Get Married

Chapter 12 : Happy Birthday, Sweetheart

A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.

Warning(s) : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah.

.

.

.

Aroma kopi yang menguar di udara membuat Yaya kesulitan untuk menahan bibirnya agar tak tertarik menyamping. Bayangan sosok si pecinta kopi yang selalu merengek setiap pagi dan malam minta dibuatkan minuman pekat dan pahit itu, menyusup masuk ke dalam benak Yaya tanpa dapat dicegah. Ia diam-diam tersenyum kecil, lalu menyesap kembali vanila milkshake dari gelasnya.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Ying memandang Yaya dengan mata menyipit heran.

"Tidak apa-apa, kok," Yaya membalas kalem.

Ying mencibir. "Huh, enaknya yang sedang dimabuk cinta," gumamnya seraya mengaduk-aduk jus di gelasnya.

"Siapa bilang aku dimabuk cinta?" bantah Yaya.

"Yaya, aku lebih berpengalaman tentang hal ini daripada kau, oke? Jadi kau tak bisa membohongiku," ujar Ying dengan nada sok. Yaya memutar bola matanya malas.

"Iya, iya. Maafkan aku yang masih belum berpengalaman ini," tukas Yaya masam. "Jadi, kenapa hari ini kau mengajakku bertemu?" tanyanya, mencoba mengganti topik.

"Memangnya aku tidak boleh mengajakmu bertemu lagi? Mentang-mentang sudah punya suami kau jadi mau mengesampingkanku, begitu?"

"Ya ampun, Ying. Kau ini kenapa mendadak jadi sensitif sekali? Sedang PMS?"

Ying memanyunkan bibir cemberut. "Bukan apa-apa," tukasnya.

"Bertengkar dengan Fang?" tebak Yaya.

"Ya, begitulah ..."

"Sudah kuduga." Yaya mengangguk-angguk penuh simpati. "Bertengkar karena apa?"

"Kami berdebat tentang beberapa hal. Akademinya sedang libur, tapi dia hampir tak pernah mengunjungiku sekalipun. Dia bahkan tak pernah mengajakku kencan lagi dengan alasan sibuk. Sibuk apa coba saat sedang liburan?" Ying berujar kesal.

"Mungkin dia memang sedang sibuk mengurus beberapa hal," hibur Yaya.

"Sibuk apaan. Aku curiga jangan-jangan dia punya kekasih gelap," kata Ying murung.

"Jangan berburuk sangka dulu, ah."

Ying menghela napas panjang. "Dan kau tahu apa?" Ekspresinya yang tadi sempat murung, kembali terlihat berapi-api. "Setelah kami bertengkar hebat dua hari yang lalu, dia tidak menghubungiku sama sekali! Dan aku baru dapat kabar pagi ini kalau dia sudah pergi ke Seoul."

"Seoul? Untuk apa?" Yaya mengernyit heran.

"Katanya mau mengunjungi Kaizo."

"Kaizo? Oh, kakaknya?"

Ying mengangguk. "Aku tak percaya dia pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa padaku. Bahkan tanpa mencoba berbaikan. Mungkin hubungan kami sudah mencapai batasnya ..." Wajah Ying kembali meredup.

"Jangan bilang begitu. Kurasa Fang hanya perlu menenangkan diri sejenak. Dia pasti merasa jenuh. Kau tahu 'kan dia sibuk sekali sejak masuk ke akademi polisi itu," Yaya mencoba menghibur sahabatnya. "Dia pasti akan menghubungimu saat pikirannya sudah kembali jernih."

"Kuharap begitu ..." gumam Ying. Ia mendesah pelan dan menghabiskan jusnya dalam sekali tegukan. "Tunggu, kenapa kita jadi membahas hubunganku dengan Fang, sih? Aku mengajakmu ke sini 'kan bukan untuk itu," Ying menggerutu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

"Selamat ulang tahun, Yaya," ucap Ying ceria, menyodorkan sebuah bungkusan terbalut kertas kado merah muda pada Yaya.

Yaya terlihat sedikit terkejut saat menerimanya. "Hari ini ulang tahunku?" tanyanya bingung.

Ying berdecak pelan. "Kau ini, masa' ulang tahun sendiri bisa lupa?"

"Yah, wajar, 'kan .. Aku punya banyak hal lain yang harus dipikirkan beberapa waktu belakangan."

"Yah, memikirkan Taufan memang menguras banyak isi pikiranmu, kurasa," Ying menyeringai jahil.

"Siapa bilang aku memikirkan Taufan?"

"Lho, memangnya bukan? Kau 'kan istrinya, masa' tidak memikirkan suami sendiri, sih?"

"Berhentilah menggodaku, Ying," sungut Yaya sebal. "Ngomong-ngomong, terima kasih untuk kadonya."

"Ya, sama-sama," Ying membalas seraya tersenyum kecil. "Padahal aku ingin kita merayakannya dengan teman-teman seperti biasa, tapi kau pernah bilang tidak ingin dirayakan lagi, 'kan?"

"Yah, kita 'kan sudah besar. Sudah 20 tahun, Ying. Buat apa merayakan ulang tahun segala?"

"Benar juga, sih ..." Ying mengangguk-angguk kecil. "Oh, iya, Taufan memberimu hadiah apa?"

"Dia tidak memberi apa-apa."

"Masa'?"

"Taufan sepertinya tidak tahu hari ulang tahunku," Yaya mengangkat bahu.

"Masa' dia tidak tahu? Tanggal lahir kalian 'kan tertulis di buku nikah. Memangnya dia tidak membaca buku nikahnya?"

"Mungkin Taufan lupa. Dia punya penyakit lupa yang parah sekali, kau tahu." Yaya memasukkan kado pemberian Ying ke dalam tasnya, untunglah muat. "Dia melupakan banyak hal setiap hari. Taufan bahkan pernah lupa bahwa dia membawa mobil ke kantor, dan malah pulang naik taksi."

"Serius?" Ying tergelak.

"He eh," Yaya mengangguk, ikut tertawa kecil. "Dia memang konyol sekali."

"Sepertinya hubungan kalian sudah berjalan semakin baik. Tidak bertengkar lagi?" tanya Ying.

"Yah, kami masih bertengkar, sesekali. Kau tahu Taufan seperti apa. Sulit untuk terus bersabar dengan sikapnya yang seperti itu," Yaya menggelengkan kepala pelan. "Tapi, yah ... kurasa hubungan kami memang sudah lebih baik."

"Baguslah. Hidupku terasa jauh lebih tenang tanpa harus terlibat dalam pertengkaran kalian lagi," jar Ying kalem.

Yaya merengut jengkel mendengar ucapan sahabat berkacamatanya itu. Ia kembali menyesap milkshake-nya, seraya mengamati pemandangan di luar jendela dari cafe tempat mereka erada.

"Ngomong-ngomong, Ya, kapan aku akan punya keponakan?" tanya Ying tiba-tiba.

Yaya tersedak keras. Ia tak sengaja menyenggol jatuh gelasnya, namun Ying berhasil menangkapnya tepat waktu sebelum minuman di dalamnya tumpah.

"A-apa maksudmu dengan keponakan?" tanya Yaya di sela-sela batuknya.

"Eh? Kalau kau dan Taufan punya anak, berarti anak kalian akan jadi keponakanku, 'kan? Kau pernah bilang kalau sudah menganggapku seperti saudaramu sendiri," jawab Ying dengan wajah tanpa dosa.

"I-iya, sih ... Tapi kenapa harus membahas anak?" Yaya bertanya gugup.

"Lho, memangnya kenapa? Wajar 'kan, membahas tentang itu dengan pasangan yang sudah menikah?"

"Tapi ... aku dan Taufan sama sekali belum membicarakan tentang hal itu ..." gumam Yaya pelan.

"Ah, begitu ..." Ying mengangguk mengerti. "Tapi bukankah itu hal penting yang harus dibicarakan bersama? Apalagi kalian masih sama-sama muda, jadi harus diskusikan tentang baik dan buruknya. Bagaimana kalau nanti kau hamil dan kalian belum mempersiapkan apa-apa? 'Kan bisa repot ..."

"Umm ..." Yaya meringis dan menggigit bibirnya gelisah. "Aku tidak akan hamil, kok. Kami 'kan sama sekali belum pernah melakukan ... 'itu' ..." gumamnya, pelan sekali.

Ying membelalak. "Yang benar?!" tanyanya, sedikit terlalu keras, membuat beberapa pengunjung melirik ke arah mereka. Ying hanya bisa meringis dan menunduk meminta maaf. Ia kemudian membungkukkan badan dan berbisik dengan suara pelan. "Yang benar? Kau dan Taufan belum ...?"

Yaya menggeleng gugup. "Aku ... masih terlalu takut untuk memulai. Dan Taufan juga tidak pernah membahas hal itu lagi, jadi kupikir tidak masalah ..."

Ying kembali menegakkan diri dan menghela napas panjang. "Yah ... itu memang bukan hal yang bisa dipaksakan, sih ... apalagi kalau kau memang belum siap," ujarnya.

"Aku memang belum siap. Entah kenapa setiap kali memikirkan hal itu aku jadi ketakutan sendiri. Apa menurutmu aku ini aneh?" tanya Yaya cemas.

"Tidak juga," balas Ying sambil menimbang-nimbang. "Mungkin karena ini pertama kalinya bagimu menjalin hubungan dengan laki-laki. Jadi segala hal terasa lebih menakutkan. Meski kalau dipikir-pikir sedikit aneh juga, sih. Bagaimana pun kau dan Taufan sudah menikah."

"Aku tahu ..." Yaya mendesah pelan. "Tapi, tetap saja ... ini masih terlalu sulit untukku ..."

"Tak apa, jangan dipaksakan ..." Ying menepuk pelan lengan Yaya, berusaha menghiburnya. "Tak perlu buru-buru. Biarkan saja semua mengalir apa adanya."

"Terima kasih, Ying," ucap Yaya, tersenyum kecil.

"Sama-sama," balas Ying, ikut tersenyum. Ekspresinya kemudian berubah serius lagi. "Tapi, jika mengesampingkan masalah 'itu'," Ying membuat tanda kutip dengan dua jarinya. "Apa kau pernah berpikir ... ingin segera punya anak?"

Yaya menunduk memandang jari-jarinya yang saling bertaut. "Entahlah ... aku juga tidak yakin ..."

.

.

.

Taufan memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan melepas sabuk pengaman, bersiap turun. Ia mengambil sebuah paket berukuran sedang dari jok belakang dan menoleh pada Yaya di bangku penumpang.

"Tunggu sebentar, ya, sweetheart. Aku hanya harus menitipkan paket ini sebentar. Tidak lama, kok," ujarnya.

Yaya mengangguk dan tersenyum kecil, "oke."

Taufan bergegas turun dan harus berlari kecil untuk menghindari terpaan gerimis yang turun sejak beberapa menit lalu. Yaya memandang sosok Taufan yang menghilang di balik pintu kantor pos, dan menghembuskan napas panjang.

Sepasang manik karamel Yaya bergulir, mengalihkan tatapannya ke pemandangan di luar jendela, menatap tetes-tetes hujan yang turun dari awan kelabu yang menggelayut di atas kota. Gerimis sama sekali tak menghalangi orang-orang untuk beraktifitas seperti biasa. Mobil-mobil padat memenuhi jalanan, menciptakan keriuhan yang tiada henti di kota yang selalu sibuk ini. Para pejalan kaki melangkah sedikit tergesa agar bisa segera tiba di tujuan mereka sebelum hujan semakin deras.

Pandangan Yaya terpaku pada dua sosok anak kecil yang tengah berjalan bergandengan di bawah payung kecil mereka di seberang jalan. Keduanya tertawa dan berbicara dengan nada ceria pada sang ibu yang berjalan di sebelah mereka. Sang ibu tersenyum, dan sesekali ikut menanggapi celotehan kedua buah hatinya.

Yaya kembali merasakan sengatan aneh seperti yang tadi dirasakannya saat mengobrol dengan Ying. Perasaan cemas, sekaligus takut, yang tak bisa dijelaskannya setiap kali memikirkan tentang gagasan memiliki anak. Sebenarnya, Yaya sama sekali tak menyangka ia harus memikirkan masalah ini begitu cepat. Yaya menganggap ia masih punya banyak waktu untuk mempermasalahkan hal itu. Masih banyak hal yang ingin dilakukannya. Dan memiliki anak jelas tak pernah masuk dalam daftar keinginannya.

Hidupnya jadi berubah drastis setelah perjodohannya dengan Taufan. Pernikahannya yang begitu mendadak dengan seorang pemuda yang bahkan sama sekali tak dikenalnya, membuat Yaya kadang bertanya-tanya apa takdir sedang mempermainkannya. Meski sekarang ia sudah tak terlalu merisaukan hal itu, dan mulai menerima Taufan dalam hidupnya, namun Yaya tak bisa mencegah dirinya untuk tidak membayangkan seperti apa hidupnya saat ini jika perjodohan itu tak pernah terjadi. Pasti ia tak perlu memikirkan hal-hal seperti ini sekarang, 'kan?

Suara pintu mobil yang dibuka menyentak Yaya dari lamunannya. Ia menoleh dan melihat Taufan masuk kembali ke dalam mobil, sedikit menggigil karena terpaan hujan di luar yang entah sejak kapan semakin menderas.

"Sudah selesai?" tanya Yaya, menjaga suaranya agar terdengar normal.

Taufan mengangguk. Ia bergidik sedikit saat menyalakan pemanas, kemudian mulai menghidupkan mobil.

Yaya mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dan dengan hati-hati mengelap wajah Taufan yang wajah. "'Kan sudah kubilang aku bawa payung, kenapa tidak dipakai saja, sih? Jadi basah begini, kan. Bagaimana kalau nanti kau sakit?" omelnya.

Taufan terkekeh. "Cuma basah sedikit, sweetheart. Tak perlu cemas."

Yaya berdecak pelan, meletakkan sapu tangannya yang basah di atas dashboard. "Jangan sampai sakit, lho. Sekarang 'kan sedang musim flu," katanya.

"Aku tidak bakal sakit, ko— HATCHU!"

Taufan menggosok hidungnya dan nyengir, sementara Yaya memandangnya galak.

"Tuh, 'kan, baru juga dibilangin. Pokoknya sampai rumah nanti kau harus minum obat, sebelum benar-benar kena flu."

"Iya, iya, Yaya sayang. Aku akan minum obat nanti." Taufan mengusap kepala Yaya gemas, lalu menginjak pedal gas dan meluncur pergi di bawah guyuran hujan.

.

.

.

Our love runs deep like a Chevy

If you fall, I'll fall with you, baby ...

Lantunan lagu dari radio melatar-belakangi suara hujan yang masih betah mengguyur deras di luar. Yaya memandang deretan toko yang berlalu di belakangnya, tenggelam dalam pikirannya sendiri sementara Taufan mengemudi pelan di jalanan yang licin. Sesekali Taufan ikut bersenandung seiring irama lagu. Yaya diam-diam meliriknya gelisah, bertanya-tanya apakah ia harus menyuarakan isi benaknya saat ini.

"Taufan ..." Yaya memanggil pelan.

"No matter how far we go, I want the whole world to know. I want you bad, and I don't want to have it any other way ..." Taufan masih betah bersenandung, dan sepertinya sama sekali tak menyadari panggilan Yaya.

"Taufan," ucap Yaya sedikit lebih keras.

"No matter what the people say, I know that we'll never break. 'Cause our love was made, made in the USA~!*"

"Taufan!" kali ini Yaya berseru cukup keras.

Taufan terlonjak kaget dan menghentikan nyanyiannya. Ia menoleh dan memandang Yaya heran. "Ada apa, sweetheart?" tanyanya. Ia segera mematikan radio dan fokus mendengarkan Yaya.

"Aku ... ingin bicara ..." gumam Yaya.

"Ya, bicara saja. Mau bicara apa?"

"Bagaimana kalau kita berhenti dulu saja? Supaya bisa bicara lebih leluasa," ujar Yaya pelan.

"Eh? Oke. Mau berhenti di restoran saja, sekalian makan malam?" tawar Taufan.

"Tidak, tidak. Aku hanya ingin bicara sebentar."

"Baiklah." Taufan menepikan mobil dan mematikan mesin, lalu berbalik menghadap Yaya dan menunggu gadis itu bicara dengan ekspresi ingin tahu.

"Um, begini ..." Yaya memilin-milin ujung kerudungnya gugup. "Aku ... hanya ingin tahu ... apa kau ... ingin punya anak?"

Pertanyaan Yaya sepertinya di luar dugaan Taufan, karena pemuda itu melebarkan mata heran. "Kenapa kau bertanya begitu, sweetheart?"

"Tidak ... aku hanya berpikir kalau kita mungkin harus mendiskusikan ini ..." Yaya bergumam takut-takut. "Karena ... kau tahu, 'kan ... kita ini suami-istri ..."

Taufan terdiam selama beberapa saat, kemudian mendadak saja ia tertawa kecil, membuat wajah Yaya merona malu.

"Benar juga, ini memang masalah yang harus didiskusikan oleh suami-istri, ya," ujar Taufan. Ia menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dan berpikir sejenak. "Tapi apa menurutmu kita tidak terlalu muda untuk jadi orangtua? Aku sebenarnya tidak berencana ingin punya anak terlalu cepat, tapi kalau kau memang menginginkannya—"

"Tidak, tidak!" Yaya buru-buru menyela. Ia terlihat lega sekali mendengar jawaban Taufan. Ternyata mereka punya pemikiran yang sama tentang masalah ini. "Aku juga memikirkan hal yang sama. Aku hanya khawatir kalau kau mungkin memiliki pendapat yang berbeda," katanya.

Taufan lagi-lagi tertawa kecil dan mengusap puncak kepala Yaya. "Kau terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal kecil, sweetheart. Kita sudah sepakat akan menjalani pernikahan ini pelan-pelan, 'kan? Jadi tak perlu buru-buru dan jangan terlalu khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti, oke? Kita jalani saja apa adanya," ujarnya lembut.

Yaya mengangguk dan memejamkan mata saat Taufan mengecup lembut keningnya. Mungkin di beberapa kesempatan ia menyesali pilihannya menyetujui perjodohannya dengan Taufan, namun saat-saat seperti inilah yang membuat Yaya yakin bahwa keputusannya tak pernah salah. Yaya bersyukur memiliki Taufan sebagai suaminya, hingga ia sendiri mulai merasa takut membayangkan hidupnya tanpa pemuda itu.

Tapi, Yaya yakin, mereka pasti akan bertahan. Benar 'kan?

.

.

.

"Truth or dare?"

"Truth."

"Makanan yang tidak kau sukai?"

"Hmm ..." Taufan memasang pose berpikir. "Sebenarnya aku suka semua makanan, asal halal, sih. Tapi karena aku alergi seafood, dan aku tak bisa memakannya, jadi kurasa aku tak terlalu menyukai seafood," jawabnya setelah menimbang-nimbang sejenak.

"Oke," Yaya mengangguk kecil. Ia kembali memutar botol yang menjadi pusat permainan mereka, dan lagi-lagi tutup botolnya mengarah pada Taufan.

"Kenapa dari tadi aku terus yang kena, sih?" keluh Taufan.

"Botolnya menyukaimu, mungkin," jawab Yaya asal. "Oke, truth or dare?"

"Dare."

"Kau harus mencuci piring setiap hari selama dua bulan ke depan," kata Yaya dengan seringai licik.

"Apa? Mana ada dare seperti itu!" protes Taufan tak terima.

"Tentu saja ada. Tak ada batasan dalam permainan truth or dare ini, 'kan?" balas Yaya enteng.

Taufan memanyunkan bibir cemberut, namun tak bisa membantah. Kali ini ia meraih botol dan memutarnya sendiri. Taufan langsung bersorak senang saat tutup botol mengarah pada Yaya.

"Ha! Truth or dare?" tanyanya.

"Truth."

"Kau lebih suka kalau aku mencium pipi atau bibirmu?"

"Hah? Pertanyaan macam apa itu?" kali ini Yaya yang memprotes jengkel.

"Lho, kenapa? Tak ada batasan dalam permainan truth or dare ini, 'kan?" Taufan menirukan Yaya dengan ekspresi menyebalkan. "Nah, ayo jawab, sweetheart."

Yaya memberengut kesal dan melipat lengannya di depan dada, mencoba menimbang jawaban apa yang harus diberikannya.

"Um ... bi-bibir ..." gumam Yaya lirih. Wajahnya memerah tak berani menatap langsung ke arah Taufan.

"Eh, apa? Aku tidak dengar," goda Taufan. Padahal ia jelas mendengar jawaban Yaya barusan.

"Bibir!" Yaya berkata lantang tanpa sadar. "Aku lebih suka saat kau mencium bibirku."

Taufan menahan diri untuk tidak tertawa melihat betapa merahnya wajah Yaya. Ia yakin gadis itu akan meninjunya kalau berani tertawa, maka Taufan berusaha keras menjaga ekspresinya tetap normal.

"Oke, aku senang kau mau jujur, sweetheart," Taufan kembali menggoda istrinya itu. Ia sedikit memajukan tubuhnya dan secepat kilat mengecup bibir Yaya.

"Apa yang kau lakukan?!" Yaya memekik kaget dan buru-buru menjauhkan diri.

"Aku hanya memberi hadiah karena kau sudah jujur, sweetheart. Kau bilang kau menyukainya, 'kan?" Taufan menyeringai lebar. Ia buru-buru menjauh saat melihat Yaya memasang kuda-kuda untuk menyerangnya. "Oke, oke, aku cuma bercanda, sweetheart. Tak perlu marah. Kita lanjutkan saja permainannya, ya?"

Yaya terlihat tak ingin melanjutkan lagi permainan ini, namun akhirnya ia tetap mengangguk kecil. Meski wajahnya masih terlihat masam saat Taufan kembali memutar botol. Taufan kembali mendapat giliran untuk menanyai Yaya.

"Truth or dare, sweetheart?"

"Truth," ketus Yaya. "Awas kalau kau bertanya macam-macam lagi."

"Tidak, kok," Taufan terkekeh pelan. Ia lalu diam sejenak memikirkan pertanyaan yang akan diajukannya. "Oke. Kapan ulang tahunmu, sweetheart?"

"Tanggal 5 Agustus," sahut Yaya singkat.

"5 Agustus, ya ..." Taufan menoleh ke arah kalender, kemudian membelalak kaget. "Tunggu. 5 Agustus 'kan hari ini!"

"Memang iya."

"Jadi hari ini kau ulang tahun?" tanya Taufan tak percaya. Yaya mengangguk. "Kenapa tidak bilang dari tadi?!" Taufan berseru histeris. Ia bangkit dengan begitu mendadak dan langsung menyambar kunci mobilnya.

"Tu-tunggu, Taufan, kau mau ke mana?" tanya Yaya bingung.

"Aku harus mencari hadiah untukmu," kata Taufan. Ia sudah mencapai pintu dan sedang mencari-cari sendalnya dengan panik.

"Tunggu, Taufan. Di luar masih hujan. Kau tidak perlu—"

Sebelum Yaya sempat menahannya, Taufan sudah melangkah pergi dan membanting pintu di belakangnya, meninggalkan Yaya yang hanya bisa mendesah pasrah tak bisa berbuat apa-apa.

.

.

.

Yaya berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu. Beberapa kali ia melirik jam di dinding dan menghela napas panjang. sudah hampir dua jam berlalu, dan Taufan sama sekali belum kembali. Yaya telah mencoba menghubunginya beberapa kali, sampai ia menyadari bahwa Taufan ternyata meninggalkan ponselnya di kamar. Dan Yang membuat Yaya lebih khawatir adalah, Taufan juga lupa membawa dompetnya. Memangnya dia mau ke mana tanpa dompet dan ponsel?

Suara pintu yang dibuka membuat Yaya sontak menoleh. Ia menghembuskan napas lega melihat Taufan akhirnya muncul dengan tubuh basah kuyup, memeluk dua buah boneka besar yang dibungkus plastik transparan, dan juga buket bunga.

"Taufan!"

Yaya bergegas menghampiri sang suami dengan cemas. Taufan terlihat menggigil dari ujung kaki hingga ujung rambut. Air menetes dari pakaiannya dan menggenang di lantai. Meski begitu, cengiran lebar tetap terpampang di wajahnya yang berbinar.

"Aku pulang, sweetheart!" ucapnya riang.

Yaya baru menyadari sesuatu begitu melihat Taufan dari jarak lebih dekat. Ada beberapa lebam di wajahnya, dan bagian kiri pipinya ditutupi dua plester luka yang juga sedikit basah karena hujan.

"Taufan, apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Yaya panik. Ia menyentuh memar yang membiru di bawah mata Taufan, membuat sang suami meringis pelan. "Apa kau kecelakaan? Seseorang memukulimu?"

"Bukan, bukan begitu," ucap Taufan, menggelengkan kepala.

Ia menyerahkan dua boneka yang dibawanya. Boneka kucing berbulu putih bersih dengan dua aksesori berbeda, satu mengenakan pita merah di salah satu kupingnya, sementara yang lain memakai dasi kupu-kupu berwarna biru di bagian leher.

"Sebenarnya tadi aku bingung harus membelikan kado apa untukmu. Lalu aku melewati sebuah toko boneka dan memutuskan masuk ke dalam," jelas Taufan. "Ternyata di sana sedang ada diskon besar, jadi pengunjungnya ramai sekali. Dan aku ... harus berebutan dengan beberapa gadis yang, um ... sedikit 'liar'. Makanya mukaku jadi babak belur begini ..."

"Kau ... berebutan boneka dengan beberapa gadis?" Yaya mengulang tak percaya.

"Yah, begitulah ..." Taufan meringis kecil. Ia berjengit saat Yaya kembali menyentuh salah satu memarnya.

"Ya ampun, Taufan ..." Yaya tak bisa mencegah dirinya tertawa geli mendengar penuturan sang suami. "Kenapa harus berebut segala, sih? Memangnya boneka di sana sudah habis?"

"Tidak, sih ... Tapi aku ingin membelikan boneka kucing ini untukmu. Dan tadinya aku berniat membeli yang berukuran lebih besar, tapi sayangnya aku kalah bertarung dengan seorang anak perempuan yang brutal sekali. Percaya tidak? Dia sampai mencakar wajahku, lihat!" Taufan menunjukkan pipi kirinya yang tertutup plester luka. "Perempuan kalau sudah menyangkut barang diskonan memang langsung berubah mengerikan, ya," ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

Yaya kembali tertawa geli meski mau tak mau ia merasa tak enak juga melihat perjuangan Taufan hanya untuk membelikan boneka itu untuknya.

"Terima kasih sudah berjuang mendapatkan boneka ini untukku," ujar Yaya tulus, menunduk tersenyum pada dua boneka yang kini berada di pelukannya. Ia lalu berjinjit sedikit untuk mencium pipi Taufan. Dingin.

"Taufan, kau harus segera ganti baju. Nanti kau bisa masuk angin," kata Yaya cemas. Ia baru saja hendak berbalik untuk mengambilkan handuk, namun Taufan menahan tangannya.

"Tunggu, masih ada satu lagi."

Taufan menyerahkan sebuket bunga tulip merah yang sudah sedikit layu pada Yaya. "Aku sudah mencari ke beberapa toko bunga, tapi tidak ada yang menjual bunga lavender, semuanya sudah habis. Yang tersisa cuma ini, dan memang sudah tidak terlalu segar lagi karena bunganya dipetik tadi pagi. Jadi—"

Kalimat Taufan terputus saat Yaya tiba-tiba menariknya dalam sebuah pelukan erat, mengabaikan pakaiannya yang masih basah kuyup.

"Terima kasih ..." bisik Yaya, nyaris tak terdengar.

Taufan tersenyum dan balas merengkuh Yaya lebih erat, membiarkan kehangatan tubuh gadis itu mengusir semua rasa dinginnya.

"Happy birthday, sweetheart ..."

.

.

.

to be continued


*Made In USA – Demi Lovato


A/N :

Sebenarnya ini ide buat side story ulang tahun Yaya kemarin, tapi karena nggak bisa selesai tepat waktu jadi dimasukin ke sini aja.

Um, aku nggak tau harus ngomong apa lagi ... Makasih buat yang udah menyempatkan diri membaca. Sampai bertemu di chapter berikutnya~

Balasan review :

nao tomori : ini udah dilanjut. Makasih udah mampir.

Halitha01897 : ini udah lanjut, makasih untuk semangatnya~ ^^ nanti dijelasin kok tentang penyakit Taufan, dutunggu aja ya. Makasih reviewnya~

Vanilla Blue12 : Taufan sembunyyin karena nggak mau bikin Yaya khawatir. Nanti juga dikasih tau tentang penyakitnya, kok, ditunggu aja ya. Kalau soal ending ... liat aja nanti deh ^^ Makasih review dan semangatnya~

ImeL's383 : Makasih atas dukungannya. Dan makasih udah mampir~

IntonPutri Ice Diamond : aha, emang jarang, sih ... biasanya ada di fiksi doang /plak/ Apa hayoo, apaa~~ Nanti juga tau sendiri kok, ditunggu aja~ Ahah, pasti seru dong~ ah, ada typo, ya ... makasih udah telliti. Aku bakal coba perbaiki terus kok x" makasih reviewnya Helau~~

AnginTaufanGalaxy : Ah, Gempa sama Hali belum ada di chapter ini. Mungkin nanti di beberapa chapter ke depan. Semoga sabar menunggu ya x) Makasih banyak untuk kata-kata penyemangatnya. Aku bakal usahain untuk terus update, kok, semoga aja bisa... Author AnginTaufan juga semngat terus nulis fanfic ya! Makasih udah review fanfic ini~~

Shafirameliana : Halo! Maaf, kayaknya aku baru sempat balas review kamu, ya? Makasih banyak, lho, udah sering review di sini, dan di beberapa fanfic lain juga. Maaf nggak bisa balas satu-satu, tapi aku benar-benar berterima kasiiih banget. Ah, makasih untuk pendapatnya. Aku sebenarnya nggak yakin apa alur fanfic ini udah bagus, tapi syukurlah kalau setidaknya nggak keliatan maksa. Untuk penyakit Taufan, nanti bakal diceritain kok, jadi bersabar dikit lagi ya. Um, Gempa bakal muncul beberapa chapter lagi, kalau Hali mungkin masih lama :"D Ah, aku juga nggak pengen discontinue, sih ... Aku bakal usahain buat terus update, kok, doain aja ya :")) Makasih banyak reviewnya~

pw : aku juga berniat mau tamatin fic ini dulu, sih... liat nanti deh. Makasih udah mampir.

Makasih buat semua yang udah menyempatkan diri memberikan review!

.

.

.

Extra

Taufan mengeringkan rambutnya dengan handuk sementara mengawasi Yaya yang tengah mengaduk dua cangkir cokelat panas.

"Kenapa tidak buatkan kopi saja, sih, Ya? Aku 'kan lebih suka minum kopii," rengek Taufan dengan bibir manyun.

"Kalau minum kopi jam segini, nanti kau tidak bisa tidur, Taufan. Aku 'kan sudah bilang tidak boleh bergadang," ucap Yaya datar.

"Aku tidak akan bergadang, kok."

"Jangan bohong. Kau pasti bakal bergadang kalau minum kopi," tukas Yaya. Ia lalu menyerahkan salah satu cangkir cokelat panas pada Taufan. "Minum ini saja. Lebih enak daripada kopi."

Taufan menerima cangkirnya dengan wajah cemberut. Ia menyesap minuman cokelat kental itu dan meringis. "Manis ..."

Yaya tersenyum geli, tahu bahwa Taufan sebenanrya tak terlalu menyukai yang manis-manis. Tapi tetap saja, siapa yang bisa menolak cokelat panas, sih?

"Oh, iya, Taufan," Yaya mendadak teringat sesuatu. "Tadi ... bukannya kau tidak bawa dompet? Bagaimana caranya kau bisa membeli boneka dan buket bunga itu?" tanyanya penasaran.

"Ah, itu ... Aku meminjam uang Gopal," ucap Taufan seraya nyengir tanpa dosa.

"Apa? Serius?" Yaya meletakkan cangkir minumannya dan membelalak tak percaya.

Taufan terkekeh. "Iya, serius. Aku baru sadar lupa bawa dompet saat sudah cukup jauh dari sini. Dan kebetulan, saat itu aku tak sengaja melihat Gopal di salah satu cafe. Jadi sekalian saja aku mampir dan pinjam uang," jelasnya.

"Memangnya Gopal mau meminjamkan uang padamu? Biasanya juga dia yang pinjam duluan."

"Aku cuma menangih uang yang pernah dipinjamnya dariku, kok. Sambil mengancam kalau Hali akan datang ke sini beberapa hari lagi, dan aku bakal lapor ke Hali kalau dia tidak mau memberikan uangnya. Gopal paling takut pada Hali, kau tahu."

Yaya tertawa geli. "Astaga, kau jahat sekali pada teman sendiri."

"Tidak apa, dong. Itu 'kan keadaan darurat," kekeh Taufan.

"Dasar."

Yaya kembali menyesap minumannya, sampai Taufan tiba-tiba mendekatkan tubuhnya pada Yaya dengan kedua tangan terulur.

"Yaya, dingiiin... Mau peluuk," ujar Taufan manja.

"Duh, dingin, ya? Sini, sini, aku peluk."

Yaya merentangkan tangan dan membiarkan Taufan masuk ke dekapannya dan memeluknya erat.

"Sudah hangat?"

Taufan mengangguk-angguk dan tersenyum lebar seperti anak kecil, membuat Yaya tak tahan untuk mengusap-usap kepalanya gemas.

"Mau langsung tidur?" tanya Yaya.

"Hm, boleh deh," Taufan mengangguk setuju. Ia menghabiskan cokelat panasnya dalam sekali tegukan dan bangkit dari kursi. "Ayo kita tidur."

"Tunggu, aku habiskan dulu."

Yaya juga mengosongkan isi cangkirnya dalam sekejap, kemudian membiarkan Taufan menggandeng lengannya ke kamar.

.

.

.