Yaya menghabiskan malam sebelum pernikahannya dengan menangis di telepon. Dan yang menjadi korban untuk mendengarkan semua tumpahan rasa frustasi itu tak lain adalah Ying. Gadis itu menghela nafas setelah Yaya tak kunjung memutuskan telepon selama hampi tiga jam.
"Yaya ... sudahlah. Ini sudah hampir jam dua dini hari. Mau sampai kapan kau terus-terusan menangis?" ujar Ying lelah.
"Huweee... aku tidak mau menikah, Ying... Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau! HUWEEE!" Yaya menangis terisak-isak (lagi), dan Ying hanya bisa menghela napas panjang.
"Kalau begitu kenapa tidak sejak awal saja kau menolak pernikahan ini, Yaya?" Ying menguap lebar dan memeluk gulingnya lebih erat. Ingin sekali ia segera berkelana ke alam mimpi, tapi demi solidaritas, ia tetap bersedia mendengarkan keluh kesah Yaya walau matanya sudah digelayuti kantuk.
"Aku tidak bisa menolak! Kau kan tau mami seperti apa. Kalau mami sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, bahkan walau dunia kiamat sekali pun mami tetap tidak akan membatalkan keputusannya."
"Ya sudah kalau begitu. Ini memang sudah nasibmu, terima sajalah ..."
"Tapi ..."
"Yaya, lebih baik kau tidur sana. Kalau kau menangis terus semalaman, matamu bisa bengkak besok. Kau mau terlihat seperti nenek sihir jelek di hari pernikahanmu sendiri ..."
"Tidak mau ..."
"Nah, kalau begitu sekarang kau tidur, ya?" bujuk Ying. "Jangan khawatir, kau pasti akan baik-baik saja," lanjutnya lagi.
"Enak saja kau bicara. Kan bukan kau yang dipaksa menikah besok," gerutu Yaya.
Ying tertawa. "Nah, itu tau. Makanya berhentilah mengganggu waktu tidurku. Aku tidak mau datang ke acara pernikahanmu besok dengan mata panda."
"Yah, baiklah. Selamat tidur kalau begitu ..."
"Selamat tidur juga calon pengantin baru~" Ying tak bisa menahan diri untuk tidak menggoda Yaya, membuat sahabatnya itu kembali merajuk.
"Ying!"
"Ahaha, maaf, maaf ... Nah, sudah ya, aku mau tidur. Sampai jumpa besok!"
"Oke."
"Langsung tidur lho, jangan nangis lagi."
"Iya, iya, dasar nona cerewet."
Yaya kemudian memutuskan terleponnya, membuat Ying akhirnya bisa menarik napas lega. Ying sebenarnya merasa sangat kasihan pada Yaya. Sahabatnya itu kelihatan sangat depresi beberapa hari belakangan. Tapi mau bagaimana lagi ... Yaya sudah tidak bisa mundur. Ying hanya bisa berdoa semoga Yaya tidak semakin depresi saat esok hari tiba.
Ying lagi-lagi menguap lebar. Ia melirik jam di dinding kamarnya yang menunjukkan angka dua lebih sepuluh menit. Ying kemudian berguling menyamping, dan dalam beberapa menit ia sudah tertidur lelap.
.
.
.
Get Married chapter 3
by : Fanlady
Disclaimer : Boboiboy © Animonsta Studio
Warning : AU, TaufanxYaya, adult!charas, OOC parah, dan mungkin banyak (banget) typo
A/N : Well, sebelum mulai membaca chapter ini, aku cuma mau bilang sesuatu. Fanfic ini berubah rate jadi T+. Sebenarnya nggak berubah sih, sejak awal aku emang nentuin ratenya T+, cuma lupa naro aja /dikeplak/ Jadi aku berharap, yang merasa umurnya masih di bawah 15 tahun, lebih baik jangan baca deh. Aku nggak mau menodai pikiran polos kalian dengan hal-hal nista di fanfic ini :''' Jadi tolong maafkan saya bagi yang merasa kecewa... :''
Terima kasih atas perhatiannya. Langsung aja kalau gitu, selamat membaca~!
.
.
.
Yaya mengamati pantulan dirinya di cermin. Rambut acak-acakan, wajah kusut, dan mata sembab —untunglah tidak sampai bengkak. Rasanya ia ingin menangis lagi melihat keadaannya yang menyedihkan seperti ini, padahal beberapa jam lagi ia akan menikah. Mungkin Ying benar. Yaya memang mengalami 'marriage blues'.
Suara ketuka di pintu kamarnya membuat Yaya berpaling. Dengan lesu ia berjalan untuk membuka pintu dan melihat sang ibu yang telah berpakaian rapi berdiri di sana.
"Yaya, ya ampun! Kamu belum mandi? Akad nikahnya tinggal beberapa jam lagi, sayang ... Penata riasnya sudah datang, tuh. Buruan mandi dan siap-siap sana," ibu Yaya mengomel panjang lebar.
"Iya, iya, mami ... Ini juga Yaya mau mandi ..." gumam Yaya malas. Ia membiarkan ibunya mendorong punggungnya sampai ke pintu kamar mandi.
"Jangan lama-lama ya, sayang. Nanti kita bisa terlambat."
"Oke, mami."
Ibu Yaya mengecup kepalanya sekilas dan menatap Yaya dengan mata berkaca-kaca.
"Mami masih nggak percaya kalau anak mami sebentar lagi mau menikah ..." ujarnya terharu.
Yaya memutar bola matanya. 'Kalau bukan karena mami juga Yaya nggak bakal nikah hari ini, mi ...' Ingin sekali ia beucap seperti itu, tapi Yaya memilih untuk tetap bungkam sementara sang ibu mengusap kepalanya penuh kasih sayang.
"Nah, ayo cepat kamu mandi, sayang. Mami mau panggilin penata riasnya dulu, ya."
Yaya mengangguk. Ia mengawasi ibunya melangkah keluar dari kamarnya dengan wajah ceria. Saat sang ibu akhirnya menutup pintu, Yaya menghela napas panjang. Ia berharap bisa kembali tidur dan terbangun saat semua ini sudah berakhir. Tapi sang ibu pasti akan mengomel lagi kalau Yaya tidak segera bersiap-siap. Maka Yaya akhirnya berhasil memaksa dirinya masuk ke kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk hari penting ini.
.
.
.
Mobil yang ditumpangi Yaya meluncur mulus memasuki pekarangan sebuah rumah megah. Yaya sedikit tercengang saat menatap ke luar jendela mobil. Ini pertama kalinya Yaya berada di rumah Taufan —tempat acara pernikahan mereka akan diadakan hari ini— dan bagi Yaya rumah itu lebih terlihat seperti istana kenegaraan daripada sebuah rumah biasa.
Saat mobil akhirnya berhenti di depan teras istana—rumah—itu, Yaya melihat banyak orang sudah berkumpul di sana. Para pria dengan setelan jas resmi dan juga wanita dengan gaun cantik berbagai warna. Mereka semua terlihat seperti orang-orang penting yang tak akan bisa ditemui Yaya kecuali hari ini.
Yaya menggigit bibirnya gugup. Bolehkah ia kabur saja sekarang?
Sebuah tepukan lembut di bahunya membuat Yaya terlonjak kaget. Ia menoleh dan melihat Ying tengah tersenyum padanya.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ujar Ying menenangkan.
Yaya sudah mendengar kalimat itu dari Ying setidaknya seribu kali hari ini, tapi tetap saja kegelisahannya tidak juga menghilang. Ia meremas tangannnya sendiri yang nyaris sedingin es dengan gugup, sampai sang supir akhirnya membukakan pintu untuknya.
Yaya menelan ludah saat pandangan semua orang kini tertuju padanya. Ia berharap tanah di bawahnya akan terbelah dan menelannya sekarang juga.
Ying —yang sudah lebih dulu di luar— mengulurkan tangan untuk membantu Yaya turun. Yaya berhati-hati untuk tidak menginjak gaunnya dan dengan gugup melangkah turun dari mobil. Sepatu heels putihnya menginjak lantai halaman yang tertutup paving block dengan sedikit gemetar. Namun Yaya berhasil memaksakan diri untuk tersenyum. Bagaimana pun juga, ini adalah hari pernikahannya. Yaya tidak ingin terlihat buruk di hari paling istimewa dalam hidupnya ini.
Ibu Yaya kemudian menggantikan posisi Ying. Ia menggiring Yaya masuk ke dalam, tempat akad nikah akan berlangsung sebentar lagi.
Dan di sanalah Yaya akhirnya melihatnya. Berdiri dengan punggung menghadap ke arah Yaya, terlihat seorang pemuda dengan setelan putih khas melayu lengkap dengan kopiah senada yang menutupi helaian rambut hitamnya. Ia terlihat tengah berbicara dengan seorang pria yang dikenali Yaya sebagai calon mertuanya.
Saat Yaya melangkah masuk bersama sang ibu, para tamu serentak menoleh, membuat Yaya merasa wajahnya memerah malu.
Taufan akhirnya membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum lebar saat melihat Yaya, dan wajah Yaya semakin merona merah —entah kenapa— saat mata mereka saling bertumbukan. Yaya merasa ia mengenali wajah Taufan. Tapi itu tidak mungkin, ini pertama kalinya mereka saling bertemu, kan?
Kedua mata Taufan mengikuti setiap langkah Yaya hingga mereka saling berdiri berdampingan. Yaya akhirnya bisa melihat kedua mata Taufan yang sewarna safir, mengingatkannya pada Ying. Dan itu membuat kegugupan Yaya sedikit berkurang.
Taufan masih menyunggingkan senyum lebarnya, dan dengan ragu-ragu Yaya pun membalasnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi," ucap Taufan pelan, hingga hanya Yaya yang bisa mendengarnya. Yaya mengerutkan dahi bingung. 'Lagi'? Apa maksudnya 'bertemu lagi'? Memangnya kapan mereka pernah bertemu?
Yaya mencoba mengingat-ingat apa ia pernah bertemu dengan Taufan sebelum ini, tapi ibunya kembali menggiringnya pergi. Kali ini Taufan juga ikut melangkah di sampingnya. Mereka kemudian ditempatkan di depan penghulu yang sudah menanti untuk memulai akad nikah.
"Sudah siap?" sang penghulu bertanya ramah saat Taufan dan Yaya sudah duduk di depannya. Yaya hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa pun. Jantungnya teras abertalu-talu di dadanya, membuat Yaya takut jantungnya akan melompat keluar.
"Sangat siap," Taufan membalas tenang. Yaya melirik pemuda —yang sebentar lagi akan menjadi suaminya— itu. Taufan memang terlihat santai, tapi Yaya bisa melihat bahwa ia juga sedikit gugup. Yaya jadi merasa sedikit lebih rileks, setidaknya bukan hanya dirinya yang merasa gugup di sini.
"Baiklah. Kalau begitu kita langsung mulai saja akad nikahnya."
.
.
.
Akad nikah itu berlangsung selama hampir satu jam. Walau pun selama waktu itu Taufan berusaha terlihat tenang, tapi sebenarnya ia tengah merasa gugup setengah mati. Bagaimana kalau dirinya salah mengucapkan ijab qabul nanti?
Tapi syukurlah ketakutannya itu tidak menjadi kenyataan. Taufan berhasil mengucapkan ijab qabulnya dengan lancar. Ia menghembuskan napas lega saat mendengar para saksi mengucapakan kata 'sah'. Taufan tidak menyadari bahwa selama proses ijab qabul itu ia nyaris terus menahan napas karena terlalu gugup.
Setelah selesai mengucapkan akad nikahnya, Taufan membalikkan tubuh menghadap Yaya yang duduk di sampingnya. Ia kemudian meraih wajah Yaya —yang kini telah resmi menjadi istrinya— dan mengecup keningnya lembut. Taufan tersenyum saat melihat wajah Yaya yang memerah sempurna.
"Sekarang silakan pasangkan cincin pernikahannya," ujar sang penghulu.
Taufan mengambil salah satu cincin yang disodorkan padanya dan memasangkannya di jari manis tangan kanan Yaya. Kemudian Yaya juga melakukan hal yang sama padanya. Sekali lagi Taufan mencium kening Yaya dan menyudahi upacara akad nikah mereka.
.
.
.
Taufan mengetukkan kakinya yang terbalut sepatu pantofel putih ke lantai. Ia mengamati sekeliling rumahnya yang kini nyaris kosong. Semua orang tengah berada di luar, tempat acara resepsi diadakan. Dan Taufan yang sudah berganti pakaian dengan tuksedo putih yang elegan, tengah menunggu sang pengantin wanitanya yang sedang bersiap-siap di lantai atas.
Taufan melirik ke atas dan berdecak pelan. Kenapa lama sekali sih?
Perempuan memang merepotkan ya. Ganti baju saja bisa sampai berjam-jam, pikirnya.
Suara langkah terdengar dari atas tangga. Taufan mendongak dan melihat sang ibu yang terbalut gaun berwarna biru laut melangkah turun menghampirinya.
"Sudah selesai? Mana Yaya, ma?" tanya Taufan.
"Yaya masih di atas. Sebentar lagi juga turun," sahut ibu Taufan sambil tersenyum. "Sudah tak sabar mau melihat pengantin wanitamu?"
"Yah, begitulah," Taufan nyengir lebar.
"Bagaimana? Wanita yang mama pilihkan untukmu cantik kan?"
"Yep. Dia cantik sekali. Tapi tetap jauh lebih cantik mama, dong."
"Dasar tukang gombal," wanita itu mencubit pelan pipi putra kesayangannya. Taufan terkekeh. Sang ibu kemudian mengusap rambutnya dengan wajah sedih. "Ah, anak mama sudah besar ya. Sudah jadi suami orang. Nanti Halilintar dan Gempa juga akan menyusul, dan mama akan kesepian ditinggal sendirian."
"Mama 'kan masih punya papa, jadi mana mungkin mama sendirian. Lagian Taufan juga nggak bakal ninggalin mama kok, Taufan nanti pasti sering-sering ngunjungin mama, tenang aja," ujar Taufan seraya mencium pipi sang ibu.
Ibu Taufan tersenyum. Ia kemudian merapikan beberapa bagian kemeja Taufan yang sedikit kusut dan juga dasi birunya yang miring karena Taufan sedari tadi terlalu banyak bergerak. Barulah tak lama kemudian mereka mendengar suara-suara dari lantai atas.
Yaya melangkah turun dengan anggun dalam balutan gaun putih panjang yang menyapu lantai. Kepalanya tertutup hijab putih dan juga kerudung transparan yang disematkan menggunakan mahkota dari bunga mawar merah muda.
Taufan terpesona. Ia berdiri memandang Yaya dengan mulut sedikit terbuka, untung saja tak sampai ada air liur yang menetes. Sampai sang ibu akhirnya berinisiatif menepuk punggungnya keras untuk menyadarkannya.
"Sana, cepat hampiri Yaya," kata ibu Taufan setengah berbisik. Ia kemudian mendorong pelan punggung putranya ke arah Yaya yang baru saja menapakkan kakinya di lantai bawah. Taufan menggelengkan kepalanya pelan agar kembali tersadar sebelum melangkah menghampiri Yaya.
Taufan berdeham pelan dan mengulurkan sebelah tangannya pada Yaya. "Shall we?" ucapnya sambil tersenyum tipis. Yaya melirik gugup gadis mungil yang berdiri mendampinginya. Gadis itu mengangguk menenangkan dan menyerahkan buket bunga yang dipegangnya pada Yaya.
Yaya akhirnya menyambut uluran tangan Taufan. Mereka kemudian saling bergandengan dan melangkah ke halaman tempat para tamu undangan sudah menunggu.
Halaman yang luas itu telah disulap menjadi sebuah tempat resepsi bernuansa putih. Ratusan meja bundar yang tertutup kain linen putih berenda diletakkan di sekeliling halaman berumput, masing-masing dengan empat atau lima kursi mengelilinginya. Beberapa meja panjang diletakkan di pinggir, tempat beraneka makanan dan minuman disajikan dan siap disantap oleh para tamu yang jumlahnya tak lebih dari lima ratus orang. Semua tamu merupakan rekan bisnis kedua orang tua Yaya maupun Taufan. Mereka berdua nyaris tak mengundang teman-teman sebaya, kecuali Yaya yang mengundang ketiga sahabatnya.
Taufan menggiring Yaya melangkah bersamanya di atas karpet putih yang ditaburi kelopak mawar. Mereka berjalan ke arah sebuah gerbang lengkung cantik berhias rangkaian bunga putih yang diletakkan di bagian depan meja-meja tamu.
Tangan Yaya yang digenggam Taufan gemetar seiring setiap langkah mereka yang diawasi ratusan pasang mata. Taufan mengeratkan genggamannya dan melirik ke arah Yaya seraya tersenyum tipis untuk menenangkan gadis itu. Yaya membalas senyumnya dengan sedikit ragu, tapi ia juga balas menggenggam tangan Taufan erat. Setelah itu Yaya melangkah dengan lebih mantap hingga mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.
"Gugup?" Taufan berbisik saat mereka telah berdiri di bawah rangkaian bunga mawar putih.
"Sangat," balas Yaya, juga berbisik. Ia masih menggenggam erat tangan Taufan, seolah takut kakinya tak akan sanggup menopang lagi tubuhnya jika ia tak berpegangan pada sesuatu.
Satu persatu para tamu bangkit dari kursi mereka untuk mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu. Genggaman tangan mereka akhirnya terlepas karena harus menyalami orang-orang satu-persatu. Taufan menyalami para laki-laki, dan Yaya menerima ucapan selamat dan kecupan dari para wanita yang rata-rata seumuran ibunya.
"Selamat atas pernikahan kalian." Salah seorang teman ayah Taufan menjabat erat tangannya dan menepuk-nepuk punggungnya memberi selamat.
"Terima kasih, om," balas Taufan sambil tersenyum.
"Selamat ya, Yaya, atas pernikahannya. Tante senang sekali saat mendengar kamu akan menikah. Dulu tante juga menikah saat masih seumuran denganmu, lho," kata salah seorang wanita yang dikenali Yaya sebagai teman dekat ibunya.
"E-eh ... terima kasih, tante," Yaya membalas senyum lebar wanita itu dengan sedikit meringis. Ia menerima kecupan di kedua pipinya sebelum beralih ke tamu lain yang juga ingin mengucapkan selamat.
Taufan dan Yaya terus menerima banjir ucapan selamat dari orang-orang yang sebagian besar bahkan tak mereka tahu namanya. Mereka hanya terus melempar senyum pada setiap orang, sampai Yaya merasa pipinya mulai kebas karena terus-terusan tersenyum.
Akhirnya antrian panjang para tamu pun berakhir. Kini mereka kembali duduk mengelilingi meja bundar dan saling mengobrol juga menikmati hidangan yang disajikan.
"Fuh, akhirnya selesai juga," kata Taufan menghela napas panjang. Yaya mengangguk, ikut menghembuskan napas lega. "Kau capek?" tanya Taufan melihat wajah Yaya yang sedikit kusut.
"Sedikit," gumam Yaya. Ia ingin duduk dan memijat kakinya yang terasa pegal karena terlalu lama berdiri. Sayangnya di tempat mereka tidak disediakan kursi. Tega sekali maminya tidak berpikir untuk menyediakan kursi untuknya.
"Mau kuambilkan makan?" Taufan menawarkan.
"Tidak, aku tidak lapar," tolak Yaya halus. Memang benar ia tidak merasa lapar, walau tadi pagi juga makannya hanya sedikit. Saat ini yang diinginkan Yaya adalah agar hari ini cepat berakhir dan ia bisa beristirahat dengan tenang di kamarnya yang nyaman.
"Kalau minum?"
"Yah, minum bolehlah," kata Yaya akhirnya.
"Oke, tunggu di sini sebentar ya. Aku akan mengambilkan minum." Taufan kemudian berjalan meninggalkan Yaya menuju salah satu meja saji untuk mengambilkan minum. Yaya memandangi punggung Taufan yang menjauh. Mau tak mau ia bersyukur karena ternyata Taufan orang yang perhatian, dan sepertinya lumayan baik.
"Yaya!"
Yaya menoleh dan melihat Ying melambai riang ke arahnya. Gadis itu menggandeng lengan sang kekasih —Fang— dan melangkah menghampiri Yaya.
"Kau dari mana saja, Ying? Aku mencarimu dari tadi," kata Yaya sedikit cemberut. Sejak Ying melepaskan Yaya untuk pergi bersama Taufan di tangga tadi, Yaya sama sekali tak melihat sahabat mungilnya itu lagi.
"Ah, maaf, maaf. Aku tadi mencari Fang. Dia lama sekali sih datangnya. Masa katanya dia nyasar saat mau ke sini," kata Ying sambil melirik pemuda di sebelahnya.
"Aku tidak nyasar! Cuma salah membaca petunjuk arah saja," balas Fang dengan wajah memerah malu.
"Itu sama aja nyasar," cibir Ying.
Yaya tersenyum geli melihat pertengkaran kedua sejoli itu. "Terima kasih sudah mau datang, Fang," ucapnya. "Aku sedikit tidak enak memaksamu datang padahal kau sedang sibuk di akademi."
"Hm. Sama-sama," balas Fang singkat. "Tapi yah ... sebenarnya aku tidak mau datang juga sih, kalau saja Ying tidak terus-terusan memaksaku untuk ... Auw! Sakit, Ying! Kenapa kau menginjak kakiku?" Fang menggerutu sambil mengangkat sebelah kakinya yang baru saja diinjak sang kekasih.
"Jangan dengarkan dia, Yaya. Dia cuma sok sibuk, padahal kerjaannya setiap hari cuma memandangi para polisi cewek yang memakai rok mini di akademinya," ketus Ying dengan mata melotot pada Fang.
"Aku tidak memandangi para polisi cewek ber-rok mini!" sanggah Fang.
"Lalu kenapa kemarin aku melihatmu berusaha mendekati mereka saat aku berkunjung ke tempatmu?"
Yaya menggelengkan kepala saat Fang dan Ying mulai saling adu mulut di depannya. Mereka memang pasangan yang manis, tapi kalau sudah bertengkar bisa sampai panjang sekali urusannya.
Yaya merasakan tepukan lembut di bahunya. Ia berbalik dan melihat Taufan membawakan dua gelas berisi jus dingin yang terlihat menggiurkan.
"Nih, minumannya," kata Taufan seraya menyerahkan salah satu gelas padanya.
"Terima kasih," ucap Yaya. Ia meneguk jus itu dan mendesah lega saat air dingin membasahi kerongkongannya yang kering.
Ying menghentikan kegiatan adu mulutnya dnegan Fang dan menoleh pada Taufan yang kini tengah meneguk minumannya.
"Oh, akhirnya aku bisa bertemu juga denganmu," sapa Ying sambil tersenyum manis. Fang mendelik kesal melihat Ying tersenyum pada lelaki lain. "Kenalkan, namaku Ying. Aku sahabat Yaya."
"Oh, aku melihatmu tadi. Kau si bridesmaid itu, kan? Senang bertemu denganmu," Taufan balas tersenyum.
Ying tertawa. "Yep, kau bisa menganggapku bridesmaid Yaya."
"Pas sekali kalau begitu. Pengantin wanita dan pendampingnya sama-sama cantik. Walau tetap saja lebih cantik pengantin wanitaku," kata Taufan sambil merangkul Yaya. Gadis itu merasa wajahnya merona merah, namun tidak berkata apa-apa.
Ying sedikit tersipu mendengar pujian Taufan. Sampai ia mendengar Fang berdeham keras kemudian menarik tangannya agar menjauh dari Taufan.
"Kenalkan, aku Fang, teman Yaya sekaligus kekasih Ying," ujarnya dengan penuh penekanan pada dua kata terakhir. "Selamat atas pernikahanmu," lanjutnya kemudian sembari menjabat tangan Taufan.
"Oh, terima kasih atas ucapannya," balas Taufan dengan senyum lebar. Ia membalas jabatan tangan Fang dengan ceria, sama sekali tidak terusik dengan pandangan membunuh dari pemuda itu.
"Nah, Ying, ayo temani aku makan. Aku lapar," kata Fang. Ia menarik tangan Ying pergi dan tak lupa melemparkan tatapan sengit sekali lagi pada Taufan.
"Sampai jumpa nanti, Yaya!" Ying melambai pada sahabatnya itu sebelum melangkah mengikuti Fang sambil menggerutu. Taufan dan Yaya bisa mendengar mereka saling bertengkar dalam perjalanan ke meja saji.
"Teman-temanmu menarik, ya," komentar Taufan sambil terkekeh pelan.
Yaya mengangkat bahunya. "Yah, begitulah," ucapnya. Ia kemudian meneguk kembali minumannya sambil menatap sekeliling. "Ngomong-ngomong, apa kau tidak mengundang temanmu seorang pun?" tanyanya hati-hati. Yaya baru menyadari bahwa ia tak melihat satu pun tamu yang kelihatan seumuran dengan Taufan. Yang ada hanya bapak-bapak dan juga ibu-ibu, dan tentu saja Fang dan Ying.
"Tidak. Temanku kebanyakan ada di Amerika, dan juga Inggris. Aku tak akan sanggup kalau harus membiayai perjalanan mereka semua untuk datang ke sini," canda Taufan. "Lagipula ... mereka mungkin tak akan percaya kalau mendengar bahwa aku akan menikah," lanjutnya sedikit meringis.
"Eh, kenapa?" tanya Yaya heran.
Taufan sedikit kelabakan mencari jawaban. Karena ... apa ya? Karena mereka semua tau aku ini playboy jadi tidak mungkin bisa menikah secepat ini dengan seorang gadis?
"Err ... karena ..."
Seseorang tiba-tiba merangkul Taufan dari belakang, membuatnya nyaris menjatuhkan gelas jusnya.
"Cieee... nikah~" Gopal muncul entah dari mana dengan memakai setelan jas terbaiknya. Ia menyeringai lebar tanpa melepaskan rangkulannya dari Taufan yang terpaksa sedikit membungkuk karena menerima berat tubuhnya.
"Oh, Gopal, kupikir kau tidak akan datang," kata Yaya sedikit kaget dengan kemunculan Gopal yang tiba-tiba.
"Mana mungkin aku nggak datang ke acara pernikahan dua sahabat terbaikku," kata Gopal nyengir.
"Eleh, padahal kau cuma datang karena mau dapat makan gratis, 'kan," cibir Taufan. Ia menggeliat berusaha melepaskan diri dari Gopal.
"Yap, itu juga salah satu alasannya," balas Gopal.
"Eh, tunggu dulu ... kalian saling kenal?" tanya Yaya bingung melihat keakraban mereka berdua.
"Lho, tentu saja kami saling kenal. Kami sudah bersahabat sejak kecil, saat Taufan, juga Halilintar dan Gempa belum pindah ke luar negeri," terang Gopal.
Yaya memandangnya dengan dahi mengernyit. Kenapa mereka tak memberitahunya kalau mereka berdua sudah kenal lama?
"Ngomong-ngomong, mana Halilintar dan Gempa? Sepertinya aku tak melihat mereka di sekitar sini," kata Gopal sambil celingukan.
"Mereka masih di London, tak bisa datang karena sibuk mengerjakan tugas akhir," kata Taufan.
"Oh, begitu. Hebat juga kau bisa mendahului mereka wisuda. Padahal kupikir kau akan jadi mahasiswa abadi di Harvard sana."
"Sialan kau. Aku ini sebenarnya lebih pintar dari Hali dan Gempa, tau. Aku cuma tidak mau menyombongkan diri saja," kata Taufan angkuh.
Itu barusan kau menyombongkan diri, batin Gopal dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Gopal akhirnya. "Aku mau makan-makan dulu, ya. Kelihatannya ada banyak makanan enak di sini."
"Ya, ya, makan saja sepuasnya. Tapi jangan dibawa pulang, lho."
Gopal cengengesan. "Tau aja aku punya niat mau bawa pulang," katanya. Ia kemudian melambai pergi dan menghampiri meja makan dengan riang.
"Kenapa tidak bilang kau kenal dengan Gopal?" tanya Yaya.
"Eh? Kau belum tau?" tanya Taufan, jelas-jelas terlihat kaget.
"Ya nggak tau lah, kan kau belum bilang."
"Yah... Kita memang belum punya banyak waktu buat ngobrol kan... Lagipula kupikir kau sudah tau..."
Yaya mengernyitkan dahi bingung. "Bagaimana aku bisa tau?"
"Kau tidak ingat pertemuan kita beberapa hari lalu?"
"Err... tidak. Memangnya kita pernah bertemu, ya? Seingatku baru hari ini kita pertama kali bertemu..." Yaya meringis.
Taufan terlihat shock. Jadi sedari tadi Yaya tidak ingat tentang pertemuan mereka hari itu? Pantas saja Yaya sama sekali tidak bertanya apa-apa tentang waktu itu. Taufan kemudain langsung pundung. Bagaimana bisa dirinya yang super tampan nan populer di kalangan para wanita justru segitu gampangnya dilupakan oleh istrinya sendiri?
Yaya meringis memandangi Taufan yang sedang berjongkok dengan aura suram sambil sebelah tangan memeluk lutut dan sebelahnya lagi mencabuti rumput-rumput kecil di bawah kakinya. Untung saja para tamu sedang tak memperhatikan mereka, kalau tidak kan bisa malu pengantin pria yang harusnya tengah berbahagia malah terpuruk sedih seperti anak kecil yang tidak diberi permen.
Yayaa jadi sedikit merasa bersalah. Ia berpikir keras mencoba mengingat-ingat, tapi kepalanya terasa kosong. Tak ada ingatan apa pun mengenai Taufan kecuali tentang hari ini.
Memangnya mereka benar-benar pernah bertemu, ya? Di mana? Kenapa Yaya tidak ingat pernah bertemu Taufan sebelum ini? Apa dia amnesia dadakan?
"Err... Taufan..." panggil Yaya takut-takut.
"Apa?" Taufan bertanya dengan punggung menghadap Yaya, ngambek.
"Maaf, aku... Aku tidak bermaksud melupakan pertemuan denganmu. Aku cuma ... sedang banyak pikiran belakangan ini, makanya jadi gampang lupa," jelas Yaya dengan wajah tertunduk memandangi buket di tangannya sambil sesekali memainkan jarinya yang terbalut sarung tangan putih.
Taufan berbalik dan melihat wajah Yaya yang terlihat merasa bersalah. Sekarang ia jadi ikut-ikutan merasa bersalah juga karena membuat Yaya memasang wajah seperti itu. Ini mereka berdua kenapa sih? Sedang resepsi pernikahan malah sedih-sedihan begini.
"Eh, nggak apa-apa kok, beneran. Wajar kalau kamu lupa, namanya juga lagi banyak pikiran kan? Ahaha..." Taufan menggaruk pipinya dan tertawa canggung.
"Tapi aku kan jadi nggak enak... Masa aku bisa ngelupain..." Wajah Yaya sedikit merona. "...calon suamiku sendiri..." ia melanjutkan dengan suara pelan.
"Sekarang sudah bukan 'calon' lagi, lho..." goda Taufan berusaha mengembalikan suasana ceria.
"Nah, makanya kan ... Aku ini benar-benar perempuan jahat... Aku tidak ingat pertemuan pertama dengan suamiku sendiri..." Iris karamel Yaya digenangi air mata, siap tumpah kapan saja.
TIDAKKK! Kenapa Yayanya malah nangis? Taufan menjerit seriosa dalam hati. Ia melirik sekelilingnya dengan panik. Kalau orang-orang sampai tahu Taufan membuat pengantin wanitanya menangis di hari pernikahan mereka, bisa gawat. Apalagi kalau sampai orangtuanya yang tahu, Taufan mungkin akan dikirim untuk mengikuti pelatihan militer di Angkatan Darat Amerika.
Maka Taufan menggunakan satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya. Ia meraih wajah Yaya dengan kedua tangannya, dan di depan semua tamu undangan mereka, ia pun mencium bibir gadis itu.
.
.
.
"Ya... Yaya..."
Yang dipanggil menjawab ketus. "Apa?"
"Kamu masih marah karena kejadian tadi?" tanya Taufan takut. Ia melirik Yaya yang duduk di jok penumpang dengan tangan bersidekap di depan dada dan wajah berpaling ke luar jendela mobil, menolak menatapnya.
"Nggak kok, aku nggak marah! Kata siapa aku marah?!" geram Yaya.
Taufan meringis. Itu jelas-jelas kau sedang marah, Yaya... batinnya.
"Udah dong, Yaya. Jangan ngambek lagi. Kan aku udah minta maaf," kata Taufan. Yaya mendengus, masih menolak untuk menoleh pada Taufan. "Lagian itu cuma ciuman biasa kan. Nggak masalah dong kita ngelakuin itu, toh udah halal kan?"
Yaya menahan diri untuk tidak menggebuk Taufan dengan tas tangannya. "Masalahnya bukan itu, Taufan... Tapi kenapa kau harus melakukannya di depan semua orang? Aku tadi malu setengah mati tau!"
"Oh, jadi kau mau kita melakukannya di tempat sepi? Ayo kalau gitu. Sekarang kan cuma ada kita berdua."
Kali ini Yaya benar-benar memukul kepala Taufan dengan tasnya. Cukup keras, nyaris membuat dahi Taufan terantuk setir.
"Yaya, aku lagi nyetir! Kalau nanti nabrak gimana?" kata Taufan sambil mengelus bagian belakang kepalanya yang benjol. Itu tas isinya apa sih? Batu gunung?
Yaya merengut kesal. Ia kembali melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang lurus ke depan dengan tatapan membara.
"Maaf deh, aku 'kan cuma bercanda, Ya ... Jangan ngambek lagi ya?" Taufan memandang Yaya dengan kepala sedikit dimiringkan dan memasang wajah seimut mungkin.
Yaya melirik Taufan sekilas dan berkata datar, "Lihat ke depan, Fan. Nanti nabrak."
Ganti Taufan yang kini memasang wajah cemberut. Ternyata memang susah merebut hati istri tercintanya ini. Mungkin Taufan harus memikirkan cara lain agar Yaya benar-benar takluk padanya.
.
.
.
Yaya menatap ke luar jendela, ke arah lampu kota yang berkerlip menghilang di belakangnya saat mobil yang ditumpanginya meluncur mulus di jalanan.
Acara pernikahan mereka sudah selesai beberapa jam yang lalu. Sekarang mereka tengah berkendara menuju apartemen baru mereka yang letaknya cukup jauh dari rumah orangtua Taufan.
"Kau sudah pernah melihat apartemen yang akan kita tinggali nanti?" Taufan tiba-tiba bertanya. Yaya tau Taufan berusaha mengalihkan topik pembicaraan untuk mencairkan kembali suasana di antara mereka, maka Yaya pun dengan sedikit enggan membalas ucapannya.
"Belum. Aku bahkan tidak tau kita akan tinggal di apartemen."
Taufan terlihat lega karena Yaya sudah tidak bersikap ketus lagi padanya. "Yah, sebenarnya mama menyuruh kita untuk tinggal di rumah saja. Lagipula mama dan papa juga lebih sering berada di London, jadi rumah di sini hampir tidak ada yang menghuni. Tapi kurasa rumah itu terlalu besar kalau hanya kita berdua yang tinggal, 'kan? Jadi aku memutuskan untuk membeli apartemen saja," jelasnya.
"Oh, jadi kau yang membeli apartemen ini?" tanya Yaya, kali ini ia sudah mau memandang ke arah Taufan.
"Yep. Mama yang membelikan sebenarnya, karena waktu itu aku masih di New York. Tapi tentu saja tetap pakai uangku sendiri." Taufan nyengir lebar.
Yaya mengangguk-angguk paham. "Jadi, kau sudah melihat apartemennya?"
"Sudah, kemarin. Aku juga sudah membereskannya supaya kita tidak perlu repot-repot lagi."
Yaya kembali mengangguk-angguk. Ini pertama kalinya ia tinggal di apartemen sendiri. Walau teman-teman kuliahnya banyak yang sudah menyewa apartemen, tapi Yaya tetap memilih tinggal di rumah kedua orangtuanya. Lagipula rumahnya juga tak terlalu jauh dari kampus, jadi buat apa repot-repot menyewa apartemen?
Sejujurnya Yaya merasa sedikit gugup. Tadinya ia mengira mereka akan tinggal di rumah orangtuanya atau rumah orangtua Taufan. Yaya tak menyangka mereka akan tinggal di apartemen sendiri. Hanya berdua, tanpa orang lain. Apa yang harus Yaya lakukan? Ia tak bisa kabur ke mana-mana kalau begini caranya.
"Ngomong-ngomong Yaya ..."
"Hm?"
"Kau ... benar-benar tidak ingat aku?" tanya Taufan ragu, takut jika Yaya akan mulai menangis lagi kalau menyinggung topik ini. Tapi Taufan hanya ingin tahu apa Yaya berpura-pura atau tidak.
"Umm ..." Yaya menggigit bibirnya gelisah. "Aku sudah mencoba mengingat-ingat ... tapi aku benar-benar tidak ingat kapan kita bertemu. Mungkin kalau kau memberitahu secara spesifik aku bisa lebih muda mengingatnya."
"Yah, kita bertemu tiga hari yang lalu. Kau sepertinya baru selesai belanja, karena kau memegang dua kantong belanjaan besar di tanganmu. Lalu kau menghampiri Gopal di dalam sebuah cafe dan menyapanya, kemudian Gopal meminjam uang padamu untuk membayar makananya. Ingat?"
Yaya berpikir keras, sebelum akhirnya menepuk kedua tangannya keras. "Oh! Ya, ya, aku ingat! Jadi kau yang waktu itu bersama Gopal?" tanyanya.
"Jadi kau benar-benar tak menyadarinya, ya?" Taufan meringis.
"Ah, maaf ... Pikiranku benar-benar penuh sekali belakangan ini. Aku bertemu banyak orang baru setiap hari, jadi yah ... aku tidak bisa mengingat semuanya satu-persatu," Yaya bergumam pelan.
Taufan tersenyum miris. Ternyata kehadirannya segampang itu dilupakan, ya?
Yaya yang menyadari ekspresi Taufan kembali merasa sangat bersalah. "Maaf ... aku tidak bermaksud melupakanmu. Aku cuma ... yah ..."
"Tidak apa. Aku mengerti." Taufan menyunggingkan senyum lebar seolah itu bukan hal penting baginya.
Yaya menunduk dan berusaha mengingat-ingat kembali pertemuan pertama mereka hari itu. "Tunggu dulu. Waktu itu kau mencoba merayuku, kan? Sampai meminta nomor HP-ku segala. Itu maksudnya apa?" tanya Yaya, kembali bersikap galak.
"Oh, itu," Taufan nyengir dan menggaruk pipinya pelan. "Aku cuma ingin mengetesmu. Aku ingin tau apa kau akan termakan rayuan murahan seperti itu. Syukurlah ternyata tidak." Taufan kemudian tertawa kecil, sementara Yaya terlihat cemberut.
"Jadi waktu itu kau sudah mengenaliku?"
"Oh, ya, tentu saja. Aku punya beberapa fotomu yang dikirimkan mama. Salah satunya bahkan kujadikan wallpaper, nih lihat." Taufan memperlihatkan layar ponselnya pada Yaya. Wajah Yaya merona melihat potret dirinya yang sedang tersenyum terpampang di sana. "Aku tau kau menolak fotoku. Jadi aku ingin tau apa kau mungkin bisa mengenaliku entah bagaimana," lanjut Taufan lagi.
"Mana mungkin bisa, kan. Kita belum pernah bertemu sama sekali," sungut Yaya. "Kenapa kau tidak langung mengaku saja sih? Pakai memperkenalkan diri dengan nama Angin segala ..."
"Oh, itu nama samaranku. Keren, kan? Aku biasanya menggunakan nama itu saat merayu gadis-gadis di ..." Taufan buru-buru menutup mulutnya menyadari apa yang baru saja (hampir) diucapkannya.
Yaya menatapnya galak. "Apa kau bilang? Merayu gadis-gadis?"
"Aha-ahahahah, bukan kok, bukan merayu ... itu ... apa ya ..." Taufan mencoba mencari alasan, namun ia diselamatkan oleh dering ponsel Yaya.
Yaya masih menatap Taufan galak sebelum meraih ponsel dari dalam tasnya dan memandang layarnya. Ada pesan masuk dari Ying. Yaya membuka pesannya dan melihat sahabatnya itu mengiriminya sebuah gambar. Kedua matanya melotot kaget karena gambar yang dikirmkan Ying ternyata adalah hasil jepretan adegan ciumannya dengan Taufan di pesta pernikahan tadi. Belum sempat rasa kagetnya hilang, Ying kembali mengirimkan pesan.
From : Ying
Hai pengantin baru yang sedang berbahagia~ Semangat ya buat malam pertamamu dengan si Tuan Bencana Alam~
p.s. besok jangan lupa ceritakan padaku ya~ *wink*
p.p.s. jangan lupa pakai hadiah dariku~~
Wajah Yaya nyaris semerah tomat. Ia bisa merasakan pipinya memanas. Dalam hati ia merutuki Ying yang mengirim pesan senista ini. Namun Yaya lebih mengkhawatirkan isi pesan itu.
Bagaimana bisa Yaya lupa tentang hal itu? Ia terlalu disibukkan dengan persiapan pernikahannya —dan juga terlalu sibuk meratapi nasib malangnya— sampai Yaya lupa sama sekali tentang 'malam pertama' itu. Gawat, apa yang harus ia lakukan? Bisakah ia melompat keluar dari mobil sekarang?
Ponsel Yaya kembali berdering, tanda ada pesan baru yang muncul. Yaya segera membacanya, berharap itu adalah sebuah pertolongan untuknya.
From : Mami
Semoga sukses buat malam ini sayang. Mami udah nggak sabar pengen gendong cucu pertama mami~
ASDFGHJKL!
Yaya nyaris membanting HP-nya ke luar jendela, kalau saja ia tak ingat HP itu dibelinya dengan uang tabungannya sendiri, sayang kalau dibuang.
"Err... Kau tidak apa-apa, Yaya? Ekspresimu jadi aneh," kata Taufan sambil melirik Yaya.
"Eh? Aha-ahahaha... Aku baik-baik saja, kok!" sahut Yaya cepat. "Aku—aku cuma agak capek. Ya, cuma capek. Hahahahaha..." Yaya tertawa gugup. Ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas agar pesan-pesan nista itu tak dilihat Taufan.
"Kalau begitu kau tidur saja sebentar. Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan," kata Taufan.
"Tidur! Benar juga, aku akan tidur!" Yaya segera memejamkan matanya, dalam hati berharap agar Tuhan segera mencabut nyawanya sekarang juga.
.
.
.
Yaya tidak ingat bagaimana ia bisa benar-benar tertidur. Tau-tau saja seseorang mengguncang bahunya, menyentaknya hingga terbangun.
"...ya. Yaya, bangun..."
Kelopak mata Yaya mengerjap, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang tercerai-berai. Saat telah terjaga sepenuhnya, Yaya memekik kaget menyadari wajah Taufan hanya terpaut beberapa senti dari wajahnya. Yaya buru-buru menarik mundur kepalanya sejauh mungkin sampai ia terantuk jendela mobil.
"Oh, akhirnya kau bangun juga," kata Taufan. Ia menjauhkan diri dari Yaya sambil nyengir. "Kau tidur nyenyak sekali seperti putri tidur. Aku hampir saja menciummu untuk membuatmu terbangun."
Yaya yang sedang menggosok-gosok kepalanya yang tadi terantuk, segera menekapkan tangan di mulutnya dan melotot memandangi Taufan.
"Belum kok. Hampir," kata Taufan kalem, menyadari ekspresi Yaya.
"Ayo turun, kita sudah sampai," lanjutnya. Taufan melangkah keluar dari mobil dan membuka bagasi untuk menurunkan barang-barang mereka. Yaya melirik ke luar dan melihat mereka telah berada di tampat parkir di basement.
Yaya kemudian berusaha menstabilkan jantungnya yang berdebar terlalu keras. ia mencatat dalam hati untuk tidak membiarkan dirinya lengah lagi saat berada di dekat Taufan. Pemuda itu benar-benar tidak baik bagi jantungnya. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa Yaya mati muda karena serangan jantung.
Pintu di sebelah Yaya tiba-tiba terbuka, membuatnya terlonjak kaget.
"Kau tidak mau turun?" tanya Taufan yang telah memegang tas berisi pakaian mereka di kedua tangannya.
"Ini juga mau turun," balas Yaya. Ia melangkahkan kaki ke luar sambil berusaha agar tidak bertatapan langsung dengan Taufan. Bayangan tentang pesan yang dikirimkan Ying dan ibunya membuat Yaya nyaris tak bisa menahan kakinya untuk tidak segera melarikan diri dari sini.
"Kau masih capek? Mau kugendong?" tawar Taufan. Yaya menggeleng cepat dan bergegas berjalan mendahului Taufan. Namun beberapa saat kemudian ia berbalik kembali dengan wajah merah.
"Aku... tidak tau apartemennya di lantai berapa..." gumamnya malu.
Taufan tertawa dan mengusap kepala Yaya gemas. "Kau ini manis sekali, sih. Bikin aku gemas terus tau nggak," katanya. Yaya memandangnya cemberut. "Aku tidak bisa memegang tanganmu, jadi kau harus menggandeng lenganku supaya tidak nyasar," lanjut Taufan.
"Aku bukan anak kecil!" tukas Yaya kesal. Tapi akhirnya ia tetap mengikuti perkataan Taufan. Yaya melingkarkan tangannya di lengan Taufan, membuat pemuda itu tersenyum penuh kemenangan.
"Nah, ayo kita masuk ke rumah kita. Home sweet home~"
.
.
.
Taufan menekan sederetan angka di pintu depan apartemen sebelum akhirnya terdengar bunyi klik yang menandakan pintu telah terbuka. Ia mengajak Yaya masuk ke dalam sambil menggotong dua tas besar berisi pakaian mereka.
Lampu otomatis menyala saat Taufan dan Yaya melangkah masuk. Yaya memandang kagum ke sekeliling rumah baru mereka. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk mereka tinggal berdua. Apartemen itu didesain dengan gaya minimalis. Bagian depan terdiri dari ruang duduk yang langung tersambung dengan dapur yang dilengkapi kitchen set dan juga meja makan.
Ada dua kamar tidur, satu kamar tidur utama lengkap dengan kamar mandi di dalam, dan satu lagi kamar tamu. Selain di kamar utama, ada satu kamar mandi lagi di dekat dapur.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Taufan.
"Aku menyukainya," kata Yaya senang. Semua ketakutannya tadi nyaris lenyap setelah melihat tempat ini.
"Baguslah kalau begitu," Taufan ikut tersenyum senang. "Ayo kita lihat kamar kita," katanya kemudian.
Saat Taufan membuka pintu kamar mereka, Yaya terkejut melihat ruangan itu telah dipenuhi dnegan kelopak bunga mawar putih yang menyebarkan aroma harus ke seluruh ruangan.
"Err ... ini kau yang menyiapkannya?" tanya Yaya ragu.
"Eh, bukan ... Kemarin saat aku di sini bunga-bunga ini tidak ada ..." kata Taufan yang juga terlihat bingung. Yaya hampir yakin seratus persen bahwa ibunya dalang di balik semua ini.
Taufan meletakkan tas mereka di atas tempat tidur yang nyaris tertutupi oleh kelopak mawar. "Nah, sekarang apa?" ucapnya.
Yaya merasa jantungnya kembali berdegup kencang. Mampus, sekarang saatnya sudah tiba. Apa mereka akan langung melakukan 'itu' sekarang?
"Eh, anu ... kalau boleh aku mau mandi dulu," ucap Yaya gugup setengah mati.
"Oh, benar juga. Aku juga mau mandi," kata Taufan sambil mengipasi dirinya yang sedikit gerah.
"Kau bisa memakai duluan kamar mandinya kalau mau," kata Yaya. Ia mungkin bisa mencoba kabur saat Taufan sedang mandi.
"Tidak apa. Kau mandi saja duluan. Atau mau mandi bareng?" goda Taufan.
Yaya langsung bersiap mengambil langkah seribu. Taufan tertawa melihat ekspresi horor di wajah Yaya.
"Jangan takut gitu. Aku nggak bakal gigit kok," ujarnya kalem. "Ya udah, kamu mandi aja di kamar mandi sini. Biar aku mandi di kamar mandi luar. Oke?"
Yaya mengangguk cepat. Ia kemudian menunggu hingga Taufan melangkah keluar sebelum akhirnya mengambil peralatan mandinya dan berjalan ke kamar mandi.
.
.
.
Yaya menggigit bibirnya gelisah. Sedari tadi ia terus mondar-mandir di kamar madi, terlalu takut untuk melangkah ke luar. Entah apa yang menunggunya kalau ia sampai berani keluar dari tempat perlindungannya ini.
Yaya melirik sebuah kotak yang terbuka di dekatnya, kado dari Ying yang baru saja dibukanya. Kotak itu berisi beberapa gaun tidur super minim dan juga super tipis, membuat Yaya berpikir ia sama saja seperti tidak memakai apa-apa jika mengenakan baju itu. Yaya hampir membuangnya ke luar jendela sesaat setelah membukanya.
Dasar Ying, pasti saat ini dia tengah menertawakan penderitaan Yaya yang terjebak dalam situasi yang super gawat ini.
Yaya tidak akan memakai hadiah dari Ying, tentu saja. Ia sudah memilih salah satu piama dengan bahan super tebal yang dibawanya sendiri dari rumah. Kalau begini Taufan tidak akan bisa melakukan apa-apa padanya, kan?
Ditariknya napas dalam. Oke, Yaya tahu ia tak bisa terus bersembunyi di sini. Mau tak mau ia tetap harus ke luar. Masa mau tidur di kamar mandi yang dingin ini? Maka setelah memantapkan hati, Yaya melangkah ke luar dengan membawa kotak berisi kado pemberian Ying yang disembunyikan di balik punggungnya.
Taufan tak ada di kamar saat Yaya keluar dari kamar mandi, syukurlah. Ia buru-buru menyembunyikan hadiah Ying ke dalam lemari, menumpuknya dengan berbagai benda lain agar tak dilihat Taufan. Kemudian Yaya melangkah ke luar kamar untuk mencari Taufan.
Suara televisi membuat Yaya melangkahkah kakinya ke ruang depan. Di sana ia melihat Taufan tengah duduk dengan kepala bersender di sofa. Taufan sudah berganti memakai kaus lengan pendek dan juga celama selutut. Kedua matanya terpejam dan terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya.
Yaya mendesah lega. Bagus, Taufan sudah tidur, berarti malam ini Yaya aman dari pemangsanya itu. Tapi Yaya juga tak bisa membiarkan Taufan tidur di sofa kan? Akhirnya dengan sedikit takut-takut Yaya melangkah menghampiri sang suami.
"Err ... Taufan ..." Yaya mengguncangkan bahu Taufan pelan. Tak ada tanggapan. Ia mencoba sedikit lebih keras. "Taufan ..."
"Hngggh ..." Taufan bergerak sedikit dalam tidurnya, tapi kedua matanya masih terpejam.
"Taufan, jangan tidur di sini, nanti masuk angin," kata Yaya.
Kedua safir Taufan akhirnya terbuka perlahan. Ia memandang Yaya dengan pandangan mengantuk. "Hm, kenapa?" gumamnya.
"Jangan tidur di sini. Tidur di kamar saja," kata Yaya lagi. Dalam hatinya ia merasa tengah menyiapkan perangkap untuk dirinya sendiri. Apa Yaya tidur di kamar tamu saja ya malam ini?
"Ngghh, oke ..."
Taufan beranjak bangun dengan malas dan mematikan televisi. Ia kemudian menyeret langkahnya ke kamar dengan mata setengah terpejam. Dan Yaya, setelah menyiapkan hati, akhirnya melangkah mengikuti Taufan menuju kamar mereka.
.
.
.
tbc
A/N :
Yang ngarep ada adegan 'anu', maaf sekali aku nggak bakal bikin itu. Aku bakal berusaha supaya ini tetap bisa dibaca siapa pun, yang masih di bawah umur juga (asal bukan anak-anak aja /plak). Tapi mungkin bakal banyak hal yang nyerempet ke 'situ', makanya aku masang rating T+
Makasih yang udah menyempatkan diri membaca. Review?
