Missing – drabble collection about Kagari Shusei
Psycho-Pass belongs to Production I.G.
[I gain no material profit, though the story is originally mine. Dibuat hanya untuk memuaskan hasrat pribadi. Selamat membaca.]
.
.
.
(be) remember(ed)
.
"Hei, Kunizuka."
"Hn?"
"Penegak Sasayama itu … orangnya seperti apa?"
Tari jari-jari ramping Yayoi di atas papan tik seketika terhenti. Ia tidak perlu melirik meja rekan kerja lainnya—Kougami sedang entah ke mana dan Masaoka sedang menjalankan panggilan tugas berdua dengan Tsunemori. Ginoza sendiri baru saja pergi karena dipanggil Kepala Kasei.
"Aku ingin tahu," ucap sang pemuda berambut jingga lagi sebelum sang gadis berkuncir satu angkat suara, "karena Ko-chan sepertinya … memiliki hubungan yang cukup dekat dengannya, eh?"
Yayoi terdiam sejenak. "Kau cemburu?"
"Haaah?" Lipatan tangan Shusei terurai seiring pemuda itu menegapkan punggung. Keningnya berkerut mendengar balasan sang rekan. "Apa-apaan pertanyaanmu itu?"
Perhatian Yayoi kembali pada layar, meski belum lanjut mengetik. "Kau terdengar cemburu karena Kougami terlihat begitu perhatian dengan kasus yang mengorbankan Sasayama, bahkan sampai ingin membalas dendamnya."
Shusei langsung mengempaskan kembali punggungnya ke sandaran kursi. Mendengus. "Selera humormu benar-benar buruk."
"Lalu?"
Derap papan tik yang dimainkan jari Yayoi sesaat menggema mengisi hening.
"Aku…" Pandang sang pemuda menerawang. "…ingin tahu apakah seseorang akan mengenangku juga seperti itu nanti jika aku tewas dalam tugas."
Yayoi kembali menjatuhkan fokus sepenuhnya pada layar komputer. Meski begitu, ia tetap jelas mampu menangkap pertanyaan sang rekan yang duduk tepat di sampingnya,
"Bagaimanapun, kita hanya anjing pemburu, kan?"
.
.
Jari-jari ramping itu meletakkan sebatang bunga yang masih segar dengan hati-hati. Bunga sebelumnya sudah layu dan baru saja sukses masuk keranjang sampah. Perlahan, tangan mengatup di depan dada, disusul terpejamnya kedua mata.
Pemuda itu tidak punya makam. Jangankan jasadnya, kabarnya saja lenyap tak bersisa. Sementara itu, flatnya tentu segera dibersihkan agar dapat dihuni penegak baru. Pada akhirnya, Yayoi mengambil satu bagian dalam flatnya sendiri sebagai altar.
Yayoi tidak memiliki foto Shusei. Altar yang dimaksud sebatas bagian atas lemari tempat ia meletakkan toples permen Shusei yang dimintanya beberapa minggu lalu. Entah untuk apa pula ia menyimpannya.
Sepasang kelopak mata gadis itu kembali membuka, menghadapkan dua buah iris hitamnya pada dunia.
Kougami mengingat Sasayama yang telah mati. Kali ini, Tsunemori yang mengenang penegak mantan inspektur itu yang telah pergi. Di sisi lain, Ginoza sudah barang tentu tak akan melupakan Masaoka yang notabene ayahnya sendiri.
Kalau begitu, biarlah Yayoi yang mengambil peran tersebut atas Shusei. Bukankah pemuda itu memang menginginkannya?
…dan mungkin Yayoi tidak menginginkan pemuda itu benar-benar mati, bahkan sebatas memori.
.
("Aku ingin tahu apakah seseorang akan mengenangku juga seperti itu nanti jika aku tewas dalam tugas."
Siapa sangka Yayoi sendirilah jawaban keingintahuan yang dilontarkan rekannya itu beberapa minggu lalu?)
.
.
.
...saya juga bertanya-tanya, sih, apa ada yang bakal mau ngenang saya kalau nanti saya mati.
darkBlue 47 – 28/09/2017
