MAGIC
Chanyeol X Baekhyun
Semi-Angst Story
Langkah kaki jenjang Chanyeol memasukki sebuah gedung raksasa pencakar langit dengan terburu. Wajah lelaki itu terlihat tidak bersahabat, ia bahkan mengendarai motornya dengan kebut – kebutan hanya untuk mendatangi perusahaan Park Corp. milik keluarganya.
Ya, semenjak ia ingat kejadian semalam, ia merasa marah pada dirinya sendiri. Dan bagaimana pun ia harus menghentikan semua rumor gay-nya, dan membalik keadaan menjadi normal kembali.
Dan salah satunya adalah, ia harus menemui ayahnya yang tak lain dan tak bukan adalah CEO Park Corp.
"Maaf Tuan, Tuan Park Kyuhyun sedang tidak bisa diganggu saat ini." Seorang wanita cantik yang menjadi sekertaris ayahnya tiba tiba menghalangi Chanyeol saat lelaki itu hendak mendorong pintu raksasa berukiran indah ruangan ayahnya.
"Saya adalah anaknya, saya ingin menemuinya." Mata Chanyeol menatap wanita itu tajam membuat si wanita mundur dan menunduk. Wanita itu menyadari aura gelap penuh amarah yang melingkupi Chanyeol saat ini.
Chanyeol membuka pintu itu dengan kasar, ia menemukan ayahnya sedang berkutat dengan beberapa macam berkas dihadapannya. Dengusan Chanyeol terdengar saat ayahnya mulai menyapanya tanpa mengalihkan pandangannya pada beberapa berkas disana, "Ingin apa kemari? Menjelaskan semua rumormu?"
Tak ada jawaban dari Chanyeol, lelaki itu hanya mematung dipintu ruangan ketika mata tajam ayahnya mulai menatapnya, "Sudah puaskan kau memalukan nama baik keluarga? Kalau sudah silahkan pergi dan jangan pernah kembali! Kau dihapus dari nama keluarga!"
"Ayah—"
"Apa lagi? Ingin merengek padaku memohon ampun?" suara Kyuhyun meninggi dan sangat mengintimidasi.
Mata Chanyeol terpejam lelah, ia pun menarik nafasnya dalam sebelum berjalan menghampiri ayahnya. Ya, semua amarahnya seketika lenyap jika bertemu dengan ayahnya berganti dengan rasa ketakutan. Dengan penuh keberanian, ia pun mendekat kearah ayahnya dan duduk disofa panjang yang tersedia disana.
Jujur saja, Chanyeol tidak begitu berani dengan ayahnya. Ayahnya itu tipikal CEO kaya, sombong, arrogan, kejam, dan menakutkan. Sangat berbanding terbalik dengan pribadi seorang Chanyeol.
"Aku dijebak," Chanyeol mulai bicara memecah keheningan, "temanku dengan terang – terangan mengatakan suka padaku dan menciumku. Semua terjadi begitu saja dan setelahnya dia menghilang meninggalkan semua rumor menyebalkan itu." suara Chanyeol terdengar seperti seorang anak kecil yang mengadu pada ayahnya, ia bahkan hampir menangis mengatakan hal itu.
Kyuhyun menatap Chanyeol iba, meskipun dia diterkenal memiliki hati yang dingin dan kejam tetapi jika sudah berhadapan dengan sosok Chanyeol ia akan luluh juga. Ya, itulah sikap alamiyah seorang ayah.
Sebenarnya Kyuhyun tahu jelas siapa pengirim foto Chanyeol yang berciuman dengan lelaki, karena ia memang memiliki banyak mata – mata handal. Dan sialnya, semua jebakan itu tidak jauh dari masalah bisnisnya. Karena musuh perusahaannya lah yang mengirim foto itu padanya dan menyebarkannya pada publik.
Tetapi walaupun begitu, semuanya tetaplah salah Chanyeol karena kecerobohan lelaki itu.
"Ayah maafkan aku," isak tangis Chanyeol tiba tiba terdengar membuat ayahnya kaget bukan main, "Jangan marah padaku, aku menyesal telah terjebak. Hanya kau yang bisa membantuku saat ini. Jujur saja aku takut, aku takut dengan semua rumor itu, aku takut ayah dan ibu akan membuangku."
Hembusan panjang Kyuhyun terdengar, suaranya pun mulai melembut, "Kau tahu alasanmu dijebak?"
"Hyerin—" Chanyeol menjeda ucapannya beberapa detik, "dia gadis yang kutolak dan dia sedang membalas dendam padaku dengan cara menjebakku."
Kyuhyun bangkit dari kursi besarnya dan berjalan mendekati Chanyeol, ia berkacak pinggang didepan anaknya itu, "Apa pikiranmu memang sepolos itu? kau berpikir jika jebakan itu hanya karena balas dendam seorang gadis?"
"I-iya."
"Kau salah!" Chanyeol menatap ayahnya tidak mengerti, "semua ini adalah karena lawan politikku. Semua rumormu itu bisa menurunkan "
"A-apa?" Chanyeol sungguh tidak pernah terpikir sedikitpun tentang hal itu. Bagaimana ceritanya ia dijebak karena masalah bisnis ayahnya, "k-kenapa ayah tidak memberitahuku? kenapa justru memojokkanku dan mengusirku hah? Kenapa?!" emosi Chanyeol tersulut, ia menatap Kyuhyun marah.
Hembusan lelah terdengar dari Kyuhyun, ia menatap Chanyeol dengan penuh sesal, "Itu adalah cara untuk mempertahankan perusahaan ini, kau harus dihapus dari nama keluarga Park agar para investor tidak jadi mengambil investasinya lagi pada perusahaan ini!"
"Semudah ini?! Kau lebih memilih bisnismu ketimbang anakmu?!"
"Bukan seperti itu, tapi—"
"Pantas ibu meninggalkan kita! Pantas saja!" teriak Chanyeol. Kini ia merasa dibodohi oleh ayahnya sendiri. Kyuhyun pun tak bisa berkata apapun saat Chanyeol mulai membahas wanita itu, wanita yang telah melahirkan putranya.
Ya, Chanyeol telah kehilangan ibunya saat umurnya menginjak 5 tahun. Saat itu, bahkan sampai saat ini Chanyeol tidak mengerti alasan ibunya pergi meninggalkannya dan ayahnya karena Kyuhyun memang tak pernah mengatakan apapun kepada Chanyeol.
Untung saja Kyuhyun selalu memanjakan Chanyeol, sehingga anak itu tidak terlalu peduli kemana ibunya. Tetapi setelah Chanyeol mengetahui ayahnya seegois ini, ia yakin pasti ibunya pergi karena tak tahan oleh keegoisan pria dihadapannya.
"Jika memang aku harus dihapus dari daftar nama keluarga Park, silahkan saja." Chanyeol menatap ayahnya sedih, emosi yang tadi tersulut seolah surut seketika, "aku bisa hidup tanpa kekayaanmu. Ayahkan tahu sendiri bahwa aku bekerja sampingan di café." senyuman pahit terpatri di bibir Chanyeol.
Tidak ada satupun ayah di dunia ini yang tidak sedih melihat kesedihan anaknya, begitu juga Kyuhyun. Hatinya mencelos melihat raut sedih putranya, ia mengutuk dirinya sendiri yang bisa bisanya ia mengutamakan egonya ketimbang buah hatinya sendiri? Ayah macam apa ia yang tega mengusir dan menghapus nama anaknya hanya karena urusan bisnis?
"Tidak!" kepala Kyuhyun menggeleng cepat, ia segera duduk disamping Chanyeol dan menatap putranya dengan serius, "aku punya acara lain untuk itu."
"Cara lain?"
"Ya, kita harus melakukan confirmasi itu didepan publik, dan kau harus memberitahukan pada mereka bahwa kau bukanlah gay!" hembusan nafas panjang terdengar dari Kyuhyun, "tetapi jika kita melakukan itu, kau harus menunjukkan hubunganmu dengan seorang perempuan."
"Ayah akan mencarikan seorang perempuan untuk menjadi kekasih pura – puramu, atau bahkan aku akan mengumumkannya sebagai calon istrimu."
Calon istri? Seketika pikiran Chanyeol melayang pada Baekhyun. Ia rasa Baekhyun pasti akan membantunya, tetapi apakah gadis itu mau? Setelah apa yang Chanyeol lakukan padanya semalam.
Menyadari keterdiaman Chanyeol, Kyuhyun pun melanjutkan ucapannya lagi, "aku tahu kau belum siap, tetapi itu harus! Kau harus menunjukkan bahwa kau adalah seorang lelaki normal!"
"T-tapi ayah."
"Tapi apa? Kau ingin aku berpikir untuk menghapusmu dari daftar keluarga lalu akan mengembalikkanmu saat kau sudah lulus lagi?"
Chanyeol terdiam.
"Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus menjalin hubungan dengan seorang perempuan meskipun itu palsu. Ayah akan mencoba mencari perempuan manapun yang akan menjadi kekasihmu."
"Tidak perlu!" Chanyeol berucap tegas membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya, "aku sebenarnya mempunyai kekasih ayah." Entah bagaimana pemikiran Chanyeol sekarang, tetapi lelaki itu sungguh berpikir tentang Baekhyun saat ini.
"Baiklah. Besok! Setelah pulang sekolah kau bisa membawanya pada ayah!"
.
.
.
Chanyeol memeluk erat Baekhyun, dan Baekhyun menangis dalam pelukan itu, "Maafkan aku Baek, maaf."
"Kau tahu kau hampir memperkosaku semalam?" isakan tangis Baekhyun terdengar jelas. Chanyeol hanya mampu terdiam beku mendengar tangisan gadis yang dicintainya itu.
Demi apapun, tidak ada niat sedikitpun bagi Chanyeol untuk menodai kesucian Baekhyun. apalagi Baekhyun baru saja menjadi wanita, ia tak ingin menciptakan bekas luka trauma akibat nafsu nya sendiri pada gadis yang dicintainya itu.
"Maafkan aku, baek. Kau tahu aku dibawah pengaruh alkohol kan?"
Baekhyun melepas pelukannya dan menatap wajah Chanyeol dengan tatapan teduhnya, gadis itu bahkan tersenyum tulus didepan Chanyeol dengan tangan yang menyentuh rahang tegas lelaki itu, "Bisa kau katakana padaku alasan apa yang membuatmu seperti itu? jujur saja, aku tak marah sama sekali dengan perlakukanmu semalam, aku hanya," hembusan nafas Baekhyun terdengar, "—kecewa."
Sakit. Ya, mendengar semua perkataan Baekhyun hati Chanyeol perih. Seperti sebuah lubang luka yang menganga. Sungguh! Chanyeol sama sekali tak ingin membuat gadis kesayangannya kecewa. Tidak sama sekali.
Chanyeol bahkan berjanji pada dirinya sendiri akan melenyapkan sesuatu yang mengusik hidup gadis mungilnya itu.
"Aku akan merubah segalanya Baek, aku akan memperbaiki semuanya." Chanyeol menatap serius, lalu tangannya mengusap lembut air mata gadis itu, "Aku berjanji, akan menghilangkan rumor itu."
Setelahnya Chanyeol pun berjalan keluar apartemen itu, meninggalkan Baekhyun yang kini hanya terdiam tak sempat merespon perkataan lelaki jangkung itu.
Hembusan nafas Baekhyun terdengar, ia sungguh tak mengerti bagaimana jalan pikiran sahabat lelaki kesayangannya itu. ia pun memilih berbaring di Kasur empuknya dengan pandangan yang tertuju pada langit langit kamarnya.
"Chanyeol, aku sepertinya mulai merasakan hal aneh padamu," Baekhyun menyentuh dadanya sendiri, "ada getaran aneh disini, dan rasanya aku selalu nyaman didekatmu," kepala Baekhyun menggeleng cepat, "tidak! Aku tidak boleh suka padamu! Aku lelaki, ish! Byun Baekhyun sadarlah!"
"Lagipula, aku kan lebih tampan dari Chanyeol," Baekhyun memuji dirinya sendiri dan jemarinya menyentuh lengannya yang sangat kurus layaknya seorang gadis mungil, "ketika aku menjadi lelaki, aku bahkan memiliki bisep dilenganku."
Baekhyun pun memilih mengambil ponselnya untuk melihat fotonya dulu. Namun, matanya terbelalak saat ia mendapatkan pesan dari 'Mama'nya.
From: My Lovely Mom :*
Baekhyun? apa kau baik baik saja? kenapa kau susah sekali dihubungi? Mama mencoba menghubungimu dari kemarin sayang~ kalau kau tidak menghubungi mama jangan salahkan mama akan ke seoul hanya untuk menemuimu!
Perasaan Baekhyun menjadi tak enak saat mendapati pesan itu. Ya, karena setelah ia menjadi seorang gadis ia sama sekali belum berbicara apapun pada mamanya. Alasannya mudah, karena Baekhyun tak ingin mamanya syok karena semua kejadian aneh ini. Padahal Baekhyun selama ini termasuk anak mama yang sangat manja.
Mau tak mau gadis itu pun membalas pesan mamanya.
To : My Lovely Mom :*
Mama jangan khawatir~ maafkan aku karena dari kemarin aku sibuk. Mama tidak perlu ke Seoul hanya untuk menemuiku, ya meskipun Buncheon dan Seoul lumayan dekat tetapi aku tak ingin menyusahkan Mama ku yang ku sayang. Baekki sayang Mama~
From : My Lovely Mommy :*
Ya tuhan! akhirnya kau membalasnya sayang~ mama rindu Baekki. Ingin bertemu atau video call. Jika tidak bisa, telfon saja ya ya ya?
To :
Aku tidak bisa ma, aku sibuk.
Siapa sangka? Setelah menekan send. Nyonya Byun justru menelfon Baekhyun membuat gadis itu mau tak mau menerimanya. Sebenarnya Baekhyun ingin menolaknya, tetapi ia tak tega pada mama kesayangannya itu.
"Yeoboseyo Baekki sayang~"
Baekhyun mengatur suaranya agar lebih berat seperti lelaki pada umumnya, "Yeoboseyo Ma."
"Akhirnya kau menjawabnya sayang~ sebenarnya mama menelfonmu karena ada urusan penting."
"Urusan apa?"
"Minggu depan kakak sepupumu, Tiffany akan menikah dengan Nickhun. Kau harus datang ya?"
"A-aku sibuk."
"Bisa cuti?"
"Tapi ma—"
"No tapi tapi okay? Mama berencana ingin memperkenalkanmu sebagai anak mama paling tampan pada para gadis anak kolega papa di pesta pernikahan Tiffany," hati Baekhyun mencelos mendengarnya, "asal kau tahu, kau sering disebut sebut sebagai calon menantu idaman oleh para teman mama hehehe."
Perasaan bersalah Baekhyun kini muncul lagi, ia tiba tiba memutus panggilan telfon itu membuat mamanya bingung.
Setelahnya, Baekhyun hanya bisa menyesali perubahan tubuhnya. Ia sadar betul kalau dia itu adalah anak laki-laki kesayangan keluarganya. Tetapi sekarang? Ia justru menjadi seorang perempuan mungil yang tidak ada cantik – cantiknya jika dibanding para sepupunya.
Tiba tiba gadis itu merasakan perutnya sakit, dan daerah privasinya sedikit hmm, basah?
Baekhyun mau tak mau menuju kamar mandi dengan terburu, takut saja ia tiba tiba mendapatkan penis mungilnya kembali. Tetapi siapa sangka? Baekhyun justru menemukan bercak darah dari celana dalamnya.
Tangan Baekhyun bergetar, tubuhnya melemas, dan dia pun ambruk dengan penuh ketakutan dilantai kamar mandi. Sungguh, Baekhyun benar benar takut dengan darah yang ia yakini keluar dari kemaluannya itu.
Apakah itu penyakit?
"C-chanyeol? tolong a-aku." Suara Baekhyun terisak, ia ternyata menelfon Chanyeol dan menangis. Semoga saja Chanyeol langsung menolongnya.
.
.
.
Chanyeol kini sedang berada diruangan tangan kanan ayahnya, Tuan Lee. Dia memang cukup dekat dengan tangan ayahnya itu, karena semenjak kecil Chanyeol seringkali diasuh oleh pria pruh baya itu.
"Aku lelah dengan semua rumor itu, paman." Chanyeol duduk di sofa ruangan itu dengan menyenderkan tubuhnya pada sofa. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang entah mengapa terasa sangat lelah.
Senyuman lembut Tuan Lee terlihat, pria paruh baya itu bahkan duduk disamping Chanyeol dan mengelus lembut surai kecoklatan lelaki itu, "Sabarlah tuan muda, mungkin ini adalah cobaan tuan muda."
"Ya, aku tahu paman. Tapi ini tidak mudah. Bagaimana dan dimana aku bisa menemukan gadis yang bisa menjadi istriku. Ah, bahkan aku sama sekali tidak berani meminta Baekhyun melakukan itu."
Tiba – tiba ponsel Chanyeol bergetar, menunjukkan nama Baekhyun pada layarnya, "Paman! Gadis itu menelfonku!" pekik Chanyeol heboh membuat Tuan Lee tak mampu menyembunyikan kekehannya melihat betapa menggemaskannya anak majikannya itu.
"Yeoboseyo Baek?"
"C-chanyeol? tolong a-aku." Suara Baekhyun terdengar terisak.
Chanyeol mendadak bangkit dari sofanya dan raut wajahnya berubah menjadi khawatir, "Kau dimana Baek? Halo? Baekhyun? Byun Baekhyun!" teriak Chanyeol frustasi menyadari sambungan telefon terputus.
Ia pun segera pergi dari tempat itu dengan perasaan khawatir akan Baekhyun. Sungguh! Ia tak ingin Baekhyun terjadi sesuatu. Ya, ia tak ingin gadis yang dicintainya itu mengalami sesuatu yang buruk.
.
.
.
Seperti kesetanan Chanyeol mengendarai motornya membelah jalanan kota Seoul. Umpatan pun terdengar dari para pengguna jalan karena kebut – kebutan yang Chanyeol lakukan.
Chanyeol tidak peduli.
Karena yang ada dipikiran saat ini adalah Baekhyun. ya, hanya Baekhyun seorang.
Pintu apartemen Chanyeol terbuka, lelaki itu pun segera memasukkinya namun yang ia dapati hanyalah apartemen kosong dengan lampu menyala. Sampai akhirnya Chanyeol menemukan Baekhyun duduk di pojok kamar mandi memeluk kakinya dan menangis.
"Baek?" panggil Chanyeol.
Baekhyun menengadah dengan mata sembabnya dan menatap chanyeol sedih. Tatapan gadis itu layak seekor puppy. Jujur saja, jika tidak dalam mode khawatirnya, Chanyeol pasti akan memekik gemas pada gadis itu.
"Chan-yeol?" isakan Baekhyun terdengar, gadis itu pun menangis lagi, "Aku takut hiks."
Mendengar isakan gadis mungilnya itu, Chanyeol segera duduk dan memeluk tubuh Baekhyun. jujur saja, ia takut jika saja Baekhyun mendadak depresi dan trauma karena perlakuan kasarnya semalam.
"Kau kenapa?" bisik Chanyeol dengan lembut, membawa efek tenang pada gadis mungil bermata puppy.
"Aku berdarah hiks, kemaluanku berdarah!" mata Chanyeol melebar mendengarnya, "perutku juga sakit, disini nyeri." Baekhyun memegang perut bagian bawahnya.
Senyuman geli Chanyeol terlihat, lelaki itu menggeleng kecil karena masalah yang Baekhyun dapatkan bukanlah masalah besar. Chanyeol paham betul apa yang terjadi pada Baekhyun. Itu hanyalah tamu datang bulan yang sering perempuan dapatkan.
Tapi apakah Baekhyun tidak tahu akan semua itu? ah iya, Chanyeol sadar bahwa dulu Baekhyun adalah seorang lelaki.
"Hei, tidak perlu menangis, Baek," Chanyeol mencium pucuk rambut Baekhyun yang memiliki aroma manis strawberry, "itu hanyalah tamu datang bulan yang sering perempuan dapati. Kau tahu menstruasi kan? Ya, kau sekarang sedang mengalami iyu Baek."
"T-tapi aku takut."
"Ada aku," Chanyeol tiba tiba menggendong Baekhyun ala bridal dan membawanya ke kamar mereka, "sekarang kau istirahat dulu, lalu aku akan membeli pembalut dan obat Pereda nyeri, oke?"
Kepala Baekhyun mengangguk kecil, entah mengapa pipinya memanas saat ini. Ah iya tahu, pasti ini efek dari perhatian Chanyeol padanya. Sungguh! Perhatian Chanyeol saat ini menimbulkan perasaan menggelitik, seperti ada banyak kupu – kupu yang terbang di perutnya.
.
.
.
Tidak butuh waktu lama, Chanyeol bagaikan superhero flash karena belum sampai 30 menit, ia sudah kembali ke apartemen membawa pesanan untuk Baekhyun –pembalut dan Pereda nyeri. Sepertinya lelaki itu sama sekali tidak malu untuk membelikan dua benda tersebut di minimarket.
Ia pun segera memberikan dua benda tersebut pada Baekhyun, dan Baekhyun menerimanya dengan senyuman cantik yang terukir pada bibirnya, "Terima kasih Chanyeol." Chanyeol terpaku, ia melihat jelas rona majah kemerahan di pipi Baekhyun.
Ugh! Sepertinya Baekhyun tersipu eoh?
Setelah Baekhyun berlari ke kamar mandi, Chanyeol membaringkan tubuhnya di atas Kasur dan menatap langit – langit Kasur dengan perasaan tak menentu. Ya, ia bimbang sekaligus gelisah ingin mengungkapkan hal penting terkait rencana ayahnya.
"Apa Baekhyun mau ya menjadi calon istriku? Jika dia tak ingin pura – pura, aku rela menjadikannya calon istru sungguhan." Monolog Chanyeol tanpa menyadari bahwa Baekhyun melihatnya diambang pintu kamar mandi.
"Ugh! Tapi pasti Baekhyun tak mau!"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu, Chan? Kau bahkan belum bertanya apapun padaku." Baekhyun keluar dari kamar mandi dan duduk disamping chanyeol yang berbaring. Wajah Baekhyun ia buat sekesal mungkin membuat Chanyeol merasa salah pada nya.
"K-kau mendengarnya?"
"Hm."
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Kau mau menerima tawaranku?" tanya Chanyeol hati – hati, "kau hanya perlu menjadi calon istri pura – puraku Baek."
Tak ada jawaban dari Baekhyun, gadis itu menunduk dalam,"K-kenapa?"
"Untuk memperbaiki semua rumor yang beredar. Aku harus mempublikasikan hubunganku dengan seseorang dan aku memintamu untuk itu."
"Bagaimana jika keluargaku tahu?"
Kini Baekhyun dan Chanyeol saling berpandangan serius. Keduanya saling memutar otak untuk merancang sebuah rencana itu. sampai akhirnya Chanyeol tersenyum teduh, dan mengusak rambut kepala Baekhyun, "Aku akan mempertanggung jawabkan semuanya. Serahkanlah semua padaku!"
.
.
.
Sebelumnya Chanyeol memang pernah merasa kesal pada Baekhyun. Tetapi kali ini berbeda, rasa kesal Chanyeol pada Baekhyun seakan meningkat puluhan kali lipat pagi ini. Oh salahkan semua ini pada perubahan mood Baekhyun yang sangat menyebalkan.
Ish!
"Ayolah Baek, bangun! Ini sudah jam 7 kurang sepuluh menit!" Chanyeol tak berhenti berteriak semenjak dua puluh menit lalu. Ia rasa sepertinya ia akan sakit tenggorokan setelah ini.
"Chan! Aku tak mau tahu! Aku tak ingin sekolah!" Baekhyun merengek dan kembali tertidur dengan selimut yang menutupi kepalanya.
Jemari Chanyeol mengusap wajahnya kasar, ia kembali menarik selimut Baekhyun, "Hari ini hari senin Baek, dan asal kau tahu sekarang ada ulangan fisika!"
"Perutku sakit sialan!" dan tiba tiba Baekhyun menangis didalam selimutnya.
Oh sial! Tangisan Baekhyun adalah kelemahan Chanyeol oke?
Chanyeol menyibak selimut Baekhyun kasar, dan tak peduli Baekhyun merengek keras Chanyeol menggendongnya ala bridal menuju kamar mandi. Chanyeol tidak peduli baju seragamnya akan kusut karena Baekhyun terus menerus menendangnya.
"Turunkan aku sialan! Park Chanyeol sialan! Dingin brr" Baekhyun berteriak keras saat Chanyeol menjatuhkannya didalam bak mandi. Ish! Apakah Chanyeol bodoh? Bagaimana Chanyeol bisa menjatuhkannya begitu saja ketika Baekhyun sedang menstruasi seperti sekarang?
"Kau mandi! Aku tunggu diluar!" Chanyeol segera keluar dari sana.
Setelah Chanyeol keluar, Baekhyun hanya mengangkat bahunya acuh. Ia pun segera melepas semua pakaiannya yang telah basah, tetapi saat ia melihat darahnya tercampur dengan air bak, ia segera berteriak keras, "Iiih Jorok! Ish ini pasti gara – gara si Chanyeol brengsek itu!"
Teriakan cetar Baekhyun berhasil membawa Chanyeol membuka pintu kamar mandi kembali, "Ada masalah ap—" darah segar bercampur air liur seketika mengotori wajah Chanyeol, dan sialnya celana dalamnya pun terasa sesak.
Dua payudara Baekhyun tanpa penutup sama sekali terpampang jelas di depan matanya. Siapapun lelaki pasti akan melakukan hal yang sama seperti Chanyeol, terdiam membatu diambang pintu dengan mata yang tak ingin berkedip sedetik pun melihat pemandangan indah itu.
Tetapi sialnya semua itu berakhir ketika—
—BRUK!
"PERGI KAU DARI SINI BRENGSEK SIALAN!" Sepasang bra terlempar begitu saja pada wajah Chanyeol. Chanyeol yang tak mau mencari mati pun segera menutup pintu itu dengan tampang horror.
Ia mengambil bra itu dan menatapnya berbinar, "Auch, punya Baekhyun besar juga." Senyuman mesumnya terlihat, ia pun mulai berfantasi liar tentang Baekhyun.
Oh Chanyeol! apakah kau lupa jika kau pernah menyentuhnya, meremasnya, dan memberikan tanda cinta disana?
Seketika itu Chanyeol segera menggeleng keras, ia memegang kejantanannya yang telah tegang dan menghela nafas panjang, "Sepertinya aku harus berangkat sendiri dan menuntaskan hasratku di kamar mandi sekolah."
.
.
.
Wajah Baekhyun memerah semenjak tadi, ia belum keluar dari kamar sejak 40 menit lalu. Pikirannya masih membayangkan saat Chanyeol melihat kedua payudaranya. Meskipun sebelumnya pernah, tetapi kali ini berbeda. Chanyeol saat ini tidak mabuk dan dia sadar total.
Ish! Mau ditaruh dimana wajah cantik Baekhyun nanti?
Baekhyun pun mau tak mau segera mempercepat mandinya dan segera keluar dari sana. Ia menghela nafas lega, saat ia tak menemukan Chanyeol di apartemen itu.
Sebuah note kecil dari Chanyeol pun tergeletak di meja makan, bersama sepotong sandwich dan susu strawberry kesukaan Baekhyun. Senyuman Baekhyun terlihat ketika membaca note itu.
Aku berangkat sekolah dulu, Princess^^
Lupakan masalah tadi okey? Maafkan aku, sungguh aku tak sengaja hehe.
Jangan lupa makan sarapanmu yaa princess Baekki :*
—PCY—
Baekhyun pun memakan sandwich itu dengan senyuman merekah. Ugh! Ia rasa hatinya sedang berbunga – bunga sekarang. Bagaimana bisa perlakuan Chanyeol saat ini terlihat sangat manis di matanya? unnch~
Andai saja Baekhyun terlahir sebagai wanita, pasti ia akan menjadikan Chanyeol kekasihnya dan suaminya. Apalagi Chanyeol itu mempunyai sikap lucu, penyayang, baik, multitalent, dan posessif yang banyak diidamkan para wanita.
Tetapi segera saja Baekhyun menggeleng mengenyahkan pikirannya, "Ish! Kenapa harus si dumbo itu sih? Jika aku memang terlahir menjadi wanita lebih baik menikah dengan pria hot seperti Gong Yoo ataupun Zayn Malik."
"Tapi—" senyuman aneh Baekhyun kembali terlihat, ia memikirkan betapa hotnya Chanyeol ketika toppless, apalagi perut sixpack dan otot bisepnya yang aduhai, "Chanyeol juga tidak terlalu buruk hehe."
Oh Baek! Sepertinya kau mulai gila haha.
Semenjak Baekhyun melihat Chanyeol untuk pertama kali, ia akui Chanyeol memang tampan dan manly. Tetapi demi apapun, ia sama sekali tak tertarik pada lelaki jangkung itu. Tetapi sekarang? kenapa ia sangat tertarik pada Chanyeol dan menyukainya?
Ish! Ini gila!
"Ah! Sepertinya aku berubah menjadi gay." Baekhyun memakan sandwichnya cepat dengan perasaan kesal. Dalam hatinya ia berharap agar ia tak berubah menjadi lelaki kembali, karena jujur saja ia tak mau disebut gay.
Ditengah perubahan mood Baekhyun yang menjadi kesal itu, ponsel gadis itu berbunyi. Baekhyun melihatnya dan matanya melebar ketika ia mendapati nama "My Lovely Mom :*" di layar.
Mau tak mau Baekhyun pun mengangkatnya, tetapi sebelum itu ia mengatur suaranya dahulu. Tidak etis kan jika Baekhyun menjawab panggilan mamanya dengan suara lembut khas perempuan miliknya.
"Yeoboseyo ma, mama kenapa menelfon pagi ini? Aku sedang sekolah, ma."
"Kau dimana, Byun Baekhyun?" suara Nyonya Byun terdengar dingin dan sangat mengintimidasi. Meskipun tak melihat langsung, Baekhyun yakin pasti saat ini wanita paruh baya itu sedang marah sebesar – besarnya. Apalagi ketika ia memanggil Baekhyun dengan nama lengkapnya.
"Apa aku melakukan kesalahan ma?"
Hembusan nafas kesal sangat terdengar, "Kau masih bertanya? Seharusnya mama yang bertanya Baek! Kau dimana sekarang dan mengapa kau pindah sekolah hah?! Lalu siapa Baekhee? Mama tak punya anak bernama Baekhee asal kau tahu! Kau pasti menghamili gadis yang bernama Baekhee itu kan? Lalu kau menyuruhnya sekolah disekolahmu dan kau mencari kerja untuk anak dan istrimu itu? kenapa kau melakukan hal ini, anakku!"
"Asal kau tahu, sekarang mama lagi di Seoul untuk membeli kado untuk Tiffany, dan sekalian untuk menjemputmu. Baekhyun-ah, Apa yang kau lakukan pada mama itu jahat!"
Dasar drama queen!
Mata Baekhyun berotasi, ia tak menyangka pemikiran mamanya akan sejauh itu. Ia rasa ini pasti pengaruh dari drama korea yang sering mamanya konsumsi. Ish! Menyebalkan!
"Aku tak punya istri ma, lagipula aku tidak menghamili siapapun! Dan hentikan menonton drama apapun itu karena itu membuat mama menjadi selebay sekarang ish!"
Oh no! Baekhyun kelepasan menggunakan suara perempuannya. Semoga saja Nyonya Byun tidak—
"Siapa kau? Dimana Baekhhyun? Dimana anakku?"
Dan sial! Mamanya menyadari bahwa itu suara perempuan.
"Kau yang dihamili Baekhyun kan?"
Astaga! Dihamili lagi? Dimana otak mamanya hah?
"Aku tidak dihamili! Aku Baekhyun ma!"
"Jangan bercanda!"
"Datang saja ke apartemenku jika mama tidak percaya!"
TUT!
Panggilan itu Baekhyun putus secara sepihak. Baekhyun segera memakan semua makanan di meja itu dengan rakus untuk mengalihkan rasa kesalnya.
Ah sial! Ia tidak membayangkan bagaimana jika mamanya tahu dirinya yang sekarang. Apakah ia akan mencoretnya dari nama keluarga? Entahlah~
Baekhyun pun memilih untuk mengirim Chat pada Chanyeol.
Baek
Chan. Ibuku ingin ke apartemen. Semua salahku L bagaimana ini?
Chan
Aku akan pulang setelah ulangan fisika okey?
Baek
Aku menunggumu~
Read.
"Ish hanya di read eoh?!" Baekhyun menghentakkan kakinya dilantai dengan kesal. Hari ini semua orang mendadak menjadi brengsek dan Baekhyun sangat membenci mereka semua.
Oke, wanita akan menjadi lebih sensi ketika menstruasi dan Baekhyun juga seperti itu.
Ditengah kemarahan Baekhyun, pintu apartemen Baekhyun berbunyi. Ia segera menghampiri pintu dan mengecek intercom, hembusan nafas kesalnya terdengar saat ia melihat seorang pria paruh baya memegang sepaket kotak besar ditangannya. Alisnya berkerut heran menebak siapa itu, ia pun segera membuka pintunya dengan tampang masam.
"Pemisi nona, apa ini apartemen nyonya Shin? Ini ada paketan dari Tuan Jang" pria itu membungkuk hormat, dengan senyuman profesionalnya.
Tetapi karena Baekhyun tidak dalam mood yang bagus, ia justru berteriak, "Ini apartemenku, Byun Baekhyun! aku tak mengenal Shin ataupun Jang yang kau maksud sialan!"
BRUK!
Pintu apartemen itu Baekhyun tutup dengan keras.
Tetapi belum sempat Baekhyun berjalan kedalam kamarnya, bel berbunyi lagi. Ia hampir saja mengumpat saat ia mendapati pria yang sama disana, "Kalau apartemen ini milik nona, lalu apartemen Nyonya Shin dimana?"
SHIT! What the fuck!
Jika saja Baekhyun bisa, ia pasti akan menenggelamkan bapak – bapak dihadapannya dilautan lepas agar dimakan hiu.
"Aku tak mengenal mereka dan jangan kembali lagi sialan! Jika kau mempunyai otak pasti kau akan bertanya pada satpam!"
Dan lagi lagi pintu itu dibanting keras.
"Cantik – cantik tak punya sopan santun." Pria paruh baya itu menggeleng miris, dan pergi dari sana secepatnya.
Baekhyun belum sempat memasukki kamarnya, lagi – lagi bel apartemennya berbunyi lagi. "Ini sudah kali ketiga! Sepertinya ahjussi itu harus kuberi pelajaran." Baekhyun mengambil tongkat hiasan baseball Chanyeol yang terletak di ruang tamu dan berjalan dengan cepat menuju kesana.
Ia pun membuka pintunya dan berteriak keras, "SIALAN KAU AHJUSSI!"
Belum sempat Baekhyun melayangkan tongkat, ia justru berdiri membeku sekarang. Matanya menatap seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dan glamour dihadapannya. Bukan hanya Baekhyun, wanita itu pun menatap Baekhyun dengan tatapan yang sama.
Ditelitinya pakaian Baekhyun saat ini, hanya kaos putih kebesaran dan hotpants pendek yang membuat kaki jenjangnya mulusnya terekspos. Nyonya Byun yakin pasti gadis dihadapannya ini sangat menggoda dengan tubuh mungilnya.
"Mama? Kenapa mama ada disini?" suara Baekhyun memecah keheningan.
Tetapi bukannya mendapat jawaban, Baekhyun justru mendapat tamparan keras dari Nyonya Byun, "Jadi kau jalangnya hah?! Mana anakku? Kau pasti menggodanya kan agar mendapat harta keluargaku? Kau benar benar wanita sialan! Siapa namamu? Baekhee? Pasti itu nama palsumu kan? Aish! Kau ini!"
Nyonya Byun kini menjambak rambut Baekhyun keras seperti kesetanan, "Kau sialan! Jalang sialan! Kau menghancurkan hidup anakku!"
Demi apapun! Nyonya Byun sangat terlihat seperti seorang ibu antagonis dalam drama. Apalagi penampilannya yang glamour sangat mendukung hal itu.
Dan yang dilakukan Baekhyun saat ini hanyalah menangis mendapati perlakuan seperti itu dari mamanya sendiri, "Sakit ma~ ini Baekki~"
"Hentikan Nyonya!" pria paruh baya pengantar paket barusan mencoba menenangkan Nyonya Byun, "meskipun gadis ini tak sopan, nyonya jangan membunuhnya."
Nyonya Byun melepaskan jambakannya dan menatap tajam Baekhyun yang kini sedang menangis, "Dimana Baekhyun?" suaranya masih dingin dan mengintimidasi.
"Hiks, a-aku Baek-Baekhyun." isakan Baekhyun makin keras dan berakhir dengan rengekan manja.
"Kenapa kau menangis sih?" Nyonya Byun segera menarik Baekhyun kedalam apartemen gadis itu dan membungkuk sopan pada pria pengantar paket.
Setelah mendudukan Baekhyun dan dirinya di sofa apartemen itu, Nyonya Byun kembali menginterogasi. Tetapi sebelum menginterogasi Nyonya Byun sempat tertegun dengan wajah gadis dihadapannya yang sangat mirip dengan Baekhyun tetapi gadis dihadapannya memiliki garis wajah yang lebih lembut.
"Kau sungguhan Baekhyun?"
"Kenapa mama tak percaya padaku?"
"Anakku lelaki, dan kau perempuan!"
Kepala Baekhyun menunduk dalam menyembunyikan tangisannya, "Bukankah setiap ibu memiliki ikatan batin pada anaknya? Kenapa mama sama sekali tak mengenalku?"
Perkataan Baekhyun seperti belati yang menusuk hati Nyonya Byun, wajah Nyonya Byun yang semula dingin kini berubah menjadi raut wajah menyesal, "Apa kau Baekhyun anakku?"
"Jika aku menjawab iya, apakah mama akan percaya?"
Nyonya Byun segera menarik Baekhyun kepelukannya dan mereka berdua pun menangis bersama. Demi apapun, Nyonya Byun awalnya memang tak percaya, tetapi ia pun merasakan ikatan batin pada gadis dihadapannya.
Sekarang ia tak peduli apakah Baekhyun lelaki ataupun perempuan, yang terpenting dia anaknya.
Setelah puas menangis, Nyonya Byun melepaskan pelukannya pada Baekhyun dan menatap gadis itu sedih, jemarinya mengusap lelehan liquid yang tergenang di pipi gadis itu, "Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi? Kenapa kau bisa menjadi perempuan? Kau transgender?"
Kepala Baekhyun menggeleng, ia pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya pada mamanya, dan semua kejadian yang ia dan Chanyeol alami kemarin. Ya, tentunya bagian dimana ia dilecehkan tidak ia ceritakan. Ia takut mamanya akan membenci Chanyeol.
Mamanya pun kembali memeluk Baekhyun erat, "Ya tuhan! anakku kenapa kau bisa seperti ini hah?" jemari Nyonya Byun mengelus lembut rambut panjang Baekhyun, "tetapi setidaknya kau sangat cantik untuk ukuran perempuan, dan tubuhmu sangat seksi. Kau pasti menjadi rebutan anak kolega papa dan anak teman teman mama."
"Ih! Mama!" rengek Baekhyun manja membuat Nyonya Byun terkekeh.
"Mama jamin tuhan pasti memiliki rencana lain untuk hidupmu."
"Amin~"
Senyuman pun kini terlihat diwajah kedua ibu dan anak itu, mereka berdua pun bercerita panjang lebar tentang masalah perempuan. Lebih tepatnya, Baekhyun menanyakan banyak hal kepada mamanya tentang apa yang ia alami menjadi perempuan.
"Aku bingung kenapa jantungku selalu berdetak keras ketika Chanyeol melakukan sesuatu hal padaku ya ma? Ini aku rasakan setelah aku menjadi perempuan, saat aku jadi lelaki belum pernah."
Nyonya Byun menatap dalam Baekhyun, ia yakin pasti anaknya jatuh cinta pada lelaki bernama Chanyeol itu. Tetapi berhubung Nyonya Byun belum mengenal siapa dia, ia pun urung mengatakan hal itu, ia justru bertanya balik, "Memangnya Chanyeol itu seperti apa?"
"Dia baik, tampan, pengertian, berbakat—"
"Bukan itu maksud mama, tetapi keluarganya." Suara Nyonya Byun mendadak lirih, Baekhyun hanya memutar bola matanya malas menghadapi sikap mamanya yang materialistis.
"Chanyeol hanya penyanyi café," wajah Nyonya Byun berubah menjadi masam, ia pun menghembuskan nafas kasar dan hendak berbicara kembali tetapi Baekhyun menyelanya, "dia bermarga Park, dia anaknya Park Kyuhyun."
"Ibu tak peduli marganya yang ibu—" Nyonya Byun menatap Baekhyun horror, "Kau bilang Park Kyuhyun yang duda kaya itu? yang perusahaannya sangat terkenal dan nomor satu di korea? Dia anaknya?"
"Hm."
Senyuman miring Nyonya Byun terlihat, apalagi ketika bel pintu apartemen berbunyi dan Baekhyun bangkit untuk membukakan pintu, "Sepertinya itu Chanyeol."
Ouch! Sepertinya wanita itu memiliki sebuah rencana besar.
Baekhyun membukakan pintu dan menemukan Chanyeol disana. Ia segera menarik lengan Chanyeol menuju mamanya, "Mamaku sudah tahu semuanya."
"Terus?"
"Kau harus menemuinya."
Chanyeol pun menghampiri Nyonya Byun dan membungkuk pada wanita itu, "Permisi saya Park Chanyeol, salam kenal nyonya."
"Saya Byun yoona," senyuman manis Nyonya Byun terlihat, "jangan panggil nyonya tapi panggil mama saja okey? Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi menantuku?"
"Eh?"
Chanyeol menatap Baekhyun seolah meminta penjelasan, tetapi gadis itu hanya menaikkan bahunya tak tahu.
"Ayahmu itu kolega ayahnya Baekhyun, Byun Donghae. Pasti ayahmu sangat setuju dengan Baekhyun yang akan menjadi calon istrimu didepan public nanti."
Chanyeol dan Baekhyun saling bertatapan tak mengerti, sampai akhirnya Nyonya Byun melanjutkan ucapannya lagi, "Aku berharap hubungan kalian bukan hanya berpura – pura, aku akan memberitahu Kyuhyun bahwa kalian harus dinikahkan sungguhan! Lagipula, Baekhyun sudah menjadi wanita."
Tak ada jawaban dari mereka berdua.
Ya, semoga saja Baekhyun menjadi wanita sungguhan dan tidak kembali menjadi lelaki.
.
.
.
Baekhyun menatap malas pantulan dirinya dicermin. Ia berkali – kali mendengus kesal karena kelakuan ibunya saat ini. Bagaimana tidak? Dengan teganya ibunya menyuruhnya duduk disalon selama berjam – jam hanya untuk di make over.
Seharusnya di malam ini Baekhyun tengah membaca buku sejarah kesukaannya dan makan strawberry cake di kamarnya. Bukannya mempersiapkan diri untuk menemui ayah Chanyeol sebagai calon tunangannya.
Ya, seharusnya.
Alis Baekhyun berkerut heran saat rambutnya bisa di potong dengan mudahnya, ia ingat sekali saat ia berubah menjadi perempuan, gunting sama sekali tak tertembus pada rambut hitamnya.
Tetapi gadis itu terdiam lama, dan menyimpulkan sesuatu. Pasti kekuatan magis yang merubahnya menjadi perempuan makin lama makin melemah. Dan mungkin saja sebentar lagi ia akan menjadi seorang lelaki.
Ya, itu hanyalah hasil pemikiran bodoh seorang Byun Baekhyun.
Butuh waktu hampir 3 jam Baekhyun selesai dengan make over dan tetengek bengeknya yang menyebalkan itu. Ia pun segera memakai gaun yang dipilihkan mamanya yang demi tuhan sangat terbuka baginya.
Dan juga highheels yang Baekhyun yakini tingginya itu 12 cm. Baekhyun yakin pasti kakinya akan terkilir jika kelamaan memakai benda itu. Meskipun ia mempunyai semacam itu, tetapi ia sama sekali belum pernah memakainya.
"Ayo Baek, Chanyeol telah menunggumu di luar."
Nyonya Byun masuk ke ruangan salon tempat Baekhyun di make over. Wanita itu tersenyum puas melihat penampilan putra putrinya saat ini.
Mau tak mau Baekhyun pun keluar dengan berpegangan pada Nyonya Byun. Dan saat ia keluar ia melihat Chanyeol yang duduk dan langsung berdiri saat melihat Baekhyun. Mereka berdua saling melemparkan tatapan penuh pesona.
Baekhyun tertegun melihat Chanyeol berdiri gagah dengan tuxedo hitam membalut tubuhnya, dahinya yang sebelumnya selalu tertutupi poni kini justru sebaliknya, Baekhyun tak pernah tahu ternyata dahi Chanyeol seseksi itu.
Tak jauh dengan Baekhyun, Chanyeol pun terpesona dengan Baekhyun. Rambut hitam panjangnya berganti dengan rambut berwarna brown yang sedikit lebih pendek dari sebelumnya. Gaunnya juga bisa dikatakan sangat pas ditubuh seksinya, bahkan paha mulus dan belahan dada gadis itu sedikit terekspos –jujur Chanyeol tak suka bagian itu.
Mereka berdua pun saling mendekat dengan getaran aneh pada dada masing – masing. Keduanya pun saling melempar senyum manis membuat keduanya seolah berada diantara guguran bunga sakura dimusim semi –oh shit! Tidak sadarkah mereka jika ini masih di musim panas akhir menjelang musim gugur?
"Kau terlihat Cantik, Baek."
"Kau juga terlihat tampan, Oppa."
Sepertinya mereka tak mampu membendung benih – benih cinta yang sepertinya akan tumbuh sebentar lagi dihati mereka. Persetan dengan gender! Masalah hati lebih utama.
Chanyeol menawarkan lengannya yang langsung disambut oleh Baekhyun. Mereka berdua berjalan keluar salon dengan senyuman manis yang terukir diwajah mereka berdua. Sangat terlihat seperti pengantin baru.
Tanpa mereka berdua sadari, Nyonya Byun terkekeh geli melihat mereka berdua, "Dasar anak muda!"
.
.
.
Baekhyun tak menyangka ibunya akan seakrab ini dengan ayahnya Chanyeol. Saat acara makan malam, mereka berdua bahkan bercerita tentang masa kuliah mereka. Omg! Baekhyun baru tahu ternyata ayah ibunya dan juga ayahnya Chanyeol satu universitas di Inggris dulu.
Pantas saja mereka saling mengenal.
"Kyuhyun-ssi, aku ingin sekali melaksanakan pertunangan antara Baekhyun dan Chanyeol dalam waktu dekat. Aku tak selalu gemas melihat tingkah mereka berdua."
Baekhyun dan Chanyeol saling bertatapan penuh tanya satu sama lain.
"Memang itulah rencanaku Yoona-ssi," Kyuhyun menatap kedua anak muda diruangan itu dengan senyum evilnya, "pertunangan mereka akan dilaksanakan minggu ini dan akan menikahkan mereka berdua setelah mereka lulus."
UHUK!
Baekhyun dan Chanyeol tersedak bersamaan. Bagaimana mungkin minggu ini? Ini terlalu cepat. Dan apa – apaan tentang pernikahan itu? konyol memang! ya, sebenarnya ayahnya itu sangat konyol.
Ingin Chanyeol membantah tetapi ucapannya disela oleh Nyonya Byun, "Ide yang bagus! Aku harap dengan pernikahan mereka hubungan kita jadi lebih dekat sebagai sahabat."
"Ya, aku yakin Donghae akan senang mendengarnya."
Setelah makan malam, mereka bertiga menginap di mansion mewah milik Park Kyuhyun. Nyonya Byun memang telah merencanakan ini sebelumnya, ia bahkan membawa beberapa baju ganti untuknya, Baekhyun, dan Chanyeol.
Sebenarnya Baekhyun tidur dikamar terpisah dengan Chanyeol, tetapi entah mengapa mereka berdua justru berada dikamar yang sama saat ini.
Ini semua ide busuknya Chanyeol. Saat malam, ia keluar dari kamarnya dan berjalan kearah kamar tamu tempat tidurnya Baekhyun. dan saat ia memasukki kamar, ia menemukan Baekhyun tengah melamun.
"Baek? Kau tak apa?" tanya Chanyeol mengagetkan Baekhyun.
"Sejak kapan kau disini?"
Chanyeol tak menjawabnya, lelaki jangkung itu justru berbaring disamping Baekhun dan memeluk gadis itu membuat si gadis menegang ditempatnya, "Aku hanya tidak bisa tertidur jika tak disampingmu."
Bola mata Baekhyun berputar malas, "Ish! Kau berlebihan!"
Keduanya pun saling menatap kearah langit – langit dengan perasaan yang berbeda satu sama lain. perasaan bahagia bagi Chanyeol dan perasaan penuh kecemasan bagi Baekhyun.
"Oppa."/ "Baekhyun."
Mereka saling mengucapkannya bersamaan dan akhirnya mereka saling menatap dalam yang menyebabkan getaran aneh pada dada kedua orang itu.
"Kau saja yang lebih dulu, Baek."
"Tidak, kau saja yang lebih dulu, Oppa."
Tangan Chanyeol mengelus lembut rambut Baekhyun yang berwarna kecoklatan itu. Ia tersenyum sangat tampan membuat Baekhyun tak bisa berkutik sama sekali, "Aku menyukaimu –ah tidak tetapi sepertinya aku mencintaimu, Baek. Kau selalu terlihat sangat cantik dimataku bahkan saat kau masih menjadi lelaki."
Jantung mereka berdua berdegup kencang satu sama lain, dan hal itu tentunya membuat Baekhyun berat mengatakan apa yang menganggu pikirannya belakangan ini.
"Jangan membuaku terlena dalam hal semu ini, Chanyeol. ku harap kau masih ingat dengan gender asliku." Lirih Baekhyun membuat Chanyeol tersentak, lelaki itu menatap kecewa Baekhyun.
"Apa kau masih meragukanku? Aku tak peduli kau lelaki atau bukan karena bagiku kau sangat berarti Baek! Aku tak peduli kau Baekhyun atau Baekhee! Karena aku sangat mencintaimu." Suara Chanyeol sedikit meninggi.
Air mata Baekhyun seketika turun, ia menatap Chanyeol sedih, "Kau tak peduli tetapi aku peduli! Aku tak mau dihina karena menjadi seorang gay!"
Chanyeol mendadak luluh karena tangisan Baekhyun, ia segera merengkuh gadis mungil itu dalam dekapannya dan menciumi pucuk kepalanya, "Sudahlah lupakan Baek, kenapa kau tiba – tiba berpikir kau akan menjadi lelaki kembali? Apa kau lupa bahwa madam mengatakan kau sulit untuk kembali pada wujud semula?"
"Sulit bukan berarti tak bisa, Oppa."
"Baiklah, apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?"
Baekhyun melepaskan pelukan Chanyeol dan menyentuh rambutnya sendiri, "Saat dulu saat aku ingin memotongnya sangat sulit sekali, bahkan gunting sama sekali tak bisa ditembus sedangkan sekarang tukang salon bisa dengan mudahnya menggunting rambutku."
Kekehan Chanyeol terdengar, tetapi itu sama sekali tak menginterupsi ucapan Baekhyun sama sekali.
"Aku takut akan kembali menjadi lelaki disaat aku mencintaimu."
Kedua hazel itu bertatapan kembali dan kekehan Chanyeol terhenti seketika. Dan entah bagaimana ceritanya benda kenyal milik Chanyeol telah tertempel diatas benda kenyal milik Baekhyun dengan debaran di dada mereka yang makin menggila.
Baekhyun memejamkan matanya ketika merasakan pergerakan Chanyeol diatas bibirnya. Menikmati sentuhan lembut yang Chanyeol berikan. Begitupun Chanyeol, ia menikmati betapa lembut dan halusnya bibir gadis pujaan hatinya.
Ia menghisap bibir itu dengan lembut penuh pemujaan. Meski tak berakhir dalam pergulatan panas diatas ranjang, kedua remaja itu mendapatkan pagutan yang tak kalah panas.
Semoga semua ini tak akan berakhir cepat –Baekhyun
Aku tak akan membiarkanmu kembali seperti dulu meskipun aku harus melawan takdir –Chanyeol
.
.
.
TBC
