Hari ini adalah hari pertama musim gugur. Udara musim gugur yang dingin membuat masyarakat Seoul memilih untuk merapakatkan long coat mereka. Melupakan sejenak pakaian modis ala-ala masyarakat Seoul modern. Persetan dengan pakaian minim dan feminim, yang dibutuhkan saat ini adalah pakaian hangat dan secangkir kopi hangat.

Aku selalu menyukai musim gugur. Udara dingin menyejukkan. Wajah-wajah memerah masyarakat Seoul yang kedinginan yang membuatku selalu menahan tawa. Daun-daun berwarna cokelat yang jatuh perlahan-lahan dari rantingnya. Suara-suara berisik yang menggerutu sebal karena kedinginan. Aku selalu menyukai segala hal tentang musim gugur. Sejujurnya, untukku musim gugur adalah anugerah yang selalu aku syukuri.

"Daehyun! Jung Daehyun! Mau sampai kapan kau mau melamun? Ini berat sekali kau tahu? Dan kita harus ke lantai empat untuk membawa buku-buku sialan ini! Aish tanganku sudah ingin patah rasanya. Aku tahu, kau ingin menikmati musim kesukaanmu ini, tapi bisakah kau tunda sebentar? Aigoo ini benar-benar berat sekali."

Dan aku menyukainya.

Manusia imut yang ada di depanku, aku menyukainya.

Aku terkekeh. Lupa, bahwa aku sedang bersama seseorang. "Baiklah. Maafkan aku oke Yongie?"

Namanya Yoo Youngjae. Laki-laki yang memiliki postur tubuh seperti wanita termasuk wajahnya yang cantik adalah sahabatku sejak kami masih—sebenernya sampai saat ini juga kami masih tinggal di panti asuhan. Dia lah yang menjadi alasanku menyukai musim gugur. Karena musim gugur mempertemukan kami. Karena musim gugur juga lah yang membuatku jatuh ke dalam pesonanya.

-Secret Love-

Hey twinkle,

You know what?

You know why i love you?

I love you because i know you're always there,

There to catch me when i fall,

There to listen when i need you,

There when i feel alone.

-Secret Love-

"Aish punggungku sakit sekali." Youngjae memegang bahunya yang kesakitan. Guru Lee Jin menyuruhnya dan Daehyun untuk membawakan hasil tugas rumah milik satu kelas ke lantai empat. Sialnya, saat ia dan Daehyun mencuri-curi kesempatan untuk menaiki lift, Guru Ji Young memergoki mereka. Mau tidak mau Youngjae dan Daehyun batal menggunakan lift. Di sekolah Youngjae memang disediakan fasilitas lift, tapi hanya diperuntukkan untuk guru saja. Siswa hanya dibolehkan menggunakan tangga saja.

"Oh?" Youngjae bergegas menghampiri mejanya. Di atas mejanya terdapat satu bouquet mawar merah yang terlihat segar dan sangat cantik. "Apa itu?" Daehyun menghampiri Youngjae yang hanya berdiri diam sambil memegang bouquet ditangannya.

"Mawar merah. Aku tidak tahu dari siapa. Tidak ada catatan dari sang pengirim."

"Buang saja. Palingan orang salah kirim." Jawab Daehyun tidak peduli. Tanpa melihat raut sebal dari Youngjae, Daehyun berjalan menuju mejanya yang terletak tepat dibelakang meja Youngjae.

"Cish! Bilang saja kau iri tidak dapat mawar! Lagi pula aku menyukainya. Tidak baik membuang pemberian dari orang." Daehyun hanya mengangkat bahu tak peduli. Tangannya merogoh saku celananya. Memasang earphone di kedua telinganya dan terpejam. Tidak memedulikan Youngjae yang tengah asyik memandang bunga "nyasar" di mejanya.

Klasik sekali. Masih saja ada orang se-norak itu memberi bunga secara diam-diam. Cih.

-Secret Love-

"Daehyun! Dae!" Youngjae megguncang-guncangkan tubuh Daehyun beberapa kali. "Ya! Jung Daehyun! Cepat bangun."

"Sebentar Jae. Lima menit lagi aku akan mandi."

"Ya! Kau pikir ini dimana?! Hei! Buka matamu, kita harus bergegas ganti baju sebelum Hae Jung guru ma— Astaga! Kau mengagetkanku, bodoh."

Daehyun segera berdiri dari kursinya. Seketika tersadar bahwa dia sedang memasuki pelajaran olahraga. Sebaiknya ia bergegas ganti baju sebelum guru Hae Jung—sang guru killer membunuhnya dengan menyuruhnya lari keliling lapangan dua puluh kali jika terlambat. "Kau tunggu sebentar, Jae. Aku akan berganti pakaian kurang dari lima menit." Daehyun dengan gesit mengambil pakaian olahraganya dan lari secepat kilat menuju ruang ganti.

Youngjae menghela nafas sebal. Jika bukan karena sahabat terbaiknya, sudah ia biarkan tidur sampai guru Hae Jung yang membangunkannya. Untuk informasi saja sih, guru Hae Jung pernah menceburkan siswa yang tidur saat jam olahraga ke kolam renang, disangkutkan di atas pohon, dipindahkan ke gudang yang terkenal horor dan dibiarkan sendirian sampai siswa itu terbangun dan ngibrit ketakutan setelah tau dia berada dimana, dan masih banyak lagi. Berhubung sekolah Daehyun dan Youngjae adalah sekolah khusus laki-laki, apapun alasannya tetap tidak ada ampun untuk guru Hae Jung.

Daehyun menepati janjinya. Dalam kurun waktu kurang dari lima menit Daehyun kembali dengan pakaian olahraganya, menarik tangan Youngjae tanpa permisi terlebih dahulu. Mereka harus bergegas sebelum kelas di mulai atau tidak akan ada ampun bagi siswa yang telat.

Mereka sampai di lapangan tepat waktu. Kali ini mereka selamat dari hukuman yang mematikan dan memalukan sekaligus, walaupun harus terpaksa bercucuran keringat lebih dahulu dibandingkan dengan siswa yang lainnya. "Baiklah semuanya, sebelum kita memulai pelajaran olahraga hari ini, aku ingin memberikan informasi bahwa kelas 3-A akan bergabung dengan kelas kita hari ini." Terdengar suara lantang guru Hae Jung memberikan informasi. Youngjae menyikut pinggul Daehyun.

"Pst! Jung Dae! Bukankah itu berarti Jae Bum bergabung dengan kelas kita?"

"Jangan berisik. Guru Hae Jung akan memarahi kita jika dia melihat kita berbicara."

"Aish kau memang tidak seru Jung Daehyun!"

"Ya! Apa kau bilang?!" teriak Daehyun tanpa sadar.

"Jung Daehyun, Yoo Youngjae! Kalian berdua lari sepuluh keliling lapangan. Sekarang!" Daehyun melototi Youngjae sebal. Begitupula dengan Youngjae, karena suara Daehyun yang keras seperti guntur membuat mereka kena masalah. Jung Daehyun bodoh.

-Secret Love-

"Jae Bum ambil!" Jae Bum dengan sigap mengambil bola basket yang dilempar oleh temannya. Berlari dengan lincah, melewati beberapa orang dengan gesit sambil mendribble bola basket, dan shoot! Bola basket yang beberapa detik didribblenya melambung tinggi dan memasuki ring dengan sangat cantik. "Three point shoot!" teriak guru Hae Jung.

"Nice shoot, dude!" teriak Jin Young dengan raut wajah yang sangat senang. Guru Hae Jung memang sengaja menggabungkan dua kelas untuk melakukan pertandingan basket antara 3-A dan 3-B yang sejak dulu selalu bergantian memegang piala bergilir dalam pertandingan basket. Bahkan beberapa siswa yang tidak sengaja lewat terhenti sejenak untuk melihat pertandingan kecil tersebut.

"Sial! Kelas kita agak tertinggal jauh dikarenakan Daehyun kena hukuman dengan Youngjae." Gerutu salah satu siswa dari kelas 3-B. Membuat Jae Bum mengalihkan pandangannya sejenak. Benar saja, dua orang laki-laki yang sangat diyakininya adalah Daehyun dan Youngjae tengah terseok-seok lari di pinggir lapangan. Ah, sebenarnya hanya satu siswa yang terseok-seok berlari, dan Jae Bum tau laki-laki itu adalah Youngjae.

Jae Bum tidak pernah mengenal mereka secara langsung, hanya mendengar sekilas dari pembicaraan siswa-siswa yang suka bergosip. Yang Jae Bum tau, mereka sudah dekat sejak awal masuk SMA. Pacar atau bukan Jae Bum tidak tau pasti. Laki-laki di sekolah mereka banyak yang mengaggumi Youngjae dan Daehyun. Secara dua laki-laki tersebut memiliki sisi menarik masing-masing. Daehyun yang berkarisma dengan raut muka tegas dan dingin. Kulit kecokelatannya menambah nilai eksotis pada dirinya. Sedangkan Youngjae, sebuah anugerah baginya karena memiliki wajah yang sangat cantik, kulit yang seputih susu, bibir yang merah ranum, serta kepribadian yang sangat baik. Siapa pun akan jatuh hati pada Youngjae. Jae Bum sendiri beberapa kali melihat laki-laki yang patah hati karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh Youngjae.

Jae Bum terbelalak ketika melihat Youngjae terjatuh. Kakinya secara spontan bersiap untuk lari menolongnya, kemudian diurungkannya. Sangat aneh jika tiba-tiba dia berlari ke arah Youngjae yang belum dia kenal. Lagi pula entah sejak kapan, laki-laki berkulit tan yang beberapa menit lalu berlari jauh di depan Youngjae entah bagaimana caranya sudah mengulurkan tangan di depan Youngjae. Bersiap untuk membantunya berdiri. Mungkin, alasan Youngjae menolak laki-laki yang menyatakan cinta padanya, karena baginya Daehyun sudah lebih dari cukup. Yoo Youngjae, dia sangat sulit untuk diraih.

"Yak! Im Jae Bum aw—"

Duk.

"—was."

Telat.

Jae Bum sudah tersungkur di lapangan.

"argh." Erangnya menahan sakit. Jin Young dan beberapa teman kelasnya mengerubungi Jae Bum. "Ya! Kau baik-baik saja?" tanya Jin Young panik. Pasalnya dia yang melempar bola basket tersebut ke Jae Bum. Jin Young tidak tau bahwa temannya sedang melamun.

"Aku tidak apa-apa, Jin Young."

"Hell no! Hidungmu berdarah, dude." Jae Bum mengelap hidungnya dan benar saja darah segar keluar dari hidungnya.

"Ada apa ini?" Guru Hae Jung menghampiri lingkaran yang mengelilingi Jae Bum. "Jae Bum terkena bola basket, Saem." Jawab Jin Young masih dengan raut bersalah.

"Kau tidak apa-apa, Jae Bum?"

"Ya, tidak apa-apa, Saem."

"Sebaiknya kau ke klinik saja untuk diobati hidungmu."

"baik, Saem."

"Biar aku temani, Jae Bum"

"Tidak usah, Jin Young. Aku hanya sebentar, nanti akan kembali lagi untuk main." Jae Bum menepuk bahu Jin Young beberapa kali kemudian berjalan perlahan menuju klinik sekolah.

-Secret Love-

"Permisi, guru Kang." Jae Bum membuka pintu klinik perlahan. Aroma obat-obatan menyeruak masuk ke hidungnya. Jae Bum tidak pernah menyukai bau obat-obatan seperti ini sejujurnya. Tetapi keadaan memaksanya untuk masuk ke dalam ruangan ini. Jae Bum membungkuk sebentar kemudian duduk di seberang meja guru Kang. "Oh, Im Jae Bum, sebentar ya aku harus mengangkat telepon ini." Jae Bum hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, guru Kang mengakhiri obrolannya, membenarkan posisi duduknya dan kembali fokus pada Jae Bum. Ah juga tidak lupa memasang senyuman terbaik miliknya. Guru Kang memang guru yang sangat murah senyum.

"Ah maaf Jae Bum kau jadi menunggu. Jadi, mana yang sakit?" tanya guru Kang to the point ketika usai mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya.

"Hidungku terkena bola basket, guru. Aku ingin meminta obat untuk menghentikan pendarahan di hidungku." Guru Kang mengangguk. Senyum di bibirnya tidak pernah tergulung satu sentipun. Membuatnya semakin terlihat cantik.

"Berbaringlah sebentar disana dan tunggu lah. Aku harus bertemu asistenku. Hanya sebentar saja. Jangan lupa untuk meletakkan dua bantal agar hidungmu tidak kembali berdarah." Jae Bum mengangguk kemudian berjalan menuju ranjang yang kosong. Menyusun dua bantal sedemikian rupa agar kepalanya sedikit mendangak.

Jae Bum baru menyadari sesuatu bahwa ternyata dia tidak sendirian di dalam klinik ini, ada seseorang yang juga tengah tertidur di ranjang sebelahnya. Sepertinya anak dari kelasnya atau kelas sebelah, karena dia mengenakan pakaian olahraga. Saat ini hanya anak kelasnya dan kelas sebelah yang sedang pelajaran olah raga. Jae Bum mengangkat bahu tidak peduli dan kembali merebahkan tubuhnya. Menghela nafas lega kemudian memejamkan matanya perlahan. Kepalanya mulai terasa pening sekarang.

Beberapa saat kemudian terdengar gemeletukkan sepatu heels dengan lantai. Guru Kang telah kembali dari urusannya. "Oh Youngjae, kau sudah ingin kembali ke kelas?"

Young...Jae...?

"Ah ya, guru. Aku harus—"

"Maaf Youngjae-ah. Bisakah kau membantuku? Ada keperluan yang mendesak yang harus aku lakukan di luar sana. Bisakah kau membantuku mengobati Jae Bum?"

"Ne?" Youngjae menatap guru Kang bingung. Guru Kang hanya tersenyum sambil menunjuk laki-laki yang tidur di ranjang sampingnya. "Mian, aku harus pergi sekarang. Terimakasih Youngjae-ah."

"Eh tap—guru Kang!" Terlambat. Guru Kang pergi secepat kilat meninggalkan Youngjae yang bingung sendirian. Apa yang harus dia lakukan? Dia kan hanya tau sedikit tentang mengobati.

"Sepertinya kau sangat dekat dengan guru Kang." Youngjae mebalikkan tubuhnya. Membuatnya menghadap sang empunya suara. Jae Bum terbangun dari posisi tidurnya, menyenderkan tubuhnya. Kepalanya ia letakkan di atas dipan kasur. Darah segar masih mengalir dari hidungnya.

"Ah maaf, aku membangunkanmu." Youngjae menunduk malu. Pasalnya dia yang sudah membangunkan istirahat Jae Bum. Ditambah lagi, hatinya sedang tidak baik saat ini. Jantungnya tidak berhenti berdegup kencang. Tentu saja! Di depannya ada laki-laki yang dia sukai sejak masuk SMA. Im Jae Bum! Anak kelas 3-A yang jago basket dan akademik. Siapa yang tidak suka dengannya? Kaya, pintar, bahkan tampan. Di depan Youngjae adalah laki-laki yang nyaris sempurna. Im Jae Bum laki-laki yang ia idamkan akhirnya berbicara dengannya.

"Jadi, aku harus menghabiskan berapa banyak darah lagi agar kau mau mengobatiku?"

"Ne?" Youngjae mendongakkan kepalanya. Bingung.

Lucu.

"Youngjae bukan? Kau di amanahkan untuk mengobatiku oleh guru Kang. Jadi, sampai kapan kau mendiamkanku? Haruskah aku pingsan dulu baru kau mengobatiku? Atau kah aku harus ma—"

"Ah maaf. Aku lupa." Youngjae menepuk dahinya kencang kemudian bergegas mengambil alat-alat yang diperlukan. Ia terlalu fokus menenangkan degup jantungnya. Takut sekali jika Jae Bum mendengarkan degup jantungnya yang sangat kencang. Youngjae tidak akan mau bertatapan lagi dengan Jae Bum jika hal itu terjadi.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyiapkan alat-alat yang diperlukan. Bagi Youngjae mengurus semacam mimisan atau patah tulang hidung sudah biasa. Mengingat dulu ia pernah menjadi asisten klinik di sekolahnya pada saat menduduki bangku pertama dan ke dua.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau dekat dengan guru Kang?" tanya Jae Bum ketika Youngjae kembali dengan beberapa alat di tangannya. Youngjae tersenyum. Tangannya cekatan melakukan hal ini dan itu untuk mengobati hidung Jae Bum.

"Sepertinya kau sangat penasaran. Pembicaraan ini tidak cocok untuk kita yang baru mengenal." Jawab Youngjae dengan kekehan.

Ah. Benar. Jae Bum bodoh.

"Tapi tidak masalah untukku. Kau bebas menanyakan apapun tentangku. Emm... bagaimana ya? Aku dulu sempat menjadi asisten guru Kang sewaktu kita kelas satu. Walaupun aku tidak tau banyak tapi guru Kang sepertinya sangat menyukaiku bahkan kadang-kadang walaupun sudah bukan jadi asistennya aku tetap dimintai tolong." Jae Bum mengangguk.

"Cham! Aku akan memasukkan ini ke hidungmu. Yang harus kau lakukan mendongak dan jangan bernafas melalui hidung. Kau mengerti?" Youngjae memasuki kapas ke dalam lubang hidung Jae Bum. Jae Bum hanya diam dan tetap mengikuti perintah Youngjae.

"Hidungmu sepertinya sedikit patah. Sebaiknya setelah pendarahannya berhenti kau periksakan ke dokter untuk informasi lanjutannya." Youngjae tersenyum kemudian membereskan alat-alat yang sudah ia gunakan. Mengembalikannya ke tempat semula. Tepat setelah Youngjae membereskan peralatan yang sudah ia gunakan, pintu klinik kembali terbuka. Namun kali ini bukan guru Kang yang masuk melainkan Daehyun yang masih bersimbah keringat.

"Oh Daedae!" Sapa Youngjae dengan riang. Jae Bum mengalihkan pandangannya ke sosok yang diteriaki Youngjae.

"Kau sudah sembuh?"

"Aku baik-baik saja, Dae. Hanya sedikit terkilir, besok aku akan pulih seperti biasa. Sebaiknya aku harus ke lapangan sekarang. Hukumanku belum aku selesaikan, masih ada lima kali puteran lagi yang harus aku selesaikan."

"Tidak usah."

"Eh?"

"Aku sudah menyelesaikan hukumanmu dan hukumanku. Jadi kita tidak memiliki hutang hukuman dengan guru Hae Jung."

"Eh? Kenapa kamu melakukannya? Aku kan bisa menyelesaikan sendiri hukumanku, Dae. Kau selalu begitu. Berlaku semaumu." Youngjae memajukan bibirnya beberapa senti. Membuat Daehyun terkekeh gemas. Tanpa sadar tangannya sudah mengacak rambut Youngjae.

"Yak! Rambutku jadi berantakan, bodoh."

"Hahaha baiklah baiklah. Ah aku lapar. Bagaimana jika kita ke kantin dan ku traktir makanan favoritmu?"

"Benarkah? Baiklah. Ayo!" Baru beberapa langkah, Youngjae menghentikan langkahnya. "Ah ya, hampir lupa!" Youngjae membalikkan badannya membuat Daehyun mau tak mau juga menengok ke belakang. Ia baru menyadari bahwa ada seseorang selain ia dan Youngjae di dalam klinik.

"Im Jae Bum, sepertinya guru Kang akan kembali sebentar lagi. Jika pendarahannya sudah berhenti sebaiknya kau bergegas untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter. Aku harus pergi dulu. Semoga lekas sembuh." Youngjae tersenyum kemudian berjalan lebih dahulu meninggalkan Daehyun dan Jae Bum.

"Maaf jika tadi aku dan Youngjae sangat berisik dan menganggumu. Ku harap kau cepat sembuh. Ah ya, permainan yang sangat bagus hari ini, Im Jae Bum. Sayang sekali tadi aku tidak bisa bermain. Kalo begitu aku pergi dulu dan semoga lekas sembuh." Daehyun tersenyum sebentar kemudian menyusul Youngjae yang sudah sangat semangat jika berhubungan dengan "mentraktir makanan favoritnya".

Mereka sangat dekat. Tidak ada celah sedikit pun untuk seseorang masuk diantara mereka berdua.

-Secret Love-

Bel kelas berbunyi. Dalam waktu singkat seluruh siswa dari semua kelas bergegas keluar. Saatnya pulang dan bersantai-santai ria sebelum ujian kelulusan diadakan. Youngjae berbalik mengarah ke depan meja Daehyun dengan mata yang berbinar-binar. "Dae~! Malam ini kan tidak ada tugas, kita nonton yuk. Ada film bagus yang ingin ku tonton, ya ya ya?" Tanyanya dengan wajah yang di imut-imutkan. Pipinya semakin terlihat chubby ketika kedua tangannya menopang kedua pipinya yang memang bentuk normalnya seperti bakpao. Daehyun berusaha untuk mengabaikan walaupun sebenarnya ingin sekali ia mencium bibir merah Youngjae yang sudah maju beberapa senti entah sejak kapan.

"Maaf, Jae-ie. Jun Hong dan Jong Up sudah menungguku. Mereka memintaku untuk mengajari pelajaran matematika karena lusa akan diadakan ujian harian." Youngjae menghela nafas kecewa. Matanya berubah menjadi sedih. Daehyun memang sangat sibuk. Sebab selain jadwal sekolah yang sampai sore ditambah jadwal mengajarnya yang lumayan padat membuat mereka jarang sekali bisa menikmati malam berdua.

"Dasar Jung Daehyun tidak seru!"

Daehyun tersenyum sekali lagi sebagai bentuk permintaan maafnya karena lagi-lagi tidak bisa menemani Youngjae menonton. Mengusak rambut Youngjae lembut kemudian berpamitan. Dia harus segera pergi karena Jun Hong dan Jong Up sudah menunggunya di perpustakaan. "Jadi, aku harus pulang sendiri lagi nih?" Youngjae mendengus kesal. Youngjae kesal waktu berdua dengan Daehyun berkurang akibat kerja sambilan Daehyun. Padahal tahun lalu Daehyun masih memiliki banyak waktu luang untuk dihabiskannya bersama Youngjae. Tapi justru akhir-akhir ini Daehyun sibuk sendiri dengan dunia barunya, melupakan Youngjae yang bingung harus mengajak siapa untuk menemaninya berbelanja, menonton, jalan-jalan, atau melakukan aktivitas lainnya.

Diambilnya tas dengan kasar kemudian beranjak keluar dari ruang kelasnya. "Sebal sebal sebal! Untuk apa sih sebenarnya dia kerja sambilan? Uang yang dia miliki kan masih lama habisnya. Dasar Daehyun bodoh! Sebal sebal sebal!" Teriak Youngjae sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

"Kau sudah cukup membuat lantainya retak, jika kau teruskan mungkin lantai ini akan segera roboh." Youngjae membalikkan tubuhnya. Astaga! Suara yang mengintrupsinya itu adalah suara Im Jae Bum laki-laki yang selalu ia kagumi. Dan Im Jae Bum melihatnya melakukan hal bodoh. Ya Tuhan, bikin malu saja dan pupus sudah harapannya menjadi pacar dari seorang Im Jae Bum. Youngjae segera membalikkan tubuhnya lagi bersiap untuk pergi meninggalkan Jae Bum. Mukanya sudah cukup merah seperti kepiting rebus karena malu.

"Hei, kenapa kabur?" Telat. Jae Bum lebih dahulu menarik lengan Youngjae, membuatnya kembali menghadap Jae Bum.

"A-aku, aku harus pergi, permisi." Youngjae membungkukkan tubuhnya kemudian kembali bergegas meninggalkan Jae Bum tapi untuk ke dua kalinya Jae Bum menahannya. Kali ini Jae Bum terkekeh. "Tenanglah Yoo Youngjae, aku tidak akan memakanmu. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah membantuku."

"Ah~ tidak perlu berterimakasih, aku melakukannya karena memang kau memerlukan bantuan." Balas Youngjae canggung bercampur malu. Jae Bum tersenyum kemudian menggeleng pelan. "Tidak. Aku tetap ingin mengucapkan terima kasih. Bagaimana jika aku mengantarmu pulang? Mmm... itu pun jika kau tidak keberatan"

"Ah mian tapi..."

"Ah, jadi aku di tolak nih?"

Youngjae menggeleng cepat. Matanya bertemu mata Jae Bum. Strike. Degup jantungnya semakin tak tenang. Jae Bum tersenyum kemudian menarik tangan Youngjae, "Ayo!" dan Youngjae hanya bisa pasrah ditarik oleh seorang Im Jae Bum.

-Secret Love-

"Perempatan belok ke kanan." Youngjae mengarahkan Jae Bum menuju tempat tinggalnya. Kecanggungan beberapa menit lalu sudah hilang. Mereka sudah cukup banyak mengobrol sejak perjalanan dari sekolah. Membicarakan tentang guru Hae Jung, Jin Young, dan masih banyak lagi.

"Yap, berhenti di sini saja. Rumahku ada di depan sana." Jae Bum meminggirkan mobilnya. Keduanya melepas seat belt yang melilit tubuh, kemudian keluar dari mobil. "Terimakasih sudah mengantarku pulang, Im Jae Bum." Jae Bum tersenyum lembut.

"Ti—"

"Youngjae hyung!" belum sempat mendengar balasan Jae Bum tubuh Youngjae sudah di tubruk oleh beberapa anak kecil berumur lima sampai tujuh tahunan. "Hai In Young, Il Jun, dan Sam." Sapa Youngjae sambil mengelus kepala ke tiga anak kecil yang masih memeluk kaki Youngjae satu per satu.

"Hyung, sepi sekali rumah jika tidak ada Jae hyung." Ucap salah satu anak bermata kebiruan dengan kulit putih pucat.

"Maafkan Jae hyung ya Sam. Lusa kita bisa bermain lagi sama-sama, oke?" Anak kecil bernama Sam mengangguk mengerti. Jae Bum memerhatikan Youngjae dan kelima anak kecil yang masih mengerubunginya. Sepertinya Youngjae dan Daehyun adalah anak panti yang tertua.

"Oh! Dia siapa Jae hyung? Dan mana Dae hyung?" Jae Bum tersenyum ketika semua mata menatapnya.

"Annyeong! Aku Im Jae Bum teman Youngjae hyung." Sapa Jae Bum ke lima anak kecil tersebut.

"Oppa tampan sekali." Puji In Young dengan nada polosnya. In Young adalah satu-satunya perempuan di panti. Jae Bum tersenyum lebar mendengar pujian tulus dari In Young. Mengusak rambut In Young lembut, "Terimakasih—"

"In Young," potong In Young cepat. Jae Bum tertawa. Mata sipitnya semakin mengecil. Deretan gigi putihnya yang rapih semakin terlihat jelas. Kadar ketampanannya tidak diragukan lagi semakin meninggi. "Ne, terimakasih In Y(eppun)," gombal Jae Bum. In Young hanya menunduk malu karena dipuji cantik oleh sosok setampan Jae Bum. Sepertinya, mulai hari ini, In Young akan menetapkan Jae Bum sebagai calon suaminya nanti.

Youngjae hanya terkekeh lembut melihat kelakuan In Youngnya yang tersipu malu. "Oh! Jae Bum hyung pasti orang kaya! Lihat teman-teman! Mobil Jae Bum hyung bagus sekali!" Tunjuk anak kecil berambut hitam ke arah mobil sport bewarna merah yang terparkir di belakang Youngjae dan Jae Bum. "Jae Bum hyung boleh kah bawa kami keliling naik mobil, hyung? Boleh ya hyung?"

"Tidak boleh!" Semua mata mengarah ke Youngjae, tatapan kecewa. "Jae Bum hyung punya banyak urusan dan harus buru-buru jadi kalian tidak boleh merepotkan Jae Bum hyung."

"Ah, Youngjae hyung pelit!"

Jae Bum menyentuh bahu Youngjae pelan. "Tidak apa-apa kok, Jae. Aku akan melakukannya dengan senang hati. Lagi pula hari ini aku tidak ada jadwal apapun, jadi santai saja oke?" sebelum Youngjae membalas, ke tiga anak tersebut langsung meringsek masuk ke dalam mobil Jae Bum.

-Secret Love-

Suara denting sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring mengisi setiap sudut ruang makan sederhana ini. Youngjae, Daehyun, bibi Nam, dan ketiga penghuni cilik panti asuhan tengah menikmati makan malam yang disediakan Youngjae dan bibi Nam. "Daehyun hyung!" panggil Il Jun membuka suara. Daehyun hanya berdeham lembut menjawab panggilan 'adik'nya, sambil mengunyah makanan yang selalu menjadi favorit Daehyun. Apapun yang dibuat Youngjae akan menjadi makanan favoritnya. Jika dipermudah, masakan Youngjae adalah makanan favoritnya.

"Hyung tau tidak, tadi sore, rumah kita didatangi mobil baaaaguuuussss loh hyung!" cerita Il Jun antusias yang disambung dengan anggukan setuju keempat temannya yang lain. Daehyun tersenyum lembut. Begitulah reaksi adik-adiknya jika ada seseorang yang memiliki harta yag berlebih datang ke sini untuk memberikan sumbangan yang dibilang cukup besar. Mereka akan antusias melihat mobil-mobil mewah yang dibawa dari donatur.

"Iya hyung. Dan yang lebih hebatnya adalah, mobil itu hanya punya dua pintu. Tidak ada kursi penumpang dibelakangnya. Sekali dibuka, pintu itu akan kebuka ke atas hyung! Kami baru pertama kali itu melihat mobil sekeren itu!" Timpal Sam yang sekali lagi dijawab anggukan dari Il Jun dan In Young temannya.

"Juga sangat tampann!" celetuk In Young. Wajah putihnya kembali memerah. Mungkin teringat dengan gombalan Jae Bum tadi sore.

"Daehyun tidak akan peduli jika tampan, Daehyun hyung hanya peduli soal mobilnya." Sanggah Sam yang disetujui dengan anggukan mantap Il Jun. In Young memelototi ke dua laki-laki yang berada disebrangnya kesal. Suasana ruang makan berubah ricuh. In Young, tetap dengan pendapatnya bahwa tampan adalah segalanya, sedangkan ke dua laki-laki di sebrangnya masih dengan pendapat mereka yang sama.

"Baiklah. Cukup bertengkarnya, Daehyun hyung sudah mendengar semua yang kalian ceritakan." Potong Youngjae, yang disetujui dengan senyum dari Daehyun dan juga bibi Nam.

"Ah Jae hyung... kami kan belum selesai bercerita. Ini semua karena kau, In Young!"

"Apa? Salah kalian tidak mau mengalah padaku!"

"Anii—"

"Sudah hentikan!" lerai Youngjae menghentikan pertengkaran yang malah tidak akan usai jika tidak di lerai. Bahkan mungkin akan terjadi kekacauan di dapur malam ini jika tidak dihentikan. "Tidak ada cerita sebelum selesai makan dan mengerjakan tugas. Nah lihat meja sekeliling kalian, banyak nasi yang berhamburan. Ayo dibersihkan!" titah Youngjae. Wajah-wajah yang tadi antusias berubah menjadi kesal. Namun, walaupun kesal karena 'Youngjae hyungnya' galak mereka tetap melakukan apa yang diperintahkan Youngjae.

"Ada lagi yang memberikan donatur, bibi Nam? Sepertinya baru beberapa hari yang lalu kita sudah mendapatkan semua hal yang bahkan cukup sampai tiga bulan ke depan." Tanya Daehyun bingung. Bibi Nam menggeleng pelan.

"Bukan donatur, tapi tamunya Youngjae."

"Ne? Youngjae?" Bibi Nam mengangguk membenarkan. "Siapa?" kali ini bibi Nam mengendikkan bahunya tidak tahu. "aku kebetulan sore tadi harus ke bank jadi tidak bisa menemui sosok tersebut. Tapi menurut In Young 'oppa' yang dateng tadi sore sangat ganteng. Sayang sekali aku melewatkan kesempatan itu." Gurau bibi Nam dengan kekehannya. Daehyun memilih diam, melanjutkan makan malamnya. Sebaiknya nanti ia tanyakan ke Youngjae karena tidak biasanya Youngjae mengajak teman ke panti. Biasanya jika Daehyun tidak ada, Youngjae akan pulang sendirian. Ditambah, bibi Nam tidak mengetahui siapa sosok tersebut yang berarti sosok tersebut adalah sosok baru.

-Secret Love-

Daehyun membuka pintu kamar Youngjae. Sosok mungil favoritnya tengah bersantai dengan komik one piece kesukaannya. "Dae Dae!" sapa Youngjae antusias dan Daehyun selalu menyukai cara Youngjae memanggil namanya. "Ini," Daehyun memberikan bingkisan sedang untuk Youngjae.

"Apa ini?"

"Buka saja." Titah Daehyun. Tanpa menunggu lama, Youngjae membuka bingkisan tersebut dengan tidak sabaran. "OH MY GOD! ARE YOU SERIOUS, DAE?!" teriak Youngjae tak percaya dengan benda yang berada di tangannya. Pandangannya beberapa kali berganti menatap wajah Daehyun kemudian benda ditangannya kemudian wajah Daehyun lagi. Seolah masih tak percaya dengan penglihatannya. Mata cokelat jernihnya bersinar. Bibir tipis dan kecil berwarna merah mudanya menganga membentuk huruf 'o'.

"Kau suka?"

"SANGAT! Oh Tuhan, bagaimana bisa kau mendapatkan ini sedangkan aku beratus kali mencoba tidak pernah berhasil mendapatkannya!" Daehyun tersenyum simpul. Youngjae bangkit dari kasurnya, meletakkan replika karakter one piece limited edition idamannya di meja belajar. Daehyun mendudukkan dirinya di pinggir kasur milik Youngjae. Menyenderkan tubuhnya di kepala kasur.

"Apa yang kau lakukan sepanjang sore tanpa aku?"

"Tidak ada." Youngjae menggeleng singkat. Setelah menemukan posisi yang tepat untuk replika kesayangannya, Youngjae kembali ke kasurnya. Meletakkan kepalanya di paha Daehyun. Sejak kecil, ini menjadi favorit Youngjae. Setiap malam Daehyun akan mendatangi kamarnya, tubuhnya bersandar di kepala kasur, dan Youngjae akan meletakkan kepalanya di paha Daehyun. Menjadikan paha Daehyun sebagai bantal. Posisi ini akan bertahan sampai Youngjae benar-benar tertidur, dan Daehyun tidak akan tidur terlebih dahulu sebelum ia memastikan jika Youngjaenya benar-benar terlelap. Kemudian ia akan membenarkan posisi Youngjae, dan kembali ke kamarnya yang berada persis di samping kamar Youngjae.

"Benarkah?" tanya Daehyun memastikan. Youngjae sedikit berpikir. Ia selalu lupa apa yang ia lakukan jika tidak ada Daehyun. Semua akan terasa membosankan jika tidak ada sosok berkulit tan disampingnya. "Ah! Tadi Jae Bum mengantarku pulang."

"Jae Bum?" alis Daehyun mengernyit bingung. "Maksudmu, Im Jae Bum anak kelas 3-A?" Youngjae mengangguk mantap. Matanya mulai tertutup perlahan menandakan ia mulai mengantuk.

"bagaimana bisa?" Youngjae mengendikkan bahu. "Sudah Dae, aku mengantuk. Hari ini terasa lebih lelah." Ucap Youngjae menandakan ia tidak menginginkan obrolan tentang Jae Bum hari ini berlanjut. Membenarkan posisinya sebentar sebelum laki-laki imut yang tengah terlelap dipangkuan Daehyun masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

Daehyun menghela nafas pelan. Sebenarnya ia teramat sangat penasaran bagaimana bisa Jae Bum mengantar Youngjae pulang. Perihal ia tidak pernah tau bahwa Youngjae dekat dengan Jae Bum. Setau Daehyun, mereka hanya mengobrol saat Youngjae membantu Jae Bum untuk menghentikan pendarahan di hidungnya, hanya itu yang Youngjae ceritakan pada saat di kantin tadi. Tapi biarlah, Daehyun tidak akan memikirkan hal itu lagi dan tidak akan pernah memaksa Youngjae bercerita hingga membuat 'putri tidur'nya menunda waktu istirahat. Mungkin itu hanya ucapan terimakasih Jae Bum karena Youngjae sudah membantunya.

Daehyun menegakkan tubuhnya. Bagian ini adalah bagian terbaik disetiap malam selama nyaris dua puluh tahun hidupnya. Bagian ini adalah ritual Daehyun memuji setiap inci wajah Youngjae. Ia dapat dengan puas menatap wajah damai 'calon istrinya'—semoga saja hal ini tercapai— saat tertidur. Begitu polos dan cantik bak malaikat. Ah bukan, bukan malaikat. Bagi Daehyun Youngjae adalah bintang kecilnya yang hadir menyelamatkan malam yang disekap kesepian. Akan ia jaga bintang kecil favoritnya agar selalu bersinar.

Puas memandang wajah Youngjae, Daehyun membenarkan posisi Youngjae. Menutupi tubuh mungil tersebut dengan selimut biru muda favorit Youngjae. Menatap dan memuji sekali lagi betapa anggunnya wajah Youngjae. Kemudian ditutup dengan doa selamat malam yang hanya dapat diketahui oleh Daehyun.

Night twinkle. I love you.

-Secret Love-

HALLOOO! Hehe aku balikk^^ maaf buat kalian yang nunggu-nunggu aku update FF, aku lagi sibuk banget sama tugas kuliah dan sebenernya aku juga lagi ada UTS hari ini. Well, aku Cuma bisa ngeupdate FF ini. Di chap ini, aku emang belom ada konflik atau greget2nya sama sekali. Dan di FF ini, aku juga berenca buat ngerubah sifat-sifat Daehyun yang biasanya. Di FF ini aku mau bikin Daehyun sosok dewasa, yang sayang banget sama Youngjae. Disini juga aku langsung blak-blakkan kasih tau kalo misalnya Daehyun nyadar perihal perasaannya sama Youngjae. Sampe sini dulu ya temen2^^ aku harus belajar lagi hehehe;((( BHAY BHAY! TEBAR CINTA DARI AKU DAN DAEJAE~~~~3333

PS: tolong tetep dukung aku yaaa reader2ku tersayanggg. Aku bakalan sebisa mungkin tetep ningkatin kualitas nulisku dan ga akan aku tinggalin kalian mati penasaran dengan Ffku heheh *pd banget gila;((* JANGAN LUPA DI LIKE, FOLLOW, dan REVIEW YAAAA! CINTA KALIAAANNNN33333