"Morning, sweetheart."
Taufan muncul dari balik punggung Yaya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan, masih terbalut piamanya dan rambut bernatakan khas orang yang baru bangun tidur.
"Morning, Taufan," Yaya membalas, masih sibuk menggoreng telur di wajan tanpa menoleh. Namun saat melihat gerakan Taufan berikutnya, Yaya buru-buru mengangkat sebelah tangan memperingatkan. "Eits, jangan peluk-peluk. Aku sedang masak," omelnya.
"Kalau begitu cium saja boleh, ya?" Sebelum Yaya sempat membalas, Taufan memberi kecupan kilat di pipi sang istri, kemudian melengang pergi ke meja makan. Yaya memutar bola mata dan melanjutkan kembali acara memasaknya.
"Aku sudah membuatkan kopi. Minumlah sebelum dingin," kata Yaya.
"Oke."
Taufan meraih cangkir kopi di meja dan menyesap minuman kental hitam yang paling dibenci Yaya itu. Ia lalu membuka gulungan koran pagi dan membaca beberapa headline berita sembari menunggu Yaya selesai menyiapkan sarapan.
"Oh, iya, Taufan," Yaya datang membawakan dua telur mata sapi yang kemudian diletakkan di piring Taufan. "Tadi ada tukang pos membawakan paket untukmu," ujarnya.
"Oh, ya? Paket apa?" tanya Taufan heran. Seingatnya ia tidak sedang menunggu kiriman apapun.
"Entahlah,aku belum membukanya," ucap Yaya. Ia menunjuk ke arah sofa di ruang depan. "Aku meletakkannya di sofa. Cobalah lihat."
"Baiklah."
Taufan membawa cangkir kopinya dan beranjak ke arah sofa. Sebuah bungkusan persegi panjang yang cukup besar diletakkan sedikit miring di sana. Taufan menghempaskan diri duduk dan mulai merobek bungkusan itu untuk mencari tahu isinya.
"Ah, Yaya, foto pernikahan kita sudah selesai dicetak," Taufan berujar sedikit keras agar Yaya bisa mendengarnya dari seberang ruangan.
"Benarkah?"
"He-eh. Memang sedikit telat, sih. Sudah hampir sebulan, 'kan? Tapi yang penting sudah jadi." Taufan mengamati pigura di tangannya dengan senyum tipis. "Ada yang sudah dibingkai juga, siap digantung. Menurutmu di mana kita harus menggantungnya?" tanyanya.
"Hm, kurasa lebih bagus kalau di ruang tamu," balas Yaya tanpa mengangkat wajah dari roti panggang yang tengah diolesi selai.
"Kurasa juga begitu."
Setelah selesai mengatur piring-piring di meja makan, Yaya akhirnya beranjak menghampiri Taufan. "Mana fotonya? Aku juga mau li—"
Langkahnya terhenti saat Taufan mengangkat sebuah pigura besar berisi foto dirinya dan Taufan di hari pernikahan mereka. Foto yang diambil di momen yang sangat tepat, saat Taufan mencium Yaya di depan seluruh undangan mereka.
"Ta-da! Bagus, kan?" seru Taufan riang, seraya berusaha menahan tawa melihat wajah shock Yaya.
"Kenapa fotonya yang itu?!" jerit Yaya histeris.
"Lho, kenapa? Ini foto paling bagus yang diambil di hari itu, lho," kata Taufan dengan wajah tanpa dosa. "Fotografernya hebat, ya? Dia pintar sekali mengabadikan momen penting seperti ini. Bahkan angle pengambilan gambarnya juga bagus. Wajahmu yang memerah terlihat jelas sekali di si—"
Taufan dengan sigap berkelit saat Yaya hendak merampas bingkai foto itu darinya. Wajah gadis itu memerah sempurna, entah karena malu atau kesal.
"Hancurkan foto itu, Taufan," ucapnya dengan nada mengancam.
"Eh, kenapa? Ini foto penting yang harus dijaga baik-baik, sweetheart," ujar Taufan santai. Ia mengangkat pigura itu cukup tinggi agar tak terjangkau tangan Yaya, walau sedikti sulit dengar ukurannya yang besar. "Kau bilang kita harus menggantungnya di ruang tamu, 'kan? Kalau begitu akan segera kugantung di sini agar semua orang yang datang bisa melihat kemesraan kita."
"Taufan. Hancurkan. Cepat." Yaya mengambil remot yang kebetulan berada tak jauh darinya, dan mengacungkannya ke arah Taufan seperti senjata.
"Kalau aku tidak mau?" Taufan bertanya dengans eringai jahil, puas melihat wajah frustasi Yaya.
"Hancurkan, Taufaaannnn!" Yaya menjerit kesal.
"Tidak mauuu! Weeekk!"
Taufan menjulurkan lidah mengejek sebelum kemudian begegas mengambil langkah seribu saat Yaya mulai mengejarnya sambil mengcaung-acungkan remot penuh amarah.
"TAUFAAANN!"
.
.
.
"Get Married"
Chapter 11 : P.M.S.
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning(s) : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah.
A/N : Ada yang suka dengarin lagu-lagunya Taylor Swift? Coba dengarin lagunya yang : "Stay, Stay, Stay", deh. Lagu itu cocok banget buat menggambarkan TauYa di fic ini (aku juga jadiin judul lagu itu judul buat chapter yang lalu). Karena aku sering (malah hampir selalu diulang-ulang) dengarin lagu itu tiap kali nulis fic ini, jadi secara nggak langsung aku udah menetapkan lagu itu sebagai soundtrack buat ff Get Married ini /plak
Aku saranin kalian juga dengarin deh kalau baca fic ini, biar lebih menghayati~ /eaa
Happy reading~!
.
.
.
Yaya melangkah memasuki lift yang kosong dan menekan tombol untuk pergi ke lantai yang diinginkannya. Pintu lift kemudian menutup dengan bunyi denting pelan, membawa Yaya naik seorang diri.
Yaya sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini, kantor perusahaan papinya. Tapi kali ini Yaya datang bukan untuk bertemu sang ayah, melainkan untuk menemui Taufan. Hanya untuk mengecek, karena kebetulan ia melewati kantor ini saat dalam perjalanan pulang dari kampusnya.
(Yaya menolak mengakui bahwa ia sedikit merindukan Taufan yang beberapa hari belakang sibuk di kantor, meski suaminya itu belum genap sebulan bekerja di kantor ini. Yaya hanya bisa bertemu sang suami saat pagi hari dan juga malam menjelang tidur, karena Taufan selalu pulang larut.)
Lift kembali berdenting saat tiba di tempat tujuan. Yaya langsung beranjak keluar setelah pintu membuka, dan melangkah gugup mencari ruangan Taufan. Ia berpapasan dengan beberapa karyawan yang tersenyum ramah padanya, yang dibalas Yaya dengan senyum sedikit canggung. Yaya sudah pernah diajak Taufan kemari, walau hanya sekali, dan syukurlah ia masih mengingat letak ruangan suaminya itu.
Yaya mengetuk pintu beberapa kali, dan mendengar suara balasan dari dalam. Ia lalu melangkah masuk dengan hati-hati, sedikit terkejut mendapati Taufan ternyata tengah bersama seseorang di dalam.
"Oh, Yaya," Taufan terlihat kaget sekaligus heran dengan kemunculan Yaya yang tak disangka-sangka. Ia beranjak dari kursinya dan bergegas menghampiri sang istri. "Ada apa, sweetheart? Tumben kau mengunjungiku kemari."
"Um, aku hanya kebetulan lewat ... Dan kupikir tidak apa-apa kalau aku mampir sebentar," jelas Yaya. Ia mengawasi gadis berkuncir yang tadi tengah bercakap-cakap dengan Taufan saat ia masuk. "Apa aku mengganggu?" tanya Yaya, terus menatap gadis itu.
"Tidak, sama sekali tidak," kata Taufan. "Aku justru senang kau mau mampir ke sini."
Taufan memberi isyarat pada gadis di belakangnya, yang mengangguk mengerti dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu setelah sebelumnya memberikan seulas senyum kikuk pada Yaya juga Taufan.
"Siapa dia?" tanya Yaya setelah gadis itu menghilang di balik pintu.
"Oh, dia Suzy. Sekretarisku," jawab Taufan.
"Setahuku papi menempatkan Iwan sebagai sekretarismu. Kenapa diganti?" Yaya kembali bertanya masam.
"Ah, Iwan baru saja dipindahkan ke divisi lain. Dia sudah naik pangkat, kau tahu? Kemarin Iwan mentraktir kami makan-makan di luar, makanya aku pulang larut sekali tadi malam," jelas Taufan.
Yaya memberengut dan melipat kedua lengannya di depan dada. "Aku tidak suka gadis itu," ucapnya.
"Siapa? Suzy?" Taufan bertanya bingung.
Yaya mengangguk. "Aku akan meminta papi mencarikanmu sekretaris yang baru," tukasnya.
"Eh, kenapa? Suzy bekerja dengan baik, kok. Dia juga ramah, cocok jadi sekretaris. Dan yang penting, dia cantik." Taufan menyadari ia baru saja salah bicara saat melihat ekspresi Yaya yang semakin masam. "E-eh, maksudku— tentu saja kau tetap yang paling cantik bagiku, sweetheart. Tidak ada gadis lain yang bisa mengalahkan kecantikanmu, termasuk Suzy. Percayalah."
"Kau pikir aku akan termakan rayuan murahan seperti itu?" sungut Yaya.
"Oh, ayolah, sweetheart. Mau sampai kapan kau terus meragukan ketulusanku? Kita sudah lama menikah, Yaya."
"Baru sebulan, Taufan. Itu belum lama."
"Bagiku itu sudah cukup lama. Cukup untuk membuatmu merasa cemburu setiap kali melihat ada gadis lain yang dekat denganku, iya 'kan?" Taufan menyeringai menggoda.
"Aku tidak cemburu," Yaya memalingkan wajahnya yang merona, enggan memandang senyum penuh kepuasan di wajah Taufan.
"Oh, ya? Lalu apa kalau bukan cemburu?" Taufan memegangi dagu Yaya, memaksa gadis itu untuk menatap matanya.
Yaya memandang Taufan tajam, sebelum kembali memalingkan wajahnya seraya mendengus. "Aku mau pulang,"katanya.
"Eeeh, kenapa? Kau 'kan baru saja sampai, sweetheart," Taufan buru-buru menahan Yaya yang hendak beranjak pergi. "Mumpung sedang jam istirahat, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawarnya.
"Tidak mau. Aku mau pulang. Makan siang bersama saja dengan sekretaris cantikmu itu," ketus Yaya.
"Benarkah? Aku boleh makan siang berdua dengan Suzy? Bercanda, Ya, bercanda ..." Taufan segera menghindar saat Yaya membuat gerakan seperti ingin mencekiknya. "Sudahlah, tak perlu ngambek terus. Nanti wajah cantikmu berkerut kelau kebanyak marah-marah, sweetheart."
Taufan menggandeng lengan Yaya, mengajaknya pergi sebelum gadis itu sempat memprotes lagi.
"Jadi, kau mau kita makan di mana, sweetheart?"
"Restoran seafood," Yaya menyahut datar.
"Yayaaaa ..."
.
.
.
Taufan baru saja selesai mandi dan langsung mengarahkan kakinya ke dapur. Makan malam yang baru saja dipanaskan kembali oleh Yaya —karena Taufan lagi-lagi pulang terlambat— tersaji di meja makan. Tapi Taufan tak melihat batang hidung sang istri di mana pun.
"Yaya?"
Ia melongokkan kepala ke kamar dan melihat Yaya tengah meringkuk di balik selimut. Taufan melangkah perlahan mendekatinya, mengira Yaya sudah tidur. Namun Yaya membuka matanya saat mendengar suara langkah Taufan, dan memandang pemuda itu dengan ekspresi meringis.
"Sweetheart, apa kau sakit? Wajahmu pucat," kata Taufan cemas. Ia membungkuk untuk memeriksa suhu badan Yaya. Tidak demam.
"Tidak ... Aku cuma—um, sakit perut," gumam Yaya pelan.
"Sakit perut? Kau sudah makan malam?" Yaya mengangguk. "Apa kau masuk angin?" Kali ini Yaya menggeleng.
"Tidak, perutku hanya sedikit kram ..." Yaya kembali bergumam. "PMS ..." Ia menambahkan dengan suara lirih.
Taufan mengerutkan kening, sedikit bingung. Tapi kemudian ia mengangguk-angguk mengerti. "Oh, PMS? Pantas saja kau marah-marah terus padaku beberapa hari belakangan," ia terkekeh pelan, sementara Yaya merengut antara kesal dan malu. "Apa sakit sekali? Perlu kuambilkan obat pereda nyeri?" tanya Taufan, masih terlihat khawatir.
"Aku sudah minum obatnya tadi," balas Yaya.
"Kalau begitu perlu kuambilkan yang lain? Ada sesuatu yang kau butuhkan?"
"Um, itu ..." Yaya menggigit bibirnya gelisah, menimbang hendak meminta tolong pada Taufan atau tidak. Meski Taufan berstatus sebagai suaminya, Yaya masih ragu untuk membicarakan hal yang menyangkut masalah pribadi pada pemuda itu. "Pe-persediaan pembalutku sudah hampir habis. Aku lupa membelinya kemarin saat belanja persediaan bulanan. Bisa—bisa tolong belikan untukku?" Yaya bertanya malu.
"Tentu saja bisa, sweetheart," Taufan tersenyum geli melihat sikap malu-malu Yaya.
"Ta-tapi kau tidak perlu membelinya sekarang kalau memang tidak mau. Lagipula kau baru pulang dari kantor, pasti capek, 'kan? Aku akan pergi membelinya sendiri besok dan—"
"Ssshhh," Taufan memotong celotehan Yaya. "Tak perlu sungkan begitu, sweetheart. Aku akan membelikannya untukmu."
"Tapi—"
"Sudahlah. Kau istirahat saja dulu, oke? Aku akan pergi membelinya," Taufan membungkuk dan mengecup sekilas kening Yaya sebelum beranjak untuk mengambil jaketnya. "Ada yang lain yang kau butuhkan, sweetheart? Biar sekalian kubelikan."
"Tidak, cuma itu saja ..." Yaya bangkit perlahan dari tempat tidurnya dan mengawasi Taufan yang tengah bersiap-siap. "Taufan, kau sudah makan malam?"
"Eh? Oh, iya, aku lupa belum makan malam," ujar Taufan, meringis pelan. "Tak apa. Aku akan makan saat pulang nanti. Lagipula ada minimarket tak jauh dari sini, cuma beberapa menit berjalan kaki. Aku bisa membelinya di sana."
Taufan selesai mengancingkan jaketnya, tak lupa menyambar topi yang kemudian dipakainya miring menghadap ke samping.
"Aku pergi dulu, sweetheart," pamit Taufan. "Istirahat saja di sini, oke? Telpon aku kalau ada apa-apa."
Yaya mengangguk. Taufan tersenyum puas, lalu bergegas melangkahkan kaki pergi meninggalkan Yaya seorang diri di kamar.
.
.
.
Yaya terbangun dari tidurnya dengan sedikit sentakan. Suasana kamarnya gelap tanpa penerangan. Tangan Yaya bergerak meraba tempat tidur di sebelahnya dan tidak mendapati Taufan di sana. Ia melirik jam digital di nakas yang menyala samar di tengah kegelapan. Sudah lewat tengah malam. Di mana Taufan?
Sepelan mungkin, Yaya menarik dirinya bangun dari kasur dan menyalakan lampu tidur di nakas. Perutnya masih terasa kram, meski tidak separah tadi. Cahaya redup lampu yan baru dinyalakan membuat Yaya bisa melihat dua bungkusan plastik besar yang tadi tak bisa dilihatnya dalam keadaan gelap.
Yaya membuka kantung plastik yang pertama dan mengintip isinya. Ia meringis melihat tumpukan berbagai jenis pembalut yang dibelikan Taufan untuknya. Secarik kertas tipis yang diselipkan di sana menarik perhatian Yaya. Gadis itu menariknya dan membaca isinya.
'Aku tidak tahu harus membeli yang mana. Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi kau tidak mengangkat, jadi kupikir kau sudah tidur. Karena itu aku beli saja semuanya.'
Yaya menggelengkan kepala, mau tak mau tersenyum geli membaca pesan yang ditinggalkan Taufan untuknya.
"Dasar ... Ini namanya pemborosan, Taufan ..." Yaya bergumam kecil, dan hanya bisa menghela napas pasrah. Ia lalu meraih bungkusan plastik yang kedua, yang isinya ternyata lebih membuat Yaya terkejut.
"Cokelat?"
Yaya memandang heran berbagai macam bungkusan cokelat di dalam kantung plastik. Beberapa cokelat batangan besar berbagai rasa, biskuit cokelat, bahkan permen cokelat dengan bungkusan warna-warni ada di sana. Secarik pesan lain juga diselipkan Taufan di antara tumpukan cokelat.
'Cokelat bagus untuk memperbaiki mood. Aku tidak ingin terus-terusan jadi pelampiasan amarahmu saat kau sedang PMS, sweetheart.'
Kali ini Yaya tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Ia mengambil salah satu cokelat batangan dan merobek bungkusnya, kemudian menggigit isinya. Rasa manis berpadu pahit terasa lumer di dalam mulutnya, dan Yaya memang merasa jauh lebih baik.
Yaya meletakkan kembali kantung-kantung plastik itu di nakas, kemudian beranjak keluar kamar untuk mencari Taufan. Ia mendapati pemuda itu telah terlelap di sofa, dengan laptop yang masih menyala menampilkan dokumen berisi diagram-diagram kurva yang tak dimengerti Yaya.
"Taufan ..."
Yaya mengguncang tubuh Taufan pelan. Tak ada reaksi. Ia mengguncang lebih keras hingga Taufan akhirnya menggeliat dan membuka sebelah matanya.
"Yaya?" gumam Taufan serak.
"Jangan tidur di sini, kau bisa masuk angin," kata Yaya lembut.
Taufan memaksa dirinya bangkit seraya menguap lebar. Ia mengucek matanya beberapa kali untuk menghilangkan kantuk.
"Apa aku ketiduran? Seingatku tadi aku masih mengetik laporan," ucapnya dengan suara tak jelas karena mengantuk.
"Pasti kau kecapekan. Di kantor 'kan sudah lembur, masa' di rumah juga masih harus mengerjakan laporan?"
"Yah ... mau bagaimana lagi ..." Taufan kembali menguap lebar dan merebahkan kepalanya di bahu Yaya. "Banyak kerjaan, sih ..."
Yaya berdecak tak sabar. "Jangan memaksakan diri, Taufan. Nanti kalau kau sakit, bagaimana?"
"Aw ... apa kau mengkhawatirkanku, sweetheart?"
"Tentu saja aku khawatir. Kalau kau sakit 'kan nanti aku yang bakal repot harus mengurusmu."
"Yaya jahat, ih. Masa' aku dibilang merepotkan?"
"Kau memang selalu membuatku repot, Taufan."
Taufan memanyunkan bibir sebal, membuat Yaya terkikik geli dan tanpa sadar mengusap kepala pemuda itu penuh sayang. Hal itu cukup untuk membuat rasa sebal Taufan hilang sementara ia bergelayut seperti kucing di bahu Yaya, menikmati usapannya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan sakit perutmu? Sudah mendingan?" tanay Taufan.
"Ya, sudah mendingan," Yaya mengangguk kecil. "Aku juga sudah makan salah satu cokelat yang kau belikan, jadi aku merasa jauh lebih baik sekarang.
"Nah, benar 'kan apa kataku, cokelat itu memang yang paling ampuh untuk memperbaiki mood seperti apa pun," ucap Taufan puas.
"Ya, tapi tak perlu membeli sebanyak itu juga, Taufan. Itu namanya pemborosan, tau!"
"Tidak apa, dong. Yang penting aku selamat dari amukanmu. Iya, 'kan?"
"Kau mau aku ngamuk beneran sekarang?"
"Jangan, dong, sweetheart. Ini sudah tengah malam. Kau tidak mau para tetangga bangun dan lapor polisi karena mendengar kegaduhan kita, 'kan?"
"Ah, benar juga, sudah lewat tengah malam," Yaya melirik jam yang tergantung di dinding. "Kalau begitu lebih baik kita tidur sekarang."
"Nah, itu ide bagus," Taufan mengangguk setuju. "Pergilah tidur duluan, sweetheart. Aku harus menyelesaikan laporan ini dulu dan—"
"Tidak, tidak, kau juga harus segera tidur, Taufan," kata Yaya.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi. Matikan laptop dan tidur. Cepat," perintah Yaya.
Taufan tak bisa lagi membantah dan hanya mengangguk pasrah. Yaya mengawasi sementara Taufan menyimpan dokumen laporan kemudian mematikan laptop seperti yang ia perintahkan.
"Kau duluan saja ke kamar, Ya. Aku mau ke toilet dulu, sekalian sikat gigi," kata Taufan.
"Baiklah," Yaya mengangguk dan beranjak kembali ke kamar. "Jangan lanjut bergadang lagi, lho."
"Tidak, kok. Sungguh."
Yaya akhirnya melangkah kembali ke kamar mereka dengan membawa laptop Taufan agar sang suami menepati janji untuk tidak lanjut bergadang lagi.
.
.
.
"Kenapa lama sekali, Taufan?"
Yaya tengah duduk bersender di tempat tidur sambil membaca novel saat Taufan akhirnya melangkah masuk ke kamar tiga puluh menit kemudian.
"Ah, maaf. Barusan Gempa menelepon, jadi aku ngobrol dengannya sebentar," jelas Taufan seraya menghempaskan diri di kasur. Memang benar, sang adik sempat meneleponnya beberapa menit yang lalu, meski bukan hal itu yang sebenarnya membuat Taufan kembali cukup lama.
"Oh, ya? Gempa telepon? Dia bilang apa?"
"Dia bilang akan kembali ke sini tak lama lagi —ke Kuala Lumpur— untuk mengunjungi kita."
"Serius? Kapan?"
"Entahlah. Gempa bilang akan mengabari tentang tanggal keberangkatannya nanti."
Yaya mengangguk-angguk kecil. "Wah, aku tak sabar ingin bertemu dengan kedua saudaramu. Apa Halilintar juga ikut?"
"Ah, benar juga, aku lupa bertanya tentang Hali," ujar Taufan, baru ingat kalau ia tadi lupa menanyakan tentang kakak kembarnya itu. "Aku akan bertanya lagi nanti."
"Oke."
Taufan bergelung masuk ke balik selimut, sementara Yaya menutup novelnya dan mematikan lampu tidur. Yaya lalu otomatis beringsut mendekati Taufan yang telah menunggunya dengan tangan terbuka.
Sejak tidur dalam dekapan Taufan terbukti ampuh untuk mengusir mimpi-mimpi buruk Yaya, gadis itu tak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak lagi jika Taufan tidak memeluknya saat tidur. Tanpa Yaya sadari, ia sepertinya mulai bergantung dengan keberadaan Taufan. Meski tentu saja, Yaya tak akan pernah mau mengakuinya.
"Taufan ..."
"Hm?"
"Apa yang akan kau lakukan kalau kau tidak dojodohkan dan dipaksa menikah denganku?" tanya Yaya tiba-tiba.
"Eh, aku tidak merasa dipaksa menikah denganmu, kok, sweetheart," bantah Taufan, kedengaran tidak terlalu meyakinkan. "Yah ... meski jika boleh memilih, aku tentu akan lebih senang jika istri yang sedang tidur dalam pelukanku sekarang adalah gadis-gadis seperti Emma Watson, Jennifer Lawrence, Keira Knightley, atau yang lainnya ..."
Taufan mengaduh saat Yaya memukul perutnya sedikit keras, kemudian langsung berbalik tidur memunggunginya.
"Oh, ayolah, sweetheart, jangan ngambek lagi, dong. Kau 'kan tahu aku cuma bercanda," Taufan mengeluh pelan. Tapi Yaya tidak berbalik dan tetap memilih menghadapkan punggungnya pada Taufan. "Yah, baiklah kalau kau memang mau ngambek. Aku bakal ngambek juga, nih," ancam Taufan.
"Ya sudah, ngambek aja sana," ucap Yaya ketus.
"Ok, fine. Ayo kita ngambek-ngambekan," putus Taufan akhirnya. "Yang mengajak berbaikan duluan dianggap kalah dan harus membayar konsekuensi. Deal?"
"Deal."
Taufan lalu ikut membalikkan punggungnya, hingga mereka berdua kini tidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain. Sepuluh menit kemudian, Yaya mengaku kalah lebih dulu dengan beringsut kembali ke arah Taufan dan memeluk pemud aitu dari belakang.
"Kau kalah, sweetheart," bisik Taufan saat kembali menghadapkan diri pada Yaya dan mendekap gadis itu di dadanya.
"Aku tidak mengajak berbaikan, berarti aku tidak kalah," gumam Yaya samar dengan wajah terbenam di balik kaus Taufan.
"Dasar tsundere," Taufan mengusap gemas helaian rambut Yaya dan memeluknya lebih erat. "Selamat tidur, Yaya."
"Selamat tidur, Taufan."
.
.
.
to be continued
A/N :
Kayaknya aku udah pernah bilang, dari awal aku meniatkan fanfik ini cuma jadi cerita ringan aja, tanpa konflik yang terlalu berat. Tapi emang dasarnya aku demen yang ngedrama sih ya, jadi nggak tahan juga untuk nggak nambahin sedikit bumbu-bumbu di sana-sini (?)
Tapi jangan khawatir, aku bakal usahain humornya tetap ada, kok. Walau mungkin makin lama nanti makin garing /yha
Oh iya, ngomong-ngomong soal alur, sebenarnya dari chapter satu sampai sepuluh kemarin itu waktu yang berlalu baru seminggu sejak pernikahan TauYa, tapi di sini langsung loncat sebulan setelahnya. Kalau ngerasa aneh, ilang aja nggak apa, kok. Aku beneran bingung gimana cara ngemajuin alurnya sampai ke ending tanpa keliatan maksa, soalnya aku pengen cepat namatin ini juga sebelum mood buat nulis beneran ilang.
Aku jarang update fanfik belakangan juga sebenarnya bukan karena malas (walau itu termasuk salah satu faktornya juga /plak), tapi karna beneran udah nggak ada feel buat lanjut nulis. Sampai kepikiran buat discontinue semua fic aja, daripada PHP terus 'kan ... Mudah-mudahan aja nggak beneran sampe kayak gitu sih ...
Ah, aku kebanyakan curhat lagi. Makasih banyak buat yang udah menyempatkan diri membaca fanfik ini, dan juga yang udah setia nungguin updatenya yang makin ngaret.
Semoga kita bisa bertemu di chapter berikutnya! (p.s. jangan lupa review ya~ *wink*
.
.
.
Extra
Taufan menghitung butiran pil obat di tangannya, memastikan jumlahnya sudah tepat, sebelum memasukkan semua ke dalam mulutnya. Ia memejamkan mata dengan ekspresi mengernyit saat obat-obat pahit itu turun melewati kerongkongannya. Taufan meneguk habis segelas air setelahnya, masih dengan wajah berkerut karena rasa pahit yang tak kunjung hilang diari mulutnya.
Taufan tak pernah suka minum obat, meski itu hal yang sama sekali tak pernah bisa dihindarinya.
Butuh beberapa saat hingga efek mual setelah minum obatnya memudar. Taufan akhirnya membuka kedua matanya dan memandangi pantulan dirinya di cermin. Iris sebiru lautan dalam balas memandangnya lekat, sebelum ia akhirnya berpaling seraya menghela napas panjang.
Taufan lalu membasuh muka dengan air dingin untuk menjernihkan pikirannya yang sedikit keruh. Ia baru saja hendak berbalik keluar dari kamar mandi, saat ponsel di sakunya mendadak berdering. Taufan menatap heran nama sang adik yang tertera di sana sebelum mengangkat panggilannya.
"Gempa? Tumben menelepon jam segini. Ada apa?" Taufan tahu di London, tempat Gempa berada, hari masih sore dan belum tengah malam seperti di sini, namun Gempa biasanya juga mengetahui hal yang sama dan tak pernah menelepon Taufan di jam-jam seperti ini.
"Aku hanya tiba-tiba khawatir," Gempa membalas dari seberang telepon. "Kau baik-baik saja?"
"Duh, adikku tersayang sedang mengkhawatirkanku, ya? Aku jadi terha—"
"Taufan, aku serius. Mama juga sejak tadi terus menanyakanmu. Kau tidak apa-apa, 'kan?"
Taufan terdiam beberapa saat. Ia sedikit menyesali sikapp over-protektif keluarganya yang kadang dirasanya terlalu berlebihan. Tapi Taufan juga tak bisa menyalahkan mereka, mengingat beberapa insiden yang terjadi di masa lalu.
"Hanya sedikit kumat," Taufan akhirnya menjawab lirih. "Tapi aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Kau sudah periksa ke rumah sakit?"
"Sudah. Dokter memberiku obat yang biasa, dan aku baru saja minum semuanya."
"Syukurlah kalau begitu."
Taufan mendengar Gempa mendesah lega di seberang telepon. Sejenak suasana hening di antara mereka, sampai akhirnya Gempa kembali membuka suara.
"Kau ... sudah memberi tahu Yaya?" Gempa bertanya hati-hati.
"Belum," Taufan menghela napas berat. "Aku tidak bisa memberitahunya. Aku tidak ingin dia sampai terpukul lagi seperti waktu itu."
"Tapi menurutku Yaya perlu tahu. Supaya dia juga bisa ... mengawasimu."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Gempa. Tak perlu cemas."
Gempa sepertinya menyadari perubahan dalam nada bicara Taufan, membuatnya bungkam tak tahu harus membalas apa lagi.
Taufan menunggu sejenak, namun saat dirasanya tak ada lagi yang ingin disampaikan Gempa, ia memilih untuk mengakhiri telepon lebih dulu.
"Ah, Gempa, di sini sudah larut. Aku harus segera tidur. Yaya sudah menunggu," ujar Taufan, berusaha menjaga suaranya tetap terdengar normal.
"Baiklah, selamat tidur kalau begitu. Sampaikan salamku untuk Yaya."
"Akan kusampaikan."
Taufan sudah hendak memutuskan panggilan, namun suara Gempa kembali menahannya.
"Ah, aku hampir lupa memberitahumu. Aku sudah menyelesaikan tugas akhirku. Aku akan punya waktu beberapa minggu untuk liburan sebelum wisud," terang Gempa.
"Oh, ya? Jadi kau mau pergi liburan? Ke mana?"
"Yah ... aku berpikir untuk kembali ke Kuala Lumpur, untuk mengunjungimu dan Yaya. Bagaimana menurutmu?"
.
.
.
