Yaya mengetik serangkaian kalimat terakhir untuk bagian penutup makalah sebelum akhirnya menghela napas lega. Setelah berkutat selama beberapa jam, makalah untuk tugasnya akhirnya selesai juga.

Yaya merenggangkan tubuhnya yang pegal setelah duduk cukup lama di depan laptopnya. Matanya juga sudah sangat lelah. Seandainya Yaya tidak ingat ia harus mengumpulkan ini besok, pasti Yaya telah memilih tidur sejak tadi. Tapi ada satu hal lagi yang membuat Yaya tetap memaksa dirinya terjaga hingga selarut ini.

Pandangan Yaya beralih pada jam dinding di ruang tamu. Jarum jamnya menunjuk pada angka dua lebih sedikit. Yaya lalu menoleh pada pintu apartemennya yang masih betah bergeming meski ia tak bisa berhenti meliriknya sejak berjam-jam yang lalu. Sudah dini hari, namun kenapa Taufan belum juga pulang?

Taufan memang sering lembur di kantornya, tapi tidak pernah sampai selarut ini. Lagipula Taufan juga selalu memberitahunya lebih dulu kalau memang harus lembur. Tapi kali ini Taufan justru sama sekali tak menghubunginya. Ponsel Taufan juga tidak aktif walau Yaya sudah mencoba menghubunginya berkali-kali.

Yaya menyimpan dokumen makalahnya sebelum kemudian mematikan laptop. Diraihnya ponsel yang diletakkan di meja, dan sekali lagi Yaya mencoba menghubungi Taufan. Masih tidak aktif. Yaya merasa semakin cemas. Apa terjadi sesuatu pada Taufan?

Bunyi klik pelan yang berasal dari pintu depan membuat Yaya sontak menolehkan kepala. Batinnya langsung mengucap syukur penuh kelegaan begitu melihat sang suami melangkah masuk dan menutup pintu kembali di belakangnya.

"Taufan!"

Mungkin karena Yaya sudah dihantui kekhawatiran sejak berjam-jam yang lalu, tanpa sadar ia langsung menghambur memeluk Taufan bahkan sebelum suaminya itu mengucapkan salam.

"Taufan, kau dari mana saja?" tanya Yaya setelah melepas pelukannya sesaat kemudian. "Aku terus mencoba meneleponmu, tapi kenapa nomormu tidak aktif?"

Yaya terlihat ingin marah, namun saat melihat wajah lelah Taufan, ekspresinya langsung melunak dan tidak tega untuk mulai mengomel.

"Maaf, maaf. Tadi ... aku harus lembur lagi di kantor," ucap Taufan, tersenyum minta maaf. "Ponselku baterainya habis, dan aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai lupa untuk mengisi ulang baterainya," jelasnya lagi.

"Kau lembur sampai jam segini? Nanti kau bisa jatuh sakit kalau terlalu memaksakan diri, Taufan ..." Yaya berujar khawatir.

"Tenang saja. Aku punya pertahanan tubuh yang bagus, kok. Jadi tidak gampang sakit," Taufan terkekeh pelan. "Kau sendiri kenapa masih bangun jam segini, sweetheart? Kupikir kau sudah tidur."

"Tentu saja aku menunggumu, 'kan? Bagaimana aku bisa tidur kalau kau belum pulang dan sama sekali tidak ada kabar?" Yaya menyilangkan lengan sambil memasang wajah cemberut.

"Iya, iya, maaf sudah membuatmu cemas, sweetheart. Aku janji lain kali akan menghubungimu dulu kalau pulang terlambat." Taufan menarik Yaya mendekat dan mengecup kening sang istri.

Ekspresi Yaya masih terlihat cemberut, meski sesaat kemudian ia kembali terlihat cemas. "Taufan, wajahmu pucat. Kau sakit?"

Yaya baru menyadari betapa pucatnya wajah Taufan. Tadi ia tidak begitu memperhatikan karena terlalu lega melihat Taufan akhirnya pulang. Yaya lalu menyentuh wajah Taufan hati-hati. Dingin.

"Tidak, tidak, aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir, sweet—"

"Tubuhmu dingin sekali, Taufan," Yaya berujar, sedikit panik. Ia menggenggam tangan Taufan dan merasakan kulitnya yang nyaris sedingin es. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi, oke? Apa kau perlu obat? Aku akan coba mencarinya di kotak obat. Apa kau merasa pusing? Mual?"

"Sudah kubilang aku baik-baik saja, Yaya. Tak perlu sampai minum obat sega—"

"Jangan banyak protes, Taufan. Lebih baik sekarang kau ganti baju. Mungkin kau masuk angin. Aku akan menyiapkan air panasnya dulu, oke?"

Sebelum Taufan sempat menjawab lagi, Yaya sudah berlalu meninggalkannya. Taufan hanya bisa mendesah pasrah, tak bisa berbuat apa-apa. Ia akhirnya melangkah sedikit terhuyung ke arah kamar untuk segera berganti baju sebelum Yaya sempat mengomelinya lagi.

.

.

.

Get Married

Chapter 12 : Demam

A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.

Warning(s) : AU, TaufanxYaya, adult!charas, marriage life, OOC parah.

.

.

.

"37,9 derajat ..."

Yaya menghela napas panjang setelah membaca angka yang tertera di termomoter dalam genggamannya. Ia kemudian mendelik pada sang suami yang terbaring tak berdaya di balik selimutnya.

"Makanya, kubilang juga apa. Jangan memaksakan diri, Taufaan ... Lihat, sekarang kau benar-benar sakit, 'kan. Siapa sekarang yang jadi repot? Aku, Taufan, aku," omel Yaya jengkel.

"Yaya ... aku 'kan lagi sakit, masa' tetap diomelin, sih?" Taufan sedikit merengek, meski kemudian ia bergegas menyembunyikan diri di balik gelungan selimut untuk menghindari tatapan maut Yaya. "Aku memang tidak pernah memaksakan diri, Yaya ... Lagian aku memang benar-benar jarang sakit, kok ..." gumam Taufan takut-takut.

"Terus sekarang apa kalau bukan sakit?"

"Yah ... ini pertama kalinya aku sakit sejak 17 tahun terakhir, lho ..."

Yaya kembali melirik Taufan tajam, jelas tak percaya dengan kata-katanya. Taufan hanya nyengir gugup seraya berharap Yaya tidak akan mengomel lagi.

Yaya menghela napas panjang. Ia meletakkan kembali termometer dalam kotak P3K di tangannya, sebelum beranjak bangkit.

"Aku mau membuatkan bubur dulu untuk sarapanmu supaya kau bisa minum obat setelahnya," kata Yaya.

"Oke," sahut Taufan.

"Kau diam saja di tempat tidur. Jangan coba-coba bangun, mengerti?" ucap Yaya dengan nada mengancam.

"Iya, iya, bu dokter. Aku tidak akan ke mana-mana, kok," Taufan tersenyum manis, berharap Yaya akan sedikit luluh. Namun gadis itu hanya mendengus dan langsung melangkah pergi ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Taufan.

.

.

.

"Aku hari ini ada kelas sampai sore," Yaya mengumumkan sementara ia membereskan mangkuk bubur bekas sarapan Taufan dan juga botol obatnya.

"Eeeh, jadi aku sendirian di rumah?"

Yaya mengangguk. "Kau tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Jadi istirahat saja di rumah, oke?" ujarnya lembut. Yaya tidak lagi bersikap segalak tadi. Bagaimanapun juga, Taufan sedang sakit dan butuh perhatiannya sekarang.

"Tapi masa' aku ditinggal sendirian, Ya?" ucap Taufan dengan tampang memelas. "Kau tidak bisa bolos kuliah saja dan menemaniku di sini?" pintanya penuh harap.

Yaya menatap Taufan tajam. "Tidak bisa. Aku harus mengumpulkan makalahku hari ini. Lagipula ada dua mata kuliah yang akan mengadakan kuis. Bagaimana aku bisa bolos?"

"Ayolah, Yayaaa ... Masa' kau tega meninggalkan suamimu yang sedang sakit sendirian di rumah? Nanti kalau aku kenapa-napa, bagaimana?"

Yaya mendesah pelan. Ia menatap Taufan yang masih memasang wajah memelas ala anak kucing, yang sebenarnya sulit untuk ditolak. Tapi mau bagaimana lagi? Meski Yaya sebenarnya juga ingin tinggal di rumah saja dan merawat Taufan, namun ia benar-benar tidak bisa bolos dari kelas-kelasnya hari ini.

"Aku akan berusaha pulang secepatnya," ucap Yaya setelah berpikir sejenak. "Aku tidak bisa bolos kelas pagi dan siang, tapi aku mungkin bisa bolos kelas sore nanti. Jadi aku akan pulang sebelum sore, oke?"

"Yah, baiklah kalau begitu ..."

Taufan mengangguk, meski ia masih terlihat kecewa. Yaya membantu Taufan kembali berbaring dan menarik selimut hingga ke dagunya.

"Istirahat saja di tempat tidur, jangan terlalu banyak bergerak. Aku sudah menyiapkan makan siang dan menyimpannya di lemari, nanti tinggal dipanaskan saja di microwave. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, oke?"

Taufan kembali mengangguk-angguk. Ia memejamkan mata sejenak saat Yaya membungkuk dan mencium keningnya yang masih terasa hangat karena demam.

"Hanya ciuman di kening saja, sweetheart? Tidak ada ciuman di bibir?" ujar Taufan, sedikit tersenyum jahil.

"Nanti, kalau kau sudah sembuh, darling," Yaya melempar senyum jahil yang sama, membuat Taufan memanyunkan bibir cemberut.

Yaya mengangkat nampan berisi mangkuk bubur dan botol obat Taufan, lalu beranjak bangkit dari sisi tempat tidur.

"Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah. Ingat, segera kabari aku kalau ada apa-apa," Yaya kembali mewanti-wanti.

"Iya, sweetheart. Tak perlu secemas itu, aku baik-baik saja," ucap Taufan menenangkan. "Hati-hati di jalan."

Yaya mengangguk dan akhirnya melangkah ke arah pintu. Ia lalu berbalik sejenak untuk mengecek Taufan sekali lagi dan mendapati pemuda itu sudah terlelap di balik selimutnya.

.

.

.

Bunyi nada tunggu di seberang telepon membuat Yaya mau tak mau menghela napas panjang. ini sudah ketiga kalinya ia mencoba menghubungi Taufan di rumah sejak berangkat pagi tadi, namun Taufan tidak mengangkat satupun panggilannya. Yaya berpikir mungkin Taufan sedang tidur, tapi masa' tidur terus sejak pagi dan tidak bangun-bangun?

'Ah, Taufan pasti kecapekan dan butuh istirahat. Mungkin dia memang sedang tidur di rumah,' batin Yaya. Ia pun akhirnya berhenti mencoba menelepon Taufan dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Yaya membuka pintu mobilnya dan melangkah turun. Ia menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Perusahaan sang ayah sekaligus kantor tempat Taufan bekerja. Baru beberapa hari yang lalu Yaya mampir ke tempat ini untuk bertemu Taufan, namun tak ada salahnya jika sekarang ia mampir untuk bertemu ayahnya, 'kan? Sudah lama sejak terakhir kali Yaya menemui papinya langsung di kantor.

Lift yang Yaya naiki berdenting begitu tiba di lantai yang ditujunya. Ia menunggu pintu lift membuka sebelum melangkah keluar. Tepat saat itu, Yaya melihat sang ayah berjalan keluar dari ruang rapat tak jauh darinya bersama beberapa pegawai yang sebagian besar masih dikenali Yaya.

"Papi!"

Ayah Yaya menoleh dan senyumnya langsung mengembang melihat kehadiran putri kesayangannya. Yaya bergegas menghampiri sang ayah dan memberinya pelukan singkat yang sedikit canggung karena masih ada pegawai lain yang memperhatikan mereka.

"Yaya, tumben kau mampir kemari," ujar ayah Yaya senang. "Bukankah hari ini Taufan mengambil cuti? Taufan sakit, 'kan? Apa dia baik-baik saja?"

"Taufan cuma kena demam biasa, Pi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Yaya seraya mengulas senyum tipis.

"Ah, syukurlah kalau begitu." Ayah Yaya mengangguk-angguk. Ia kemudian mengajak Yaya ke ruangannya agar mereka bisa mengobrol lebih bebas. "Ayo, kita bicara di ruangan papi aja. Kau tidak akan langsung pulang, 'kan?"

"Tidak, tidak. Yaya memang datang ke sini karena ada yang ingin Yaya bicarakan dengan papi," kata Yaya.

"Baiklah kalau begitu. Oh, iya, kau sudah makan siang, Yaya?"

"Sudah. Yaya tadi makan siang di kampus."

"Baguslah," ayah Yaya mengangguk kecil. "Kalu begitu ayo kita ke ruangan papi."

Yaya mengikuti sang ayah berjalan ruangannya setelah tersenyum singkat pada para pegawai yang masih berada di sana. Kedua ayah dan anak itu berjalan dalam diam hingga tiba di tujuan mereka. Ayah Yaya meminta sekretarisnya membawakan dua gelas teh untuknya dan Yaya sebelum mengajak Yaya masuk.

"Jadi, bagaimana kabar hubunganmu dengan Taufan?" tanya ayah Yaya begitu mereka berdua sudah duduk nyaman di sofa.

"Eh? Oh, kami baik-baik saja," sahut Yaya.

"Tidak ada masalah, 'kan? Kalian sudah saling membiasakan diri pada satu sama lain?"

"Ya, kami baik-baik saja. Walau awalnya memang terasa canggung, tapi sekarang Yaya sudah merasa lebih nyaman dengan kehadiran Taufan."

"Syukurlah kalau begitu. Papi sedikit khawatir kau mungkin akan kesulitan beradaptasi dengan pernikahan yang begitu mendadak ini," ujar sang ayah.

"Makanya ... papi seharusnya mencegah mami saat mau menjodohkan Yaya begitu mendadak seperti ini. Tapi papi malah mengiyakan saja, sama sekali tidak melakukan apa-apa," Yaya menggembungkan pipi cemberut.

Ayah Yaya terkekeh pelan. "Kau tahu sendiri, mami itu orang yang kerasa kepala. Sekali mami sudah membuat keputusan, tidak ada siapapun yang bisa mengubah pikirannya lagi. Termasuk papi."

"Papi, ih, masa' sama istri sendiri saja kalah," gerutu Yaya. Sang ayah kembali terkekeh.

"Oh, iya. Ngomong-ngomong, hal apa yang ingin kau bicarakan dengan papi sampai datang berkunjung ke kantor seperti ini?"

"Ah, itu ..."

Ucapan Yaya terpotong saat terdengar suata ketukan di pintu, dan sesaat kemudian sekretaris sang ayah masuk dengan membawakan nampan berisi dua cangkir teh.

"Itu ... Yaya mau membicarakan tentang Taufan," Yaya kembali melanjutkan kata-katanya setelah sang sekretaris meninggalkan ruangan dan menutup pintu kembali.

"Kenapa dengan Taufan?"

"Um, bisakah papi sedikit meringankan pekerjaan Taufan? Yaya tidak tega melihat Taufan lembur di kantor setiap hari dan selalu pulang larut. Bahkan sampai jatuh sakit seperti ini. Masa' papi tega membuat menantu sendiri sampai sakit karena kecapekan bekerja?" Yaya mengeluh panjang lebar.

"Lho, papi tidak pernah menyuruh Taufan lembur setiap hari, kok," kata ayah Yaya, sedikit heran mendengar keluhan putrinya. "Papi memang baru memberikan proyek baru untuk dikerjakan oleh Taufan, tapi papi sudah memberitahunya untuk tidak terlalu memaksakan diri. Lagipula karena kondisi Taufan yang— ah, maksud papi, karena papi tidak ingin kau sampai mengkhawatirkan Taufan, papi sudah sedikit meringankan pekerjaannya dibanding pegawai-pegawai yang lain."

"Tapi Taufan tetap lembur setiap hari, papi. Bahkan kemarin Taufan pulang hampir pukul 3 pagi. Yaya sampai khawatir sekali karena Taufan tidak pulang-pulang. Lalu pagi ini dia malah jatuh sakit," terang Yaya.

"Benarkah? Seingat papi kemarin papi bertemu dengan Taufan di lobi saat sama-sama hendak pulang. Dan itu masih sore, lho."

Mata Yaya melebar heran mendengar penjelasan sang ayah. "Yang benar, pi? Taufan kemarin pulang sore?" tanyanya memastikan.

"Iya. Papi yakin waktu itu Taufan memang mau pulang, kok. Atau mungkin dia kembali lagi karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan?"

"Yah, mungkin saja ..." gumam Yaya. Ia menggigit bibirnya, sedikit merasa terganggu dengan cerita sang ayah barusan. Kalau Taufan memang tidak lembur kemarin, lalu dia pergi ke mana hingga pulang begitu larut? "Papi yakin Taufan benar-benar tidak lembur setiap hari di kantor?"

"Yah ... Papi tidak bisa memantau Taufan langsung setiap hari, jadi papi juga tidak bisa memastikan. Tapi papi memang sudah memberi keringanan khusus untuk Taufan, dan papi selalu mewanti-wantinya untuk tidak memaksakan diri dan bekerja terlalu keras. Papi sampai sering mendengar bisik-bisik kalau papi pilih kasih dengan menantu sendiri, lho."

"Kenapa ... papi memberi keringangan khusus untuk Taufan?" tanya Yaya hati-hati.

"Karena ... dia suamimu, 'kan?" sahut ayah Yaya cepat. Yaya memperhatikan bahwa sang ayah segaja menghindari pandangan matanya saat berbicara. "Papi tidak ingin kau sampai khawatir kalau Taufan sampai kecapekan. Lihat, buktinya sekarang kau sampai datang ke sini untuk protes ke papi karena Taufan sakit."

Yaya menundukkan kepala, merasa sedikit tidak enak mendengar ucapan papinya. "Maaf, Yaya bukannya bermaksud protes sama papi ... Yaya hanya khawatir pada Taufan karena dia terlihat terlalu memaksakan diri sejak mulai bekerja," gumamnya.

"Tidak apa, papi mengerti. Sudah sewajarnya kau khawatir," ujar ayah Yaya. Ia mengusap lembut kepala Yaya yang tertutup kerudung merah jambu. "Papi akan coba memantau Taufan untuk ke depannya, oke? Akan papi pastikan dia tidak memaksakan diri lagi."

"Terima kasih, papi," ucap Yaya seraya tersenyum.

"Tidak masalah. Apapun akan papi lakukan asal putri kesayangan papi senang."

Yaya mencondongkan tubuh ke arah sang ayah dan memeluknya erat. "Yaya sayaaang papi," ucapnya. Sang ayah hanya tertawa kecil dan menepuk-nepuk kepala Yaya pelan.

Yaya akhirnya melepas pelukannya dari sang ayah dan mulai menyesap tehnya yang mulai mendingin.

"Ngomong-ngomong Yaya ..." ucap ayah Yaya tiba-tiba.

"Hm?" Yaya mengangkat pandangannya ke arah sang ayah sembari terus meneguk tehnya.

"Mami terus bertanya, kapan kau dan Taufan akan memberinya cucu?"

Pertanyaan itu sukses membuat Yaya langsung menyemburkan tehnya dan tersedak hebat.

.

.

.

"Assalamualaikum, aku pulang."

Yaya mengucap salam seraya melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Tak ada yang menjawab salamnya. Yaya melangkah tanpa suara ke arah kamar dan membuka pintu hati-hati. Benar dugaannya, Taufan memang tengah terlelap. Yaya berjalan sepelan mungkin mendekati tempat tidur, berusaha untuk tidak membangunkan Taufan. Hati-hati, ia menyentuh kening Taufan. Masih terasa panas.

"Demamnya belum turun ..." Yaya bergumam lirih. Ia menyentuh bahu Taufan dan mengguncangnya lembut. "Taufan ..."

Tidak ada tanggapan dari Taufan. Pemuda itu masih bergelung dalam selimutnya dengan mata terpejam.

"Taufan."

Yaya kembali berusaha membangunkan Taufan, dan setelah usahanya yang kelima, barulah Taufan bergerak dan mengerang pelan. Sebelah matanya terbuka dan memandang Yaya dengan sorot mengantuk.

"Yaya? Kau sudah pulang?" gumam Taufan, nyaris tak terdengar.

"Ya, aku baru saja sampai," kata Yaya. "Kau sudah makan siang?" tanyanya.

"Hm? Sekarang jam berapa?" Taufan terlihat enggan keluar dari gelungan selimutnya dan hanya mengintip sedikit ke arah jam digital di atas nakas.

"Hampir jam 4 sore."

"Sudah jam segitu? Aku tidur lumayan lama, ya ..."

"Jangan bilang ... kau tidur terus sejak aku pergi pagi tadi?"

Taufan menguap lebar dan mengangguk pelan. Ia kembali memejamkan mata seraya bergumam, "Hm. Tadi aku sempat terbangun sekitar jam ... 12 siang? Tapi kepalaku pusing sekali dan aku juga masih mengantuk, jadi aku lanjut tidur saja," ujarnya.

"Setidaknya kau harus makan siang dan minum obat, Taufan ..." desah Yaya. "Demammu tidak turun sejak pagi. Kalau kau tidak minum obat nanti kau tidak sembuh-sembuh."

Taufan hanya bergumam tak jelas sebagai balasan. Ia hampir terlelap lagi jika saja Yaya tidak mengguncang tubuhnya dan memaksanya membuka mata kembali.

"Jangan tidur lagi, Taufan. Kau harus makan siang. Setelah itu minum obat," tukas Yaya sedikit galak.

"Tapi aku ngantuk, Yayaa ... aku mau tidur ..." rengek Taufan.

"Tidak, tidak. Kau tidak boleh tidur sebelum makan dan minum obat," Yaya berkata dengan nada memerintah. Ia menarik lengan Taufan, tidak terlalu kasar, tapi cukup membuat Taufan harus memaksakan dirinya bangkit. "Ayo, aku akan menyiapkan makan siang untukmu."

"Tidak bisakah aku menunggu di sini saja?" pinta Taufan.

"Tidak. Kau pasti akan tidur lagi kalau kutinggal di sini."

"Yayaaaa ..."

"Sudahlah, jangan merengek terus, Taufan. Ayo, bangun. Aku akan memapahmu ke dapur."

Taufan akhirnya hanya bisa pasrah. Ia membiarkan Yaya mengalungkan lengannya di bahu gadis itu, karena ia memang masih terlalu lemas bahkan untuk mengangkat tangannya sendiri. Yaya lalu memapah —setengah menyeret— Taufan keluar kamar.

Setelah perjalanan singkat yang cukup melelahkan ke dapur (Yaya benar-benar harus menyeret Taufan karena sang suami sepertinya memang tak punya tenaga untuk berjalan), Yaya akhirnya mendudukkan Taufan dengan hati-hati di kursi meja makan.

"Nah, tunggu sebentar, ya. Aku akan memanaskan makanannya di microwave, setelah itu kau bisa makan," kata Yaya.

"Oke ..." Taufan menguap dan meletakkan kepala di meja makan yang dingin, bersiap tidur lagi.

"Taufan, jangan tidur di situ. Nanti kepalamu tambah pusing kalau tidur dengan posisi duduk seperti itu," omel Yaya. Ia mengeluarkan makanan yang telah disiapkannya pagi tadi dari lemari pendingin dan membawanya ke microwave.

"Salahmu sendiri tidak mengizinkanku tidur di kamar," Taufan memanyunkan bibir cemberut. Meski begitu ia mengangkat kembali kepalanya dan memilih untuk menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Kau boleh tidur lagi setelah makan dan minum obat nanti, Taufan. Bersabarlah sedikit, oke?" kata Yaya. Taufan mengangguk muram, membuat Yaya mengulas sedikit senyum. "Anak pintar," ujarnya sembari mengusap kepala Taufan penuh sayang.

"Usap terus, dong," Taufan merengek manja. Yaya tertawa dan mengacak rambut Taufan gemas, meski setelahnya ia kembali mengusapnya lembut.

"Kau haus? Mau kuambilkan minum?" tawar Yaya. Taufan menganguk.

Yaya bangkit dari duduknya dan kembali semenit kemudian dengan membawakan segelas air putih untuk Taufan.

Sementara Taufan meneguk habis airnya, Yaya memperhatikan sang suami seraya menimbang-nimbang untuk bertanya sesuatu. Saat itu bunyi denting terdengar dari arah microwave dan Yaya bergegas bangkit untuk mengambil makanannya.

"Nah, ayo dimakan," kata Yaya sambil menyorongkan semangkuk sup bawang kental lengkap dengan potongan roti yang diiris tipis-tipis di atasnya. "Aku akan menyiapkan obatmu dan—"

"Suapiinn," Taufan kembali merengek, mendorong kembali mangkuk supnya pada Yaya agar gadis itu menyuapinya.

"Iya, iya, sini aku suapin," Yaya mendesah pasrah, tak bisa menolak wajah memelas Taufan. Ia menyendok sup dan mendekatkannya ke mulut Taufan. "Ayo buka mulutnya. Aaaaaa ..."

"Aaaaaaa ..." Taufan membuka mulut patuh dan menelan sesendok penuh sup bawang panas yang disuapkan Yaya.

Yaya tertawa geli. "Kau jadi mirip dengan adikku, Totoitoy, saat dia masih kecil dan masih sering minta disuapi makanan," ujarnya.

"Oh, ya? Lebih imut mana, aku atau Totoitoy?" tanya Taufan.

"Tentu saja Totoitoy," jawab Yaya lugas. Taufan cemberut, sementara Yaya hanya tertawa kecil. "Sudah, ah. Jangan manyun begitu. Cepat habiskan supnya supaya kau bisa minum obat."

"Iya, iya."

.

.

.

Sepasang manik karamel Yaya menatap tak berkedip sosok yang tengah terlelap di hadapannya. Ia mengulurkan tangan dan jarinya perlahan menyusuri setiap helaian rambut hitam Taufan. Ia berhenti sejenak di antara beberapa helaian putih yang terlihat mencolok di sana. Umur Taufan masih dua puluh dua, tapi kenapa rambutnya sudah beruban? Sudah lama Yaya ingin tahu tentang hal itu, namun ia tak pernah punya kesempatan untuk bertanya langsung pada sang suami.

Ada banyak hal yang belum diketahui Yaya tentang Taufan. Belakangan, Yaya sudah begitu terbiasa dengan kehadiran Taufan dalam hidupnya, hingga terkadang ia lupa bahwa mereka belum terlalu lama saling mengenal. Pernikahan mereka baru menginjak usia satu bulan lebih sedikit, dan hanya sebanyak itulah waktu yang baru mereka miliki untuk berusaha mengenal tentang satu sama lain.

Sejauh ini Yaya hanya mengetahui sedikit hal kecil tentang Taufan. Makanan apa yang disukai dan tidak disukainya, juga makanan apa yang tidak boleh Taufan makan karena alergi. Yaya juga tahu Taufan suka sekali bernyanyi keras-keras setiap kali ia mandi. Bukan, Yaya bukannya suka mengintip Taufan mandi, suara Taufan hanya terlalu keras hingga Yaya tak bisa tidak mendengarnya setiap hari dari luar kamar mandi.

Parfum Taufan beraroma vanila, dan Yaya sangat menyukainya. Ia seringkali meminta Taufan untuk memeluknya sebelum berangkat kerja agar Yaya bisa tetap menghirup aromanya yang tertinggal sementara mereka tak bisa bertemu sepanjang hari. Taufan sering bersikap lebih manja saat ia merasa capek, dan Taufan tak pernah lupa memberinya ciuman selamat pagi setiap kali mereka bangun tidur.

Yaya ingin tahu lebih banyak hal tentang Taufan selain yang selama ini ditunjukkan pemuda itu padanya. Yaya ingin tahu tentang keluarganya, tentang ayah dan ibunya, juga kedua saudara kembarnya. Taufan tak pernah bercerita banyak tentang mereka, dan meskipun Yaya selalu penasaran, ia berusaha tetap menahan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.

Yaya ingin tahu tentang mimpi-mimpi Taufan, tentang segala ketakutannya. Apa mungkin ada banyak kekhawatiran yang disembunyikan Taufan di balik semua sikap cerianya? Yaya ingin tahu apa arti sorot sendu yang seringkali tak sengaja dilihatnya di mata biru Taufan, meski tentu saja Taufan selalu menutupinya dengan senyuman.

Yaya ingin tahu semua hal tentang Taufan. Segala hal yang masih disembunyikan pemuda itu darinya, karena Yaya jelas menyadari Taufan masih menyimpan banyak rahasia yang tak ingin diungkapkannya pada Yaya. Apa keinginannya ini terlalu egois?

"Yaya ..."

Panggilan lirih itu menyentak Yaya dari lamunannya. Ia memfokuskan kembali pikirannya yang sempat melayang jauh dan mendapati dirinya kini menatap manik safir Taufan yang bersinar dalam cahaya lampu kamar yang temaram.

"Kau belum tidur? Sudah jam berapa sekarang?" gumam Taufan mengantuk.

"Sudah hampir tengah malam," balas Yaya. Ia tersenyum tipis dan mengusapkan tangannya di dahi Taufan. Sudah tidak panas. "Tidurlah lagi. Aku juga mau tidur sekarang," ucapnya lembut.

Taufan mengangguk. Ia menarik diri lebih mendekat diri pada Yaya dan dalam beberapa detik kembali terlelap ke alam mimpinya.

Yaya tersenyum samar. Ia diam-diam mendekatkan wajahnya pada Taufan dan mengecup bibirnya lembut.

"Selamat tidur, Taufan ..."

.

.

.

to be continued

A/N :

Makasih banyak untuk yang udah menyempatkan diri membaca! Sampai jumpa di chapter berikutnya~

.

.

.

Extra

Taufan meraih ponsel di dashboard dengan tangan gemetar. Ia nyaris kesulitan membuka daftar kontak dan mencari satu nomor yang hendak dihubunginya. Nada tunggu akhirnya terdengar setelah Taufan dengan susah payah berhasil menekan tombol panggil. Suara berat yang sudah dihapalnya menjawab setelah dering ketiga.

"Taufan, ada apa? Kalau kau mau pinjam uang lagi, aku sudah tidak punya uang. Kau sudah menghabiskan jatah uang sakuku selama sebulan, tahu!" gerutuan Gopal terdengar jelas dari seberang telepon, dan Taufan bahkan tak punya tenaga untuk tertawa dan membalas dengan candaannya yang biasa.

"Gopal ..." suara Taufan terdengar serak, diselingi suara napasnya yang terputus-putus.

"Taufan? Kau baik-baik saja? Kenapa suaramu—"

"Gopal, kau ... sedang di mana?"

"Eh, aku sedang bantu-bantu di kedai ayahku. Kenapa?"

"Bagus. Aku ada di depan kedaimu sekarang."

"Serius? Apa yang kau lakukan di sini?"

Taufan mengangkat kepalanya dan melihat wajah Gopal yang mengintip dari jendela kedai kopi sang ayah. "Aku butuh bantuanmu ... kumohon ..."

"Oke, oke. Aku segera ke luar."

Ponsel Taufan tetap dibiarkan berada di samping telinganya sementara ia merebahkan kepala di atas setir. Matanya terpejam dengan kening mengernyit menahan sakit.

"Bertahanlah, Taufan ... kau tidak boleh membuat Yaya cemas ..." gumamnya pada diri sendiri.

Suara pintu mobil yang terbuka, membuat Taufan membuka sebelah matanya yang terasa berat. Ekspresi Gopal yang awalnya terlihat heran, langsung berubah panik melihat kondisi Taufan.

"Taufan, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" seru Gopal panik.

"Aku—" Taufan memegangi dadanya dan berusaha menarik napas panjang, meski terasa sulit. "Aku lupa membawa obatku ... tertinggal di rumah ..." ujarnya lirih.

"Kau— penyakitmu kambuh lagi?" tanya Gopal khawatir. Taufan mengangguk lemah.

"Aku harus ... ke rumah sakit ... tapi kurasa aku tak bisa menyetir sendiri ..."

"Ba-baiklah. Biar aku yang menyetir."

Gopal turun dari mobil dan membantu Taufan pindah ke kursi penumpang. Kondisi sahabatnya itu sudah nyaris setenah sadar, dengan tubuh bersimbah keringat dingin dan napas yang terdengar putus-putus. Setelah membantu Taufan duduk dengan nyaman di jok penumpang, Gopal bergegas duduk di balik setir dan bersiap menjalankan mobil.

"Kenapa kau selalu membawaku dalam situasi sulit seperti ini, sih?" Gopal berujar gusar. "Minggu kemarin kau memalak semua uangku, sekarang kau datang ke tempatku dengan keadaan nyaris pingsan. Kau mau membuatku kena serangan jantung juga?"

Taufan tertawa pelan. "Maaf. Hanya kau yang bisa kumintai tolong dalam kondisi seperti ini," gumamnya. "Lagipula, aku tidak ingin ada orang lain yang tahu. Terutama Yaya."

Gopal melirik ke arah Taufan yang kini tengah memejamkan mata, kemudian menghela napas panjang.

"Dasar. Kalau lain kali kau sampai ceroboh seperti ini lagi, aku tak akan segan langsung memberitahu Yaya tentang penyakitmu," tukasnya tajam. "Dan setelah ini aku juga akan menghubungi Gempa, supaya kau dimarahi habis-habisan oleh adikmu itu."

Taufan mengerang pasarah. "Gopal, kau memang benar-benar teman yang jahat, ya ..."

Gopal mendengus dan kembali memalingkan wajah ke depan, fokus pada jalan. Kakinya menekan pedal gas lebih dalam, dan melajukan mobil membelah jalanan kota yang ramai oleh hiruk-pikuk manusia.

"Gopal ..." gumam Taufan lirih setelah keheningan cukup lama.

"Ya?"

"Apa menurutmu aku ... membuat keputusan yang salah?"

"Eh, keputusan apa?" tanya Gopal bingung.

Taufan tidak menjawab. Tubuhnya merosot sedikit di sandaran kursi. Tidak ada kata apapun lagi yang terucap dari bibirnya yang pucat sementara matanya perlahan terpejam dan kedua lengan terkulai di sisi tubuhnya.