Taufan melirik takut-takut dari balik koran yang tengah (pura-pura) dibacanya. Yaya sedang menyusun piring-piring untuk sarapan dengan wajah cemberut tanpa sekali pun memandang atau berbicara pada Taufan. Setelah semuanya siap, ia menghempaskan diri dengan kasar di kursi dan mulai makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Taufan berdeham pelan, kemudian meraih cangkir kopinya seraya melirik Yaya yang masih menolak untuk memandangnya.

"Jadi, hari ini kau pergi ke kampus?" tanya Taufan.

"Hari ini sabtu. Libur," balas Yaya singkat.

"O-ke ..."

Taufan menyesap kopinya perlahan dan langsung menyemburkannya kembali. Ia terbatuk-batuk sambil meraba-raba mencari tissu untuk mengelap tumpahan kopinya.

"Yaya, kopinya kok asin?!" jerit Taufan.

"Karena perasaanku sedang penuh garam," jawab Yaya cuek. Ia melanjutkan menyantap nasi gorengnya dengan tenang tanpa memandang Taufan.

"'Garam'?" Taufan masih sedikit terbatuk-batuk dan mengusap kopi di mulutnya. "Ya ampun, sweetheart, kau masih ngambek soal yang tadi malam?"

"Aku tidak ngambek, kok."

"Terus apa kalau bukan ngambek?"

Yaya tidak menjawab dan memilih untuk meneguk susunya. Ia lalu memandang Taufan dengan tatapan mautnya. "Habiskan kopi itu," perintahnya.

"Kalau aku habiskan, apa kau mau memaafkanku?" tanya Taufan penuh harap.

"Mungkin," Yaya mengangkat bahunya tak acuh.

"Baiklah kalau begitu," ucap Taufan pasrah. Ia menahan napas dan menghabiskan kopi di cangkirnya dalam sekali tegukan. Rasa asin yang memenuhi setiap jengkal indra pengecapnya, membuat Taufan sampai harus memejamkan mata dan menahan diri untuk tidak muntah.

Segelas air putih disodorkan padanya. Taufan mengangkat kepala dan melihat Yaya tengah menatapnya dengan sedikit cemas.

"Apa kopinya terlalu asin?"

"Tidak, kok. Itu sama sekali bukan apa-apa dibandingkan perasaan sakit hatimu karena kata-kataku tadi malam, 'kan?," Taufan mencoba menebarkan pesonanya untuk meluluhkan hati Yaya, namun gagal karena ekspresi wajahnya yang tak henti meringis.

Ia lalu buru-buru menyambar air putih yang diberikan Yaya dan meminumnya sampai habis. Mata Taufan melotot saat lagi-lagi ia harus menyemburkan air di mulutnya.

"YAYA, KOK AIRNYA JUGA ASIN?!"

Yaya hanya mengangkat bahu dan kembali menyantap sarapannya sambil bersenandung riang.

.

.

.

"Get Married"

Chapter 8 : Ngambek

A BoBoiBoy fanfiction by Fanlady

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta

Warnings : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah, rate T+, yang di bawah 15 tahun atau yang merasa pikirannya masih polos, tolong jangan baca

.

.

.

Yaya menutup tas tangannya dan memandang pantulan dirinya di depan cermin. Setelah memastikan penampilannya sudah cukup, ia melangkah meninggalkan kamar. Taufan yang sedang menonton TV di ruang tengah memandang Yaya heran.

"Mau ke mana, Ya? Kok sudah rapi? Katanya hari ini tidak ada kuliah?"

"Aku mau pulang ke rumah orangtuaku," kata Yaya.

"Yaya!" Taufan bergegas bangkit dari sofa dan bersimpuh di depan Yaya. "Yaya, aku 'kan sudah minta maaf sejuta kali! Aku bahkan sudah menghabiskan kopi asin buatanmu! Kau masih belum mau memaafkanku? Kau mau meninggalkanku sendiri?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Kau baru minta maaf 49 kali, belum sampai sejuta," balas Yaya datar.

"Jadi berapa kali lagi aku harus minta maaf supaya kau mau memaafkanku?"

"Sampai sejuta kali."

"Yayaaa ..."

Yaya menghela napas pelan. "Aku cuma mau mengambil mobilku di rumah," ujarnya.

"Eh, buat apa? Kita 'kan masih punya satu mobil di sini."

"Ya, tapi mulai minggu depan kau sudah mulai bekerja. Aku tidak bisa memintamu mengantarku ke sana-kemari terus, jadi aku akan mulai menyetir sendiri juga."

"Eh, aku tidak masalah, kok, kalau harus mengantar atau menjemputmu setiap hari."

"Tapi kau 'kan harus bekerja, Taufan ..."

"Iya juga, sih ..."

"Jadi, kau mau mengantarku ke rumah orangtuaku, atau aku harus pergi sendiri naik taksi?" Yaya menyilangkan lengan di depan dada dan menatap Taufan dengan alis terangkat.

"Oh, oke, oke, aku akan mengantarmu," kata Taufan buru-buru. "Tunggu sebentar, ya, sweetheart. Aku mau siap-siap dulu."

Yaya mengangguk. Ia diam-diam tersenyum kecil saat Taufan bergegas lari ke kamar untuk bersiap-siap.

.

.

.

Bel di depan pintu dibunyikan beberapa kali, kemudian Yaya dan Taufan menunggu dalam diam sampai daun pintu menguak terbuka dan sosok ibu Yaya muncul.

"Yaya!" Wajah sang ibu langsung berseri saat melihat putrinya. "Akhirnya kau datang juga! Mami pikir kau sudah lupa jalan pulang ke rumah," katanya gembira.

"Maaf baru sempat datang berkunjung, mami," kata Yaya merasa sedikit bersalah.

"Ah, tidak apa," ibu Yaya melambaikan tangan santai. Ia kemudian berpaling pada Taufan yang tersenyum lebar dan langsung menyalami tangan sang ibu mertua. "Mami maklum, kok. Namanya juga pengantin baru, pasti sibuk, 'kan?" ucap ibu Yaya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Taufan terbatuk-batuk, dan Yaya buru-buru menyikutnya. Ia hanya meringis sementara sang ibu terus tersenyum lebar.

"Ayo, masuk, kalian berdua," ibu Yaya membukakan pintu lebih lebar agar keduanya bisa masuk.

"Kami cuma mampir sebentar, mi. Yaya mau ambil mobil, soalnya mulai minggu depan Taufan mulai bekerja, jadi tidak bisa mengantar Yaya lagi," jelas Yaya.

"Ah, benar juga. Kamu akan bekerja di kantor papi, 'kan, Taufan? Bagaimana persiapannya?" tanya ibu Yaya.

"Eh, Taufan belum mempersiapkan apa-apa sebenarnya ..." jawab Taufan seraya menggaruk pipinya malu.

"Tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan, dibawa santai saja."

Taufan hanya mengangguk-angguk. Mereka tiba di ruang tamu dan dipersilakan duduk oleh ibu Yaya yang kelihatan benar-benar gembira mendapat kunjungan dari menantu dan juga putrinya.

"Kalian sudah makan? Mau mami buatkan sesuatu?"

"Tidak usah, mi. Kami baru saja sarapan tadi," kata Yaya.

"Kalau begitu mami buatkan minum saja, ya? Sama kue sekalian, bagaimana?"

"Mami, Yaya 'kan bukan tamu. Buat apa dibawakan kue dan minum segala."

"Tapi Taufan 'kan baru pertama kali berkunjung ke sini, jadi kita harus menyambutnya, 'kan?"

"Eh, tidak usah repot-repot, mi. Taufan tidak apa-apa, kok," kata Taufan merasa sedikit tidak enak.

"Sama sekali tidak repot, kok. Kamu mau minum apa? Kopi?"

"Jangan kopi," kata Taufan, menggeleng cepat. Ekspresi wajahnya horor saat mengingat kopi buatan Yaya tadi pagi.

"Kalau begitu jus saja, ya?" kata ibu Yaya. Taufan mengangguk.

Setelah ibu Yaya pergi untuk membuatkan minuman, Taufan menghempaskan diri ke sofa dan mengamati sekelilingnya dengan penuh minat.

"Rumahmu nyaman, ya," komentarnya.

"Yah, begitulah. Walau tidak sebesar rumahmu, sih," balas Yaya.

"Apa hubungannya dengan ukuran? Lagipula buat apa rumah besar kalau di dalamnya selalu sepi tanpa penghuni," kata Taufan sambil lalu.

Yaya melihat ekspresi lain di wajah Taufan, dan baru hendak bertanya saat Taufan kembali berbicara.

"Ngomong-ngomong, ke mana papi dan adikmu? Kau punya adik laki-laki, 'kan?"

Yaya ikut menoleh ke seisi rumah seolah baru menyadari ketidakhadiran dua penghuni rumahnya yang lain.

"Totoitoy mungkin pergi latihan bola, atau apa. Biasanya kalau hari libur begitu, sih. Kalau papi ... entahlah. Biasanya papi selalu ada di rumah kalau libur," ujar Yaya.

"Oh, begitu ..."

Sementara Taufan kembali mengamati seisi rumahnya dengan penuh minta, Yaya hanya berdiri canggung di sana tak tahu harus berkata apa. Kemudian ia ingat ada beberapa barang yang ingin diambilnya dari kamarnya.

"Umm, aku mau mengambil beberapa barangku di kamar. Kau tunggu di sini sebentar, ya?"

"Aku boleh ikut?" pinta Taufan penuh harap.

"Tidak. Kau tunggu di sini saja," kata Yaya cemberut.

Taufan memanyunkan bibirnya. "Aku tidak akan melakukan apa-apa, kok."

"Tentu saja kau tidak boleh melakukan apa-apa. Kita sedang di rumah orangtuaku!" ujar Yaya memperingatkan. Ia berbicara dengan suara rendah dan melirik ke belakang untuk memastikan sang ibu tidak mendengar mereka.

"Berarti kalau kita pulang nanti boleh, 'kan?" goda Taufan. Ia kemudian harus menghindar saat Yaya melemparkan bantal sofa padanya.

Gadis itu kemudian melangkah pergi dengan menghentakkan kakinya, sementara Taufan tertawa tanpa suara memandang punggunya yang menjauh.

.

.

.

Yaya memasukkan beberapa kamus tebal dan juga novel ke dalam kotak di atas tempat tidurnya. Ia mengambil beberapa barang lagi dari meja belajarnya dan menambahkannya dalam tumpukan yang sudah hampir penuh di kotak. Setelah itu Yaya membongkar lemari pakaiannya dan memasukkan baju-bajunya yang masih bisa dipakai ke dalam kotak lain, dan baju-baju yang sudah tak terpakai dimasukkan ke dalam kotak terpisah.

Setelah selesai, Yaya menghempaskan diri di tempat tidur dan memandangi kamarnya yang kini nyaris kosong melompong. Tak ada lagi tumpukan buku dan kamus yang tersusun rapi di atas meja, dan lemarinya sudah benar-benar kosong. Ia tetap menyisakan bingkai-bingkai foto yang terpajang rapi di dinding bercat merah muda, walau beberapa di antaranya juga telah dikemasnya untuk dibawa ke apartemennya.

Yaya merasakan nostalgia sementara ia menatap kamar yang telah ditempatinya sejak umur lima tahun. Ia belum sempat mengucapkan perpisahan dengan kamar ini sejak hari pernikahannya, karena saat itu ia bahkan belum tahu akan langsung pindah ke rumah baru. Walau Yaya pasti tetap akan sering mampir ke sini, namun tetap saja, ia tak akan bisa menghabiskan setiap harinya di kamar ini lagi. Dan Yaya tahu ia akan sangat merindukannya.

"Ah, ternyata begini tampilan kamar seorang Yaya Yah."

Sebuah suara menyentak Yaya dari lamunannya. Ia segera menoleh dan melihat Taufan berdiri dengan bahu bersender di pintu kamarnya.

"Sedang apa kau di sini? Sudah kubilang kau tidak boleh masuk," kata Yaya. Ia hendak mengusir Taufan keluar, namun suaminya itu justru melangkah masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya.

"Mami bilang aku boleh menyusulmu ke sini. Siapa tahu ada yang bisa kubantu, 'kan," ujar Taufan, mengangkat bahu.

"Kalau begitu tolong bawa kotak-kotak ini ke bawah," kata Yaya. Ia menunjuk tiga kotak yang terkemas rapi di atas tempat tidurnya.

"Oke."

Taufan mengangkat kotak berisi buku-buku tebal yang super berat, sementara Yaya mengangkut kotak berisi pakaian yang lebih ringan. Mereka turun ke lantai bawah dan membawa kotak-kotak itu ke mobil Taufan. Yaya lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil kotak terakhir, dan Taufan masih betah mengekorinya di belakang.

"Kau tunggu di bawah saja, Taufan. Tinggal satu kotak lagi, aku bisa membawanya sendiri," kata Yaya.

"Tidak, tidak, tidak. Biar aku saja yang bawa, tidak masalah, kok," balas Taufan kalem. Ia mendahului Yaya masuk ke kamarnya dan menghempaskan diri di kasur berbalut seprai merah jambu.

"Sedang apa kau?" Yaya meletakkan tangan di pinggang dan menatap Taufan yang kini berbaring telentang di tempat tidurnya.

"Aku mau istirahat sebentar, tidak boleh? Kotak yang tadi kubawa itu berat, lho," kata Taufan.

Yaya memutar bola matanya. "Ya, terserah kau saja," ucapnya.

Ia mengambil kotak terakhir di sebelah Taufan dan hendak membawanya turun, namun ia tersandung karpet dan terhuyung. Barang-barang di dalam kotak yang telah disusunnya rapi jatuh berhamburan tepat di atas tubuh Taufan yang masih berbaring di tempat tidur, begitu pun dengan Yaya yang mendarat tepat di dada Taufan.

"Jadi sekarang kau memang lebih suka menyerang duluan secara agresif, ya?" kata Taufan dari balik tumpukan majalah yang menutupi wajahnya. Ia menyingkirkan sebuah majalah fashion yang menghalangi pandangannya dan menatap Yaya yang tengah mengaduh kesakitan di atasnya.

Yaya yang baru menyadari posisinya membelalak dan bangkit dengan terburu-buru. Tapi ia lagi-lagi tersandung dan jatuh, kali ini dengan dahi terantuk keras pada dagu Taufan.

"Aw, Yaya, sakit ..." Taufan mengelus dagunya dan meraba rahang bawahnya yang ngilu. Ia sedikit khawatir ada salah satu giginya yang copot karena terantuk kepala Yaya.

"Ma-maaf, maaf, aku tidak sengaja," kata Yaya panik. Ia mendongak ke atas dan ikut memeriksa dagu Taufan. "Tidak sampai benjol, 'kan? Apa ada gigimu yang copot?"

"Tidak, sih. Tapi ngilu ..."

"Duh, sini aku tiupin biar ngilunya hilang."

Taufan terkikik geli. "Memangnya aku anak kecil? Masa' sakitnya bisa hilang cuma ditiupin begitu."

"Eh ... tapi kalau sama anak-anak memang manjur, kok. Mereka langsung berhenti menangis kalau ditiup begitu, 'kan ..."

"Iya, sih. Tapi aku 'kan bukan anak-anak, sweetheart."

"Tapi kau bersikap seperti anak-anak terus, darling."

"Aww, aku suka sekali saat kau memanggilku 'darling' seperti itu."

Yaya menyentil dahi Taufan, membuat suaminya itu kembali mengaduh pelan. "Sudah, ah. Ayo kita turun ke bawah. Nanti mami bisa mikir macam-macam kalau kita kelamaan di sini," ujarnya.

"Oh, ya? Mikir macam-macam seperti apa?" goda Taufan.

Yaya mendengus. Ia mendorong dirinya bangun dengan menggunakan dada Taufan sebagai penahan. Saat itu pintu kamarnya menjeblak terbuka, dan sosok adik Yaya muncul masih dengan menggunakan jersey bola dan sepatu berlumuran lumpur.

"Kak Yaya! Kak Yaya sudah pulang, ya ..."

Mata Totoitoy melebar melihat posisi Yaya yang masih menindih Taufan di atas tempat tidurnya. Ia melangkah mundur dengan ekspresi horor, kemudian langsung berlari pergi sambil berteriak histeris.

"Mamiiiiiiii!"

"Totoitoy, tunggu! ini tidak seperti yang kau pikirkan!"

.

.

.

Yaya melangkah keluar dari lift dengan wajah tertekuk. Ia memeluk kotak berisi barang-barang yang dibawa dari rumah orangtuanya dan melangkah ke apartemennya dan Taufan dengan lesu.

"Kau kenapa, sweetheart? Masih memikirkan yang tadi?" tanya Taufan. Ia berusaha mengintip wajah Yaya dari balik dua tumpukan kotak yang dibawanya sekaligus.

"Jangan diingatkan lagi, Taufan. Rasanya aku malu sekali kalau mengingatnya," gumam Yaya. Ia membenamkan wajah di kotak yang dipegangnya dan bergumam tak jelas.

"Kenapa harus malu, sih?

Yaya mendelik pada suaminya. "Tentu saja harus malu! Totoitoy dan mami jadi salah paham pada kita, 'kan," gerutunya.

"Tapi kita tidak melakukan hal aneh, 'kan? Dan kau juga sudah menjelaskan pada mereka kalau itu cuma kecelakaan kecil. Jadi, buat apa dipermasalahkan lagi?" ujar Taufan santai.

"Tapi tetap saja aku malu ..." gumam Yaya kecil. "Pasti Totoitoy sekarang berpikir aku ini kakak yang mesum. Dia juga menghindariku terus saat kita di sana tadi."

Taufan tertawa geli mendengar ucapan Yaya. "Sudahlah, lain kali kau harus bicara lagi dengannya supaya dia tidak salah paham terus. Bagaimana kalau besok kita ke sana lagi? Besok 'kan hari Minggu," usulnya.

Yaya mengangguk. Mereka tiba di depan pintu apartemen, dan Yaya menekan sederetan nomor password kemudian membukakan pintu agar Taufan yang membawa bawaan lebih banyak bisa masuk.

"Aku harus membawa barang-barang ini ke mana?" tanya Taufan.

"Letakkan di kamar saja. Aku akan membereskannya nanti," sahut Yaya.

"Oke." Taufan melangkah ke arah kamar, namun sesaat kemudian ia kembali berbalik. "Ngomong-ngomong, Yaya, kita sudah baikan, 'kan?" ucapnya dengan ekspresi memelas.

"Eh, baikan?" Yaya mengernyitkan dahi bingung. Ia lalu mengangguk paham. "Oh, benar juga kita sedang marahan ..."

"Jadi, kau sudah memaafkanku?" tanya Taufan penuh harap.

"Belum," balas Yaya cemberut.

"Eehh ... kenapa?"

"Kau mempermalukanku di depan Totoitoy tadi."

"Ya ampun, Yaya, itu 'kan bukan salahku! Kau sendiri yang jatuh dan menindihku, 'kan?"

"Tapi salahmu juga karena tidur di situ. Harusnya kau 'kan membantuku beres-beres, bukannya tidur!"

Taufan mendesah putus asa, tak tahu lagi harus berkata apa. "Ya sudah kalau kau memang berpikir begitu. Aku bisa bilang apa lagi ..."

Yaya memandang Taufan yang melangkah ke kamar dengan lesu dan menahan diri untuk tidak tertawa. Ternyata menyenangkan juga menggoda suaminya seperti ini. Mungkin tidak apa-apa kalau ia berpura-pura masih ngambek dulu untuk sementara. Biar Taufan juga tahu rasa dan tidak menggodanya terus.

Yaya lalu meletakkan kotak yang dibawanya di sofa dan berjalan ke dapur untuk membuatkan makan malam.

.

.

.

"Taufan, makan malamnya sudah siap."

Taufan menoleh dan melihat Yaya sudah menunggunya di meja makan. Ia kemudian mematikan televisi dan berjalan ke arah dapur.

"Masak apa hari ini, sweetheart?" tanyanya dengan nada ceria, berusaha meluluhkan hati Yaya yang masih terus bersikap ngambek padanya.

"Jangan banyak tanya. Makan saja," balas Yaya ketus.

"Galak amat, sih. Aku 'kan cuma bertanya," kata Taufan sambil memanyunkan bibir. Ia mengambil sendok dan menarik semangkuk sup yang dihidangkan Yaya untuknya.

Taufan berhenti menyantap supnya setelah sendok ketiga. Ia mendongak dan menatap Yaya yang juga tengah menghabiskan supnya dalam diam.

"A-anu, Yaya ..." ucap Taufan takut-takut.

"Jangan bicara saat sedang makan, Taufan," kata Yaya datar.

"Tapi ..."

"Habiskan dulu makananmu, baru bicara."

"O-oke ..."

Taufan menarik napas panjang, lalu kembali menghabiskan supnya seolah tak terjadi apa-apa. Tapi saat mangkuknya akhirnya kosong, Taufan sudah tergeletak di meja makan dengan napas tersengal.

"Taufan, ada apa?"

Yaya yang baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres bergegas menghampiri Taufan. Ia mengecek keadaan Taufan dan menyadari suaminya itu berkeringat banyak sekali.

"Ya-Yaya, apa kau memasukkan sesuatu dalam supnya?" tanya Taufan terengah.

"A-aku tidak memasukkan yang aneh-aneh, kok. Sungguh!" Yaya membalas panik. Ia berlari untuk mengambilkan segelas air untuk Taufan, lalu segera kembali dan membantu Taufan meminumnya.

"Bukan yang aneh-aneh ... Tapi, apa kau ... memasukkan sesuatu yang lain dari biasanya?"

Yaya mencoba berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Umm, ya. Aku memasukkan bumbu seafood yang diberikan mami sebelum kita pulang tadi," katanya.

Taufan tertawa gemetar. "Aku ... alergi ... seafood, Yaya ..."

"Apa?" Yaya membelalak kaget. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"

"Kau ... melarangku ... bicara ... ingat?"

"Ta-tapi, 'kan ..." Yaya terlihat makin panik dan tak tahu harus melakukan apa. Ia melirik lengan Taufan dan menyadari ruam-ruam merah yang muncul di sana, yang kini juga mulai menjalar ke wajahnya. "A-aku akan mencarikan obat di ... tidak, lebih baik kita langsung ke rumah sakit, ayo."

Taufan sudah mulai sesak napas saat Yaya memapahnya pergi. Yaya berulang kali memberitahu Taufan agar tetap bertahan dengan suara bergetar menahan tangis. Ia membantu Taufan naik ke mobilnya, kemudian ia sendiri duduk di kursi pengemudi. Setelah itu, tanpa menunggu lama lagi, Yaya langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit.

.

.

.

to be continued

A/N :

Maaf lagi karena update-nya lama. Jujur sih, aku mulai susah nulis romance akhir-akhir ini. Lagi suka main-main(?) di genre friendship sama family sih, jadinya ngestuck di genre ini. Padahal udah nonton drama korea biar dapat ide, tapi tetap aja ngeblank.

Umm, scene Taufan alergi seafood itu sebenarnya juga aku ambil dari drama taiwan yang ditonton adikku (aku udah pernah nonton sih, jadi cuma ngelirik sekilas aja /plak).

Tadinya mau bikin Taufan kecelakaan (nggak parah, kok, tenang aja) tapi akhirnya milih scene kayak gini aja. Maaf kalau jadinya terlalu drama :"D

Makasih yang udah menyempatkan diri membaca! Jangan lupa review, siapa tau aku bisa update kilat kalau semangat ngeliat reviewnya :"D

Sampai jumpa di chapter depan~!

p.s. oh iya, aku pengen tau yang baca ff ini umurnya berapa aja. Kalau boleh, silakan tulis umur kalian di kotak review, tapi harus jujur lho ya. Makasih~