MAGIC
Chanyeol X Baekhyun
Romance Story
Selepas turun dari atap sekolah, Chanyeol dan Kyungsoo segera memasukki kelas dengan terburu – buru karena dikelas mereka sudah ada Guru kimia yang terkenal galak. Baekhyun menatap Chanyeol bingung, "Kau dari mana saja, Chan?" tanyanya lirih, tak ingin terdengar oleh Guru mereka.
"Kantin." dustanya, Chanyeol pun segera memfokuskan dirinya pada dengan ponselnya.
Baru beberapa menit Chanyeol berpisah dengan Kyungsoo. Lelaki mungil itu sudah mengirimkan pesan singkat padanya.
Kyungsoo
Semangat belajarnya sayangku~
Chanyeol segera menoleh kearah Kyungsoo yang ternyata sedang menatapnya dengan senyuman lebar. Lelaki jangkung itu pun tersenyum lebar membalas senyuman manis Kyungsoo. Dan sialnya hal tersebut terlihat oleh Baekhyun.
"Semenjak kapan kau dekat dengan Kyungsoo?" tanya gadis itu dengan nada sinis, ia bahkan sama sekali tak menoleh kearah Chanyeol.
Perasaan Chanyeol menjadi tak menentu mendengar pertanyaan Baekhyun. Demi apapun, ia merasa seperti seorang kekasih yang tertangkap basah berselingkuh. Suara lelaki itu pun menjadi gugup, "Ya, aku dan Kyungsoo sedang ada proyek bisnis."
Alis Baekhyun berkerut heran, ia merasa Chanyeol sedang berbohong padanya kali ini. Tetapi dengan cepat, ia pun mengabaikan perasaannya dan tersenyum manis –membuat Chanyeol merasa bersalah padanya, "Semoga proyek kalian berhasil yah."
.
.
.
Kyungsoo
Malam ini kau ada jadwal di café kan? Nanti kita bertemu ya~
Chanyeol
Iya sayangku~
Senyuman Chanyeol mengembang lebar membalas pesan dari Kyungsoo. Demi apapun! Chanyeol tak menyangka bahwa Kyungsoo bisa semanja ini. Padahal sebelumnya, Chanyeol dan Kyungsoo sama sekali tidak dekat melainkan hanya sebatas teman sekelas.
"Sepertinya kau sedang bahagia, Oppa." mendengar Baekhyun memanggilnya Oppa, Chanyeol segera menoleh dan menemukan Baekhyun sedang memakai nail art pada kukunya.
Alis Chanyeol berkerut heran, "Kau memanggilku Oppa?"
"Hm," Baekhyun pun berbalik menatap Chanyeol dan tersenyum manis, membuat hati Chanyeol bergetar dibuatnya, "aku kan memanggil Baekhyun dengan sebutan Oppa dan kau itu temannya Baekhyun jadi aku harus membiasakan diri memanggilmu Oppa."
Dan demi apa suara Baekhyun itu terdengar imut di pendengaran Chanyeol, Chanyeol pun segera mengusak gemas rambut Baekhyun, "Kiyowo~ uri Baekhyuniee." Baekhyun yang biasanya akan menghempaskan tangan Chanyeol, sekarang justru tersenyum makin manis.
Entah mengapa hati Chanyeol merasa tidak enak sendiri, ia tiba tiba merasa takut jika saja Baekhyun tahu hubungannya dengan Kyungsoo.
.
.
.
Tidak biasanya Chanyeol ingin pergi ke café menggunakan pakaian yang serapih ini, biasanya lelaki jangkung itu akan memakai kaos atau hoodie dengan celana levis pendek dan sepatu sneakers, tetapi kali ini ia justru memakai kemeja dengan style rambut yang dibilang sangat rapih seperti akan kencan.
Hal ini justru membuat Baekhyun heran, gadis itu pun menatap Chanyeol dengan wajah bingung, "Kau ingin kemana Oppa? Ke café? Kenapa penampilanmu serapih dan sekeren ini?"
Kekehan Chanyeol terdengar, ia pura – pura tertawa untuk menutupi kebohongannya, "Bukankah Oppa memang keren dan tampan eoh?"
"Ih aku serius!" sikap manja khas anak perempuan pun seketika keluar dari Baekhyun. Ia bahkan memukul pelan bahu Chanyeol dengan bibir yang mengerucut, "jangan bilang kau sudah memiliki kekasih!"
Perasaan tidak enak lagi lagi terasa dalam hati Chanyeol, segera saja ia tersenyum kecil dan mengusak rambut Baekhyun gemas, "Oppa berangkat dulu ya~ takut telat."
Setelah kepergian Chanyeol, Baekhyun mendengus kesal dengan tatapan tajam, "Pasti Chanyeol menyembunyikan sesuatu dariku!"
.
.
.
Tepuk tangan seketika terdengar saat Chanyeol menyelesaikan lagu yang dinyanyikannya. Lelaki jangkung itu tersenyum melihat Kyungsoo yang duduk tak jauh dari sana. Setelahnya, lelaki itu pun turun dari panggung dan menghampiri Kyungsoo.
"Penampilanmu memang sangat keren!" puji Kyungsoo, ia segera berdiri dan memeluk lengan Chanyeol erat.
Sebenarnya Chanyeol cukup risih dengan sikap Kyungsoo, tetapi dengan cepat ia menghilangkan kerisihannya. Ia pun tersenyum manis pada lelaki mungilnya itu, "Terima kasih sayang." Tidak seperti ucapan sayangnya pada Baekhyun, kali ini suara Chanyeol terdengar kaku.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, Chan!" ucap Kyungsoo penuh semangat. Ia bahkan bergelayut manja pada lengan Chanyeol.
"Kemana hm?"
Senyuman Kyungsoo mengembang, "Rahasia! Ikut saja okey?"
Tak ada jawaban lagi dari Chanyeol, ia hanya menuruti keinginan Kyungsoo yang akan membawanya kemana saja.
.
.
.
Selepas menyanyi di café, ternyata Kyungsoo mengajak Chanyeol untuk pergi ke sebuah Club. Awalnya Chanyeol ingin menolaknya, tetapi Kyungsoo terus memaksanya dengan alasan Club adalah tempat kencan yang paling menikmatkan untuk para remaja zaman sekarang.
Dan akhirnya, disinilah Chanyeol sekarang. Berdiam diri dengan memegang segelas wine diantara orang – orang yang bergoyang dengan keadaan mabuk, matanya pun menatap kearah Kyungsoo yang sudah mulai menggoyangkan tubuhnya dengan irama music yang kini sedang diputar.
Chanyeol baru sadar satu hal, bahwa ditempat ini semuanya berjenis kelamin lelaki. Ia menatap banyak adegan panas yang terlihat dari sesama lelaki di Club itu, ada yang terang – terangan seks, ciuman, bahkan mengoral penis. Tetapi yang lebih menyakitkan hatinya adalah ketika ia menatap dengan langsung Kyungsoo yang kini sedang dicumbu oleh seorang lelaki tan.
"Shit!" umpat Chanyeol. Ia sungguh tak mengerti bagaimana bisa Kyungsoo mengajaknya kemari dan selingkuh terang terangan didepannya. Apa yang sebenarnya telah Kyungsoo rencanakan eoh?
Chanyeol pun memilih untuk meninggalkan Club. Tetapi belum sempat ia keluar, tangannya sudah ditarik oleh seorang pria tampan yang lebih tinggi darinya, "Sendirian manis?" tanya pria itu dengan suara bass yang membuat Chanyeol merinding.
Tidak ada jawaban dari Chanyeol, ia segera menghempaskan tangan pria itu dengan kasar, "Jangan goda aku sialan!"
Tetapi tiba tiba saja tubuh Chanyeol dipeluk possesive lelaki itu, "Anak manis tidak boleh nakal dan berbicara kasar." Pria itu bahkan hampir mencium bibir Chanyeol.
Untung saja dengan cepat Chanyeol mendorong pria itu sampai pria itu terjatuh, ia bahkan memukul rahang pria itu dengan keras, "Kau akan mendapatkan pukulan lagi jika menggangguku!" setelahnya Chanyeol pun pergi dari sana.
Tanpa Chanyeol sadari, seseorang merekam semua kejadian itu.
.
.
.
Hampir semalaman Chanyeol tidak bisa terlelap, kejadian saat di Club membuatnya terus terjaga. Ia tidak bisa membayangkan jika pria yang tadi sungguhan menggodanya dan mereka berakhir diranjang. Ugh! Demi apapun Chanyeol ingin muntah sekarang juga.
Pikiran Chanyeol pun melayang pada Kyungsoo. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran lelaki mungil itu. Bukankah baru saja kemarin Kyungsoo memintanya menjadi pacarnya? Tapi kenapa hari ini ia justru berselingkuh didepannya secara terang terangan?
Apa yang sebenarnya lelaki mungil itu rencanakan?
Jemari Chanyeol pun mengusak rambutnya frustasi. Entah mengapa perasaannya berubah menjadi tak enak karena hal ini. Semoga saja tak ada masalah yang datang karena hal ini.
"Kau belum tidur?" tiba tiba suara lembut Baekhyun terdengar, Chanyeol menoleh dan menemukan Baekhyun membuka kedua matanya sedikit. Ya, mereka saat ini sedang dalam satu ranjang, dan akan terus begitu karena mereka sama sekali tidak berniat tidur terpisah meskipun Baekhyun kini menjadi seorang gadis.
"Ya, aku tidak bisa tertidur," helaan nafas Chanyeol terdengar, "padahal aku lelah."
Jemari Baekhyun tiba tiba terulur menyentuh dan mengelus lembut rambut kepala Chanyeol. Gadis itu pun mendekati Chanyeol dan tertidur diatas dada bidang lelaki itu, "Tidurlah, aku tahu kau lelah." Setelahnya, gadis mungil itu pun terlelap kembali.
Melihat wajah teduh dan cantik milik Baekhyun hati Chanyeol terasa sesak. Ingin rasanya Chanyeol meneriaki dirinya sendiri yang dengan bodohnya mengkhianati dan membohongi Baekhyun. Ia pun segera membawa gadis mungilnya kedalam pelukannya.
Chanyeol tahu dia salah karena dengan bodohnya ia menerima menjadi pacar Kyungsoo, dan semoga saja semua kebodohannya tidak berdampak pada hubungannya dengan Baekhyun.
Ya, semoga saja.
.
.
.
Awalnya tidak ada hal yang aneh dengan hari ini, semua berjalan dengan baik. Chanyeol dan Baekhyun pun seperti biasa berangkat bersama dengan motor Chanyeol. Tetapi pada saat mereka berangkat ke sekolah, mereka merasakan ada hal yang aneh pada tatapan para siswa.
Mereka menatap Chanyeol dengan tatapan sinis.
Baekhyun lah yang pertama kali menyadari tatapan janggal dari semua orang disekolahnya, "Kenapa ya mereka menatapmu sinis? Apa ada hal yang aneh dari penampilanmu?" tanya Baekhyun menatap intens penampilan Chanyeol yang tergolong sangat tampan dan keren itu.
"Mereka hanya iri padaku, Baek." jawab Chanyeol menghibur Baekhyun. Ia bahkan merangkul bahu gadis pendek itu dengan erat, "Kau tahu kan kalau aku memang sangat tampan?"
"Yak! Semenjak kapan kau menjadi narsis begitu eoh?"
Kekehan Chanyeol terdengar, "Aku ketularan Byun Baekhyun yang paling arrogan dan narsis itu."
Segera saja Baekhyun mencubit pinggang Chanyeol dengan gemas, bibirnya pun ia majukan membuat gadis itu berkali kali lipat terlihat imut, "Aku tidak arrogan, bodoh!" tawa Chanyeol pun seketika pecah mendengarnya.
Tetapi sayang, ditengah suasana bercanda Chanyeol dan Baekhyun tiba tiba Soyou menghampiri Baekhyun dan menarik lengannya menjauh dari Chanyeol, "Aku meminjam Baekhee dulu, Chanyeol-ssi." Belum sempat Chanyeol menolak, Baekhyun sudah ditarik oleh Soyou menjauh.
Ternyata Soyou mengajak Baekhyun ke koridor sepi, "Aku ingin bicara hal penting padamu, Baekhee-ssi."
"Hal penting?" tanya Baekhyun bingung.
Soyou membuka ponselnya dan layar ponselnya pun memperlihatkan foto Chanyeol yang sedang dipeluk sseorang pria –bahkan pria itu hendak menciumnya, "Chanyeol gay!" mata Baekhyun terbelalak mendengarnya, tetapi yang lebih buruknya lagi ketika Soyou melanjutkan ucapannya, "kemarin Chanyeol pergi ke club khusus gay, dan rumor mengatakan bahwa Chanyeol adalah salah satu gigolo disana."
"Apa?!" teriak Baekhyun tak percaya.
"Berita itu sudah tersebar di seluruh sekolah Baek, dan aku minta kau menjauhi Chanyeol sekarang juga!"
Setelahnya pandangan Baekhyun pun berubah kosong. Gadis itu hanya menghela nafas panjang tak mampu merespon apapun. Karena demi apapun ia tidak percaya dengan rumor yang saat ini beredar. Ia sungguh tidak percaya bahwa Chanyeol adalah seorang gigolo!
Tiba tiba Baekhyun terisak sendiri, untung saja Soyou segera memeluk Baekhyun dan menenangkan gadis itu seperti seorang sahabat dekat, "Aku tahu kau menyukainya kan? Ku harap kau jangan sedih lagi, Baek. Banyak lelaki yang lebih baik ketimbang teman kakakmu itu."
Lelaki yang lebih baik memang banyak.
Tetapi hanya Chanyeol lah satu satunya yang berada disisinya meskipun ia berubah menjadi perempuan, Chanyeol lah yang mati – matian menemaninya kapan pun juga, Chanyeol lah sahabat sejatinya dimana pun dan kapanpun juga.
.
.
.
Chanyeol tidak bodoh untuk mengartikan tatapan tajam teman – temannya saat ini, ia rasa pasti ada sesuatu yang tak beres disini, tetapi Chanyeol sungguh tak tahu apa itu. Sampai tiba tiba Baekhyun kembali dengan tatapan sedih menatap Chanyeol.
"Kau baik – baik saja Baek?"
Tidak ada jawaban dari Baekhyun, gadis itu hanya berjalan mendahului Chanyeol memasukki kelas. Lelaki jangkung itu pun segera mengikuti Baekhyun memasukki kelas. Namun, siapa sangka? Ketika Chanyeol masuk kedalam kelas ia justru dihadang oleh tiga teman laki – lakinya.
Alis Chanyeol berkerut heran ketika ketiga temannya itu menatapnya tajam, "Apa ada yang salah?" tanya Chanyeol polos tak mengerti apapun.
"Masih bertanya?" seringaian Kris –salah satu temannya terlihat, mata tajamnya sungguh menusuk, "kau sungguh menjijikan, Park!"
Chanyeol menatap tidak mengerti, ia pun mengedarkan pandangannya pada seluruh teman sekelasnya dan sialnya mereka semua justru berpandangan sama seperti Kris, tak terkecuali Sehun yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri.
Sedangkan Baekhyun hanya mampu menunduk dari kursinya, tatapan anak itu berubah sedih. Ia sungguh tak mampu menatap Chanyeol yang kini sedang disudutkan.
"Seorang gigolo gay seharusnya tidak pantas bersekolah disini!" celetuk salah seorang siswa yang langsung disambut oleh sorakan dan teriakan.
"Pantas saja banyak gadis yang ditolak! Ternyata dia gay!"
"Menjijikan! Seharusnya kau enyah, Park!"
"Orang sepertimu hanya pantas memasukki Club gay!"
Semua hinaan terlontar dari banyak siswa, bahkan banyak diantara mereka melempari Chanyeol dengan gulungan kertas. Chanyeol hanya mempu menunduk menahan amarahnya, tetapi amarah Chanyeol benar – benar terpancing ketika Kris mulai mengapit rahangnya.
"Berapa mereka membayar tubuhmu hah?" tanya Kris dengan nada dingin, ia pun menunjukkan kepada Chanyeol sebuah foto dirinya yang sedang dipeluk seorang pria, "aku tak bisa membayangkan jika keluargamu yang kaya itu mengetahui kelakuan bejat anaknya."
Hati Chanyeol sungguh telah terbakar, apalagi ketika ia melihat fotonya yang sedang dipeluk itu. Dengan cepat ia pun menghempaskan tangan Kris dan berbalik menatap tajam lelaki yang lebih jangkung darinya itu, "Jangan bawa – bawa keluargaku sialan! Lagipula aku tidak melakukan apapun dengan pria itu!"
Tawa keras pun pecah seketika, para siswa kelas Chanyeol kini menertawakan Chanyeol yang amarahnya sudah terpancing. Ingin rasanya Chanyeol menangis saat itu juga, tetapi ia tak mau harga dirinya hancur karna hal itu.
Chanyeol pun mencoba mengedarkan pandangannya untuk mencari Kyungsoo karena Kyungsoo lah yang mengajaknya ke Club gay itu. Tetapi nihil, lelaki mungil itu sama sekali tidak ada didalam kelas. Chanyeol sekarang paham, ia sedang dijebak oleh lelaki mungil bermata bulat itu.
"Hentikan! Chanyeol oppa bukanlah gay!" itu suara Baekhyun, gadis itu tiba – tiba berdiri dari tempatnya menatap tajam seluruh orang yang berada di ruangan kelas itu, "Chanyeol oppa bukan gay ataupun gigolo! Dia—" Baekhyun menghela nafas untuk mengumpulkan keberaniannya, "—pacarku."
Kini semua anak di kelas itu menatap Baekhyun bingung, terutama Sehun. Apalagi ketika Baekhyun yang tiba – tiba terisak ketika melanjutkan ucapannya, "Aku tidak tahu foto itu dari mana, tetapi setahuku Chanyeol oppa bukanlah seorang gay, dia lelaki normal dan dia mencintaiku."
Soyou tiba – tiba berdiri dan menghampiri Baekhyun, gadis itu bahkan memeluk Baekhyun erat untuk menenangkan, "Baekhee, kau tak perlu melakukan hal seperti ini."
"Hiks, aku hanya kasihan pada Chanyeol oppa! Dia bukanlah gay tetapi mengapa kalian semua mengatakannya gay?" teriak Baekhyun disela isak tangisnya, semua orang pun menatap Baekhyun kasihan. Sedangkan Sehun justru tersenyum remeh saat ini, ia sangat tahu siapa sebenarnya Baekhyun.
Dalam hati Chanyeol, ia merasa sedikit bangga dengan Baekhyun. Setidaknya gadis itu telah membelanya meskipun Chanyeol tak tahu ia menangis karena akting atau sungguhan.
Tiba – tiba suara Seohyun menginterupsi, gadis itu menatap Baekhyun dengan tatapan remeh miliknya, "Baekhee-ssi, kenapa kau tidak membuktikannya saja jika Chanyeol oppamu itu bukanlah gay? Jika ada buktinya kan kami bisa tahu Chanyeol itu bukanlah seorang gay."
"Bukti? Apa yang harus aku buktikan?" bukan hanya Baekhyun, semua orang yang ada disana pun terdiam tak mengerti.
Seringaian Seohyun pun terlihat, "Kau bisa menciumnya, jika Chanyeol menikmati ciumanmu berarti dia bukanlah gay."
Chanyeol, Sehun, dan Baekhyun sama – sama kaget mendengarnya. Mereka tak menyangka dengan tantangan yang dilontarkan oleh Seohyun, "Ciuman? Jangan gila! Ini masih disekolah, Seohyun!" protes Sehun.
Tetapi sayangnya, anak kelas justru mendukung Seohyun. Mereka semua pun dengan kompaknya saling berteriak, "Cium! Cium! Cium!"
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Baekhyun saat ini. Mau tak mau gadis itu pun maju kedepan kelas dan mendekati Chanyeol. Saat sudah dihadapan Chanyeol, gadis itu menengadah karena perbedaan tinggi mereka sangat signifikan. Chanyeol pun yang mulai menunduk dan mendekatkan bibir mereka sampai kedua belah bibir itu saling menempel.
Getaran aneh pun terasa dalam dada mereka berdua. Keduanya sungguh merasakan hal yang aneh namun menyenangkan saat ini. Chanyeol bahkan tak berhentinya bersyukur dalam hati karena bisa mendapatkan ciuman dari orang yang selama ini ia sukai.
Seringaian Chanyeol terlihat saat ia mulai mengecap bibir manis milik Baekhyun, ia tak menyangka bahwa bibir Baekhyun memiliki rasa semanis strawberry karena efek lipgloss yang ia pakai. Makin lama, ciuman Chanyeol pun makin menuntut membuat beberapa siswa memekik histeris.
"Yak! Chanyeol bukanlah gay! Buktinya dia menikmati ciumannya dengan Baekhee!"
"Tidak~ mereka so sweet sekali."
"Woaah~ Chanyeol mulai liar hahaha! Dia bukan gay guys!"
Pekikan pekikan heboh terdengar nyaring sampai akhirnya Chanyeol memutuskan ciuman itu. Mata obisidan Chanyeol menatap Baekhyun dalam, "Terima kasih, Byun Baekh—"
"Terima kasih juga, Park Chanyeol," potong Baekhyun sebelum Chanyeol kelepasan memanggilnya Baekhyun, "aku mencintaimu." Entah sungguhan atau tidak Baekhyun mengatakannya, tetapi hati Chanyeol sungguh bergetar mendengarnya.
"Ku harap Baekhyun terus menjadi gadis." Itu suara Sehun, lelaki itu tersenyum menatap interaksi kedua sahabatnya itu, tapi tiba – tiba pikirannya pun mengingat kejadian saat ia menyentuh payudara Baekhyun, "sialan! Tubuh Baekhyun sungguh penggoyah iman!"
Tanpa disadari, salah satu gadis dikelas itu menatap tajam pasangan Chanyeol dan Baekhyun. Ia menggeram pelan dengan amarah yang cukup naik. Gadis itu marah karena semua rencananya gagal!
Rencananya yang ingin membalas dendam pada Chanyeol, gagal seketika!
.
.
.
Rasa canggung kini sungguh terasa diantara Chanyeol dan Baekhyun. Semenjak ciuman mereka dikelas, baik Baekhyun dan Chanyeol saling mendiamkan karena merasa gugup. Saat mereka pulang bersama pun, Baekhyun sangat diam dan kalem. Sikapnya yang cerewet seolah lenyap begitu saja.
Bahkan sampai saat ini, saat mereka sedang menyaksikan televisi bersama untuk menunggu rasa kantuk mereka diruang tengah.
Meskipun mereka berada dalam satu sofa yang sama, mereka justru saling berdiam diri. Semuanya sepi dan canggung, yang terdengar hanya suara televisi saja.
Chanyeol terus menerus melirik kearah Baekhyun, berharap gadis itu memulai obrolan mereka. Tetapi kenyataannya nihil, gadis itu seolah tenggelam dalam keterdiamannya. Chanyeol pun akhirnya geram, dan mau tak mau ia pun membuka suaranya terlebih dulu, "B-baekhyun."
Kepala Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, "Iya, Oppa?"
Entah mengapa melihat Baekhyun saat ini, ia terlihat cantik ratusan kali lipat dimata Chanyeol. Seolah olah ada cahaya yang bersinar disekitaran Baekhyun dan rambut gadis itu seolah tertiup angin membuat rambutnya terbang indah bagaikan seorang bidadari.
"Kenapa kau memanggilku Oppa?" tanya Baekhyun menyadari keterdiaman Chanyeol.
Rasa gugup menyerang Chanyeol seketika, "Hm, m-masalah ciuman—"
"Anggap saja itu tak pernah terjadi," potong Baekhyun cepat, ia pun menunduk dalam, "maaf menciummu, aku tahu kau pasti merasa risih dicium olehku yang sebenarnya laki – laki ini."
"Tidak Baek," kepala Chanyeol menggeleng cepat. Jemarinya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "aku justru menganggapmu seorang gadis, Baek."
Ranum milik Baekhyun tertarik membentuk senyuman, "Benarkah?"
Chanyeol tentu saja tertegun melihat senyuman milik Baekhyun. Entah kesadarannya hilang kemana, tiba – tiba Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun dan mencium bibir ranum itu dengan lembut. Ia bahkan memejamkan matanya merasakan ciuman manis gadis itu.
Bukan hanya Chanyeol, Baekhyun pun sama. Ia hanya mampu diam membatu membiarkan lelaki jangkung itu menggerakan bibirnya dan menginvasi mulutnya dengan ciuman hangat nan lembut itu.
Dalam hati, Chanyeol sangat bersyukur Baekhyun tak menolak ciumannya. Ia pun berpikir, seharusnya ia mengatasi masalahnya dengan Kyungsoo malam ini. Pastinya setelah Baekhyun terlelap, ia harus menemui kyungsoo.
.
.
.
Langkah kaki Chanyeol dengan terburu memasukki Club yang ia masukki kemarin malam. Ya, Chanyeol diam – diam keluar dari apartemennya untuk menemui Kyungsoo, lebih tepatnya untuk mencari tahu apa yang direncanakan lelaki mungil itu padanya.
Alisnya berkerut bingung ketika ia mendapati banyak wanita yang berada dalam Club itu. Seharusnya Club itu khusus pria, kenapa banyak wanita disini?
Segera saja Chanyeol menghampiri seorang bartender, "Permisi?"
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya bartender itu dengan senyuman sopannya.
"Club ini—" suara Chanyeol terdengar ragu, "b-bukankah Club gay?" helaan nafas Chanyeol terdengar, lelaki itu sungguh merasa malu menanyakan hal itu.
"Bukan, ini bukan Club gay," mata Chanyeol melebar mendengar jawaban dari bartender itu, tetapi untung saja bartender itu melanjutkan ucapannya membuat Chanyeol merasa lega, "tetapi Club ini sering mengadakan event gay party setiap sebulan sekali."
Setelahnya Chanyeol pun mengucapkan terima kasih dan segera mencari Kyungsoo didalam Club itu. Tetapi siapa sangka? Ia justru menemukan Kyungsoo sedang bercumbu dengan seorang lelaki yang sama dengan kemarin disudut Club.
Chanyeol pun segera mendekati mereka dengan aura dinginnya, "Kyungsoo?"
Adegan panas Kyungsoo pun segera terhenti. Lelaki bermata bulat itu pun menoleh dan kaget saat menemukan Chanyeol disana, "C-chanyeol?"
"Siapa dia?" tanya lelaki asing yang mencumbu Kyungsoo.
"Aku pacarnya," jawab Chanyeol cepat sebelum Kyungsoo menjawabnya.
Kyungsoo menghela nafas frustasi, wajahnya ia buat sesedih mungkin, "D-dia lelaki yang kemarin aku ceritakan padamu, Jongin-ah."
Diluar ekspetasi, Jongin justru terkekeh dan menatap remeh Chanyeol, "Jadi apa yang kau lakukan disini? Dan apa urusanmu mendatangi Baby Kyungie-ku? Merasa marah karena aku menyentuh pacarmu? Percayalah bahwa Kyungsoo tidak mungkin menjadi pacarmu karena dia adalah milikku!"
Dengusan Chanyeol terdengar, "Kau pikir aku marah karena dia? Tidak sudi! Aku kesini justru ingin menanyakan rencana jahatnya yang menjadikan ku pacarnya dan mengajakku ke Club ini, sialan!." Suara Chanyeol meninggi, bahkan ia sedikit berteriak.
Tak ada jawaban dari Kyungsoo, lelaki itu hanya terdiam dengan kepala menunduk. Melihat itu Jongin, menjadi merasa marah karena Chanyeol telah membuat sedih 'milik-nya', "Kau menuduh Kyungsoo melakukan hal jahat padamu?" suara Jongin pun tak kalah tinggi.
"Aku tidak menuduh! Ini fakta!" dengan penuh amarah, Chanyeol menunjuk kearah Kyungsoo, "jalangmu itu telah menyudutkanku hingga aku disebut seorang gigolo gay!"
Tawa sarkatis terdengar dari mulut Jongin, lelaki itu pun berdecih, "Bukankah kau memang gigolo gay? Kau itu justru lebih buruk ketimbang jalangku!"
Amarah Chanyeol sungguh terbakar, tiba – tiba lelaki itu pun menerjang Jongin dan memukulinya. Namun sayang, belum sempat ia melayangkan pukulannya, beberapa bodyguard justru menahannya, "Yak! Sialan kau keparat!" ronta Chanyeol ketika tubuhnya ditarik dan ditahan paksa oleh beberapa bodyguard.
"Masih ingin melawan?" tanya Jongin dengan nada yang meledek.
"Aku tak ada hubungannya denganmu keparat!" Chanyeol pun menatap Kyungsoo yang semenjak tadi menunduk dengan wajah memelas, "tolong aku Kyungsoo! Aku kemari sebenarnya ingin menanyakan rencanamu yang menjebakku! Tidak ada hal lain."
Kepala Kyungsoo menengadah dan menatap iba Chanyeol. Belum sempat ia bicara, Jongin sudah menyela duluan, "Kyungsoo-ku tidak ingin menjawabnya jadi jangan memaksanya menjawab pertanyaanmu!"
Dengan kekuatan penuh, Chanyeol akhirnya berhasil membebaskan tangannya dari tangan – tangan kekar bodyguard. Segera saja Chanyeol merogoh sakunya dan mengambil dompetnya untuk mengambil semua uangnya dan melemparkannya kedepan wajah Kyungsoo, "Ambil uangku! Jika kurang aku akan memberi berapapun untukmu! Tetapi kau harus jujur padaku apa rencanamu!"
Jongin ingin mengumpat Chanyeol kembali, tetapi Kyungsoo segera menyelanya, "Hyerin yang menyuruhku menjebakmu! Puas?"
Hyerin?
Mata Chanyeol melebar saat nama Hyerin disebut. Seketika ingatannya terbang pada kejadian beberapa minggu yang lalu.
Hyerin, gadis itu adalah gadis yang pernah ia tolak.
Segera saja Chanyeol berlari meninggalkan Club itu, karena ia harus menemui Hyerin dan meminta penjelasan dari gadis itu. Setelah Chanyeol benar – benar pergi dari sana, Jongin menatap Kyungsoo penasaran, "Sebenarnya siapa Chanyeol itu? mengapa aku tidak asing dengan wajahnya?"
"Dia anak sekaligus pewaris tunggal Park Corp." seketika seringaian Jongin terlihat.
Oh sepertinya Kim Jongin –seorang pewaris perusahaan Empire Ltd. sedang merencanakan sesuatu.
.
.
.
Belum sempat Chanyeol keluar dari Club malam itu, ponsel lelaki jangkung itu berdering menunjukkan nama Aboji pada layarnya. Alisnya pun menukik, tidak biasanya ayahnya menelfonnya pada malam hari jika tidak ada hal penting.
Ia pun segera mengangkatnya dan seketika itu pula ia mendapatkan bentakan dari Kyuhyun, "Yak! Chanyeol! Apa yang kau lakukan hah? Kau ingin mempermalukan keluarga?!"
"Apa maksud ayah?"
"Ada seseorang yang mengirim file kepada ayah kau berciuman dengan lelaki!" suara ayahnya makin meninggi, "foto itu benar kan?!"
Tak ada jawaban dari Chanyeol. Lelaki itu hanya menghela nafas pasrah karena fotonya dan Kyungsoo telah sampai ditangan ayahnya
"Ayah menyesal mempunyai anak sepertimu. Jika kau memanglah gay. Mulai sekarang enyahlah dari keluarga Park!" ucap ayahnya final dan akhirnya sambungan itu terputus.
Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. Ia sangat kesal karena kehidupannya hancur hanya karena ke-gay-annya. Padahal Baekhyun sudah berubah menjadi perempuan, kenapa ia harus merasaka pahitnya hidup gay sekarang?
Untuk menghilangkan rasa frustasinya, Chanyeol pun memilih memesan satu botol alkohol. Chanyeol bukanlah peminum handal, tetapi peduli setan, ia hanya ingin merilekskan dirinya saja dari semua rumor buruk tentangnya.
.
.
.
Ponsel Baekhyun berbunyi membuat gadis itu terjaga dari tidurnya. Alis Baekhyun mengerut heran saat ia mendapatkan grup chat kelasnya sangat ramai pada tengah malam seperti ini. Karena rasa penasarannya, mau tak mau gadis itu pun membukanya.
Air mata Baekhyun seketika turun saat melihat foto Chanyeol dan Kyungsoo berciuman di atas atap yang dikirimkan oleh Hyerin. Ia pun segera keluar kamarnya untuk mencari Chanyeol, tetapi Chanyeol tidak ada disana. Perasaan khawatirnya pun menyeruak seketika.
Tiba – tiba pintu apartemen terbuka, Baekhyun menoleh dan menemukan Chanyeol baru datang dengan pakaian rapihnya, tetapi wajah lelaki itu terlihat berantakan dan kusut. Tatapan Baekhyun seketika menjadi dingin, "Kau dari mana saja?"
"Aku membeli makanan, tiba – tiba aku merasa lapar." jawab Chanyeol sekenanya, lelaki itu sepertinya sedang dalam mood yang buruk. Tetapi bukan Baekhyun namanya jika ia tidak bisa menebak raut wajah bohong Chanyeol.
"Membeli makanan semalam ini dengan pakaian rapih?" kekehan sinis Baekhyun terdengar, ia mendekati Chanyeol dan menatap nyalang lelaki jangkung itu, "apa jangan – jangan semua rumormu tentang pergi ke club gay itu benar? Kau sungguhan gay kan?"
Dengusan Chanyeol terdengar, ia tak menyangka kenapa Baekhyun sekarang menyudutkannya seperti teman kelasnya, dan keluarganya, "Kenapa kau berpikiran seperti itu hah? Kau meragukan kenormalanku? Aku sudah menciummu, dan kau masih ragu?" suara Chanyeol bahkan meninggi.
Baekhyun membuka foto ciuman Chanyeol dan Kyungsoo, dan menunjukkan foto itu dihadapan Chanyeol, "Bisa kau jelaskan maksud foto ini?"
"Tak ada yang perlu ku jelaskan!"
"Jadi semuanya sungguhan?" nada kecewa Baekhyun terdengar.
Amarah, kecewa, dan kesedihan yang Chanyeol simpan semenjak tadi pagi seakan meledak saat ini. Lelaki jangkung itu menatap Baekhyun tak kalah kecewa, bahkan tersirat amarah dalam tatapannya, "Kau tak percaya padaku, Baek?" suara Chanyeol terdengar dingin.
Tak ada balasan Baekhyun, gadis itu hanya terdiam menyadari amarah Chanyeol. Semenjak dulu, ia memang tak berani dengan amukan Chanyeol. Tiba – tiba Chanyeol pun mencengkram lengan Baekhyun dan berteriak didepan gadis itu, "Aku memang gay! Dan semua itu karena kau! Byun Baekhyun! aku memang gay karena menyukaimu, sialan!"
Air mata Baekhyun turun karena teriakan dan bentakan kasar Chanyeol padanya. Tetapi saat ini sepertinya Chanyeol tidak luluh pada air mata itu, lelaki jangkung itu justru menarik Baekhyun ke kamar dan mendorong gadis itu ke ranjang dengan kasar.
"Seharusnya dengan berubahnya kau menjadi perempuan, penyakit gayku hilang! Tetapi semua justru makin berantakan karena kau Baekhyun!" suara teriakan Chanyeol makin keras.
Baekhyun hanya menatap takut Chanyeol. Ia sadar satu hal, bahwa saat ini Chanyeol sedang mabuk. Akal sehat lelaki jangkung itu pasti sudah hilang saat ini. Tetapi yang membuat Baekhyun makin takut adalah ketika Chanyeol membuka bajunya menyisakan tubuh polosnya.
"K-kau sedang apa?" tanya Baekhyun takut.
Tak ada jawaban dari Chanyeol, lelaki itu hanya menyeringai dan berjalan mendekati Baekhyun. Chanyeol seperti seorang psikopat sekarang. Apalagi ketika dengan kasar ia membuka seluruh pakaian Baekhyun menyisakan pakaian dalamnya saja.
"Jika kau masih meragukanku kenormalanku walaupun aku sudah menciummu bukankah sepantasnya aku melakukan hal yang lebih dari itu?" jemari Chanyeol dengan sensual menyentuh payudara Baekhyun yang masih tertutupi bra, dan sialnya ia meremasnya membuat gadis itu tak sengaja mengeluarkan desahannya.
"Ah, Chanh, Jangan!"
Desahan Baekhyun makin menjadi ketika Chanyeol menyerang lehernya seperti vampire. Ia terus terusan menghisap leher Baekhyun meninggalkan bercak merah keunguan. Bukan hanya leher, Chanyeol juga menghisap putting payudara Baekhyun yang kini telah terekspos jelas karena branya dibuka dengan kasar.
Tetapi untung saja, ketika Chanyeol hendak melepaskan celana dalam gadis itu, kesadaran Chanyeol tiba – tiba menghilang. Lelaki itu sebelumnya meringis merasakan kepalanya yang mendadak pusing, dan setelahnya ia tak sadarkan diri.
Baekhyun menghela nafas lega karena hal itu. Ia pun segera membenarkan posisi tidur Chanyeol dan memakaikan pakaian pada tubuh lelaki itu dan dirinya. Setelahnya ia pun memilih tidur dan memeluk Chanyeol dalam tidurnya.
Ya, dia tidak peduli apa alasan Chanyeol ingin menyetubuhinya. Karena ia tahu pasti Chanyeol saat ini sedang sangat marah.
.
.
.
Entah sebuah keberuntungan atau kesialan, di minggu pagi ini Baekhyun menemukan Chanyeol disampingnya dengan memeluknya. Sebenarnya adegan Chanyeol memeluk Baekhyun saat tertidur itu sudah bukan hal aneh lagi, karena mereka memutuskan tetap satu ranjang meskipun Baekhyun berubah.
Tetapi mungkin hari ini berbeda, hati Baekhyun merasa sakit melihat Chanyeol tertidur dengan nyenyak dengan memeluknya. Apalagi jika ia mengingat kejadian semalam, rasanya sangat sakit ketika Chanyeol hampir memperkosanya.
Tetapi meskipun begitu, Baekhyun tak mampu membencinya.
Jemari Baekhyun pun dengan lancang menyentuh rahang tegas milik Chanyeol dan makin lama makin naik meraba seluruh bagian wajah lelaki jangkung itu. Baekhyun tertegun menyadari ketampanan Chanyeol memang jauh diatas rata – rata, ia memiliki wajah yang sangat sempurna untuk seukuran seorang remaja seperti mereka.
Dan Baekhyun pun yakin bahwa ia mulai mencintai lelaki dihadapannya.
"Jangan berani mencintaiku Chanyeol, kau membuatku tak ingin kembali menjadi seorang lelaki."
Baekhyun pun memilih bangkit dari ranjang dan beralih menuju kamar mandi. Ia tak ingin Chanyeol bangun dan melihatnya berpenampilan berantakan karena perbuatannya semalam.
Air mata Baekhyun jatuh menatap pantulan dirinya didepan cermin kamar mandi. Lehernya kini penuh bercak merah yang diberikan Chanyeol padanya semalam. Ia merasa apa yang dilakukan Chanyeol padanya itu salah, tetapi sayangnya Baekhyun menyukainya.
Baekhyun menyesal dia menjadi perempuan, hal ini membuatnya ia menjadi lebih lemah dari dirinya, bahkan sikapnya kini cenderung sangat feminim. Tetapi yang membuatnya lebih takut adalah ia kembali menjadi dirinya yang semula setelah perubahan sikapnya.
Apalagi jika ia kembali menjadi lelaki, pasti ia tak mampu mencintai Chanyeol lagi.
.
.
.
Rasa pusing menyerang Chanyeol ketika ia membuka matanya, ia memegang kepalanya dan meringis kesakitan. Ia merutuki kebodohannya yang mabuk, bahkan ia tak mengingat apa yang ia lakukan semalam hingga ia sampai diapartemennya dengan selamat.
Chanyeol memilih bangkit dari kasurnya dan keluar kamarnya untuk mencari Baekhyun. Netra matanya pun menemukan Baekhyun yang kini sedang membuatkan masakan. Senyumannya mengembang, Baekhyun sungguh terlihat seperti seorang istri yang membuat sarapan untuk suaminya.
"Memasak untukku hm?"
Diluar ekspetasi, Baekhyun justru kaget bukan main, "K-kau sudah bangun?"
"Kau baik – baik saja?" Chanyeol mendekati Baekhyun tetapi Baekhyun justru melangkah mundur, "kau tak apa?"
"Aku baik – baik saja." Baekhyun memasang senyuman palsunya.
Tetapi bukan Chanyeol namanya jika ia terpengaruh, lelaki itu menatap intens Baekhyun sampai ia tersadar bercak merah dileher Baekhyun. Seketika itu pula, amarahnya pun sedikit terpancing, "Siapa yang membuat kissmark itu?"
"Ini—" jemari Baekhyun berusaha menutupi kissmark itu tetapi Chanyeol segera menarik lengan Baekhyun dan mencengkramnya erat, "ish sakit Chan!"
"Bukankah ku bilang jangan menjadi perempuan rendahan, Baek!"
Seketika itu pula air mata Baekhyun terjatuh, ia menatap Chanyeol dengan tatapan sedih. Apakah Chanyeol lupa jika dialah yang menciptakan tanda itu? apakah ia lupa jika ia hampir memperkosanya?
Jika dalam keadaan sadar, Chanyeol memang lemah pada Baekhyun. Ia pun segera menarik Baekhyun kedalam pelukannya dan menenangkan gadis itu, "Maafkan aku, Baek. Aku terlalu terbawa emosi. Jadi siapa yang menciptakan tanda itu? siapa yang berani menyentuhmu?"
"Kau."
Seketika tubuh Chanyeol membeku mendengarnya, kejadian semalam pun berputar dikepalanya. Ia pu merutuki dirinya yang bisa – bisanya terpengaruh alkohol dan hampir menyetubuhi Baekhyun. Tetapi tak lama pikirannya pun teralih pada perkataan ayahnya.
Ayah menyesal mempunyai anak sepertimu. Jika kau memanglah gay. Mulai sekarang enyahlah dari keluarga Park!
Pandangan matanya pun lama – kelamaan berubah tajam. Ia mengepalkan pun jemarinya, berjanji akan menghancurkan semua rumor tentang ke-gay-annya.
.
.
.
TBC
Jancuk rek! wani wani aku update chapter hampir naena koyo kie padahal besok puasa loh rek.
Dosa e tanggung sendiri yoo~
