THE CROWN

An EXO OT12 fanfiction

Warning!

AU! GS for some members!

Some death chara!

Tokoh lain dalam ff ini merupakan tokoh pendukung yang berasal dari beberapa grup lain. Maaf kalau membuat beberapa member EXO terkesan jahat.

Don't like? Don't Read!


.

.

.

.

Pada dasarnya, Sehun tak pernah peduli pada omongan orang lain. Terutama omongan sekelas gosip, rumor, atau sekadar asumsi tanpa dasar yang asal usulnya tidak jelas. Jadi, apapun yang dikatakan para pelayan dari balik punggungnya tak pernah sekalipun bisa mengusiknya. Tidak pula membuatnya berhenti bermain-main bersama Kai dan Dio dan memperlakukan mereka sebagai layaknya teman. Serta, tidak juga berhenti mengunjungi Krystal maupun Irene ataupun Joy yang digosipkan sebagai objek dari sifat playboy yang dimiliki Sehun.

Tapi, pada dasarnya, Sehun itu hanyalah anak muda yang gemar bersenang-senang. Dia tak pernah menganggap hubungannya dengan Krystal ataupun Irene maupun Joy dan gadis-gadis lain sebagai hubungan yang serius. Sebagai seorang pewaris, tentu saja Sehun telah mengetahui dengan pasti jika ia nantinya akan dipaksa hidup selama sisa usianya bersama perempuan mana pun yang menjadi pilihan ayahnya.

Sehun hanya ingin menikmati waktunya, sebelum ia terpaksa berurusan dengan politik kerajaan dan segala konflik yang berkutat di dalamnya. Sehun hanya senang menjadi pusat perhatian, untuk saat ini, hal yang tidak pernah ia dapatkan dari pejabat istana yang lebih suka mendengarkan petuah penasihat kerajaan, Bryan Kim. Dia juga tidak sebegitu disegani dalam militer karena pasukannya lebih suka memperhatikan sepupunya, Kris Wu yang suka sekali berpacu seperti orang gila di arena pacuan kuda.

Bukannya Sehun tidak bisa melakukan itu semua, ia hanya malas. Tidak ada yang membuatnya tertarik bahkan semenjak ia lahir di dunia. Dia tidak tertarik untuk membuat kebijakan meskipun Paman Bryan bilang ia lebih dari sekadar mampu. Sehun juga tidak tertarik balapan di arena walaupun ia memiliki kuda tercepat di kerajaan. Dan parahnya, Sehun bahkan seperti tidak punya minat dalam apapun. Padahal ayahnya yang tidak pernah memimpin angkatan bersenjata saja masih dicintai oleh rakyatnya. Tapi, Sehun, rakyat mencintainya walaupun tidak punya alasan untuk melakukan hal itu. Dan karena Sehun selalu bersikap tak peduli, rakyat jadi mengalihkan cintanya pada orang lain yang menurut mereka lebih menghargai apa yang telah rakyat berikan. Kris Wu.

Tapi Sehun tak peduli. Sebenarnya, Sehun bahkan tidak peduli dengan keberadaan Krystal atau Irene atau Joy atau selusin gadis lainnya di sekelilingnya. Makanya ia tak pernah repot-repot menyuruh mereka pergi atau bagaimana. Singkatnya, selama Sehun merasa kehadiran mereka tidak mengganggu kesenangan, hal itu bukanlah masalah besar. Persetan dengan gosip murahan yang mengatakan bahwa Sehun sudah meniduri hampir seluruh gadis di ibukota.

Pada kenyataannya, Sehun hanya duduk di paviliunnya, menulis puisi untuk mengenang ibunya atau hanya sekadar membaca beberapa buku dengan bahasa yang berbeda setiap hari. Dan Sehun selalu membiarkan gadis-gadis itu mengoceh tentang hal-hal yang tidak ingin ia pahami, seperti kain warna warni dari pedagang Taizhou, atau penari-penari handal yang baru didatangkan ayahnya dari Manzu, atau apapun itu yang tidak ada untungnya sama sekali untuk Sehun.

"Kau mendengarkan tidak sih?" Krystal menatapnya agak marah karena mata Sehun tak beralih sekalipun dari deretan huruf Manzuri yang meliuk-liuk menghiasi gulungan perkamen.

"Hmm?" Hanya gumaman, tentu saja Sehun tak mendengarkan ocehan Krystal dari tadi. Kali ini Sehun sedang membaca sebuah cerita pendek tentang pahlawan besar Kim Seonsae dari Manzu. Huruf-huruf iitu sudah nyaris membuatnya gila, sulit sekali mengartikan satu baris saja. Bagaimana mungkin ia bisa membagi otaknya untuk membaca sekaligus mendengarkan dongeng mustahil Krystal, yang kali ini mengenai mitos duyung dari Kepulauan Tanpa Nama.

"Oh, sudahlah." Krystal memutar bola matanya, lalu mengalihkan topik pembicaraan. "Kudengar Kris akan membawa calon istrimu?"

"Kau dengar dari siapa?" Masih menatap baris yang sama di perkamennya. Konsentrasi Sehun mulai terpecah.

"Oh, semua orang mengatakannya, Sehun. Mereka bilang, ayahmu yang meminta." Krystal tertawa kecil, senang mendapat sedikit perhatian dari Sehun.

"Kau tahu? Aku tak peduli." Sehun sudah hampir paham makna baris pertama, sedikit lagi. Di situ diceritakan jika pahlawan itu sedang merampok kereta pedagang lalim untuk dibagikan ke salah satu desa gersang di dekat Churran.

"Kau sudah pernah ke Sagol?" Tiba-tiba Sehun menanyakan hal yang lain.

Krystal memutar bola matanya malas. Sehun selalu begitu, suka sekali mengalihkan pembicaraan jika topik sebelumnya memberatkannya. Sebetulnya Krystal malas dengan tipe orang seperti itu, tapi yah, mau bagaimana lagi. Tidak ada orang lain yang mau melakukan obrolan dengannya, kecuali Sehun. Dan Kai, mungkin. Tapi krystal lebih tidak suka bicara dengan Kai karena mereka selalu berakhir dengan debat tidak penting. Sedangkan Dio? Jangan tanya, gadis itu pernah mengacungkan pedang ke leher Krystal ketika ia sedang merajuk pada Sehun dulu. Bahkan tanpa berkata-kata, tapi Krystal tak peduli bahkan ketika Dio hanya memelototkan matanya tajam. Baginya yang terpenting adalah diakui keberadaannya dibanding berpura-pura bahwa ia tidak ada di sana.

"Tidak tertarik pergi ke tanah yang katanya banyak lumpur itu." Jawab Krystal sambil memainkan manik-manik di gelangnya. "Dan, jangan mengalihkan pembicaraan."

"Ibuku berasal dari Sagol. Dan di sana bukan lumpur, tapi pasir." Sehun telah menyerah dengan paragrafnya, persetan dengan pahlawan Kim-Kim itu. "Pelabuhan raksasa di antara pasir putih. Dan lautnya, lebih bersih daripada di sini."

"Ooh semua laut sama saja, Sehun." Krystal menatap wajah Sehun kini, senang lelaki itu telah memberikan atensinya. "Air, dengan ombak. Sama membosankannya dimana-mana."

"Jadi, bagaimana kalau kau tidak menyukai gadis itu nanti, Sehun?"

Tapi Sehun bersikap seolah tidak mendengar pertanyaan barusan, dan malah mengajukan pernyataan lain yang sama sekali tidak berhubungan. "Tidak sama. Di sana ada laut tapi ada gunung juga. Pasti begitu luas."

"Ya, ya baiklah. Jadi bagaimana?" Krystal memutar bola mata, dia tetap terlihat cantik sekalipun melakukan hal yang memuakkan seperti itu. "Apa kau akan mengembalikan Putri itu ke Anntaleon?" Bukan Krystal namanya jika berhenti berusaha keras untuk mencari tahu.

Sehun terdiam, menganggap bahwa Krystal amat gigih. Dan itu menyebalkan. Sehun tidak suka berdebat, lebih baik banyak diam daripada harus berdebat hal yang bahkan belum terjadi. Lagi pula itu tidak penting, tidak membuat Sehun di hukum penggal kepala jika tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi Krystal masih menatapnya ingin tahu. Gadis itu, Sehun begitu penasaran dengan isi kepalanya. Dia amat ambisius, berbeda dengan gadis lain. Irene mungkin sama cantiknya, tapi dia hanya peduli dengan pulasan. Sedangkan Joy, dia cerdas, tapi tidak setajam Krystal. Sehun ingin tahu, apakah mungkin Krystal menginginkan takhta, atau cukup hanya dirinya saja.

"Sudah kubilang, aku tak peduli." Sehun berkata akhirnya.

"Yah, mau bagaimana lagi?" Gadis itu berdiri. "Ayahmu tidak akan mungkin membiarkan aku menikah denganmu kan?" Krystal memuntir ujung rambut hitamnya dengan jari telunjuk dan tersenyum getir.

"Tapi aku suka gosip kau sudah tidur denganku, aku penasaran bagaimana reaksi calon istrimu nanti kalau dia mendengarnya." Dia berkata lagi ketika Sehun hanya diam saja.

Sehun menatap Krystal kali ini, gadis itu tersenyum, agak menyeringai sebenarnya karena wajahnya selalu terkesan antagonis. Fakta lagi, sebenarnya Sehun dan gadis ini adalah sahabat. Saat bersekolah di sekolah bangsawan dulu, tidak ada yang mau mendekati Krystal dengan alasan dia terlalu menyeramkan. Jadi, karena kasihan, Sehun akhirnya berteman dengannya saja.

Krystal ini cantik, cantik sekali malah. Tapi Sehun tak pernah menyukainya lebih dari teman. Adik mungkin, tapi ia tak pernah membayangkan akan menikah dengan Krystal suatu hari nanti. Hal-hal seperti itu konyol menurut Sehun, hanya karena belum ada yang pernah membuatnya jatuh cinta. Belum ada satu gadis pun yang membuatnya tertarik dan berusaha. Selama ini gadis-gadis itu yang berusaha, Sehun tinggal menolak mereka saja. Mudah kan?

"Carilah laki-laki lain, aku tak paham kenapa kau suka sekali membuat gosip dewasa denganku." Sehun menyeringai, dia tahu sebenarnya Krystal berharap bisa menjadi lebih dari sekadar adik baginya. Dia ini cerdas.

"Ah, sudahlah, kau tidak akan mengerti!" Krystal sendiri memahami jika ia dan Sehun tidak akan pernah menyatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Hanya saja ia merasa terlalu pahit jika harus menyerah sebelum berusaha sebaik mungkin.

Krystal berjalan ke arah jendela menara itu, menatap ke bawah, ke arah pepohonan besar dibiarkan tumbuh menua di sisi kiri kastil. Krystal ini tinggi, Sehun mengakui kalau badannya bagus, berisi dan seksi. Seperti ini adalah tipe gadis ideal yang biasa Kai ungkapan, tapi sepertinya Kai juga bercanda tentang menyukai Krystal karena nyatanya Kai juga sama seperti Sehun, belum pernah sekalipun jatuh cinta.

"Aku pulang dulu, Hun, sebaiknya kau pergi latihan. Teman-temanmu pasti sudah menunggu." Gadis itu berjalan ke arah pintu, punggungnya terlihat dari gaunnya yang bermodel terbuka ketika ia membelakangi Sehun. Laki-laki mana pun di kerajaan ini dijamin tidak akan menolak ketika ditawari untuk menikah dengan Krystal.

Sehun diam saja, kembali menunduk menatap perkamen di tangannya. Ah dia tidak peduli lagi dengan hal ini. Menurutnya, ia sudah mulai melakukan hal-hal dibawah paksaan ayahnya karena sekarang ia merasa tidak sebebas dulu. Ada Paman Bryan yang mengawasi setiap saat, dia jadi tidak bisa lari dari latihan menjadi raja—menurutnya. Dan setelah lusinan perkamen mengenai politik, Sehun tetap harus menjalani rutinitasnya, berlatih dengan Kai dan Dio.

Sebenarnya kalau mau sombong, kemampuan berpedang Sehun pasti di atas Kris. Hanya saja Sehun terlalu malas untuk mengakuinya. Selain itu, kemampuan panahnya juga di atas rata-rata. Angkatan perang kerajaan pasti akan sangat menyukainya, tapi karena ia satu-satunya putra ayahnya, ia tidak pernah diijinkan mengikuti perang manapun. Yang mengetahui kemampuannya hanya segelintir orang seperti Kai dan Dio, ayahnya dan kedua bayangannya, paman Bryan, serta Krystal yang waktu itu tidak sengaja menontonnya latihan. Sisanya? Percaya Sehun sama sekali tidak punya kemampuan dan bodoh dibalik takhta.

Sekali lagi Sehun tidak peduli, dia hanya akan menikah dengan orang pilihan ayahnya (dengan catatan dalam hati, jika Sehun menginginkan gadis itu juga). Setelah itu ia akan memimpin kerajaan ini dalam damai sampai ia tua dan meninggal karena dimakan usia. Selesai. Tidak perlu banyak drama dalam kehidupannya karena tidak pernah ada yang benar-benar ia inginkan dalam hidupnya. Tidak satu pun ia berminat menaklukan kerajaan lain, atau menikah dengan gadis tercantik dari keempat penjuru dunia. Tidak. Sehun tidak seperti itu.

Dia bahkan merasa bosan dengan kehidupan pangerannya, dan lebih sering berkuda dengan kain hitam mengerudunginya. Berpetualang sampai ke desa-desa di seberang ibukota Alteroz. Tempat terjauh yang masyarakatnya bahkan hanya tahu bahwa kerajaan makmur ini dipimpin oleh raja bernama Marcus. Tanpa pernah berani berharap untuk melihatnya sekali saja selama hidup.

Mendadak Sehun penasaran, siapa gadis yang digosipkan akan jadi calon istrinya. Anntaleon terkenal memiliki rakyat dengan paras paling memikat. Semua orang dari belahan dunia ingin memiliki suami atau istri dari negeri itu. Setiap kerajaan pasti mengirim beberapa pangeran atau putri ke Anntaleon. Berharap salah satu dari lima orang keturunan raja —yang terkenal akan wajahnya—bersedia untuk diajak menikah demi memperbaiki keturunan. Tapi yang mana yang akan jadi calon istri Sehun?

Sehun tahu anak pertama raja Anntaleon tujuh atau delapan tahun lebih tua daripada dirinya, tidak mungkin King Marcus yang agung mengizinkan Sehun menikah dengan gadis yang jauh lebih tua darinya. Lalu, anak keduanya adalah putra mahkota, seorang laki-laki. Pasti ia yang pertama kali terbunuh oleh tebasan pedang milik Kris. Sehun berpikir, seharusnya ia saja yang membunuh pangeran itu, ah tapi itu melelahkan. Ia tidak jadi menyesal karena tidak ikut berperang. Ketiga, seorang putri, Sehun sudah mendengar kabar jika putri itu terlalu bodoh untuk menyusup ke medan perang. Gadis itu juga terbunuh, padahal banyak orang bilang dia yang paling cantik. Kris pasti menyesal tidak menjadikannya istri sejak awal. Yang keempat, dua tahun lebih tua daripada Sehun, mungkin dia yang akan jadi istri Kris. Setidaknya gadis itu lebih muda dari Kris. Dan Sehun? Mungkin ia akan mendapatkan yang bungsu. Tapi Sehun tidak pernah sekalipun mendengar apapun tentangnya sehingga ia tidak tahu si bungsu itu nyata atau hanya sekadar legenda. Satu hal yang Sehun yakini, tidak mungkin gadis itu lebih buruk dari keempat kakaknya.

.

.

.

.

.

Luhan termangu menatap semak-semak yang tadinya berbentuk angsa. Sudah tiga hari tidak ada yang merawat taman itu, membuat ranting tumbuh serupa antena yang mencuat dari pipi kiri si angsa yang malang. Orang-orang Alteroz tidak suka berkebun. Dan berbeda dengan Anntaleon yang merawat, sebaliknya orang-orang Alteroz memiliki hobi menghancurkan. Luhan bisa melihat pasukan yang tadinya menunggang kuda, mabuk akibat meminum sebarel anggur yang disimpan keluarga Luhan selama hampir lima puluh tahun di bawah tanah. Mereka tertawa-tawa dan menyanyi berisik, terduduk sepanjang lorong yang terbuat dari tumbuhan gantung yang menaungi koridor terbuka di sekeliling istana. Sesekali mereka menggoda pelayan yang lewat dengan takut-takut. Luhan tidak akan heran jika pelayan di sini jauh lebih cantik dari istri-istri yang mereka tinggalkan di rumah-rumah bata Alteroz.

Luhan menutup mata, membayangkan kehancuran macam apa yang akan ia jumpai jika ia keluar dari tembok istana. Bangunan-bangunan teater dengan lukisan di seluruh dindingnya, apakah sekarang telah menghitam sepenuhnya? Permata-permata yang menempel di pintu seluruh kuil mungkin sudah terlepas dari tempatnya, digantikan oleh lingkaran kosong dengan warna cat yang pasti berbeda. Saat Luhan membuka mata, Xiumin ada di sana. Terlihat sedikit pucat. Lalu Luhan melihatnya, bekas jari-jari membuat pergelangan tangan Xiumin memerah. Seseorang pasti telah memaksa Xiumin, dia kecil, dan amat manis. Rambutnya hitam legam, dia memang berasal dari Taizhou, fisiknya berbeda dengan semua penduduk Anntaleon. Marah. Luhan bangkit. Ia merasa lebih dari sanggup untuk memanah kepala siapa pun itu laki-laki yang melakukan hal itu terhadap Xiumin. Ingin melumatnya sampai jadi serpihan.

"Lu, sudahlah, Penasihat Jonghyun sudah memotong tangannya." Xiumin berkata, bibirnya bergetar mengingat apa yang ia saksikan tadi terputar bagai film dalam memorinya. "Aku takut, jika pria itu mengadu pada Jenderal, Penasihat Jonghyun pasti tidak akan baik-baik saja."

Segera saja, Luhan memeluk Xiumin erat. Pelayan itu tidak menangis, hanya saja seluruh bahunya bergetar. Tapi Luhan mengerti, sesuatu pasti sangat salah. Xiumin tidak pernah seperti ini sebelumnya.

"Sialan! Belum juga Jenderal itu sampai di sini, separuh kerajaan sudah hancur." Luhan mengumpat, untuk pertama kali seumur hidupnya. Biasakan saja, mungkin akan banyak kejadian yang bisa membutanya mengumpat lebih banyak lagi di masa yang akan datang. "Aku tidak tahu kiamat macam apa yang akan datang jika Jenderal itu sampai."

Dua hari sejak pemakaman Sulli, pasukan pertama datang dengan menaiki kuda. Jumlahnya mungkin tidak kurang dari lima ratus orang. Mereka datang terlebih dahulu, untuk prosesi katanya, mengamankan Anntaleon sebelum Jenderal itu sampai. Seberapa penting Jenderal itu, Luhan tidak tahu. Ia hanya mendengar bahwa Jenderal itu masih muda. Tiga tahun lebih tua dari Luhan yang sekarang berusia delapan belas. Tapi tetap saja terlalu muda untuk menggalang armada perang dengan pasukan sebanyak 20.000 orang—Luhan mendengarnya dari gosip pelayan—dan menghancurkan sebuah kerajaan yang memiliki pertahanan paling baik di wilayah barat. Luhan membencinya! Sampai kapan pun dia akan membencinya.

.

.

.

.

"Wah, Daebak! Bagaimana bisa calon kakak iparku tak peduli penampilan begitu?" Baekhyun menggerutu. Lagi.

Entah sudah berapa kali ia memaki hari ini, jika dihitung, mungkin akan membuat ayahnya menampar mukanya saking seringnya mulut kecil Baekhyun mengumpat. Zitao hanya duduk di hadapan Baekhyun dengan tangan menopang dagu. Dirinya sebenarnya bosan mendengerkan ocehan tak jelas Baekhyun, lagi pula, bisa apa dia jika Baekhyun berbicara secepat kilat? Dia hanya bisa mengangguk-angguk karena hanya paham beberapa kata saja. Seberapa sering pun ia datang ke negeri Sagol, masih saja kemampuan bahasanya belum begitu berkembang.

Zitao sekarang telah mengenakan hanshin, tentu saja Baekhyun yang memaksanya. Hari ini, ia dan Baekhyun akan pergi ke istana untuk menghadiri penyambutan putri Manzu itu. Tapi Baekhyun sedang marah besar. Demi gosip murahan yang tidak sengaja ia dengar dari pelayan yang tengah menyapu guguran daun merah di depan kamar Baekhyun, sekarang gadis itu membuat hanshin yang ia pakai kusut. Selalu paham kalau Baekhyun sangat terobsesi dengan kesempurnaan, Zitao tidak akan heran jika sahabatnya itu akan mengganti lagi pakaiannya nanti.

Banyak hal yang tidak disukai oleh Baekhyun. Selain laut, dia benci pada orang yang tidak bisa berpakaian dengan baik. Terutama jika mereka punya cukup uang untuk membeli pakaian mahal. Choi Baekhyun nyatanya telah membuat lebih dari separuh gadis bangsawan Sagol senewen hanya karena menurut dirinya ikat pinggang yang mereka pakai warnanya tidak cocok dengan hanshin yang dikenakan. Harusnya, hal itu bukan urusan Baekhyun. Harusnya Baekhyun tidak peduli jika ada gadis bangsawan yang memakai ikat pinggang merah terang ketika ia sedang menggunakan kain berwarna shocking pink. Hanya saja Baekhyun tidak tahan.

Tidak tahan untuk tidak mengumpat maksudnya.

Dan sekarang, bayangkan! Bayangkan jika Baekhyun harus menguliahi putri Manzu sederhana itu dengan segala keharusan adat berpakaian. Memikirkannya saja sudah membuat Baekhyun tertekan. Membayangkannya saja pasti akan membuat Baekhyun gila. Beruntung Zitao disini sangat mengerti dirinya. Baekhyun sukses mengubahnya jadi pribumi Sagol. Hilang sudah kesan penari Manzu yang biasanya ditampakkan oleh Zitao. Malam ini, dia akan jadi lebih cantik dari gadis bangsawan Sagol manapun, kecuali Baekhyun tentu saja.

"Eeh, Baekhyun-ah, bajumu kusut sekarang." Akhirnya Zitao menyuarakan isi hati yang sejak tadi takut ia ungkapkan.

Baekhyun menoleh ke arah pakaiannya. Hanshin merah muda kesayangannya sekarang kusut sekali. Dan tidak ada waktu untuk menyuruh pelayan menyeterikanya sampai halus. Ia bangkit, memberi isyarat agar Zitao mengikutinya. "Kkaja!" Seperti kucing, Zitao mengekor Baekhyun ke pintu geser di seberang pintu kamar Baekhyun.

Jari-jari lentik Baekhyun menyortir pakaian dalam lemarinya satu persatu.

Ungu?

Ah tidak, terlalu gelap.

Biru?

Tentu tidak, terlalu membosankan.

Emas?

Bisa-bisa raja Lee marah besar jika ia memakai emas pada acara seperti ini.

Merah?

Akan membuatnya terihat seperti penari saja!

Putih?

Benci sekali dengan warna itu, mengingatkan akan putri Manzu itu.

Ah, krem!

Tepat!

Baekhyun memilih setelan hanshin berwarna krem dengan gambar bunga-bunga berwarana tembaga berklat-kilat. Ia akan memilih ikat pinggang berwarna gading, yang pasti akan cocok dengan kerah mutiara pemberian Zitao kemarin. Warna itu juga cocok dengan setelan Zitao yang berwarna cokelat terang. Hampir tamapak seperti gradasi jika mereka berdiri berdekatan. Ahh, Baekhyun suka pesta. Suka sekali!

.

.

.

.

.

"Kakak pikir aku mau memakai gaun seperti itu?" Luhan mendelik pada gaun biru kelewat mewah dihiasi beberapa batuan permata sebagai pengganti kerah. "Yang benar saja." Ia memutar matanya keras kepala. Suzy pasti sudah gila. Kematian saudara-saudaranya dan kabar ayah serta kakak lelakinya yang belum jelas, pasti menggeser kewarasannya.

"Ooh, ayolah Lu, kau tega sekali padaku." Suzy memohon dengan mata agak berkaca-kaca atas penolakan kasar Luhan. "Pakailah sebentar saja, ya?" Luhan melihat air matanya yang hampir menetes dari sudut-sudut mata kakaknya. "Sampai makan malam." Pintanya.

Luhan menatap kakaknya dengan pandangan sedikit memberontak, tapi akhirnya dia mengalah juga. Dia tak pernah tega jika salah satu kakaknya mengeluarkan air mata. Rasanya seolah seseorang telah menyakitinya dengan kejam. Akhirnya dengan pandangan amat galak seolah gaun tadi benar-benar membuatnya sakit hati ia melangkah menuju balik lemari. Jangan bayangkan lemari kecil di ujung ruangan. Lemari Luhan jauh lebih besar dari itu! Bahkan lebih besar dari lemari milik saudara-saudaranya yang berukuran separuh kamar. Tapi, milik Luhan sendiri berukuran hampir sama dengan kamarnya, mungkin yang dapat menyainginya hanyalah Raja dan Ratu. Kurang adil memang, tapi Luhan adalah anak bungsu kesayangan semua orang. Apapun untuknya, mudah sekali, seperti sendok emas berisi intan permata disodorkan tepat dibawah hidungnya—yang memang seperti itu. Selalu seperti itu, mungkin akan selamanya seperti itu jika saja mereka menang dalam perang ini.

Pada akhirnya, gaun tersebut terpasang sempurna di tubuhnya. Luhan keluar dari dalam tempat pakaian dan segera menyesali keputusannya. Kakaknya ada disana bersama pelayan pribadi Luhan yang membawa sebuah wig sewarna madu, mirip dengan rambut Luhan sendiri. Luhan tak pernah suka memanjangkan rambutnya, itulah mengapa saat ini panjang rambutnya hanya sedikit dibawah bahu. Menurut Luhan, rambut panjang hanya akan membuatnya merasa gerah. Dia tidak pernah suka itu, meskipun semua orang di negeri ini tampaknya memanjangkan rambutnya, bahkan ayah dan kakak laki-lakinya juga. Namun tidak dengan Luhan, ia harus selalu bisa melakukan apapun yang ia sukai termasuk untuk urusan rambut.

"Duduk!" Suzy berkata penuh semangat. Gadis ini selalu terlihat antusias, bahkan terkadang sifat riangnya ini terasa agak menyeramkan bagi orang lain.

"Ayolah kakak, tolong jangan membuatku memakai wig itu" protes Luhan dibungkam dengan paksaan dari Suzy. Gadis itu mendorong Luhan untuk duduk didepan meja rias. "Kau akan membuatku sakit hati."

Suzy terdiam selama sesaat, mungkin menyadari jika permintaannya kali ini keterlaluan. "Baiklah, tidak ada wig. Aku mau mencari mahkota yang tepat dulu." Suzy segera melesat keluar kamar Luhan. Mencari aksesoris rambut di kamar kakaknya yang lain, Sulli, yang punya lebih banyak aksesoris dibanding putri-putri lain di istana.

Xiumin segera menyisir rambut tuannya. Matanya menerawang, merenungkan sesuatu yang belum terjadi tapi sudah jelas berada di depan mata. Mungkin malam ini adalah terakhir kalinya dia menyisir rambut Luhan. Mungkin malam ini dia akan terpisah dari Luhan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ketika Jenderal yang diagung-agungkan seluruh pasukan Alteroz itu tiba di istana.

"Jangan meledekku!" Luhan berkata tiba-tiba, membuat Xiumin tersentak. Tapi pelayan itu tersenyum lalu menatap pantulan wajah kemerahan Luhan di cermin.

"Aku tidak akan meledek, kau ini sungguhan cantik sekali." Xiumin berkata jujur. Siapa pun, pasti setuju jika dimintai pendapat. Luhan memang paling rupawan di seluruh Anntaleon. Siapa saja ingin sekali menikah dengan Luhan. Bahkan mungkin akan rela menyukai sesama jenis jika itu demi Luhan.

Semenarik itu? Ya, Luhan memang sangat menawan. Dan Xiumin, suka melayaninya. Gagal memahami kesenangan itu muncul dari pikiran atau dari hati.

Tapi saat itu Suzy masuk dengan bando mutiara di tangannya. Segera saja Xiumin bersikap layaknya pelayan biasa. "Ini pakai ini juga," Suzy mengulurkan bando pada Xiumin. "Sudah kuduga kau cocok sekali dengan gaun itu, Lu." Gadis cantik itu menatap pantulan wajah cemberut Luhan dari cermin.

Adiknya ini punya bibir tipis yang amat merah. Ditambah dagu runcing dan kulit putih yang terlihat amat halus. Pantas jika gadis di seluruh negeri iri padanya. Karena Luhan terlihat amat sempurna, seperti pahatan proporsional dari pematung paling ahli sedunia. Suzy akan heran jika ada yang menolak Luhan.

"Nah, kau akan bermain harpa malam ini." Suzy berkata lembut, memandang cermin di depannya. Tangannya memegang bahu Luhan. "Semua orang pasti butuh hiburan." Padangan matanya sulit diartikan, tapi Luhan tidak menyadarinya. Tapi, mungkin saja, saat ini bisa jadi terakhir kali ia bisa bicara dengan kakaknya.

Luhan bangkit, menerima harpa bersepuh perak yang diacungkan oleh Xiumin dengan khidmat. Luhan, adalah pemain harpa terbaik di kerajaan. Kemampuannya hampir menyaingi sang Ratu sendiri. Dan ia bangga dengan bakat itu, kemampuan itu membuat seluruh tamu yang datang berdecak kagum ketika ia memainkan lagu yang paling sulit. Luhan membawa harpa yang merupakan hadiah dari ayahnya saat ia berulang tahun yang ketujuh belas. Kedewasaan selalu pantas menerima sebuah hadiah, kata ayahnya waktu itu. Berbeda dengan tradisi, semua keturunan raja seharusnya hanya diberi hadiah saat berusia tepat dua puluh tahun. Sebilah pedang, dengan gagang sesuai permintaan si penerima. Luhan ingat saat ayahnya memukul kepala Henry karena bercanda dengan meminta ukiran dada wanita di gagang pedangnya. Henry berhenti bercanda selama setahun sejak saat itu. Luhan tersenyum mengingatnya.

Ahh, Henry. Apa kabarnya sekarang. Luhan belum mendengar kabar tentang ayahnya dan kakak laki-lakinya sejak Penasihat Jonghyun mengumumkan kekalahan mereka waktu itu. Dan memikirkannya saja hampir membuat pedih. Luhan mengutuk semua warga Alteroz, mengutuk kenapa bisa mereka harus kalah dalam perang. Dan terutama mengutuk Jenderal muda itu. Siapa pun dia, tak lebih dari seonggok daging tanpa hati.

Xiumin membukakan pintu aula. Luhan menekuk kakinya, memberikan penghormatan pada semua orang di dalamnya. Ibunya tersenyum. Pasti ia menyukai gaya berpakaian Luhan. Entah kenapa Luhan merasa merindukan senyum itu, padahal ia tengah melihatnya saat ini. Luhan berjalan perlahan menuju altar tempat ibunya duduk di atas takhta. Lalu ia duduk bersila di sebelah kiri ibunya. Siap memetik harpa itu. Jari-jarinya mulai bergerak. Awalnya pelan, lalu tempo di percepat dengan penuh penghayatan.

Semua orang terdiam, lupa bernafas saking pilunya Luhan memetik senar harpa itu. Luhan, telah meneteskan sedikit kepedihan di sana. Memutuskan semua orang harus ikut merasakan apa yang ia rasakan. Suzy tidak bisa menahan lagi air matanya, selalu seperti itu, selalu dia yang pertama menangis. Sejak dulu, tidak pernah berubah. Sejak dulu, bahkan untuk hal yang seremeh permen kapas, Suzy selalu yang pertama menangis ketika kalah berebut.

Luhan merasa getir.

Tempo dipercepat.

Yoona sudah mulai meneteskan air mata, sementara Ratu Yuri mulai berkaca-kaca.

Tempo diperlambat.

Bayangan ayahnya, Raja Donghae, memberikan sebutir anggur paling ranum kepada Luhan. Selalu seperti itu, yang terbaik selalu untuk Luhan seorang. Kesayangan semua orang.

Tempo dipercepat. Klimaks.

Semua orang menahan nafas kembali. Tempo diperlambat, dan Luhan selesai memainkan lagu tiga menitnya. Dari pintu yang terbuka seseorang bertepuk tangan. Seorang laki-laki diikuti oleh dua orang berbaju zirah perak tiga langkah di belakangnya. Laki-laki itu telah melepas baju zirahnya sendiri, tapi dari atas altar, Luhan bisa melihat rompi besi terpasang di bawah pakaiannya. Rambutnya pirang, tidak secerah warga Anntaleon, pirang gelap yang harus Luhan akui cocok sekali untuknya. Matanya hitam gelap, Luhan pernah mendengar mata orang Alteroz kebanyakan biru atau abu-abu. Luhan menduga ibu atau ayah dari orang itu bukan asli dari Alteroz. Orang itu, Jenderal besar Kris Wu dari Alteroz. Penerus klan dengan lambang naga hitam. Tangan kiri King Marcus dalam usia dua puluh satu tahun. Seseorang yang dijuluki penakluk oleh rakyat di seluruh penjuru Alteroz. Orang itu telah sampai di istana Anntaleon. Menunjukkan hidung mancungnya yang akan dibenci oleh Luhan selama sisa hidupnya.

"Bravo! Kuakui kau musisi terbaik yang pernah ada." Dia tersenyum sementara isi ruangan masih terdiam, bahkan mungkin helaan nafas akan terdengar diantara kesunyian. "Aku suka musisi itu, bagaimana menurutmu, Daniel?"

.

.

.

.

.

Namanya Yixing. Bermarga Zhang hanya karena dia anak haram dari bangsawan Zhang di ibukota Manzu. Dulu, Nyonya Zhang bersikeras untuk merawat Yixing dengan alasan dia ingin punya anak perempuan karena bosan melihat tiga anak laki-lakinya. Tapi itu bohong tentu saja. Sejujurnya, Nyonya bangsawan itu merasa terhina karena suaminya mampu melakukan hal seburuk itu dengan perempuan lain. Terutama setelah dirinya memberi tiga orang putra. Namun, Nyonya itu tidak bodoh, Yixing lahir dari perempuan yang dicintai suaminya. Satu-satunya perempuan yang dicintai suaminya. Oleh karena itulah ia mau repot-repot mengasuh Yixing, agar suaminya mengingat apa yang tidak mungkin ia dapatkan, sama seperti cinta yang tidak mungkin Nyonya Zhang miliki dari suaminya.

Yixing tumbuh dengan dicintai. Semakin dewasa, semua orang jadi sadar jika ia mirip sekali dengan ibu kandungnya. Seorang perancang busana terkenal di ibukota. Nyonya Zhang makin panas. Dan Tuan Zhang memutuskan bahwa Yixing tidak lagi aman untuk berada di Manzu. Anak itu tidak pantas jika harus menerima segala kecemburuan yang disebabkan oleh kesalahannya di masa lalu. Tuan Zhang kemudian memutuskan untuk mengirim Yixing ke Sagol. Raja Lee mengenalnya dengan baik, dan berhutang nyawa padanya. Dengan mudah Yixing dikirim ke Sagol. Katanya akan dinikahkan dengan salah seorang anak bangsawan di sana.

Yixing selalu penurut, entah terbuat dari apa hati gadis itu. Tapi dia selalu lembut. Dia mendarat di Sagol dengan aman. Baginya, hidupnya memang tentang mematuhi perintah ayahnya saja. Bahkan di tempat asalnya, ketika ayahnya menyuruhnya untuk membawakan teko teh, Yixing akan melakukannya dengan senang hati. Jika ayahnya memintanya belajar menari, esoknya dia telah siap dengan seragam penari. Jika ayahnya meminta belajar bahasa, dia berusaha dengan keras. Di atas semua itu, perintah yang selalu dia lakukan adalah perintah untuk selalu mematuhi ibu tirinya. Dia benar-benar melakukan itu, melayani wanita pencemburu yang selalu ingin melemparkannya dalam api, atau menghunuskan pedang ke dadanya. Tapi, dia masih mendengarkannya, semua semata karena ia menyayangi ayahnya. Apalah datang ke Sagol dibandingkan dengan melayani wanita yang seumur hidup ingin menaburkan racun ke dalam minumannya? Datang ke Sagol pastilah hanya sebuah petualangan kecil baginya.

Harus Yixing akui, Sagol sedikit lebih indah daripada Manzu. Seluruh bangunan yang ada di Manzu terbuat dari kayu, tapi di sini tidak. Sagol juga punya kayu tapi mereka juga punya besi dan batu yang dipadukan bersama-sama. Terlebih, pelabuhannya memang seagung yang dikatakan orang-orang. Yixing terkesan dengan cara pelabuhan itu dibangun, dengan patung-patung dewa laut, lumba-lumba, dan kuda-kuda laut, dan patung-patung yang lain. Semua terbuat dari perunggu dan dipahat dengan detail, Yixing bahkan bisa memegang lekukan-lekukan sisik ikan dari patung-patung putri duyung buatan itu. Kemudian, Yixing juga terkesan dengan cara istana itu terlihat dari pelabuhan. Tinggi, dan putih, berdiri kokoh dan bahkan terlihat besar dari pelabuhan yang jaraknya cukup jauh. Yixing berpikir dia pasti akan menyukai Manzu, bahkan menyukai setiap kain warna-warni yang dikirim ke kamarnya, yang akan dijahit menjadi hanshin, bukan zhufin lagi. Tapi Yixing tidak akan mengeluh, sekarang selama sisa hidupnya dia akan segera mematuhi omongan orang yang akan jadi suaminya nanti.

Seorang pelayan masuk ke kamar Yixing di kediaman bangsawan Choi. Salah satu pelayan Choi Baekhyun yang bisa berbicara bahasa Manzu, tidak terlalu lancar memang, tapi paling tidak Yixing masih memahaminya. Dia masih belum terlalu fasih berbicara bahasa Sagol, agaknya belajar bahasa terlalu sulit baginya meskipun ia melakukannya tiga kali seminggu di bawah arahan ketat ayahnya. Pelayan itu mempersilakan Yixing untuk melepaskan pakaiannya.

"Air mandi sudah disiapkan, pelayan Anda bilang, Anda menyukai bau melati?"

Yixing mengangguk saja, kemudian segera mematuhi permintaan gadis itu. "Siapa namamu?" Yixing bertanya.

"Namaku Yerim, mulai sekarang aku bukan lagi milik nona Choi, aku adalah milik Anda."

.

.

.

.

.To Be Continued.

#EXO_OT12#

Review please