[MEMORABILIA]

/

{akaashi's 2nd pov}

kuroo/akaashi slight bokuto/akaashi, bokuto/kuroo

{ii – cahaya yang menjadikanmu kunang-kunang}


Lelaki itu mendadak saja datang, seperti tanpa arah; mengajakmu bicara—entah, apa sekiranya yang dapat dibicarakan dua lelaki yang baru berjumpa sekali-dua? Kau tak begitu ingat, tapi kau tahu, segala yang dikisahkan lelaki itu ialah gambaran mengenai suatu hal mengerikan, yang, betapa aneh, membuatmu terlena untuk mengikuti alurnya.

"Kelelawar adalah aku; barangkali, kau bersedia menjadi cahaya?"

"Kenapa cahaya? Apakah kau takut padaku."

"Sejujurnya, memang begitu."

"Kau takut padaku."

"Aku takut padamu."

"Kenapa?"

"Karena kau cahaya."

"Tapi aku belum mengatakan bahwa aku bersedia menjadi cahaya."

Lelaki itu tertawa, seolah menyadari sesuatu bahwa kalimatmu memang ada benarnya.

"Tapi, lebih dari itu, bukankah kelelawar takut pada matahari?"

Lelaki itu bisu, menunduk sendu, lalu menyesap kopinya yang dingin.

"Jangan ingatkan aku tentang matahari. Jangan sekali-kali."

Kau terpancing untuk terus bertanya. "Kenapa?"

"Karena aku pernah terbakar dalam kobarannya."

.


'Lalu, bagaimana bisa kau hidup sampai saat ini.'

Kalimat itu seakan kembali tenggelam dalam tenggorokanmu. Seseorang yang hidup belum tentu hidup dan seseorang yang mati belum tentu mati. Kau paham betul bahwa lelaki itu ada di antara keduanya; kadang terlihat begitu hidup (tatkala senyumannya memengaruhi pikirmu dan suaranya melenakan telingamu), tetapi kadang juga terlihat mati (tatkala kata tak pernah sampai padanya, meski kau tak henti merapalkan namanya di malam dingin di atas ranjang kumuh tiga hari lalu). Kau tahu, matahari itu mungkin telah membakar separuh hidupnya—siapa yang bersedia menjelma matahari untuknya? Kau bertanya-tanya.

Kalimat lelaki itu mengingatkanmu pada lelaki lain, yang juga dekat denganmu—lebih, lebih dekat, seperti sahabat karib, tapi bukan (sebab, kau juga pernah tidur dengannya). Tapi kau tak pernah benar-benar memikirkannya, karena pikirmu tidak semua hal saling berhubungan; meski memang benar semuanya saling berhubungan, yang lalu kau ketahui di lain waktu, jauh, jauh dari hari ini, ketika kau masih setengah telanjang dengan lelaki itu di bawahmu, menunggumu bergerak, menunggumu mengambil alih permainan. Sekian bulan, sekian tahun.

[Kemudian, kau tahu, lelaki itu menggunakanmu hanya sekadar untuk kembali menikmati sentuhan-sentuhan lelaki lain yang pikirmu merupakan mataharinya—ya, mataharinya, bukan mataharimu, sebab, sejak awal kau tidak merasa dimiliki tidak pula memiliki; ini semua hanya perkara senang-senang, melepas sepi dan sedih yang berkarat dalam diri.]


"Kau pernah mengatakan, kau ingin aku menjadi cahaya, sekarang apakah aku sudah menjadi cahaya di hidupmu, Kuroo-san?"

"Sejak awal."

"Karena aku tidur dengan Bokuto-san?"

Lelaki itu diam. Tapi kau tahu, ada keterkejutan yang tak berhasil dia sembunyikan.

"Karena Kou milikmu, Akaashi."

Kau menunggunya kembali bicara. Masih ada sesuatu, yang mungkin masih berat untuk dikatakan. Kau tetap menunggu. Lelaki itu menutup muka dengan kedua telapak tangan.

"Karena aku ingin menyentuh apa yang Kou sentuh."

Kau bertanya, siapa menyakiti siapa. Sebab, lelaki itu tampak rapuh dan kau hanya bisa merangkul kedua bahunya, mendekapnya, mengusap rambutnya. Kau mengatakan, segalanya pasti baik-baik saja. Apa yang baik-baik saja? Kau tak memahami dari mana kekacauan ini bermula. Apakah karena kau menjalin hubungan dengan Bokuto, ataukah karena kau tidur dengan Kuroo, ataukah karena kau muncul dalam hubungan keduanya yang memang hanya bersisa serpih-serpih.

[Sejak awal, kau cuma ingin menyembuhkan luka di dada kekasihmu yang diakibatkan mantan kekasihnya. Kau ingin menjadi obat untuk menyembuhkan luka Bokuto (yang diakibatkan oleh Kuroo; karena Kuroo menjadikan Bokuto sebagai pelariannya—dan kini, Bokuto mungkin menjadikanmu pelariannya sebagai ganti apa yang diperbuat Kuroo). Ini semua terlalu rumit. Sejak awal, kau cuma ingin mengikis luka di dada seseorang (di dada Kuroo) yang katanya menjelma kelelawar—yang takut padamu; pada cahaya, pada matahari (pada Bokuto), yang tanpa kau sadari rupanya mereka saling berhubungan di masa lalu, seperti efek domino yang menyeretmu untuk semakin menghancurkan mereka. Kau ada sebagai tokoh sentral yang ingin menyembuhkan luka pada keduanya, tapi kau justru semakin menambah luka mereka.]

.


'Tapi, Kuroo-san … Bokuto-san akan membencimu kalau kau melakukan itu.'

Bokuto-san akan membencimu kalau kau menyentuh apa yang menjadi miliknya—kalau kau menyentuhku.

Kau telan pula kalimat itu, kau telan sepenuhnya. Kuroo sudah melakukan apa yang mungkin akan membuat Bokuto membencinya—benarkah Bokuto membencinya? Kau tak pernah mendapat kepastian; kepada siapa lelaki itu marah, kepada siapa lelaki itu cemburu, kepada siapa sebetulnya lelaki itu jatuh cinta—apakah benar padamu, atau masih pada Kuroo. Atau tidak pada siapa pun, seperti dirimu sendiri yang kini terombang-ambing dalam ketidak-pastian. Sebab cinta adalah tahi kucing yang terkubur dan tak ingin kau temukan.


Langit tanpa batas adalah rinduku;

Yang menguap dan menjadikanmu ada

Aku rindu, kau rindu

Aku cahaya dalam mataharimu

Lantas, akankah kita biarkan kelelawar itu mati dalam kobaran kita?


.

Kau menyukai puisi; sama seperti Kuroo. Kau menyukai sastra; sama seperti Kuroo. Kau menyukai sesuatu hal yang buram—seperti kisah cinta dalam era peperangan ketika mata seorang perwira berubah semerah darah; sama seperti Kuroo. Kau bicara mengenai visi dan misi hidupmu ke depannya, membayangkan hunian menyenangkan di tengah perkotaan, tempat ide-ide datang karena betapa binatangnya manusia; dan lelaki itu bicara mengenai betapa dalam hidupnya dia cuma percaya pada keberadaan neraka.

Kau menyukai Kuroo karena pemikirannya yang luas; tapi Kuroo menyukai kekasihmu karena dia mampu membuatnya menggila dalam tawa.

Kau bertanya, siapakah sebetulnya yang berperan sebagai figuran dalam kisah ini. Kau menjelma sebagai sosok yang seolah memiliki kedua lelaki itu; kekasihmu dan mantan kekasihnya. Kenyataannya, kau merasa seakan tidak memiliki siapa-siapa—tidak dimiliki siapa-siapa. Kau hanya menyembuhkan luka di dada mereka, sementara lukamu sendiri kau biarkan menganga—luka dari siapa? Kau bahkan tidak tahu.


Untuk Kuroo T.

Luka-luka itu tidak cuma tercetak di dadamu;

Tapi juga mukamu—di dalam kedua bola matamu

Kau bisa mati

Kalau tetap ingin aku

{Kau akan sama terbakar dalam kobaran; sebab kini akulah cahaya yang berpendar bersama matahari}

Tidakkah kau rindu tempat sunyi;

Tempatmu tidur dan sembunyi

{Dari aku dan matahari?}

[Dari Akaashi K.]

.


.

"Tempat sunyi itu sudah lama pergi meninggalkanku."[*]

"Aku ingin kau bahagia."

"Kalau begitu jangan pergi."

"Kalimat itu seharusnya dulu kau katakan pada Bokuto-san."

"Akaashi…"

"Kau bukan ingin aku."

"Aku ingin kau."

"Kau ingin Bokuto-san kembali padamu melalui aku."

"Jangan bodoh."

"Kaulah yang bodoh, Kuroo-san."

Lelaki itu tertawa pilu. Kau menangkup wajahnya. Kau melihat orang lain di matanya; entah siapa. Lalu kau kecup dia—untuk yang terakhir kali. Kau katakan bahwa hubungan semacam ini harusnya dihentikan, biar tak ada yang semakin terluka—kau tidak ingin terluka, maka kau memutus sumber luka. Sebelum pergi, kau membisiki sesuatu di telinganya.

"Aku adalah cahaya. Kau adalah kunang-kunang. Kau bukan lagi kelelawar, aku mengubahmu menjadi kunang-kunang, agar kau tetap bercahaya tanpa perlu terbakar dalam kobaranmu sendiri."[]

11:36 PM – August 15, 2017


[*] merujuk pada tsukishima kei di chapter pertama

A/N:

Chapter terakhir akan mengambil sudut pandang Bokuto. Semoga chapter ketiga nanti bisa memperjelas relasi antara chapter pertama dan kedua. Terima kasih sudah membaca :)