Chapter 2
Sewoon yang sedang menikmati makan siangnya di kantin terkejut bukan main ketika seseorang duduk di depannya sembari meletakkan sekaleng minuman dengan kasar. Matanya menemukan Jaehwan tengah tersenyum lebar ke arahnya tepat setelah ia mendongakan kepala.
"Hai." Sapa Jaehwan.
Sewoon berkedip kemudian mengangguk sekali, "Hai,"
"Kok sendirian aja, Woon?"
Sewoon kembali berkedip, "Enggak. Ini ada Dahyunㅡ"
Mata Jaehwan mengikuti arah ibu jari Sewoon yang menunjuk ke sebelah kanan.
"Oh ada lo juga, Dek? Sorry, gak keliatan."
Dahyun tersenyum dengan terpaksa, "Gak papa, Kak. Gue tau yang keliatan cuma Sewoon, kan?"
Tanpa menghiraukan Dahyun, Jaehwan kembali fokus pada Sewoon, "Sabtu depan aku busking di taman deket rumah, kamu mau lihat gak, Woon?"
Sewoon sempat tertawa pelan ketika melihat ekspresi kesal Dahyun karena diabaikan oleh Jaehwan, kemudian ia menjawab, "Kalo Dahyun lihat nanti aku ikutan deh, Kak."
Jaehwan mengangguk mengerti, kemudian beralih pada Dahyun, "Dek, inget ya nikung kakak sendiri hukumnya haram."
.
.
.
.
Kim Jaehwan × Jung Sewoon
Phytagor Us
Support Cast : Kim Dahyun
Casts are owned by theirselves and this story is owned by feazee.
Warning! Kinda fast plot.
[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]
.
.
.
.
Sewoon menguap, sudah terhitung satu jam sejak dia duduk di halte untuk menunggu bis. Hari ini dia pulang terlambat karena ada beberapa hal yang harus dia selesaikan di kampus. Dia pikir, selepas jam enam sore akan masih ada bis yang melewati kampusnya, namun ternyata dia salah.
Sewoon hampir saja menyerah dan memutuskan untuk jalan kaki ketika dia melihat sebuah motor berhenti di depannya.
Motor milik Kim Jaehwan.
"Loh, kamu nggak pulang, Woon?" Tanya Jaehwan setelah dia melepas helmnya.
"Iya ini mau pulang, Kak."
Jaehwan turun dari motornya kemudian menghampiri Sewoon, "Naik apa?"
Sewoon menghela nafas lelah, "Sebenernya mau naik bis, tapi bisnya gak ada yang lewat. Yaudah aku mau jalan kaki aja."
"Yakin mau jalan kaki, Woon?" Jaehwan mengangkat sebelah alisnya, "Kata Dahyun, rumahmu jauh."
"Ya mau gimana lagi kak, udah makin malem tapi bisnya gak ada yang lewat."
Jaehwan terdiam sejenak, "Mau aku anterin, gak?"
Sewoon menunjukkan ekspresi terkejutnya untuk beberapa saat. Diam-diam, ia ingin mengiyakan tawaran Jaehwan ㅡrumahnya memang cukup jauh, ia juga cukup lelah untuk berjalan kaki. Namun, Sewoon tidak bisa membayangkan akan secanggung apa perjalanan mereka nanti.
"Nggak usah, Kak."
Jaehwan kembali terdiam. Sedikit kecewa mendengar penolakan Sewoon.
"Kalo gitu aku temenin nunggu bis, gimana?"
Sewoon mengangguk setuju. Dia tidak enak jika harus menolak tawaran Jaehwan untuk kedua kalinya.
Setelah Jaehwan duduk di sebelah Sewoon, tidak ada percakapan yang terjadi. Sewoon yang hanya terdiam dengan canggung dan Jaehwan yang entah kenapa menyukai keheningan di antara mereka.
"Kok baru pulang jam segini, Kak?"
Jaehwan menoleh ke arah Sewoon. Sedikit tidak menyangka bahwa Sewoon adalah yang pertama kali membuka percakapan di antara mereka.
"Tadi ada kumpul sama anak band buat bahas busking besok Sabtu."
Sewoon mengangguk mengerti.
Kemudian, keheningan kembali menguasai. Sewoon yang memang tidak terlalu dekat dengan Jaehwan ㅡjika tidak ingin dibilang menghindariㅡ, tidak tahu harus mengatakan apa. Terlebih, Jaehwan terlihat pendiam sekali hari ini. Sungguh berbeda dengan Jaehwan yang biasa dia kenal.
"Woon?"
Kali ini Sewoon yang menoleh, "Iya, Kak?"
"Kamu serisih itu ya sama aku?"
Sewoon memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Jaehwan.
Jaehwan tertawa pelan melihat ekspresi polos Sewoon, "Sampe gak mau aku anterin pulang?"
Panik menguasai Sewoon, "Hah, enggak kok, Kak." Sewoon mengibaskan kedua tangannya sembari menggeleng dengan cepat, "Aku cuma gak mau Kak Jaehwan pulang telat gara-gara rumah kita beda jalur."
"Terus apa bedanya sama sekarang, Woon?"
Sewoon terdiam. Jaehwan memang benar, jika Jaehwan menemani Sewoon disini, Jaehwan tetap akan pulang telat. Bahkan mungkin, lebih telat daripada jika Jaehwan mengantar Sewoon pulang sekarang juga.
Jaehwan kembali tertawa pelan, "Bercanda, Woon. Aku gak keberatan kok nemenin kamu disini, daripada nanti kamu kenapa-napa kalo sendirian."
Sewoon masih terdiam. Kenapa kali ini gombalan Jaehwan terasa berbeda daripada biasanya?
"Ada acara apa sampe baru pulang, Woon?" Tanya Jaehwan.
"Gak ada acara apa-apa, kok, Kak. Cuma ada beberapa urusan yang harus cepet aku selesain."
"Banyak banget ya urusannya?"
Mereka terus mengobrol. Sesekali terdengar suara tawa Sewoon, maupun Jaehwan. Membicarakan hal tidak penting bersama Jaehwan terasa menyenangkan untuk Sewoon. Dia tidak pernah sekalipun mengira bahwa ternyata Jaehwan cukup mengasyikan. Dia pikir, Jaehwan sama saja dengan yang lain. Dia pikir, dia tidak akan pernah menyukai berdekatan dengan Jaehwan. Tidak pernah sekalipun terbayang olehnya, bahwa perkataan Dahyun tempo hari memang benar.
Jaehwan yang saat ini sedang mengobrol dengannya, terdengar sangat dewasa. Tidak kekanak-kanakan seperti biasanya. Ia juga seakan memiliki seribu cara untuk bisa membuat Sewoon tertawa, entah dengan ceritanya atau ekspresinya. Pengetahuan Jaehwan tentang musik pun berhasil membuat Sewoon kagum.
Tidak ada satupun dari mereka yang terlihat ingin mengakhiri pembicaraan tersebut. Jaehwan merasa senang, tawa Sewoon akhirnya dapat dia dengar dengan jelas. Dia yang sering iri terhadap adiknya, sekarang bisa merasakan mengobrol layaknya seorang teman bersama Sewoon. Rasanya, Jaehwan ingin memberhentikan waktu.
Obrolan mereka terhenti ketika handphone Jaehwan berbunyi, memberi tanda bahwa ada sebuah panggilan masuk.
Tepat setelah Jaehwan memencet tombol angkat, Sewoon dapat mendengar suara Dahyun sedang berteriak.
"Kak, kemana aja gak pulang-pulang? Katanya mau beliin gue bubble tea? Jam segini ya udah tutup lah penjualnya, Kak."
Jaehwan melirik Sewoon ㅡyang terlihat penasaranㅡ sekilas, "Besok aja ya, Dek? Lagi ada tugas penting nih, tugas negara."
Kemudian Jaehwan menutup sambungan teleponnya. Tidak peduli jika adiknya akan mengacak-acak kamarnya sebagai bentuk kemarahan. Jaehwan benar-benar sedang tidak ingin diganggu saat ini.
"Dahyun, Kak?" Tanya Sewoon setelah Jaehwan memasukkan handphonenya ke dalam saku celana.
Jaehwan mengangguk, "Gak penting, kok. Biarin aja."
Sewoon tertawa mendengar jawaban Jaehwan, "Kalo dia tau Kak Jaehwan disini sama aku, pasti besok aku kena marah."
Jaehwan hanya tersenyum tipis. Dia begitu menikmati moment saat Sewoon sedang tertawa, sembari berharap bisa mendapat kesempatan seperti ini lagi.
"By the way, udah jam sebelas lebih, Woon."
Tawa Sewoon terganti dengan keterkejutan, "Kok gak kerasa?"
Kali ini, Jaehwan yang tertawa, "Aku anterin pulang aja, ya? Atau mau nunggu sampe besok pagi? Aku mah oke-oke aja."
Sewoon berpikir sejenak, "Yaudah deh, Kak, kita pulang aja. Maaf ngerepotin."
Jaehwan beranjak, "Kalo kamu setuju dari tadi kan pasti sekarang kamu udah istirahat, Woon."
Meskipun sebenarnya, Jaehwan diam-diam bersyukur karena Sewoon menolak tawaran pertamanya.
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Semenjak hari itu, pandangan Sewoon terhadap Jaehwan telah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi Jaehwan yang sok asik dimatanya. Tidak ada lagi Jaehwan yang tidak jelas. Tidak ada lagi rasa malas saat melihat Jaehwan.
Sewoon tidak lagi seacuh dulu pada Jaehwan. Dia tidak lagi menghindari Jaehwan. Dia bahkan selalu tertawa pada candaan Jaehwan, termasuk ketika Jaehwan menggoda Sewoon.
Tentu saja, Dahyun menyadari perubahan temannya. Apalagi Sewoon selalu menghindar ketika Dahyun bertanya kenapa kini Sewoon terlihat nyaman dengan kehadiran Jaehwan.
"Woon, kamu ngaku deh."
Sewoon menatap Dahyun, "Ngaku apa? Aku gak ngambil apa-apa, kok."
Dahyun mendengus, "Kamu ada apa, sih, sama Kak Jaehwan?"
"Ada apa gimana?"
Dahyun menatap Sewoon penuh selidik, "Jangan-jangan kamu dipelet ya sama Kak Jaehwan?"
Seketika Sewoon tertawa kencang. Dipelet kata Dahyun?
"Aku bukan ikan, Hyun."
"Ayo dong cerita ke aku. Kok kalian tiba-tiba jadi deket, kenapa?"
Sewoon terdiam. Dia bimbang apakah harus bercerita pada Dahyun atau tidak.
Namun, muka memelas Dahyun akhirnya membuatnya luluh. Sewoon menghela nafas kemudian menceritakan kejadian pada beberapa hari yang lalu secara rinci pada Dahyun. Sedangkan Dahyun hanya terdiam ㅡmendengarkan dengan seksamaㅡ dan tersenyum pada beberapa bagian.
"Jadi kalian udah mulai pendekatan, nih?"
Telinga Sewoon memerah, "Enggak, kok. Biasa aja."
Dahyun tersenyum menggoda, "Cie Sewoon cie."
"Apa sih, Hyuㅡ"
"Yah, baru juga diomongin udah dateng orangnya."
Sewoon spontan menoleh ke arah pandangan Dahyun. Senyumnya terukir ketika melihat Jaehwan sedang berjalan mendekat menuju mejanya dan Dahyun sembari membawa sebuah minuman.
"Ngapain Kak kesini?" Tanya Dahyun ketika Jaehwan berdiri di sebelah Sewoon.
"Dih, gak nyariin lo juga." Jaehwan beralih pada Sewoon kemudian tersenyum, "Besok jangan lupa ya, Woon. Jam empat sore."
Jaehwan mengacak surai Sewoon gemas setelah melihat Sewoon mengangguk dengan cepat. Ketika Jaehwan telah berjalan menjauh, Sewoon tetap memasang senyum lebarnya, tidak menyadari sama sekali bahwa Dahyun menatapnya penuh curiga.
Dengan ragu, Dahyun berkata, "Woon, jangan bilangㅡ kamu naksir Kak Jaehwan, ya?"
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Hari ini Sewoon memaksa Dahyun untuk ikut dengannya menonton pertunjukan Jaehwan. Dahyun menolak, dia benar-benar malas menonton kakaknya yang sedang busking. Bukan apa-apa, namun bagaimana Dahyun tidak malas ㅡdan bosanㅡ jika nyaris tiap malam Jaehwan selalu bernyanyi? Belum lagi, lagu-lagu yang dinyanyikan Jaehwan selalu lagu-lagu dengan bertema sweet romance.
Namun penolakan Dahyun seketika berhenti ketika Sewoon berkata, "Nanti aku beliin pizza satu box sama es krim, deh?"
Dan akhirnya, disinilah Dahyun bersama Sewoon. Menonton pertunjukan Jaehwan bersama teman-temannya dari jauh. Terlalu banyak yang menonton, sedangkan Sewoon maupun Dahyun malas berdesak-desakan. Yang terpenting adalah menonton dan masih dapat mendengar suara Jaehwan, bukan?
"Kalo kalian jadian, jangan lupa sama aku."
Tanpa menoleh, Sewoon menjawab, "Aku sama Kak Jaehwan mah cuma temen kok, Hyun."
"Iya sekarang temen, bulan depan bukan temen lagi."
Sewoon hanya bisa tersenyum tipis. Tidak pernah terpikir olehnya apakah hubungannya dengan Jaehwan akan berjalan sejauh itu. Yang dia tahu hanya dia menyukai perhatian Jaehwan, dia senang ketika dia dapat berbicara tentang hal random bersama Jaehwan.
To Be Continued
Pojok author : FFn lagi down apa gimana ya? Dari kemaren aku nyoba akses lewat laptop kok gabisa?:"D aku jadi gabisa bales review jugaㅠㅠ tapi makasih banyak buat yang udah kasih review, aku sayaaang banget sama kalian, ehehe.
Alurnya cepet? Iya, kan udah aku kasih tau di warning:) kenapa alurnya cepet? Soalnya, titik fokus cerita ini bukan tentang gimana Sewoon sama Jaehwan bisa pacaran(?), tapi tentangㅡ eh kok jadi spoiler:(
Pokoknya, makasih buat yang udah mengapresiasi cerita ini, huhuhu. Harapan aku cuma silent reader berkurang, udah;")
OH IYA, akhir akhir ini banyak banget howons (cheap) moment, aku pengen nangisㅠㅠ
[ps; Dahyun itu cewek]
Last,
Review jusewoon!
