Jaehwan tidak berhenti berguling-guling di atas kasurnya. Bohong, jika ia bilang ia tidak penasaran pada Daniel dan Sewoon. Bohong, jika ia tidak menaruh cemburu pada Sewoon yang terlihat semakin dekat dengan Daniel.

Daniel tahu Sewoon tidak menyukai kopi karena rasanya pahit.

Sewoon tahu Daniel takut pada serangga, dan juga hantu.

Daniel tahu Sewoon menyukai buku dan perpustakaan.

Sewoon tahu sebanyak apa porsi makan Daniel.

Apakah mungkin hanya dalam seminggu mereka dapat mengetahui satu sama lain sebanyak ini?

Dia memang sengaja tidak bertanya apa-apa pada Sewoon, dia masih menunggu Sewoon bercerita sesuatuㅡyang berhubungan dengan Danielㅡ padanya. Karena Dahyun pun tidak terlihat mengetahui sesuatu di antara mereka.

Sebenarnya, tidak masalah jika Daniel menyukai Sewoon. Tapi jika Sewoon yang menyukai Daniel, dia bisa apa?

.

.

.

.

Kim Jaehwan × Jung Sewoon

Phytagor Us

Support Cast : Kim Dahyun; Kang Daniel

Casts are owned by theirselves and this story is owned by feazee.

[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]

.

.

.

.

"Hwan,"

Jaehwan yang sedang fokus gamenya hanya menjawab dengan gumanan.

"Gak ada yang pengen lo tanyain ke gue?"

"Lo minta gue tanyain 'Niel, lo udah makan belom?' gitu?"

"Gue serius."

Jaehwan melirik Daniel sekilas, "Iya iya. Gue gak paham juga harus tanya apa ke lo."

"Tentang Sewoon."

Tangan Jaehwan sempat berhenti memencet layar handphonenya untuk beberapa saat ketika Daniel menyebut nama Sewoon.

"Kenapa Sewoon? Lo naksir? Mau ngegebet?"

Daniel mengerutkan dahinya ketika mendengar nada bicara Jaehwan yang terbilang santai di telinganya. Jaehwan bahkan tidak meninggalkan gamenya untuk mendengarkan penjelasannya dengan seksama, sehingga Daniel pikir, mungkin tidak apa-apa jika dia mengatakan yang sebenarnya pada Jaehwan sekarang. Toh, dia tidak bisa tetap diam.

"Sewoon mantan gue. Orang yang selama ini gue ceritain ke lo. Satu-satunya alesan kenapa gue gak berminat buat pacaran sampe sekarang."

Handphone Jaehwan hampir saja terjatuh dari genggaman Jaehwan. Secara perlahan, kepala Jaehwan mendongak untuk menatap Daniel yang sedang duduk di sebelahnya.

"S-serius?"

Daniel hanya bisa mengangguk ketika mendengar suara Jaehwan yang bergetarㅡtidak ingin percaya dengan ucapan Daniel.

"Gue pikir Sewoon udah cerita ke lo, tapi lo gak keliatan was-was ke gue sama sekali, jadi yaudah, gue mutusin buat ngomong duluan. Dan ternyata, Sewoon emang belom cerita."

Jaehwan masih diam, menatap Daniel penuh dengan ketidak-percayaan. Ucapan Daniel terasa seperti angin, tidak dapat ia dengar dengan jelas.

Jaehwan masih ingat, siapa mantan kekasih yang sering diceritakan orang Daniel. Seseorang yang selalu Daniel panggil dengan Ponyo.

Daniel selalu menolak untuk menyebutkan nama asli sang mantan, dengan alasan, "Nyebut nama panggilannya aja gue gamon apalagi nyebut nama aslinya."

Jaehwan ingat, terkadang Daniel meng-spam Linenya pada pukul dua dini hari hanya untuk mengatakan bahwa dia merindukan Ponyonya. Atau Daniel yang selalu mengingat omelan sang Ponyo ketika ia sakit, kemudian menceritakannya pada Jaehwan dengan senyum kekanakanan.

Daniel selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan setiap pekerjaannya, dia juga mengabaikan setiap orang yang mencoba untuk mendekatinya. Ketika Jaehwan bertanya kenapa hidup Daniel terlalu serius, Daniel akan tertawa kemudian menjawab, "Gue mau buktiin ke Ponyo kalo janji gue ke dia dulu tetep gue pegang walopun gue gak pernah ketemu dia lagi."

Daniel berjanji, untuk tidak lagi bermain-main dengan cinta. Ia tidak akan mengecewakan orang tuanya, dan menunjukkan pada mereka bahwa anak laki-lakinya ini mampu membanggakan mereka.

Jaehwan tidak pernah lupa, betapa bahagianya wajah Daniel ketika bercerita tentang sang Ponyo. Meskipun setelah itu, senyum cerahnya akan berganti dengan senyum penuh kepahitan.

Jaehwan juga masih ingat, ketika ia bertanya kenapa Daniel justru bersembunyi, dan bukannya berusaha mempertahankan Ponyo, Daniel menjawab, "Dia gak pernah protes sama semua sikap egois gue, terus kalo tiba-tiba dia minta putus? Ya berarti dia emang udah eneg sama gue. Gue gak bisa maksa dia di sebelah gue terus kalo nyatanya gue cuma bisa bikin dia sedih."

Kemudian ketika Jaehwan bertanya kenapa Daniel tidak tetap diam di dekat sang Ponyo untuk menjaganya, Daniel menjawab, "Terus ngelihat dia deket sama orang lain? Maaf, gue gak senaif itu."

Jaehwan selalu penasaran, siapa orang yang membuat Daniel seperti ini? Orang hebat macam mana, yang dapat membuat temannya jatuh cinta sedalam ini?

Dan Jaehwan tidak pernah menyangka, orang hebat tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang membuatnya jatuh cintaㅡuntuk pertama kalinya.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Sewoon menatap khawatir pada Jaehwan yang sejak tadi melamun. Minuman di depannya tidak disentuh sama sekali semenjak mereka datang di café ini.

Sewoon sudah beberapa kali menyoba memanggil nama Jaehwan, namun Jaehwan tidak merespon. Jaehwan hanya diam dengan kepala tertunduk.

Suara bel yang memberi tanda bahwa seseorang memasuki café lah yang berhasil membuyarkan lamunan Jaehwan.

Jaehwan mendongak, hanya untuk menemukan Sewoon tengah menatapnya khawatirㅡjuga penasaranㅡ dengan kedua alis yang terangkat.

Sebuah helaan lolos dari bibir Jaehwan, "Kamu gak pengen cerita sesuatu ke aku?"

"H-hah?"

Jaehwan kembali menghela nafas, "Kamu mantannya Daniel?"

Kali ini, nafas Sewoon tercekat. Apakah mungkin Daniel telah bercerita pada Jaehwan?

"Aku nggak mikir apa-apa, Woon. Aku juga gak nuduh kamu bohong. Aku ngerti pasti kamu mau jujur sama aku, tapi bingung gimana ngomongnya, iya?"

Ini salah satu alasan Sewoon menyukai Jaehwan. Jaehwan selalu sepengertian ini.

Sewoon menggigit bibir bawahnya, matanya bergerak-gerak untuk mencari objek pandangㅡapapun selain mata Jaehwan. Mata Sewoon sempat bertemu dengan milik Jaehwan yang masih menatapnya dengan lekat ketika ia dengan sengaja melirik Jaehwan.

Sewoon menghela nafas, "Iya, Kak. Aku emang mantannya Kak Daniel. Maaf, gak ngasih tahu lebih dulu."

"Kalian... kenapa putus?"

Sebenarnya, Sewoon tidak ingin menceritakan masa lalunya dengan Daniel, namun dia harus.

"Kak Daniel ngelakuin hal kecil, tapi fatal menurut aku. Jujur, aku beberapa kali ngerasa nyesel udah mutusin Kak Daniel. Tapi, kayaknya emang itu yang terbaik buat aku sama Kak Daniel."

"Kamu pernah kepikiran buat balikan sama Daniel?"

Sewoon terdiam sejenak, "Sering." Kemudian ia tersenyum pahit, "Tapi nggak mungkin."

Jaehwan tahu, cinta Sewoon pada Daniel sama besarnya dengan milik Daniel.

Ah, tidak.

Milik Daniel mungkin sedikit lebih besar, namun Jaehwan tahu cinta Sewoon untuk Daniel tidaklah main-main.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

kalo chapter depan aku kasih flashbacknya daniel sama sewoon kalian mau ngga?