguki pertanyaan sang kakak pertamanya.
"iya. Yang sering maen ps sama gue, mas. Yang sipit—eh. Taedong juga sipit deh. Yang paling tinggi itu, mas"
Jonghyun menjatuhkan rahangnya, terkejut sekaligus takjub. Minhyun menutup matanya sembari menghela nafasnya dengan perlahan. Ia terlambat menutup mulut si gembul junghyun yang layaknya whistle-blower tersebut.
"lu tau orangnya, jong?"
Jonghyun menoleh pada dongho dan mengangguk.
"sering ngobrol sama gue malah. Sering maen kerumah soalnya. Kalo udah maen dirumah, biasanya baru pada balik sore"
Seungwoo menyanggah kepalanya pada tangan yang ia tumpu diatas meja. Matanya menatap datar minhyun yang kini terlibat perdebatan kecil dengan junghyun.
"kok gak pernah bilang ke gua, dongho sama jonghyun, ya? Padahal duduk aja gak jauh loh. Pulang sekolah juga suka barengan. Kemana-mana, berempat. Kok gitu ya, hwang minhyun"
"g—gak gitu, ong~"
Seungwoo mengangguk lalu menatap dongho. Keduanya bertukar tatap lalu mengangguk-angguk kecil dengan kompak.
"cukup tau aja kita mah ya, ong"
Seungwoo mengangguk takdzim.
"ah. Ndut rese nih!"
"dih! Lagian kak minhyun gak bilang, kalo nih kakak-kakak belom pada tau"
Minhyun yang gemas, akhirnya mencubit pipi tembam junghyun.
"kan hyunbin, pasti udah bilang ke lu, dek"
Alis junghyun mengerut.
"bilang apaan? Hyunbin gak bilang apa-apa! Gue tau lu deket sama hyunbin aja, dari taedong, kak"
Minhyun mencebik sebal.
"monggo diklarifikasi, mas minhyun yang terhormat. Ketiga kawannya, sepertinya sudah mulai mengeluarkan taringnya" –taemin.
"heh!" –jonghyun, seungwoo, dongho.
Minhyun menatap satu-satu temannya lalu mengkesah panjang setelahnya.
"oke. Gue kasih penjelasan nih. Biar gak pada salah paham"
Minhyun menjeda ucapannya sembari mengambil alih jus milik junghyun.
"gue sengaja. Gak bilang ke lu pada itu, karena gue sama dia masih—apa ya? pendekatan? Ya pokoknya gitulah. Lagian, gue juga awalnya gak nyangka bakalan deket sama hyunbin. Lagian cuma deket doang kok"
Seungwoo mencibir pelan.
"santai kali, hyun. Lu kayak baru kenal sama kita sebulan-dua bulan"
Minhyun menjentik jarinya.
"justru itu, ong. Karena gue kenal kalian udah dari jaman sekolah menengah. Gue hapal brengseknya kalian tuh kayak apa. Gue gak mau kejadian lu sama si euigeon keulang sama gue ya, ong"
"anjing. Nyentek banget omongannya minhyun"
Lalu dongho terbahak bersama taemin. Membuat seungwoo melancarkan makian untuk keduanya. Sementara itu, jonghyun hanya terkekeh sembari mengusap-usap tangan seungwoo yang ada diatas meja.
"tapi, emang serius. Lu sama adek gua, belom jadian sampe sekarang, ong?"
Seungwoo menatap tajam dongho.
"diem lu, nyet! Gak usah nanya-nanya!"
Lalu meja tersebut kembali diliputi tawa sampai ada 3 orang gadis menyambangi meja berisi enam orang tersebut. Membuat tawa mereda secara perlahan.
"cari siapa—dek?"
Dongho bertanya dengan ramah pada para juniornya –gadis-gadis tersebut memakai name-tag berwarna putih, menandakan dirinya masih berada di bangku kelas 1, serupa dengan junghyun, itu.
"ca—cari—kak jonghyun, kak"
Jonghyun menukikkan alisnya. Taemin segera menumpangkan kepalanya pada tangan yang ia tekuk siku di meja. Agar lebih leluasa menatap salah satu gadis yang bermaksud menemui jonghyun.
"cari saya? Kenapa, dek?"
Gadis bersurai kelam sebatas dada yang dibiarkan terurai itu mengangguk.
"bo—boleh ngomong sebentar, kak?"
Jonghyun mengangguk sekali.
"ngomong aja. Ada apa?"
Semua yang duduk memasang telinga dengan siaga. Termasuk segelintir siswa yang duduknya tidak jauh dari meja yang ditempati oleh jonghyun dan kawan-kawannya.
"di—disini—banget, kak?"
Jonghyun mengernyit samar.
"emangnya, mau ngomong dimana lagi?"
Gadis tersebut terlihat salah tingkah.
"eung—maksud aku, berdua aja gitu. Aku ada perlunya sama kak jonghyun doang soalnya"
"bukan muhrim, dek. Nanti yang ketiganya setan. Gak inget apa sama ceramahannya pak yunho? Gua aja sampe hapal omongannya pak yunho kalo nge-gep ada yang pacaran di sekolah"
Meja yang tadinya hening karena kedatangan 3 gadis kelas 1 itu, berubah menjadi ramai dengan tawa akibat celetukan taemin yang sangat konyol. Karena, bagi mereka, ada seseorang yang menyatakan perasaannya pada jonghyun, bukanlah hal baru lagi. Mereka sudah sering melihat ada orang yang tiba-tiba mendatangi mereka, dengan niat menemui jonghyun, lalu menyatakan cintanya pada anak pertama keluarga kim tersebut.
Jonghyun melirik taemin yang tengah berbincang kecil dengan seungwoo dan dongho, lantas bangkit setelahnya.
"ya udah. Mau ngomong apa? Tapi gak bisa jauh-jauh. Bener kata taemin. Saya gak mau kena masalah sama pak yunho. Soalnya bakal ngerembet ke pak kangin"
Taemin melemparkan senyuman puasnya pada gadis yang tengah berhadapan dengan jonghyun, saat melihat raut sebal yang ditunjukan oleh gadis tersebut. Gadis yang lainnya, memberikan sebuah kotak kecil pada gadis yang ada didepan jonghyun. Dengan tangannya yang menjulurkan kotak tersebut pada jonghyun, gadis itu merendahkan kepalanya.
"aku suka sama kak jonghyun. Aku mau kakak jadi pacar aku, kak"
Meja jonghyun dan kawanannya hening seketika. Begitupun dengan beberapa meja yang ikut mencuri dengar. Beberapa orang yang ikut mendengar pernyataan cinta dari gadis itu pada jonghyun pun, rela menghentikan aktifitasnya. Taemin menatap jengah gadis tersebut lalu berdecih pelan.
"masih aja"
Niatnya hanya bergumam untuk diri sendiri, tapi nyatanya, gumaman taemin sampai pada telinga jonghyun. Jonghyun mengulum bibirnya. Sedikit salah tingkah saat berada pada situasi yang tak ia sangka akan menjadi seperti ini.
"eum—makasih udah suka sama saya, dek"
Mendengar balasan jonghyun, gadis tersebut mendongak. Menatap jonghyun dengan penuh harapan. Jonghyun tersenyum tipis.
"tapi, saya gak bisa bales perasaan kamu ke saya, dek"
Ada persimpangan di dahi gadis tersebut saat jonghyun melanjutkan ucapannya.
"kenapa, kak?"
Jonghyun mengulum bibirnya yang terasa kering. Tiba-tiba saja, punggungnya terasa dingin dan itu menusuk. Seperti ada beberapa pedang imajiner berasal dari tatapan yang menusuk punggungnya, buah dari rasa penasaran para teman-temannya –dan adiknya, tentu saja, yang ia punggungi saat ini.
"dek" –dongho dan seungwoo
"hah?" –junghyun
"lu kenal tuh bocah padaan?" –seungwoo
"tau muka doang, kak. Kalo gak salah sih, mereka itu kelas 1-3. Sekelas sama si sewoon tuh, kak" –junghyun
Dongho melirik kecil junghyun lalu menjitak taemin yang tertawa tanpa suara disebelahnya. Karena mereka tengah saling berbisik. Agar tidak menganggu jonghyun dan 3 gadis dihadapannya.
"tapi, bang. Dia sering nitipin kado-kado kecil gitu emang ke gua. Nitip buat mas jonghyun"
Seluruh kepala menoleh pada junghyun.
"serius?"
Junghyun mengangguki ucapan minhyun.
"soalnya—saya gak bisa"
Keempat kepala murid kelas 3 sekolah tinggi sejong, kembali menghadap jonghyun.
Gadis dihadapannya terlihat tidak puas dengan jawaban jonghyun.
"gak bisanya, kenapa, kak?"
Jonghyun menggaruk sisi belakang telinganya. Salah satu kebiasaan kecil yang akan ia lakukan jika merasa salah tingkah. Taemin tersenyum samar melihatnya.
"eum—ya—gak bisa, dek"
"mau fokus ujian? Ujian kan masih lama, kak"
"anjir dia nge-gas" –seungwoo
"emansipasi wanita. Ceweknya nge-gas pas ditolak" –minhyun
"gua suka nih cewek kayak gini. Tipe cewek tangguh tak mengenal hambatan. Gaspol pokoknya" –dongho
"lah? Abang gak jadi suka sama sewoon? Abang sukanya sama chaeyeon?"
"anjir. Si ndut suka bikin ngakak nih" –taemin
Dan bisikan-bisikan dibalik punggungnya, membuat jonghyun merasakan otaknya kosong. Bingung memikirkan ucapan apa yang akan ia lontarkan sebagai balasan dari gadis yang bername-tag Jung Chaeyeon ini.
"kak jonghyun?"
Jonghyun mengerjap. Ia pun mengkesah pendek.
"soalnya—soalnya, saya udah taken sama orang lain, dek"
Meja kembali senyap selepas jonghyun bersuara.
"gue salah denger gak, sih?" –minhyun
"jonghyun bilang apaan? Itu seriusan?" –seungwoo
"jonghyun taken sama siapa?" –dongho
"dek. Lu tau kakak lu taken?"
Minhyun menatap junghyun yang duduk disebelahnya dengan serius. Begitupun dengan 2 pasang mata yang lain. Sementara sepasang obsidian hitam, memberikan tatapan, suruhan untuk bungkam yang bersifat mutlak. Sinar jenaka yang biasa obsidian itu pancarkan, berubah menjadi serius dan dalam. Junghyun mengulum bibirnya lalu mengangkat bahunya.
"jonghyun bokis, ya?"
Seungwoo meragu. Dan itu serupa dengan 2 temannya yang lain.
"kata anak-anak, kakak belom taken sama siapa-siapa. Kakak, serius?"
"neng. Lu suka apa punya obsesi sama jonghyun, neng?"
Keempat kepala, memutar. Menghadap taemin yang sedaritadi tidak bicara, tiba-tiba bersuara. Dan suara yang ia keluarkan terdengar cukup berat saat ditilik oleh telinga jonghyun.
"eum—kak. Bukannya gue gak hormat. Tapi, gue cuma punya urusan sama kak jonghyun"
Taemin tersenyum lalu bangkit dengan kedua tangannya yang ia lesakkan pada kedua saku celana seragamnya.
"iya. Tau. Gua tau, kalo lu punya urusan sama jonghyun doang"
Taemin keluar dari kursi kantin dan mendekat pada jonghyun lantas merangkulnya. Jonghyun menatap taemin waspada.
"tapi, semuanya jadi urusan gua juga. Berhubung lu punya urusan sama pacar gua"
Kantin menjadi lebih senyap ketimbang saat chaeyeon menayatakan perasannya pada jonghyun. Chayeon berdesip pelan lalu tersenyum pada taemin.
"kak? Kakak yakin? Pacaran sama ketua komdis? Kak jonghyun ini tuh mantan ketua komdis loh, kak. Nah, kakak? Kakak sering keluar masuk bp sama kak sanggyun, kak sangbin, kak youngmin"
Taemin mengangguk lalu menurunkan tangannya yang tadi merangkul pundak jonghyun, beralih melingkar erat pada pinggangnya. Membuat seungwoo membolakan matanya saat menyadari hal tersebut. Pasalnya, hal itu taemin lakukan, tepat didepan matanya.
"lah? Emang kenapa? Ada peraturannya, kalo ketua komdis gak boleh pacaran, sama anak yang sering keluar masuk ruang bp, macem gua? Sanggyun, dia pacarnya kak taehyun. Mantan ketos 2 tahun yang lalu. Sangbin? Dia pacaran sama kak sungwoon. Mantan sektum komdis tahun kemaren"
Gadis yang memang sebal pada taemin –karena terpengaruh stigma warga sekolah, kini bahkan berani bersidekap.
"enggak sih, kak. Tapi—kayak gimana, ya? Mungkin bukan gue doang yang ngerasa. Faktanya, antara lo sama kak jonghyun itu kayak timpang. Kak jonghyun terlalu—tinggi?"
Junghyun dan dongho, kompak menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan chaeyeon. Sementara seungwoo dan minhyun, kompak saling tatap karena terkesiap. Tidak menyangka bahwa ada seorang gadis di tingkat satu yang berani menatap rendah kakak kelasnya yang ada di tingkat tiga. Dan menyuarakan pemikirannya dengan lantang seperti itu. Padahal, ia hanyalah segelintir orang yang terkena doktrin 'taemin anak nakal'.
Taemin terkekeh pelan dengan tangannya yang mengerat di pinggang jonghyun. Hati jonghyun berdegup kencang. Siap mengantisipasi seluruh ucapan yang akan dilontarkan oleh lelaki yang masih setia merangkul pinggangnya tersebut.
"iya juga, sih. Tapi. Gua sama jonghyun udah pacaran dari sekolah menengah, dek. Gua sama jonghyun udah pacaran dari jaman gua masih polos sampe jadi anak bangor yang sering keluar masuk ruang bp, buat ketemuan sama pak kangin sama pak kyuhyun. Coba itung. Udah berapa tahun tuh gua sama jonghyun pacaran"
Dan tiga kepala lainnya, yang masih bertahan di kursi, kembali memutar pada junghyun yang masih bungkam. Namun, seulas senyuman terukir pada bibirnya. Membuat ketiga teman sekelas jonghyun saling pandang satu sama lain.
"dek. Itu taemin beneran?" –minhyun
"taemin gak lagi ngarang bebas, kan?" –dongho
"gak mungkin. Gua yakin taemin cuma akal-akalan doang. Dia kan suka menel sama jonghyun. Ini dia, cuma bales dendam nih sama tuh cewek. Lu denger kan tadi tuh bocah satu ngerendahin taemin gitu?" –seungwoo
Junghyun memperjelas senyumannya lalu bangkit.
"oh iya, chaeyeon"
Chaeyeon beserta tiga temannya yang lain lantas menatap junghyun. Begitupun dengan taemin dan jonghyun yang masih ada didalam rangkulan taemin. Jonghyun menatap adik bungsunya itu waspada. Lebih waspada dibandingkan saat ia menatap taemin tadi.
Pada saat ini, ia hanya berharap pada tuhan untuk diberikan kelebihan sebagai seorang mind-reader. Agar bisa tahu apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang tengah menyaksikan kejadian saat ini. Termasuk pemikiran taemin dan junghyun.
"gue lupa bilang. Kalo mas jonghyun udah pacaran dari lama sama bang taemin. Dari gua sd kelas 6 kalo gak salah, mas jonghyun sama bang taemin udah pacaran"
Junghyun menandaskan jus anggur botolannya lalu tersenyum.
"dan. Lu. Gue rasa gak pantes ngomong gitu sama bang taemin. Gue tau, lu anak guru sini. Cuma, omongan lu barusan udah kelewatan, neng. Lu gak kenal bener-bener, siapa bang taemin. Gak usah ngomong hal yang biasa lu denger dari gossip. Kebanyakan ngegibahin orang sih lu sama geng lu itu tuh. Kasian gue liatnya. Prihatin tau gak"
Junghyun pun melangkah keluar dari kursi kantin yang tadi ia duduki.
"ayo mas. Ke kelas. Jangan deket-deket sama anak guru yang otaknya cetek kayak lobang di jalan deket rumah nenek. Nanti nular"
"anjir, junghyun. Aku padamu pokoknya, ndut. Abang padamu!"
Taemin bersorak heboh lalu membawa jonghyun untuk ikut bersama dengannya dan junghyun yang sudah melangkah lebih dulu. Meninggalkan kantin dan sisanya yang masih bertahan dengan keterkejutan atas satu hal cukup besar yang terungkap seluruhnya pada hari ini, saat bel yang menandakan istirahat berakhir akan berbunyi dalam 5 menit ke depan.
"jadi? Kalian itu, emang udah deket dari kecil? Terus karena kalian juga tetanggaan, sebelom taemin pindah ke apartment deket seungwoo?"
Jonghyun melirik minhyun yang tengah bersidekap, dan ditemani oleh seungwoo sekaligus dongho di sisi-sisinya. Perlahan, kepalanya ia anggukan.
"kenapa bisa lu pacaran sama taemin dari sekolah menengah, sedangkan kita semua sahabatan pas kenal dari situ? Kalo gitu, harusnya kita tau dong"
Taemin terkekeh-kekeh geli melihat jonghyun yang terlihat seperti pesakitan saat tengah diinterogasi oleh ketiga sahabat kentalnya ini. Apalagi saat mendengar pertanyaan seungwoo. Sadar akan hal itu, jonghyun menyikut pinggang taemin.
"bantuin aku sih"
"aku?!"
Jonghyun berjengit sementara taemin melonjak, hampir terjungkal dari kursinya saat mendengar seruan dari seungwoo dan minhyun yang kompak.
"anjing. Jantung gua sakit. Eh. Lu berdua! Kalo mau teriak tuh bilang-bilang dulu kek! Suka gak nyantai teriaknya"
Dongho terkekeh geli mendengar omelan taemin, yang memang mudah kaget begitu.
"teriak mana ada yang nyantai, kuproy hongdae!"
Dongho terbahak mendengar omelan seungwoo barusan.
"anjir gua dikata kuproy. Kuproy mana ada yang ganteng macem gua. Ya gak, yang?"
"najis mugholadoh, taem. Stop panggil jonghyun yang-yang gitu. Gua geli"
Minhyun dan segala ketajaman lidahnya, sukses membuat taemin hampir mengacungkan jari tengah untuknya. Untung saja, imannya masih kuat.
"suka-suka gua, lah. Hyunbin aja, lu biarin suka modus, manggil lu sayang-sayang gitu"
Mata minhyun mendelik.
"si monyet. Tau dari mana lu?!"
Taemin menatap minhyun dengan pongah.
"tau lah. Lu pikir, si hyunbin mantep buat deketin lu, siapa yang nasehatin?"
"emang siapa?"
Taemin beralih pada dongho. Tatapan pongahnya berganti menjadi bingung.
"lah, mana gua tau"
PAK
Kepala taemin terdorong kebelakang karena dongho. Pemuda kim itu meringis, menahan sakit di lehernya akibat dorongan dongho yang terlalu 'bersemangat' tadi.
"anjing ya emang nih bocah satu. Gak ada faedahnya emang kalo ngomong sama lu. Pahala ngurang, nambahin dosa iya"
Jonghyun tersenyum geli menatap taemin yang kini gantian diinterogasi oleh ketiga sahabatnya.
Setidaknya, walaupun ini semua diluar kehendaknya juga taemin. Jonghyun bersyukur. Semua sahabatnya yang telah ia kenal hampir 6 tahun tersebut, tidak menolak keras hubungannya dengan taemin. Bahkan, jika ditilik dari pembicaraan mereka saat ini,
Ketiganya masih begitu penasaran dengan hubungan jonghyun dan taemin. Hingga taemin dengan lapang dadanya, menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh minhyun, dongho, dan seungwoo secara bergantian dengan tingkat kesabarannya yang tinggi.
Apalagi saat dongho sudah mulai memainkan tangan-tangannya dengan kepala taemin yang menjadi objek akhirnya. Jonghyun hanya bisa mengembangkan senyum leganya melihat interaksi diantara keempat orang terdekatnya tersebut.
.
.
.
.
.
END
