Chapter 3

"Kak Jaehwan gak pernah pacaran."

Sewoon menoleh dengan cepat. Dia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Dahyun.

Dari sekian banyak gadis yang ada di hidup Jaehwan, Jaehwan tidak pernah berkencan dengan salah satunya? Mustahil.

"Dia gampang suka sama orang, tapi gampang bosen juga. Biasanya, kalo dia nemu yang cantik hari ini terus dia suka, besoknya dia lupa." Dahyun berhenti sejenak, "Iya, lupa kalo dia pernah tertarik."

"Kok bisa gitu?"

Dahyun tertawa pelan, "Yang dilihat Kak Jaehwan cantiknya doang, sih. Orang cantik kan ada banyak, Woon. Jadi sekalinya ada yang lebih cantik, pasti pindah."

Sewoon tidak berkomentar. Seakan ingin mendengarkan cerita Dahyun tentang Jaehwan lebih banyak.

"Cuma sama kamu ini dia bertahan lebih dari sehari, seminggu, bahkan sebulan. Mungkin karena kamu bukan fans dia? Mungkin karena kali ini dia yang harus mengambil langkah pertama?" Dahyun menatap Sewoon lekat, "Yang jelas, aku tahu kalo Kak Jaehwan itu serius."

.

.

.

.

Kim Jaehwan × Jung Sewoon

Phytagor Us

Support Cast : Kim Dahyun

Casts are owned by theirselves and this story is owned by feazee.

[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]

.

.

.

.

Dahyun terkejut ketika melihat Sewoon sedang duduk di sofa ruang tamunya. Seingatnya, dia tidak memiliki janji apapun dengan Sewoon.

"Dahyun!" Sapa Sewoon sembari melambaikan tangannya pada Dahyun.

Dengan raut penuh kebingungan, Dahyun berjalan kearah Sewoon.

"Ada urusan apa, Woon?"

Sewoon tersenyum, "Gak ada apa-apa, kok."

Dahi Dahyun semakin mengerut, "Kita ada janji?"

"Enggak, kok. Aku kesini mauㅡ"

"Step back, Dek. Gue yang punya janji sama Sewoon."

Dahyun membalikkan badannya bersamaan dengan Sewoon yang beralih menatap ke arah sumber suara. Mereka berdua menunjukkan ekspresi yang berbeda ketika melihat Jaehwan sedang menuruni tangga; Sewoon yang tersenyum lebar dan Dahyun yang terkejut.

Penampilan Jaehwan kali ini terlihat anak muda sekali. Walaupun hanya sesimple celana jeans, kaos putih polos, dan kemeja berwarna biru yang tidak dikancingkan. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada biasanya; celana pendek dan kaos.

"Kak, lo butuh berapa banyak referensi buat bisa dandan kayak gini?"

Jaehwan tersenyum meremehkan, "Lo gak tau kalo sebenernya gue ini fashionista, Dek?"

Dahyun menunjukkan ekspresi jijiknya pada Jaehwan. Dia hampir saja bertanya pada Sewoon apa Sewoon yakin akan pergi bersama Jaehwan sebelum dia melihat wajah penuh kekaguman Sewoon.

Sungguh, ini semua diluar ekspektasi Dahyun.

"Mau berangkat sekarang, Woon?" Tanya Jaehwan.

Sewoon mengangguk, "Dahyun mau ikut?"

Baru saja Dahyun membuka mulut ketika Jaehwan lebih dahulu berbicara, "Gak usah. Ganggu doang bisanya Dahyun mah."

Kemudian Jaehwan menarik tangan Sewoon untuk keluar dari rumah.

"Woon, jangan mau deket-deket Kak Jaehwan. Dia belum mandi dari minggu kemarin."

Kedua tangan Jaehwan bergerak cepat untuk menutup kedua telinga Sewoon ketika dia mendengar Dahyun berteriak.

Jaehwan mendekatkan wajahnya pada Sewoon untuk berbisik, "Gak udah didengerin. Dahyun emang kadang suka berhalusinasi."

Yang hanya dibalas oleh tawa Sewoon.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Coffee date, movie date, amusement-park date, karaoke date.

Jaehwan ingin mencoba semuanya. Namun pada nyatanya, dia hanya mengikuti kemanapun Sewoon pergi.

Dia menurut saja ketika Sewoon menariknya memasuki toko buku. Jaehwan tidak menyukai buku, tapi dia tidak memprotes. Sewoon terlihat sedang mencari sesuatu yang ㅡsangatㅡ ia inginkan di antara tumpukan buku, sehingga Jaehwan tidak sampai hati untuk mengajak Sewoon pergi.

Selama Sewoon mencari buku, Jaehwan hanya duduk. Tidak menemani Sewoon mencari buku, atas permintaan Sewoon sendiri.

Untuk mengusir bosan, Jaehwan membuka handphonenya. Sebuah notifikasi di notification bar menarik perhatian Jaehwan.

Temannya, yang saat ini sedang berada di luar negeri, akhirnya mengiriminya pesan setelah sekian lama.

Danik
hoi

Jaehwan
wih wkwk
kapan balik nih?

Danik
minggu depan kayaknya. kangen?

Jaehwan
sumpah najis

Danik
wkwkwk
titip salam buat dahyun dong

Jaehwan
dih mending lo cari gebetan yang bener
biar gak jomblo lagi
soalnya bentar lagi gue taken

Danik
emang ada yang mau sama lo?

Jaehwan
banyak
pokoknya awas aja kalo ntar lo naksir doi

Danik
takut kalah saing nih?

"Sial," umpat Jaehwan sembari tertawa.

"Apanya, Kak?"

Jaehwan dengan spontan mendongak. Hanya untuk melihat Sewoon yang sedang menatapnya balik dengan raut muka penasaran.

"Bukan apa-apa, kok." Jaehwan memasukkan handphonenya ke dalam saku, "Udah ketemu bukunya?"

Sewoon mengangguk. Mengangkat kantong plastik yang berisi tiga buah buku untuk menunjukkannya pada Jaehwan.

"Kita mau kemana lagi, Kak?" Tanya Sewoon ketika mereka mulai berjalan menjauhi toko.

"Makan dulu, gimana?"

Sewoon berpikir sejenak, "Boleh deh, Kak."

Jaehwan tidak membiarkan keheningan menguasai mereka barang sedetikpun selama perjalanan menuju tempat makan. Selain tidak ingin menciptakan suasana canggung, Jaehwan begitu menyukai suara Sewoon. Seakan dia ingin terus mendengar suara Sewoon tanpa henti.

Bahkan sampai mereka duduk di sebuah café, mereka tidak berhenti untuk mengobrol. Hanya ketika seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan, mereka berhenti sejenak untuk membaca menu dan memesan makanan. Jaehwan sempat bertanya kenapa Sewoon hanya memesan sepotong strawberry cheese cake dan smoothie tanpa gula, yang mengharuskan Sewoon untuk menjelaskan bahwa dia sedang ingin berdiet.

"Ngomong-ngomong, tadi siapa, Kak?" Tanya Sewoon tiba-tiba.

"Tadi yang mana?"

"Yang chatting sama Kak Jaehwan, lah. Yang mana lagi?" Sewoon mendengus pelan.

Jaehwan tertawa pelan, "Emang kenapa, Woon? Takut aku punya orang lain?"

"Ya enggak, lah. Kan aku cuma nanya."

Sewoon yang menjawab dengan terburu-buru justru mengundang tawa Jaehwan, "Temen. Mungkin minggu depan kalian bisa ketemu."

Alis Sewoon terangkat, "Kenapa minggu depan?"

"Dia sekarang ada di LA."

Sewoon baru saja akan kembali bertanya, namun Jaehwan mendahuluinya, "Udah jangan tanya-tanyain dia lagi. Nanti aku cemburu."

Dengan kalimat itu, wajah Sewoon sukses memerah dengan sempurna.

.

.

.

Selesai makan, Jaehwan dan Sewoon memutuskan untuk mampir di sebuah taman sebelum pulang. Malam ini tidak terlalu dingin, entah memang udara yang sedang hangat atau mereka yang merasa hangat.

Ketika mereka melewati sebuah jalan dengan bunga yang tumbuh tinggi di sisi jalan, Jaehwan berkata, "Woon, jangan deket-deket sama bunganya."

"Hah, emang kenapa, Kak?"

Jaehwan tersenyum penuh makna, "Nanti aku gak bisa bedain mana kamu mana bunganya."

"Ini aku harus ketawa gak, Kak?"

Kemudian Sewoon tertawa lepas ketika melihat wajah kecewa Jaehwan. Kebiasaan Jaehwan untuk menggodanya tidak berubah.

"Woon,"

Tawa Sewoon mereda ketika mendengar nada suara Jaehwan yang berubah serius, "Iya, Kak?"

"Aku gak nyangka kita bisa sedeket ini."

Sewoon terdiam. Ia memperhatikan Jaehwan yang sedang menerawang ke depan, dengan cahaya lampu yang menerangi sebagian wajah Jaehwan.

Ugh, sejak kapan Jaehwan setampan ini?

"Kita jalan berdua kayak gini aja, sekalipun aku gak pernah berani mimpiin. Aku pikir, selamanya kita bakal kayak one-sided-love yang gak berujung. Atau mungkin, selesai gara-gara kamu udah cukup jengah buat sekedar lihat mukaku."

Jaehwan menghela nafas, kemudian menatap Sewoon yang masih memperhatikannya, "Aku gak nyesel hari itu aku pulang jam tujuh malem, harus capek ngurus ini-itu kalo timbal baliknya aku bisa jadi sedeket ini sama kamu."

Sewoon menahan nafas. Jantung berdetak cepat seiring dengan wajahnya yang memerah.

"K-Kakㅡ"

Jaehwan melirik jam tangannya, "Udah jam delapan malem. Ayo pulang."

Nada bicara Jaehwan terdengar tidak ingin dibantah. Sehingga, Sewoon hanya menurut ketika tangan Jaehwan menggenggam tangannya, membimbingnya menuju tempat dimana Jaehwan memarkir motor.

Sedangkan detak jantung Sewoon semakin berdetak kencang. Apa secepat ini dia jatuh cinta pada Jaehwan?

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Sewoon terus-terusan melamun sejak pagi. Ingatannya tentang kencanㅡbersamaㅡJaehwan kemarin tidak bisa hilang sedikitpun dari pikirannya.

Terutama bagian dimanaㅡ

"Woon,"

Sewoon berbalik, "Iya, Kak?"

Jaehwan tidak menjawab. Ia melepas helmnya, turun dari motor kemudian berjalan ke arah Sewoon.

Setelah berdiri tepat di depan Sewoon, Jaehwan berkata, "Cepetan tidur. Kalo masih laper, makan lagi, gak usah diet-dietan. Jangan main hp, langsung tidur. Aku tau kamu capek abis jalan-jalan seharian sama aku, jadi aku gak mau kamu sakit. Aku bakal marah kalo sampe aku tau kamu sakit. Bukan cuma buat hari ini atau besok, ini berlaku selamanya."

"I-Iya, Kak" Jantung Sewoon kembali berdetak cepat mendengar perhatian Jaehwan terhadapnya.

Dengan tiba-tiba, Jaehwan mencium dahi Sewoon kemudian berkata, "You have to know that today is the best day I've ever through, and I'll never forget."

Jaehwan tersenyum. Ia mengacak rambut Sewoonyang masih membatu di tempatnyasembari berkata, "Yaudah aku pulang dulu."

ㅡSewoon membenturkan dahinya pada meja kemudian mengacak rambutnya kasar, "Akh, aku mau nangis aja."

Dia tidak habis pikir dengan perasaannya sendiri. Bagaimana bisa seseorang yang baru dia kenal kurang dari tiga bulan, bisa membuatnya menjadi sekacau ini?

Apa dia harus menyalahkan Dahyun saja yang telah membuatnya bertemu dengan Jaehwan?

Memang tidak ada yang salah dengan jatuh cinta terhadap Jaehwan, hanya saja... Sewoon merasa aneh.

Sudah satu tahun, semenjak dia merasakan gejolak yang sama. Sudah satu tahun, semenjak terakhir kali seseorang menembus hatinya.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

"And I've been thinking about it lately
Does it ever drive you crazy,
Just how fast the night changes?
Everything that you've ever dreamed of,
Disappearing when you wake up
But there's nothing to be afraid of
Even when the night changes,
It will never change me and you~
"

Suara petikan gitar Jaehwan yang berangsur berhenti disambut oleh tepuk tangan Sewoon. Jaehwan tersenyum lebar ketika Sewoon terlihat puas dengan nyanyiannya.

"Woah, Kak, as expected!"

Jaehwan tertawa, "Yaudah sekarang gantian kamu yang nyanyi."

Kemudian Jaehwan memberikan gitarnya pada Sewoon, "Oke, aku mikir dulu ya mau nyanyi apa."

Jaehwan mengangguk. Tentu saja dia mengijinkan Sewoon untuk berpikir terlebih dahulu.

Tidak beberapa lama kemudian, suara petikan gitar mulai terdengar. Sewoon menahan senyuman ragu-ragunya, wajahnya terlihat memerah entah karena apa. Matanya sama sekali tidak berani menatap mata Jaehwan.

"When you say I'm just a friend to you
'Cause friends don't do the things we do,
Everybody knows you love me too
Tryna be careful with the words I use,
I say it 'cause I'm dying too
I'm so much more than just a friend to you~
"

Sewoon berhenti bernyanyi ketika dia tidak bisa menahan rasa malunya. Dia tidak memiliki maksud apapun saat menyanyikan lagu ini, hanya saja, Jaehwan yang menatapnya lekat dengan senyuman, membuat jantungnya berdetak cepat.

"Kok kamu nyanyi ini, Woon?" Tanya Jaehwan masih dengan senyumannya, "Kamu ngode?"

"Hah, enggak kok, Kak!"

Jaehwan mengangkat sebelah alisnya; bermaksud untuk menggoda Sewoon.

"Ih, serius. Aku cumaㅡ"

"Yeu, pantesan dicari-cari gak ada. Ternyata lagi pacaran disini."

Sewoon dan Jaehwan menoleh dengan cepat. Di belakang mereka, sedang berdiri seorang Kim Dahyun yang sedang melipat kedua tangannya di depan dada.

"N-nyari aku, Hyun?"

Dahyun memutar kedua matanya malas, "Gak. Nyariin tukang kebun."

"Yee, yaudah kalo nyari tukang kebun ngapain lo kesini, Dek. Ini kan kantin."

Dan di saat itulah Dahyun ingin sekali memukul kepala Jaehwan.

To Be Continued

Pojok author ; huhu, itu chatnya harusnya chat punya jaehwan ada di sebelah kanan, tapi gak bisa. semoga kalian gak bingung ya bacanyaㅠㅠ

aku gak akan capek bilang makasih buat kalian yang udah ngereview cerita ini, aku sayang kalian huhu. [bohong kalo aku bilang aku gak kesel sama silent reader, tapi yaudah ehehe.]

Lastly,

Review jusewoon!