Saat Yaya membuka matanya pagi itu, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Taufan yang tengah tertidur pulas di sebelahnya. Napas hangat Taufan terasa di wajah Yaya karena jarak mereka yang cukup dekat. Sebelah lengan Taufan melingkar di tubuh Yaya, memeluknya. Yaya merasa wajahnya sedikit merona. Bagaimana caranya supaya ia terbiasa dengan hal ini?
Yaya tak langsung beranjak dari tempat tidur. Ia menatap lama wajah Taufan yang begitu polos saat tengah terlelap. Mulutnya sedikit terbuka, memperdengarkan suara helaan napas yang teratur. Tanpa sadar Yaya menggerakkan tangannya menyentuh wajah itu. Ia merasa gemas ingin mencubit pipi Taufan, tapi bahkan sebelum jarinya bergerak sesenti pun, sebuah tangan lain menggenggam tangannya.
"Sedang mengagumi wajah tampan suamimu, sweetheart?" Taufan membuka sebelah matanya dan menatap Yaya dengan sorot mengantuk.
Yaya yang merasa malu karena tertangkap basah, buru-buru berbalik dan hendak bangkit, namun sepasang lengan Taufan memeluknya dari belakang dan menariknya kembali.
"Mau ke mana, sweetheart? Aku masih ngantuk. Ayo tidur sebentar lagi," gumam Taufan tak jelas.
"Sudah waktunya shalat subuh, Taufan. Cepat bangun dan cuci muka sana," kata Yaya. Ia berusaha melepaskan diri, tapi Taufan terus memeluknya erat dan menahannya agar tidak pergi.
"Sebentar lagi ... Aku masih ngantuk ..."
"Nanti waktu shalatnya habis, Taufan. Ayolah, bangun lalu kita ambil wudhu sama-sama." Taufan membalas dengan gumaman samar. "Apa?" tanya Yaya.
"Cium dulu," kata Taufan.
"Hah?"
"Give me a morning kiss, sweetheart, baru setelah itu aku akan bangun."
"Jangan harap."
Yaya berhasil melepaskan diri dari jeratan Taufan. Dengan cekatan ia bersiap lari ke kemar mandi, tapi segera saja Taufan kembali menangkapnya.
"Kau tak akan bisa lari dariku, sweetheart~"
"Taufan, tunggu! Tungg—mmph! Mmphh!"
.
.
.
"Get Married"
Chapter 6 : Break
A BoBoiBoy fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta
Warnings : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah, rate T+, yang di bawah 15 tahun atau yang merasa pikirannya masih polos, tolong jangan baca
.
.
.
Taufan menyesap kopinya dan dengan santai membuka surat kabar yang ada di meja makan. Ia menyadari tatapan maut yang diberikan Yaya padanya, yang tengah menggoreng telur untuk sarapan mereka, dan mengangkat alis.
"Apa?" tanya Taufan dengan wajah tanpa dosa.
"Tidak apa-apa," dengus Yaya. Ia melanjutkan kegiatan memasaknya sambil bersungut-sungut tak jelas. Taufan tersenyum kecil sebelum menenggelamkan wajahnya di balik bentangan surat kabar.
"Hari ini kau ada kegiatan apa, Ya?" tanya Taufan seraya kembali meneguk kopinya.
"Tidak ada," kata Yaya. Ia membawa wajan ke meja makan dan menuangkan sebuah telur mata sapi ke piring Taufan. "Hari ini tak ada kelas yang harus kuhadiri, dan aku juga tak punya janji dengan siapapun. Jadi hari ini aku libur."
"Benarkah? Bagus kalau begitu. Berarti kita bisa bersantai hari ini." Taufan meletakkan korannya dan menggigit roti panggang di piringnya.
"Kau ... tidak bekerja atau semacamnya?" tanya Yaya hati-hati. Ia menarik kursi di depan Taufan dan ikut duduk untuk menikmati sarapannya. "Kku tau kau sudah selesai kuliah. Jadi tidakkah seharusnya kau mencari pekerjaan?"
Taufan terkekeh mendengar pertanyaan Yaya. "Ah, kau pasti mengira aku hanya akan bermalas-malasan di rumah, ya? Jangan khawatir, sweetheart. Suamimu tidak seburuk itu kok," katanya kalem. "Aku sudah dapat pekerjaan, tapi aku baru akan mulai bekerja minggu depan."
"Oh, ya? Kau bekerja di mana?"
"Di perusahaan papimu."
"Yang benar? Kok aku tidak tahu?"
"Mungkin karena kau tidak mencari tahu?" kata Taufan. Yaya memutar bola matanya. "Yah, tapi itu benar, aku akan bekerja di sana. Tadinya aku berniat mencari pekerjaan di NYC, atau mungkin LA. Tapi kalau aku bekerja di sana, aku harus membawamu serta. Dan yah, orangtuamu tidak mengizinkanmu tinggal terlalu jauh dari mereka. Jadi aku ditawarkan untuk bekerja di kantor ayahmu, sebagai konsultan."
Yaya meringis. "Orangtuaku kadang memang seikit berlebihan," ujarnya seraya menghela napas. "Ah, seandainya saja aku diizinkan untuk pergi jauh dari sini. Pasti menyenangkan tinggal di kota besar seperti New York City."
"Tidak juga. Di sana terlalu berisik dan semrawut. Tapi yah, rasanya memang seperti mimpi jika bisa tinggal di sana."
"Kapan ya, aku bisa pergi ke sana?" Yaya menerawang ke luar jendela tak jauh dari dapur mereka dengan wajah muram.
"Kita bisa liburan ke sana sesekali kalau kau mau," kata Taufan.
"Sungguh?" Mata Yaya terlihat berbinar penuh harap.
Taufan mengangguk. "Tentu saja. Aku punya apartemen di sana, jadi kita tak perlu khawatir tentang tempat tinggal. Dan suatu hari nanti kita juga mungkin bisa menetap di sana. Saat orangtuamu sudah bisa merelakan putri kecil mereka untuk dibawa pergi oleh suaminya," ujar Taufan seraya terkekeh.
Yaya ikut tertawa. "Benar. Mereka harusnya menyadari aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku sudah menikah."
"Yep. Dengan pria paling tampan se-Asia Tenggara."
Yaya berlagak muntah, tapi diam-diam ia tersenyum. "Kau mau tambah kopi lagi?" tanyanya. Taufan mengangguk.
Yaya beranjak dari kursinya untuk mengambil teko yang diletakkannya di kitchen set. Kemudian mereka melanjutkan sarapan tanpa banyak mengucapkan apa pun lagi.
.
.
.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini?"
Yaya merebahkan kepanya di sandaran sofa dan memandang ke sekeliling apartemen mereka. "Beres-beres?" katanya.
Taufan mengerang. "Oh, ayolah. Buat apa beres-beres? Lagipula di sini sama sekali tidak berantakan."
Yaya mengangkat bahunya. "Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa."
"Kau mau jalan-jalan? Ke teman bermain, mungkin?" tawar Taufan.
"Err ... sepertinya tidak. Aku ingin istirahat di rumah saja hari ini," kata Yaya setelah berpikir sejenak.
"Oke, baiklah. Kita akan bersantai kalau begitu," Taufan mengangguk-angguk. Ia memasang pose berpikir selama beberapa saat, kemudian menjetikkan jarinya setelah mendapat ide. "Bagaimana kalau nonton film? Aku punya banyak koleksi DVD."
"Apa tidak terlalu pagi untuk menonton film? Sepertinya lebih menyenangkan kalau nonton saat sore atau malam," ucap Yaya.
"Ah, tidak masalah. Kita bisa nonton sampai malam kalau perlu," kata Taufan santai. Ia kemudian bangkit dari sofa dann melangkah ke arah kamar. "Aku akan mengambil DVD-nya dulu. Tunggu di sini sebentar."
"Oke."
Yaya menonton TV sambil menunggu Taufan kembali, dan tak sampai lima menit Taufan keluar dari kamar sembari membawa sebuah kotak berukuran sedang berisi koleksi DVD miliknya.
"Wow, ini semua punyamu?" ucap Yaya sedikit kagum. Ia mengambil sebuah DVD dan mengamati sampulnya dengan penuh minat.
"Yep. Aku mengoleksinya sejak ... kapan ya? Sekolah menengah? Yah, begitulah pokoknya," jelas Taufan sambil mengangkat bahu.
"Ada film apa saja di sini?"
"Ya pastinya banyak dong, sweetheart. Kau suka menonton genre apa? Romance?"
"Aku suka action."
"Serius?"
"Kenapa? Perempuan tidak boleh suka film action?" Yaya mengangkat alis melihat ekspresi kaget Taufan.
"Tidak, aku tidak bilang begitu, kok," kata Taufan seraya tertawa gugup. "Kau suka action, ya? Kalau begitu aku punya banyak yang ..."
"Ini film apa?" Yaya mengangkat sebuah kotak DVD dengan sampul bernuansa gelap. Wajah Taufan langsung berubah horor saat melihat DVD yang dipegang Yaya. "Fifty Shades of Grey? Apa ini film horor?" tanya Yaya penasaran.
"Bukan! Itu bukan film horor. Kau tidak boleh menonton film ini!" Taufan dengan panik berusaha merebut film itu dari Yaya, tapi gadis itu segera menyembunyikannya di balik punggungnya. Yaya kemudian menatap Taufan dengan mata menyipit curiga.
"Jadi ini film apa? Kenapa kau terlihat panik begitu?"
"Si-siapa yang panik? Aku tidak panik, kok ..." Taufan tertawa canggung. Ia melirik kotak DVD yang masih dipegang Yaya erat sambil berpikir cara untuk merebutnya kembali. "I-itu film ... Ya, kau benar! Itu film horor!" kata Taufan setelah kehilangan akal untuk mencari alasan.
Yaya mengerutkan kening. "Tapi tadi kau bilang bukan," katanya.
"Tadi—tadi aku cuma lupa. Sekarang aku sudah ingat. Itu film horor paling seram yang pernah kutonton. Lebih baik kau tidak menontonnya. Nanti kau bisa mimpi buruk, Yaya."
"Aku lumayan sering nonton film horor, kok, jadi tidak masalah."
"Ta-tapi ..."
"Kita nonton ini saja kalau begitu."
"Jangan!" Taufan melompat ke depan DVD player dan menghalangi Yaya yang hendak ke sana. "Jangan, Ya! Percayalah padaku, kau akan menyesal kalau menontonnya."
"Memangnya kenapa, sih? Kau justru membuatku semakin penasaran ingin menonton film ini."
"Lupakan saja tentang film itu, oke? Ada banyak film lain yang lebih bagus, Yaya. Kau mau pilih yang mana terserah saja. Ada banyak film action dan ..."
"Aku mau nonton yang ini," Yaya tetap bersikeras. Ia menghampiri DVD player dan mendorong Taufan menjauh. Taufan akhirnya hanya bisa pasrah dan memilih untuk menenggelamkan wajahnya di bantal sofa.
"Kau mau kuambilkan camilan?" tawar Taufan. Ia memang sudah pasrah, tapi mungkin lebih baik ia melarikan diri sejauh mungkin dari Yaya, sebelum istrinya itu mengamuk saat mengetahui film apa sebenarnya yang ia tonton.
"Tidak, jangan dulu. Kau tetaplah di sini," kata Yaya. Ia menarik taufan mendekat dan memegangi lengannya kuat-kuat.
"Tunggu. Apa kau takut? Kua bilang sudah biasa nonton film horor," kata Taufan sedikit heran.
"Yah, memang sih. Tapi kau bilang yang ini seram, jadi aku takut."
Taufan tak tahu apa ia harus merasa bersyukur atau merasa bersalah karena telah membohongi Yaya. Tapi tak lama lagi jelas ia akan menerima akibat dari kebohongannya itu.
Yaya terlihat serius saat ia mulai menonton film yang baru saja diputar. Sebelah tangannya masih memegangi lengan Taufan erat, sementara yang satunya lagi memeluk bantal sofa. Namun ekspresi seriusnya segera berubah menjadi sorot bingung sementara ia menonton adegan per adegan yang diperlihatkan di layar televisi mereka.
"Kenapa tidak ada hantunya sama sekali?" tanya Yaya heran. "Kau yakin ini film horor, Taufan? Kelihatannya ini seperti film romance."
"Yah ..." Taufan hanya menggaruk pipinya, tak tahu harus berkata apa. Ia bersiap menerima amukan Yaya nanti saat gadis itu mengetahui film apa yang sebenarnya tengah mereka tonton.
Dan benar saja, menjelang pertengahan film, Yaya berteriak kaget. Ia menutup wajahnya dengan bantal dan berseru meminta Taufan untuk segera mematikan film itu. "Matikan, Taufan, matikan!"
Taufan menghela napas pasrah dan melangkah ke arah DVD player. "Sudah kubilang jangan, kan. Kau pasti akan menyesal kalau menonton ini," katanya.
Setelah yakin Taufan telah mematikan film itu, barulah Yaya memberanikan diri untuk membuka mata. Ia memandang Taufan yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan membunuh.
"KENAPA KAU MENYIMPAN FILM SEPERTI ITU, BOBOIBOY TAUFAN?"
Taufan meringis. "I-itu sebenarnya bukan punyaku. DVD itu milik ... Halilintar! Ya, itu punya Hali! Pastilah terselip di koleksi DVD-ku saat aku sedang beres-beres!" dustanya.
"BAWA KE SINI SAUDARA KEMBARMU ITU BIAR AKU BISA MENCINCANGNYA SAMPAI HABIS."
"Jangan dong, sweetheart. Masa kau tega membunuh saudara kembar suamimu sendiri? Nanti biar aku yang bilang ke Hali supaya tidak menyimpan film begituan lagi, oke?"
Yaya masih terlihat seperti akan mengamuk. Wajahnya memerah, entah karena marah, atau mungkin karena melihat adegan di film yang baru saja mereka tonton.
"Pokoknya kau harus membuang film itu, Taufan. Jangan pernah menontonnya lagi!" ancam Yaya.
"Oke, oke. Aku akan membuangnya nanti. Janji!"
Kemarahan Yaya terlihat sedikit mereda, walau wajahnya masih kusut. Ia memeluk bantal di depan dadanya dengan bibir mengerucut.
"Mau ... nonton film yang lain?" tanya Taufan takut-takut.
"Tidak mau," balas Yaya ketus.
"Err ... oke ..." Taufan terlihat bingung tak tahu harus berbuat apa. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Cuacanya cerah, sayang kalau dilewatkan," bujuk Taufan.
Yaya kelihatan mempertimbangkan usul Taufan. Ia akhirnya mengangguk setuju, membuat Taufan merasa sedikit lega.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita jalan-jalan! Kau mau ke mana, sweetheart?"
Yaya menjawab tanpa berpikir lama. "Akuarium."
.
.
.
Taufan dan Yaya berdiri di depan gerbang akuarium sambil tak lepas memandang papan bertuliskan "Closed" yang tergantung di sana.
"Senin sampai Jumat buka pukul 16.00 sampai pukul 22.00. Sabtu dan Minggu buka pukul 10.00 hingga 22.00," Yaya membaca tulisan yang tercetak dengan nada muram.
"Yah, ini hari Kamis, dan sekarang masih pukul 10 pagi. Jadi wajar saja belum buka," komentar Taufan. Ia melirik Yaya yang terlihat kecewa di sebelahnya.
"Kenapa cuma akhir pekan yang buka dari pagi? Memangnya hari lain tak ada orang yang ingin berkunjung saat pagi?" sungut Yaya.
"Hari lain 'kan orang-orang kebanyakan pergi bekerja atau sekolah, Yaya. Makanya bukanya mulai sore."
Yaya menggerutu pelan seraya tak henti memelototi gerbang yang tertutup itu. Taufan tersenyum dan menepuk-nepuk kepala sang istri pelan.
"Kita pergi ke tempat lain saja, ya?" tawarnya.
"Tidak. Aku mau pulang."
"Eh? Serius? Tapi kita belum pergi ke mana pun, Yaya ..."
"Aku sudah tidak mood."
"O-ke ..."
Taufan tahu tak ada gunanya membantah. Wanita yang sedang badmood terkadang bisa lebih mengerikan daripada seekor singa yang kelaparan.
"Baiklah, kita pulang. Bagaimana kalau mampir dulu untuk beli es krim?" usul Taufan.
Senyum Yaya langsung megembang mendengar kata es krim. "Aku mau es krim stroberi!" serunya antusias.
Taufan nyengir dan mengusap kepala Yaya gemas. "Seleramu masih tidak berubah sejak dulu, ya."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan," ucap Taufan santai. Ia kemudian menggandeng tangan Yaya yang terlihat bingung dan membawanya kembali ke mobil. "Ayo kita beli es krim."
.
.
.
"Yes! Aku menang lagi!"
Taufan berseru girang seraya mengangkat stik gamenya penuh kemenangan. Sementara Yaya terlihat jengkel karena kalah lagi di pertarungan video game besama Taufan.
"Nah, mana hadiahku, sweetheart? Kau harus menciumku lagi karena kalah," kata Taufan dengan seringai lebar.
Yaya menggembungkan pipi kesal. "Belum cukupkah 15 kali kemenangan yang kau dapatkan tadi? Aku tidak mau menciummu lagi," gerutunya.
"Tidak boleh begitu, sweetheart," Taufan menggoyangkan jarinya dengan menyebalkan di depan wajah Yaya. "Kita sudah buat perjanjian di awal tadi, kan? Yang kalah harus mencium pemenangnya. Dan sekarang kau kalah, lagi, untuk ke-16 kali berturut-turut. Berarti aku berhak mendapat ciuman darimu lagi, sweetheart~"
"Tidak mau. Pokoknya kau tidak mau menciummu lagi," kata Yaya dengan tangan bersilang di depan dada.
"Kelau begitu kau mau aku yang menciummu?"
Yaya dengan sigap menutup bibirnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satu lagi digunakannya untuk menahan Taufan yang hendak mendekat.
"Jangan coba-coba, Taufan. Kau sudah janji akan minta izin dulu kalau mau menciumku, kan?" ujarnya galak.
"Kalau begitu, bolehkah ..."
"Tidak boleh."
"Yaya, ayolah ..." Taufan merengek dan memasang wajah memelas. Tapi Yaya justru bergerak mundur menjauh darinya.
"Tidak, tidak, tidak. Pokoknya tidak boleh, Taufan. Hari ini kau sudah mendapat jatah cukup. Jangan minta-minta lagi."
"Masa cuma 15 kali? Itu tidak cukup, Yaya ..."
"Jadi kau mau berapa?"
"Bagaimana kalau 485 kali lagi?"
"Kau minta dihajar, ya? Aku pernah belajar karate, lho. Mau merasakan salah satu jurusku?"
Taufan mengangkat tangannya tanda menyerah. "Oke, oke. Aku minta maaf. Aku tak akan meminta yang aneh-aneh lagi."
Yaya mengangguk puas. "Nah, begitu kan bagus." Gantian Taufan yang memasang wajah cemberut. Yaya kemudian melirik jam dinding dan sedikit terkejut melihat angka yang tertera di sana. "Oh, sudah jam segini. Aku harus menyiapkan makan malam!"
Yaya bergegas bangkit dan melangkah ke dapur, sementara Taufan hanya mengerutkan kening ke arah jam dinding. "Sejak kapan sudah jam segini?"
"Kita keasyikan bermain game sampai lupa waktu," celetuk Yaya dari arah dapur. "Lebih baik kau mandi duluan, Taufan. Nanti aku menyusul."
"Eh? Kau mau menyusul dan mandi bareng denganku?"
"Maksudku aku akan mandi setelahmu, Taufan ..."
"Yah, sayang sekali ..." Taufan berpura-pura memasang ekspresi kecewa, tapi saat melihat tatapan Yaya ia langsung nyengir. "Aku cuma bercanda, sweetheart ... Kalau begitu aku mandi dulu, ya. Jangan sampai dapurnya terbakar, lho."
Yaya memutar bola mata malas dan mulai menyalakan kompor, sementara Taufan beranjak ke kamar mandi sambil bersenandung kecil.
.
.
.
Taufan menggigit sepotong apel —camilan malamnya— sementara matanya tak lepas memandang televisi yang tengah menayangkan sebuah drama. Beberapa kali ia berdecak tak sabaran melihat adegan yang menurutnya terlalu dilebih-lebihkan. Ingin mengganti saluran, tapi pukul segini kebanyakan hanya menanyangkan hal-hal semacam ini.
"Yaya, kau sudah ngantuk? Kita tidur saja ..."
Belum selesai Taufan berbicara, ia merasakan kepala Yaya terkulai ke bahunya. Taufan melirik ke samping dan melihat sang istri telah terlelap.
"Ya ampun, dia sudah tidur duluan ternyata," gumam Taufan.
Dengan hati-hati, Taufan meletakkan piring berisi potongan apel di pangkuannya ke atas meja. Ia kemudian menggeser sedikit posisinya, lalu dengan mudah Taufan menggendong Yaya dan membawanya ke kamar.
Yaya terbangun sebelum mereka sampai ke kamar. Ia menguap dan memandang Taufan dengan mata setengah terpejam.
"Apa aku tadi tertidur?" gumamnya.
"He-eh. Harusnya kau bilang kalau mengantuk, jadi aku tak perlu sampai harus menggendongmu ke kamar seperti ini, kan."
"Maaf ..."
Yaya mengalungkan lengannya di leher Taufan agar tidak terjatuh. Ia merebahkan kepalanya di dada Taufan dan kembali memejamkan mata. Taufan tersenyum tipis melihatnya.
"Dasar ..."
Setibanya di kamar, Taufan membaringkan Yaya hati-hati di tempat tidur. Ia menarik selimut menutupi tubuh Yaya dan baru saja hendak kembali ke ruang depan untuk mematikan TV saat Yaya tiba-tiba menahannya.
"Ada apa, Yaya?" tanya Taufan.
Yaya mengisyaratkan agar Taufan mendekat. Ia kemudian memberikan Taufan kecupan kilat di bibirnya yang membuat Taufan sedikit terkejut.
"Aku membayar utang yang tadi," kata Yaya sedikit malu-malu. Taufan terlihat bingung, namun akhirnya ia mengangguk paham.
"Karena kau terlambat membayar, jadi harus ada bunganya, sweetheart," kata Taufan seraya menyeringai.
Yaya memejamkan mata rapat-rapat saat Taufan kembali mencium bibirnya. Awalnya hanya kecupan lembut seperti biasa, tapi perlahan berubah menjadi lumatan. Yaya sedikit panik dan mencoba mendorong Taufan menjauh, namun yang terjadi Taufan justru semakin menindihnya dan memperdalam ciuman mereka.
Kantuk yang tadi dirasakan Yaya lenyap seketika. Yaya meronta dan berusaha dengan sia-sia menjauhkan diri dari Taufan, tapi tenaganya kalah jauh dibanding pemuda itu. Tubuh Yaya gemetar ketakutan dan ia mulai terisak pelan.
Suara isakan Yaya rupanya menyadarkan Taufan. Ia segara menarik diri menjauh dan memandang Yaya dengan ngeri.
"Yaya, maaf aku ..." Kata-kata Taufan tersekat ditenggorokannya.
Apa yang baru saja ia lakukan? Untuk sesaat ia kehilangan kendali dan hampir melanggar janjinya pada Yaya. Apa yang akan terjadi kalau ia tidak segera menyadari apa yang dilakukannya?
Yaya tidak mengucapkan apa pun dan hanya menangis. Ia benar-benar ketakutan dan bahkan tak sanggup menggerakkan tubuhnya menjauh. Ia tahu pasti apa yang —tadinya— hendak dilakukan Taufan padanya. Padahal Yaya mengira ia bisa mempercayai Taufan. Seperti inikah cara Taufan memperlakukannya setelah semua janji manis itu?
"Yaya, aku ..." Taufan mencoba mendekati Yaya, namun gerakannya terhenti oleh seruan ketakutan Yaya.
"Jangan mendekat! Kumohon ..." Yaya mengubah posisinya menjadi duduk dan berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Taufan.
Taufan terlihat putus asa. Ia tahu dirinya belum melakukan sesautu yang terlalu jauh, tapi bagi Yaya apa yang dilakukannya tadi jelas melanggar perjanjian mereka.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan apa pun. Aku hanya ..."
Tapi Yaya tak ingin mendengar alasan. Ia memilih untuk menyembunyikan diri di balik gulungan selimut, satu-satunya perlidungannya saat ini.
"Maafkan aku," ucap Taufan penuh penyesalan. "Aku benar-benar minta maaf, Yaya ..."
Yaya tak memberikan tanggapan apa-apa. Taufan menghela napas berat. Ia akhirnya berbalik dan perlahan meninggalkan kamar, memberikan waktu bagi Yaya untuk sendirian.
.
.
.
to be continued
A/N :
Maafkan soal keterlambatan updatenya. Ada beberapa masalah dan yah ... aku kehilangan mood untuk lanjutin fanfic ini, dan juga fanfic-fanfic yang lain.
Doakan aja aku bisa ngelanjut fanfic yang lain juga ya setelah ini.
Untuk chapter ini, sebenarnya plotnya mulai melenceng dari yang awalnya kupikirin. Mungkin karena kelamaan nggak dilanjut, tapi jujur aja aku memang blank buat bagian ini. Aku udah mikirin plot untuk chapter-chapter ke depan, yang udah lebih jauh, tapi aku sama sekali nggak punya ide buat chapter sekarang. Jadi intinya aku cuma punya ide untuk bagian (hampir) endingnya, tapi aku nggak tau gimana cara sampai ke sana. Karna itu, aku mungkin bakal mempercepat sedikit alur fanfic ini. Mudah-mudahan nggak bakal terlalu aneh nantinya.
Fanfic ini genenya memang romance sama humor, tapi aku lagi nggak ada ide buat humor jadinya bikin drama sedikit. Tapi jangan khawatir, nggak bakal ada drama yang terlalu serius di sini. Cuma konflik ringan yang bakal selesai dengan cepat. Aku bakal berusaha mempertahankan humornya, walau cuma sedikit dan garing /plak
Makasih banyak buat yang udah menunggu kelanjutan fanfic ini, dan makasih udah mau baca chapter ini!
Ditunggu reviewnya~ Jangan jadi silent reader plis, aku butuh semangat buat ngelanjutin ff. Jadi sepatah-dua patah kata akan sangat berarti untukku :"))
Makasih banyak sekali lagi~
