"Get Married"
Chapter 9 : Something to Lose
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warnings : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah.
.
.
.
Yaya duduk seorang diri di ruang tunggu rumah sakit dengan wajah tertutup oleh kedua tangannya yang gemetar. Isakannya tak lagi terdengar, meski beberapa saat yang lalu ia sempat histeris saat Taufan dibawa masuk ke Ruang Gawat Darurat untuk ditangani oleh dokter. Suaminya itu jatuh tak sadarkan diri tepat saat mereka tiba di rumah sakit. Hal itu tentu membuat Yaya panik setengah mati, namun syukurlah setelah penanganan dari dokter keadaannya kini sudah lebih baik. Meski hingga saat ini Taufan masih belum sadarkan diri.
Derap langkah cepat di koridor membuat Yaya mendongak. Ia melihat Ying berlari menghampirinya dengan wajah cemas. Gadis itu mengenakan mantel panjang di atas baju tidurnya, dan rambut hitamnya yang biasa terkuncir dua kini tergerai dengan hanya ditutupi oleh topi rajutan biru kesayangannya.
"Yaya!"
Ying tiba di depan Yaya dan sedikit membungkuk kehabisan napas. Gadis berkacamata itu menghempaskan diri di kursi di sebelah Yaya dan menarik napas panjang untuk memasok kembali oksigen ke dalam paru-parunya.
"Apa yang terjadi pada Taufan?" tanya Ying segera setelah ia tak lagi terengah.
"Ta-Taufan ..." Suara Yaya terdengar bergetar, dan ia harus berusaha keras mengendalikan diri agar bisa berbicara dengan benar. "Dokter bilang Taufan mengalami anafilaksis, reaksi alergi parah, setelah memakan sup seafood. Aku—aku tidak tahu kalau Taufan punya alergi pada seafood, Ying ..."
Mata Yaya kembali memanas, dan sebelum sempat dicegah, bulir bening kembali mengalir di kedua pipinya. Ia menutup mulut dengan tangan untuk meredam isakannya.
"Hei, tidak apa-apa ... Itu bukan salahmu," ucap Ying menghibur. Ia memeluk sahabatnya itu dan menepuk-nepuk punggung Yaya pelan.
"Dokter bilang ... kalau Taufan tak segera dibawa ke rumah sakit keadaannya bisa benar-benar gawat ..." Yaya terisak dengan tubuh gemetar di bahu Ying. "Aku tadi takut sekali ... kupikir aku sudah membunuh suamiku sendiri ..."
"Bagaimana keadaan Taufan sekarang?" tanya Ying pelan. Ia masih membelai punggung Yaya lembut untuk menenangkan gadis itu.
"Taufan masih belum sadar ... tapi kata dokter dia akan baik-baik saja ..."
"Syukurlah kalau begitu ..." Ying mendesah lega. "Aku kaget sekali saat mendapat telepon darimu tadi. Apalagi kau menelepon sambil menangis. Jujur saja, aku tidak mengerti sebagian besar yang kau katakan di telepon tadi, jadi aku bergegas ke sini karena khawatir."
Yaya menarik diri dari Ying dan mengusap air matanya. "Maaf aku jadi merepotkanmu malam-malam begini," ucapnya merasa tidak enak.
"Tidak, tidak apa-apa, kok. Aku sama sekali tidak merasa repot, cuma sedikit panik saja tadi," ujar Ying. "Kau sudah menghubungi keluargamu?" tanyanya kemudian.
"Belum," Yaya menggeleng kecil. "Aku tidak ingin membuat mami khawatir. Kau tau mami seperti apa kalau sudah panik."
"Benar juga, sih," Ying mengangguk-angguk. "Bagaimana dengan orangtua Taufan? Kau sudah menghubungi mereka?"
Yaya menggigit bibirnya dan kembali menggeleng. "Aku—aku tidak berani menghubungi mereka ... Aku takut mereka akan menganggapku tidak becus mengurus Taufan."
"Mereka tidak akan bilang begitu. Bukan salahmu kalau kau tidak tahu Taufan punya alergi seperti itu."
"Tapi ..." Yaya menundukkan kepala saat perasaan bersalah kembali menderanya. Tentu saja ini salahnya. Taufan tadi hendak memberitahunya tentang alergi itu, namun Yaya malah bersikap ketus dan membuat Taufan mau tak mau terpaksa menghabiskan semangkuk sup itu, hingga ia kahirnya berakhir seperti ini.
"Sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi." Ying menepuk bahu Yaya untuk menghiburnya. "Yang penting sekarang Taufan baik-baik saja. Kau tidak menemuinya? Mungkin Taufan sudah sadar," saran Ying.
"Aku takut ..." gumam Yaya sembari memainkan jarinya gelisah. "Bagaimana kalau dia jadi membenciku?"
"Taufan tak mungkin membencimu, Yaya, percayalah," kata Ying meyakinkan. Ia lalu mendorong punggung Yaya pelan. "Pergilah, coba lihat apa Taufan memang sudah bangun. Aku akan menunggu di sini."
Yaya terlihat ragu selama beberapa saat, namun akhirnya mengangguk juga. Ia menguatkan diri untuk bangkit dan melangkah kembali ke ruangan tempat Taufan dirawat. Yaya melirik sedikit ke balik punggungnya, dan Ying mengangguk menyemangati. Gadis berkerudung itu menarik napas panjang, lalu memberanikan diri mendorong pintu kaca itu dan melangkah masuk.
.
.
.
Taufan duduk bersender dengan beralaskan bantal di balik punggungnya. Kepalanya ditolehkan ke sana-kemari, mencari keberadaan seseorang di antara para perawat yang berlalu-lalang. Sampai suara tirai yang disibak membuatnya menoleh. Senyum lebar langsung tersungging di wajah Taufan saat melihat gadis berkeruung merah muda yang sedari tadi dicari-carinya.
"Oh, Yaya, kau dari mana saja? Kupikir kau sudah pulang dan meninggalkanku sendirian di sini," canda Taufan. "Ngomong-ngomong, apa kau sendiri yang membopongku ke sini? Karena seingatku tadi aku pingsan sebelum kita turun dari mobil," lanjutnya, masih dengan nada bercanda.
Taufan langsung meringis begitu menyadari ekspresi wajah Yaya. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca, sementara kedua tangannya terangkat untuk menekap mulut yang kini mengeluarkan suara isakan teredam.
"Duh, jangan nangis, dong, sweetheart. Aku cuma bercanda," ucap Taufan panik. Ia menggeser posisi duduknya di tepi ranjang dan merentangkan kedua tangan lebar. "Ayo, sini, sini, jangan nangis. Aku sudah tidak apa-apa."
Taufan sedikit terkejut saat Yaya benar-benar menghambur ke pelukannya. Gadis itu terisak keras dalam dekapannya, membuat beberapa perawat yang lewat menoleh ingin tahu.
"Ma-maafkan aku ... aku benar-benar tidak bermaksud ..." Tangis Yaya semakin keras, dan Taufan buru-buru mendekapnya makin erat untuk meredam suara tangisannya.
"Sssh, sweetheart, jangan nangis keras-keras di sini, nggak enak sama yang lain," bisik Taufan panik. Ia meringis minta maaf saat beberapa perawat hendak menghampiri karena ingin tahu. Mereka hanya mengangguk memaklumi sebelum kembali melangkah pergi untuk memberi sedikit privasi.
"Tau-fan ... sesak ..." Yaya memukul-mukul dada Taufan, kehabisan napas. Taufan buru-buru melepas pelukannya seraya nyengir lebar.
"Maaf, maaf, habis kau menangis terlalu keras, sweetheart. Orang-orang sampai ngeliatin, tuh," Taufan mengangguk ke arah beberapa orang yang mencuri pandang ke arah mereka, membuat Yaya menunduk malu dengan wajah memerah. "Kalau kau masih menangis terus, nanti aku cium, lho."
Yaya mendelik tajam pada Taufan, memasang ekspresi 'kau sudah bosan hidup, ya?'. Taufan terkekeh pelan dan mengusap lembut puncak kepala Yaya yang tertutup kerudung.
"Nah, kalau begini 'kan lebih bagus. Aku lebih suka melihatmu marah-marah daripada menangis, sweetheart," ujar Taufan, tersenyum tipis.
"Maaf ..." gumam Yaya, tertunduk. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sebelah tangan Taufan yang terpasang jarum infus. "Aku benar-benar menyesal ... soal sup seafood itu ..."
"Sudah kubilang tidak apa-apa, Yaya. Itu bukan salahmu. Harusnya aku bilang sejak awal kalau aku punya alergi makanan semacam itu," kata Taufan lembut. Ia kembali mengelus kepala Yaya untuk menenangkan gadis itu. "Jadi tak perlu merasa bersalah lagi, oke?"
"Tapi ... ini tetap salahku. Kau sampai masuk rumah sakit seperti ini, dan ..." Suara Yaya tercekat, berusaha menahan diri agar tidak menangis lagi.
"Tidak apa. Aku sudah sering bolak-balik masuk rumah sakit, Yaya, percayalah. Dan aku pernah mengalami yang jauh lebih buruk dari ini."
Yaya mengangkat kepalanya dan memandang Taufan dengan kedua mata melebar. "Apa? Kau sering bolak-balik masuk rumah sakit? Kenapa?"
Taufan meringis, sadari ia baru saja salah bicara. "Um, bukan masalah besar, tidak perlu dipikirkan," ucapnya buru-buru.
"Tapi ..."
"Ssst, tak perlu membahas ini lagi, oke? Sekarang lebih baik kita pulang, ayo." Taufan bangkit dan bersiap mencabit infus yang menancap di pergelangan tangannya, namun Yaya segera menahannya.
"Tunggu, tunggu. Dokter belum bilang kalau kau boleh pulang!" kata Yaya cemas.
"Aku benar-benar sudah tidak apa-apa. Dokter pasti akan mengizinkanku pulang," kata Taufan. Yaya memandangnya ragu dan melirik ke arah meja resepsionis tempat para perawat dan dokter berkumpul. "Ayolah, sweetheart. Aku tidak mau tidur di tempat yang penuh bau obat seperti ini," lanjut Taufan dengan wajah memelas.
"Kau—kau yakin sudah tidak apa-apa? Masih mual? Pusing? Sesak napas?" Yaya bertanya khawatir. Ia mengecek suhu tubuh Taufan yang emang sudah kembali normal. Pemuda itu juga sudah tidak lagi berkeringat dan wajahnya tidak sepucat tadi. Tapi ruam-ruam merah, efek dari alerginya, masih belum sepenuhnya menghilang.
"Tidak, aku baik-baik saja. Sungguh," kata Taufan meyakinan.
"Baiklah. Aku akan coba bertanya pada dokter," ucap Yaya akhirnya. Ia bangkit dari duduknya dan membungkuk untuk mengecup pipi Taufan sekilas. "Tunggu di sini sebentar, ya."
"Oke." Taufan mengangguk dan tersenyum lebar. Barulah saat Yaya telah berjalan menjauh, Taufan mengerang pelan dan menghempaskan diri kembali ke ranjang seraya memegangi perutnya yang kembali terasa mual.
.
.
.
Yaya menekan sederetan kombinasi angka password untuk masuk ke apartemennya dan menunggu hingga terdengar suara klik pelan sebelum akhirnya membuka pintu. Ia membantu Taufan berjalan masuk melewati pintu dengan memapahnya, sementara Taufan hanya bisa memutar bola matanya.
"Astaga, Yaya. Kau tak perlu memapahku terus-terusan begini. Aku sudah bisa berjalan sendiri, lihat?" Taufan melepaskan rangkulan Yaya darinya dan berjalan berjingkat-jingkat beberaa langkah ke depan, kemudian menambahkan sedikit gerakan memutar yang malah membuat kepalanya kembali pusing. "Lihat, aku bahkan sudah bisa berputar-putar," katanya seraya memijat pelipisnya pelan.
Yaya menghampiri Taufan dan tanpa mengucapkan apapun kembali mengalungkan lengan sang suami di pundaknya, lalu menyeretnya ke sofa.
"Kau baru sembuh dan pulang dari rumah sakit, Taufan. Jangan bertingkah macam-macam," ucap Yaya tajam.
"Yes, ma'am," Taufan mengerut takut di bawah tatapan tajam sang istri.
Yaya menghela napas panjang dan menghempaskan diri di sofa di sebelah Taufan. "Dasar. Semalam juga berpura-pura kuat, dan langsung minta pulang, tapi malah muntah-muntah lagi sampai sesak napas," katanya, sedikit mendelik pada Taufan yang hanya bisa menggaruk pipi malu.
"Yah ... sudah kubilang aku tidak suka bermalam di rumah sakit ..." gumam Taufan takut-takut.
"Walau dokter bilang kondisimu sudah membaik dan boleh pulang pagi ini, tapi aku tetap khawatir. Jadi jangan terus membuatku merasa semakin bersaah, Taufan. Kau tidak tahu betapa kalutnya aku sejak semalam ..." Yaya mendesah pelan dengan wajah tertunduk muram.
Taufan terdiam. Ia tidak bermaksud membuat istrinya itu sedih lagi, dan justru Taufan hanya ingin membuat Yaya kembali ceria dengan sedikit candaannya. Tapi mungkin suasana hati Yaya sedang tidak bisa diajak kompromi.
"Maaf sudah membuatmu khawatir ..." Taufan mengelus lembut pipi Yaya, memaksa gadis itu mendongak menatapnya. "Kau tidak perlu cemas lagi. Aku pasti akan baik-baik saja," ujarnya lembut.
"Berjanjilah kau tidak akan membuatku secemas ini lagi," pinta Yaya, menangkup kedua tangan Taufan di pipinya.
"Aku ... janji."
Yaya mengangguk, cukup puas dengan ucapan Taufan meski tak terlalu meyakinkan. Ia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah dapur.
"Aku akan membuatkan sarapan. Kau belum sempat sarapan di rumah sakit tadi, 'kan?"
"He-eh," Taufan mengangguk, "makanan rumah sakit tidak enak."
Yaya tersenyum sementara ia memakai celemeknya dan membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan makanan.
"Mau kubuatkan kopi juga?" tanyanya.
"Kau bermaksud meracuniku dengan kopi asin lagi?" Taufan bertanya ngeri.
Yaya memutar bola matanya. "Kalau kau tidak macam-macam aku tidak akan meracunimu, kok," ucapnya datar.
"Kapan, sih, aku pernah macam-macam, sweetheart?"
"Oh, perlu kubuatkan daftarnya?"
"Tidak, tidak perlu. Pasti akan sangat panjang." Taufan menguap lebar dan membaringkan diri di tengah tumpukan bantal sofa. "Aku mau tidur sebentar. Bangunkan aku kalau sarapannya sudah jadi ya, sweetheart."
"Oke," balas Yaya. Ia menyibukkan diri di depan kompor, menggoreng telur dan memanaskan air untuk membuat kopi. Mendadak ia teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, Taufan, aku penasaran dengan pembicaraan kita di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit tadi malam. Siapa gadis yang kau maksud itu?"
Menyadari tak ada balas dari Taufan, Yaya melangkah menghampiri sofa tanpa suara dan melihat Taufan telah tertidur pulas dengan posisi meringkuk memeluk bantal sofa.
"Cepat sekali tidurnya," Yaya menggelengkan kepala. Ia berjalan ke kamar dan mengambil selembar selimut, kemudian menyelimuti sang suami dengan hati-hati, berusaha untuk tak membangunkannya.
Yaya menyingkap poni Taufan dan mencium keningnya pelan, sebelum akhirnya beranjak kembali ke dapur sambil bersenandung kecil.
.
.
.
to be continued
A/N :
Halo, again~ ada yang masih nungguin fanfic ini update? :"D
Maaf, ya, masih belum bisa update kilat. Tapi dari semua fic-ku yang masih tbc kayaknya ini yang paling sering kuupdate deh. Iya 'kan, ya? :"D
Chapter ini pendek banget memang. Aku sebenarnya nggak yakin mau langsung update, tapi daripada diulur-ulur nanti malah nggak update-update, jadi ya udah deh.
Chapter ini aku fokusin ke satu masalah aja, makanya pendek. Kalau dicampur sama yang lain takutnya feelnya malah hilang. Jadi maaf ya kalau ngerasa kecewa.
Dan, um, kalau ada yang baca fanfik ini untuk humornya, aku cuma mau bilang kalau genre utama fanfik ini tetap romance. Aku nggak janji bisa selalu ada humor di setiap chapternya. Jadi yang ngerasa enek sama romance-romance penuh drama, mungkin bisa mundur pelan-pelan. Tapi aku bakal berterima kasih banget kalau kalian tetap mau baca!
Oh iya, satu lagi, aku mau ngasih tau kalau di chapter depan fanfik ini mungkin bakal ganti rating jadi M. Bukan karena apa sih, fanfik ini 'kan ceritanya tentang kehidupan pernikahan ya, jadi temanya memang bakal sedikit 'dewasa'. Aku nggak mau meracuni pikiran-pikiran polos yang masih di bawah umur, jadi biar aman naikin rating aja :")
Sekali lagi aku mohon maaf kalau ada yang merasa kecewa.
Makasih banyak untuk yang udah menyempatkan membaca, dan juga yang masih mau nungguin updatenya. Ada yang berkenan meninggalkan sedikit review?
Sampai jumpa di chapter depan!
p.s. di bawah masih ada sedikit tambahan, lho~
.
.
.
Extra
"Taufan! Taufan! Kau masih bisa mendengarku, 'kan?" Yaya menginjak pedal gas kuat, mengemudikan mobilnya secepat mungkin meski ia berusaha tetap berada dalam batas kecepatan yang diizinkan. Yaya berulang kali melirik panik Taufan yang tergeletak lemas di kursi penumpang di sebelahnya.
"Ya, ya, aku masih bisa mendengarmu, Yaya ... tak perlu terus berteriak seperti itu ..." gumam Taufan tak jelas. Ia mati-matian menahan rasa mual menyakitkan di perutnya dan juga pusing yang semakin menjadi-jadi, meski Taufan berusaha tetap terlihat tenang agar Yaya tidak makin panik.
"Pokoknya kau harus tetap sadar, Taufan! Jangan tutup matamu! Tarik napas dalam, kita akan segera sampai di rumah sakit!"
Kalau saja keadaannya tidak seperti ini, Taufan pasti sudah tertawa geli melihat reaksi Yaya yang dianggapnya berlebihan. Gadis itu mengingatkannya pada sang ibu, yang juga selalu berubah panik setengah mati setiap kali terjadi sesuatu padanya.
"Aku benar-benar minta maaf, Taufan ... Aku benar-benar minta maaf ... Aku tidak tahu kau punya alergi dengan seafood ... Aku benar-benar menyesal ... Maafkan aku ..." Yaya terisak. Tangannya mencengkeram setir erat, sementara kepalanya masih bolak-balik berpaling untuk memandang Taufan dan juga memfokuskan pandangan pada jalan raya di depan.
Taufan tidak menjawab. Ia memejamkan mata saat pasokan oksigen di paru-parunya semakin menipis karena jalan pernapasannya yang terhambat oleh reaksi alergi yang semakin parah.
"Taufan, kumohon jangan mati!" Yaya nyaris menjerit histeris saat melihat mata Taufan yang kini tertutup rapat. Ia ingin menghentikan mobil untuk memeriksa ke adaan Taufan, namun Yaya tahu lebih baik ia tetap melajukan mobil agar segera tiba di rumah sakit. "Kau tidak boleh mati, Taufan ... kau tidak boleh mati ... aku benar-benar minta maaf ..." Yaya terus terisak tanpa henti.
Suara tawa pelan membuat Yaya kembali menoleh. Ia melihat Taufan terkekeh kecil, meski matanya masih terpejam dan dahinya mengerut menahan sakit.
"Ke-kenapa kau tertawa?" tanya Yaya tercengang. Ia memandang Taufan tak percaya. Bisa-bisanya pemuda itu tertawa saat ia sedang panik setengah mati begini?
"Ti-tidak ... aku hanya ... merasakan nostalgia ..." Taufan bergumam pelan, nyaris tak terdengar. "Dulu juga ada ... gadis kecil ... yang menangis keras ... sambil memohon agar aku tidak mati ..."
"Ga-gadis kecil? Apa maksud— Ah, kita sudah sampai!"
Yaya membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah sakit dan dengan kalut mencari lahan parkir yang kosong. Setelah memarkirkan mobil, dengan tergesa-gesa Yaya turun dan membukakan pintu untuk Taufan.
"A-ayo, Taufan ..." Yaya mengalungkan lengan Taufan yang bersimbah keringat dingin di sekeliling lehernya. "Bertahanlah sedikit lagi. Kita akan ..."
Tubuh Taufan merosot jatuh dan ambruk di aspal yang dingin sebelum Yaya sempat menahannya.
"TAUFAN!"
.
.
.
