Lampu hijau baru saja berkedip padam digantikan oleh nyala lampu kuning yang kemudian disusul lampu merah menyala yang memaksa setiap kendaraan yang tengah melaju di kota padat itu untuk berhenti.
Taufan memelankan laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti tepat di garis pembatas zebra cross. Ia bersenandung pelan mengiktui irama lagu dari radio sembari menunggu lampu hijau kembali menyala. Hampir saja Taufan tak mendengar suara dering ponselnya karena musik dari radio yang terlalu kencang. Saat menyadari ada panggilan masuk, ia buru-buru mengecilkan suara dari speaker radio dan mengangkat teleponnya.
"Halo, Gempa~ Ada apa meneleponku tiba-tiba seperti ini? Pasti kau kangen padaku, kan?" kata Taufan. Suara balasan bernada malas terdengar dari seberang telepon, membuat Taufan tergelak pelan. "Ah, kau ini. Sejak tinggal jauh dariku kau jadi ketularan sifat dinginnya Hali, ya?"
Suara klakson mobil di belakangnya membuat Taufan tersadar bahwa lampu lalu lintas telah berubah kembali menjadi hijau. Ia segera memacu kembali mobilnya sambil meneruskan percakapan dengan Gempa melalui headphone.
"Ya, mama dan papa akan kembali sore ini. Aku dan Yaya akan mengantar mereka ke bandara sebentar lagi."
Lalu lintas yang padat membuat Taufan tak bisa mengendarai mobilnya terlalu laju. Ia menyetir dengan hati-hati melewati kerumunan kendaraan yang berjejalan di sepanjang jalan raya.
"Oh, Yaya? Dia pergi kuliah sejak pagi tadi. Sekarang aku sedang dalam perjalanan hendak menjemputnya. Ya, tidak masalah. Aku sudah menyampaikan permintaan maafmu dan Hali karena tidak bisa hadir di upacara pernikahan kami. Yah ... sepertinya sih. Aku tidak ingat sudah menyampaikannya atau belum."
Taufan tertawa mendengar saudara kembarnya menggerutu di seberang telepon. Ia membelokkan mobilnya di sebuah persimpangan ramai, kemudian akhirnya melihat papan nama cafe yang diberitahu Yaya melalui telepon tadi.
"Ah, aku sudah tiba di tempat Yaya. Aku akan menghubunginya untuk memberitahu aku sudah sampai. Atau lebih baik aku langsung masuk saja."
Taufan menghentikan mobil tepat di depan cafe yang ditujunya. Ia baru saja hendak melepaskan sabuk pengamannya dan memutuskan panggilan dengan Gempa, saat pertanyaan sang adik membuat gerakannya terhenti.
"Bagaimana Yaya?" gumam Taufan, mengulangi pertanyaan Gempa. Ia menoleh ke arah jendela cafe dan melihat Yaya yang tengah duduk berdua dengan Ying, tetawa lepas. Bibirnya tertarik membentuk seulas senyum tipis. "Dia masih sama seperti dulu. Manis dan menggemaskan."
.
.
.
Get Married
Chapter 5 : Let's Fall In Love
By : Fanlady
Disclaimer : Boboiboy © Monsta
Warning(s) : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah, rate T+, yang di bawah 15 tahun atau yang merasa pikirannya masih polos, tolong jangan baca
.
.
.
"Nah, jaga diri kalian baik-baik, ya."
Ibu Taufan memeluk Yaya erat sebelum beralih pada putranya, yang memeluknya seolah tak ingin melepaskan lagi.
"Mama juga jaga diri baik-baik. Jangan sampai sakit," ujar Taufan sedikit tercekat. Sang ibu membelai rambut Taufan lembut dan melepaskan pelukannya.
"Tenang aja, mama memang selalu jaga kesehatan kok."
Taufan tertawa kecil. Ia kemudian beralih memeluk sang ayah dan mengucapkan selamat tinggal, sementara Yaya kembali berhadapan dengan ibu mertuanya.
"Mama titip Taufan ya, Yaya. Jaga dia jangan sampai nakal," kata ibu Taufan.
"Taufan bukan anak kecil lagi, ma," protes Taufan mendengar ucapan ibunya.
Yaya tertawa. "Jangan khawatir, ma. Mama bisa mempercayakan Taufan pada Yaya," katanya sambil tersenyum manis.
"Mama tau mama bisa mengandalkanmu," ibu mertua Yaya membalas dan ikut tersenyum lebar.
"Hati-hati, Fan. Mungkin saja istrimu juga segalak mama. Kelihatannya mereka berdua cocok sekali," ayah Taufan berbisik sementara Yaya dan sang ibu mengobrol.
"Yaya memang galak, kok. Tapi papa tak perlu khawatir. Taufan punya cara ampuh untuk mengatasinya," Taufan mengacungkan jempolnya seraya nyengir lebar.
"Bagus! Anak papa memang terbaik!" Ayah Taufan menepuk pundaknya dan tertawa.
Percakapan mereka disela oleh suara dari interkom yang mengumumkan bahwa pesawat yang ditumpangi ayah dan ibu Taufan akan segera berangkat.
"Ah, sudah saatnya. Ayo kita pergi, ma," ayah Taufan mengecek arlojinya dan melirik ke arah para penumpang yang mulai memasuki pintu keberangkatan.
"Kalau begitu mama dan papa pergi dulu ya."
"Sampaikan salam kami untuk Gempa dan Halilintar, ma," kata Taufan.
"Pasti akan mama sampaikan." Ibu Taufan memberi pelukan terakhir untuk putra dan menantunya sebelum berbalik dan melangkah mengikuti sang suami.
Yaya dan Taufan melambai sampai kedua orang tua mereka menghilang di antara kerumunan orang yang berdesak-desakan hendak berangkat. Yaya kemudian menurunkan tangannya dan menoleh pada Taufan.
"Taufan, ayo kita ..."
Namun Taufan masih menatap lurus ke tempat kedua orangtuanya baru saja menghilang. Tangannya masih bergeming dalam posisi terangkat. Ekspresinya terlihat aneh, membuat Yaya jadi merasa sedikit khawatir.
"Taufan? Kau baik-baik saja?" Yaya menyentuh lengan Taufan lembut, membuat Taufan tersentak dari lamunannya.
"A-ah, ya. Ya, aku baik-baik saja," kata Taufan. Bibibrnya melengkungkan senyum seperti biasa, namun kali ini matanya tak ikut tersenyum. Yaya hendak bertanya lagi, namun Taufan menyelanya dengan menggandeng tangan Yaya dan mengajaknya pergi. "Ayo, kita masih harus belanja, kan?"
Yaya akhirnya menuruti Taufan dan berjalan mengikutinya tanpa berkata apa-apa lagi.
.
.
.
"Jadi kita harus belanja apa aja, nih?"
Taufan mendorong troli menyusuri rak-rak di supermarket sambil menoleh ke sana-ke mari mencari barang yang mungkin saja mereka butuhkan.
"Hmm, tunggu sebentar." Yaya mengeluarkan daftar belanjaan yang sudah disusunnya di kampus tadi dan mengamati isinya. "Pertama kita harus beli bahan makanan dan juga alat untuk memasak dulu. Gula, garam, dan minyak goreng. Ah, bumbu penyedap kurasa juga perlu, aku lupa menulis itu. Terus kita harus beli sayur dan daging juga. Lalu telur, buah-buahan, dan ..."
"Oke, oke," Taufan mengangkat tangan untuk menghentikan celotehan Yaya. "Kita akan mencari itu semua satu-persatu. Mau berpencar saja biar lebih cepat?" sarannya.
"Boleh juga," gumam Yaya setelah berpikir-pikir. "Kalau begitu kau ambil daftar belanjaan ini. Aku sudah mengingat semuanya."
Taufan menerima daftar belanjaan yang diserahkan Yaya dan membacanya satu persatu. "Wah, banyak juga yang harus dibeli," ujarnya sambil menatap miris daftar yang cukup panjang itu.
"Yah, karena kita baru pindah, jadi apartemen kita belum punya apa-apa selain perabotan. Jadi kurasa kita memang membutuhkan semua ini," kata Yaya.
"Benar juga," gumam Taufan. Ia kemudian menyerahkan troli yang dibawanya pada Yaya. "Kau ambil troli ini, aku akan pergi mengambil yang lain."
"Oke."
"Kita bertemu di sini lagi nanti?" Yaya melirik rak yang berisi deretan sereal di dekat mereka dan mengangguk. "Baiklah. Sampai bertemu nanti."
Taufan kemudian berjalan pergi untuk mengambil troli lain.
"Jangan beli yang tidak perlu!" seru Yaya sebelum Taufan menghilang di balik rak lain.
"Oke!" balas Taufan.
Yaya memandangi kepergian Taufan cukup lama. Ia kemudian menggeleng pelan sebelum akhirnya berbalik dan mendorong troli untuk mencari bahan yang diperlukannya.
.
.
.
Taufan tengah mendorong trolinya melewati sederetan lemari pendingin berisi buah-buahan saat ia melihat Yaya yang sedang membungkuk sambil memilih-milih setumpuk apel merah segar. Senyum tipis terukir di bibir Taufan saat ia melangkah mendekati Yaya sehati-hati mungkin tanpa menimbulkan suara.
"Sudah selesai belanjanya, sweetheart?"
Yaya terlonjak dan nyaris menjatuhkan apel yang tengah dipegangnya. "Taufan! Jangan mengagetkanku seperti itu!" ujarnya sambil mengelus dada.
Taufan tergelak. Ia melirik troli Yaya yang nyaris sama penuhnya dengan miliknya. "Sudah selesai?" Taufan mengulangi pertanyaannya.
"Hampir. Aku tinggal memilih beberapa buah ini, lalu selesai. Bagaimana denganmu?" tanya Yaya, ikut melirik troli Taufan yang isinya nyaris melimpah keluar.
"Aku sudah selesai dari tadi dong," kata Taufan bangga. Ia menyerahkan daftar belanjaan yang setengahnya telah diberi tanda centang menggunakan pulpen bertinta biru. "Lihat. Aku juga beli beberapa barag tambahan."
Taufan membongkar tumpukan barang di trolinya dan menarik keluar dua pasang piyama yang serupa namun berbeda warna.
"Tadaa~ Piyama couple!" serunya ceria.
"Dari mana kau dapat ini?" tanya Yaya heran.
"Dari bagian perlengkapan kamar tidur."
"Memangnya ada yang seperti itu di sini?"
"Ada dong. Di sana ada banyak perlengkapan untuk kamar tidur. Bantal, guling, seprei, bahkan tempat tidur juga ada."
"Err...oke..." Yaya mengambil kedua piyama yang dipegang Taufan dan meraba bahannya yang cukup lembut.
"Bagaimana? Bagus, kan?" tanya Taufan. Yaya mengangguk. "Punyamu yang warna biru, dan punyaku yang warna merah muda."
"Eh? Kenapa punyaku wana biru? Aku mau yang merah muda!" protes Yaya.
"Tidak, tidak, tidak. Karena aku yang memilih, berarti terserah aku dong punya siapa yang mana," kata Taufan kalem.
"Tapi masa kau mau pakai yang warna merah muda?"
"Memangnya kenapa? Siapa tau kalau aku memakai warna kesukaanmu kau juga akan menyukaiku kan," Taufan berujar santai.
Wajah Yaya merona merah. Ia menundukkan wajah dan memandang euda piyama yang tengah dipegangnya. "Tanpa harus memakai warna merah muda pun aku pasti akan tetap menyukaimu kok," gumamnya malu-malu.
"Eh, apa? Aku tidak dengar," kata Taufan. Ia membungkuk untuk mendekatkan wajahnya dengan Yaya, yang justru membuat wajah Yaya semakin merah padam.
"Tidak ada apa-apa! Jangan dipikirkan!" ujar Yaya buru-buru.
"Ah, ayolah~ Aku ingin mendengarnya sekali lagi~ Kau bilang pasti akan menyukaiku kan? Benar, kan?"
Yaya menggeleng kuat-kuat dan berjalan menjauh dari Taufan. "Tidak, aku tidak bilang begitu!"
"Aih, istriku ternyata memang tsundere~"
"Aku tidak tsundere!" Yaya semakin menjauh dari Taufan dan menghilag di balik rak-rak tinggi.
"Hei, Yaya, tunggu! Trolinya jangan ditinggalin!"
.
.
.
"Kenapa kau mengambil banyak sekali cola, Fan? Botol besar semua lagi," omel Yaya begitu ia memeriksa satu-persatu belanjaan Taufan.
"Eh, cola kan enak diminum tiap hari. Jadi biar tidak kehabisan aku beli sekaian banyak terus," ujar Taufan cengengesan.
"Tapi minuman ini tidak bagus untuk kesehatan, Taufan. Cepat letakkan kembali!" perintah Yaya tegas.
"Ta-tapi, Yaya ..."
"Tidak ada tapi-tapi. Letakkan kembali!"
"Yaya tega! Aku tidak bisa hidup sehari tanpa cola!" Taufan memasang wajah memelas, berharap Yaya akan luluh.
"Kau justru bisa hidup lebih lama kalau tidak minum cola!"
"Yaya..."
"Letakkan. Kembali."
"Oke, oke. Aku akan menembalikannya ke rak," kata Taufan akhirnya, takut dengan wajah mengancam Yaya. "Tapi ... tak bisakah aku membelinya satu saja?" Taufan memohon. Yaya terlihat mempertimbangkan ucapan Taufan. "Satu aja. Beneran deh," lanjut Taufan berusaha meyakinkan Yaya.
"Ya, baiklah. Kita akan membeli satu," kata Yaya kemudian. Taufan bersorak gembira. "Tapi cuma yang botol kecil saja."
"Yah..." Taufan mendesah kecewa, tapi tahu ia tak bisa lagi membantah. Baru saja Taufan hendak mengembalikan semua botol minuman bersoda yang dibelinya, Yaya kembali menginspeksi barang belanjaannya.
"Untuk apa semua makanan beku ini?" tanya Yaya seraya mengacungkan sebuah bungkusan olahan ayam beku.
"Tentu saja untuk dimakan, Ya. Buat apa lagi?"
"Makanan beku itu tidak sehat, Taufan. Banyak pengawetnya."
"Kalau tidak ada pengawet nanti jadi tidak tahan lama, kan."
"Nah, makanya. Tidak baik mengkonsumsi makanan seperti ini. Berbahaya bagi kesehatan. Kita harus makan makanan segar stiap hari. Sayur segar, daging segar, buah-buahan segar. Bukannya makanan berpengawet seperti ini," ujar Yaya panjang lebar.
"Kau bercita-cita jadi pakar kesehatan, ya?" tanya Taufan sedikit putus asa.
"Tidak. Aku bercita-cita jadi penulis."
Taufan menghela napas panjang. "Jadi aku juga harus mengembalikan ini semua?" Ia mengacungkan sekotak pizza beku dan memandang Yaya pasrah.
"Yep. Kembalikan semuanya," Yaya mengangguk mantap. "Oh, dan mi instan ini juga tidak perlu. Kembalikan."
"Yaya," Taufan menatap Yaya penuh horor. "Kau boleh melarangku membeli yang lain. Tapi jangan mi instan, Ya. Mi instan itu separuh jiwaku! Bagaimana aku bisa hidup tanpa mi instan?"
"Hidupmu akan jauh lebih baik tanpa mi instan, Taufan..." ujar Yaya penuh kesabaran.
"Tapi, Yaya, mi instan itu penting. Kita bisa menggunakannya sebagai makanan darurat kalau tiba-tiba kehabisan makanan. Jadi boleh ya aku membelinya?" Taufan memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau kehabisan makanan kita kan bisa beli lagi. Tidak harus makan mi instan kan?" Yaya tetap bersikeras.
"Kalau tiba-tiba kita kehabisan uang untuk beli makanan gimana? Kamu mau kita mati kelaparan berdua karena menyia-nyiakan mi instan yang berharga seperti ini?"
Mau tak mau Yaya tertawa mendengar kata-kata Taufan yang diucaapkan begitu serius. "Ya, baiklah. Kita tetap akan membeli mi instan," ujarnya.
"Sungguh?" ucap Taufan dengan mata berbinar.
"Tapi jangan banyak-banyak, ya. Dan tidak boleh dimakan setiap hari juga, hanya sesekali," pesan Yaya.
"Iya, sweetheart~"
Yaya tersenyum kecil. Ia berjalan mengikuti Taufan saat pemuda itu mengembalikan satu-persatu barang yang dilarang Yaya kembali ke rak masing-masing.
Taufan yang menyadari Yaya sedari tadi terus menatapnya akhirnya menoleh ke belakang. "Kenapa kau terus menatapku seperti itu, sweetheart? Sedang mengagumi ketampananku, ya?" godanya.
Yaya mendengus. "Tingkat kepercayaan dirimu itu sepertinya harus diatur ulang, Taufan. Jangan terlalu tinggi, nanti jatuh."
"Lho, bukannya bagus kalau punya rasa percaya diri tinggi? Aku tidak bakal jatuh kok, tenang aja," kata Taufan santai. "Jadi, kenapa kau dari tadi terus mengawasiku? Ada sesuatu yang aneh di wajahku?"
"Ah, tidak," Yaya menggeleng pelan dan tersenyum. "Aku hanya senang karena kelihatannya kau sudah kembali seperti semula."
"Eh, apanya?"
"Sikapmu setelah kembali dari bandara tadi terlihat aneh, jadi aku khawatir. Kupikir kau mungkin merasa sedih karena harus berpisah dengan orangtuamu."
"Ah, itu ..." Taufan tertawa pelan dan menggaruk pipinya canggung. "Aku pasti terlihat seperti anak manja yang tidak bisa berpisah jauh dari orang tua ya?"
"Tidak. Aku justru berpikir kau pasti sangat menyayangi mereka, karena itu kau sedih jika harus berpisah."
Taufan tersenyum. "Ternyata kau cukup pengertian juga, sweetheart," ucapnya seraya mengelus kepala Yaya lembut.
"Aku mungkin belum terlalu lama mengenalmu, tapi aku tidak suka melihatmu murung seperti tadi. Karena itu...ceritalah padaku kalau kau punya masalah, ya?" pinta Yaya.
"Hm. Ayo kita saling berbagi setiap masalah yang ada. Kita suami-istri, kan?" Taufan menarik Yaya mendekat dan mencium puncak kepalanya. Yaya merasa wajahnya terbakar malu.
"Taufan, jangan di sini. Malu kalau dilihat orang," gumam Yaya sambil melirik kanan-kirinya dengan gugup.
"Tidak ada siapa-siapa, kok. Tenang aja," balas Taufan santai. Ia kemudian melirik kedua troli belanjaan mereka yang terabaikan. "Ngomong-ngomong, kenapa kita malah jadi berdrama ria di sini? Lebih baik kita langsung ke kasir untuk membayar barang-barang ini. Sudah selesai semua kan?"
"Eh, belum. Aku tadi masih belum selesai memilih buah," kata Yaya.
Taufan mengangguk. Ia kemudian menggandeng sebelah tangan Yaya, sementara tangan satu lagi digunakan untuk mendorong troli.
"Kalau begitu ayo kita cepat memilih buahnya supaya bisa segera pulang. Aku sudah hampir mati kelaparan sejak tadi."
.
.
.
Yaya tengah mencicipi masakan yang dibuatnya saat Taufan muncul dengan rambut yang masih basah karena baru selesai mandi.
"Kau tidak mau mandi dulu, Ya?" tanya Taufan sambil mengelap rambutnya dengan handuk.
"Ah, sebentar. Sedikit lagi ini matang, lalu aku akan segera mandi," kata Yaya. Ia mendongak dan langsung tersedak melihat Taufan yang ternyata belum mengancingkan piyamanya, memperlihatkan otot perut yang walau tidak seseksi perut six-pack para atlit olahraga, tapi cukup membuat wajah Yaya tersipu.
"Kenapa?" tanya Taufan heran melihat Yaya yang tiba-tiba terbatuk.
"Ba-bajumu..." ucap Yaya gugup.
"Bajuku?" Taufan menunduk dan baru tersadar dengan keadaan pakaiannya. "Oh, maaf, maaf... Aku lupa mengancingkannya," ia cengengesan malu. Taufan kemudian berbalik untuk mengancingkan bajunya. "Aku beneran lupa, lho, bukannya sengaja."
"Bohong, ah," dengus Yaya. Wajahnya masih memerah dan ia berusaha menyibukkan diri kembali dengan masakannya, walau tidak tahan untuk tidak sesekali mencuri pandang.
"Aku tidak bohong, sweetheart..." kata Taufan. Ia kembali berbalik dan melangkah mendekati Yaya. "Lagipula aku sudah janji pada Ying."
"Janji apa?" Yaya berpura-pura kembali mencicipi masakannya agar tak perlu memandang Taufan.
"Janji untuk tidak agresif."
Yaya tersedak lagi. Taufan membantu menepuk dan mengelus punggungnya lembut. Ia kemudian meletakkan kedua sikunya di atas kitchen set dan menggunakannya untuk menopang dagu, sebelum menatap Yaya lekat.
"Tapi susah juga ya untuk tidak bersikap agresif saat di dekatmu. Kau itu terlalu cantik sih," ujar Taufan.
"Huh, gombal." Yaya mematikan kompor dan berbalik untuk mengambil piring di rak. "Ngomong-ngomong, kenapa kau pakai piyama yang biru? Bukankah tadi kau bilang mau yang warna merah muda?"
"Oh, ini," Taufan melirik piyama yang dikenakannya. "Ternyata aku salah mengambil ukuran. Yang merah muda tidak muat untukku, jadi aku pakai yang biru saja."
"Berarti yang merah muda untukku, kan?"
"Yep. Kau memang lebih cantik kalau memakai warna itu."
Yaya memutar bola matanya namun tidak berkomentar apa-apa. Ia menyusun piring di atas meja dan juga menghidangkan makanan yang baru dimasaknya, sementara Taufan duduk manis di kursi sambil mengawasi Yaya yang terus mondar-mandir di dapur.
"Udah malam lho, Ya. Mandi sana. Nanti kalau mandi terlalu larut kau bisa sakit," kata Taufan.
"Ya, baiklah. Aku sudah selesai, kok," ujar Yaya. Ia melepaskan celemeknya dan baru saja hendak meninggalkan dapur saat tiba-tiba langkahnya terpeleset.
"Awas!"
Taufan sigap menahan tubuh Yaya sebelum jatuh membentur lantai. Yaya refleks berpegangan erat pada Taufan untuk mencegah dirinya jatuh. Dengan dibantu Taufan, Yaya berhasil menyeimbangkan dan menegakkan diri kembali. Keduanya sama-sama menghembuskan napas lega.
"Dasar. Hati-hati kalau melangkah, sweetheart," ucap Taufan.
"Ma-maaf..." gumam Yaya. Ia masih memegang lengan Taufan erat, takut terjatuh lagi. Saat Yaya mendongak, ia melihat Taufan tengah menatapnya lekat. Jarak yang tipis di antara mereka membuat Yaya bisa merasakan hembusan hangat napas Taufan di wajahya.
Taufan menatap Yaya lekat dan terlihat tengah mempertimbangkan sesuatu. Namun kemudian ia menggelengkan kepala pelan dan memejamkan matanya.
"Aku sudah berjanji. Dan aku akan menepatinya," gumam Taufan. Ia tersenyum dan melepaskan Yaya dengan lembut. "Nah, mandi sana, sweetheart. Aku tidak mau makan malam denganmu kalau kau tidak mandi," katanya dengan tawa kecil.
Yaya mengangguk. Ia berbalik dan nyaris berlari ke kamar. Seteah memastikan pintu tertutup rpat, Yaya langsung menghempaskan diri di tempa tidur dan menenggelamkan wajahnya yang sedari tadi terasa panas di bantal.
.
.
.
Musik lembut mengalun entah dari mana saat Yaya baru saja mengelap tangannya setelah mencuci piring. Ia menoleh dan melihat Taufan tengah berkutat dengan sesuatu di depan sofa ruang TV. Karena penasaran, Yaya pun melangkah mendekat.
"Apa itu pemutar piringan hitam?" tanya Yaya sedikit terkejut melihat benda apa yang tengah dikutak-katik Taufan.
Taufan mendongak, kemudian mengangguk kecil. "Yap. Aku membelinya sudah lama sekali dan kutinggal di rumah mama di sini. Tadinya kupikir sudah rusak, tapi ternyata masih berfungsi. Suaranya masih bagus, kan?"
Yaya mengangguk. Ia menghempaskan diri di sofa dan mengamati Taufan yang kini sibuk membersihkan debu dari beberapa piringan hitam dalam kotak di dekatnya.
Musik yang mengalun dari piringan hitam yang sedang diputar membuat Yaya merasa sedikit tenang dan juga mengantuk. Namun ia juga gelisah dan sedari tadi tak henti-hentinya melirik jam di dinding yang menunjukkan malam telah semakin larut.
Ada sesuatu yang ingin disampaikan Yaya pada Taufan. Tapi beranikah ia mengatakannya?
"Anu, Taufan..."
"Ya?" Taufan mengangkat kepala dan memandang Yaya ingin tahu, menunggunya melanjutkan ucapannya.
"Anu, itu..." Yaya memainkan jarinya gelisah. Ia memandang ke mana saja asal bukan ke arah Taufan. "Umm..." Taufan masih sabar menunggu Yaya menyampaikan maksudnya. "Ini soal hubungan kita..." ucap Yaya akhirnya.
"Hubungan apa?" tanya Taufan heran.
"Anu, itu ... Hubungan kita yang ... kau taulah ..."
"Aku tidak mungkin tau kalau kau tidak bicara dengan jelas, Yaya ..."
Yaya menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali untuk menenangkan diri. Barulah kemudian ia melanjutkan kata-katanya.
"Bisakah—bisakah untuk sementara kita hanya tidur seperti biasa tanpa melakukan apa-apa?" ujar Yaya akhirnya. Rasanya ia ingin menenggelamkan wajahnya di bantal sofa yang tergeletak di sebelahnya, tapi ia menguatkan diri untuk menatap kedua safir Taufan.
Taufan sedikit melongo, tak mengerti maksud ucapan Yaya. Detik berikutnya ia tertawa geli, membuat Yaya semakin menahan malu.
"Oh, maksudmu 'itu'? Astaga, karena kau serius sekali kupikir ada apa," Taufan menggeleng pelan namun tak berhenti tertawa.
"Ini kan memang masalah serius!" kata Yaya dengan wajah merona.
"Iya, iya, aku tau," balas Taufan. Ia kemudian bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yaya. "Berdansalah denganku."
"Hah?" Yaya memandang Taufan heran. Kenapa tiba-tiba Taufan mengajaknya berdansa?
"Ayolah," kata Taufan lagi. Ia mengenggam tangan Yaya dan menariknya berdiri. "Kita belum sempat berdansa di pesta pernikahan kemarin karena kau terlalu sibuk ngambek padaku."
Yaya teringat bagaimana ia menolak tawaran dansa dari Taufan di pesta pernikahan mereka karena Yaya terlalu kesal setelah Taufan tiba-tiba menciumnya di depan semua orang.
"Aku tidak bisa berdansa ..." gumam Yaya pelan.
"Tidak apa. Kita cukup bergerak mengikuti irama musik saja," kata Taufan santai.
Maka mereka pun berputar-putar pelan mengelilingi apartemen mengikuti alunan musik dari pemutar piringan hitam. Yaya dengan gugup berusaha mengikuti langkah Taufan, dan berakhir dengan terlalu banyak menginjak kakinya hingga membuat Taufan tak henti meringis.
"Kau benar-benar payah dalah berdansa, sweetheart," kata Taufan, lagi-lagi meringis saat Yaya kembali tak sengaja menginjak kakinya.
"Maaf, maaf ... Sudah kubilang aku tak bisa berdansa," kata Yaya penuh penyesalan.
Musik akhirnya berhenti mengalun, membuat Taufan dan Yaya menyudahi acara dansa dadakan mereka yang cukup kacau. Yaya mendesah lega. Ia hendak kembali ke sofa untuk mengistirahatkan kakinya yang pegal, namun Taufan tiba-tiba menariknya dan membuat Yaya kehilangan keseimbangan hingga wajahnya menubruk dada Taufan.
"Apa kau takut padaku?" tanya Taufan tiba-tiba.
"Eh?" tanya Yaya tak mengerti.
"Kau takut padaku?" ulang Taufan. Ekspresinya terlihat benar-benar serius. "Kau selalu berusaha menghindar setiap kalau berada di dekatku. Apa aku benar-benar membuatmu merasa tidak nyaman?"
Yaya menggigit bibirnya gelisah. "Umm... ya, sedikit ..." Ia mengangguk, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak sedikit juga sih. Kau membuatku merasa sangat tidak nyaman, sebenarnya," aku Yaya jujur. "Tapi hanya kadang-kadang. Kalau kau sedang bersikap ... yah, kau taulah ..."
Taufan mengangguk paham. "Aku tidak bermaksud menakutimu atau membuatmu tidak nyaman. Aku hanya suka melihat wajahmu yang panik dan memerah malu setiap kali aku menggodamu. Kupikir itu lucu. Aku tidak sadar aku justru membuatmu merasa gelisah dan tidak tenang. Maafkan aku. Aku seharusnya lebih memperhatikan perasaanmu." Taufan menempelkan dahinya dnegan dahi Yaya dan memejamkan mata dengan alis berkerut.
Yaya sedikit terperangah mendengar pengakuan Taufan. Ia tak menyangka Taufan ternyata juga punya sisi pengertian seperti ini.
"Tidak, kau tak perlu minta maaf," kata Yaya lirih. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Taufan, membuat kedua safir jernih itu kembali terbuka dan menatapnya dalam. "Aku ... hanya butuh waktu untuk terbiasa. Jadi bisakah kau memberiku waktu untuk itu?"
Tangan Taufan bergerak untuk menyentuh tangan Yaya di wajahnya. "Tentu saja. Aku akan memberikannya sebanyak apa pun yang kau mau," ujarnya seraya mengulas senyum samar.
Bibir Yaya ikut mengulum senyum. Ia membiarkan kehangatan tangan Taufan memberinya kenyamanan dan perasaan tenang.
"Dan untuk permintaanmu tadi," lanjut Taufan lagi. "Itu sama sekali bukan masalah untukku. Aku tidak akan memaksamu kalau kau belum siap. Jadi kau tak perlu merasa cemas dan ketakutan lagi ..."
Yaya benar-benar merasa lega sekarang. Mungkin ini pertama kalinya ia merasa benar-benar bersyukur bahwa Taufanlah yang dipilih kedua orangtuanya untuk menjadi pendampingnya.
"Aku masih harus belajar tentang banyak hal. Kau tau, aku masih benar-benar awam tentang hal seperti ini," gumam Yaya malu.
Taufan terkekeh pelan. "Aku tau," katanya, "Kurasa kau memang masih terlalu polos untuk ukuran gadis seusiamu."
Yaya melengkungkan bibir cemberut mendengar ucapan Taufan. "Jangan menghinaku," katanya sebal.
"Hei, itu bukan hinaan, tapi pujian," kata Taufan. Ia meletakkan tangan di pipi Yaya dan mencium keningnya lembut. "Kalau begitu, ayo kita belajar bersama-sama. Belajar untuk saling merasa nyaman. Belajar untuk terbuka satu sama lain. Dan juga ... belajar untuk saling mencintai ..."
Taufan meraih kedua sisi wajah Yaya dan mendekatkan wajahnya perlahan. "Bolehkah?" tanyanya.
Yaya mengangguk. Ia memejamkan mata saat bibir Taufan menyentuh lembut bibirnya. Ciuman kali ini tidak membuatnya hampir terkena serangan jantung karena kaget, walau jantungnya tetap saja berdebar keras dan bertalu-talu di dalam rongga dadanya. Ciuman ini tidak membuatnya merasa panik dan ingin melarikan diri sejauh mungkin.
Ciuman ini terasa hangat dan nyaman, membuat Yaya tanpa sadar menginginkan lebih. Perlahan Yaya melingkarkan lenannya di leher Taufan, sementara kedua lengan Taufan melingkar di pinggangnya dan menariknya mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka.
'Ya ... Ayo kita belajar untuk saling jatuh cinta satu sama lain. Hingga kita jatuh terlalu dalam dan tak akan pernah bisa keluar lagi ...'
.
.
.
to be continued
A/N :
Di chapter ini lebih fokus ke romance dan humornya hampir nggak ada, jadi aku minta maaf buat yang udah berharap bakal banyak humor kayak chapter-chapter sebelumnya.
Kalau ada yang merasa janggal sama alurnya bilang aja, nggak apa-apa. Mungkin terlalu terkesan terburu-buru dan dipaksain? Soalnya aku ngerasa kayak gitu. Jadi aku pengen tau apa kalian ngerasa gitu juga.
Dan satu lagi. Di fanfic ini nggak bakal ada adegan 'itu', jadi nggak perlu takut atau malah berharap bakal ada /plak
Tapi kalau ada adegan yang udah terlalu menyerempet ke sana tolong diingatin. Aku juga masih ragu batasan untuk rating T itu semana.
Terakhir, makasih banyak untuk yang udah menyempatkan diri membaca. Silakan review kalau berkenan. Review kalian itu penyemangat buat aku lanjutin nulis, jadi jangan ngerasa bakal nyepam atau apa.
Sampai jumpa di chapter berikutnya~
Balasan review untuk yang nggak login :
cutegirl : makasih reviewnya~ ini udah next kok, maaf nggak kilat..
honey : ah, makasih udah berbaik hati ngereview dan nggak jadi silent reader lagi :") ini udah next ya, maaf nggak kilat
VinuraOsake : maaf lama menunggu updatenya. Ini udah next kok, maaf nggak bisa kilat
reader : ahaha emang lebih imut kayak gitu sih ya. Makasih udha mampir dan review~
