Chapter 4
Sewoon sedang berada di kamar apartementnya. Memeluk boneka besar berbentuk Ponyo sembari menggenggam handphonenya erat-erat. Sewoon terlojak setiap kali handphonenya berbunyi, jantungnya berdetak cepat seraya berharap Jaehwan-lah yang membalas pesannya.
Kak Jaen
eh woon, pernah denger despacito gak?
Sewoon
pernah tapi nggak full kak
kenapa?
Kak Jaen
kamu tau artinya?
Sewoon
artinya despacito?
tauuu
slowly kan?
Kak Jaen
masa sih?
setauku bukan itu
Sewoon
aku juga gak tau pastinya sih kak
aku baca itu dari ig
emang kenapaaa?
Kak Jaen
setauku artinya despacito bukan perlahan
Sewoon
heu-
terus apa kak?
Kak Jaen
aku cinta kamu
Sewoon
hah?
Kak Jaen
iya aku cinta kamu
Sewoon
bahasa spanyolnya aku cinta kamu bukannya te amo ya kak?
Kak Jaen
pokoknya aku cinta kamu
Sewoon
yaudah:(
terserah kakak deh:(
aku nurut aja:(
Kak Jaen
eh ini serius woon
aku cinta kamu
.
.
.
.
Kim Jaehwan × Jung Sewoon
Phytagor Us
Support Cast : Kim Dahyun
Casts are owned by theirselves and this story is owned by feazee.
[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]
.
.
.
.
Dahyun sedang memimpin permainannya dan Jaehwan di playstation. Satu menit lagi waktu mereka akan habis, kemungkinan besar Dahyun akan memenangkan permainan tersebut.
Tidak lama kemudian, Jaehwan membanting joystick playstationnya. Berbanding terbalik dengan Dahyun yang tengah bersorak senang.
"Gue minta lo traktir gue seminggu ajadeh, Kak."
"Kok lo malah meras gue?"
"Gak mau tau. Janji adalah janji."
"Tega lo meras kakak lo sendiri?"
"Tega banget."
Jaehwan melempar bantal ke arah Dahyun.
"Daripada gue aduin ke Sewoon nih? Gue bilang 'Woon, jangan mau sama Kak Jaehwan. Dia suka ngingkarin janji' gitu?"
"Lah kenapa jadi merembet ke Sewoon."
Dahyun tertawa, "Eh, Kakㅡ" Jaehwan mengangkat sebelah alisnya, "Lo serius gak sih sama Sewoon?"
"Emang kenapa?" Tanya Jaehwan balik ㅡuntuk menutupi salah tingkahnya.
"Ya gak papa, pengen konfirmasi aja."
Tiba-tiba Jaehwan tersenyum, "Lo gak bakal ngerti seserius apa gue ke dia."
Kali ini, Dahyun yang mengangkat sebelah alis, "Nah kalo Sewoon-nya nganggep lo temen doang gimana?"
"Ya gue bikin dia nganggep gue lebih, lah. Apa susahnya, kan gue ganteng. Alim lagi."
"Najis."
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Sewoon tertawa, dikarenakan sebuah video dengan judul My Boyfriend does My Make Up milik seorang vlogger. Jaehwan yang penasaran ㅡkarena Sewoon tertawa dengan tiba-tibaㅡ, mendekat pada Sewoon untuk melihat apa yang sedang ditonton oleh Sewoon.
"Itu ngapain, sih?" Kening Jaehwan mengerut ketika melihat seorang perempuan dengan make up acak-acakan dan seorang laki-laki sedang tertawa.
Di tengah-tengah tawanya, Sewoon menjelaskan dengan rinci tentang vlog tersebut. Sesekali, kening Jaehwan kembali mengerut karena masih tidak mengerti apa fungsi dari sepasang kekasih melakukan hal tersebut.
"Buat lucu-lucuan aja, sih, Kak." Kata Sewoon.
"Lucuan juga aku, Woon."
Sewoon kembali tertawa, "Enggak, ah."
"Kamu mau bikin gituan juga gak, Woon? Nanti aku yang ngemake-up-in, kamu yang dimake-up-in. Kan pas banget, tuh, my boyfriend does my make up."
"Gak mau, ah. Kak Jaehwan, kan, mandi aja gak pernah apalagi pegang alat make up."
"Yaudah kalo kita bikin video yang lain, mau gak?"
Sewoon baru saja membuka mulutnya ketika mendengar Jaehwan mengaduh.
"Mesum lo, Kak."
Jaehwan mengelus kepalanya yang dipukul menggunakan buku oleh adiknyaㅡyang tiba-tiba datang, "Siapa yang mesum? Lo kali."
Dahyun duduk di depan Sewoon kemudian membuka bukunya, "Kalian pacaran mulu gak capek apa? Aku aja yang lihat capek."
"Makanya jangan jomblo." Balas Jaehwan.
"Dih, kayak sendirinya udah official aja." Gerutu Dahyun pelan, "Lo yang sebenernya gak tau ada banyak cowok nembak gue, Kak."
"Iya, nembak biar lo mati, kan."
Sewoon tertawa. Dahyun dan Jaehwan memang tidak pernah berhenti bertengkar, namun di sisi lain, Sewoon dapat melihat sedekat apa hubungan kakak–adik mereka.
"Gak pacaran, Hyun." Kata Sewoonㅡsetengah bercanda.
"Sadis, licin banget Sewoon nolaknya." Dahyun menggelengkan kepala sembari mendecakan lidahnya, "Emang sih, Woon, jangan mau sama cowok gak pernah mandi kayak Kak Jaehwan." Dahyun menjulurkan lidahnya pada Jaehwan.
"Heh, buntelan lemak, lo tau gak kalo nutup jodoh orang, ntar jodoh lo ilang diambil orang?"
Dahyun mendelik pada Jaehwan, "Buntelan lemak apa, najis. Ngaca dong lo buntelan daki."
Jaehwan kembali membalas ejekan Dahyun.
Dahyun pun tidak ingin kalah.
Sedangkan Sewoon hanya tertawa. Dia ingin menghentikan pertengkaran Jaehwan dan Dahyun, namun sebelumnya ia harus menghentikan tawanya terlebih dahulu, bukan?
"Udah dong saling ejeknya?" Kata Sewoon, masih di sela-sela tawanya.
"Kak Jaehwan nih, Woon, yang mulai. Aku mah kalem."
"Kalem banget sampe sekalinya ngomong, kuping gue langsung panas." Guman Jaehwan.
"Ih, Kak Jaehwan udahan dong, ngejek adeknya?"
"Mampus."
Jaehwan menunjukkan wajah sedihnya pada Sewoon, "Kok kamu lebih belain dia, sih, daripada calon imammu ini?"
"Pait, Kak. Pait." Timpal Dahyun.
Sewoon tertawa gemas, sepertinya Dahyun dan Jaehwan memang tidak bisa dipisahkan.
Jaehwan melirik Dahyun dengan malas. Kalau bukan karena Sewoon, Jaehwan tidak akan segan untuk kembali mengejek adiknya.
"Kok lo tumben baca buku?"
Dahyun melirik buku yang telah terbuka di depannya, "Biar keliatan rajin aja."
"Padahal gak lo baca, kan?"
Dahyun tersenyum lebar, "Lo emang yang paling mengerti gue, Kak."
"Dosa apa gue punya adek kayak Kim Dahyun."
"Banyak, Kak. Tapi tenang aja, dosa gue juga banyak soalnya gue dikasih kakak kayak Kim Jaehwan."
"Dek, padahal gue udah usaha buat gak cari ribut." Jaehwan tersenyum dengan terpaksa.
Dahyun membalas senyuman Jaehwan, "Lo hidup aja udah bikin ribut, Kak."
Tiba-tiba, Sewoon berdiri ㅡsehingga ia mendapat atensi Sewoon dan Dahyun sepenuhnya, "Kalian lanjutin dulu deh ya berantemnya. Aku mau beli minum dulu."
"Tuhkan, gara-gara lo nih, Dek."
Sewoon menahan tawanya mendengar suara samar Jaehwan dan Dahyun yang saling menyalahkan. Melihat Jaehwan dan Dahyun membuatnya ingin memiliki seorang adik perempuan.
Tidak lama kemudian, Sewoon kembali dengan tiga gelas jus di tangannya. Wajahnya terlihat kebingungan ketika tidak menemukan Dahyun di tempatnya.
"Dahyun kemana, Kak?" Tanyanya pada Jaehwan setelah ia mendudukan diri.
"Gak kuat lihat kegantenganku katanya."
Sewoon menahan tawa, "Yaudah iya, terserah Kak Jaehwan aja."
Perhatian Jaehwan teralihkan ketika melihat Sewoon tidak hanya membawa satu gelas plastik, "Wih, buat aku, Woon?"
Sewoon mengangguk, "Buat Dahyun juga."
Jaehwan mengangguk mengerti kemudian meminum jus yang telah diberikan Sewoon untuknya.
Sewoon hanya diam menatap Jaehwan yang sedang fokus meminum jusnya. Ada sesuatu yang entah kenapa ingin ia tanyakan pada Jaehwan.
"Kak,"
Jaehwan menanggapinya dengan gumanan.
"Kalo orang yang disuka sama Kak Jaehwan suka sama orang lain, gimana?"
Jaehwan menoleh, "Kamu suka sama orang lain, Woon?"
"H-haㅡ Eh?"
"Hm, gimana ya?" Jaehwan menjauhkan wajahnya dari sedotanㅡdan juga gelas jusㅡ, ia berpura-pura sedang berpikir, "Tergantung siapa yang kamu suka."
Sewoon kembali terdiam.
"Kamu beneran suka sama orangㅡyang bukan aku, Woon?"
Sewoon menggeleng dengan cepat. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia menanyakan hal ini pada Jaehwan.
Kemudian, otaknya berpikir dengan cepat untuk mencari bahan obrolan yang lain.
"Eh, Kak, kapan-kapan ajak aku busking, dong?"
Untuk sepersekian detik, wajah Jaehwan terlihat bingung karena Sewoon mengalihkan pembicaraan mereka dengan tiba-tiba.
"Kamu mau kapan? Hari ini? Besok? Oke aja aku mah."
Sewoon berpikir sejenak, "Bulan depan?"
"Masih lamaㅡ"
"Kan siapa tau Kak Jaehwan sibuk, makanya aku ngomong sekarang."
"Aku, sih, gak akan pernah terlalu sibuk kalo buat kamu."
Wajah Sewoon memerah. Ah, sial. Kenapa dia mudah sekali merona karena Jaehwan?
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
"Ini gak papa aku ikut, Kak?" Tanya Sewoon dengan ragu.
"Justru aku yang harusnya nanya gitu. Kamu gak papa aku ajak gini?"
"Gak papa, asal ada Kak Jaehwan."
Jaehwan tersenyum, "Yang nanti kita temuin itu temenku. Baru sekitar setahunㅡatau mungkin lebihㅡ kenal, tapi kami deket udah kayak saudara."
Sewoon mengangguk mendengarkan cerita Jaehwan tentang temannya. Dari cerita Jaehwan, Sewoon dapat menyimpulkan bahwa teman Jaehwan adalah seseorang yang baik dan menyenangkan. Meskipun Jaehwan tidak menyebutkan nama temannya tersebut.
Saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju bandara untuk menjemput teman Jaehwan. Seseorang yang sekitar satu minggu lalu dihubungi via chat oleh Jaehwan.
Kata Jaehwan, kedua orang tua temannya masih berada di Amerika sehingga Jaehwan menawarkan diri untuk menjemput temannya tersebut. Jaehwan mengajak Sewoon untuk menemaninya, dan Sewoon tidak menolak ajakannya.
Karena menerima tawaran Jaehwan itulah, Sewoon tahu bahwa sebenarnya Jaehwan telah memiliki mobil pribadiㅡnamun Jaehwan lebih menyukai menggunakan motor untuk berpergian. Ini kali pertama Sewoon melihat sekaligus menaiki mobil milik Jaehwan.
"Kita gak lama, kok. Mungkin sepuluh menit lagi pesawatnya landing." Kata Jaehwan setelah mereka memasuki bandara.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Jaehwan dan Sewoon dapat mendengar pemberitahuan bahwa pesawat yang ditumpangi oleh teman Jaehwan telah sampai.
Jaehwan mulai berjinjit untuk mencuri lihat ke dalam pintu keluar, berharap temannya segera keluar. Sedangkan Sewoon mengeluarkan handphonenya, ia mengobrol dengan Dahyun melalui chat. Bercerita tentang ia yang sedang menemani Jaehwan untuk menjemput seseorang.
Sewoon mendongak ketika mendengar Jaehwan bersorak. Tidak hanya suara sorakan Jaehwan yang ia dengar, ia juga dapat mendengar suara laki-laki lain tengah bersorak bersama Jaehwan.
Mungkin, teman Jaehwan telah datang?
Sewoon tidak dapat melihat dengan jelas wajah teman Jaehwan karena terhalang oleh Jaehwan.
Namun, jantungnya kontan berdetak dengan sangat cepat ketika melihat Jaehwan dan temannya berjalan kearahnya. Matanya melebar, seiring dengan nafasnya yang tercekat.
Tidak. Sewoon pasti sedang berhalusinasi.
"Woon, kenalin. Ini temenku."
Suara Jaehwan memasuki pendengaran Sewoon, namun tidak cukup untuk membuat Sewoon mampu menggerakan tubuhnya yang kini terasa kaku.
Mata Sewoon tidak bisa lepas dari seorang laki-laki yang Jaehwan kenalkan sebagai temannya.
Siapapun, tolong katakan mata Sewoon sedang bermasalah.
Teman Jaehwan tersenyum melihat Sewoon yang hanya terdiam.
Senyum yang masih Sewoon ingat dengan jelas.
"Kang Daniel." Katanya sembari menjulurkan tangan kanannya ㅡuntuk berjabat tangan.
Otak Sewoon membutuhkan waktu untuk memproses.
Apakah matanya sedang bermasalah?
Apakah telinganya juga sedang bermasalah?
Tangan Sewoon yang bergetar menyambut tangan Daniel dengan perlahan, "J-Jung Sewoon."
Daniel kembali tersenyum, ia menarik tangannya dari jabatan tangan Sewoon kemudian merangkul Jaehwan untuk menariknya pergi.
Samar-samar, Sewoon dapat mendengar Daniel berkata, "Jadi itu yang lo ceritain?"
Daniel dan Jaehwan semakin menjauh.
Meninggalkan Sewoon sendiri dalam keterdiamannya.
Membiarkan satu-persatu memori yang telah dengan susah payah Sewoon lupakan, kembali menghantamnya.
Membiarkan Sewoon mengingat semua hal baik namun ia benci di masa lalu.
Membiarkan semua tenaga Sewoon terlepas dari tubuhnya. Sewoon ingin sekali menjatuhkan diri ke atas lantai sekarang.
Kang Daniel.
Tidak salah lagi. Laki-laki itu memang Kang Daniel.
Kang Danielnya.
Cinta pertamanya. Kencan pertamanya. Laki-laki pertamanya. Kebahagiaan pertamanya. Air mata pertamanya. Bunga pertamanya. Patah hati pertamanya. Ciuman pertamanya.
To Be Continued
last word aku, aku sayang daniel. udah;"D
Review jusewoon!
