MAGIC
Chanyeol X Baekhyun
Fantasy Story
Mentari seperti biasa menyinari dengan biasnya melewati jendela kamar. Mata hazel gadis itu terbuka merasakan silaunya sinar mentari yang menganggu tidurnya. Ia menatap tempat kosong yang berada disampingnya dengan nafas berat.
Ini sudah siang dan ia yakin Chanyeol telah berangkat ke sekola tanpa membangunkannya.
Ia segera turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar itu dengan langkah pelan. Matanya menyusuri mansion mewah itu untuk mencari Chanyeol, berharap lelaki itu masih disana dengan senyuman idiotnya. Tetapi nihil, Chanyeol telah mendahuluinya.
"Morning, baby." Nyonya Byun menyapa Baekhyun dari arah dapur.
Gadis mungil itu pun menghampiri ibunya yang sepertinya sibuk membantu para maid keluarga Park didapur, "Mama lihat Chanyeol?"
"Dia sudah berangkat."
"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Baekhyun kecewa.
Nyonya Byun terkekeh lucu, ia pun mengusak gemas putrinya, "Kan kita akan pulang ke Buncheon hari ini. Kau tidak lupa kan?"
Baekhyun merutuki dirinya yang lupa hal itu, ia yakin pasti Chanyeol tak membangunkannya karena hal itu. kenapa pula dia harus kecewa? Memangnya Chanyeol menyakiti hatinya?
Ish! Baekhyun bodoh!
Berbeda Baekhyun berbeda pula Chanyeol, si lelaki jangkung itu sama sekali tidak bisa fokus pada pelajaran, otaknya memikirkan Baekhyun. Ia menatap bangku disebelahnya yang kosong dan menghela nafas panjang.
Ia pun memikirkan ucapan Baekhyun semalam. Jujur, didalam lubuk hatinya ia merasa takut jika Baekhyun kembali lagi menjadi lelaki.
"Park Chanyeol!" teriak Guru Kim dihadapannya. kesadaran Chanyeol pun perlahan kembali dan dia menatap Guru Kim dengan cengiran bodohnya, "Fokus pada pelajaran! Kau sudah berada di tingkat akhir sekarang."
"B-baik pak."
.
.
.
Pikiran Chanyeol memang selalu terfokus pada Baekhyun. Seperti saat ini, Chanyeol seolah tuli dengan dunianya. Ia bahkan tak sadar jika bus yang ia tumpangi sudah melewati halte dekat mansion mewah ayahnya.
Sampai ia sadar ketika ponselnya sendiri bergetar. Senyumannya mengembang ketika mendapati pesan dari Baekhyun.
Baek
Oppa~mianhae aku harus pulang ke Buncheon sekarang.
Kita susah untuk bertemu
Chan
Hati – hati dijalan, Baek
Hembusan nafas panjang terdengar dari mulut Chanyeol. kedua netra tajamnya menatap jendela luar bus dan ia mebolakkan netranya ketika mendapati halte yang menjadi tujuannya telah terlewati. Tetapi tiba - tiba Chanyeol mengingat sesuatu.
Jalan ini… bukankah jalan tempat menuju madam dimana Baekhyun meminta ramuan itu?
Saat bus berhenti di halte berikutnya, Chanyeol segera turun dari sana dan melangkah menuju tempat praktek madam Zhang. Ia berharap semoga madam mempunyai ramuan yang bisa menjadikan Baekhyun tetap menjadi perempuan sampai kapanpun.
Hei! Bukannya Chanyeol tak suka Baekhyun jadi lelaki tetapi ia hanya tak mau Baekhyun berhenti mencintainya ketika ia menjadi lelaki.
Dan akhirnya lelaki jangkung itu pun terduduk didepan seorang peramal tua baya dan didepan bola ramalannya.
"Jadi anak muda, untuk apa kau datang kesini hm?"
Chanyeol terlihat ragu, ia berkali – kali memejamkan kedua matanya meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia katakan nanti bukanlah hal yang buruk, "Aku adalah teman lelaki yang berubah menjadi perempuan karena ramuan madam."
Seketika madam terdiam dan menatap Chanyeol penasaran.
"Aku ingin temanku itu selalu menjadi seorang wanita selamanya. Apakah bisa?"
"Asal kau tahu, sihir dalam ramuanku itu ada masa berakhirnya. Dan aku rasa temanmu itu tak akan selamanya menjadi lelaki, dia akan kembali."
Tubuh Chanyeol membeku mendengarnya, "K-kapan?"
"Bulan purnama bulan ini, yaitu lusa."
Chanyeol tercekat, sedangkan madam Zhang tak mampu berkata apapun setelahnya.
"Apa aku maksudku madam bisa mencegahnya?"
Madam terdiam lama, ia pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju rak buku – buku yang sepertinya buku mantra. Mengambil sebuah buku usang dan kembali ke tempat duduknya untuk menujukkan sesuatu kepada Chanyeol.
"Bisa," Mata bulat itu berbinar penuh pengharapan, "tetapi kau harus memberikan ramuan lagi untuk gadis itu dan setelahnya—" Madam menggantung perkataannya seperti ragu.
"Setelahnya?"
"—setelahnya kau harus bercinta dengannya saat ramuan itu bereaksi."
Seperti tersambar petir hebat, tubuh Chanyeol menegang dengan pandangan sulit ditebak. Bercinta? Dengan Baekhyun? bisakah ia melakukannya?
Bisakah?
.
.
.
Mobil silver milik Nyonya Byun memasukki halaman rumah yang cukup besar dikawasan Buncheon. Meskipun rumah tersebut sangat berbeda jauh dengan mansion mewah milik keluarga Park, rumah milik keluarga Byun itu terlihat hangat dan nyaman dalam satu waktu.
Berkali – kali wanita cantik itu melirik kearah Baekhyun yang entah mengapa terlihat sedang melamun. Nyonya Byun pun memegang pundak putrinya, "Kau pasti memikirkan bagaimana reaksi semua orang melihat perubahanmu kan?"
"A-ah i-iya ma." Baekhyun menggigit bibirnya khawatir.
"Mereka pasti menerimamu, sayang." Satu usakan lembut terasa di kepala Baekhyun, senyuman mamanya pun seakan obat penenang bagi gadis mungil itu.
Dan ternyata, apa yang diucapkan Nyonya Byun 100% benar. Ketika mereka baru sampai di rumah itu semua saudara Baekhyun berkumpul disana menyambutnya. Ayahnya yang tampan itu bahkan menyiapkan sebuah kue tart besar sebagai penyambutan kepulangan Baekhyun.
Semua orang disana awalnya memang cukup kaget melihat perubahan Baekhyun yang memang sangat luar biasa. Tetapi berhubung Nyonya Byun sudah mengatakan sebelumnya, kekagetan mereka jadi lebih mudah di control.
Mereka semua bergantian memeluk Baekhyun, dan memuji kecantikan Baekhyun membuat si gadis bersemu merah dengan senyuman bulan sabit yang sangat menggemaskan terlihat diwajahnya.
Tetapi semuanya tak berlangsung lama ketika tiba giliran perempuan cantik berambut caramel memeluk gadis itu. Dada kiri Baekhyun terasa teremas ketika gadis itu berkata, "Aku tak menyangka kau berubah, Oppa ah tidak maksudku Eonni."
Baekhyun seakan membeku melihat gadis itu tersenyum dan memuji melihat perubahannya. Tetapi Baekhyun tidak suka karena gadis itu adalah Kang Seulgi, adik dari kakak iparnya yang sialnya adalah cinta pertama Baekhyun.
Tetapi untung saja, perasaan Baekhyun pada Seulgi sama sekali tak ada. Karena entah bagaimana ceritanya, Baekhyun menjadi tak menyukai perempuan saat ini.
Baekhyun sadar, kini ia telah menyukai lelaki seperti seorang perempuan sungguhan.
Selama pesta perayaan kedatangan Baekhyun, gadis itu lebih memilih untuk memasukki kamarnya sendiri yang didominasi dengan warna biru. Ia tersenyum melihat kamarnya yang sama sekali tak berubah walaupun ia telah tiga tahun menghabiskan waktu di Seoul.
Netra sipit gadis itu mengarah pada tiga polaroid yang terpasang dimeja belajarnya. Disana terlihat dirinya yang menginjak bangku SMP, dengan rambut hitam pekatnya dan poni panjang menutupi mata. Di foto itu Baekhyun tersenyum lebar dengan kedua sahabat SMPnya. Entah mengapa perasaan rindu Baekhyun menyeruak. Ia rindu menjadi seorang lelaki.
Baekhyun duduk di ranjangnya, menatap kaki putih perempuannya dan beralih menatap dua gundukan didadanya. Ia tersenyum miris, seharusnya dua gundukan itu tidak ada, karena yang Baekhyun butuhkan dulu adalah perut sixpack bukan dua dada besar.
Perhatian Baekhyun teralih pada sebuah kotak dengan tumpukan surat didalamnya, ia membuka surat itu dan terkekeh geli melihat isinya. Ternyata itu adalah kumpulan surat cinta Baekhyun untuk gadis pujaannya dan para mantannya.
Oh ya, Baekhyun itu dulunya playboy omong – omong. Pantas saja, dulu ia sangat tidak suka dengan ketampanan seorang Park Chanyeol.
Tiba – tiba ponsel Baekhyun berbunyi, ia melihat nomor Chanyeol tertera dilayar. Entah ada angin apa, Baekhyun tidak menjawabnya sama sekali, ia kembali melihat – lihat suratnya dan mengabaikan panggilan itu.
Tanpa Baekhyun sadari, ternyata Tuan dan Nyonya Byun mengintip Baekhyun. Tuan Byun menghela nafas panjang dan menatap istrinya dengan sedih, "Pasti ini sangat berat bagi Baekhyunie, yeobo."
.
.
.
Langkah kaki jenjang Chanyeol berjalan terburu memasukki pintu megah mansion ayahnya. Dalam pikirannya, perkataan madam Zhang terus – terusan berputar, dan botol ramuan yang ia dapatkan dari madam pun selalu terbayang.
Yang ia butuhkan hanyalah bertemu dengan Baekhyun, dan melakukan semua perkataan madam Zhang.
Ia mengedarkan pandangannya, namun objek yang dicarinya sama sekali tak ada disana. Akhirnya, ia pun memilih bertanya pada salah satu maidnya. Tetapi sialnya, para maid berkata bahwa Nyonya Byun dan anaknya sudah pergi sedari pagi.
Chanyeol pun mencoba menelfon Baekhyun, tetapi panggilan itu sama sekali tak ada yang dijawab. Tak ada pilihan lagi, Chanyeol pun segera menelfon Tuan Lee untuk meminta bantuan, karena hanya dia yang bisa membantunya.
Dan lagi – lagi, Tuan Lee tak dapat dihubungi. Chanyeol merasa frustasi sendiri, ia tak bisa menyalahkan Tuan Lee karena pria paruh baya itu pasti sedang sibuk dikantor.
Mau tak mau, Chanyeol pun berjalan sendiri menuju halte untuk pergi ke stasiun dan mencari kereta yang menuju Buncheon. Walaupun ia sama sekali tak tahu dimana letak rumah Baekhyun, ia tak peduli. Sama sekali tak peduli.
Dan entah sebuah kesialan dari mana, saat ia baru memasukki kereta dan duduk disofa panjang kereta yang tersedia, beberapa menit kemudia seorang lelaki mungil yang sangat di bencinya duduk disana dan menyapanya seperti orang yang tak mempunyai kesalahan sedikitpun.
Chanyeol memilih tak peduli dengan fokus menatap layar ponselnya. Tetapi entah dimana rasa malu lelaki itu, Kyungsoo justru membuka suaranya dan tampak tak peduli pada Chanyeol yang mengabaikannya.
"Aku tahu kau berusaha melupakan masalah itu dan tak ingin mengungkitnya lagi," Kyungsoo menghela nafas panjang dan menatap Chanyeol yang mengabaikannya dengan sedih, "Aku tahu kau membenciku tetapi aku mempunyai alasan untuk semua itu. Jujur aku merasa bersalah padamu, aku menyesal."
Fokus Chanyeol teralih dan menatap datar Kyungsoo yang kini menunduk menahan tangisnya, "Asal kau tahu, Chan. Hyerin yang menyuruhku menjebakmu."
"Aku tahu." Suara Chanyeol terdengar dingin dan menusuk, ia pun mengalihkan padangannya lagi pada ponselnya.
"M-maaf, aku—"
"Tak perlu minta maaf lagi, aku sudah tak peduli dengan masalah itu."
Kepala Kyungsoo menggeleng, tiba – tiba ia berlutut didepan Chanyeol membuat mereka menjadi pusat perhatian di kereta itu. Bola mata Chanyeol melebar melihat tingkah Kyungsoo saat ini, "K-kyung a-apa yang kau lakukan hah?"
Isakan tangis Kyungsoo terdengar, "A-aku minta maaf Chanyeol, aku menyesal hiks. Sebenarnya aku melakukan perintah Hyerin karena Hyerin memberiku uang yang aku gunakan untuk pengobatan ibuku yang tinggal di Incheon dan aku juga menjadi jalang untuk pengobatan ibuku juga."
Chanyeol tercengang mendengar semua itu, tetapi ia memilih diam dengan wajah datar menunggu Kyungsoo melanjutkan ucapannya.
"Sekarang aku telah mendapatkan semua hukuman yang setimpal, karena aku dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat dan satu sekolah tahu bahwa aku seorang jalang. Yang lebih parah adalah semua bantuan pemerintah untuk pengobatan ibuku yang terkena stroke telah dicabut."
Alis Chanyeol berkerut heran, pantas saja belakangan ini Chanyeol tidak melihat Kyungsoo disekolah. Tetapi mencabut pengobatan ibu Kyungsoo itu terdengar sangat jahat. Menjadikan semua kesalahan Kyungsoo seakan tidak setimpal dengan hukumannya.
"Dan dalang dari ini semua adalah ayahmu. Tuan Park sangat membenciku karena aku lah yang telah menjebakmu."
Rahang Chanyeol seolah terjatuh, matanya melebar, dan ia menatap tak percaya Kyungsoo yang kini menangis dihadapannya.
Tak ada pilihan, Chanyeol segera menarik Kyungsoo dan mendudukkan lelaki itu disebelahnya. Menepuk – nepuk ringan punggung Kyungsoo seperti seorang sahabat. Mengucapkan permintaan maaf berkali – kali untuk perbuatan ayahnya yang dengan teganya mencabut bantuan bagi pengobatan ibu Kyungsoo.
Dan entah pikiran dari mana, Chanyeol yang seharusnya turun di Buncheon justru melanjutkan perjalanannya menuju Incheon untuk menemui ibu Kyungsoo.
.
.
.
Chanyeol akui ia adalah orang yang paling tidak konsisten didunia ini. Dengan mudahnya ia terpengaruh oleh Kyungsoo sehingga niatannya yang akan pergi ke Buncheon justru kini berada disebuah ruangan rumah sakit dengan seorang wanita paruh baya yang sangat kurus kering disana.
Mata bulatnya menatap wanita itu iba. Tubuhnya yang kaku tak bisa bergerak kecuali matanya yang hanya bisa bergulir ke kanan ke kiri. Nafasnya pun tersenggal meskipun ia dibantu oleh alat pernafasan.
"Keluargaku menyedihkan bukan? Ayahku bahkan meninggal sejak aku berumur 5 tahun." Kyungsoo yang semenjak tadi diam pun kini bersuara. Suaranya terdengar lirih dan tercekat.
Senyuman pahit terlihat di bibir Chanyeol, "Setiap orang memiliki masalah berbeda, aku juga memiliki masalah yang berat saat ini."
"Ya, mungkin itulah rencana tuhan yang membuat hidup kita semakin berwarna."
Mereka berdua pun diam dalam keheningan. Hingga tiba – tiba ponsel Chanyeol berbunyi dan ia pun pamit kepada Kyungsoo untuk menjawab panggilan telfon itu. Entah apa yang ada di pikiran Chanyeol, ia lebih memutuskan untuk pergi keatap gedung rumah sakit itu untuk menjawab telfonnya.
Senyumnya mengembang saat mendapati nama 'Princess Baekki' di layar ponselnya. Ia berfikir pasti Baekhyun menelfonnya karena rindu. Haha, memikirkan itu membuat pipi Chanyeol terasa panas sendiri.
"Yeoboseyo, Baek? Merindukan oppa tampan ini hm?"
"Yak! Sok tahu!"
"Ah, jangan ketus seperti itu princess. Kau membuat oppa menjadi merindukanmu."
"Ish! Oppa belajar gombal dari mana eoh?"
Tawa Chanyeol meledak, untung saja ia berada di atap rumah sakit. Jika tidak, ia pasti sudah di maki – maki oleh orang – orang karena tawanya yang kencang itu.
"Oppa sedang apa sekarang?"
Chanyeol mendongak, menatap taburan bintang di langit dengan senyuman tampannya, "Menatap bintang."
"Aku juga, aku menatap mereka dari balkon."
"Benarkah? Berarti diantara banyaknya bintang ada kau disana? pasti kau bintang yang paling terang kan?"
Kekehan Baekhyun terdengar, "Aish! Oppa benar – benar penggombal ulung. Aku jadi merindukanmu."
"Aku juga, tunggu aku okey?"
"Aku akan menyusulmu."
"Besok aku sibuk karena besok pesta pernikahan sepupuku."
"Aku akan menunggu setelah pesta," Chanyeol mengeluarkan sebotol kecil ramuan dari saku hoodienya lalu tersenyum miring, "yang pasti aku akan menemuimu."
"Pesta pernikahan sepupuku berada di Jeju, bukan Buncheon. Ottokeh?"
Alis Chanyeol berkerut bingung, ia pun menghela nafas panjang seraya berpikir keras, "Baiklah aku akan menyusulmu, kita harus bertemu malam ini, Baek."
.
.
.
Malam itu Chanyeol terpaksa tertidur di ruangan dimana tempat ibu Kyungsoo dirawat. Kyungsoo dengan baik hati menawarkan Chanyeol untuk tidur disana dan menyiapkan segala kebutuhan lelaki itu saat menginap disana.
Sebenarnya semua berjalan dengan baik saat itu, tetapi sialnya ketika Chanyeol ingin bersiap mandi untuk pergi ke bandara, ada sebuah kejutan yang tak pernah ia sangka – sangka sebelumnya.
Tiba – tiba saja Kim Jongin –yang seingat Chanyeol adalah orang yang mencumbu Kyungsoo di Club waktu itu, datang ke ruang rawat ibu Kyungsoo dan membuat keributan. Dia dengan tak tahu malunya, berteriak pada Kyungsoo dan menghina – hina Chanyeol yang saat itu tengah berdiri disamping Kyungsoo.
Jongin menarik lengan Kyungsoo kasar dan meneriaki lelaki mungil itu, "Kau masih jalangku, Kyung! Kau berani pergi dariku eoh? Kau harus mendapatkan hukuman!"
Si mungil mencoba melepaskan tarikan Jongin, "Lepaskan aku Jongin, kumohon~ kita sudah tidak ada hubungan apapun."
"Oh! Apa itu karena lelaki jangkung itu hah?" Jongin menujuk Chanyeol, "You're bitch, Kyung! Dimana otakmu? Dia tak lebih dari orang bodoh yang terjebak dalam jebakanmu."
"Jangan bawa – bawa Chanyeol!"
"Kau benar – benar gila! Kau membelanya ouh?"
"Aku tidak!"
"Kau iya!"
Chanyeol tak mungkin berdiam diri saat itu, Ia segera melangkah maju berdiri didepan Kyungsoo untuk membentengi lelaki mungil itu, "Jangan bertengkar disini kumohon! Ibu Kyungsoo sedang sa—"
BUGH!
Belum sempat ucapan Chanyeol selesai, Jongin telah memukul Chanyeol habis – habisan membuat wajah lelaki itu lebam. Dan pukul – memukul pun tak terelakkan lagi, sampai akhirnya Kyungsoo memilih memanggil keamanan rumah sakit agar menghentikan kejadian ini.
.
.
.
Tak ada yang lebih menyebalkan bagi Chanyeol hari ini, ia terpaksa duduk didepan Kyungsoo dan Jongin seolah – olah ia telah menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka berdua. Chanyeol sebenarnya ingin menolak berada disana karena ia harus ke Jeju untuk menemui Baekhyun, tetapi sialnya Jongin mengancam Chanyeol dengan membawa – bawa urusan bisnis keluarga mereka.
Sungguh! Sangat menyebalkan.
Dan yang lebih sial lagi, mereka hanya berdiam hampir sepuluh menit di Café sekitar rumah sakit dalam keadaan canggung. Dapat Chanyeol lihat, baik Jongin maupun Kyungsoo enggan memulai pembicaraan mereka.
"Apa kita hanya akan berdiam diri seperti ini terus sampai dua jam mendatang?" Chanyeol membuka suara, tetapi sialnya ia justru diabaikan oleh Jongin dan Kyungsoo yang pura – pura sibuk dengan Coffe latte yang mereka berdua pesan.
Chanyeol meminum Americano dan membuang nafas kasar, "Selesaikan masalah kalian berdua, aku memiliki urusan penting ketimbang mengurusi kalian berdua."
Lelaki jangkung itu bangkit dan berjalan keluar Café, Kyungsoo ingin mengejar Chanyeol tetapi Jongin menahannya dan memasang wajah tegas mengintimidasi membuat si mungil terdiam dan duduk di kursinya dengan gugup.
Mata tajam Jongin seolah – olah menguliti Kyungsoo saat ini membuatnya membeku. Dan entah dari mana, Jongin menyentuh jemari Kyungsoo untuk menatap dua bola mata besar itu dalam, "Kembalilah ke Club, aku merindukanmu."
"A-aku—"
"Jangan menolak Kyung! Asal kau tahu, hanya kau saja jalang yang aku inginkan sekarang."
Senyuman pahit Kyungsoo mengembang, ia pun mengangguk kecil tak berani menatap onyx kelam dihadapannya.
Yah, aku hanya sekedar jalang. Tidak lebih.
.
.
.
Langkah jenjang Chanyeol memasukki bandara dengan terburu. Ia seolah tuli dengan umpatan yang terdengar karena tak sengaja ia menabrak beberapa orang disana. Bahkan ia tak peduli dengan penampilannya yang sangat jauh dari kata tampan.
Ya, hanya dengan hoodie hitam, celana pendek, dan topi yang menutupi rambutnya yang sudah seperti sarang burung itu ditambah dengan bekas memar di pipinya karena Jongin.
Oh ya, Chanyeol belum mandi omong – omong.
Salahkan saja semua itu pada Kim Jongin keparat yang tiba – tiba datang ke rumah sakit seperti orang gila.
Tetapi semua kesialan Chanyeol seolah bertambah ratusan kali lipat saat ia melihat jadwal yang terpasang dibandara itu. Matanya melebar saat ia tahu bahwa ia telah ketinggalan pesawat menuju Jeju.
What the fck— Apa lagi setelah ini, Ya tuhan?
Ingin Chanyeol menangis seperti anak kecil saat ini, tetapi Chanyeol masih mempunyai muka untuk itu semua. Akhirnya Chanyeol pun terpaksa mengambil penerbangan selanjutnya yang akan diberangkat sore hari.
Semoga saja ia tak telat untuk menemui Baekhyun malam ini.
Ya, semoga saja.
Chanyeol pun memilih untuk mandi di toilet sekitar bandara dan membeli untuk satu setel pakaian untuk pakaiannya saat ini. Ya, ia tak mungkin berpakaian seperti gelandangan untuk ke pesta pernikahan sepupu Baekhyun.
Dalam ekspetasi Chanyeol saat ini, ia membayangkan akan menghabiskan malam panas dengan Baekhyun yang sangat ia cintai di Jeju yang memiliki pemandangan pantai menakjubkan. Ah! Sangat luar biasa bukan?
Chanyeol terkekeh sendiri merasa malu sekaligus merasa bahagia akan semua itu.
Berfantasi liar tentang Baekhyun memang cukup ampuh untuk menghabiskan waktu demi menunggu penerbangan selanjutnya. Apalagi berfantasi liarnya ditemani oleh video JAV yang tersimpan di ponselnya.
Ugh! Chanyeol mendadak menegang. Tetapi peduli setan, biarkan Chanyeol bahagia saat ini saja.
.
.
.
Pernah dikecewakan oleh bayangan ekpetasi indah dalam otakmu karena realita yang begitu pahit?
Ya, saat ini Chanyeol tengah merasakannya. Ia ingin sekali rasanya berteriak memaki siapa saja dihadapannya karena semua kesialannya yang ia rasakan kemarin. Ia rasa pasti takdir telah memainkannya seperti boneka robot murah yang biasa terpajang dietalase toko.
Oh my god! Pemumpamaan macam apa ini?!
Saat ini Chanyeol tengah berdiri didepan sebuah hotel berbintang lima yang sangat mewah didaerah Jeju dengan memasang wajah memelas mungkin.
Sedikit cerita, saat Chanyeol menghabiskan berjam – jam perjalanan demi sampai ke Jeju –dan bahkan sekarang sudah mendekati jam 10 malam, ia justru mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari para security penjaga pesta di hotel itu.
Chanyeol tidak boleh masuk kesana karena tak membawa kartu undangan. Sebenarnya Chanyeol ingin menelfon Baekhyun dan meminta bantuan padanya, tetapi gadis mungil itu sama sekali tak menjawab panggilannya.
Ia bahkan sudah meneriakkan para security bahwa ia adalah anak dari Park Kyuhyun –konglomerat terkaya di Korea, tetapi para security itu justru tambah tergelak dan mengejek Chanyeol.
"Kau anaknya Park Kyuhyun, dan aku anaknya Donald Trump, Impas bukan?"
Chanyeol pun memilih untuk pergi dari sana dan memikirkan cara lain untuk masuk kedalam pesta itu. Ia menatap jam dipergelangan tangannya dan mendengus kasar, butuh kurang dari dua jam lagi ia harus menemui Baekhyun.
Jika tidak, mungkin Baekhyun akan kembali menjadi lelaki.
Dan akhirnya Chanyeol pun memiliki ide gila, ia menyelinap pada pesta itu dan menyamar menjadi seorang pelayan disana. Untung saja Chanyeol memiliki uang cash yang banyak hingga ia bisa membayar salah satu pelayan untuk membantunya menyamar.
Langkahnya memasukki aula utama pesta itu, netranya mengedar pada setiap sudut aula besar itu untuk mencari Baekhyun. Ia sadar bahwa seluruh tamu undangan pesta itu adalah orang berpangkat tinggi bahkan beberapa orang Chanyeol kenal karena diantara mereka ada kolega ayahnya.
Mata Chanyeol melebar, jangan – jangan…
Dan prisangkanya benar ketika ia melihat sosok pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya yang sedang berbincang dengan kedua orang tua Baekhyun.
Aish! Chanyeol merutuki dirinya yang tak sabaran dalam mengambil sesuatu keputusan. Andai saja ia bisa bersabar sebentar pasti ia sudah berada diacara ini semenjak tadi bersama ayahnya dan rencananya menemui Baekhyun tak akan sesulit ini.
Chanyeol pun akhirnya memilih segera pergi dari sana agar ayahnya tak melihat keberadaannya. Ia menatap jam dipergelangan tangannya sendiri dan waktu tengah malam tinggal 15 menit lagi.
Demi tuhan! ia harus menemui Baekhyun sekarang. Dan Chanyeol bagai orang gila berlari – lari sepanjang lorong hotel untuk mencari Baekhyun. Sampai akhirnya ia tersadar bahwa tengah malam telah terlewati beberapa menit lalu.
Hembusan kasar Chanyeol terdengar, wajahnya memerah karena kecewa pada dirinya sendiri yang bisa sebodoh ini untuk menemui Baekhyun dan menahannya untuk tak menjadi lelaki kembali. Ia pun memilih berjalan lemah menuju lift untuk pulang.
Maafkan aku, Baekhyun.
Belum sempat Chanyeol memasukki lift, ponselnya bergetar menunjukkan sebuah pesan dari Baekhyun. Raut wajah Chanyeol berubah khawatir saat membaca pesan itu.
Chanyeol, tolong aku kumohon. Aku berada di kamar 204 hotel ini.
Seperti kesetanan, Chanyeol berlari kesana. Tak peduli dengan kakinya yang sudah sangat pegal karena semua kesialannya hari ini. Sampai akhirnya ia berada didepan kamar yang Baekhyun maksud dengan wajah penuh khawatir sekaligus takutnya.
Ia menekan bel dengan hati cemas, dan melantunkan do'a semoga apa yang dikatakan madam bahwa hari ini Baekhyun kembali ke wujudnya semula tak terjadi.
Hingga akhirnya pintu hotel itu terbuka menampilkan seorang lelaki mungil berambut brunette yang sangat tak asing dalam hidup Chanyeol. Wajah lelaki mungil yang masih berhiaskan make up itu basah dengan tubuh yang masih berbalut gaun selutut yang pastinya tanpa buah dada yang menyembul malu – malu.
Belum sempat keduanya saling mengeluarkan suara, Chanyeol langsung berlari memeluk lelaki mungilnya. Menyandarkan kepala bersurai pendek kecoklatan itu pada dada bidangnya dan membiarkan lelaki itu menangis sepuas hatinya.
Kini Chanyeol seolah tertampar oleh realita yang ada dihadapannya, bahwa Baekhyun bukanlah Baekhee maupun Byun Baekhyun yang memiliki gender wanita.
Byun Baekhyun tetaplah Byun Baekhyun.
Seorang lelaki mungil bermata sipit dan berwajah layaknya seorang wanita.
Yang sialnya dengan mudahnya ia membuat orientasi seksual Chanyeol berbelok.
.
.
.
Isak tangis Baekhyun seakan tak bisa berhenti, ia memeluk erat lelaki jangkung yang kini merengkuh tubuh mungilnya. Membuat kemeja bagian depan Chanyeol basah karena air mata si mungil. Tetapi Chanyeol tak peduli lagi dengan itu semua.
Mereka berdua sama - sama menangis meratapi kekecewaan akan perubahan Baekhyun ke wujud semula. Bayangkan saja, semua rasa Cinta yang telah mereka bangun beberapa minggu terakhir seolah terguncang hebat karena perubahan tubuh Baekhyun yang kembali menjadi lelaki.
Chanyeol belum siap untuk itu semua, Baekhyun juga.
Sampai Baekhyun tiba tiba menengadah untuk menatap wajah tampan Chanyeol dan jemarinya mengusap pipi basah lelaki jangkung itu, "Oppa."
Senyuman pahit Chanyeol terlihat, ia yang awalnya suka Baekhyun memanggilnya Oppa, kini justru terdengar ganjal ditelinganya. Ia tak berbicara apapun, hanya deheman sebagai jawabannya pada si mungil.
"Apa kau masih mencintaiku? A-aku sudah menjadi lelaki kembali."
"Aku masih tetap mencintaimu, Baek. Tak peduli kau lelaki atau perempuan. Tak peduli kau Baekhyun ataupun Baekhee. Aku mencintaimu," Chanyeol mencium rambut pendek Baekhyun lembut, "aku tak akan berhenti mencintaimu, kapanpun."
Ya, Chanyeol sampai kapanpun akan menyukai Baekhyun. Karena ia mencintai Baekhyun apa adanya bukan pada gendernya saja. Ia bahkan rela mengakui dirinya gay hanya karena si mungil pemilik hatinya itu.
"T-tapi—"
Jemari Chanyeol tiba - tiba menangkup pipi Baekhyun dan bibir nya ia tempelkan pada bibir ranum lelaki mungil itu, menciumnya dalam - dalam, menyesapi rasa manis bibir si mungil. Ia seolah tak peduli lagi dengan semua perubahan Baekhyun, ataupun apapun yang mengganggunya saat ini.
Ia juga ingin membuktikan pada Baekhyun bahwa ia sama sekali tak jijik dengan Baekhyun saat ini. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa memperlakukan Baekhyun layaknya pasangan biasa meski mereka sejenis.
Baekhyun hanya mampu membatu mendapati ciuman Chanyeol yang bergerak lembut diatas bibirnya. Ia tak bisa membalasnya meskipun ia ingin sekali. Sesuatu dalam otaknya seolah meneriakinya bahwa semua ciuman itu salah, yang sialnya hatinya justru menginginkan semua ciuman itu.
Air mata turun menemani ciuman mereka. Ciuman untuk meluapkan rasa kecewa mereka, ciuman pelampiasan rasa sedih mereka, ciuman dengan rasa asin karena bercampur air liquid.
Hingga akhirnya, semua akal Baekhyun hilang dan ia pun membalas ciuman Chanyeol. Tetapi belum sempat ciuman itu berubah panas, pintu apartemen Baekhyun terbuka dan terdengar suara teriakan dari Nyonya Byun, "B-baekhyun?!"
Baekhyun memukul pelan dada Chanyeol untuk mengakhiri ciuman mereka. Tetapi sialnya, Chanyeol seolah tuli dan makin menyesapi bibir ranum itu. Baekhyun mau tak mau menginjak kaki Chanyeol membuat si lelaki jangkung itu meringis. Nyonya Byun yang melihat itu semua pun ikutan meringis dengan wajah kaget luar biasa.
"Kau kenapa, Baek?"
"Ada Mama." dan Chanyeol menoleh kebelakang untuk menemukan Nyonya Byun yang menatapnya syok dengan tatapan penuh sesal.
Tiba - tiba Nyonya Byun mendekati Baekhyun—setelah ciuman panas, dan menatapnya tak percaya, "K-kau berubah menjadi lelaki kembali?! Oh My God my son." ia pun beralih menatap Chanyeol yang masih terdiam membatu menatap sedih tubuh baru Baekhyun, "Chanyeol? Kau tak apa?"
"A-aku tidak apa - apa, Ma."
Nyonya Byun kembali mengarahkan pandangannya kearah Baekhyun, ia memeluk tubuh mungil putranya yang masih terisak, "Tidak apa - apa Baekki sayang, kau masih putra mama. Tidak ada yang berubah dengan perubahanmu ini."
"T-tapi Ma, Baekki mencintai Chanyeol hiks."
"Kau tau kan sayang? Percintaan sesama jenis itu salah."
"Kalau salah kenapa tuhan tega memberikan semua rasa Cinta ini pada Baekki? Apa tuhan sejahat itu?"
Nyonya Byun terdiam tak bisa membalas apapun. Hingga akhirnya tak ada yang bisa Nyonya Byun lakukan lagi, selain membiarkan kedua lelaki yang saling mencintai itu menangis. Perubahan Baekhyun memang tiba - tiba membuat semuanya terguncang karena keadaan yang terlalu cepat ini.
Semoga saja semua bisa kembali seperti normal. Seperti saat Baekhyun belum menjadi perempuan.
.
.
.
"—setelahnya kau harus bercinta dengannya saat ramuan itu bereaksi."
"APA? BERCINTA?!" tanya Chanyeol tak percaya. Ia menatap madam Zhang bingung, "apa tidak ada cara lain? Kenapa harus bercinta?"
Madam menatap Chanyeol dengan tatapan seriusnya, "Itu adalah caranya agar dia bisa seutuhnya menjadi seorang wanita, dan asal kau tahu jika kau melakukan semua itu akan ada konsekuensi hebat yang harus kau tanggung."
Tak ada jawaban dari lelaki jangkung itu, ia terdiam sampai Madam Zhang melanjutkan ucapannya lagi, "Kau harus siap menjadi seorang ayah karena kau harus mengeluarkan spermamu didalam rahimnya. Tetapi jika ia lebih dulu berubah, ada kemungkinan jika dia hamil nanti, anak kalian akan memiliki masalah akibat magic yang ada pada ramuanku itu."
Semua flashback Chanyeol saat menemui madam Zhang membuat dia menimbang - nimbang lagi tentang perubahan diri Baekhyun. Sudah cukup Baekhyun dan dirinya yang tersiksa, jangan sampai anak mereka nanti juga tersiksa karena hal itu.
Jemari Chanyeol menggenggam botol ramuan madam dan menaruhnya di saku celananya untuk menyembunyikannya dari Baekhyun. Ia yakin saat ini Baekhyun haruslah menjadi Baekhyun, bukan Baekhee si gadis seksi dengan wajah mirip Baekhyun.
"Kau sedang apa, Chan? Kita harus kembali ke Seoul sekarang." pintu kamar hotel terbuka. Chanyeol yang saat itu sedang terdiam meratapi semuanya seketika terkejut dengan kedatangan Baekhyun, apalagi style Baekhyun yang kembali seperti dulu. Sok cool.
Dia memang sudah melihat perubahan Baekhyun tadi, tetapi saat itu Baekhyun masih memakai gaun dengan riasan make up. Sedangkan saat ini Baekhyun memakai kaos berbalut jas dengan bawahan levis. Terlihat santai tetapi tetap maskulin di wajah cantiknya.
"Jangan memandangku seperti ini. Aku jadi tak enak," Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum manis sedikit terkekeh —meski terlihat sangat terpaksa, "aku tak mungkin kan memakai gaun dan hak tinggi? Ayolah Chan! Jangan membuatku merasa bersalah."
"Kau tampan, dan aku suka, Baek. Perpaduan tampan dan cantik." Chanyeol tersenyum membuat rona merah pipi Baekhyun terlihat. Lelaki jangkung itu bangkit dari pinggiran ranjang dan menghampiri si mungil bersurai brunette, "Tak perlu menyesali perubahanmu. Aku tak masalah dengan itu."
"Kau tak ingin aku kembali menjadi perempuan?"
"Hm," kepala Chanyeol mengangguk yakin, "kita tak perlu menemui madam untuk merubahmu."
"T-tapi—"
"Aku bersyukur kau sudah ada didunia ini, Baek. Tak perlu bimbang karena aku tak akan meninggalkanmu sama sekali. Jadi terima takdirmu sekarang okey?"
Kepala Baekhyun mengangguk kecil, meski ia masih tidak tenang memikirkan presepsi banyak orang atas hubungan gay mereka. Sedangkan Chanyeol, sebenarnya dirinya memaksakan senyumannya untuk menutupi kekecewaannya. Dalam hatinya ia ingin Baekhyun menjadi wanita saja, tetapi konsekuensi yang dikatakan madam membuatnya takut.
Jika ia benar bercinta dengan Baekhyun dan merubahnya menjadi wanita. Itu sama saja menghancurkan masa depan mereka berdua dan anak - anak mereka nanti.
.
.
.
Semua berlalu begitu cepat, baru saja Baekhyun merasakan rambut panjang, buah dada yang besar, dan wajah cantik seperti seorang Putri. Tetapi dalam waktu semalam saja, semua berubah.
Dan ini sudah minggu kedua Baekhyun berubah menjadi lelaki. Semuanya tidak ada yang berubah sedikitpun. Semua orang seolah tidak kehilangan Baekhee sama sekali.
Disekolah, Baekhyun menjadi sedikit lebih diam dan tak banyak tingkah seperti sebelumnya. Meskipun Soyou sudah tidak terlalu jutek pada Baekhyun, si mungil itu sama sekali tak menggoda Soyou lagi.
Baekhyun dan Chanyeol juga telah kembali ke apartemen mereka. Baik Baekhyun maupun Chanyeol tak ada yang ingin membahas gender lagi. Karena bagi Chanyeol, ia mencintai Baekhyun apa adanya lelaki mungil itu. Tetapi sayangnya, Baekhyun belum bisa menerima dengan lapang dada.
Seperti halnya hari ini, keduanya berniat ingin kencan untuk pertama kalinya sejak perubahan Baekhyun. Anggap saja keduanya sedang menyiapkan mental mereka akan tanggapan banyak orang tentang hubungan sesama jenis di Korea. Mereka berdua mengerti bahwa Korea masih sangat tabu dengan hal ini. Tetapi tak apa, toh Cinta mereka juga tak salah.
"Chanyeol? Bagaimana menurutmu tampilanku? Tampan tidak?" Baekhyun menyisir poninya didepan cermin kamar mereka. Ia memakai sweeter baby blue, dengan celana denim yang pas dikakinya, dan jangan lupakan eyeliner di matanya yang membuatnya tampak seksi sekaligus tegas.
Chanyeol mengangguk kecil dan tersenyum tampan, lelaki jangkung itu bersandar di pintu kamar dengan memasukkan kedua tangannya disaku celana, "Tetapi kau lebih tampan jika memakai gaun dan hak tinggi, Baek haha."
Niat Chanyeol hanya ingin bercanda, tidak lebih. Tetapi sayangnya, Baekhyun terlalu sensitif dengan ucapan Chanyeol. Senyuman yang tadinya terlihat dibibir ranumnya kini berubah dengan raut wajah sedih.
Lelaki jangkung itu tidak bodoh untuk tak mengerti Baekhyun, ia segera memeluk lelaki mungil itu dan menciumi lembut surai brunettenya, "Maafkan aku Baek. Aku—"
"Tidak apa, Oppa ah maksudku Chan." Baekhyun menghapus air matanya .
Chanyeol tidak punya pilihan lain, ia pun membisikan sesuatu ditelinga Baekhyun. Membuat si lelaku mungil terdiam merona, "Asal kau tahu, aku lebih suka lelaki mungil tampan sepertimu ketimbang perempuan seksi. Aku kan gay."
Pukulan kecil melayang pada dada Chanyeol, "Bohong!"
"Aku serius!" Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun dan mengecup bibir ranumnya gemas. Si mungil mengerucutkan bibirnya membuat Chanyeol tak tahan untuk menyerbunya dengan kecupan - kecupan lembut.
Keduanya saling terkekeh lucu menyadari kemesraan mereka yang makin bertambah meski Baekhyun bukan perempuan lagi. Tiba tiba Chanyeol menjilat telinga Baekhyun membuat si mungil makin terkekeh, "Kalau kau perempuan aku tak akan berani berbuat seperti ini. Kau tau kan perempuan itu lemah dan sensitif?"
"Ish! Chan~" rengek Baekhyun saat Chanyeol mulai mengeratkan pelukannya pada pinggang Baekhyun, "tetapi aku tetap saja ingin menjadi perempuan agar hubungan kita tak dipandang aneh."
Tak ada jawaban dari Chanyeol setelahnya, lelaki itu justru tersenyum seolah tak peduli dengan ucapan Baekhyun tadi. Tanpa Baekhyun tahu, sebenarnya Chanyeol menyimpan dan menyembunyikan sesuatu dari Baekhyun.
.
.
.
Seolah mimpi jadi kenyataan, apa yang Baekhyun pikirkan kini menjadi terealisasikan.
Ia dan Chanyeol menjadi pusat perhatian saat keduanya berpegangan tangan untuk kencan di sekitar wilayah Namsan Tower. Dan sialnya, mereka mendapatkan kernyitan wajah jijik, cibiran, dan bisikan yang tak enak di dengar.
Baekhyun ingin menangis rasanya, tetapi Chanyeol selalu menguatkannya dengan mempererat pegangan tangannya dan mencium pipi berisi Baekhyun, yang tentunya dihadiahi tatapan penuh kejijikan dari yang menonton.
Ya tuhan, apakah gay sebegitu menjijikan sampai banyak orang yang menghakimi mereka?
"Chan, aku ingin pulang." bisik Baekhyun. Wajahnya kini telah memerah menahan tangis.
Chanyeol mengangguk setuju, ia pun memilih pulang ketimbang melihat kekasih mungilnya makin sedih. Lagipula Chanyeol juga merasakan apa yang Baekhyun rasakan sekarang, tetapi lelaki jangkung itu lebih pandai menyimpan perasaannya.
Apakah kalian ingat jika air mata Baekhyun adalah kelemahan Chanyeol? Dan sialnya, saat ini tetesan air mata Baekhyun membasahi punggung Chanyeol saat mereka berdua pulang dari kencan gagal mereka.
Chanyeol tahu hati Baekhyun sangat sakit. Chanyeol paham Baekhyun tak sanggup dengan cibiran semua orang tentang ke-gay-annya. Apakah Chanyeol harus egois kali ini saja? Demi kebaikan Baekhyun namun sangat bahaya bagi anak mereka nanti?
Setetes liquid pun turun, yang untung saja tertutupi helm yang sedang Chanyeol kenakan.
.
.
.
TBC
bacot :
miaaanek :( lama banget updatenya. sumpah lagi ketagihan bikin ff nonbaku khas anak anak wattpad. jadi ya, lebih aktif di wattpad :))
aku tau ff ini tijel banget jadi mianek banget yaww :(
sebenernya di wattpad udah dipost beberapa chapter lebih dulu. kalau mau baca cari aja yang unamenya guanlinswag
tq.
