Yaya bermimpi buruk sekali hari itu. Ia dikejar-kejar oleh seekor kelinci yang kelewat agresif. Kelinci biru itu —warnanya saja sudah aneh— terus-terusan memaksa mendekatinya dan mengeluskan kepalanya di kaki Yaya. Sebenarnya ini kelinci atau kucing, sih? Saat Yaya sudah tak sanggup lagi berlari, ia akhirnya jatuh berlutut di padang pasir berdebu. Dan kelinci yang melihat kesempatan langsung melompat girang ke arah Yaya. Yaya memandang ngeri saat kelinci biru itu berubah menjadi seorang pemuda bermata safir yang menyeringai lebar ke arahnya, bersiap menerkamnya.
"TIDAAAAAAKKKK!"
Yaya menjerit dan berguling-guling di tempat tidurnya, sampai seseorang tiba-tiba mengguncang tubuhnya keras dan membangunkannya.
"Yaya! Hei, Yaya, bangun!"
Kelopak mata Yaya sontak terbuka lebar dengan panik. Ia menarik napas panjang saat menyadari dirinya berada di kamar, bukan di gurun pasir. Tak ada kelinci aneh yang mengejar-ngejarnya dan …
"KYAAAAAA!" Yaya kembali menjerit saat menyadari seseorang tengah membungkuk di atasnya, dengan jarak wajah mereka yang hanya terpaut beberapa senti. Ia berguling menjauh dengan panik dan memeluk erat gulingnya.
"Kau kenapa, sih, dari tadi menjerit-jerit terus? Mimpi buruk?" Orang itu bertanya. Namun bukannya menjawab, Yaya tiba-tiba saja menghantamnya keras dengan bantal.
"MALIING! MAMIII, DI KAMAR YAYA ADA MALIINGG!" Yaya berseru keras sambil terus memukuli pemuda itu dengan menggunakan satu-satunya senajata yang dimilikinya, bantal.
"Hei, hei, tunggu dulu!" protes si 'maling'. "Tunggu, Yaya! Aku bukan maling!"
"Lalu kau siapa, hah?! Penguntit? Penculik? Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Yaya garang. Ia memukul bagian mana saja yang bisa dicapainya dengan sekuat tenaga.
"Aku —aduh!— Taufan! Taufan —aw!— suamimu! Kita menikah kemarin, ingat?"
Tangan Yaya terhenti di udara, masih memegangi gulingnya erat. Ia berkedip beberapa kali, mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan pemuda itu. Sesaat kemudian wajah Yaya berubah horror. Ia langsung jatuh bersimpuh di depan kaki Taufan, memohon ampun.
"Maafkan aku… Aku benar-benar minta maaf, Taufan…" Yaya tersedu dengan kepala tertunduk.
Taufan tercabik antara ingin tertawa, tapi merasa tidak enak karena Yaya kelihatan benar-benar menyesal. Tubuhnya masih nyeri di beberapa tempat, hasil hantaman bantal Yaya. Kenapa semua benda yang dipegang Yaya bisa berubah jadi senjata, sih?
"Tidak apa, tidak apa… Aku tidak apa-apa, kok, tenang saja," kata Taufan. Ia mencoba membantu Yaya berdiri, tapi gadis itu tetap bergeming di posisi berlututnya. "Ayolah, Yaya, ini bukan zaman kerajaan lagi. Kau tidak perlu sampai bersimpuh seperti itu untuk minta maaf," kata Taufan.
"Tapi … hiks … aku benar-benar menyesal … hiks … memukulmu seperti itu … Aku tadi tidak sadar melakukannya … hiks…"
"Iya, iya, aku tau kau tidak melakukannya dengan sengaja. Sudah kubilang itu tidak masalah, kan? Aku tidak apa-apa."
Taufan kembali menarik Yaya berdiri, dan kali ini ia menurut. Yaya masih sedikit terisak dan menundukkan kepalanya, menolak untuk memandang Taufan. Taufan mencoba mencari akal agar Yaya berhenti terisak, dan sebuah ide terlintas di benaknya.
Yaya tersentak saat Taufan tiba-tiba memegang dagunya dan memaksanya mendongak. Tanpa permisi, pemuda itu mencium bibirnya, membuat Yaya langsung berhenti menangis karena kaget.
"Nah, akhirnya kau berhenti menangis juga," kata Taufan, nyengir. Ia mengelus kepala Yaya gemas, membuat rambutnya yang berantakan semakin kusut. "Sudahlah, tak baik menangis pagi-pagi. Nanti kepalamu pusing. Ayo kita cuci muka dan sarapan."
Taufan menggandeng tangan Yaya yang masih terlihat shock dan dengan riang menyeretnya pergi.
.
.
.
Get Married
Chapter 4 : Roller Coaster
By : Fanlady
Disclaimer : Boboiboy © Monsta
Warning(s) : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah, bahasa campur-aduk baku dan nggak baku, rate T+, yang di bawah 15 tahun jangan baca plis
.
.
.
Pintu kulkas dibuka dengan sedikit sentakan, dan Yaya melongokkan kepala ke dalam untuk melihat isinya. Lemari pendingin itu nyaris kosong, hanya ada sekotak susu dan sekarton telur.
"Sepertinya kita harus belanja bahan makanan," kata Yaya, menghela napas. Ia mengeluarkan susu dan juga telur kemudian meletakkannya di meja makan.
"Oh, benar. Aku lupa memberitahumu kita tidak punya makanan apa-apa," kata Taufan yang baru saja muncul dari arah kamar mandi.
"Setidaknya kita masih punya roti dan telur untuk sarapan," gumam Yaya yang baru saja menemukan roti dari dalam lemari. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kontak mata dengan Taufan, juga berusaha menjaga jarak dari pemuda yang kini jadi suaminya itu. Yaya takut kalau-kalau Taufan tiba-tiba menyerangnya lagi seperti tadi.
"Hmm. Kita bisa belanja setelah sarapan nanti. Aku tidak ada kegiatan apa-apa hari ini," kata Taufan santai. Ia membuka-buka lemari penyimpanan, dan mengeluarkan setoples bubuk kopi.
"Sayangnya, aku punya kegiatan. Aku ada kelas sampai sore hari ini."
"Kelas apa?" tanya Taufan heran.
"Yah, kelas belajar. Aku masih kuliah, Taufan," balas Yaya.
"Oh, benar juga. Kalau begitu kita pergi nanti sore saja, sepulang kuliahmu. Bagaimana?" Taufan mengambil cangkir dan mulai membuat kopi. "Kau mau kopi?" tawarnya.
"Tidak, aku tidak suka kopi," tolak Yaya. Ia menyibukkan diri membuat sarapan, mmenggoreng telur dan juga memanggang roti. "Ya, kurasa kita bisa pergi nanti sore."
"Oke, kalau begitu. Susu?"
"Susu boleh."
Sementara Yaya menyiapkan sarapan, Taufan sibuk membuat kopinya. Ia juga menghangatkan segelas susu untuk Yaya. Segera saja, dapur mungil mereka dipenuhi aroma kopi dan juga roti panggang dengan telur.
Saat ia dan Taufan sudah duduk berhadapan di meja makan, Yaya sudah hampir melupakan kejadian saat bangun tidur tadi. Ia menggigit rotinya dan diam-diam mencuri pandang ke arah Taufan, masih tak percaya bahwa ia sekarang sudah memiliki suami. Padahal kemarin pagi ia masih sarapan bersama adik dan kedua orang tuanya, namun sekarang ia akan menikmati sarapan setiap hari bersama suaminya. Suami. Oh Tuhan, kata itu masih terasa sangat asing bagi Yaya.
"Oh, iya, Yaya," ucap Taufan tiba-tiba, memutuskan lamunan Yaya. "Aku lupa memberitahumu."
"Memberitahu apa?"
"Nanti sore papa dan mama akan kembali ke London," kata Taufan.
"Lho, kenapa cepat sekali? Bukankah harusnya minggu depan?" Yaya mengernyitkan dahi heran. Ia tahu kedua mertuanya sekarang tinggal di London, walau mereka juga sesekali kembali ke sini dan tinggal selama beberapa minggu. Tapi Yaya belum sempat menghabiskan waktu cukup banyak untuk mengenal mereka, kalau mereka akan kembali ke London besok rasanya terlalu cepat.
"Yah … papa ada panggilan mendadak, jadi harus secepatnya kembali. Dan mama tidak mau berpisah dari papa, jadi tentu saja mama juga ikut pulang."
"Oh, begitu …" Yaya mengangguk paham. "Jam berapa keberangkatannya?"
"Mungkin sekitar jam lima."
"Jadi kita akan mengantar mereka ke bandara nanti sore?"
"Yep. Kalau kau mau."
"Tentu saja aku mau!" Taufan tertawa kecil, membuat Yaya sedikit heran. "Kenapa?" tanyanya.
"Tidak … Hanya saja aku ingat kalau akhir-akhir ini mama selalu membicarakan tentangmu. Mama sangat menyukaimu, kau tau? Sejak pembicaraan mengenai perjodohan itu, mama hampir setiap hari meneleponku untuk membicarakanmu. Mama selalu ingin punya anak perempuan, dan kurasa ia akhirnya bahagia sekali karena akhirnya punya menantu sepertimu."
Wajah Yaya merona. Ia buru-buru meneguk susu untuk menyembunyikannya, tapi Yaya malah tersedak.
"Ya ampun … Minum pelan-pelan, Ya, nggak usah buru-buru. Susunya nggak bakal kabur kok," kata Taufan sambil menepuk-nepuk punggung Yaya.
Yaya berharap bisa menenggelamkan dirinya di kamar mandi sekarang juga.
Taufan memandang Yaya yang kini kembali menolak menatap matanya. "Tau nggak, Ya? Kalau sedang malu kau itu menggemaskan sekali," kata Taufan, membuat Yaya semakin menundukkan wajahnya yang kini semerah tomat. "Oh, mulutmu belepotan susu. Sini aku bersihkan."
Yaya lagi-lagi tak sempat mengelak saat Taufan meraih wajahnya dan kembali menciumnya. Tapi kali ini Yaya tahu apa yang harus dilakukannya. Ia membuka mulut dan menggigit bibir Taufan keras.
"AUW! Sakit, Yaya!" Taufan menarik wajahnya menjauh dan menyentuh bibirnya yang berdarah karena digigit Yaya.
"Taufan, tolong …" Yaya mengelus dada dan memejamkan matanya untuk menenangkan diri. "BISA NGGAK SIH NGGAK USAH ASAL NYOSOR KAYAK GITU? AKU BISA MATI KENA SERANGAN JANTUNG, TAU!"
Taufan nyengir tanpa dosa. "Habis kau menggodaku terus, sih. Aku jadi tidak tahan untuk tidak menciummu, kan," ucapnya santai. Ia menarik beberapa lembar tisu untuk membersihkan bibirnya.
"KAPAN AKU MENGGODA, HAH?! KAPAN?" Yaya menggebrak meja dalam luapan amarahnya, membuat piring dan gelas di atasnya bergetar nyaris jatuh.
"Kalau sedang marah kau jadi tambah cantik lho, Ya," kata Taufan, sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan Yaya. Barulah saat Yaya mengacungkan pisau mentega ke arahnya dengan wajah mengancam, Taufan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Oke, oke, aku minta maaf. Aku salah, maafkan aku."
Yaya menghela napas panjang dan memijit pangkal hidungnya lelah. Mami, Yaya mau pulang aja, mi …
"Bisakah setidaknya kau bilang-bilang dulu kalau mau melakukan itu?" kata Yaya akhirnya.
"Melakukan apa?" tanya Taufan.
"Menciumku!"
"Oh, oke, baiklah. Jadi aku harus minta izin dulu kalau mau menciummu?"
"Ya."
"Kalau peluk? Apa aku harus minta izin juga?"
"Ya."
"Pegang tangan?"
"Umm… ya."
"Kalau *piiiipp* *piiiipp**piiiipp*?"
"Taufan!"
Taufan tergelak. "Aku cuma bercanda," ujarnya. Yaya merengut kesal. "Ngomong-ngomong, Yaya. Kau tidak jadi pergi kuliah?"
Yaya menoleh ke arah jam dinding dan membelalak ngeri. "Ya ampun, sudah jam segini! Aku bis atelat kalau tidak segera siap-siap,"ujarnya panik. Ia bergegas membereskan piring-piring bekas sarapan mereka dan membawanya ke tempat cuci piring.
"Biar aku aja yang cuci piring. Kau langsung siap-siap aja," kata Taufan.
"Tapi …"
"Udah, nggak apa-apa. Cepat mandi sana. Atau mau kumandiin?" Taufan menyeringai lebar.
Yaya langsung berlari secepat kilat menuju kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Taufan tertawa pelan melihat tingkah Yaya.
"Dia benar-benar manis," gumamnya, tersenyum tipis. Taufan kemudian mengerjakan tugas mencuci piringnya sambil bersenandung kecil.
.
.
.
"Nanti pulangnya jam berapa, Ya?" Taufan menoleh sedikit pada Yaya dan duduk di sebelahnya sambil tetap berkonsentrasi menyetir mobil.
"Eh, jam 4 mungkin," jawab Yaya.
"Oke. Kalau nanti udah pulang telepon aja, biar kujemput. Setelah itu kita bisa langsung ke bandara."
"Oke. Tapi apa tidak apa-apa kau mengantar dan menjemputku seperti ini?" tanya Yaya sambil menggigit bibirnya. "Aku bisa bawa mobil sendiri, kok. Aku bisa pergi mengambil mobilku di rumah mami dan …"
"Ya ampun, Yaya. Aku ini suamimu, kan. Ini sudah tugasku," kata Taufan sambil nyengir memamerkan deretan gigi putihnya.
"Baiklah kalau begitu," gumam Yaya menunduk malu. Entah kapan ia akan terbiasa dengan Taufan sebagai suaminya.
Mereka tidak saling mengucapkan apa-apa selama beberapa menit berikutnya. Taufan ayik bersenandung mengikuti lagu yang diputar di radio, sementara Yaya memandang ke luar jendela sambil melamun.
"Oh, iya, Taufan… Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu," kata Yaya tiba-tiba.
"Eh? Mau tanya apa?"
"Anu … umur kita kan berbeda dua tahun. Kau lebih tua dariku. Jadi, haruskah aku memanggilmu kak? Kak Taufan?" tanya Yaya ragu.
Taufan langsung menggeleng cepat. "Tidak, tidak perlu," katanya.
"Tapi rasanya tidak sopan kalau aku langsung memanggilmu hanya dengan nama…"
"Aku dibesarkan di luar negeri, Yaya. Hal itu sudah biasa bagiku, jadi kau tak perlu merasa khawatir."
"Yah, baiklah," ujar Yaya akhirnya.
"Oh, begini saja. Bagaimana kalau kita saling memanggil dengan panggilan sayang?" usul Taufan bersemangat.
"Err…panggilan sayang?"
"Yep. Umm … biar kupikir-pikir dulu …" Taufan memasang pose berpikir, kemudian menjentikkan jarinya. "Aha, aku tau! Bagaimana kalau 'Upan' dan 'Aya'?"
"Pfftt … Upan dan Aya? Yang benar saja, Taufan," Yaya tertawa geli mendengar usul konyol itu.
"Eeeh, kenapa? Nama itu imut, kok," kata Taufan. "Kalau begitu, 'darling' dan 'sweetheart' saja, bagaimana? Aku akan memanggilmu 'sweetheart', dan kau harus memanggilku 'darling'."
"Apa? Tidak mau!"
"Kenapa? Itu bukan panggilan yang aneh, kan? Jadi kenapa tidak?"
"Tapi itu memalukan!"
"Oh, ayolah, sweetheart. Ini cara paling bagus supaya kita lebih gampang PDKT."
"Hah?" Yaya memandang Taufan tak mengerti. "PDKT apanya?"
"Yah, kau tau kan. Kita dijodohkan. Kita tidak sempat saling mengenal satu sama lain sebelum menikah. Jadi tentu saja kita harus mulai PDKT sekarang, kan? Supaya kau juga tidak terus-terusan merasa canggung padaku."
Yaya meringis. Ternyata Taufan menyadari bahwa Yaya merasa canggung padanya. Yah, memang kelihatan sekali, kan?
"Jadi, bagaimana, sweetheart? Mau mulai PDKT denganku?" tanya Taufan manis.
"Yah, baiklah," ujar Yaya pasrah.
"Kalau begitu panggil aku 'darling'," titah Taufan.
"Ya, baiklah … darling…"
Taufan nyengir. "Nah, tidak susah, kan?" Yaya hanya memutar bola matanya.
Mobil Taufan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kampus Yaya. Yaya melepas sabuk pengamannya dan bersiap-siap turun.
"Nanti telepon aku kalau sudah selesai, ya," kata Taufan.
"Oke," balas Yaya. Ia berpamitan dan mencium tangan Taufan, yang diblas Taufan dengan —lagi-lagi— mengecup bibirnya.
"Ups, maaf. Aku lupa minta izin," kata Taufan, nyengi rtanpa dosa.
Yaya hanya mendesah pasrah. Mungkin lebih baik ia membeli lakban nanti untuk mengelem mulut Taufan agar tidak sembarangan menciumnya lagi.
"Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Yaya seraya membuka pintu mobil dan melangkah turun.
"Sampai bertemu nanti, sweetheart," balas Taufan. Ia melambai riang, dan Yaya membalasnya dengan setengah hati. Barulah saat mobil Taufan sudah menghilang ditelan padatnya lalu lintas, Yaya melangkah masuk ke dalam gedung kampusnya.
.
.
.
"Jadi, bagaimana si Tuan Bencana Alam?"
Yaya menyeruput milkshake-nya dan menatap Ying yang duduk di seberangnya dengan pandangan bertanya. "Bagaimana apanya?" ia bertanya balik.
Ying dan Yaya kini tengah duduk di café langganan mereka setelah Ying menelepon Yaya dan mengajaknya bertemu. Karena kelas terakhirnya dibatalkan, jadi Yaya menyetujui usul Ying untuk bersantai di sini.
"Bagaimana malam pertama kalian?" tanya Ying blak-blakan.
Yaya nyaris menyemburkan minumannya. Ia terbatuk-batuk hebat dan menepuk dadanya dengan mata berair.
"Ying, please, memangnya tidak ada pertanyaan lain apa?" ujar Yaya kesal setelah batuknya reda.
"Lho, kenapa? Itu pertanyaan yang tepat untuk pasangan pengantin baru, kan?" kata Ying seraya terkekeh pelan.
"Tepat apanya," Yaya memanyunkan bibir sewot.
Ying tertawa geli. "Jadi, jadi, bagaimana? Aku benar-benar penasaran, nih. Kalian bermain sampai berapa ronde? Lima? Sepuluh? Lima belas?"
"Ying, mau merasakan 'seribu pukulan super ala Yaya', nggak?"
Ying kembali terawa. "Bercanda, Ya, jangan galak gitu, dong …"
Yaya menghela napas panjang. "Aku capek dicandain terus dari kemarin," ujarnya.
"Oh, ya? Dicandain siapa? Tuan Bencana Alam? Memang apa yang dilakukannya padamu?"
"Mau tau banget sih," Yaya mencibir.
"Biarin," Ying menjulurkan lidah, kemudian meneguk jus di gelasnya.
Yaya mendesah dan ikut menyeruput minumannya. "Aku merasa seperti sedang naik roller coaster setiap kali bersama Taufan," gumamnya.
"Kenapa?"
"Dia terus-terusan membuat jantungku berdebar dan perutku serasa diaduk-aduk. Dan dia agresif sekali. Dia terus mencoba menciumku setiap kali jarak di anatra kami kurang dari satu meter!" kata Yaya kesal.
"Serius?" Ying ingin tertawa, namun saat melihat ekspresi Yaya, ia buru-buru menahan tawanya.
"Iya, serius. Aku jadi takut kalau harus berdekatan dengannya. Aku tidak mau pulang, Ying …" Yaya meletakkan kepalanya di meja dan membenturkannya berulang kali.
Ying menepuk pundak Yaya penuh simpati. "Mungkin itu caranya untuk menunjukkan cinta padamu," kata Ying.
"Cinta apa … Baru juga 24 jam lebih sedikit kami saling kenal," gumam Yaya.
"Hei, kalian kan sudah menikah. Ya wajarlah kalau ada cinta. Kalau tidak ada nanti malah gawat."
"Iya, sih … Tapi ini masih terlalu cepat untukku. Tidakkah Taufan mau memberiku waktu untuk beradaptasi?" Yaya berujar lelah.
"Mungkin kau harus bicara padanya. Bilang kalau kau masih butuh waktu untuk terbiasa. Minta Taufan untuk pelan-pelan saja. Pasti dia mau mengerti," saran Ying.
Yaya mengangkat kepalanya dan menatap Ying dengan mata berkaca-kaca. "Ying, seandainya aku laki-laki, aku pasti akan langsung melamar dan menikahimu."
"Tidak, tidak. Aku cuma mau menikah sama Fang, maaf," balas Ying angkuh.
Yaya memutar bola matanya. Ia sedikit tersentak saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ada panggilan masuk dari Taufan.
"Assalamualaikum, Taufan," ucap Yaya begitu mengangkat panggilannya. Terdengar balasan singkat, dan Yaya menghela napas panjang. "Iya, iya. Assalamualaikum, darling."
Ying tersedak minumannya, tapi Yaya berusaha mengabaikannya.
"Kelas terakhirku dibatalkan, jadi sekarang aku sedang duduk-duduk di café dengan Ying. Kau tau café yang di dekat persimpangan kampusku? Ya, café yang itu. Um, aku akan menunggu di sini. Ya, hati-hati di jalan, jangan ngebut. Waalaikumsalam."
Yaya memasukkan kembali handphone-nya ke dalam tas dan mendongak ke arah Ying yang sedang memandangnya dengan ekspresi aneh.
"Apa?" tanya Yaya.
"Kau tadi mengeluh terus soal Taufan. Tapi sepertinya kalian sudah saling mesra-mesraan begitu," kata Ying, menyeringai jahil.
"Mesra-mesraan apanya. Itu tadi cuma panggilan telepon biasa, Ying."
"Lalu, 'darling' tadi itu apa?"
"Taufan memaksaku memanggilnya 'darling'. Katanya supaya kami tidak saling canggung lagi."
"Oh, bagus juga sih idenya." Ying mengangguk-angguk kecil. "Kurasa kau tidak perlu khawatir, Yaya. Kalian kelihatannya akan baik-baik saja."
"Kuharap begitu." Yaya menghela napas dan memandang ke luar jendela, merenung.
"Ngomong-ngomong, Yaya, kembali ke topik awal tadi," kata Ying kemudian. "Bagiamana malam pertamamu dengan Si Tuan Bencana Alam?"
"Ying!"
.
.
.
"Kalau begitu sampai bertemu lagi, Ying."
Yaya melambai pada Ying dan melangkah masuk ke dalam mobil yang telah dibukakan oleh Taufan. Ying balas melambai dan tersenyum, namun kemudian ia menahan Taufan saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Taufan, bisa bicara sebentar?" pinta Ying. Taufan memandang Ying bingung, tapi kemudian mengangguk. "Yaya, aku pinjam suamimu sebentar, ya," Ying mengedipkan mata pada Yaya.
Yaya mengangguk dan memandang Ying dengan tatapan 'awas kalau kau ngomong yang aneh-aneh ke Taufan'. Ying hanya mengacungkan jempol dan mengucapkan 'jangan khawatir, percaya saja padaku' tanpa suara.
Taufan berjalan mengikuti Ying sedikit menjauh dari mobil. Saat mereka sudah berada di luar jangkauan pendengaran Yaya, barulah Ying berhenti.
"Baiklah, aku akan langsung ke intinya," kata Ying. Taufan mengangguk dan menunggu Ying melanjutkan ucapannya. "Aku belum lama mengenalmu, tapi aku sudah mengenal Yaya sangat lama. Dia orang yang mudah khawatiran dan juga panik. Jadi, bisakah kau lebih berhati-hati padanya?"
Taufan terlihat bingung, namun kemudian ia mengangguk paham. "Ah, Yaya sudah bercerita padamu, ya?" tanyanya sambil tertawa kecil.
Ying ikut tertawa. "Ya, begitulah. Dia terlihat benar-benar putus asa dan takut, kau tau."
"Aku tidak bermaksud membuatnya merasa seperti itu. Aku hanya suka menggodanya karena itu menyenangkan," kata Taufan, terkekeh.
"Yah, menyenangkan bagimu, tapi menakutkan bagi Yaya," kata Ying, suaranya berubah sedikit galak sehingga membuat Taufan berhenti tertawa. "Yaya benar-benar buta soal hal seperti ini. Dia tidak pernah pacaran, kau tau. Bahkan Yaya juga selalu menjaga jaraknya dari lawan jenis. Jadi kau benar-benar yang pertama untuknya."
"Ya, aku tau," Taufan tersenyum samar.
"Kalau begitu, jangan terlalu agresif, oke? Pelan-pelan saja. Jangan sampai kau malah membuatnya benar-benar melarikan diri karena takut."
"Oke, baiklah. Aku akan mencoba menahan diri," ujar Taufan, nyengir.
Ying mengangguk puas. "Dan satu lagi," katanya. "Aku sudah mendengar semua tentangmu dari Gopal. Aku tau kau ini playboy yang suka bergonta-ganti cewek, dan kau punya tiga belas pacar sebelum menikah dengan Yaya."
Taufan meringis dan menggaruk pipinya. "Yah …"
"Aku tidak akan bilang pada Yaya. Itu urusanmu mau memberitahunya atau tidak. Tapi aku tidak akan membiarkanmu kalau kau sampai menduakan —atau mentiga-belaskan— Yaya," Ying merendahkan suaranya dan memberi Taufan tatapan membunuh. "Pacarku seorang polisi —ralat, calon polisi. Aku akan menyuruhnya menembakmu sampai mati kalau kau berani macam-macam pada Yaya."
Taufan mengangkat kedua tangannya. "Oke, oke, aku tidak akan macam-macam."
"Baguslah," Ying mengangguk. Ia kemudian menoleh ke arah mobil Taufan tempat Yaya sedang menunggu. "Kalau begitu sampai bertemu lagi."
"Oke, sampai bertemu," balas Taufan. "Kurasa lain kali kita harus minum kopi sama-sama. Bagaimana menurutmu?" tawarnya.
"Boleh juga," Ying tertawa kecil.
"Baiklah. Kabari aku kapan kau punya waktu."
"Tentu." Ying melambai singkat saat Taufan berjalan kembali ke mobilnya. "Jaga Yaya baik-baik, ya!"
"Serahkan padaku!" Taufan mengacungkan jempol sebelum akhirnya menghilang di balik pintu mobilnya.
.
.
.
Yaya menutup novel yang dibacanya saat Taufan melangkah masuk ke dalam mobil. "Sudah selesai? Kenapa lama sekali? Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.
"Jangan bertanya sekaligus seperti itu, sweetheart. Aku jadi tidak tau harus menjawab yang mana dulu, kan," kata Taufan seraya memasang sabuk pengamannya.
Yaya memasang ekspresi cemberut. "Apa yang kau bicarakan dengan Ying?" tanyanya kemudian.
"Oh, biasalah. Ying memintaku untuk menjaga sahabat tercintanya baik-baik," kata Taufan sambil mengedipkan matanya.
"Cuma itu? Kenapa lama sekali? Aku tadi juga melihat kalian tertawa-tawa."
"Oh itu …" Taufan tidak melanjutkan kata-katanya dan menatap Yaya cukup lama.
"Apa?" Yaya bertanya, risih dengan pandangan Taufan.
"Apa kau sedang cemburu, sweetheart?" tanya Taufan dengan wajah menyeringai jahil.
"Aku tidak cemburu," Yaya memalingkan wajah ke luar jendela dengan tangan bersidekap di dada.
"Oh, ya~? Tapi kelihatannya kau cemburu karena aku mengobrol dengan gadis lain. Benar, kan?" goda Taufan.
"Tidak, kok. Jangan terlalu percaya diri."
"Mengaku sajalah, sweetheart~ Kau cemburu kan~? Kau tidak suka aku dekat-dekat gadis lain, kan~? Iya kan~?"
"Tidak, tidak, tidak! Aku tidak cemburu!"
"Dasar tsundere."
"Aku tidak tsundere!"
"Kalau bagitu apa, denial?"
Yaya mengerang frustasi. "Sudah, cepat nyalakan saja mobilnya. Kita masih harus mengantar orangtuamu ke bandara," ketusnya.
"Oh, benar juga, aku hampir lupa," Taufan menepuk keningnya. Ia kemudian memutar kunci dan menyalakan mobil. "Kau sudah pakai seatbelt?" Yaya mengangguk. "Alright, here we go~"
Mobil itu kemudian meluncur mulus membelah jalanan kota yang padat menuju ke arah bandara.
.
.
.
to be continued
A/N :
Karena udah sebulanan lebih nggak nulis, aku jadi ngerasa kaku mulai nulis fanfic lagi.
Jadi, adakah yang mau ngasih kritik atau saran untuk chapter ini? Aku beneran ngerasa banyak yang aneh dan kurang, tapi nggak tau gimana cara memperbaikinya. Aku bakal sangat berterima kasih kalau ada yang mau berbaik hati ngasih kritik.
Makasih banyak yang udah menyempatkan diri membaca! Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
