Disclaimer : Boboiboy © Animonsta Studio

Warning : AU, TaufanxYaya, adult!charas, OOC, and probably some typos

.

.

.

"Jadi kau serius mau menikah?" Ying memelototi undangan yang baru saja diserahkan Yaya padanya, tak percaya melihat nama sang sahabat benar-benar tertera di sana.

"Kan aku sudah memberitahumu sejak dua minggu yang lalu, Ying..." Yaya mendesah sambil menyeruput vanilla milkshake-nya.

"Kupikir kau cuma bercanda! Jadi ini sungguhan?" Ying melambaikan undangan di tangannya meminta kepastian, dan Yaya mengangguk muram. "Whoa, selamat kalau begitu!"

"Selamat apanya ... aku tidak menginginkan pernikahan ini, Ying ..." Yaya terlihat hendak menangis, maka Ying buru-buru mengubah ekspresi cerianya menjadi penuh simpati.

"Tak perlu secemas itu, aku yakin ini tidak seburuk yang kau pikirkan," ujar Ying sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. "Lagipula kau selalu bilang tak ingin pacaran dan langsung menikah saja, kan?"

"Tapi tidak secepat ini juga!" seru Yaya frustasi. "Aku akan menikah dua minggu lagi, Ying, dua minggu! Aku bahkan tak punya waktu untuk mempersiapkan mentalku untuk ini ..."

Kali ini Yaya benar-benar menangis. Ying dengan sigap merangkul Yaya dan menepuk lembut punggung Yaya untuk menenangkan gadis itu. "Cup, cup, cup... jangan menangis. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, kan?"

Tapi Yaya malah menangis semakin keras, membuat beberapa pengunjung cafe tempat mereka duduk menoleh ingin tahu. Ying hanya bis ameringis dan tersenyum meminta maaf pada orang-orang yang melihat mereka.

Ying menunggu hingga Yaya benar-benar berhenti menangis sebelum akhirnya melepaskan rangkulannya dan menyerahkan segelas air putih pada Yaya.

"Nah, sekarang sudah lega?" tanya Ying saat Yaya mulai meneguk airnya.

"Belum..." balas Yaya cemberut.

"Kalau begitu nanti saja lanjut menangisnya, jangan di sini lagi. Orang-orang dari tadi terus memperhatikan kita, tau," ujar Ying setengah berbisik. Yaya melirik sekelilingnya dan melihat beberapa orang memang tengah mencuri pandang ke arah mereka dengan ingin tahu. Itu membuatnya merasa sedikti malu.

"Maaf ..." gumam Yaya malu.

"Tidak apa-apa, aku mengerti," kata Ying kalem. "Kau pasti sedang mengalami sindrom Marriage Blues*, jadi itu wajar," Ying melanjutkan dengan sok tahu.

"Ini bukan Marriage Blues," tukas Yaya masam.

"Lho, masa? Jadi kenapa kau menangis menjerit-jerit seperti anak kecil tadi?"

"Aku tidak menangis menjerit-jerit seperti anak kecil!" kata Yaya dengan wajah merona. "Aku Cuma frustasi karena akan menikah dua minggu lagi."

Ying menjentikkan jarinya. "Nah, itu namanya marriage blues."

"Terserah kau sajalah," Yaya akhirnya menyerah dan memilih untuk menyeruput kembali milkshakenya.

"Jadi, Boboiboy Taufan ..." ujar Ying sambil membaca nama yang tertera di depan undangan, bersanding dengan nama Yaya.

"Yap. Nama yang aneh, kan?" komentar Yaya.

"Hush. Jangan menghina nama calon suami sendiri."

Yaya memanyunkan bibirnya kesal.

"Jadi, kau sudah bertemu dengannya?" tanya Ying, mengabaikan ekspresi cemberut Yaya.

"Belum," Yaya menggeleng pelan. "Aku seharusnya bertemu dengannya minggu lalu, tapi dia belum bisa kembali dari Amerika karena masih harus mengurus beberapa hal di sana. Jadi aku Cuma bertemu dengan orangtuanya."

"Kau punya fotonya?"

"Tidak."

"Kenapa? Kau tidak minta pada orangtuanya? Atau orangtuamu? Mami dan papimu mengenal di Taufan ini, kan?"

"Yah, mereka kenal, tapi tidak pernah bertemu secara langsung, hanya melihat dari foto saja. Mereka menawarkan fotonya padaku, tapi aku menolak. Karena ... yah ..."

"Kau terlalu membencinya sampai tidak mau melihat wajahnya?" tebak Ying sambil menyendokkan es krim yang hampir meleleh ke dalam mulutnya.

"Tidak, aku tidak membencinya. Bagaimana bisa benci, kenal juga nggak," kata Yaya.

"Kalau begitu kenapa?"

"Aku ... cuma takut kecewa."

"Hah?"

"Yah ... aku takut kalau ternyata dia tidak sesuai harapanku. Nanti aku malah kecewa dan merasa semakin berat menjalani semua ini. Jadi lebih baik aku bertemu langsung saja dengannya saat pernikahan nanti."

"Bukannya itu sudah terlambat? Kau tidak akan mundur lagi kalau sudah hari pernikahan, kan?"

"Sekarang juga aku sudah tidak bisa mundur," gumam Yaya lesu. "Lagipula memang lebih baik begitu, kan? Aku tidak ingin menambah-nambah beban untuk diri sendiri."

Ying menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kadang aku memang tak pernah mengerti jalan pikiranmu." Yaya hanya tertawa kecil. "Jadi, apa lagi yang kau ketahui tentang calon suamimu ini?"

Yaya menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab. "Dia punya dua saudara kembar."

"Whoa, kembar tiga?"

"Yap," Yaya mengangguk dan kembali mengingat-ingat. "Kembaran pertamanya bernama Halilintar, dan yang kedua bernama Gempa. Taufan lahir setelah Halilintar, jadi dia anak kedua, dan Gempa itu adiknya."

"Halilintar, Taufan, Gempa ... kenapa namanya seperti nama bencana alam semua?" Ying bertanya geli.

"Ya mana aku tau. Tanya saja pada orangtua yang memberi mereka nama," balas Yaya sewot.

"Mungkin karena itulah hidupmu jadi bencana seperti ini. Nama calon suamimu saja seperti nama bencana alam," tukas Ying masih tertawa geli. "Lalu, info apa lagi yang kau tau tentang si Tuan Bencana Alam ini?"

"Yah ... Taufan dan kedua saudaranya dibesarkan di sini, sebelum akhirnya ikut bersama kedua orangtua mereka ke Inggris. Ayahnya duta besar di sana. Lalu setelah tamat sekolah menengah, Taufan memutuskan untuk kuliah di Amerika, sedangkan Halilintar dan Gempa memilih menetap di Inggris."

"Hmm ... berarti dia orang yang mandiri. Itu bagus," komentar Ying.

"Yah, sepertinya begitu," gumam Yaya sedikti melamun. Ia kemudian melanjutkan kembali ceritanya. "Taufan mengambil jurusan Arsitektur di Harvard, dan baru saja wisuda beberapa bulan yang lalu. Dia sekarang sedang berada di New York dan baru akan kembali ke sini beberapa hari sebelum pernikahan."

"Menurutku dia tipe calon suami idaman," Ying berkomentar setelah Yaya berhenti bicara. "Seharusnya kau merasa bersyukur dijodohkan dengannya."

"Ya, aku akan bersyukur kalau saja aku tidak dipaksa menikah saat umurku baru saja menginjak 20 tahun," balas Yaya sinis. Ying tergelak.

"Bagaimana dengan dua saudaranya? Mereka juga pasti datang ke pernikahan kalian, kan?" tanya Ying antusias.

"Kurasa tidak. Halilintar dan Gempa sedang sibuk menyelesaikan tugas akhir mereka, jadi sepertinya mereka tidak bisa hadir," terang Yaya.

"Ah, sayang sekali ... Padahal aku berniat mengincar salah satu dari mereka berdua. Bagus kan kalau pasangan kita adalah saudara kembar?" Ying menyeringai lebar.

"Bagus apanya. Kau kan sudah punya Fang, mau dibawa ke mana nanti dia?"

"Cih, Fang ... Dia terlalu sibuk di akademi polisinya, dan sepertinya dia sudah lupa masih berpacaran denganku," gerutu Ying.

"Oh, benar juga, aku hampir lupa," Yaya merogoh tas tangannya dan menarik keluar dua buah undangan lagi. "Tolong berikan undangan ini pada Fang, ya? Sekalian Gopal juga, kau kan sekampus dengannya," kata Yaya seraya menyerahkan amplop cantik berisi undangan pernikahannya itu pada Ying.

Ying menerima undangan itu sambil menggerutu tentang sikap cuek Fang padanya belakangan ini.

Ponsel Yaya tiba-tiba berdering. Yaya segera meminta Ying untuk diam sebelum akhrinya menjawab panggilan teleponnya.

"Assalamualaikum, mami," ucap Yaya. Sang ibu dari seberang telepon segera memberondongnya dengan banyak pertanyaan. "Iya, iya, sebentar lagi Yaya ke sana. Yaya baru aja memberikan undangan untuk Ying. Nggak, nggak bertambah lagi kok. Yaya cuma mengundang tiga teman Yaya, selebihnya terserah mami saja. Tidak perlu, mi ... untuk apa mengundang terlalu banyak, toh cuma pesta sederhana. Iya ... Yaya yakin. Ya ampun mami, iya iya, Yaya akan ke sana sekarang. Tempatnya juga dekat kok dari sini. Iya, mami jangan khawatir, Yaya bisa sendiri kok. Iya, iya ... sudah ya, mi, assalamualaikum... love you too."

Yaya menutup teleponnya dan mendesah keras. Ia melihat Ying telah menghabiskan es krimnya dan ia pun akhrinya menandaskan gelas milkshakenya.

"Kelihatannya kau sibuk, ya," komentar Ying.

"Kau tak akan bisa membayangkannya," ujar Yaya sambil menggelengkan kepala. "Aku harus fitting baju pengantin sekarang. Mau temani aku?"

"Dengan senang hati," balas Ying tersenyum lebar.

.

.

.

"Taufan, kau benar-benar pulang!"

Taufan yang tengah asyik menikmati sepiring pai daging tersedak saat sebuah lengan besar tiba-tiba merangkulnya dan nyaris mencekik lehernya dari belakang.

"Gopal, aku sedang makan!" protes Taufan sambil menggapai-gapai gelas minumannya.

"Oh, maaf, maaf ... Aku cuma terlalu senang melihatmu lagi!" Gopal nyengi rlebar dan menghempaskan diri di kusrsi di hadapan Taufan. "Kau tau, aku kaget sekali saat kau tiba-tiba menelepon dan bilang kau sudah pulang ke Malaysia. Kupikir tadi kau cuma bercanda. Kapan kau sampai?"

"Baru saja," kata Taufan, mengunyah kembali painya. "Aku baru meletakkan barang-barangku di rumah setelah dari bandara. Lalu aku langsung menelponmu dan datang ke sini."

"Kau tidak bilang-bilang mau pulang. Kan kalau aku tau aku bisa membuatkan pesta selamat datang untukmu."

Taufan hanya ngengir. "Jadi, ada kabar apa selama aku pergi?" tanyanya kemudian.

"Ah, tak usah pikirkan itu dulu. Yang penting sekarang, kenpa kau tidak memberitahuku kau akan menikah?" tanya Gopal.

Taufan lagi-lagi tersedak makanannya. "Da-dari mana kau tau?" tanyanya dengan mata berair.

"Aku dapat undangannya dari Yaya. Ngomong-ngomong dia itu sahabatku."

"Yang benar? Kau kenal Yaya?" Mata Taufan melebar antusias.

"Tentu saja. Kami berteman baik sejak sekolah menengah. Aku kaget saat tau Yaya akan menikah, tapi lebih kaget lagi saat tahu calon mempelainya adalah kau! Bagaimana kau bisa mengenal Yaya?" tanya Gopal bersemangat.

"Sebenarnya kami dijodohkan. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Yaya," balas Taufan sedikit meringis.

"Whoa, kau beruntung sekali kalau begitu, dijodohkan dengan seorang gadis seperti Yaya. Tapi kurasa Yaya sangat sial karena dijodohkan dengan orang sepertimu." Gopal tergelak dan langsung menghabiskan es jeruk Taufan tanpa izin.

"Sialan kau," ucap Taufan, entah karena Gopal menghinanya atau karena menghabiskan minumannya. "Jadi ... kau kenal Yaya, huh? Sekarang kau harus menceritakan semua tentang Yaya padaku."

"Tapi traktir aku makan, ya?"

"Gampang. Pesan saja apa yang kau suka," Taufan melambaikan tangan enteng. Gopal bersorak gembira dan langsung memesan dua cheeseburger jumbo dan segelas cola, juga es jeruk baru untuk Taufan.

"Oke, jadi mau mulai dari mana?" tanya Gopal setelah selesai memesan makanannya.

"Yaya orang yang seperti apa?" tanay Taufan segera.

"Hmm... dia gadis yang baik sebenarnya... Tapi Yaya juga sangat galak. Jangan pernah memancing emosinya kalau kau masih ingin menikmati hidup panjang yang bahagia."

"Apa dia ... err, punya pacar?" tanya Taufan ragu-ragu.

"Tidak ... setahuku tidak. Yaya bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu dengan berpacaran. Dia lebih memilih untuk fokus belajar. Jadi yah... begitulah."

Mata Gopal berbinar saat makanannya akhirnya tiba. Ia langsung menyambar cheeseburger dan memasukkan satu gigitan besar ke dalam mulutnya.

"Muakhanya akhu khaget sekalhe saat dapat undhangan pernikwahan dwari Yaya. Akwu thedak menyangka dia akan menikhah secephat inhe," lanjut Gopal dengan mulut penuh.

"Telan dulu baru bicara," kata Taufan datar.

Gopal menelan makanannya dan meneguk colanya sebelum melanjutkan bicaranya.

"Bagaimana bisa kau dijodohkan dengan Yaya?"

"Ya mana kutahu," kata Taufan mengangkat bahu. Ia sudah selesai menghabiskan makanannya dan kini tengah memutar-mutar sedotan di gelasnya. "Beberapa minggu lalu, ibuku tiba-tiba saja menelepon dan bilang akus udah dijodohkan dnegan anak teman lama ayahku. Ibu menyuruhku secepatnya kembali ke sini untuk melangsungkan pernikahan. Kau tak tahu betapa repotnya aku karena harus mengurus banyak hal setelah pemberitahuan tiba-tiba itu." Taufan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

"Bagaimana dengan semua pacarmu di sana? Kau sudah memutuskan mereka?" tanya Gopal setengah berbisik.

"Ya ... Aku terpaksa memutuskan ketiga belasnya sekaligus."

"Tiga belas?" Mata Gopal melotot tak percaya.

"Yep. Aku dapat lima tamparan, tiga kali disiram air —salah satunya bahkan teh panas, mukaku sampai melepuh— dan dua orang juga melempariku dengan makanan. Tapi untunglaj tiga sisanya bisa kuputuskan dengan baik-baik."

Gopal menggeleng-geleng tak percaya mendnegar cerita Taufan. "Kau memang gila," komentarnya.

"Kenapa? Itu masih lumayan kok. Biasanya pacarku lebih banyak lagi," balas Taufan enteng.

"Aku jadi semakin kasihan pada Yaya ..." ujar Gopal dengan wajah prihatin.

"Tenang saja. Aku sudah memutuskan untuk bertobat, kok," kata Taufan seraya tersenyum lebar.

"Kau? Boboiboy Taufan, mau bertobat? Walau dunia kiamat juga kurasa sifat bejatmu itu tidak akan hilang."

"Sialan, kau tega sekali mengatai teman baikmu sendiri. Nggak jadi kutraktir makan, nih," Taufan memasang ekspresi wajah cemberut.

"Eh, iya, iya. Cuma bercanda kok, jangan ngambek dong..." Gopal cengengesan dan mulai menghabiskan cheeseburgernya yang kedua.

Taufan berdecih sebal dan merogoh saku untuk mengecek dompetnya. Wajahnya tiba-tiba memucat.

"Mampus," gumam Taufan.

"Eh, kenapa?"

"Aku lupa bawa dompet."

"APAA?! Kau serius?" Mulut Gopal ternganga lebar. Ia meletakkan kembali burger yang baru setengah dimakannya dan memandang Taufan dengan mata melotot.

"Sepertinya sehabis dari bandara tadi aku memasukkan dompetku ke ransel. Dan sekarang ranselnya ketinggalan di rumah," kata Taufan. Ia masih sibuk mencari-cari di dalam saku celananya, tapi tetap tak menemukan dompet di sana. Bahkan selembar uang pun ia tak bawa. "Aku pinjam uangmu dulu, deh. Nanti kuganti," kata Taufan akhirnya.

"Tapi aku juga tidak bawa uang ..." Gopal menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkannya pada Taufan. "Nih lihat, dompetku kosong."

"Mampus deh kita. Kau ini jadi laki-laki tidak modal sekali sih," Taufan berdecak sebal.

"Kau kan juga sama!" balas Gopal sewot.

"Aku cuma lupa bawa dompet!"

"Kalau begitu sekarang apa yang harus kita lakukan?" Gopal meringis panik. Ia menatap makanannya yang masih tersisa dan kehilangan nafsu makannya.

"Tenang saja. Aku akan mencoba merayu manajer toko ini supaya mau memberi kita gratis," kata Taufan.

"Kau gila! Manajernya itu bapak-bapak paruh baya tahu!" Gopal menuding seorang pria dengan badge nama 'manager' tersemat di dadanya.

"Tidak masalah. Aku sudah biasa menggoda pria-pria tua." Mata Gopal membelalak penuh horor. Namun Taufan sudah beranjak dari kursinya, sampai seorang gadis tiba-tiba datang menghampiri mereka.

"Gopal? Sedang apa kau di sini?" Yaya, dengan kedua tangan memegang kantung plastik belanjaan menyapa Gopal.

"Yaya! Kau memang dewi penyelamat hidupku!" Gopal memekik penuh syukur.

"Eh, kenapa?" tanya Yaya bingung.

"Kau bawa uang lebih tidak? Boleh kupinjam? Aku lupa bawa uang soalnya ..." Gopal menujuk piring berisi makanannya yang tersisa setengah dan juga gelas yang hampir kosong.

"Kau ini, selalu saja begitu ... Utangmu padaku sudah menumpuk tahu. Mau ditambah lagi?" kata Yaya galak.

Gopal menggaruk kepalanya dan meringis. "Nanti langsung kuganti deh, beneran ..." ujarnya memelas.

Yaya menggelengkan kepala melihat sikap sahabatnya yang satu ini. Namun akhirnya ia berbalik dan melangkah ke arah kasir untuk membayar pesanan Gopal dan Taufan.

"Itu ... Yaya?" Taufan berdiri tercengang di tempatnya, memandangi punggung Yaya dari kejauhan.

"Iya, itu Yaya," kata Gopal. "Oh, benar juga! Kebetulan sekali kalian bertemu di sini! Tapi ... Yaya sepertinya tidak mengenalimu, ya?"

"Kan sudah kubilang kami belum pernah bertemu." Taufan kembali menghempaskan diri di kursinya, tapi tatapannya masih melekat pada Yaya.

"Tapi masa' sih dia juga tidak punya fotomu?"

"Ibuku bilang dia menolak saat diberi fotoku."

Gopal tergelak. "Ha! Sudah kuduga Yaya pasti akan menolakmu! Dia bahkan tak sudi mau melihat fotomu!"

"Cih, kalau sudah bertemu denganku dia pasti tidak akan bisa menolak lagi," ujar Taufan penuh percaya diri.

"Dia sudah bertemu denganmu dan bahkan tidak melirikmu sedikit pun."

Taufan tak sempat membalas komentar Gopal karena saat itu Yaya berjalan kembali ke arah mereka.

"Nah, Gopal, sekarang utanmu bertambah 29 ringgit 30 sen lagi," kata Yaya sambil memasukkan dompetnya kembali ke dalam tas tangannya.

"Jangan khawatir, aku yang akan membayarnya nanti," kata Taufan seraya tersenyum manis. Yaya memandangnya dengan kedua alis terangkat. "Oh, kita belum berkenalan kan? Namaku Angin. Aku teman baik Gopal." Taufan mengulurkan tangan sambil terus mempertahankan senyum lima jarinya.

"Oh, aku Yaya. Senang berkenalan denganmu," balas Yaya, ikut tersenyum manis. Namun ia tidak menyambut uluran tangan Taufan dan hanya menangkupkan tangan di depan dada.

Taufan menurunkan kembali tangannya, entah kenapa merasa sedikit malu. "Oh, Yaya ... nama yang cantik, seperti orangnya," ujar Taufan akhirnya setelah kecanggungan beberapa saat.

Yaya kembali mengangkat alis tinggi. Namun kemudian ia memutuskan untuk mengabaikan komentar Taufan dan berpaling kembali pada Gopal.

"Nah, aku pergi dulu, ya. Tadi aku bilang pada Ying cuma mau mampir membeli minum sebentar, tapi malah bertemu denganmu di sini," kata Yaya.

"Oke, oke. Hati-hati di jalan kalau begitu," balas Gopal sambil berusaha menahan tawa melihat ekspresi Taufan yang merasa diabaikan.

Tapi bukan Taufan namanya kalau ia menyerah begitu saja. Saat Yaya hendak berbalik, Taufan buru-buru menahan tangannya. Yaya melotot melihat Taufan yang kini tengah mencengkram erat pergelangan tangannya.

"Oh, maaf, maaf ..." Taufan buru-buru menarik kembali tangannya begitu menyadari tatapan membunuh dari Yaya. "Aku ... cuma mau meminta nomor ponselmu, boleh kan? Kau tau ... aku harus membayar uangmu tadi. Kau tidak bisa mengharapkan Gopal, jadi biar aku saja yang bayar. Dan aku butuh nomor kontakmu untuk menghubungimu lagi nanti saat hendak membayar uangnya," Taufan berujar panjang lebar sambil memamerkan senyum tampannya yang selalu bisa menarik gadis mana pun. Tapi Yaya hanya memandangnya dengan dahi berkerut.

"Kau bisa memberikan uangnya pada Gopal, lalu nanti Gopal yang akan memberikannya padaku. Iya kan, Gopal?" Gopal yang kini tengah menyantap kembali burgernya tersedak karena ditanyai tiba-tiba. Namun ia buru-buru mengangguk. Yaya tersenyum puas. "Nah, beres kan kalau begitu? Maaf ya, tapi aku harus segera pergi. Temanku sudah menunggu."

Tanpa mengucapkan apa pun, atau bahkan melirik lagi ke arah Taufan, Yaya bergegas pergi ke arah pintu keluar. Gopal menunggu sampai Yaya menghilang dari balik pintu kaca sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Ia memandang Taufan yang masih terus menatap pintu tempat Yaya baru saja menghilang.

"Apa kau baru saja mencoba merayu calon istrimu sendiri?" tanya Gopal setelah tawanya reda.

"Kenapa memangnya? Lagipula dia calon istriku kan? Kami akan menikah beberapa hari lagi," balas Taufan tenang. Ia menggelengkan kepalanya sedikit untuk menjernihkan kembali pikirannya yang masih dipenuhi gadis berkerudung merah muda itu.

"Tapi kelihatannya kau gagal meluluhkan gadis yang satu ini," kata Gopal.

"Jangan khawatir. Aku pasti akan menaklukkannya dan membuatnya jatuh cinta setengah mati padaku," kata Taufan sambil menyeringai lebar.

Gopal menelan gigitan terakhir cheeseburgernya dan meneguk minumannya sampai habis. "Terserah kau sajalah," komentarnya datar.

.

.

.

Note :

*Marriage blues : the depressed feeling experienced after one of you kneel and/or before the hike down the aisle.

A/N :

Harusnya sih chapter ini pernikahan Taufan Yaya, tapi aku pengen sedikit mengulur lagi /plak

Tenang aja, chapter depan mereka nikah kok~

Makasih yang udah menyempatkan diri membaca~

p.s. maaf ya nggak bisa balas semua reviewnya, tapi makasih banyak banyak banyak buat yang udah berbaik hati ngasih review~ :'')