Chapter 1
Sewoon baru saja akan menutup bukunya ketika handphonenya berdering. Nama Dahyun terlihat ketika Sewoon melirik layar handphonenya yang berkedip-kedip.
"Wooon~ kamu gak bosen di rumah apa?"
"Enggakㅡ"
"Main, yuk?"
"Kemana?"
"Ke rumahku aja ehehe. Aku bosen tapi males keluar."
Sewoon berpikir sejenak, "Di rumah ada Kak Jaehwan, gak?"
"Kok kamu nanya gitu?"
Sewoon tertawa canggung, "Gak papa kok, cumaㅡ"
"Oh, jadi sekarang kamu beneran ngehindarin Kak Jaehwan, nih?"
.
.
.
.
Kim Jaehwan × Jung Sewoon
Phytagor Us
Support Cast : Kim Dahyun
Casts are owned by theirselves and this story is owned by feazee.
[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]
.
.
.
.
"Serius, Hyun. Aku nggak dendam apa-apa, kok, ke Kak Jaehwan. Cuma ya gituㅡ"
"Gitu gimana?" Dahyun melirik Sewoon sekilas, "Risih?"
Sewoon menggaruk kepalanya, dia merasa bersalah pada Dahyun untuk beberapa alasan.
"Santai ajasih, Woon. Aku juga gak bakal marah kalo kamu risih sama Kak Jaehwan. Aku yang adeknya aja risih."
Kemudian Dahyun dan Sewoon tertawa bersama. Dahyun memang yang paling pintar mencairkan suasana.
"Dek!"
Dahyun dan Sewoon membalikan badan mereka dengan kompak. Nafas Sewoon tertahan ketika melihat Jaehwan sedang berlari mendekat ke arah mereka berdua.
Ah, tidak. Sewoon sedang tidak mendengar rayuan apapun dari Jaehwan hari ini.
Sewoon menyembunyikan dirinya di balik badan Dahyun secara perlahan. Berharap Jaehwan tidak mengenalinya ㅡmeskipun itu tidak mungkin.
"Kenapa, Kak?" Tanya Dahyun setelah Jaehwan berdiri di depannya.
"Barusan gue ditelpon Mama, katanya hp lo gak aktif kenapa?"
"Hah?"
Dahyun mengambil handphone-nya dari saku celana. Seingatnya dia tidak merasakan handphone-nya bergetar sekalipun.
"Yah, handphone gue mati, Kak."
"Gimana, sihㅡ" Mata Jaehwan tanpa sengaja menangkap Sewoon sedang berdiri dengan kepala tertunduk di belakang Dahyun, "Itu Sewoon?"
Dahyun menolehkan kepala ke belakang, "Lah, iya. Woon, kamu ngapain di belakangku?"
Sewoon menutup wajahnya menggunakan rambut Dahyun, "Gak papa."
"Lagi main petak umpet, Woon?"
Sewoon melirik ke arah Jaehwan, "Ehehe, enggak, Kak. Anuㅡ rambut Dahyun wangi." Katanya sembari tertawa canggung.
"Oh gitu. Yaudah gue balik dulu, Dek. Ada urusan penting."
Setelah Jaehwan berlari menjauh dari Dahyun dan Sewoon, barulah Sewoon berpindah tempat.
Baru kali ini Jaehwan bertemu dengan Sewoon tanpa menggoda Sewoon sama sekali. Mungkin Jaehwan memang sedang terburu-buru.
"Kamu ngapain sih, Woon?"
Sewoon menggeleng.
"Kak Jaehwan gak senyebelin itu, kok. Serius, deh. Ya aku gak tau apa yang bikin kamu segininya, tapi nanti kalo kamu udah kenal dia pasti rasanya beda."
Sewoon meringis lalu berguman, "Aku gak suka cowok populer, Hyun."
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Jaehwan berlari kearah Sewoon ketika melihat Sewoon sedang membawa setumpuk buku ㅡyang tingginya hingga menutupi mataㅡ seorang diri.
"Mau dibantu, gak?"
Sewoon menoleh kemudian menggeleng, "Nggak usah, Kak. Aku bisa bawa sendiri, kok."
Namun, walaupun Sewoon berkata tidak, Jaehwan tetap mengambil sebagian besar buku tersebut dari tangan Sewoon.
"Nanti kalo kamu nabrak gimana? Kalo nabrak aku sih gak papa."
Sewoon tertawa canggung.
Tidak hanya tawanya, suasana yang dirasakan Sewoon saat ini juga sangatlah canggung ㅡmeskipun Jaehwan sesekali melempar pertanyaan padanya. Ini pertama kalinya tidak ada Dahyun diantaranya dan Jaehwan.
Untung saja, mereka segera sampai di perpustakaan.
Setelah meletakkan buku diatas meja penjaga, Jaehwan ceoat-cepat pergi. Katanya, dia alergi dengan perpustakaan. Sewoon hanya mengiyakan perkataan Jaehwan kemudian mengurus pengembalian buku-buku yang ia pinjam. Ada beberapa buku yang sudah cukup lama ia pinjam dan melewati batas waktu peminjaman, sehingga ia harus membayar denda.
Kemudian Sewoon berjalan ke arah kantin untuk menyusul Dahyun.
Sesuai dugaannya, Dahyun sudah terlebih dahulu memesan makanan dan bahkan sedang memakannya. Padahal, Dahyun telah berjanji untuk menunggunya ㅡsehingga mereka bisa memesan bersama.
"Hyun, kok makan duluan, sih?" Protes Sewoon.
Dengan mulut penuh makanan, Dahyun mendongak. Ia menelan makannya terlebih dahulu kemudian menjawab, "Ehe, maaf ya, Woon. Perutku gak mau diajak kompromi."
Sewoon mendengus, "Ya itu mah kamunya aja yang gak sabaran."
"Kamu lama, sih." Bela Dahyun ㅡtidak terima disalahkan.
Sewoon mendudukkan diri di depan Dahyun, "Yaudah iya aku yang salah."
Dahyun meletakkan sendoknya, "Ey, ngambek, Woon?"
Sewoon menggeleng.
"Jangan ngambek dong, Woon?"
Sewoon diam.
"Masa gitu doang ngambek, sih?"
Sewoon tetap diam.
"Yaudah ntar aku traktir, deh?"
"Oke, deal ya."
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Sewoon memakan permen kapasnya dengan bahagia. Tidak memperdulikan Dahyun yang masih merengut kesal, Dahyun tidak pernah mengira bahwa makan Sewoon cukup banyak.
"Besok-besok lagi ya, Hyun?"
"Gak."
Sewoon tertawa, "Ngambek aja gak papa, Hyun. Ngambek itu manusiawi, kok"
"Woon, aku mukul kamu boleh, gak?"
Sewoon kembali tertawa. Dia baru saja akan menjawab Dahyun ketika sebuah suara samar mengalihkan atensinya. Kaki Sewoon melangkah ke arah sumber suara dengan segera. Membuat Dahyun mau tidak mau harus mengikuti kemana Sewoon pergi.
"Mau kemana sih, Woon?"
Pertanyaan Dahyun terabaikan. Sewoon lebih memilih untuk fokus mencari dimana sumber suara yang ia dengar.
Kaki Sewoon berhenti melangkah ketika dia sampai di belakang banyak sekali orang yang bergerombol. Sewoon tidak dapat mendengar suara dengan baik kecuali suara instrument yang juga mulai samar, karena saat ini gerombolan di depannya sedang bersorak dan bertepuk tangan.
"Ini udah selesai?"
"Huh?" Bingung Dahyun.
"Ini busking, kan?" Sewoon melirik Dahyun.
Sejenak Dahyun terdiam, "Oh, ngamen?"
"Busking!"
"Iya, ngamen?"
"Busking, Hyun!"
Dahyun menghela nafas, "Bedanya busking sama ngamen apasih? Sama-sama nyanyi gak jelas di tengah jalan, kan?"
Tiba-tiba saja Sewoon ingin tertawa. Perkataan Dahyun memang ada benarnya. Tapi, tentu saja Sewoon tidak terima jika busking disamakan dengan mengamen. Bagaimanapun juga Sewoon pernah ingin sekali melakukan busking.
"Kak Jaehwan sering banget busking."
Kali ini Sewoon menoleh, "Kak Jaehwan busking?"
Dahyun mengangguk.
Kemudian suara instrument kembali terdengar, disusul dengan sebuah nyanyian.
"Kayaknya ini Kak Jaehwan, deh?" Dahyun berjinjit, mencoba untuk mencuri pandang ke arah sang busker.
"S-serius?"
"Dari suaranya, sih, mirip sama Kak Jaehwan."
Kini Sewoon mengikuti Dahyun; berjinjit untuk mencuri lihat. Dia berada di antara percaya dan tidak percaya dengan Dahyun.
"Nah, bener kan ini Kak Jaehwan." Kata Dahyun.
"Aku kok gak keliatan Kak Jaehwan?"
"Lihatnya jangan pake mata, tapi pake akal, Woon."
"Huh?"
Dahyun memasang raut sombong, "Lihat dari rekaman handphone orang, dong."
"Ehㅡ iya juga, ya?" Sewoon berhenti berjinjit.
Dia memerhatikan layar handphone seseorang yang berdiri cukup jauh di depannya. Disana terdapat Jaehwan sedang berdiri di belakang mic standing, seseorang di balik keyboard, dan seseorang lagi memukul drum.
"Aku gak tau suara Kak Jaehwan sebagus ini?"
Dahyun tersenyum bangga, "Iya dong, kakaknya siapa dulu?"
"Ew," Ucap Sewoon, "Padahal yang aku puji aja biasa."
"Kak Jaehwan dipuji terus reaksinya biasa aja?" Dahyun mendecaknya lidahnya beberapa kali sembari menggelengkan kepala, "Mustahil. Apalagi yang muji gebetan."
To Be Continued
Pojok author : IYA AKU TAHU INI JELEK huhuhu maafkan aku bikin kalian nunggu lama buat worthless chapter kayak giniㅠㅠ sebenernya ini masih tahap perkenalan juga makanya nyaris gak ada Howons moment:"D chapter depan insyaallah Jaehwan bakal sering muncul kok, soalnya alur cerita ini cukup cepat. Aku janji bakal update lebih cepet buat chap selanjutnya sebagai minta maaf atas jeleknya chap ini, dehㅠㅠ
Anw, makasih buat yang reviewfavefollow cerita ini. Aku sayang kalian heuheu.
Oh iya satu lagi, terserah kalian mau bayangin ini genderswitch atau bukan, tapi buat aku ini boy×boy, ehehe ((aku anggep Korea kayak Thailand khusus buat fanfic ini:"D)).
And last,
Review jusewoon!
