Taufan terbangun dengan sedikit sentakan. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di ruang depan. Ah, benar ... ia memang tertidur di sofa karena Yaya mengusirnya semalam.

Taufan menguap dan bangkit dari posisi berbaringnya. Ia merenggangkan tubuh sebentar, kemudian menoleh ke sekeliling, sedikit terkejut mendapati langit di luar jendela sudah terang. Diliriknya jam yang tergantung di dinding, pukul sembilan tepat.

"Astaga, sudah jam segini!"

Bergegas Taufan bangkit dari sofa. Sehelai selimut yang sedari tadi tak disadarinya ada di sana, terjatuh ke lantai saat Taufan berdiri. Ia mengambil selimut itu dan memandangnya beberapa saat.

"Yaya ..."

Pandangan Taufan jatuh ke arah pintu kamarnya dan Yaya yang tertutup. Ia bertanya-tanya apa Yaya mengurung diri di dalam sana, tak ingin menemuinya. Pikiran itu membuat wajah Taufan langsung terlihat muram. Ia melipat selimut dan meletakkannya di sofa, kemudian melangkah gontai ke arah kamar mandi. Saat melewati dapur, Taufan melihat ada sesuatu yang diletakkan di meja makan. Segera Taufan menghampiri untuk melihat.

Ternyata sepiring sandwich dan juga secangkir kopi, pastilah Yaya yang menyiapkannya untuk Taufan. Melihatnya membuat Taufan semakin merasa bersalah. Taufan meraih cangkir kopinya yang sudah mendingin. Ia baru saja hendak meminumnya saat menyadari secarik kertas yang diletakkan di meja, tepat di bawah cangkir kopi.

Hari ini aku akan kuliah sampai sore. Aku tidak mau membangunkanmu, jadi aku berangkat duluan naik bus. Nanti aku juga akan pulang naik bus jadi kau tak perlu menjemputku. Aku mungkin akan ke rumah mami nanti untuk mengambil mobil, jadi mulai besok aku tak perlu merepotkanmu untuk mengantar atau menjemputku lagi.

-Yaya

Taufan jatuh terduduk di kursi dan membenturkan kepalanya berulang kali di meja makan.

"Apa yang harus kulakukan? Yaya benar-benar marah ..."

.

.

.

"Get Married"

Chapter 7 : Make Up

A BoBoiBoy fanfiction by Fanlady

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta

Warnings : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah, rate T+, yang di bawah 15 tahun atau yang merasa pikirannya masih polos, tolong jangan baca

A/N :

Sebelum membaca, aku cuma mau bilang, judul chapter ini "Make Up" maksudnya bukan make-up yang itu ya. Bukan bedak, lipstick, maskara, dan sejenisnya. Maksud make up di sini itu 'berbaikan'. Jadi setelah bertengkar, pasti ada berbaikan, 'kan? Nah, jadi itu artinya, jangan mikir make-up yang lain /plak/ Maaf jadi kebanyakan ngoceh. Selamat membaca~

.

.

.

Yaya membereskan buku catatan dan juga beberapa makalah yang berserakan di mejanya. Beberapa teman sekelasnya melambai dan mengucapkan selamat tinggal, Yaya hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Biasanya Yaya akan membalas degan ucapan yang sama, tapi hari ini ia nyaris tak berbicara sepatah kata pun. Kecuali untuk menjawab beberapa pertanyaan dosen saat kuliah tengah berlangsung tadi.

"Yaya," seorang gadis berambut cokelat sebahu menghampiri Yaya. "Hari ini kau bawa mobil, tidak? Aku boleh menumpang ya? Motorku sedang rusak, jadi aku tidak bisa memakainya hari ini."

Yaya mendongak dan memandang gadis yang memang cukup dekat dengannya itu. "Ah, maaf, Siti. Aku tidak bawa mobil hari ini," ucapnya sedikit menyesal.

"Jadi kau pulang naik apa?" tanya Siti.

"Umm, mungkin naik bus ..."

"Kalau begitu kita pulang sama-sama, ya?"

Yaya tersenyum dan mengangguk. "Oke. Tunggu sebentar ya ..." Ia segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, kemudian berjalan keluar kelas bersama Siti.

Mereka melangkah menyusuri koridor yang masih ramai dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Entah yang baru hendak mengikuti kelas berikutnya, atau yang akhirnya bisa bebas setelah mengikuti kuliah seharian penuh.

Siti mulai bercerita tentang kesehariannya. Yaya memang sudah jarang bertemu dengan temannya yang satu ini. Kelas yang mereka ikuti seringkali berbeda, padahal saat masih semester awal, mereka hampir selalu sekelas dalam semua mata kuliah.

Sementara Siti sibuk berceloteh, Yaya hanya menimpali dengan anggukan atau gelengan kepala, dan sesekali dengan gumaman tak jelas. Ia memutuskan untuk mengecek ponselnya sebentar, yang sedari tadi disimpannya di tas dan berada dalam mode silent. Ada 24 panggilan tak terjawab, juga 30 pesan baru yang masuk. Semuanya dari Taufan.

Yaya memilih untuk mengabaikan semua pesan itu tanpa bersusah payah membacanya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan kembali mendengarkan ocehan Siti, walau ia sama sekali tak menangkap apa yang diucapkan gadis itu.

Saat mereka hampir tiba di gerbang kampus, langkah Yaya tiba-tiba saja terhenti. Ia membelalak menatap sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari gerbang. Yaya jelas tahu siapa pemilik mobil putih itu.

"Ada apa, Yaya?" Siti bertanya heran saat melihat Yaya tiba-tiba berhenti melangkah.

"Umm, anu, Siti ..." Yaya melirik gugup ke arah mobil Taufan di luar. "Ma-maaf, sepertinya kita tidak bisa pulang bareng. Aku lupa hari ini aku ada janji bertemu dengan dosen pembimbingku. Aku harus menyerahkan revisi paper yang kemarin."

"Oh, benarkah? Ya sudah kalau begitu."

"Oke. Baiklah, aku harus segera pergi. Sampai bertemu lagi," kata Yaya. Ia kemudian segera berbalik dan bergegas menjauh dair tempat itu sebelum Taufan sempat melihatnya.

Yaya mengambil ponsel dari saku dan langsung menekan tombol panggil pada sebuah nomor yang sudah sangat dihapalnya. Terdengar nada tunggu selama beberapa saat, sebelum akhirnya panggilannya diangkat.

"Halo, Yaya. Ada apa?" Suara Ying terdengar dari seberang telepon.

"Ying, kau di mana?" tanya Yaya dengan nada mendesak.

"Eh, aku masih di kampus. Kenapa?"

"Kau masih ada kelas?"

"Tidak. Aku baru saja mau pulang."

"Bagus. Bisa tolong jemput aku di kampusku?"

"Yah, bisa sih. Kau tidak bawa mobil lagi? Taufan ke mana?"

"Aku akan menceritakannya padamu nanti. Yang penting sekarang kau harus segera menjemputku."

"Baiklah. Aku akan segera ke sana."

"Ah, Ying. Jangan lewat gerbang utama ya. Aku akan menunggumu di gerbang belakang."

Yaya melirik ke arah gerbang depan yang baru saja ditinggalkannya. Ia meringis saat melihat Taufan kini tengah menunggu di luar mobil. Kepalanya menoleh ke sana-kemari mencari seseorang. Mencarinya.

"Err ... oke ..."

Yaya memutuskan panggilan telepon. Sekali lagi ia melirik ke belakang. Ada sedikit rasa bersalah hinggap di hatinya saat melihat Taufan yang tengah menunggunya. Tapi Yaya kemudian menghela napas panjang, sebelum akhirnya melangkah ke arah berlawanan.

.

.

.

"Jadi, kau bertengkar dengan Taufan?" Ying meletakkan segelas jus apel di meja di depan sofa tempat Yaya duduk. Kemudian ia sendiri menghempaskan diri di sana.

Mereka kini tengah berada di apartemen Ying. Setelah permintaan emergensi dari Yaya yang menyuruh Ying untuk menjemputnya di kampus.

"Entahlah. Aku tidak tahu ..." kata Yaya muram.

"Aku tadi melihat Taufan di depan gerbang kampusmu, lho."

"Aku tahu."

"Kenapa kalian bertengkar?"

"Aku ... tidak tahu ..."

Ying berdecak tak sabar. "Ayolah, Yaya. Kau bilang akan menceritakan semuanya padaku," katanya.

Yaya menghela napas berat. Ia menatap Ying yang tengah menantinya untuk bercerita. Maka Yaya pun menceritakan semua yang terjadi padanya dan Taufan semalam.

Setelah mendengarkan cerita Yaya sampai akhir, Ying tak bisa menahan diri untuk tidak terkikik geli. Ia berusaha menahannya karena melihat wajah cemberut Yaya, tapi tawa Ying justru semakin keras.

"Bagus. Tertawalah sepuasmu," kata Yaya dongkol. Ia mengambil gelas di meja dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk.

"Maaf, maaf," kata Ying seraya mengusap matanya yang berair karena tertawa. "Jadi, kau marah karena Taufan menciummu?" tanyanya sambil berusaha menahan diri untuk tidak tertawa lagi.

"Aku tidak marah karena dia menciumku. Aku marah karena dia menciumku tidak seperti biasanya," ujar Yaya.

"Oh, ya? Memangnya seperti apa Taufan menciummu biasanya?"

"Biasanya dia hanya memberikan kecupan lembut saja. Tapi tadi malam dia—dia ... dia melumat bibirku," kata Yaya dengan ekspresi horor. Wajahnya sedikit memerah, entah karena malu harus menceritakan ini pada sahabatnya, atau malu karena mengingat kejadian semalam.

Tawa Ying kembali meledak melihat ekspresi wajah Yaya. Ia bahkan sampai terbungkuk-bungkuk dan harus memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Yaya hanya memandang sahabatnya itu dengan wajah masam.

"Kau —kau memang benar-benar amatir soal ini ya?" ucap Ying di sela-sela tawanya. "Yang namanya ciuman memang seperti itu, Yaya. Malah harusnya lebih parah lagi."

"Lebih parah lagi?" Yaya terlihat semakin ngeri. "Seperti apa?"

"Kau tidak pernah melihat adegan ciuman di film Hollywood?"

"Tidak. Aku selalu melompati bagian itu di film yang kutonton."

Yaya tiba-tiba saja teringat dengan film yang kemarin ditontonnya bersama Taufan. Wajahnya seketika memanas, dan Yaya harus memejamkan mata untuk menyingkirkan bayangan itu dari benaknya. Untung saja Ying tak menyadari sikapnya yang aneh.

"Karena itulah kau jadi tidak berpengalaman, Yaya," Ying kemudian berkata sembari menarik napas panjang setelah puas tertawa.

"Jadi maksudmu aku harus belajar hal seperti itu dari film? Ternyata kau gadis yang mesum, Ying," ujar Yaya, menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

"Lho, kenapa? Kita harus belajar dari semua media yang ada, kan?" balas Ying santai. Ia mengubah posisinya menjadi duduk bersila dan menghadapkan diri pada Yaya. "Dengar, Yaya. Kita ini sudah dewasa, sudah saatnya kita belajar hal-hal semacam itu."

"Ying, please—"

"Terutama kau, Yaya. Kau sudah menikah! Kau tidak mungkin selalu lari ketakutan setiap kali suamimu mencoba menciummu. Kau harus belajar membiasakan diri, oke?"

Yaya menghela napas panjang. "Ya, ya, aku tahu. Tapi tetap saja ... aku belum siap ..." gumamnya.

"Makanya kau harus menyiapkan diri. Jangan melarikan diri, hadapilah. Kau tidak bisa bersikap egois terus seperti ini. Kasihan Taufan."

"Aku tahu, aku tahu. Aku tahu sikapku memang egosi sekali. Tapi Taufan juga egois! Dia berjanji akan menunggu sampai aku siap, dan dia melanggar janjinya itu! Berarti dia juga egois, kan?"

"Yaya, Taufan itu laki-laki, dan dia itu suamimu. Taufan bukannya egois, dia hanya bersikap seperti layaknya seorang laki-laki biasa," Ying berusaha menjelaskan dengan sabar.

"Tapi dia sudah berjanji ..."

Ying mendesah pelan. "Kalau begitu bicaralah dengan Taufan. Tanyakan pada Taufan apa dia masih sanggup memegang janjinya itu. Kalau tidak, yah ... itu terserah kalian. Itu urusan rumah tangga kalian, aku tidak ingin ikut campur."

Yaya menunduk dan menatap jari-jarinya sendiri. Ia tahu ia seharusnya tidak melarikan diri dan membicarakan ini dengan Taufan. Tapi Yaya merasa tidak siap untuk menghadapi suaminya itu. Apa ia merasa takut? Entahlah, Yaya sendiri pun tak mengerti apa yang dirasakannya.

"Pulanglah. Bicara baik-baik dengan Taufan, oke? Aku akan mengantarmu pulang, ayo." Ying bangkit dari sofa dan mengambil kunci mobilnya.

"Aku tidak mau pulang ..." gumam Yaya pelan.

"Oh, ayolah, Yaya. Mau sampai kapan kau bersembunyi di sini? Taufan sekarang pasti tengah kebingungan mencarimu ke mana-mana," kata Ying sambil berkacak pinggang.

"Biar saja," ucap Yaya dengan bibir cemberut.

Ying menghela napas. Ia tahu kadang Yaya bisa bersikap sangat keras kepala seperti ini. "Kalau begitu kuantarkan ke rumah orangtuamu saja, bagaimana?" tawarnya.

"Tadinya aku juga berniat ke sana, tapi tidak jadi. Mami pasti akan bertanya macam-macam."

"Jadi kau mau ke mana juga? Masa kau mau menginap di sini?"

"Ya, aku memang berencana begitu. Boleh kan, Ying, aku menginap di sini? Please?" Yaya memohon dengan wajah memelas.

"Tidak, tidak. Malam ini aku harus pergi kencan dengan Fang."

"Pergi saja kalau begitu. Aku tidak masalah ditinggal sendirian di sini."

"Tidak boleh. Aku akan membawa Fang ke sini saat pulang nanti. Dan aku mau bermesra-mesraan hanya berdua dengannya."

"Ya sudah, lakukan saja. Aku akan mengunci diri di kamar tamu dan tidak akan mengganggu kalian sama sekali."

Ying memijat pangkal hidungnya lelah. "Yaya, please ..."

"Ying, please ..."

Yaya terlihat benar-benar putus asa, membuat Ying mau tak mau merasa kasihan juga. Tapi Ying tahu ia tak boleh membiarkan Yaya terus melarikan diri seperti ini.

"Ya, ya, baiklah," kata Ying akhirnya.

"Jadi aku boleh menginap di sini?" tanya Yaya penuh harap.

"Terserah kau saja," ucap Ying pasrah.

"Terima kasih, Ying! Aku benar-benar mencintaimu!" Yaya melompat dari sofa dan langsung memeluk Ying gembira.

"Ya, ya, aku tahu. Aku jadi sedikit kasihan pada Taufan karena kau lebih mencintaiku daripada dia."

Yaya memanyunkan bibir mendengar ucapan Ying. "Jangan sebut namanya lagi."

"Kenapa? Kau lebih suka aku memanggilnya Tuan Bencana Alam?"

"Ya, begitu lebih bagus."

"Baiklah, istri si Tuan Bencana Alam, boleh aku meminjam HP-mu sebentar?" pinta Ying.

"Eh, boleh saja. Buat apa?"

"Aku mau mengirim pesan pada Fang. HP-ku tiba-tiba saja hang entah kenapa," jelas Ying. Ia berbohong, tentu saja. Ada hal lain yang ingin dilakukannya dengan ponsel Yaya.

"Oh, baiklah. Ini." Yaya menyerahkan smarthphone-nya tanpa curiga.

Ying menerima handphone Yaya sambil menyeringai licik, yang untung saja tidak disadari oleh gadis berkerudung merah muda itu.

.

.

.

Suara bel pintu mengalihkan perhatian Yaya dari acara TV yang sedang ditontonnya. Ia menoleh ke arah dapur, tempat Ying menghilang beberapa waktu lalu.

"Ying, sepertinya ada tamu," ujar Yaya, sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Ying. "Mungkin itu Fang datang menjemputmu."

"Bisa tolong bukakan pintunya sebentar, Yaya? Aku sedikit sibuk di sini," balas Ying.

"Oke."

Yaya melangkah ke arah pintu apartemen Ying dan membukanya seraya menyunggingkan senyum lebar, mengira akan mendapati Fang menunggu di sana. Namun ternyata yang tengah menantinya sama sekali bukan Fang.

"Yaya, ternyata kau memang di sini." Ekspresi Taufan terlihat benar-benar lega saat melihat Yaya.

"Taufan!" Kebalikan dari sang suami, Yaya justru terlihat ngeri dan juga shock. "Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?"

"Kau mengirim pesan padaku untuk menjemputmu di apartemen Ying. Jadi aku datang," kata Taufan.

"Apa? Mengirim pesan? Tapi aku tidak ..."

Yaya akhirnya menyadari siapa yang melakukan ini. Ying. Tentu saja, dia tadi berpura-pura meminjam ponselnya karena miliknya sendiri rusak. Jadi ternyata untuk ini? Yaya menahan diri untuk tidak mengumpat sahabatnya itu keras-keras.

"Ayo kita pulang, Yaya," Taufan terlihat memohon, tapi Yaya ragu-ragu.

"Pulanglah, Yaya. Kasihan suamimu sudah susah-susah menjemputmu ke sini," Ying tiba-tiba muncul di belakang Yaya, membuatnya sedikit terlonjak. "Nah, ini tasmu. Sampai bertemu lagi!"

Ying mengedipkan sebelah matanya, kemudian ia mendorong Yaya keluar dan membanting pintu menutup tepat di depan wajahnya.

"Ying!"

Yaya memandang tak percaya pintu yang tertutup di depannya. Setega itukah Ying padanya? Padahal Yaya pikir mereka bersahabat.

"Yaya ..."

Panggilan lirih Taufan membuat Yaya menoleh. Ia menatap wajah pemuda itu dan kembali merasakan sedikit tikaman rasa bersalah.

"Ayo pulang ..."

Taufan mengulurkan tangannya, dan untuk sesaat Yaya justru bertanya-tanya kenapa ia harus merasa ragu. Maka akhirnya Yaya menyambut uluran tangan itu dan berjalan mengikuti Taufan pulang.

.

.

.

"Kau sudah makan?"

Taufan bertanya setelah dua puluh menit keheningan yang canggung di dalam mobil. Yaya menggeleng pelan.

"Mau makan malam di luar?" Yaya kembali menggeleng. "Bagaimana kalau kita beli saja makanan dan makan malam di rumah?" Kali ini Yaya mengangguk. "Kau mau makan apa?"

"Terserah saja," kata Yaya singkat. Taufan terlihat lega luar biasa melihat Yaya akhirnya mengeluarkan suara.

"Bagaimana kalau pizza?" tawar Taufan.

"Jangan junk-food."

"O-ke ... Bagaimana dengan makanan China? Kau suka?"

"Boleh saja."

"Baiklah. Kita akan mampir ke restoran China kalau begitu. Ada makanan lain yang kau inginkan?" tanya Taufan. Yaya menggeleng.

Taufana tersenyum kecut. Ia ingin mencari topik baru untuk dibicarakan, tapi tahu lebih baik diam saja. Yaya masih butuh waktu, dan Taufan tak ingin lagi menambah ketegangan di antara mereka kalau ia sampai salah bicara. Maka ia melanjutkan menyetir tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun lagi.

.

.

.

Selama menyantap makan malam yang terasa seperti makan malam terpanjang dan terhening yang pernah dirasakan Taufan, ia mencoba mencari celah untuk berbicara pada Yaya. Taufan tahu ia harus meminta maaf atas perbuatannya yang melanggar janji yang dibuatnya sendiri. Tapi Taufan tak berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk memulainya. Menyedihkan betapa kemampuan berbicaranya justru tak bisa diandalkan dalam situasi seperti ini.

Karena terlalu sibuk memikirkan cara untuk meminta maaf dengan benar, Taufan bahkan tak sadar ia dan Yaya sama-sama telah berdiri di depan pintu kamar mereka. Makan malam telah berakhir begitu saja tanpa sepatah kata pun terucap di antara keduanya, dan sekarang tiba waktunya untuk tidur.

Taufan memandang pintu kamar mereka yang tertutup, sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suara. Ia berdeham sebentar untuk memastikan suaranya masih bisa digunakan setelah hampir seharian tak berbciara.

"Aku ... akan tidur di kamar tamu malam ini," kata Taufan pelan. Ia menunduk menatap kakinya, tak berani memandang Yaya. "Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menyelinap masuk ke tempatmu. Kau boleh mengunci pintu dari dalam kalau perlu."

Yaya tak mengucapkan apa-apa. Taufan mencoba mengangkat wajahnya sedikit dan melirik ke samping. Namun saat matanya bertatapan dengan Yaya, ia buru-buru kembali menunduk.

"Ka—kalau begitu aku akan pergi tidur. Selamat tidur, Yaya," ucap Taufan cepat. Sebelum Yaya sempat membalas —walau kelihatannya Yaya memang tak berniat membalas— Taufan bergegas pergi ke kamar tamu yang hanya berjarak beberapa meter dari kamar utama, kemudian menutup pintu.

Taufan berharap ia bisa terjun saja ke luar jendela apartemen mereka. Apa-apaan sikapnya itu? Kenapa ia malah melarikan diri saat dirinya seharusnya meminta maaf pada Yaya?

"Kau memang bodoh, Taufan. Mati saja sana, dasar bego," Taufan memaki dirinya sendiri seraya membenturkan kepala berulang-ulang ke tembok. "Sok bersikap playboy, tapi menghadapi istri sendiri saja kau tak bisa. Di mana kepercayaan dirimu yang setinggi langit itu, Taufan? Di mana?"

Taufan terus melakukan hal itu selama beberapa menit, mengomeli diri sendiri dan membenturkan dahi ke dinding. Setelah kepalanya terasa pusing barulah ia berhenti.

Taufan menghela napas panjang beberapa kali. Ia memandang dinding di depannya, mempertimbangkan untuk menghancurkan kepalanya sekalian di sana. Taufan menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran konyol itu. Sekali lagi ia menghembuskan napas berat. Barulah kemudian Taufan mematikan lampu dan melangkah gontai ke tempat tidur.

Taufan menghempaskan diri dengan posisi terlentang di ranjang. Ia merentangkan kedua tangan di kasur dan memandang langit-langit kamar di atasnya. Butuh beberapa detik sebelum Taufan menyadari bahwa sebelah tangannya menyentuh sesuatu —yang tadinya ia kira hanya bantal guling, tapi 'sesuatu' itu ternyata bergerak. Takut-takut Taufan menoleh ke samping dan berusaha melihat dalam kegelapan. Sepasang mata berkilat balik menatapnya.

"GYAAAAA!"

Taufan menggulingkan tubuh menjauh sebelum akhirnya jatuh terjengkang dari tempat tidur. Secepat kilat ia berlari ke arah saklar lampu dan menyalakannya. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi makhluk apapun yang tengah menunggunya. Tapi yang balik memandangnya dengan wajah datar dan tangan bersidekap adalah Yaya.

"Yaya?! Sejak kapan kau masuk kemari?" seru Taufan sedikit histeris.

"Sejak tadi," balas Yaya tenang. "Saat kau sibuk mengoceh sambil mengantukkan kepala ke dinding."

Taufan meringis. "Kenapa aku bisa tidak sadar? Kau memakai misdirection* atau apa?"

"Mis—apa?" tanya Yaya dengan kening berkerut.

"Jangan dipikirkan," Taufan melambaikan tangan cepat. Ia kembali memandang Yaya yang juga terus menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. "Daripada itu, apa yang kau lakukan di sini, Yaya? Kau harusnya tidur di kamar sebelah, kenapa malah ke sini?"

"Aku ingin bicara denganmu," kata Yaya.

"Oke, baiklah. Kita bicara di luar."

"Tidak. Di sini saja lebih nyaman."

"Yaya ..." Taufan memasang ekspresi putus asa, tapi sifat keras kepala Yaya sama sekali tak bisa digoyahkan.

"Duduklah di sini supaya kita bisa berbicara lebih dekat," pinta Yaya seraya menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya.

"Jangan mengundangku, Yaya. Kejadian seperti tadi malam bisa saja terulang lagi," ujar Taufan. Nadanya terdengar lebih dingin dari yang dimaksudkannya, tapi Taufan tak bisa mencegah dirinya untuk tidak berkata seperti itu saat mendengar permintaan Yaya.

"Baiklah. Terserah kau saja," balas Yaya ketus.

Apa ini? Kenapa malah jadi ada perang dingin di antara mereka?

Taufan dan Yaya saling berpandangan dari seberang ruangan. Beberapa kali mereka terlihat hendak mengucapkan sesuatu, tapi batal. Pada akhirnya keduanya hanya saling bertatapan dalam diam. Baru setelah sepuluh menit berlalu, mereka berdua sama-sama membuka mulut.

"Aku minta maaf."

"Aku minta maaf."

Taufan dan Yaya mengucapkan kalimat itu berbarengan. Mereka kemudian saling mengernyitkan dahi satu sama lain.

"Aku yang duluan, Yaya," kata Taufan.

"Tidak, aku yang duluan," balas Yaya tak mau kalah.

"Tapi akulah yang berbuat salah."

"Aku tahu. Tapi aku juga salah, jadi aku ingin meminta maaf duluan. Baru setelah itu kau boleh mengucapkan permintaan maafmu."

Nada mutlak yang diucapkan Yaya membuat Taufan sama sekali tak bisa membantah. Maka ia memilih untuk bungkam dan menyenderkan punggungnya di dinding sementara menunggu Yaya bicara.

Yaya berdeham pelan untuk mengusir rasa gugupnya. Barulah kemudian ia berbicara dengan pandangan lurus ke arah Taufan.

"Baiklah. Jadi ... aku sudah memikirkan semuanya saat makan malam tadi," Yaya memulai. Ia mengamati ekspresi di wajah Taufan, tapi hanya ada ekspresi datar di sana. "Aku tahu aku telah bersikap egois. Aku seharusnya tidak perlu marah padamu atas apa yang kau lakukan tadi malam."

"Soal itu, aku ..."

"Jangan memotongku, Taufan. Aku sedang bicara."

"Oke ..." Taufan mengerut takut dan kembali membungkam mulutnya rapat-rapat.

Yaya mendengus. "Jadi, sampai mana aku tadi? Oh, ya, aku seharusnya tidak perlu marah padamu. Apa yang kau lakukan itu manusiawi. Seperti yang dikatakan Ying padaku tadi, kau itu laki-laki, dan kau itu suamiku, jadi perbuatanmu itu sebenarnya sama sekali tidak salah."

Taufan meringis. Walau Yaya berkata bahwa apa yang dilakukannya itu tidak salah, tapi nada gadis itu jelas terdengar kesal —dan marah.

"Tapi, Taufan ..." Nada suara Yaya tiba-tiba menurun drastis. Ia terlihat memejamkan mata sambil meletakkan sebelah tangannya di kening. "Kau sudah berjanji akan memberiku waktu, kan?"

Kata-kata yang diucapkan dengan nada lirih itu jauh lebih menusuk Taufan daripada semua kemarahan yang diluapkan Yaya sebelumnya.

Taufan berlari dan langsung duduk bersimpuh di sebelah tempat tidur, tepat di samping Yaya.

"Yaya, maafkan aku! Aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai lupa diri seperti itu. Aku harusnya tidak mengingkari janji, aku benar-benar minta maaf, Yaya ..."

Yaya menggeleng pelan. Matanya masih terpejam, menolak untuk memandang Taufan.

"Harusnya sejak awal aku tidak menyetujui pernikahan ini ..."

"Yaya, jangan bilang begitu! Aku minta maaf, aku salah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi!"

"Aku sudah tidka percaya lagi pada janjimu ..."

"Yaya ..." Taufan mulai merengek seperti anak kecil, tapi Yaya sama sekali tidak luluh. "Aku bersedia melakukan apa pun untuk menebus kesalahanku. Kalau kau menyuruhku tidur di luar, aku akan melakukannya. Kalau kau memintaku lompat dari jendela sekali pun, akan kulakukan sekarang juga," kata Taufan sungguh-sungguh.

"Kalau begitu lompat," kata Yaya sambil menunjuk ke arah jendela.

"Kau benar-benar tega menyuruhku lompat dari lantai 13? Baiklah, aku akan melompat." Taufan benar-benar bangkit dan berjalan ke arah jendela. Yaya buru-buru bangkit dan bergegas menahan Taufan.

"Kau benar-benar mau melompat? Kau gila, ya?"

"Kau yang menyuruhku melompat, kan? Sudah kubilang aku akan melakukannya kalau kau meminta."

Taufan melepaskan diri dari Yaya dan kembali melangkah ke arah jendela. Yaya menyusulnya dan berdiri menghadangnya tepat di depan jendela dengan tangan terentang lebar.

"Oke, kita sudahi saja dramanya, ya? Bisakah kita kembali bicara serius?"

Taufan memanyunkan bibir cemberut. Namun sesaat kemudian ia mendengus tertawa.

"Oke, yang barusan itu memang terlalu over-dramatis," katanya.

"Yah, benar. Kau harus mengurangi dosis menonton dramamu, darling. Kalau tidak kita akan menghadapi hal-hal seperti ini setiap hari," kata Yaya sambil menggelengkan kepalanya.

"Tapi itu tadi menyenangkan, sweetheart. Haruskah kita mengulanginya lagi?"

"Tidak, terima kasih. Aku sedang tidak butuh drama sekarang ini."

"Benar juga. Kita tidak butuh drama, kita butuh penyelesaian."

Mereka saling bertatapan, kali ini dalam jarak kurang dari setengah meter. Keduanya sama-sama berusaha membaca pikiran satu sama lain melalui mata masing-masing.

"Jadi, setelah drama sekarang kita main tatap-tatapan?" celetuk Taufan tiba-tiba.

"Taufan ..."

"Ya, ya, maafkan aku. Aku akan mencoba serius kembali." Taufan menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali. Baru setelah itu ia kembali bersikap serius. "Baiklah, aku minta maaf. Aku minta maaf, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah kulakukan semalam. Untuk sesaat aku kehilangan kendali dan melupakan janjiku padamu. Tapi percayalah itu tak akan terjadi lagi. Aku rela memotong lidahku sendiri kalau aku sampai melanggar janji itu lagi."

"Jangan mulai mendramatisir lagi, Taufan ..." kata Yaya sambil memutar bola matanya.

"Maaf, aku tak bisa menahan diri," Taufan nyengir sedikit.

Yaya menghela napas lelah. Ia terlihat tengah menguatkan diri sebelum akhrinya berkata, "Mulai sekarang kita lupakan saja tentang janji itu."

"Eh? Apa maksudmu?"

"Maksudku ... kau tidak perlu menahan diri untukku. Lakukan apa yang kau mau. Tapi ..." Yaya menekankan kata terakhirnya dan mendelik pada Taufan yang kini tengah nyengir lebar. "Pelan-pelan saja, oke? Maksudku jangan langsung ... to the point ... yah, kau tahulah ..." Yaya ingin menyembunyikan wajahnya yang terbakar malu, tapi ia berusaha menguatkan diri. "Kita ... mulai semuanya dari awal. Ajari aku satu persatu ... semua hal yang harus kutahu, yang harus —dan akan— kita lakukan nanti ... Bisakah kau sedikit bersabar untuk itu?"

"Kau tidak perlu memaksakan diri, Yaya. Aku tidak masalah kalau kau ..."

"Ssstt ..." Yaya meletakkan satu jarinya di bibir Taufan, membungkamnya. "Ini bukan paksaan. Aku memang menginginkannya."

Yaya tiba-tiba saja mengikis jarak di antara mereka. Ia mendekatkan wajahnya pada Taufan dan memejamkan mata, namun Taufan justru melangkah mundur dengan ngeri.

"Kau mau apa, Yaya?" tanya Taufan dengan ekspresi wajah shock.

Yaya membuka kembali matanya dan memandang heran Taufan yang tiba-tiba menjauh. "Sudah kubilang aku mau belajar, kan?"

"Belajar apa?" tanya Taufan lagi, yang entah kenapa mendadak histeris.

"Belajar menjadi istri yang baik," kata Yaya seraya tersenyum lebar.

"...kau salah minum obat, ya?"

Yaya memanyunkan bibir cemberut. "Oke, jadi kalau aku menolakmu aku dianggap egois, dan sekarang saat aku berusaha menahan rasa takutku dan berusaha menerimamu agar jadi istri yang baik, aku juga salah, begitu? Ok, fine. Terserah kau saja."

Yaya melenggang pergi dengan kaki menghentak kesal. Taufan buru-buru mengejarnya untuk meminta maaf.

"Yaya, tunggu! Aku tidak bermaksud begitu! Maafkan aku, Yaya, aku memang salah. Jangan ngambek lagi, dong ..."

Taufan mengejar Yaya sampai ke kamar mereka, dan sebelum ia sempat melangkah masuk, pintu telah terbanting menutup di depan wajahnya.

"Yayaaaa!"

.

.

.

to be continued

Note :

*Misdirection : sebuah metode sulap yang mengalihkan perhatian baik mata atau pikiran penonton ke hal lain agar penonton tidak menyadari apa yang sebenarnya dilakukan pesulap (sumber : blogspot)

A/N :

Dramanya di sini absurd banget memang, tapi nggak tau kenapa aku beneran menikmati nulisnya. Kata-katanya ngalir gitu aja dan bisa langsung tertuang dalam cerita tanpa perlu dipikir lama-lama. Dan somehow itu sangat memuaskan batin ini :"D

Karena fanfic ini genrenya humor, makanya aku mencoba untuk nggak terlalu serius. Maaf kalau jadinya malah absurd.

Mudah-mudahan kalian menikmati membaca ini seperti aku menikmati nulisnya :"))

Makasih banyak yang udah menyempatkan diri membaca. Berkenan meninggalkan review?

Balasan review untuk yang nggak login :

gadis mysterious : ah, makasih banyak banyak buat semangatnya. Aku beneran terharu lho pas baca :"") Aku bakal berusaha menulis untuk kebahagiaan sendiri, tapi aku juga nggak bakal ngelupain kebahagian yang baca juga. Jadi sekali lagi terima kasih banyak buat semangat dan dukungannya X"))

Lomiashi : ...ini Sisi, bukan? /plak/ Aku nggak punya nomor ambulan gimana dong? :"D Whaee... endingnya itu indah kan~? /dzig/ MAKASIH REVIEW DAN SEMANGATNYA~~

nao tomori : ahaha Yaya sabar kok, tenang aja. Ehehe makasih~ Makasih reviewnya~ Ini udah update kilat kan?

VinuraOsake : Ah, makasih banyak buat doanya~ Makasih juga udah menyempatkan diri membaca dan memberi review~

Almond37 : ahaha, Taufan suka ngeles sih buat nyelamatin diri /plak/ Makasih review dan semangatnya~

Sampai jumpa di chapter berikutnya~