Chapter 5
Sewoon hanya terdiam. Tidak ikut berkomentar pada obrolan Jaehwan dan Daniel sama sekali.
Smoothie di depannya hanya ia aduk-aduk, tanpa berminat untuk meminumnya.
Melihat orang yang pernah ia cintai dan orang yang tengah ia sukai memiliki hubungan seakrab ini membuat hatinya bingung.
Mengapa takdir memainkannya seperti ini?
Mengapa ketika ia pikir ia telah melupakan masa lalunya, dan siap untuk masa sekarangnya, masa lalu tersebut justru datang?
Nafas Sewoon selalu tercekat ketika melihat Daniel dan Jaehwan tertawa bersama. Ah, sial. Kenapa ia harus dihadapkan dengan situasi seperti ini?
"Woonㅡ?"
Tangan Jaehwan yang mengibas di depan wajahnya membuat Sewoon tersadar dari lamunannya. Sejak kapan ia melamun?
"H-hah? Kenapa, Kak?"
Dahi Jaehwan berkerut, "Kamu sakit?"
"E-enggak." Sewoon menggeleng.
"Kok kamu diem aja?" Tanya Jaehwan lagi.
Sewoon menggigit bibir bawahnya. Mengapa ia merasa seperti tengah tertangkap selingkuh?
"A-akuㅡ" Kaki Sewoon bergerak-gerak; berusaha menghilangkan kegugupannya, "Aku kenapa, ya? Aku juga gak tau aku kenapaㅡ mungkin aku laper?"
Jawaban tidak jelas Sewoon ini justru terdengar jenaka di telinga Jaehwan dan Daniel.
"Yaudah pesen makan aja, Woon. Tenang, gue yang bayar."
Sewoon kembali menahan nafas ketika Daniel berbicara padanya.
Sungguh, jika saja Daniel datang ketika dia tidak mengenal Jaehwan ㅡdan tidak sedang berada dalam sesuatu dengan Jaehwanㅡ, Sewoon akan memeluknya erat-erat. Menunjukan pada Daniel secara terang-terangan bahwa ia merindukan Daniel.
.
.
.
.
Kim Jaehwan × Jung Sewoon
Phytagor Us
Support Cast : Kim Dahyun; Kang Daniel
Casts are owned by theirselves and this story is owned by feazee.
[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]
.
.
.
.
"Kak, besok anterin aku, yuk?"
"Kemana?"
"Nonton DAY6!"
Jaehwan melirik Sewoon dengan malas, "Nonton aku juga sama aja, kok."
"Enggak!" Sewoon menyangga dagunya menggunakan sebelah tangan, "Disana ada Kak Jae yang jago main gitarㅡ"
"Aku juga Jae–yang–jago–main–gitar."
"Ada Kak Sungjin yang suaranya bagus bangetㅡ"
"Suaraku juga bagus."
"Ada Kak Wonpil yang jago pianoㅡ"
"Aku juga, kok."
"Ada Kak Dowoon yang walopun cuma diem duduk di belakang sambil ngedrum, tapi kerenㅡ"
"Aku bisa main drum. Aku gak kalah keren juga."
"Terus favoritku, ada Kak Brian yang bisa ngelakuin semua." Sewoon tersenyum lebar.
Tanpa aba-aba, Jaehwan mencium pipi Sewoon kemudian berkata, "Bisa ngelakuin semua tapi dia gak bisa nyium kamu kayak gini, kan?"
Wajah Sewoon memerah, "A-apasih, Kak!"
Jaehwan tertawa pelan, "Btw, wangi banget sih, Woon?"
"Ih, Kak!"
Sewoon memukul bahu Jaehwan untuk melampiaskan rasa malunya. Ia semakin kesal ketika tawa Jaehwan semakin keras. Beberapa orang yang tanpa sengaja melewati mereka pun menyempatkan diri untuk melirik mereka. Mungkin sebaiknya, Sewoon tidak lagi membuat Jaehwan tertawa hingga seperti ini.
Kemudian Sewoon mendengus, menunggu tawa Jaehwan yang tidak kunjung reda.
"Kira-kira seramai apa rumahmu, Kak? Aku gak bisa bayangin gimana pusingnya punya anak kayak Kak Jaehwan sama Dahyun."
Mendengar perkataan Sewoon tersebut membuat tawa Jaehwan mereda. Jaehwan memicingkan matanya ㅡmencoba mengingat sesuatu.
"Waktu itu pernahㅡ
Jaehwan dan Dahyun sedang menonton televisi bersama. Untuk mengusir rasa bosan, mereka memilih untuk menonton sebuah acara komedi. Selera humor mereka yang tidak jauh berbeda membuat mereka sering kali tertawa bersamaan. Terkadang, disertai aduhan dari Jaehwan karena Dahyun yang memukulnya sembari tertawa.
Jangan tanyakan lagi bagaimana berantakannya ruang keluarga tersebut. Remah-remah makanan ringan mereka berserakan dimana-mana. Belum lagi jika Jaehwan atau Dahyun tertawa ketika masih ada cemilan yang berada di dalam mulut mereka.
Mereka terus tertawa dengan seru, sama sekali tidak mempedulikan kenyataan bahwa sekarang telah pukul sebelas malam. Bahkan mereka tidak mendengar ketika ibu mereka berteriak,
"Jaehwan, Dahyun kalo ketawa jangan kenceng-kenceng! Mama jadi gak bisa tidur. Kalo tetangga ada yang kebangun juga, gimana?"
Karena teriakan ibu mereka teredam oleh suara tawa mereka sendiri.
ㅡSampe waktu itu ada beberapa tetanggaku yang ngetuk pintu terus nanya "Ada yang kerasukan?". Karena Dahyun takut hantu, yaudah dia teriak kenceng banget sampe akhirnya dia yang dicurigai kerasukan."
Sewoon tidak dapat mengendalikan tawanya lagi. Jaehwan dan Dahyun benar-benar definisi clumsy sibling yang sesungguhnya. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan orang seperti mereka berdua untuk menjadi pasangan kakak–adik? Atau mungkin, apa yang diidamkan oleh ibu mereka dulu sehingga memiliki anak seperti ini?
"Dahyun emang parah ya, Kak." Sewoon masih tertawa, "Sama kayak Kak Jaehwan sendiri."
"Wih, ya jelas Dahyun leㅡ"
"Wah, parah. Cewek cantik kayak gue digosipin."
Dahyun duduk di depan Sewoon, "Tumben di taman depan gini? Gak di kantin kayak biasanya?"
"Soalnya kalo di kantin ntar ketemu lo. Eh, ternyata disini juga tetep aja ketemu lo."
Dahyun mencomot makanan ringan di depannya, "Ntar kalo gak ketemu gue juga nangis lo, Kak."
"Nangis bahagia, sih, iya."
Dahyun melempar sepotong cemilan yang baru saja ia ambil ke arah Jaehwan, mengundang Sewoon untuk berkata, "Makananku jangan dibuang-buang, dong!"
Kemudian ditanggapi, "Mampus." Dengan cepat oleh Jaehwan.
"Lagi bahas apa, nih, kok gue gak diajak?"
Jaehwan, Sewoon, dan Dahyun serempak menoleh ke arah Daniel yang mengambil posisi di sebelah Dahyun dan mencomot cemilan milik Sewoon.
Sewoon melirik Dahyun, Daniel, dan Jaehwan dengan kesal satu-persatu, "Kalian bertiga emang sama aja ya, dateng-dateng langsung ngambil makanan orang."
"Mumpung gratis."
"Daripada mubazir."
"Kayaknya kita kalo bikin tukang makan squad cocok, deh."
"Gak ah, Dek. Sayang uang." Kata Jaehwan menanggapi Dahyun.
"Emang salah satu dari kita gak ada yang bisa masak? Wah, parah."
"Ngaca, Hyun." Daniel menjentikan jarinya pada dahi Dahyun, "Kayaknya yang bisa masak cuma Sewoon."
Jaehwan menatap Daniel dengan curiga, "Kok lo tau?"
"H-hah?" Kata Daniel ㅡsalah tingkah.
Dahyun bergabung bersama Jaehwan dengan menatap Daniel penuh curiga.
Daniel melirik Sewoon, berharap Sewoon memberinya bantuan. Namun sayang sekali, Sewoon justru ㅡberpura-puraㅡ fokus dengan bukunya.
Daniel berdehem, "Ya tau, lah. Apa, sih, yang gak gue tau?"
"Hm, gue jadi curiga." Mata Jaehwan memicing, "Jangan-jangan lo bener naksir Sewoon, ya?"
"Kalo iya kenapa?" Jawab Daniel spontan, setengah bermaksud untuk menggoda Jaehwan.
Sewoon tersedak. Kemudian ia tertawaㅡdengan terpaksa, "Lucu banget. Ahahaha, ini buku lawak apa, sih?"
"Woon, itu buku sejarah lucu darimananya?"
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
Sewoon dengan spontan menoleh dan menampar seseorang yang berada di sebelah kirinya ketika ia merasakan pantatnya disentuh.
Kemudian ia terkejut ketika melihat sang pelaku yang tengah tertawa.
"K-Kak Daniel?"
Daniel merangkul Sewoon, "Masih gak berubah aja lo, Woon."
"Ya terus gimana? Aku harus diem aja gitu kalo pantatku dipegang?"
"Kalo Jaehwan yang megang, bakal lo tampar juga?"
"Iyalah, Kak!"
Daniel mengangguk, "Belom pernah diapa-apain, nih, berarti?"
Wajah Sewoon memerah, "E-enggak, lah. Emangnya Kak Jaehwan mesum kayak Kak Daniel?" Sindirnya.
Daniel tersenyum mengejek pada Sewoon, "Jaehwan emang yang paling jago kalo masalah pencitraan."
"Biar aja, daripada gak jaga sikap."
"Bela aja terus, Woon." Daniel mengeratkan rangkulannya untuk beberapa saat, namun berhasil membuat Sewoon mengaduh.
Tanpa melepaskan rangkulannya, Daniel dan Sewoon berjalan beriringan menuju perpustakaanㅡyang sebenarnya adalah destinasi Sewoon seorang. Mereka mengobrol dan bersenda gurau, tanpa membicarakan masa lalu sedikitpun. Mereka bahkan bersikap seperti sepasang sahabat lama yang dengan terpaksa harus berpisah.
Sewoon pun tidak memprotes tangan Daniel yang tidak juga berpindah dari bahunya. Dia tidak keberatan, toh ia merindukan Daniel.
Tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa Jaehwan sedang menatap mereka penuh kebingungan dari jauh. Jaehwan bertanya-tanya, sejak kapan Sewoon dan Daniel menjadi sedekat itu? Seingatnya, Sewoon selalu bersikap canggung setiap kali ada Daniel.
Namun meskipun penasaran, Jaehwan memilih untuk diam. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Sewoon. Ia merasa bingung, tapi ia tidak mencurigai mereka sama sekali. Karena Jaehwan percaya pada Daniel dan Sewoon.
To Be Continued
maaf baru update:"D
