"Gopal!"
Gopal baru saja hendak menoleh ketika mendengar seseorang meneriakkan namanya, namun seseorang tiba-tiba merangkul lehernya erat, membuatnya tersedak segigitan besar pancake sarapan paginya.
"Ohok! Ohok!"
Gopal terbatuk keras, berusaha menggapai gelas minumannya meski rangkulan di lehernya semakin mengerat dan membuatnya tak bisa bernapas.
"Gopal! Tolong aku!"
"Gopal akan mati kehabisan napas dan tak bisa menolongmu kalau kau terus mencekiknya seperti itu, Taufan," Ying mencibir seraya menyesap morning teanya.
"Oh, maaf, maaf," Taufan nyengir dan buru-buru menjauhkan diri dari Gopal, kemudian menghempaskan diri di kursi di sebelah pemuda itu.
Gopal menggerutu dengan suara tak jelas, meneguk cepat-cepat segelas air putih sebelum akhirnya bisa kembali bernapas lega. Ying memutar bola mata dan kembali meneruskan membaca modul praktikum untuk ujian prakteknya nanti.
"Jadi, ada apa kau ke sini, Taufan? Bukankah kau bilang hari ini kau akan mulai bekerja?" tanya Gopal.
"Aku mengambil cuti," ucap Taufan.
"What? Kau bahkan belum mulai masuk kerja tapi sudah mengambil cuti? Apa mentang-mentang kau bekerja di perusahaan mertuamu jadi kau bisa seenaknya?"
"Bukan begitu. Yaya yang menyuruhku cuti, kok. Katanya aku harus istirahat di rumah karena kemarin baru masuk rumah sakit, blablabla, semacam itulah," Taufan melambaikan tangan tak sabar, sebelum ekspresinya kembali berubah serius. "Tapi sekarang bukan itu masalahnya! Kau harus menolongku, Gopal!"
"Memangnya ada apa?" tanya Gopal penasaran sembari menyuap sepotong pancake kembali ke mulutnya.
"Yaya kabur dari rumah!"
Ying yang sedari tadi terlihat tak tertarik dengan percakapan mereka, akhrinya mengangkat kepalanya. "Yaya kabur? Kenapa?" tanyanya tajam.
"Ah, aku tahu! Pasti kau ketahuan menggoda gadis cantik tetangga sebelah, 'kan?" tebak Gopal.
"Enak aja! Yang tinggal di sebelah itu nenek-nenek, tahu!" Taufan memanyunkan bibir masam.
"Lha, terus kenapa?"
"Jangan-jangan kau 'macam-macam' lagi dengan Yaya?" selidik Ying, membuat tanda kutip dengan kedua tangannya.
"Jangan buat aku kedengaran seperti orang mesum dong, Ying," Taufan memprotes sebal.
"Kau 'kan memang orang mesum," celetuk Gopal santai. Taufan menjitak kepalanya sebagai balasan.
"Kalau begitu kenapa Yaya bisa kabur? Kalian bertengkar lagi?" Ying kembali bertanya. Taufan menganguk-angguk. "Astaga. Kalian baru menikah seminggu tapi sudah memiliki konflik lebih banyak daripada negara-negara Timur Tengah yang sedang berperang."
Taufan hanya nyengir dan menggaruk pipinya malu. "Yah, namanya juga pengantin baru," ia mengangkat bahu.
"Pengantin baru harusnya mesra-mesraan, bukan bertengkar terus!" tukas Ying. Gopal mengangguk-angguk menyetujui sambil menghabiskan sisa sarapannya. Ying menghela napas dan memijit pangkal hidungnya. "Jadi kali ini kalian bertengkar karena apa?"
"Um, itu ..." Taufan kembali menggaruk pipinya canggung. "Aku ... tak sengaja melempar bangkai kecoa ke wajah Yaya ..."
.
.
.
"Get Married"
Chapter 10 : Stay, Stay, Stay
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning(s) : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah.
A/N : Oke, sebelum mulai membaca, lihat kotak keterangan di atas itu? (bener di atas 'kan, ya?) Liat keterangan ratingnya udah ganti jadi M? Nah, kalau menurut peraturan FFN, rating M itu diperuntukkan bagi kalangan 16 tahun ke atas. Jadi, yang belum cukup umur jangan baca, ya~ Tapi kalau mau baca aku juga nggak larang kok /hush
Read at your own risk, guys~
Happy Reading!
.
.
.
Ying memasukkan kombinasi password apartemennya dan membuka pintu. Ia baru saja menginjakkan kaki di dalam saat Ying menyadari ada orang lain di apartemennya. Gadis berkacamata itu hanya menghela napas panjang, lalu meletakkan sepatunya di rak dan melangkah masuk ke ruang depan.
"Sudah kuduga kau akan ada di sini."
Ying berkacak pinggang, menatap gadis berkerudung yang tengah duduk santai di sofa ruang tamunya sambil menonton tayangan televisi.
"Oh, Ying, kau sudah pulang," sapa Yaya ceria.
"Jangan menyapaku dengan sok ceria begitu!" Ying menahan diri untuk tidak menjitak kepala Yaya dan memilih untuk menghempaskan diri di sofa. "Apa yang kau lakukan di rumahku?"
"Kau bilang aku boleh berkunjung kapan saja, 'kan? Makanya kau memberiku password apartemen ini. Jadi aku datang untuk berkunjung," balas Yaya, tersenyum manis.
"Tapi aku tidak bilang apartemenku bisa jadi tempat pelarian saat kau sedang kabur-kaburan dari suamimu!" Ying berdecak sebal.
Wajah Yaya langsung tertekuk manyun. "Dari mana kau tahu? Aku 'kan belum cerita apa-apa."
"Well, Taufan muncul tadi pagi, mengganggu acara sarapan Gopal, dan merusak konsentrasiku yang sedang berusaha mengulang materi untuk praktikum!" Ying mengomel panjang lebar.
"Oh, benarkah?"
Tanggapan tak acuh Yaya justru membuat Ying semakin tak tahan untuk mengantukkan kepala sahabatnya itu ke dinding.
"Dan kau tahu apa? Taufan terus membombardirku dengan telepon dan pesan menanyakan kau ada di mana! Dari mana juga dia tahu nomorku?"
"Oh, aku yang memberitahunya. Untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu," balas Yaya, yang masih terlihat tenang meski Ying sudah kesal setengah mati.
"'Sesuatu' seperti ini, maksudmu?" geram Ying. "Praktikumku hampir gagal gara-gara dia, tahu! Awas saja kalau nilaiku sampai jelek di akhir semester nanti!"
"Kau bisa memberinya pelajaran kalau memang mau. Aku tidak akan melarangmu," kata Yaya.
"Yaya, please ..." Ying memijit keningnya lelah. "Kenapa harus bertengkar lagi dengan Taufan, sih? Bukankah kau sendiri sudah berjanji tidak mau bertengkar lagi setelah apa yang terjadi pada Taufan kemarin malam?"
"Yah ... iya, sih ..." Yaya menunduk dan memain-mainkan jarinya gelisah. "Tapi ... tetap saja yang dilakukannya tadi pagi itu sama sekali tidak termaafkan! Kau tahu apa yang Taufan lakukan?"
"Dia melempar bangkai kecoa ke wajahmu, 'kan?"
"Nah!" Yaya menjentikkan jari di depan muka Ying. Ekspresinya yang tadi terlihat sendu kini kembali berapi-api. "Taufan beruntung aku tidak langsung mencincangnya di tempat! Tega sekali dia melakukan itu padaku! Dia melempar kecoa, Ying! Kecoa!"
"Yah, aku mengerti kenapa kau marah," Ying menghela napas pendek. "Aku mungkin juga akan membunuh Fang kalau dia melakukan hal yang sama padaku. Tapi mungkin tidak, deh. Aku terlalu cinta sama Fang, mana mungkin aku tega membunuhnya?"
Yaya hanya mengerang malas dan memilih untuk menenggelamkan diri di antara bantal-bantal sofa yang empuk.
"Kau benar-benar tidak mau pulang?" Ying bertanya.
"Tidak."
"Bagaimana kalau Taufan datang menjemputmu ke sini?"
"Aku tetap tidak mau pulang."
"Tapi kalau aku mengusirmu kau tidak akan punya pilihan, 'kan?"
"Memangnya kau tega mau mengusirku?"
"Kenapa tidak?"
Yaya melempar salah satu bantal sofa ke arah Ying, yang menangkapnya dengan mudah dan tergelak melihat wajah kesal Yaya. Ying akhirnya bangkit dari sofa, merenggangkan tubuh sejenak, kemudian melangkah ke arah kamarnya.
"Aku mau ganti baju dulu. Jangan bikin kacau apartemenku, ya," ujarnya mewanti-wanti.
"Kenapa pula aku mau bikin kacau?" Yaya bertanya seraya memutar bola matanya. "Oh, iya, Ying. Jangan beritahu Taufan aku ada di sini, lho."
"Tanpa kuberitahu pun, sepertinya dia sudah tahu," ucap Ying, mengangkat bahunya.
"Masa'?"
Saat itu ponsel Yaya berdering. Gadis berkerudung itu mengeluarkannya dari dalam tas dengan malas, tahu pasti siapa yang meneleponnya. Namun nama yang tertera di layar ternyata berbeda dari yang dipikirkannya. Gopal.
"Halo, Gopal?" ucap Yaya setelah menekan tombol untuk menjawab panggilan.
"Yaya, gawat!" Suara panik Gopal di seberang telepon cukup untuk membuat Yaya langsung merasa was-was.
"Ada apa, Gopal? Apanya yang gawat?" tanya Yaya khawatir.
"Taufan kecelakaan!"
"APA?!"
Teriakan Yaya membuat Ying melongok dari kamarnya dan memandang sahabatnya itu heran. "Ada apa, Yaya?"
"Taufan ... kecelakaan ..."
"Hah? Yang benar?" Ying membelalak tak percaya.
Tangan Yaya yang memegang ponsel gemetar. Ia bergegas mengambill tasnya dan berlari ke arah pintu.
"Sekarang Taufan di mana, Gopal?" tanya Yaya panik.
"Um, tadi dia dibawa oleh ambulan. Mungkin sekarang sudah tiba di rumah sakit dan ..."
"Oke, aku akan segera ke sana."
Yaya memutus panggilan secara sepihak. Ia bahkan tak berpamitan pada Ying dan langsung membuka pintu dan bersiap hendak ke rumah sakit.
"Ta-da!"
Sebuket mawar merah muda cantik diangsurkan tepat di depan wajahnya, nyaris membuat Yaya terjengkang karena kaget. Namun yang lebih membuatnya terkejut adalah orang yang berdiri di hadapannya dengan senyum lebar tanpa dosa.
"Taufan!"
"Halo, sweetheart," sapa Taufan ceria. "Aku sudah menduga kau pasti ada di sini!"
"Kau ... kau ..." Yaya terlihat terlalu shock hingga kehabisan kata-kata. "KENAPA KAU ADA DI SINI?" jeritnya histeris.
"Eh, 'kan aku mau menjemputmu, sweetheart," Taufan nyengir tanpa rasa bersalah.
"Tapi— tapi tadi Gopal bilang kau kecelakaan dan—"
"Oh, aku meminta Gopal meneleponmu dan berbohong seperti itu. Supaya kau mau membuka pintu dan aku bisa membawamu pulang," ujar Taufan, masih tersenyum lebar seolah yang dilakukannya sama sekali bukan masalah.
"Taufan, astaga ..." Yaya terhuyung nyaris jatuh karena kaki-kakinya mendadak lemas, namun Taufan dengan sigap menahannya.
"E-eh, Yaya, jangan pingsan! Aku 'kan cuma bercanda!" kata Taufan panik.
"Bercandamu keterlaluan, Taufan!" Yaya menggebuk kepala Taufan geram dengan tas tangannya. "Kau mau membuatku mati jantungan sungguhan, ya?"
"Eh, jangan dong. Kalau kau mati masa' nanti aku jadi duda? Aku masih terlalu keren untuk jadi seorang duda," ucap Taufan cengengesan. Yaya kembali memukul kepalanya keras, membuatnya mengaduh sakit.
"Ehem."
Yaya menoleh, dengan tubuh yang masih setenah ditopang oleh Taufan, dan menatap Ying yang berdiri dengan tangan bersidekap di depan mereka.
"Bisakah kalian mencari tempat lain untuk mempertunjukkan drama selain di apartemenku?" kata Ying, jelas dongkol melihat pasangan lovey-dovey di hadapannya.
"Ah, maaf, Ying," Yaya buru-buru berdiri tegak kembali dan berusaha menyingkirkan tangan Taufan yang melingkari tubuhnya, meski Taufan justru makin mempererat pegangannya dan menolak menjauh dari Yaya.
"Maaf sudah mengganggumu, Ying. Aku cuma mau menjemput istriku saja, kok," kata Taufan santai.
"Bagus. Bawa pulang istrimu dan bilang kalau mau kabur-kaburan jangan ke apartemenku lagi," Ying berujar datar.
"Ying, masa' kau tega begitu padaku?" Yaya memasang ekspresi terluka.
"Jangan khawatir. Aku akan memastikan dia tak akan kabur lagi." Taufan mengedipkan sebelah matanya, lalu mengajak Yaya pergi dengan lengan masih merangkul erat pinggul gadis itu. "Ayo kita pulang, sweetheart."
Yaya terpaksa mengikuti Taufan karena tak punya pilihan lain, meski ia tak bisa berhenti menggerutu tak jelas.
"Lepasin, ah! Jangan peluk-peluk!"
"Oh, ayolah, sweetheart. Jangan ngambek terus, nanti aku cium, nih."
"Cium aja kalau berani! Nanti kubuat kau masuk rumah sakit sungguhan!"
"Aww, kau imut sekali kalau sedang marah-marah begitu, sweetheart— Aduh! Sakit, Yaya! Kenapa aku ditendang?"
Ying memperhatikan pasangan suami istri itu sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan mereka, sampai keduanya menghilang di balik lift dan Ying melangkah masuk kembali ke apartemennya dan menutup pintu.
.
.
.
"Please, come in, my queen."
Taufan membukakan pintu apartemen dan mempersilakan Yaya masuk dengan cengiran lebar yang sedari tadi tak juga lenyap dari wajahnya, tak peduli walau Yaya hanya membalasnya dengan wajah masam dan gerutuan.
Yaya mendengus dan melengos masuk melewati Taufan. Ia langsung melangkah ke dapur untuk meletakkan buket bunga mawar di tangganya ke dalam vas berisi air agar tidak layu.
"Kau menyukai bunganya, 'kan, sweetheart?" tanya Taufan. Ia membuka jaket biru yang dipakainya, lalu melemparnya begitu saja ke sofa dan melangkah mendekati Yaya.
"Aku lebih suka bunga lavender," balas Yaya masam.
"Oh, lavender? Baiklah. Nanti akan kubelikan bunga lavender untukmu," Taufan mengangguk-angguk sementara ia mengawasi Yaya yang tengah mengisi vas bunga dengan air. "Ah, lavender juga bisa mengusir nyamuk, 'kan? Kalau begitu kita bisa sekalian berhemat tak perlu beli obat nyamuk lagi."
"Ya, sayangnya bunga lavender tak bisa mengusir nyamuk-nyamuk pengganggu sepertimu."
"Yaya jahat, ah. Masa' aku dibilang nyamuk pengganggu?"
"Memang benar, 'kan."
Yaya berbalik dan sontak menahan napas begitu menyadari Taufan telah berdiri tepat di belakangnya. Posisi mereka yang kini berhadapan dengan jarak yang terlalu tipis cukup membuat wajah Yaya memanas.
"Apa kau benar-benar berpikir aku adalah nyamuk pengganggu, sweetheart?"
Taufan mengikis jarak dan meletakkan kedua tangan di bak cuci piring di belakang Yaya, memerangkap gadis itu yang tengah sebisa mungkin menjauhkan diri meski punggungnya sudah mentok.
"Yah ... kau selalu menganggu dan membuatku kesal. Dan juga ..."
Yaya kembali menahan napas saat Taufan mendekatkan wajahnya. Hidung mereka nyaris bersentuhan, dan Yaya bisa melihat gradasi warna biru cantik di mata Taufan.
"Dan juga apa ... sweetheart?" goda Taufan, senang melihat wajah Yaya yang kini merah padam.
Suara gemericik air yang tumpah dari vas yang sudah terlalu penuh mengisi keheningan sesaat sebelum keduanya saling mendekatkan diri dan mempertemukan bibir masing-masing. Kecupan-kecupan lembut namun penuh gairah yang berlangsung beberapa saat hingga kebutuhan akan pasokan oksigen membuat Taufan dan Yaya sama-sama menarik diri menjauh.
Yaya terengah memegangi kedua pipinya yang memanas, terlalu malu untuk menatap langsung pada Taufan dan memilih untuk menundukkan wajah. Sementara Taufan hanya terkekeh pelan dan menyenderkan dagunya di kepala Yaya, kemudian melingkarkan kedua tangannya memeluk sang istri.
"Jadi, sekarang kita baikan?" tanya Taufan.
Yaya menenggelamkan wajahnya di dada Taufan dan mengangguk kecil, dalam hati mengutuki diri yang begitu mudah jatuh dalam perangkap pemuda di hadapannya ini.
"Ya, kita baikan ..."
.
.
.
Jarum jam di dinding sudah menunjukkan lewat dari pukul dua dini hari. Meski begitu, Taufan masih terjaga di depan laptopnya yang menyala, membaca beberapa laporan dari kantor yang dikirimkan oleh ayah Yaya untuk mengejar absen-nya hari ini.
Gerakan kecil di sebelahnya membuat Taufan menoleh. Yaya yang sudah tertidur pulas sejak sejam yang lalu menggeliat pelan dalam tidurnya, menggumamkan beberapa kata samar yang tak bisa ditangkap Taufan. Wajah Yaya mengerut seolah tengah melihat sesuatu yang tak menyenangkan dalam mimpinya.
"Ya ampun, dia mimpi apa, sih? Sampai dahiny berkerut segala," Taufan bergumam geli. Ia baru saja hendak menyentuhkan telunjuknya di kening Yaya, saat mata gadis itu tiba-tiba terbuka.
"Astaga, Yaya, kau membuatku kaget," Taufan menarik kembali tangannya, takut Yaya berpikir ia hendak melakukan yang aneh-aneh. Namun Yaya hanya memandang Taufan tanpa berkedip.
"Taufan," gumamnya pelan.
"Ya?"
"Aku ... mimpi buruk ..."
"Mimpi buruk?"
Yaya mengangguk. Ia tanpa sadar mengeser tubuhnya mendekat pada Taufan. Kehangatan tubuh pemuda itu membuat Yaya merasa sedikit lebih tenang.
"Mimpi buruk seperti apa?" tanya Taufan lembut. Ia menutup laptop dan meletakkannya di nakas, kemudian menarik Yaya mendekat dan mengelus rambut gadis itu.
"Aku bermimpi ... tentang seorang anak laki-laki ..." Yaya memejamkan mata menikmati belaian tangan Taufan di rambutnya. "Dia terlihat sedang kesakitan ... tapi aku hanya bisa melihatnya dan tidak bisa melakukan apa-apa ... Aku hanya bisa menangis, karena aku sama sekali tidak bisa menolongnya ..."
"Anak .. laki-laki? Siapa?" Taufan bertanya hati-hati.
Yaya menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Yang kutahu dia sering muncul di dalam mimpi-mimpiku. Tapi aku sama sekali tidak ingat apa aku pernah bertemu dengannya, atau bahkan pernah mengenalnya. Dia hanya terasa begitu ... familiar ..."
Taufan menyunggingkan senyum samar, meski Yaya tak bisa melihatnya. Ia menyenderkan punggungnya di bantal sembari terus mengusap kepala Yaya lembut.
"Mungkin dia hanya seseorang dari masa lalu, yang menunggu dan berharap kau akan mengingatnya kembali suatu hari nanti," kata Taufan.
"Eh?" Yaya mengangkat wajahnya dan menatap Taufan bingung. "Apa maksudmu?"
"Jangan dipikirkan," Taufan menggelengkan kepala dan tersenyum kecil. "Mimpi itu cuma bunga tidur, Yaya. Kau tidak perlu memikirkannya terlalu serius."
"Tapi ... bagaimana dengan anak laki-laki itu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?"
"Dia akan baik-baik saja, percayalah padaku." Taufan menggeser tubuhnya turun dan berbaring di sebelah Yaya, menghadap ke arah gadis itu. "Nah, sekarang kita sama-sama tidur. Mau kuberi kecupan selamat malam?" tanyanya menggoda.
Yaya menggembungkan pipi cemberut dan langsung membalikkan tubuh membelakangi Taufan. Terdengar suara kekehan kecil dari Taufan, dan saat Yaya mengintip sedikit ke balik punggungnya ia melihat pemuda itu kini berbaring terlentang dengan kedua mata terpejam.
Taufan sedikit tersentak saat merasakan sepasang lengan tiba-tiba saja memeluknya erat. Ia membuka kembali matanya dan melihat Yaya yang membenamkan wajah di piyama birunya.
"Takut mimpi buruk lagi, sweetheart?"
Yaya hanya bergumam tak jelas sebagai balasan, meski ia semakin mempererat pelukannya. Taufan diam-diam tersenyum geli dan mengubah posisinya kembali menghadap Yaya, memberi gadis itu sebuah pelukan protektif.
"Jangan khawatir. Aku akan masuk ke dalam semua mimpi-mimpimu supaya tidak ada lagi mimpi buruk yang berani mendekat," canda Taufan. Ia mendengar Yaya menggerutu dengan suara teredam dan tertawa kecil.
Taufan menepuk-nepuk pelan punggung Yaya dan mengusap kepalanya lembut. "Good night, sweetheart."
Selang beberapa saat, Yaya membalas dengan gumaman kecil. "Good night, darling."
.
.
.
to be continued
A/N :
Ada yang ngerasa romance di ff ini terlalu ... cheesy? Bikin meringis dan terlalu berlebihan? Kalau ada yang ngerasa gitu, bilang aja ya. Aku kadang ngerasa emang terlalu lebay sih, tapi karena manis jadi ya aku senang-senang aja nulisnya /plak
Kalau ada yang mau rekues, mungkin ada adegan yang pengen dimasukin ke fanfik ini, bilang aja di review, nanti bakal coba aku tulis. Aku mulai rada kehabisan ide juga sih, jadi sedikit sumbangan ide akan sangat membantu.
Oh, iya, aku mau mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi semua umat muslim yang merayakan! Mohon maaf lahir dan batin ya, semuanya~
Makasih banyak untuk yang udah menyempatkan diri membaca! Sampai jumpa di chapter berikutnya!
p.s. jangan lupa review, please :"
.
.
.
Extra
"Taufan! Taufan, bangun!"
Taufan menggeliat malas dan menarik selimut menutupi kepalanya, meski sedetik kemudian selimut itu kembali ditarik turun dan disingkirkan dari tubuhnya.
"Yayaaa ... aku masih ngantuuk ..." Taufan merengek dan menenggelamkan kepalanya di bantal.
"Ini sudah hampir jam delapan, Taufan. Ayo bangun dan sarapan dulu," kata Yaya.
"Jam delapan ..." Taufan bergumam mengantuk. "APA? JAM DELAPAN?!"
Taufan segera melompat bangun dari tempat tidur dengan panik. Ia menoleh ke arah jam digital di nakas, kemudian memandang cahaya matahari yang masuk dari jendela yang terbuka.
"KENAPA TIDAK BANGUNKAN AKU DARI TADI, YAYA? AKU BISA TERLAMBAT KE KANTOR! INI 'KAN HARI PERTAMAKU BEKERJA!"
Taufan menyambar handuk dan bergegas lari ke kamar mandi, namun Yaya buru-buru menahannya.
"Tunggu, tunggu dulu, Taufan. Kau tidak perlu masuk ke kantor hari ini," kata Yaya cepat.
"Hah?"
"Aku sudah menghubungi papi dan bilang kau tidak akan masuk ke kantor hari ini," jelas Yaya.
"Apa? Tapi kenapa?"
"Kau kan baru keluar dari rumah sakit kemarin, Taufan. Kau masih harus istirahat di rumah."
"Ya ampun, Yaya ..." Taufan mengerang. "aku 'kan tidak sakit separah itu, cuma harus dirawat semalam, sweetheart. Dan aku sudah istirahat seharian penuh kemarin! Masa' hari ini istirahat lagi?"
"Tentu saja kau harus istirahat. Dan kau masih harus minum obat pemberian dokter, jadi hari ini kau tidak boleh masuk kerja," kata Yaya tegas.
"Tapi, Yaya ..." Taufan mencoba berargumen, namun keputusan Yaya sudah mutlak dan tidak menerima penolakan.
"Tidak ada tapi-tapi, Taufan. Sekarang cuci muka dan sarapan. Cepat!"
"Ya, ya, baiklah, sweetheart ..."
Taufan hanya bisa pasrah dan melangkah gontai ke kamar mandi untuk mencuci muka, sementara Yaya berjalan kembali ke dapur dengan wajah puas.
Taufan tengah berkumur setelah menggosok giginya saat mendengar suara jeritan histeris dari arah dapur. Ia bergegas mencuci muka dan melangkah tergesa ke luar.
"Ada apa, Yaya? Kenapa kau menjerit?" tanya Taufan panik.
"KECOA!"
Yaya berlari, nyaris menubruk Taufan dan langsung bersembunyi di balik punggung sang suami. Ia menunjuk ke arah makhluk hitam kecil yang terbang santai di dekat jendela dapur.
"Oh, cuma kecoa? Itu sih kecil, sweetheart."
Taufan mengambil tongkat baseball koleksinya dan berjalan tenang ke arah sang kecoa terbang. Ia menyiapkan kuda-kuda dan langsung memukul tepat sasaran, membuat makhluk malang itu menghantam dinding di seberangnya keras dan langsung terkapar tak bergerak.
"Knock over!" Taufan menyeringai puas dan menepuk tongkat baseballnya penuh kasih sayang. Ia kemudian memungut bangkai kecoa itu dan mengamatinya seksama.
Yaya berjalan kembali ke dapur dengan wajah was-was. Ia memandang jijik makhluk di tangan Taufan.
"Singkirkan itu, Taufan," ucapnya.
Taufan menoleh dan menyeringai jahil. "Ternyata kau takut kecoa, ya, sweetheart?"
"Aku tidak takut kecoa. Aku hanya tidak suka kalau makhluk itu terbang dekat-dekat denganku," dengus Yaya, sedikit bergidik.
"Ah, bilang saja kau takut. Iya, 'kan?" goda Taufan.
"Aku tidak takut," sungut Yaya. "Sekarang cepat singkirkan kecoa itu sebelum aku memukul kepalamu juga dengan tongkatmu itu," ancamnya kemudian.
"Iya, deh, iya ..."
Taufan membidik ke arah tong sampah di sudut dapur, bersiap melemparkan bangkai kecoa di tangannya. Sayangnya bidikan Taufan meleset dan lemparannya justru tepat mengenai—
"TAUFAAAAANNN!"
—wajah Yaya.
"Ups."
.
.
.
