"Woon,"

Sewoon menjawab dengan sebuah gumanan pelan.

"Mau jadi pacar gue, gak?"

"Hah?"

Laki-laki tersebut bergeming; tidak menanggapi pertanyaan Sewoon. Dia hanya diam sembari menatap ke arah langit.

Otak Sewoon masih berpikir dengan cepat. Apakah laki-laki ini benar-benar mengucapkannya atau hanyalah imajinasinya semata? Apakah laki-laki ini hanya bercanda atau memang serius?

"Gimana?"

Suara baritone tersebut membuyarkan lamunan Sewoon sekaligus meyakinkannya bahwa telinganya memang sedang berfungsi dengan benar.

Sewoon ingin menolak. Jujur saja, ia sedikit tidak percaya pada laki-laki ini. Namun yang keluar dari mulutnya justruㅡ

"Iya, Kak. Aku mau."

.

.

.

.

Kim Jaehwan × Jung Sewoon

Phytagor Us ㅡ [Special Chapter for Kang Daniel × Jung Sewoon]

Casts are owned by themselves and this story is owned by feazee.

[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]

.

.

.

.

Hubungan Sewoon dan Daniel telah berjalan selama satu bulan.

Sampai saat ini, belum ada masalah serius yang melanda mereka. Namun, tiba-tiba saja hari ini Daniel mengajak Sewoon untuk bicara berdua. Wajah Daniel yang terlihat sangat serius, membuat Sewoon gugup.

"Kita putus, gimana?"

"K-kenapa?"

"Gue kesel sama lo."

Sewoon masih tidak mengerti.

"Masa lo gue kenalin ke temen gue aja gak mau, sih? Kenapa? Malu pacaran sama gue?"

Ah, jadi karena ini.

Hanya karena beberapa hari yang lalu Sewoon menolak ajakan Daniel untuk hangout bersama teman-temannya.

"Bukan gitu maksuㅡ"

"Terus gimana?"

Sewoon terdiam sejenak. Dapat dia lihat dengan jelas bahwa Daniel sedang marah, "Yaudah aku mau."

Daniel menatap Sewoon, "Telat." Kemudian ia pergi.

Sewoon menghela nafas.

Sewoon memang tidak pernah menunjukkan bahwa dia sedang ada apa-apa dengan Daniel. Dia memang merasa itu tidak perlu, namun bukan berarti Sewoon tidak menyayangi Daniel.

Sewoon memiliki alasan sendiri kenapa ia menolak untuk bertemu teman-teman Daniel.

.

.

Sudah tiga hari ini Daniel menghindari Sewoon. Sewoon tidak bisa menghubungi Daniel, ingin menemui Daniel secara langsung pun tidak kalah sulit.

Kali ini, Sewoon tidak mencoba mencari atau menghubungi Daniel. Mungkin, Daniel memang masih kesal padanya. Sewoon memutuskan untuk membiarkan Daniel tenang terlebih dahulu sebelum dia menjelaskan maksudnya yang sebenarnya.

Sewoon sedang berjalan menuju kantin ketika sebuah suara memanggilnya.

Suara milik Kang Daniel. Orang yang tiga hari ini dia rindukan, akhirnya mau menemuinya.

"Gue minta maaf."

Sewoon mengerjap, "Buat apa, Kak?"

"Gue childish banget, ya?"

"Akhirnya sadar nih, Kak?" Candanya.

"Eㅡhey!"

Tawa Sewoon terdengar samar ketika Daniel memprotes, "Aku juga minta maaf kalo aku terkesan nutupin hubungan kita ."

Kemudian, Sewoon melanjutkan perjalanannya ke kantin bersama Daniel yang berjalan di sebelahnya.

"Sebenernya gue pengen semua orang tau kalo lo udah jadi punya gue."

Sewoon mengangkat alisnya.

"Emangnya gue gak tau apa kalo ada banyak orang yang suka lirik-lirik lo?"

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Malam ini cukup berbeda dengan malam-malam yang sebelumnya bagi Sewoon. Untuk pertama kalinya, dia tidak makan malam bersama keluarganya di rumah. Dia justru makan malamㅡyang sebenarnya tidak bisa disebut makan malamㅡ di sebuah café bersama Daniel. Dia tidak menyangka Daniel akan mengajaknya berkencan seperti ini.

"Ntar malem lo sibuk gak, Woon?"

"Enggak."

Daniel hanya berkata 'oh' sembari mengangguk.

"Kenapa, Kak? Mau ngajak aku kencan?" Tanya Sewoon, setengah bercanda.

"Ngarep banget ya?"

Sewoon dengan sengaja menyenggol bahu Daniel; menunjukkan protesnya terhadap Daniel yang menyebalkan.

Keheningan berbicara untuk beberapa menit sebelum Daniel berkata, "Ntar malem anterin gue cari makan, ya? Nyokap lagi gak di rumah soalnya."

Raut muka Daniel terlihat serius ㅡsekaligus gugupㅡ ketika menyantap makanannya. Entah apa yang dipikirkan olehnya, dia sama sekali tidak melirik Sewoon sejak tadi. Akhirnya, Sewoon yang tidak menyukai atmosfer seperti ini memilih untuk membuka percakapan.

"Kak, mau denger voice note, gak?"

Daniel mendongak, dahinya berkerut penasaran, "Voice note apa?"

"Ini semacam song cover, sih. Aku dikasih temen. Mau denger?"

Dahi Daniel semakin berkerut, "Iya."

"Tapi gak boleh cemburu."

"Cepetan."

"Bentar,"

Sewoon mengambil handphonenya. Membuka music player untuk mencari voice note yang ia maksud.

Tidak lama kemudian, samar-samar terdengar suara seorang laki-laki menyanyikan Thinking Out Loud milik penyanyi asal Inggris; Ed Sheeran, dengan iringan gitar.

"Bagus banget gak sih, Kak? Ini suaranya Donghyun. Aku suka denger suara dia disini jadi yaudah aku simpen voice notenya."

Daniel terdiam untuk beberapa saat, "Bodo amat ah, Woon. Mau suara dia bagus kek apa kek, gak peduli juga gue." Kemudian ia melanjutkan acara menyantap-makan-malamnya.

"Tapi bagus kan, Kak?"

"Gak. Biasa aja."

"Ey, emang Kak Daniel bisa nyanyi kayak gini?"

"Hah apa? Gue gak denger."

Dengan mata yang tidak berpindah dari Daniel, Sewoon meminum smoothienya melalui sedotan, "Katanya gak akan cemburu?"

"Siapa yang cemburu?"

Sewoon menahan tawa, "Oh, enggak ya? Berarti emang bener, kan, suara Donghyun itu bagus baㅡ"

Daniel mendongak, menatap Sewoon dengan lekat seraya berkata, "Gue pergi, nih? Lo makan sama Donghyun aja, ya?"

Kali ini, Sewoon tertawa, "Aku cuma bercanda, ih."

"Yaudah matiin voice notenya. Sakit telinga gue."

"Iya, aku matiin." Jari Sewoon memencet tombol pause, "Tapi suara Donghyun emang bagus kan, Kak?"

"Gak."

Sewoon tertawa gemas, "Ih, udahan dong Kak, cemburunya?"

Daniel mengabaikan perkataan Sewoon.

"Nanti aku kasih peluk, deh?"

"Peluk Donghyun aja sana."

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Jika biasanya Daniel yang sibuk dengan dunia gamenya dan mengabaikan Sewoon, maka hari ini justru berbanding terbalik. Sewoon terlalu fokus pada handphonenya hingga Daniel merasa tidak dianggap. Padahal hari ini adalah kencan kedua merekaㅡkali ini mereka berkencan di sebuah taman bermainㅡ, mengapa Sewoon justru asik dengan handphonenya?

"Lagi ngapain, sih?" Tanya Daniel penasaran.

Tanpa menoleh sedikitpun, Sewoon menjawab, "Gak ngapa-ngapain."

"Terus kok senyum-senyum gitu?"

"Eheheh, soalnya lucu, Kak."

Dahi Daniel berkerut, "Ooh, selingkuh yaa?"

Sewoon tertawa kecil, "Iya."

"Eeey?"

Sewoon kembali tertawa. Ia memasukkan handphonenya ke dalam saku celana kemudian mengamit tangan Daniel, "Bercanda aja. Kalo aku punya kamu kenapa harus selingkuh?"

Tanpa Sewoon sadari, tangan Daniel telah bergerak untuk mencuri handphonenya dari saku celana, "Oke, gue pinjem handphonenya."

Sewoon terkejut, "Jangan!"

Kemudian terjadi saling rebut-merebut handphone di antara mereka. Daniel yang mencoba menjauhkan handphone tersebut dari jangkauan tangan sang pemilik dan Sewoon yang mencoba meraih handphonenya.

Sayang sekali, Daniel yang lebih tinggi daripada Sewoon membuat Sewoon tidak dapat sekalipun menyentuhkan ujung jarinya pada handphonenya.

"Serius gak ada apa-apa, Kak."

Daniel tidak menghiraukan Sewoon. Ia menekan tombol kunci di handphone Sewoon.

Please enter your password.

Adalah kalimat pertama yang dapat Daniel baca.

"Passwordnya apa?"

Ah, hampir saja Sewoon lupa jika dia memasang password.

"Rahasia." Katanya sambil menjulurkan lidahnya pada Daniel.

Kemudian Sewoon tersenyum ketika melihat Daniel mendengus.

"Aku beneran gak bakal selingkuh dari kamu, Kak."

Kali ini Daniel menghela nafas, "Gue bukan gak percaya sama lo, bukan nuduh lo juga. Tapiㅡ gak jadi, deh."

.

.

"Kita taruhan, yuk?"

"Taruhan itu gak baik, Kak."

"Tapi gue pengen."

"Yaudah mau taruhan apa?"

Daniel mengedarkan matanya, "Kita masuk Haunted House. Siapa yang gak teriak sama sekali, dia menang."

Sewoon mengangkat kedua alisnya, "Hadiahnya?"

"Kalo lo menang, gue beliin hadiah buat lo. Tapi kalo lo kalah, lo harus ngehapus password hp lo."

Sewoon mengerjap, "Jadi ini demi password hp, Kak?"

"Jawab aja mau apa enggak?"

Sewoon mengangguk, "Oke, deal."

Lima belas menit kemudian, mereka akhirnya keluar dari haunted house.

Sepertinya, Daniel telah mengambil keputusan yang salah. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kali dia memasuki arena rumah berhantu. Dan tidak sekalipun terpikirkan olehnya bahwa haunted house benar-benar menyeramkan.

Sepanjang perjalanan di dalam rumah berhantu tersebut, tubuh Daniel tidak berhenti bergetar. Bahkan, Daniel berjalan di belakang Sewoon dan memeluk Sewoon erat-erat. Beberapa kali Sewoon memprotes karena pelukan Daniel membuatnya susah berjalan, namun Daniel tidak menghiraukannya sama sekali. Justru, setiap kali sang hantu muncul, pelukannya pada Sewoon akan mengerat hingga membuat Sewoon merasa sesak. Dia memeluk Sewoon seakan dia akan tamat jika pelukannya terlepas.

Sedangkan Sewoon, bohong jika dia berkata dia tidak takut. Tapi, untung saja ketakutannya tidak separah Daniel. Pelukan erat dan teriakan Daniel pun sukses membuat perhatiannya teralih, tidak fokus pada hantu-hantu itu sama sekali.

"Kak?" Panggil Sewoon.

Tidak ada respon dari Daniel. Dia menumpukan dagunya pada pundak Sewoon, mengatur nafasnya sembari menutup mata. Tangannya pun masih setia melingkar di badan Sewoon.

"Ini Kak Daniel modus, ya?" Goda Sewoon.

"Serem, Woon." Guman Daniel.

"Enggak ah, biasa aja."

Daniel membuka matanya, "Gak usah sombong,"

"Yang penting aku menang, asik!"

Daniel tersenyum gemas, dia mengambil handphonenya kemudian mencari sebuah online shop, mencari sesuatu untuk dihadiahkan pada Sewoon ㅡsesuai dengan janjinya.

"Ini gak pengen dilepas dulu pelukannya, Kak?"

"Enaknya hadiah buat lo apa, ya?"

Sewoon hanya diam. Memperhatikan jari Daniel yang sedang menggeser layar handphone ke atas.

"Kalo teddy bear kayak gini, suka gak?"

Layar handphone Daniel sedang menampilkan sebuah boneka beruang besar milik salah satu online shop.

"Masa kamu beli hadiah tapi nanya ke orang yang mau kamu kasih, sih?" Protesnya.

.

.

"Woon,"

"Apaaaaa?"

Daniel terdiam sejenak. Tiba-tiba saja jantungnya berpacu dengan cepat, "Gue sayang lo."

"Gue tau gue nyebelin, maaf. Tapi jangan capek sama gue, ya?" Daniel menghela nafas untuk meredakan rasa gugupnya, "Gue gak minta buat jadi the whole of your life. Gue pengennya jadi a little but the most favorite part; which you love the most."

Telinga Daniel memerah. Dia tidak terbiasa mengatakan hal semacam ini, namun dia tidak ingin Sewoon berpikir bahwa hanya Sewoon-lah yang memiliki cinta di antara mereka.

Wajah Sewoon pun tidak kalah merah, ia menggigit bibir bawah bagian dalamnya sejenak untuk menahan gugup, "I-iya, Kak,"

"Gue boleh cium lo, gak?"

"H-hah?"

Jangan tanyakan lagi betapa ramainya keadaan dada Sewoon saat ini.

"Gak boleh, ya? Yaudah gue pulang dulu."

Daniel berbalik. Merutuki permintaannya yang tidak masuk akal. Meminta sebuah ciuman dari seseorang seperti Sewoon seharusnya terdengar tidak mungkin untuk Daniel.

Belum sampai kaki Daniel melangkah, tangan Sewoon terlebih dahulu menahan tangannya.

"B-boleh, Kak."

Mata Daniel melebar, "S-serius?"

Sewoon menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya kemudian mengangguk.

Daniel mendekat dengan perlahan, memberi efek yang luar biasa pada diri mereka masing-masing. Seiring dengan jantung mereka yang seakan ingin meledak, aliran darah merekapun berpacu dengan cepat menuju wajah.

Tidak lama kemudian, bibir Daniel telah bertemu dengan milik Sewoon.

Pada saat itulah, ciuman pertama Sewoon telah diclaim oleh seorang Kang Daniel, tepat di depan rumah Sewoon.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Beberapa hari yang lalu hadiah kekalahan Daniel telah diberikan pada Sewoon. Sebuah boneka besar berwarna merah yang berbentuk salah satu karakter utama di animasi Gake no Ue no Ponyo ㅡPonyo.

"Mirip lo, makanya gue beliin itu." Kata Daniel ketika Sewoon bertanya kenapa Daniel memilih boneka tersebut.

Awalnya, Sewoon menolak dengan keras untuk dikatakan mirip dengan sang Ponyo. Dia juga memprotes ketika Daniel memanggilnya Ponyo. Namun, akhirnya Sewoon berhenti memprotes karena dia tahu, semakin dia memprotes, maka Daniel akan semakin semangat mengganggunya.

Password di handphone Sewoon pun telah terhapus. Ia rasa tidak ada salahnya jika ia tetap mengikuti keinginan Daniel meskipun Daniel tidak memenangkan pertaruhan mereka.

Saat ini Sewoon sedang membaca buku di perpustakaan. Dia suka membaca buku, terkadang buku yang ia inginkan sudah tidak dicetak ulang sehingga ia tidak bisa membeli dan harus membacanya di perpustakaan ㅡseperti saat ini.

Sewoon tidak sendiri. Daniel memaksa untuk ikut agar dia bisa menemani Sewoon.

"Biar lo gak kayak jomblo." Katanya.

Meskipun justru karena Daniel, Sewoon menjadi susah fokus pada bacaannya.

Bagaimana Sewoon bisa fokus jika Daniel menatapnya dengan lekat seakan Sewoon akan hilang jika Daniel mengalihkan pandangannya?

"Nyo?"

Sewoon membalik selembar halaman, "Siapa 'Nyo'?"

"Ponyo." Kata Daniel seraya tersenyum lebar.

"Ponyo lagi main sama Sosuke."

"Ponyo sekarang punya Daniel, bukan punya Sosuke."

Mata Sewoon masih fokus pada bukunya, "Oh, kamu suka sama ikan merah itu juga, Kak?"

"Gak." Daniel menggeleng, "Sukanya sama kembaran Ponyo yang ngakunya punya nama Jung Sewoon."

Telinga Sewoon memerah, "Garing ah, Kak."

Daniel tertawa, "Baca apasih, serius banget?"

Iya ini lagi nyoba fokus. Kak Daniel pergi aja bisa gak, sih? Ganggu konsentrasiku tau, gerutu Sewoon dalam hati.

"Heh, Woon?" Daniel menarik pipi Sewoon.

Sewoon melirik Daniel sekilas, "Kenapa lagi, Kaaak?"

"Kemaren ada cewek nembak gue."

Sewoon hampir saja memekik jika dia tidak ingat dia sedang berada di perpustakaan.

"Katanya dia minta bantuan gue biar mantannya gak neror dia mulu. Sekedar status juga gak papa asal itu bisa bikin mantannya mundur."

Sewoon berdehem, "Terus? Hubungannya sama aku apa?"

"Hm?" Daniel berpura-pura sedang berpikir, "Lo ijinin gue, gak? Kasian tuh, dia harus nanggepin mantannya yang gak jelas."

Rasanya, Sewoon ingin sekali menjambak rambut Daniel.

"Kenapa harus Kak Daniel yang dimintain tolong?"

"Kenapa, ya?" Daniel kembali berpura-pura berpikir, "Mungkin dia pikir gue masih jomblo. Salah lo, sih, gak mau ngepublikasiin hubungan kita."

Sewoon menutup bukunya kemudian meletakkannya di atas meja.

"Kak Daniel kok malah nyalahin aku, sih?" Sewoon menatap Daniel penuh kekesalan, "Kak Daniel malah nanya ke aku boleh atau engga, bukannya langsung nolak dia. Berarti, sebenernya Kak Daniel mau juga, kan, sama dia?"

Daniel berkedip polos, "Iyaㅡ"

Sewoon beranjak. Namun tangan Daniel dengan cepat menariknya kembali; sehingga punggung Sewoon menabrak dadanya. Tanpa menunggu lagi, Daniel segera melingkarkan kedua tangannya pada Sewoon.

Kemudian, Daniel tertawa pelan, "Ya enggak lah, Woon. Gue langsung nolak kemaren. Ngapain juga gue repot-repot bantu dia, kan?"

Sewoon memukul tangan Daniel yang melingkar di badannya, "Terus ngapain nanya ke aku gitu?"

"Pengen lihat respon lo aja."

Sewoon melepaskan kedua tangan Daniel, "Aku balik dulu ya, Kak. Aku ada janji sama Donghyun."

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

paaaanjang banget sampe aku potong jadi dua part:"D aku enjoying banget nulis mereka kenapa ya? jangan jangan aku mau pindah kapal:(

gaaa, soalnya biar kalian ngerti gitu kenapa mereka gamon:(

oiya sebenernya aku mau update dari dua hari yang lalu tapi aku malah sakit gezz maaf ya udah bikin kalian nunggu lama, ehe.

Reviewnya jangan lupa! Thankchu~